ALL ABOUT LOVE ( OTHELLO SEASON 2 )

All About Love Poster
.

By tmarionlie

.

Poster By L.E Design

.

Main Pair : ChanBaek

Other : Luhan & Kris

.

Y
aoi | Hurt & Comfort | Romance | Mature

.

.


WARNING!!

Karakter semua tokoh dalam FF ini akan sangat menjijikkan dan memuakkan. Bagi ChanBaek hardshipper yang tidak mampu membedakan antara Fiksi dan Real, yang tidak suka jika biasnya dinistakan di dalam FF, harap CLOSE FF INI DENGAN SEGERA agar tidak terjadi kesalahpahaman dengan Author ( saya ). Thanks!


-Baekhyun Pov-

Ku layangkan satu pukulan telak pada kepala pria jangkung idiot bernama Park Chanyeol ini.  Aku tak sudi jika bagian-bagian tubuhku terus menerus di olok-olok olehnya, enak saja!

 

 

“Aku akan memukulmu dengan pukulan yang lebih sadis jika kau berani mengolok-olok bagian-bagian tubuhku lagi, kau mengerti? ” kataku jengkel. Tapi si idiot ini malah menyentil keningku kemudian mencubitku dengan jari-jari besarnya itu, kebiasaannya sejak kami kecil, ck!

 

 

“Tidak kok, sungguh! Bibirmu itu imut Baek, kalau kau yeoja, aku pasti sudah menciumnya habis-habisan, haha”

 

 

“Kau gila!” komentarku, kemudian kami sama-sama tertawa. Well, ini lucu.

 

 

Tapi…tunggu! Yeoja? Jadi dia masih menyukai yeoja? Tapi tadi siang ketika dia menatap Luhan sepertinya aku melihat- Ehm, aku penasaran.

 

 

“Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanyanya.

 

 

Aku membuka mulutku, hendak bertanya, tapi aku masih ragu. Ku tutup lagi mulutku yang bahkan belum mengeluarkan satu kata pun, dan aku mulai memilih pertanyaan apa yang paling cocok untuk ku tanyakan pada Chanyeol.

 

 

“Kau mau mengatakan sesuatu kan? Katakan saja…” kata Chanyeol.

 

 

Aku menarik nafas dalam-dalam, kemudian memutar posisi dudukku menghadap ke arahnya. Ku tatap matanya dengan raut serius, lalu apa yang sangat mengganggu pikiranku akhirnya keluar juga dari mulutku.

 

 

 

“Aku hanya ingin bertanya….Yeol, apa kau masih tertarik pada yeoja?” tanyaku serius.

 

Ku lihat wajahnya berubah. Sepertinya dia agak sedikit terkejut. Dia bungkam seribu bahasa.

 

Kenapa? kenapa dia tak langsung menjawab pertanyaanku saja? Apa sulit menjawabnya?

 

“Yeol….” desakku.

 

Chanyeol tersenyum aneh.

 

“Apa maksudmu? Aku tak mengerti….” katanya. Ku tatap wajahnya lekat-lekat, membuatnya sedikit kikuk dengan tingkahku.

 

Aku hanya diam, tapi sebenarnya aku masih sangat penasaran dengan orientasi seksual saudaraku ini. Tapi, Ah sudahlah….mungkin aku salah.

 

Tapi….

 

“Jadi kau sudah tahu?” katanya tiba-tiba, membuat leherku langsung berputar cepat ke arahnya, dan kulihat dia menundukkan kepalanya.

 

Kenapa dia?

 

“Kau benar” katanya lagi.

 

Aku benar? Apa maksudnya? Tunggu! Mungkinkah-

 

“Aku gay, Baekkie…Aish, bagaimana bisa kau menemukannya?” kata Chanyeol lagi.

 

Bagai tersambar petir, mataku melebar dengan sempurna. Jantungku terasa berhenti berdetak ketika aku mendengar pengakuannya.

 

Jadi benar apa yang kupikirkan? Dan orang yang di sukainya itu…Apakah dia…Aishh, kenapa tiba-tiba saja aku merasa sangat takut seperti ini?

 

“Y-Yeol, ja-jadi teman masa kecilmu…yang kau sukai itu… Ap-apa dia itu…”

 

 

“Ya,  aku menyukai dia Baek..Aku menyukai Luhan”

 

 

Aku melemas. Tubuhku seolah baru saja terhempas dari ketinggian beribu meter. Rasanya sangat sakit, dan aku tak menyukainya.

 

 

Kenapa aku seperti ini?

 

 

Sialan!

 

 

Brengsek!

 

 

Kenapa harus dia?  Kenapa Chanyeol harus menyukai Luhan?

 

 

Tidak! Bagaimana aku jika tanpa Chanyeol?

 

 

Aku….

 

 

Aku tidak bisa tanpa Chanyeol….

 

 

Aku….

 

 

Tidak! Aku tak akan membiarkan Chanyeol menyukai Luhan!! Chanyeol adalah satu-satunya yang kumiliki didunia ini…Chanyeol milikku!!

 

 

Meskipun aku bukan gay, tapi Chanyeol adalah milikku!!  Aku tak akan membiarkan Luhan mengambil apa yang sudah menjadi milikku!!

 

 

 

Xi Luhan, kau-

 

 

Kau-

 

 

Kau tak akan bisa mengambil Chanyeol dariku Luhan, tidak akan!

 

 

-End Baekhyun Pov-


CHAPTER 5


 

Dua bersaudara itu menghabiskan waktu sarapan mereka dengan hanya saling diam. Yang berpostur tinggi diam karena menghargai saudaranya yang sepertinya tak memiliki mood untuk berceloteh seperti waktu-waktu sarapan sebelumnya, dan pria yang berpostur lebih mungil itu diam karena ( ehem ) kau pasti tahu penyebabnya.

 

“Hei Baek, makan yang benar…jangan memainkan makanan sepeti itu…makanan itu untuk dimakan, bukan hanya di aduk-aduk begitu…” tegur Chanyeol karena jengah melihat saudaranya yang terus-menerus bungkam sejak –pagi ini.

 

Baekhyun hanya diam tak menjawab, dan juga tak melirik Chanyeol sama sekali, membuat kening Chanyeol berkerut dalam karena merasa heran.

 

“Baekkie, apa kau baik-baik saja?”

 

Sebenarnya suara berat Chanyeol itu terdengar cukup jelas, namun pria yang satunya tetap diam. Sejujurnya Baekhyun memang sedang tak fokus saat ini. Tatapan mata pemuda itu kosong, sibuk dengan pikirannya sendiri. Pria mungil itu baru tersadar dan tersentak kaget ketika merasakan dahinya di sentuh, yang membuat sepasang mata sipitnya langsung terpaku pada wajah pria jangkung yang duduk di seberang meja.

 

“Kau tidak demam, tapi kenapa kau terlihat aneh?”

 

Baekhyun hanya diam, dan lagi-lagi menjatuhkan tatapannya pada piring yang berada di hadapannya.

 

“Baekkie, kau baik-baik saja kan?”

 

“…..”

 

“Byun Baekhyun” panggil Chanyeol untuk kesekian kalinya, menuntut respon dari saudaranya sendiri, yang membuat Baekhyun menghela nafas, kemudian meletakkan sendok dan garpunya sendiri.

 

“Aku sudah selesai” katanya singkat, lalu bangkit berdiri dari posisi duduknya.

 

“Baek, kau terlihat aneh. Kau baik-baik saja kan?” tanya Chanyeol, entah sudah berapa kali dia menanyakan pertanyaan yang sama itu.

 

Baekhyun menghentikan langkahnya, mengambil nafas lagi sebelum menjawab.

 

“Tidak Yeol. Aku tidak sedang baik-baik saja” katanya singkat, lalu mulai melangkahkan kakinya kembali menuju sofa tempat dia meletakkan tas sekolahnya, menggendong tas itu ke bahunya dan berjalan kearah luar.

 

Chanyeol meniup poninya sendiri. Entah mengapa mood-nya langsung rusak melihat tingkah Baekhyun hari ini. Saudaranya itu bersikap aneh, dan Chanyeol tak bisa berpikir untuk menemukan penyebabnya karena kepalanya sudah keburu pusing secara mendadak.

 

Chanyeol meletakkan sendok dan garpunya sendiri sebelum akhirnya mengikuti jejak Baekhyun, mengambil tas sekolahnya dan berjalan menuju keluar. Saudaranya yang mungil sudah duduk tenang di jok penumpang, menunggunya. Pria mungil itu hanya diam saja, tanpa menoleh dan melirik pada Chanyeol, yang membuat sakit kepala Chanyeol semakin menjadi-jadi. Padahal biasanya mereka akan menghabiskan pagi-pagi mereka dengan saling melemparkan candaan atau hal lainnya, tapi tidak untuk pagi ini. Chanyeol pikir hari ini adalah hari di mana mood Baekhyun benar-benar buruk dan membuat pria itu terlihat sangat menyebalkan.

 

“Baek, sebenarnya kau kenapa? Kau bilang kau tidak sedang baik-baik saja, maksudmu apa? Kau sakit?” tanya Chanyeol, khawatir.

 

“Hmm…” jawab Baekhyun singkat, mengiyakan.

 

Chanyeol kembali mengecek dahi Baekhyun, pipinya, lehernya.

 

“Tapi suhu tubuhmu normal” kata Chanyeol lagi, membuat Baekhyun mendesah malas, lalu menoleh pada Chanyeol.

 

“Yang sakit….Ini….” katanya sambil menekan dadanya, lalu kembali menatap lurus ke depan.

 

Lagi-lagi dahi Chanyeol berkerut karena dia benar-benar bingung. Tingkah Baekhyun itu memaksanya berpikir lebih keras lagi untuk menemukan alasan Baekhyun bersikap aneh seperti itu, tapi Chanyeol tetap tak menemukan jawabannya. Akhirnya Chanyeol hanya bisa mendesah lelah, dan meraih seat belt milik Baekhyun, memasangkannya untuk saudaranya itu.

 

“Jika kau sedang ada masalah, kau bisa menceritakannya padaku Baek. Jangan menyimpannya sendiri, kita bukan orang asing. Aku mungkin bisa membantumu keluar dari masalahmu”

 

Baekhyun menatap wajah Chanyeol yang sedang sibuk memakaikan seat belt itu dengan kening berkerut. Memangnya apa yang bisa ia katakan pada pria jangkung itu? Apa dia harus mengungkapkan dengan terus terang jika ia tak ingin Chanyeol menyukai Luhan? Oh ayolah, tidakkah itu terdengar sangat egois? Meskipun sebenarnya memang itu yang dia inginkan. Luhan sudah begitu sempurna, beruntung, jadi bisakah kali ini saja dia yang mendapatkan berkah itu? Baekhyun hanya tak ingin Chanyeol meninggalkannya karena kemunculan Luhan yang tiba-tiba.

 

Chanyeol mengelus surai karamel Baekhyun ketika ia selesai memasangkan seat belt saudaranya itu. Meskipun terasa berat, Chanyeol menaikkan sudut-sudut bibirnya, melemparkan senyum hangatnya untuk Baekhyun.

 

“Sudahlah…Jangan terlalu banyak pikiran Baekkie, nanti kau sakit…”

 

.

.

.

.

.

Sudah untuk yang kesekian kalinya, Chanyeol melirik Baekhyun. Dan seperti yang sudah-sudah, Chanyeol tetap tak mendapatkan respon dari pria mungil itu meskipun Baekhyun pasti tahu jika Chanyeol sedang meliriknya. Kaki mereka melangkah beriringan menuju ke kelas Baekhyun, yeah…seperti biasanya.

 

 

Keheningan yang terjadi dan sudah berlangsung sangat lama itu membuat Chanyeol lama-kelamaan merasa sangat jengah, karena itu dia raih jemari lentik saudaranya, dan ia genggam erat-erat. Baekhyun hanya diam saja, meskipun sempat tersentak dengan tingkah saudaranya yang jangkung itu.

 

 

Ketika memasuki kelas X A, pemandangan kelas masih sama saja –seperti biasanya. Pria bersurai merah itu masih saja di kerumuni oleh siswa-siswi lain yang masih saja menganggapnya ‘Pianis Terkenal dan Berbakat Xi Huo Siyan’, padahal mereka sudah tahu dengan sangat jelas jika Luhan dan Siyan bukanlah satu orang yang sama. Yeah, mungkin saja mereka telah kagum pada pria berambut merah itu sejak awal mereka melihatnya, karena meskipun dia bukanlah Si Populer Siyan, tapi dengan kesamaan wajah keduanya, semua orang juga pasti akan menemukan hubungan dekat kedua anak kembar itu tanpa harus bertanya.

 

Warna wajah Luhan, masih sama saja seperti biasanya. Dingin, datar, tapi wajah itu tak pernah membuat Chanyeol berhenti menganguminya. Segala apapun yang ada pada diri Luhan menariknya untuk selalu fokus pada pria itu, yang terkadang membuatnya menatap Luhan dengan tatapan bodoh –tanpa dia sadari, seperti sekarang. Chanyeol masih saja menatap wajah pria bersurai merah yang duduk tenang di mejanya sendiri itu, dengan lengkungan naik pada bibirnya, membentuk senyuman, tanpa menyadari jika sepasang mata sipit tengah menatapnya lekat dari arah sisi kanan tubuhnya. Chanyeol baru saja menoleh pada Baekhyun ketika ingat apa tujuannya datang ke kelas ini –mengantarkan saudara yang manja, tentu saja– dan senyumnya lenyap begitu saja saat mata bulatnya menangkap bagaimana ekspresi Baekhyun saat ini, yang membuatnya langsung menjadi kikuk seketika.

 

 

“Ke-kenapa kau menatapku seperti itu?” tanyanya pada Baekhyun, tapi pria yang lebih pendek hanya diam dan menundukkan kepalanya.

 

 

Baru saja Chanyeol menyentuh pipi Baekhyun dan membuka mulut untuk melemparkan pertanyaan pada pria mungil itu, suara Luhan sudah meredam pertanyaannya di tenggorokan dalam sekejap.

 

 

“Hai Chan, hai Baek, kalian baru datang?” tanya Luhan, dengan wajah cerianya –yang entah sejak kapan muncul di wajahnya yang tadi datar.

 

 

“Ya” jawab Chanyeol dengan senyum lebarnya sebelum dia tersentak karena Baekhyun menghentakkan kasar genggaman tangan mereka dan pergi begitu saja meninggalkan dia dan Luhan di ambang pintu kelas.

 

 

Chanyeol mendesah keras dan meniup poni cokelatnya satu kali, sedikit frustasi dengan tingkah saudaranya sendiri, tetapi suara kekehan Luhan membuyarkan pikirannya.

 

 

“Kenapa kau tertawa?” tanya Chanyeol pada Luhan, yang membuat pria bersurai merah itu langsung menghentikan tawanya.

 

 

“Tak apa, wajahmu terlihat sangat tegang, dan menurutku itu sangat lucu…Santailah Chan…” kata Luhan, sambil memberi tepukan ringan pada ke dua bahu Chanyeol beberapa kali, yang membuat Chanyeol jadi ikut tertawa karenanya.

 

 

“Chanyeol, apa kau memiliki acara malam ini?” tanya Luhan tiba-tiba, yang membuat alis Chanyeol langsung melengkung sempurna.

 

 

“Kenapa? Kau mau mengajakku kencan?” kata Chanyeol dengan kekehan gelinya.

 

 

“Tch, yang benar saja!” kata Luhan sambil memukul pelan lengan pria yang berdiri di hadapannya.

 

 

“Lalu, kenapa kau menanyakan kegiatanku hari ini?” tanya Chanyeol, kali ini serius.

 

 

“Aku hanya ingin mengajak kalian –umm…maksudku kau dan Baekhyun untuk bersenang-senang…Well, semacam ritual untuk me-refresh otak. Baekhyun terlihat kurang baik, karena itu aku ingin mengajaknya hang out agar dia tak terlalu tegang dan sedikit rileks, bagaimana?”

 

 

Luhan cukup puas melihat wajah ekspresif Chanyeol yang menampilkan wajah antusiasnya itu, tentu saja dengan senyuman lebar ala Park Chanyeol-nya.

 

 

“Tentu saja aku akan pergi denganmu Lu, ah…sejujurnya aku sangat senang bisa menghabiskan waktu bersama denganmu lagi, yeah meskipun sebenarnya targetmu adalah si manja Byun Baekhyun itu” kata Chanyeol, yang membuat Luhan tertawa karenanya.

 

 

“Tidak, aku mengajakmu juga Chan…lagipula kami tak akan bisa berbaur jika tak ada kau. Kau sangat paham bagaimana hubunganku dengan Baekhyun. Saudaramu itu tak pernah membiarkanku melangkah lebih dekat padanya, hhh…” sahut Luhan sambil mendesah, kemudian memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya sendiri.

 

 

“Yeah, ku pikir terkadang Baekhyun memang sangat berlebihan” kata Chanyeol, di akhiri dengan helaan nafas beratnya.

 

 

“Saudaramu hanya belum bisa menerima keberadaanku dalam hidupnya, umm…meskipun aku tak tahu kenapa tapi sejujurnya aku tak pernah memikirkan secara serius mengenai hal itu. Aku dan Baekhyun pasti akan akrab dengan segera, kau tenang saja Chanyeollie”

 

 

“Ya, ku harap juga begitu…Lalu, kau berencana membawa kami ke mana?” tanya Chanyeol, tiba-tiba teringat dengan rencana mereka bersenang-senang dan Luhan belum menyebutkan sama sekali kemana mereka akan pergi.

 

 

“Aku berencana membawa kalian ke Night Club, bagaimana?” kata Luhan, dengan senyuman lebarnya, yang membuat mata Chanyeol melebar secara spontan saat mendengar rencana pria berambut merah itu.

 

Night Club?” kata Chanyeol, shock.

 

Luhan menggangguk-anggukkan kepalanya dengan antusias, membuat Chanyeol mulai berpikir jika Luhan –mungkin– masih terkena hangover pagi ini. Dengan satu tarikan cepat, Chanyeol membawa tubuh Luhan merapat pada tubuhnya, kemudian bibirnya mengarah langsung ke telinga Luhan.

 

 

“Kau gila ya? Kita masih pelajar, dan baru 16 tahun. Mana mungkin kita di izinkan memasuki tempat-tempat seperti itu?” bisik Chanyeol, tapi Luhan malah menarik tengkuk pria jangkung itu dan balas berbisik di telinga Chanyeol.

 

 

“Kau tenang saja. Kita pasti akan di izinkan masuk…Biar aku yang mengurusnya, itu sangat mudah bagiku” kata Luhan, kemudian menjauhkan dirinya dari Chanyeol dan tersenyum.

 

 

“Bagaimana?” tanya Luhan, sambil menggoyangkan alisnya sendiri.

 

 

Chanyeol menggaruk tengkuknya, kemudian meringis dan melirik pada Baekhyun yang juga sedang menatap padanya saat ini.

 

 

“Hei, bagaimana?” desak Luhan.

 

 

Chanyeol mengalihkan tatapannya pada Luhan, lalu-

 

 

“Ya, baiklah” jawabnya pada akhirnya.

 

 

Luhan tersenyum sangat lebar, kemudian membawa tangannya untuk menepuk bahu Chanyeol.

 

 

“Oke, kalau begitu sampai bertemu nanti malam Chan…Jangan lupa ajak Baekhyun bersamamu”

 

 

“Ya, oke” kata Chanyeol, kemudian melambai pada Luhan dan membawa langkahnya untuk keluar dari kelas itu.

 

 

Dan Baekhyun?

 

 

Saat ini pria mungil itu sudah menekan-nekan pensil yang dia pegang pada mejanya sendiri hingga pensil itu patah karena ia terlalu kuat menekankannya ke meja. Skinship yang di lakukan 2 orang pria yang sejak tadi berdiri di ambang pintu kelas membuat mood-nya semakin memburuk di pagi yang cerah ini. Dengusan keras dia keluarkan ketika mata sipitnya melihat Luhan melemparkan senyuman hangat ke arahnya, namun –tentu saja- Baekhyun mengartikan senyuman itu dengan ‘hal lainnya’.

 

~Sialan! Apa kau sengaja melakukannya?~ umpatnya dalam hati.

 

 

.

.

.

.

.

Jam 7 malam. Chanyeol memasuki kamar Baekhyun dan menemukan gelungan basar selimut di atas ranjang saudaranya yang mungil itu. Dia bawa langkah lebarnya mendekati ranjang Baekhyun, kemudian dia elus surai karamel saudaranya yang tertidur dengan posisi memunggunginya itu. Chanyeol membawa tangannya turun, mengguncang bahu sempit Baekhyun pelan-pelan. Sebenarnya tak tega membangunkan pria yang terlihat sudah pulas tertidur itu.

 

“Baek, kau sudah tidur?”

 

 

“…..”

 

 

“Baekhyun, kau belum makan malam, bangunlah…”

 

 

“…..”

 

 

Chanyeol berdiam di sana beberapa lama, berpikir. Tapi sekejap kemudian dia sudah merendahkan tubuhnya, dan memposisikan bibirnya pada telinga Baekhyun.

 

“Baek, aku akan pergi keluar dengan Luhan. Kau mau ikut?”

 

“…..”

 

Chanyeol merangkak naik ke atas ranjang itu, lalu membungkuk di atas tubuh Baekhyun tanpa menyentuhnya. Chanyeol mengamati wajah Baekhyun, memastikan apakah mata Baekhyun terpejam atau tidak. Dan desahan kecewa terlepas begitu saja dari bibirnya ketika melihat mata sipit itu terpejam sempurna.

 

“Padahal aku harus membawamu bersamaku, tapi kau malah tertidur” keluh Chanyeol.

 

Chanyeol membuang nafas beratnya, kemudian kembali mengelus surai karamel itu pelan-pelan sebelum akhirnya membawa tubuhnya turun dari ranjang. Chanyeol baru saja menutup daun pintu kamar Baekhyun ketika ponselnya berdering dengan nama Luhan yang berkedap-kedip pada layar ponsel itu.

 

Hallo  Luhannie…Umm…aku akan menjemputmu sekarang, cepat kirimkan alamat rumahmu…”

 

Chanyeol memasukkan ponsel itu kedalam sakunya ketika sambungan telepon telah terputus. Dia bawa langkahnya menuju garasi mobil setelah sempat menyambar mantel cokelat miliknya sendiri. Begitu buru-burunya Chanyeol, hingga tak menyadari jika pria mungil –yang terlihat sudah tertidur pulas  tadi– saat ini telah berdiri beberapa meter di belakang punggungnya, bersembunyi di balik lemari besar yang terletak di bawah tangga kemudian mulai bergerak mengikuti Chanyeol diam-diam setelah mobil Chanyeol meninggalkan pagar hitam rumah mereka.

.

.

.

.

.

Chanyeol memencet bel rumah itu berkali-kali. Sekian lama menunggu, akhirnya daun pintu rumah itu terbuka, di ikuti oleh kemunculan seorang wanita paruh baya yang sangat cantik, berkulit putih seputih susu, dengan dagu runcing  yang terangkat dengan pongah, menatap Chanyeol dari atas hingga bawah tubuhnya.

 

“Siapa kau? Apa kau kekasih barunya Luhan?” tanya wanita itu, dengan nada dingin dan tatapan datarnya.

 

Chanyeol baru hendak menjawab, tapi Luhan sudah muncul dari balik punggung ramping wanita itu.

 

“Dia temanku Eomma. Kami sudah membuat janji untuk pergi malam ini” kata Luhan dingin, kemudian berjalan menghampiri Chanyeol.

 

Luhan menggenggam tangan Chanyeol dan menariknya pergi, namun wanita cantik itu –Ibu tirinya-menahan langkahnya.

 

“Bersenang-senang lagi dengan mangsa baru, Luhannie? Dia lumayan tampan, pasti dia akan memuaskanmu, haha…Jangan sia-siakan malam ini ya sayang” kata wanita itu sinis sebelum menutup pintu rumahnya, membuat Luhan memutar lehernya dengan cepat kearah pintu itu. Niat awalnya hendak mengumpat, namun urung karena pintu itu sudah keburu tertutup.

 

Luhan mendesis marah, kemudian memijit pelipisnya sendiri dan menarik nafas dalam-dalam, mencoba menenangkan perasaannya sendiri. Sedangkan di sisi lainnya, Chanyeol hanya diam dengan wajah bingung.

 

“Dia Ibu tirimu? Cantik sekali” puji Chanyeol, tapi Luhan malah mendecih muak.

 

“Ya, sangat cantik, tapi berbahaya” jawab Luhan.

 

Chanyeol menaikkan satu alisnya, bermaksud bertanya lagi tapi urung di lakukannya karena Luhan kembali menarik tangannya dan melangkah lurus menuju luar pagar rumah itu. Keduanya langsung naik ke dalam mobil Chanyeol, hingga akhirnya Luhan tersadar akan sesuatu dan menoleh cepat pada pria jangkung yang duduk di kursi kemudi.

 

“Tunggu! Kau tidak membawa Baekhyun?” tanya Luhan.

 

“Hhhh…dia sudah tidur Lu…Entahlah, dia agak aneh hari ini”

 

Luhan membuang nafas kecewanya, kemudian menyandarkan punggungnya di jok penumpang.

 

“Apa boleh buat…Kita terpaksa pergi berdua saja” kata Luhan, di jawab dengan anggukan setuju oleh Chanyeol.

 

“Tapi  kau harus berjanji, lain kali kau akan membawanya Chan. Sejujurnya aku sangat penasaran dengan saudaramu itu”

 

Chanyeol tertawa. “Kau tertarik pada Baekhyun?” godanya, yang langsung menghasilkan satu pukulan keras pada lengannya sendiri.

 

“Apa kau gila? Yang benar saja! Haha” kata Luhan geli.

 

Chanyeol mengedikkan bahunya, kemudian mulai menyalakan mesin mobil dan membawa mobilnya pergi dari tempat itu, yang langsung di ikuti oleh taksi yang juga ikut meluncur beberapa meter di belakang mereka.

 

.

.

.

.

.

Suara musik berdentum dengan sangat keras. Orang-orang yang berada di dalam naungan lampu disko itu berlenggak-lenggok, mengikuti irama musik yang di ciptakan oleh DJ yang terus-menerus menggerakkan tangannya dengan lincah di atas stage sana. Sedangkan Chanyeol, saat ini sudah terlihat sibuk membujuk Luhan yang sejak tadi meneguk alkohol meskipun matanya sudah mulai terlihat redup.

“Luhannie, hentikan. Kau sudah terlalu banyak minum, nanti kau mabuk Lu” kata Chanyeol sambil berusaha merampas gelas minuman beralkohol yang di pegang oleh Luhan.

 

“Ouwh Chanyeollie…kenapa kau sangat cerewet seperti nenekku, eoh? Kau tahu, inilah satu-satunya caraku untuk menghibur hidupku yang sangat menyedihkan…huffttt….” jawab Luhan dengan suara yang sudah terdengar kacau dan wajah yang sudah kacau pula.

 

Chanyeol mengambil paksa gelas minuman Luhan dan meletakkannya di mejanya. Pria tinggi itu menepuk-nepuk pipi Luhan yang sepertinya memang sudah mulai mabuk.

 

“Hei Luhan, sadarlah….Hei…”

 

Tapi Luhan hanya diam dengan kepala yang tergeletak di atas meja, dan mata yang terpejam.

 

Chanyeol mengumpat, kemudian membalikkan tubuhnya dan berusaha keras membawa tubuh Luhan ke punggungnya. Dengan susah payah berikut umpatan-umpatan yang keluar dari mulutnya, akhirnya Chanyeol berhasil membawa tubuh Luhan ke luar Club dan membawanya ke mobilnya sendiri. Dia dudukkan tubuh Luhan di jok depan, sebelum membawa tubuhnya sendiri masuk dan duduk di jok kemudi. Chanyeol membuang nafas beratnya sebelum mengalihkan tatapannya pada wajah tirus pria bersurai merah yang tengah terpejam di sisi kanan tubuhnya itu. Jantungnya berdebar kencang ketika matanya menelusuri lekuk-lekuk wajah Luhan, yang membuat tangannya terulur tanpa dia sadari, kemudian menyentuh permukaan kulit wajah pria itu, mengelusnya.

 

“Kenapa kau seperti ini? Apa kau memiliki masalah?” gumam Chanyeol, teramat pelan. Lagi-lagi tangannya bergerak, mengelus pipi Luhan, membuat mata Luhan terbuka dan langsung menatap lurus ke arah Chanyeol.

 

“Kau bangun?” tanya Chanyeol sambil menarik tangannya dari wajah Luhan.

 

Pria yang satunya hanya diam, memberikan tatapan kosong pada Chanyeol, sebelum akhirnya membuang wajahnya ke arah jendela mobil, dan menangis di sana, membuat pria jangkung yang duduk di jok kemudi sontak terkesiap dan berubah ekspresi menjadi panik.

 

 

“Lu-Luhan? Kau kenapa?”

 

 

“…..”

 

 

“Lu? Ap-apa aku melakukan kesalahan?”

 

 

Pria yang di tanya tetap diam, dengan bahu yang tergoncang-goncang dan tangan yang mengepal karena emosi.

 

 

“Lu, jangan seperti ini…Kau membuatku merasa tak enak…Ada apa?” kata Chanyeol, meraih bahu Luhan agar menghadap kearahnya.

 

 

Chanyeol meringis ketika matanya melihat bulir-bulir air mata pria itu, dan sebelum dia sempat membuka suara lagi, Luhan sudah menjatuhkan dagunya, menunduk sebelum akhirnya melepaskan dirinya dari Chanyeol.

 

 

“Maaf Chan…Harusnya kita bersenang-senang malam ini. Aku merusaknya, maaf”

 

 

Hening menyelimuti bagian dalam mobil itu. Luhan tak lagi terisak dan hanya menatap lurus ke arah depan, dan Chanyeol juga melakukan hal yang sama.

 

 

“Kau kenapa?” tanya Chanyeol, memecah kesunyian yang terjadi sekian lama.

 

“Tak apa, hanya sedikit emosi…maaf…”

 

“Emosi?” tanya Chanyeol, menaikkan satu alisnya.

 

“Hmm” jawab Luhan malas-malasan.

 

“Emosi pada siapa? Padaku?”

 

Luhan tertawa kecil. “Tidak…bukan kau, tapi pada wanita itu” jawab Luhan.

 

 

Chanyeol memutar cepat otaknya dan mengerutkan keningnya ketika otaknya menemukan siapa wanita yang di maksud oleh temannya itu. Sebenernya Chanyeol tak yakin jika tebakannya tepat.

 

 

“Maksudmu…Ibumu?” tanyanya ragu, tak yakin dengan gagasannya sendiri.

 

“Dia bukan Ibuku” kata Luhan cepat, dengan nada dingin dan gertakan kuat pada giginya sendiri, membuat Chanyeol langsung terdiam.

 

 

Chanyeol menyandarkan punggungnya pada jok kemudi, kemudian mereka hanya diam hingga beberapa lama.

 

 

“Terima kasih” kata Luhan tiba-tiba.

 

“Huh?”

 

Luhan tersenyum, dan membawa arah pandangannya pada Chanyeol.

 

“Terima kasih karena kau kembali hadir dalam hidupku. Kemunculanmu membuatku merasa sedikit terhibur” kata Luhan lagi, dan Chanyeol hanya diam.

 

 

“Aku senang bisa bertemu kembali denganmu dan juga Baekhyun” kata Luhan lagi, lalu menegakkan posisi duduknya.

 

 

Chanyeol tak mengatakan apapun. Matanya saat ini menatap satu sisi wajah Luhan itu lekat-lekat, dan tatapan mereka bertemu ketika Luhan juga ikut menoleh, menatap Chanyeol.

 

 

“Aku-“

 

 

Chanyeol menahan nafasnya, mencoba menguatkan mentalnya sendiri untuk mengucapkan apa yang dia rasakan, dan Luhan kini sudah menaikkan kedua alisnya, menunggu Chanyeol melanjutkan ucapannya.

 

 

“Aku merindukanmu Lu” kata Chanyeol pada akhirnya, membuat Luhan tersenyum tipis.

 

 

“Aku juga merindukanmu” katanya santai, lalu membuang tatapannya lagi kearah depan, namun hanya sebentar, karena Chanyeol tiba-tiba saja menggenggam tangannya dan menariknya mendekat hingga Luhan terjatuh ke dalam pelukan pria jangkung itu.

 

 

Lagi-lagi, netra mereka saling bersinggungan, hingga Luhan melengkungkan bibirnya dan tersenyum pada Chanyeol.

 

 

“Wanita itu benar Chan, kau lumayan tampan” puji Luhan di sertai kekehan, kemudian hendak menarik dirinya dari dekapan Chanyeol, namun pria yang lebih tinggi tiba-tiba saja bergerak cepat, menciumnya tepat di bibir, membuat mata Luhan terbuka lebar dengan kening yang berkerut sangat dalam.

 

 

Luhan tak sempat membaca situasi gila ini, dan hanya diam meskipun bibir Chanyeol mulai bergerak pada permukaan bibirnya. Baru saja tersadar dan hendak melepaskan diri, Chanyeol telah lebih dulu melepaskan ciumannya dan menempelkan dahi-dahi mereka.

 

 

“Aku menyukaimu Lu…”

 

 .

.

.

.

.

Pria mungil itu terbakar. Matanya menatap lurus pada satu objek yang berada beberapa meter di depan taksi yang dia tumpangi, menyaksikan siluet dua orang pria yang sedang berciuman dari balik jendela mobil berkaca gelap yang tertimpa bias cahaya lampu dari arah depan. Jari-jari lentiknya terkepal dengan gemetar, kemudian dalam sekejap saja bulir-bulir air matanya sudah terjatuh di pipinya yang putih. Beberapa saat hanya seperti itu saja hingga akhirnya dia tak tahan dan menyuruh sopir taksi itu membawanya pergi dari sana.

 

Apa ini? Ada apa denganku?

 

Kenapa aku marah? Kenapa aku menangis? Aku bukan gay, dan aku tak menyukai Chanyeol, tapi –

 

Kenapa aku seperti ini?

 

Ada apa denganku?

 

Baekhyun menghapus kasar airmatanya, kemudian menatap sepanjang jalanan yang dia lewati dengan gigi yang bergemeretak kuat.

 

“Xi Luhan, kau benar-benar brengsek!” gumamnya marah.


 

To Be Continued


Advertisements