ALL ABOUT LOVE ( OTHELLO SEASON 2 )

All About Love Poster

.

By tmarionlie

.

Poster By L.E Design

.

ChanBaek  |  ChanLu  |  KrisBaek

.

Y
aoi | Hurt & Comfort | Romance | Mature

.

.


WARNING!!

Karakter semua tokoh dalam FF ini akan sangat menjijikkan dan memuakkan. Bagi ChanBaek hardshipper yang tidak mampu membedakan antara Fiksi dan Real, yang tidak suka jika biasnya dinistakan di dalam FF, harap CLOSE FF INI DENGAN SEGERA agar tidak terjadi kesalahpahaman dengan Author ( saya ). Thanks!


Chanyeol kecil sedang bermain di teras rumahnya bersama Baekhyun kecil ketika matanya melihat Siyan keluar rumah, di tuntun oleh Ibunya. Chanyeol berlari cepat ke arah pagar, di ikuti oleh Baekhyun. Dua bocah itu berdiri di pagar sambil memegangi terali pagar itu, melihat Siyan yang juga sedang menatap mereka penuh arti sambil menangis. Wajah Siyan sangat basah karena airmatanya, tapi kembaran Luhan itu terus berjalan mengikuti langkah Ibunya menuju mobil hitam yang berada di luar pagar rumah Luhan. Siyan kecil terus menatap Chanyeol dan Baekhyun dengan tatapan yang sulit di artikan, hingga akhirnya tubuh kurusnya di gendong oleh Ibunya untuk memasuki mobil, dan Ibu-anak itu langsung meluncur pergi dari tempat  itu.

 

“Yeollie….apa yang terjadi dengan Siyan? Dia tampak sangat sedih….” tanya Baekhyun pada Chanyeol, tapi Chanyeol hanya diam.

 

Chanyeol membuka pagar rumah mereka dengan hati-hati, kemudian langsung berlari-lari menuju rumah Luhan, dan Baekhyun ikut berlari juga, mengikuti Chanyeol. Ketika dua bocah itu tiba di rumah Luhan, mata mereka langsung menemukan tubuh Luhan kecil yang sedang terbaring memeluk lututnya sendiri, menangis sesenggukan sambil memanggil-manggil Ibu dan kakaknya di atas lantai yang dingin.

 

“Luhannie!!!” pekik Chanyeol ketika melihat keadaan temannya yang sangat kacau itu.

 

Dengan secepat bayangan Chanyeol berlari mendekati tubuh Luhan, dan tanpa berkata-kata lagi langsung di peluknya tubuh bocah mungil yang sedang menangis itu. Chanyeol memeluk Luhan erat-erat sambil terduduk di atas lantai.

 

“Mereka pergi Chanyeollie…hiks…Eomma dan Xiao Huo Hyung meninggalkanku. Mereka meninggalkanku sendirian…aku sendirian Chanyeol…” rintih Luhan,  sambil terisak-isak.

 

“Jangan menangis…masih ada aku Luhan, ssstt…jangan menangis lagi Luhannie…Tenanglah…” bujuk Chanyeol sambil mengusap airmata dan mengelus-elus kening bocah cantik itu.

 

Dan Baekhyun?

 

Bocah mungil itu berdiri mematung di pintu rumah Luhan, dengan tatapan benci ke arah dua bocah yang masih berada di lantai. Tangan mungilnya  mengepal karena geram, lalu sekejap kemudian bocah mungil itu berbalik dan berlari pulang ke rumah Chanyeol tanpa mengatakan apapun,  memendam kekesalannya sendiri dan hanya diam.

 

Lalu hingga berminggu-minggu setelahnya, Chanyeol hanya memperhatikan Luhan setiap hari. Tanpa Chanyeol sadari dia mulai menjauh dari Baekhyun, membuat Baekhyun kecil mengalami stress. Baekhyun menjadi pemarah setelahnya. Baekhyun tak mau mendengarkan siapapun dan tak mau memakan apapun jika bukan Chanyeol yang menyodorkan langsung ke mulutnya. Itu adalah bentuk keegoisan dari bocah kecil yang sedang cemburu karena merasa di abaikan. Chanyeol yang terlalu sibuk memperhatikan Luhan, membuat bocah imut bernama Baekhyun itu mengalami depresi hingga kerap kali mengurung dirinya sendiri di dalam kamar hingga akhirnya jatuh sakit. Sikap berlebihan yang dia tunjukkan itu hanya sebagai bentuk protes tanpa kata-kata. Baekhyun hanya ingin menunjukkan eksistensinya di dalam rumah itu pada Chanyeol. Chanyeol harus tahu jika ada Baekhyun di sekitarnya, di dalam kehidupannya. Chanyeol harus tahu jika Baekhyun adalah sejenis pribadi yang tak suka di abaikan. Untung saja Chanyeol kecil bisa membaca segala kekacauan itu hingga akhirnya menyadari jika saudaranya itu sedang membutuhkan perhatiannya juga.

.

.

.

.

.

Sudah sekian lama Chanyeol tak mengunjungi kamar saudara angkatnya, membuat bocah tinggi itu merasa aneh ketika ia memasuki kamar Baekhyun kembali. Mata bulat bocah itu menatap punggung mungil bocah yang sedang terbaring sakit itu dengan tatapan bersalahnya. Dia bawa langkah kecilnya mendekat, dan dia elus kepala saudara angkatnya itu pelan-pelan.

 

“Baekkie….”

 

Mata sipit bocah mungil yang tadi terpejam itu langsung terbuka, dan senyumnya langsung terkembang begitu menyadari Chanyeol berada di dekatnya saat ini. Dengan gerakan secepat kilat Baekhyun berbalik, kemudian langsung memeluk Chanyeol erat-erat.

 

“Yeollie, kenapa kau baru muncul?” rengek Baekhyun.

 

Chanyeol meringis. Dia bawa tangannya untuk mengelus lembut kepala saudaranya dan sepatah kata maaf keluar begitu saja dari bibir bocah itu.

 

 

“Maafkan aku Baek…”

 

“Hmm…aku sudah memaafkanmu…”

 

“Kenapa kau tidak mau makan? Lihatlah, kau jadi sakit kan?”

 

Pertanyaan Chanyeol itu menyadarkan Baekhyun akan segala masalah yang menyiksa bathinnya selama beberapa minggu ini dan cukup untuk membuat emosinya naik dalam sekejap.

 

“Itu karena kau tak perduli lagi padaku! Yang kau perdulikan hanya Luhan-Luhan dan Luhan! Aku muak Yeol!”

 

Chanyeol menarik nafas dan mengerutkan keningnya karena merasa serba salah, tapi kemudian bocah itu memaksakan senyumnya untuk meredakan emosi bocah mungil yang lainnya.

 

“Luhan sedang sedih Baek…Dia sendirian, dia membutuhkanku…”

 

“Lalu bagaimana denganku? Aku juga membutuhkanmu Yeol! Lagipula kau sudah berjanji akan melindungiku dan akan selalu ada saat aku membutuhkanmu, tapi kau mengingkarinya dan semua itu karena Luhan! Luhan adalah pengganggu dan aku tak menyukainya!”

 

Chanyeol kehabisan kata-kata. Bocah tinggi itu menggigit bibirnya sendiri, dan menatap saudaranya dengan tatapan bingung. Sikap berlebihan saudaranya itu sedikit membuatnya merasa tak nyaman, namun Chanyeol tak bisa melakukan apapun karena dia menyayangi Baekhyun.

 

“Baekkie…kenapa kau membenci Luhan? Dia itu anak baik Baek”

 

“Aku tak menyukainya Yeol! Dia mengataiku anak yang menyedihkan! Aku benci!” kata Baekhyun emosi.

 

Chanyeol membuang nafas beratnya, lalu mengusap pipi saudaranya.

 

“Sudahlah, tidak usah dibahas lagi. Kau masih sangat demam, makan dulu ya…Kau harus makan agar bisa makan obat, oke?”

 

 

Baekhyun membuang nafasnya, lalu terdiam hingga beberapa lama. Tapi setelah berpikir beberapa menit, Baekhyun mulai mengabaikan segala kekesalannya dan mulai bersuara lagi.

 

“Suapi aku Yeol…”

 

“Ya baiklah, tentu saja…Apapun akan kulakukan untuk Baekhyun-ku” jawab Chanyeol sekaligus menggombal, membuat bocah lainnya jadi tertegun karena merasakan suatu perasaan aneh yang sempat menggelitik syaraf-syarafnya. Baekhyun belum mengerti perasaan apa itu, dia masih terlalu kecil untuk mengerti arti dari perasaan aneh semacam itu, tapi kata-kata saudaranya membuat dirinya merasa istimewa, dan perasaan itu sangat cukup untuk membuat bibirnya melengkung, mengukir senyuman, membuat bocah lainnya jadi ikut tersenyum. Senyuman yang terukir dari bibir tipis itu menarik minat Chanyeol untuk mengacak rambut Baekhyun yang halus. Setidaknya hubungan mereka akan kembali seperti semula dan kekacauan yang telah terjadi akan menguap begitu saja setelah ini.

 

“Yeol”

 

“Hmm?”

 

“Aku menyayangimu”

 

“Aku juga menyayangimu Baek….cepat sembuh, hmm?”

 

Baekhyun tertawa, kemudian mengangguk-anggukan kepalanya dengan gerakan yang imut.

 

.

.

.

.

.

“Baekhyunnie…”

 

Baekhyun menoleh dengan cepat ketika mendengar namanya di panggil, dan wajahnya langsung berubah masam saat tahu siapa bocah yang memanggilnya.

 

Luhan.

 

“Apa?” tanyanya, ketus.

 

Luhan medesah satu kali, kemudian melangkahkan kakinya mendekat pada Baekhyun kecil. Tanpa berkata-kata, Luhan memeluk erat tubuh mungil Baekhyun, membuat bocah mungil yang di peluk itu jadi membeku. Chanyeol yang baru saja muncul dari dalam rumah, menatap 2 bocah mungil yang saling berpelukan itu dengan wajah sedihnya.

 

“Maafkan aku Baekhyun…” kata Luhan kecil, masih sambil masih tetap memeluk Baekhyun.

 

Kening Baekhyun kecil mengerut, bingung. Tindakan tiba-tiba yang di lakukan oleh Luhan membuat Baekhyun merasakan sesuatu perasaan yang aneh, dan dia belum tahu perasaan apa itu.

 

“Maafkan aku jika aku pernah menyakitimu Baekhyunnie, maaf….Aku tak mengerti kenapa kau begitu membenciku, tapi kumohon maafkan aku untuk apapun kesalahan yang telah ku lakukan padamu….”

 

 

Baekhyun tetap diam. Sejujurnya bocah itu juga bingung harus mengatakan apa dan harus melakukan apa.

 

“Dan juga…selamat tinggal Baek….” kata Luhan kecil setelah sekian lama diam, membuat Baekhyun tercekat dan membeku secara mendadak. Mata sipit Baekhyun menatap Luhan dengan tatapan yang bingung ketika Luhan melepaskan pelukannya, membuat Luhan kecil langsung membuang tatapannya ke arah lain untuk menghindari tatapan Baekhyun yang penuh akan pertanyaan itu.

 

“Kau…mau kemana?” tanya Baekhyun dengan suara yang teramat pelan.

 

Luhan menunduk sekian lama, tapi kemudian meluruskan wajahnya untuk menatap bocah yang sama mungil dengan dirinya itu. Luhan menarik sudut-sudut bibirnya, mencoba tersenyum meskipun sebenarnya senyumannya terlihat sangat aneh dan di paksakan.

 

“Aku akan pindah rumah…umm…dan juga pindah sekolah…” jawab Luhan, dan lagi-lagi, Baekhyun kecil merasa tercekat ketika mendengarnya. Entahlah, perasaannya aneh secara mendadak. Baekhyun memang membenci Luhan, tapi…entahlah, ini aneh.

 

“Ja-jadi maksudmu, kita tak akan bertemu lagi?” tanya Baekhyun dengan getaran yang samar pada suaranya. Baekhyun tak mengerti dengan dirinya, tapi sungguh, dia merasa aneh saat ini. Tiba-tiba saja Baekhyun merasa sedih. Dan perasaannya menjadi terasa semakin dramatis ketika mata sipitnya melihat Luhan menganggukkan kepalanya dengan gerakan lemah, dan tanpa di komando, Baekhyun menangis saat itu juga. Baekhyun merasa sangat sedih karena Luhan akan pergi, dan semakin sedih ketika memikirkan kenyataan bahwa dia tak tahu apakah dirinya dan Luhan akan bisa bertemu lagi atau tidak.

 

“Kau mau memaafkan kesalahanku kan?” tanya Luhan dengan tampang memelas, membuat Baekhyun kecil merasa terenyuh, tapi Baekhyun hanya diam.

 

“Baekhyun…kau memaafkanku kan?” tanya Luhan, lagi, tapi Baekhyun tetap diam.

 

“Kau tak mau memaafkanku ya? Ya sudah, tak apa-apa” kata Luhan dengan tampang kecewanya.

 

Baekhyun baru saja membuka bibir mungilnya untuk mengucapkan sesuatu, namun sayangnya Luhan sudah membuka suara lebih dulu.

 

“Aku akan pergi sekarang…jaga dirimu ya, Baekhyunnie…” kata

Luhan dengan senyuman tulusnya, dan senyum itu adalah senyum terakhir dari wajah Luhan yang di ingat oleh Baekhyun karena setelah mengatakan kata-kata perpisahan itu, Luhan kecil langsung berbalik tanpa berniat mendapatkan jawaban dari bocah mungil itu.

 

Baekhyun menatap tubuh mungil Luhan dengan perasaan yang campur aduk, bahkan dia tak bisa merasakan perasaan benci itu lagi ketika mata sipitnya melihat Luhan melempar tubuh mungilnya ke dalam pelukan Chanyeol. Bocah itu hanya diam saja, hingga akhirnya Luhan benar-benar pergi bersama Ayahnya, meninggalkan rumah mereka yang juga sudah kosong itu.

 

 .

.

.

.

.

6 tahun kemudian.

Baekhyun dan Chanyeol sudah berusia 15 tahun, sudah hampir menginjak 16. Saat ini 2 remaja itu sedang merapikan kamar Baekhyun yang sangat berantakan hanya untuk mencari kunci mobil milik Chanyeol –entah bagaimana dia bisa merayu Ayahnya hingga berhasil mendapatkan sebuah mobil meskipun dia masih berada di bawah umur- yang di pinjam oleh Baekhyun kemarin, hilang entah ke mana. Sekarang mereka hanya tinggal berdua saja di rumah besar itu, karena Ayah Chanyeol sudah menetap di LA karena pekerjaan, dan ke dua remaja itu tak membutuhkan maid lagi di dalam rumah karena mereka sudah lumayan dewasa untuk menjaga diri mereka sendiri. Sesekali Ayah mereka memang pulang, sekedar untuk melepas rindu pada 2 puteranya itu saja, selebihnya Ayah mereka hanya akan berkutat dengan pekerjaannya di Negara orang dan memantau keadaan putera-puteranya itu melalui segala kemajuan teknologi yang ada.

 

“Aishh, di mana sih kau meletakkannya?” kata Chanyeol dengan intonasi yang mulai meninggi, karena kesal.

 

“Entahlah, aku juga tak ingat di mana aku meletakkannya Yeol” jawab Baekhyun, sambil merapikan komik-komiknya yang bertebaran di lantai kamarnya itu.

 

“Makanya jadi orang jangan terlalu pemalas Baek!”

 

“Ishhhh, cerewet sekali sih kau ini! Ya sudah cari saja dulu, nanti juga ketemu!” jawab Baekhyun, egois.

 

Chanyeol menatap wajah lucu Baekhyun yang sedang bersungut-sungut dengan bibir yang mengerucut lucu itu. Wajah pria kecil itu tampak kesal. Sesekali Baekhyun menggaruk kepalanya dan sesekali memukul-mukul kepalanya sendiri, membuat Chanyeol jadi tidak tega memarahinya lagi. Segala tingkah imut saudaranya yang mungil itu menarik minat Chanyeol untuk menggoda Baekhyun, karena itu Chanyeol mulai melangkahkan kaki tanpa suara menuju Baekhyun, dan mengarahkan tangannya ke pinggang ramping pria mungil itu, menggelitiknya untuk membuat Baekhyun merasa kegelian.

 

“Yak! Apa yang kau laku- Ahahaha…lepaskan aku bodoh!”

 

“Haha, rasakan ini, Byun Baek!”

 

 

Baekhyun tertawa-tawa sambil mengomel, dan berkali-kali mencoba melepaskan diri dari serangan Chanyeol, tapi Chanyeol terus memburunya dan menggelitiki pinggang dan perutnya dengan brutal.

 

“Yeollie! Sudah cukup…hentikan! Ahahaha…Ampun Yeol”

 

“Tidak ada ampun! Siapa suruh kau menghilangkan kunci mobilku, eoh? Jadi nikmati saja hukumanmu ini”

 

Baekhyun meronta-ronta dan mundur perlahan-lahan menghindari serangan Chanyeol dengan mencengkram kuat pada kaus bagian dada Chanyeol. Pria kecil itu baru saja ingin menyerang balik dengan mengangkat kaki pendeknya untuk menendang saudaranya, tapi sayang kaki belakangnya malah lebih dulu terantuk sisi ranjang, yang menyebabkan tubuh mungilnya oleng dan…

 

“Wuaaaaaaa….”

 

Brukk!

 

Chupp!

 

1 detik….

 

 

2 detik….

 

 

3 detik….

 

Chanyeol ataupun Baekhyun mengerjapkan mata-mata mereka beberapa kali sebelum kedua pasang mata itu sama-sama melebar setelah mereka tersadar dengan posisi mereka saat ini. Chanyeol ikut terjatuh di atas tubuh Baekhyun dengan bibir yang tak sengaja saling menempel.

 

Ketika kesadarannya sudah kembali 100%, Chanyeol membawa tubuh tingginya bangkit secepat bayangan dari atas tubuh Baekhyun, kemudian dia duduk dengan gugup di sisi ranjang, sedangkan pria yang lebih mungil menegakkan tubuhnya dari posisi berbaring sambil memegangi bibirnya yang terasa sakit, entah karena apa, mungkin terantuk atau tergigit oleh gigi Chanyeol secara tak sengaja ketika mereka terjatuh tadi.

 

“Eighh, sakit” keluh Baekhyun, membuat pria tinggi yang duduk di sebelahnya langsung menoleh cepat dan secara refleks menarik dagu runcing itu dengan tangan besarnya, dan mata bulatnya kini sudah menatap lurus pada bibir tipis pria mungil yang lainnya.

 

 

“Bagian mana yang sakit? Apa bibirmu terluka?” tanya Chanyeol, terdengar bodoh, sambil menatap dekat-dekat pada bibir mungil saudaranya itu, tapi…

 

BLETAKK!!!

 

Chanyeol mengerang ketika merasakan satu pukulan telak pada kepalanya, membuat matanya langsung menatap sadis pada saudaranya yang mungil itu.

 

“Yak, itu sakit, bodoh!” protes Chanyeol sambil mengusap-usap kepalanya yang di pukul oleh Baekhyun tadi.

 

“Kau pantas mendapatkannya karena kau idiot! Eighh, sebenarnya bibirmu terbuat dari apa, keras seperti batu!” kata Baekhyun, dan lagi-lagi dia mendaratkan satu pukulan ke kepala Chanyeol.

 

 

“Yak!” protes Chanyeol ( lagi ), tapi Bakhyun malah meletakkan tangannya di pinggangnya sendiri, persis seperti Ibu-Ibu.

 

“Kau mencuri first kiss-ku, Park Chanyeol! Harusnya kekasihku yang mendapatkannya pertama kali, kenapa malah jadi kau yang dapat?? Kau menyebalkan!” umpat Baekhyun.

 

“Kenapa menyalahkanku? Kan kau yang menarikku, kalau akhirnya kita jadi berciuman itu salahmu, Byun Baek..Kau yang mencuri first kiss-ku, tahu! Lagipula mana ada yeoja yang mau denganmu, wajahmu saja seperti yeoja” ejek Chanyeol.

 

“Tch, yang benar saja, aku ini tampan Park Chanyeol”

 

 

“Dalam mimpimu Baek”

 

“Apa katamu?”

 

“Tak ada, aku tidak mengatakan apapun kok”

 

“Kau mau ku pukul lagi ya?”

 

“Coba saja kalau kau berani”

 

“Tentu saja aku berani”

 

“Kalau kau melakukannya lagi, maka aku akan-“

 

“Akan apa?”

“Ehem, kau mau ku cium lagi ya, eoh, Byun Baekhyun?”

 

Hell no…dalam mimpimu Park Chanyeol…Jangan bertingkah tak normal, kau menjijikkan”

 

“Yang tak normal itu wajahmu Baekkie”

 

“Apa maksudmu? Jangan mengucapkan kata-kata menjijikkan seperti itu Yeol, sudah ku bilang aku ini tampan”

 

“Tampan? Haha”

 

“Diam kau”

 

“Oke-oke”

 

 .

.

.

.

.

Hari ini adalah hari pertama masuk ke Senior High School, dan Baekhyun masih terlihat sibuk di kamarnya yang super duper berantakan hanya untuk mencari sepasang kaus kaki barunya yang tak terlihat karena berbagai macam benda bertebaran di dalam kamar pria mungil itu. Dan sejak tadi, Chanyeol sudah berteriak-teriak memanggilnya karena pria mungil itu tak kunjung selesai juga, membuat Baekhyun mengutuk-ngutuk sifat pemalasnya sendiri yang tak mampu dia hilangkan dari dirinya itu.

 

 

 

“Baekkie, ayo cepat! Kau mau terlambat di hari pertama masuk sekolah ya?” teriak Chanyeol dari lantai bawah, membuat Baekhyun semakin kelimpungan dan bergerak brutal ke sana-kemari untuk mencari.

 

 

BRAKK!!

 

 

“Yak, kau bisa cepat tidak? Dasar ulat bulu!” teriak Chanyeol sambil berkacak pinggang di ambang pintu, membuat bibir pria yang lebih kecil sukses maju beberapa senti.

 

“Kaus kakiku hilang Yeol”

 

 

“Astaga! Lagi?” tanya Chanyeol dengan suara yang meninggi, dan Baekhyun mengangguk imut sambil melemparkan cengirannya, tanpa merasa berdosa.

 

Chanyeol membuang nafas lelahnya, sudah bosan dengan kejadian berulang-ulang yang selalu sama kasusnya dan itu semua adalah karena sifat pemalas Baekhyun yang –menurut Chanyeol– sudah sangat akut.

 

“Makanya, jadi orang jangan terlalu pemalas Baek”

 

Baekhyun memutar bola matanya, bosan.

 

“Sudahlah, jangan cerewet…Aku bosan mendengar kalimat itu Yeol…lebih baik kau membantuku mencari”

 

“Aku tidak mau”

 

“Tapi Yeol-“

 

“Kupinjamkan milikku…Cepat bersiap-siap, kita sudah hampir terlambat Byun –pemalas- Baekhyun!”

 

“Baiklah…maaf Yeol…”kata Baekhyun lesu.

.

.

.

.

.

Baekhyun dan Chanyeol berputar-putar di sekeliling sekolah, mencari keberadaan kelas baru mereka. Selama 7 tahun kedua remaja itu selalu berada di kelas yang sama, tapi kali ini tidak. Di tahun ajaran baru tingkat pendidikan tertinggi ini Baekhyun mendapatkan kelas yang terpisah dengan Chanyeol, dan kini kedua remaja itu masih memegangi peta sekolah, sambil menoleh kesana-sini untuk mencari letak kelas baru mereka.

 

 

“Ah, itu dia kelas X B, itu kelasku. Dan kau, ummm….Ah, itu X A, kelasmu di sana Baek” kata Chanyeol sambil menunjuk ke satu arah yang langsung di ikuti oleh mata Baekhyun.

 

“Ya sudah, sana masuk ke kelasmu” kata Chanyeol sambil mendorong bahu mungil Baekhyun, tapi Baekhyun tetap bertahan pada posisinya sambil memandang Chanyeol dengan tatapan memelasnya, membuat pria yang lebih tinggi memutar bola matanya ketika otaknya mampu menelaah arti dari tatapan saudaranya itu.

 

“Oh ayolah Baek, kau sudah bukan bocah lagi, kau sudah hampir 16” protes Chanyeol, tapi pria yang lebih mungil malah melengkungkan bibirnya ke bawah sambil menarik-narik ujung seragam Chanyeol, lagi-lagi memelas dengan bahasa tubuhnya.

 

“Ya Tuhan…hhhh, baiklah…” kata Chanyeol mengalah, kemudian meraih jemari Baekhyun, menggenggamnya dan menariknya menuju ke kelas X A, kelas Baekhyun.

 

Selalu seperti itu. Setiap memasuki lingkungan baru, Baekhyun selalu mengandalkan Chanyeol untuk membawanya ke tempat itu. Baekhyun adalah sejenis pribadi yang tak mudah bergaul. Masa kecil yang suram karena sering di bully, membuatnya merasa trauma menghadapi tempat-tempat baru. Perasaan aneh seperti ketakutan tak wajar itu selalu dia dapatkan jika memasuki ajaran baru setiap tahunnya, membuatnya tak pernah memiliki teman selain saudaranya sendiri, Park Chanyeol. Beruntung mereka selalu bersama sejak Elementary, tapi kali ini mereka harus berpisah, hingga mau tak mau Baekhyun harus bisa mengendalikan phobia-nya sendiri meskipun itu akan sangat sulit. Baekhyun tak bisa tanpa Chanyeol. Chanyeol adalah nyawa kedua baginya. Baekhyun membutuhkan pria tinggi itu dalam hidupnya.

 

Chanyeol membawa Baekhyun memasuki ruang kelas X A. Ketika mereka berdua masih berada di ambang pintu, mata mereka sudah di suguhi oleh pemandangan heboh karena para siswa kini tampak bergerombol di salah satu kursi siswa lainnya. Entah apa yang terjadi di dalam kelas itu, tapi Chanyeol dan Baekhyun sempat menyimpulkan jika kemungkinan salah satu bocah populer sedang bersekolah di tempat mereka bersekolah juga kali ini.

 

Kau Pianis terkenal itu kan?” kata seorang anak yang ikut berkerumun di situ.

 

“Benar, aku sering melihatmu di TV” kata anak lainnya.

 

“Wah, ternyata kau terlihat berbeda jika di lihat secara langsung. Kau lebih keren dari yang tampak pada layar televisi” kata anak lainnya lagi.

 

“Hei, kau baru saja mengecat rambutmu menjadi merah ya? Potongannya juga lebih stylish, lebih bagus daripada rambut cokelat berponimu itu. Kau tampak keren” kata seorang anak lelaki.

 

“Hei Baek, siapa itu? Kau bisa melihatnya?” bisik Chanyeol di telinga Baekhyun.

 

“Mana aku tahu, kau yang tinggi saja tidak bisa melihatnya apalagi aku” jawab Baekhyun.

 

“Jadi kau mengaku kalau kau pendek?” goda Chanyeol sambil tertawa.

 

“Kau mau mati ya?” balas Baekhyun dengan tatapan sadisnya, dan kedua remaja itu masih saling menggoda ketika tiba-tiba saja suara gebrakan meja terdengar sangat nyaring di ruangan kelas itu, membuat Baekhyun dan Chanyeol berhenti berdebat dan langsung menoleh pada si pelaku penggebrak meja, yang adalah siswa –populer– yang di kerumuni oleh siswa lainnya itu tadi.

 

Baekhyun mengerutkan keningnya dalam-dalam ketika mata sipitnya dapat melihat sosok pria mungil yang menggebrak meja tadi. Otaknya bekerja sangat keras untuk mengingat siapa sosok itu karena sepertinya dia mengenalnya.

 

“SUDAH KUBILANG AKU BUKAN XI HUO SIYAN!! NAMAKU XI LUHAN!!! Teriak pria mungil berambut merah itu emosi, sambil berjalan meninggalkan kursinya setelah menendang kursinya sendiri dengan kasar.

 

Teriakan pria mungil itu membuat tubuh Baekhyun seolah mengalami stagnasi secara mendadak. Pria mungil itu membeku dengan mata yang melebar sempurna, menatap sosok pria mungil berambut merah yang kini bahkan telah berdiri di hadapan mereka yang masih berdiri di ambang pintu, menghalangi jalan menuju ke luar kelas.

 

“Minggir, kalian menghalangi jalanku” kata pria cantik berambut merah itu ketus, membuat Baekhyun semakin tercekat.

 

“Luhannie…” gumam Chanyeol pelan, dan suara Chanyeol itu sukses membuat nyawa Baekhyun seolah terbang entah ke mana.

 

Baekhyun menoleh cepat pada Chanyeol yang kini sudah menatap Luhan dengan tatapan bodohnya. Wajah Baekhyun kini sudah pucat pasi. Sekejap saja perasaan takut terabaikan hinggap lagi di dalam dadanya, membuatnya sangat sulit mengendalikan kinerja tubuh dan otaknya sendiri. Baekhyun merasa lemas seketika.


To Be Continued


Advertisements