ALL ABOUT LOVE ( OTHELLO SEASON 2 )

All About Love Poster

.

By tmarionlie

.

Poster By L.E Design

.

ChanBaek  |  ChanLu  |  KrisBaek

.

Y
aoi | Hurt & Comfort | Romance | Mature

.

.


WARNING!!

Karakter semua tokoh dalam FF ini akan sangat menjijikkan dan memuakkan. Bagi ChanBaek hardshipper yang tidak mampu membedakan antara Fiksi dan Real, yang tidak suka jika biasnya dinistakan di dalam FF, harap CLOSE FF INI DENGAN SEGERA agar tidak terjadi kesalahpahaman dengan Author ( saya ). Thanks!


Empat orang bocah yang berusia sama saat ini sedang bermain ligo puzzle di teras rumah Pretty Twins, Luhan dan Siyan. Sebenarnya yang bermain hanya 3 orang, tak termasuk Baekhyun. Bukan apa-apa, hanya saja Baekhyun tak pernah memainkan apalagi memiliki mainan mahal seperti itu, jadi dia tak mau ikut memainkannya karena dia memang tak tau cara memainkannya. Mana mungkin orangtuanya bisa membelikan mainan seperti itu, bahkan untuk bertahan hidup saja Baekhyun harus rela bekerja keras membantu Ibunya mencucikan pakaian-pakaian para tetangga di sekitar rumah.

 

“Baekhyunnie, kenapa tidak ikut bermain?” tanya Siyan, kakak kembar Luhan.

 

Baekhyun kecil hanya diam, tak tau harus menjawab apa, membuat Chanyeol kecil bergerak cepat mengusap pipi tirus saudaranya itu.

 

“Kenapa Baekkie? Kenapa kau diam saja?” tanya Chanyeol.

 

“A-aku tidak apa-apa kok”

 

Luhan kecil menatap Baekhyun kecil dan apa yang mereka mainkan berganti-gantian.

 

“Kau tidak suka memainkan ini ya?” tanya Luhan kecil, membuat Baekhyun kecil jadi merasa tidak enak dan cepat-cepat menggeleng.

 

“Bu-bukan begitu, hanya saja aku-”

 

Luhan kecil berdiri dan menjulurkan tangannya ke depan wajah Baekhyun, menyuruh Baekhyun menyambut uluran tangannya itu bahkan tanpa mendengarkan apa yang ingin di katakan oleh bocah imut itu. Dengan ragu Baekhyun menyambut uluran tangan Luhan dan ikut berdiri karena Luhan menarik tangannya, memaksanya agar berdiri.

 

“Ayo ikut aku, kau bisa pilih mainanmu sendiri…” kata Luhan kecil sambil tersenyum, lalu menarik Baekhyun masuk ke dalam rumahnya.

 

Baekhyun mengikuti langkah Luhan sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah itu. Bibirnya membulat ketika matanya menelusuri segala kemewahan yang ada di dalam rumah teman barunya itu.

 

~Mewah sekali…anak ini sungguh beruntung, tidak sepertiku~ batin Baekhyun sambil berdecak miris tanpa Luhan sadari.

 

“Ini kamarku dan Hyung, ayo masuk Baekhyunnie…” kata Luhan, masih dengan wajah penuh senyumnya.

 

Baekhyun melihat-lihat isi kamar itu, kamar yang sangat luas, mungkin 4x lipat lebih besar dari rumah kumuhnya yang dulu. Sebuah ranjang bermotif Superman berbentuk mobil dan berukuran jumbo berada ditengah ruangan itu, 2 bantal, 2 guling, dan 2 buah boneka rusa berwarna cokelat bertengger rapi di atasnya. Lalu sebuah lemari putih besar, sebuah TV lengkap dengan DVD dan lainnya berada di sisi lemari yang bersebelahan dengan 2 buah meja komputer yang tersusun sejajar di sudut ruangan. Dan di sudut lainnya lagi, Baekhyun melihat ada 2 mobil mainan yang sangat besar, berwarna merah dan hitam.

 

“Baekhyunnie, kemarilah…” ucapan Luhan membuyarkan segala pikiran Baekhyun, membuat kaki-kaki kecilnya langsung melangkah menuju ke sebuah kamar kecil yang terletak bersisian dengan kamar mandi, tempat di mana Luhan berada.

 

Baekhyun berjalan semakin mendekat kesana hingga lagi-lagi matanya menatap takjub pada apa yang di lihatnya saat ini. Kamar itu penuh dengan mainan di dalamnya. Segala jenis mainan tersusun rapi di rak-rak bersusun yang menempel pada tembok. Baekhyun dapat menebak jika semua mainan yang berada di dalam situ pasti mahal dan berkelas.

 

“Ayo pilih sesukamu Baekhyunnie…Kau boleh mengambil apapun yang kau inginkan…” kata Luhan, masih tersenyum dengan ramah.

 

Baekhyun menatap wajah Luhan yang sedang tersenyum itu dengan tatapan datarnya. Entah kenapa sebersit perasaan iri menyelinap begitu saja dalam hatinya yang kecil. Baekhyun tiba-tiba merasa tak suka melihat bocah beruntung yang berdiri di hadapannya itu saat ini. Baekhyun benar-benar iri. Kenapa dia harus miskin? Kenapa bukan dirinya yang berada pada posisi Luhan ataupun Chanyeol? Segala pikiran picik itu membuatnya merasa emosi mendadak. Karena itu Baekhyun mengeluarkan dengusan keras, kemudian berbalik dan berlalu pergi meninggalkan Luhan begitu saja.

 

“Lho, Baekhyun? Kau kenapa?” tanya Luhan kecil, bingung dengan tingkah aneh yang di tunjukkan Baekhyun itu.

 

Baekhyun hanya diam, dan pergi keluar tanpa menoleh dan tanpa mengatakan apapun pada Luhan. Bocah mungil itu mengabaikan teriakan Luhan yang memanggil-manggil namanya serta mengejarnya dari arah belakang, dan ketika dia bertemu dengan Chanyeol serta Siyan di teras rumah, Baekhyun juga tetap diam dan pergi begitu saja, pulang menuju rumah Chanyeol.

 

“Baekhyun kenapa?” tanya Chanyeol pada Luhan yang baru keluar dari dalam rumahnya sendiri.

 

“Entahlah, dia tiba-tiba marah saat aku menyuruhnya memilih mainan yang dia suka…aku tak tau apa salahku…” jelas Luhan.

 

“Chanyeollie, saudaramu aneh” kata Siyan, menilai.

 

Chanyeol hanya diam, lalu memakai  sepatunya secepat yang dia bisa.

 

“Aku pulang dulu ya…Bye-bye Twins…” kata Chanyeol sambil berlari pulang dengan langkah yang tergesa-gesa.

.

.

.

.

.

Chanyeol membuka pintu kamar Baekhyun dan menemukan bocah mungil itu duduk terdiam di atas ranjangnya sambil menunduk. Bocah tinggi itu sempat mendesah satu kali sebelum bergerak mendekati Baekhyun dan mengangkat dagu runcing saudara mungilnya itu.

 

“Kau kenapa? Kenapa marah pada Luhan? Apa Luhan menyakitimu?”

 

Baekhyun menggeleng lemah.

 

“Lalu?” tanya Chanyeol lagi, meminta penjelasan.

 

“Aku tak apa-apa…Aku hanya marah dan kecewa pada diriku sendiri…kenapa aku di lahirkan dengan nasib sial, tidak beruntung seperti kalian?” jawabnya tanpa melihat Chanyeol.

 

Chanyeol hanya diam, sebenarnya tak mengerti dengan apa yang di katakan oleh Baekhyun, tapi Chanyeol mencoba memahami situasi dan mengelus bahu sempit saudaranya itu, untuk menenangkan.

 

“Sudahlah, jangan sedih Baekkie, kan ada aku…Mulai sekarang aku yang akan menjagamu, aku yang akan melindungimu, aku akan selalu ada untukmu, bagaimana? Kau tak perlu takut pada apapun, oke? ” bujuk Chanyeol.

 

Bocah kecil itu hanya diam pada awalnya, tapi kemudian mengangkat naik dagu runcingnya untuk menatap Chanyeol. Sebuah senyum lucu terukir pada bibir tipis bocah kecil itu, dan dalam sekejap saja tubuh mungilnya sudah menghambur ke dalam pelukan Chanyeol. Dia lingkarkan lengan-lengannya yang kecil untuk memeluk erat pinggang Chanyeol, lalu ia menyandarkan kepalanya di dada saudaranya barunya itu.

 

“Benarkah kau akan melindungiku? Kau tak boleh menarik ucapanmu kembali Yeol, kau harus selalu ada untukku …kau mengerti?”

 

“Ya, tentu saja Baek”

 

“Kau mau berjanji untuk hal yang satu itu?”

 

“Umm…tentu saja”

 

“Janji?”

 

“Haha, ya…aku janji Byun Baekhyun…Kau ini lucu sekali sih”

 

 

“Aku tidak lucu!”

 

“Haha”

 

“Diam!”

 

“Baiklah, jangan cemberut begitu Baekkie, kau mau ku cubit?”

 

“Tidak”

 

“Haha”

 

“Jangan tertawa”

 

“Baiklah-baiklah”

.

.

.

.

.

Hari ini Baekhyun akan berangkat ke sekolah baru. Senyuman lucu terus-menerus terkembang pada bibir mungilnya ketika ia menatap bayangan dirinya sendiri di cermin. Saat ini Baekhyun sudah sangat rapi. Pakaiannya sudah bagus-bagus. Rambutnya sudah dipotong rapi. Ayah angkatnya membelikannya tas baru dan mahal sesuai permintaannya, juga membelikan peralatan sekolah yang lengkap, dan mahal juga tentunya. Dan yang lebih bagus lagi, Ayah angkatnya akan memasukkannya ke sekolah elit yang sama dengan Chanyeol. Itu adalah sekolah elit di mana si kembar Luhan dan Siyan juga bersekolah.

 

“Baekhyun, sudah selesai?” tanya Ayah Chanyeol, yang saat ini menunggu Baekhyun di ambang pintu kamar putera barunya itu.

 

“Ya Appa, sudah…” jawab Baekhyun sambil berlari-lari kecil menuju Ayah angkatnya.

 

Ayah Chanyeol menyambut tubuh mungil itu dengan tangan yang terulur, langsung meraih Baekhyun ke dalam dekapannya lalu menggendong bocah mungil itu menuju lantai bawah.

 

Di dalam mobil, Chanyeol sudah duduk di jok belakang, menunggu Ayah dan saudaranya datang. Senyum lebarnya langsung terkembang ketika mata bulatnya menemukan Ayahnya muncul dari pintu utama dengan tubuh mungil Baekhyun yang bertengger seperti koala dalam gendongan Ayahnya. Pemandangan itu membuat Chanyeol gemas mendadak, hingga  tangannya terasa gatal dan sudah bergerak-gerak dengan aneh di pangkuannya sendiri. Ayah Chanyeol mendudukkan Baekhyun tepat di sebelah Chanyeol sebelum melangkah menuju jok kemudi. Dia sempat menoleh sekilas kearah dua puteranya yang saat ini entah kenapa sudah saling menyerang di jok belakang. Putera kandungnya yang jahil sudah mencubiti pipi putera angkatnya sambil tertawa-tawa sedangkan bocah yang lebih mungil memukul-mukul tangan Chanyeol kecil dengan brutal sambil mengomel-ngomel tak jelas, membuat pria setengah baya itu tertawa kecil karena merasa geli.

 

“Hei-hei-hei, jangan berkelahi!” kata pria itu, membuat kedua puteranya langsung berhenti bergerak-gerak.

 

“Baiklah, kita berangkat kids” kata pria itu, lalu menyalakan mesin mobilnya sendiri masih dengan kekehan geli karena tingkah dua puteranya yang menurutnya lucu itu.

.

.

.

.

.

Satu hal yang tak pernah terpikirkan oleh Baekhyun, adalah dia harus belajar bersama dengan Luhan dan Siyan di dalam satu ruangan di sekolah barunya. Tadinya Baekhyun merasa senang karena dia akan bersekolah di sekolah yang sama dengan bocah kembar yang kaya itu karena pada akhirnya dia akan memiliki tingkatan yang sama dengan mereka, namun untuk belajar di satu kelas yang sama adalah sebuah pengecualian. Baekhyun tak suka berada dalam jarak yang begitu dekat dengan Si Kembar. Bocah mungil itu juga tak tau mengapa dia seperti itu, hanya saja…Well, Baekhyun tak menyukai apapun mengenai dua kakak-beradik kembar identik itu, terutama pada Luhan. Entah mengapa sejak awal melihat bocah kembar berwajah cantik itu –terutama Luhan yang terlihat lebih aktif dan lebih menonjol di antara keduanya– membuat Baekhyun merasa rendah diri dalam sekejap, dan dia tak menyukai segala perasaan sialan itu. Intinya, Baekhyun tak suka apapun tentang Si Kembar, terutama Luhan. Tak beralasan –ehem-sebenarnya cukup beralasan, walaupun alasannya tergolong sangat sepele. Ini hanya mengenai perasaan iri yang menyelinap di dalam hatinya saja, sebenarnya.

.

.

-Little Baekhyun Pov-

Apa ini? Jadi aku sekelas juga dengan Si Kembar itu? Tch! Kenapa mereka harus menjadi seberuntung itu? Selain memiliki wajah yang imut mereka juga sangat kaya, mereka baik, dan apa-apaan sekarang? Di sekolah juga mereka adalah murid populer? Sialan!!!

 

Kenapa aku bukan Luhan? Kenapa aku tak terlahir dengan segala kesempurnaan yang sama seperti dirinya? Luhan pintar bernyanyi dan melakukan gerakan dance seperti yang sering kulihat di televisi, bahkan dia mampu melakukan gerakan sulit seperti apa yang  biasanya dilakukan oleh orang dewasa. Kenapa anak berumur 8 tahun bisa melakukan hal seperti itu? Bocah itu membuatku muak!

 

Lalu Siyan? Kenapa dia juga sama saja seperti adiknya? Otaknya sangat encer, bahkan Chanyeol bilang anak itu selalu mendapat ranking pertama sejak mereka masih duduk di Kindergarten dulu. Siyan juga menyebalkan! Si Kembar itu menyebalkan! Aku tak menyukai mereka.

 

Si kembar itu…mereka membuatku muak!

 

 

-End Little Baekhyun Pov-

.

.

.

.

.

“Yeollie, aku lapar….” rengek Baekhyun kecil sambil menarik-narik lengan baju Chanyeol.

 

Chanyeol mengangguk mengerti dan mengambil kotak bekal berwarna biru yang memang sengaja di siapkan untuk mereka tadi pagi.

 

“Ini, buka mulutmu Baek, aaa…” kata Chanyeol sambil menyuapkan sepotong sosis goreng berbentuk gurita ke mulut mungil Baekhyun, membuat bocah mungil itu langsung membuka mulut kecilnya sedikit lebar untuk menyambut makanan itu.

 

Senyum lucu selalu terukir pada bibir mungil Baekhyun sepanjang acara makannya bersama Chanyeol, tapi segalanya langsung menguap dengan cepat ketika Si Kembar datang dan ikut bergabung bersama mereka. Baekhyun mengernyit tak suka dengan kedatangan keduanya, tapi tidak dengan Chanyeol. Bocah tinggi itu bahkan sudah tersenyum lebar seperti Idiot ketika melihat 2 bocah cantik itu datang bergabung.

 

“Hai Twins…Ayo duduk disini” kata Chanyeol.

 

“Chanyeollie, kami membawa ayam goreng, kau mau?” tanya Luhan pada Chanyeol.

 

“Tentu saja” jawab Chanyeol, menunjukkan terang-terangan keceriaannya atas kehadiran dua bocah kembar itu.

 

Bocah satunya yang bermata sipit hanya diam, menatap tak suka pada dua bocah berwajah sama itu , terutama (lagi-lagi) Luhan yang lebih banyak bicara ketimbang kembarannya sendiri. Luhan memindahkan sepotong paha ayam ke kotak bekal Chanyeol, lalu mengambil sepotong sisanya dan menyuapi kakak kembarnya sendiri seperti seorang Ibu yang menyuapi balitanya. Baekhyun bahkan ragu jika Luhan adalah yang termuda di antara dua bocah kembar itu.

 

Hyung…aaaa”

 

Siyan, -yang tertua di antara keduanya- kini menyambut suapan sayang yang di berikan adiknya sendiri. Secara langsung  dia gigit daging ayam itu dan mengunyahnya dengan semangat, dengan usapan sayang yang dihadiahkan adiknya sendiri pada rambut ikalnya. Luhan terkekeh geli melihat  kakaknya yang terlihat sangat menggemaskan, dan dalam sekejap saja bocah cantik itu sudah memasukkan bekas gigitan kakak kembarnya itu ke dalam mulutnya sendiri.  Segala pemandangan manis itu membuat Chanyeol tersenyum geli, tapi tidak untuk Baekhyun. Segala hal itu malah membuatnya semakin muak, tapi bocah itu hanya diam sambil menatap tajam pada dua bocah kembar yang saling suap-suapan sambil bercanda itu, sesekali Baekhyun membuka bibir tipisnya hanya untuk menyambut suapan dari saudara barunya, Chanyeol.

 

“Chanyeollie, aku mau itu, bolehkah?” kata Luhan dengan rengekan manja sambil menunjuk-nunjuk sosis goreng berbentuk gurita yang di pegang oleh Chanyeol, yang sebenarnya hendak disuapkan Chanyeol untuk Baekhyun.

 

“Kau mau juga? Haha, tentu saja boleh cantik…Nih, aaaa…” Chanyeol menyuapi Luhan, lalu menyingkirkan sedikit kotoran yang berada di sudut bibir Luhan, yang sukses membuat wajah tirus bocah lainnya tertekuk karena kesal. Bocah itu mendengus keras dan menatap tak senang pada saudara barunya, dan ketidak-sukaannya itu bahkan dia tunjukkan secara terang-terangan dengan menepis kasar tangan Chanyeol yang hendak menyuapkan makanan lagi ke bibir tipisnya.

 

“Aku kenyang! Berikan saja semuanya pada bocah ini!” kata Baekhyun ketus dengan telunjuk lentik yang menukik tajam tepat kearah Luhan, lalu Baekhyun membawa tubuh mungilnya pergi begitu saja, meninggalkan tiga pasang mata bulat yang menatap aneh kearah punggungnya.

 

“Kenapa dia?” tanya Luhan pada Chanyeol. Bocah yang di tanya malah mengedikkan bahunya. Sesungguhnya Chanyeol juga tak mengerti Baekhyun kenapa.

 

“Chanyeollie…saudaramu benar-benar aneh…” kata Siyan menilai, untuk ke dua kalinya.

.

.

.

.

.

Kelas 4….

 

 

Chanyeol dan Baekhyun sudah berusia 9 tahun, begitu juga Luhan dan Siyan. Tak terasa sudah setahun Baekhyun menjadi bagian dari keluarga Park. Tak ada yang berubah. Di rumah itu hanya ada Ayah angkatnya ,Chanyeol, dirinya, dan beberapa maid di dalamnya. Benar, tak ada yang berubah di rumah itu, tapi tidak dengan rumah sebelah.

 

Baekhyun tak tau, dan belum cukup mengerti tentang apa yang terjadi, tapi Si Kembar Luhan dan Siyan sudah tak lagi seperti dulu.  Akhir-akhir ini baik di sekolah ataupun di rumah, Baekhyun tak lagi melihat 2 saudara kembar itu bermain bersama. Sepertinya kedua bocah berwajah sama itu sedang bermusuhan. Luhan yang biasanya sangat sayang dan perhatian pada kakaknya dan tak mau berpisah walau sedetik saja itu, kini seolah tak peduli lagi pada Siyan. Bahkan beberapa kali Siyan sakit perut hingga terpaksa di pulangkan oleh pihak sekolah, tak ada raut khawatir di wajah cantik Luhan. Luhan menjadi pendiam, tidak cerewet lagi seperti dulu. Beberapa waktu belakangan, bocah itu hanya akan menunjukkan wajah datarnya pada siapapun, kecuali pada Chanyeol. Luhan dan Chanyeol kini terlihat semakin akrab, yang tentu saja membuat bocah bermata sipit yang lainnya merasa kesal setengah mati.

 

“Baekkie, ayo sini…Kita bisa makan bersama-sama…” kata Chanyeol, dengan tangan Luhan yang berada dalam genggaman tangannya, membuat Baekhyun langsung memperdengarkan dengusan kerasnya serta tatapan meremehkan pada keduanya.

 

“Apa kau mengajakku makan bersama dengan anak ini? Aku tidak mau!” jawab Baekhyun ketus, dengan mata sipit yang menatap tajam pada Luhan.

 

Bocah bernama Luhan itu meniup poninya sendiri karena merasa sedikit kesal. Entahlah, tapi sejujurnya Luhan sudah merasa muak diperlakukan tak baik terus-menerus oleh Baekhyun. Sudah sangat sering, dan kali ini Luhan sama sekali tak berniat diam seperti apa yang dia lakukan pada waktu-waktu sebelumnya. Luhan memutuskan melawan Baekhyun kali ini karena Baekhyun benar-benar telah mendobrak batas kesabarannya.

 

“Byun Baekhyun, sebenarnya apa masalahmu? Kenapa kau selalu bersikap buruk padaku?” kata Luhan kecil dengan tatapan dingin menusuk pada bocah mungil lainnya.

 

“Masalahnya sepele Xi Luhan, Aku hanya tak suka padamu” jawab Baekhyun.

 

“Kenapa? Aku tak pernah menyakitimu kan, Baekhyun? Lalu apa masalahmu? Kenapa kau tak menyukaiku?”

 

“Apapun yang menjadi masalah pada diriku sama sekali bukan urusanmu Luhan…Aku hanya tak suka melihatmu, dan saudara kembarmu itu. Ah, sejujurnya aku lebih tak menyukaimu ketimbang Siyan”

 

“Kenapa? Kenapa kau tak menyukai kami? Kenapa kau tak menyukaiku?”

 

“Sederhana saja, itu karena kau menyebalkan”

 

“Hei sudahlah, jangan bertengkar…” bujuk Chanyeol.

 

Luhan berdecih, lalu tertawa sinis.

 

“Terserah kau saja. Aku juga tak menyukaimu, asal kau tau…Kau juga menyebalkan Byun Baekhyun. Dasar anak menyedihkan!!” kata Luhan, dengan senyuman miring di akhir kalimatnya.

 

Baekhyun melotot pada Luhan ketika telinganya mendengar kata-kata ‘menyedihkan’ yang keluar dari bibir bocah cantik itu. Dia tatap Luhan dengan tatapan emosinya. Ucapan itu menohok tepat pada jantung kecilnya dan serta-merta membuat tubuh mungilnya terasa terbakar oleh emosi.

 

Menyedihkan?

 

Kata-kata sialan itu benar-benar membuat Baekhyun menjadi sangat tersinggung. Bocah itu menggertakkan gigi-giginya dengan kuat, lalu dia melangkah maju, meraih rambut ikal bocah berwajah cantik yang berdiri di sisi Chanyeol dan menariknya sekuat tenaga dengan jari-jarinya yang mungil.

 

“Dasar sialan kau! Aku tidak menyedihkan, kau yang menyedihkan!” teriak Baekhyun histeris, masih sambil menjambak rambut Luhan sekuat tenaga.

 

Bocah yang di serang itu juga tak tinggal diam. Dengan perasaan marah yang sama besarnya, Luhan membalas dengan mencakar wajah Baekhyun menggunakan kuku-kuku tangannya, membuat wajah tirus Baekhyun berdarah dengan pekikan kuat yang keluar dari bibir tipis bocah mungil bernama Baekhyun itu, membuat Chanyeol menjadi sangat panik dan berusaha memisahkan dua anak itu dari perkelahian hingga tubuhnya sendiri juga ikut terluka karena dua bocah mungil itu menyerangnya juga karena tak suka dia ikut campur dalam perkelahian keduanya.

 

“Siyan, cepat panggilkan Guru” teriak Chanyeol panik.

 

Siyan baru hendak berlari keluar kelas, tapi Baekhyun dan Luhan sudah saling melepaskan diri. Chanyeol memeluk Baekhyun erat-erat agar tak menyerang Luhan lagi, sedangkan Luhan mengumpat-ngumpat kesal sambil merapikan seragamnya yang acak-acakan. Siyan mendekati adiknya itu dan langsung memeluk Luhan erat-erat sambil menangis.

 

“Xiao Lu, kau baik-baik saja kan? Mana yang sakit? Jangan berkelahi lagi, Hyung tak mau kau terluka…Hyung sangat sayang padamu…”

 

Bukannya menenangkan kakak kembarnya seperti yang biasa dia lakukan dulu, malah sebaliknya, Luhan justru mendesis marah.

 

“Aish, lepaskan aku!” katanya sambil mendorong Siyan sampai terjatuh dengan keras ke lantai.

 

“Aku membenci Baekhyun, sama seperti aku membencimu Xiao Huo Hyung. Tak usah sok perhatian padaku Hyung, aku tak butuh!” kata Luhan sengit, lalu pergi begitu saja dari tempat itu.

 

Baekhyun berhenti memberontak ketika melihat reaksi tak terduga yang dilakukan oleh Luhan. Tatapan marahnya tadi seketika berubah menjadi tatapan bingung dengan segala keanehan yang terjadi pada si kembar itu. Entah apa yang terjadi pada mereka –Luhan dan Siyan-tapi hal itu (entah mengapa), cukup membuat Baekhyun merasa puas.

 

Yeah, puas.

 

Segala keganjilan yang terjadi pada Si Kembar, membuat senyum tipis terukir di bibir mungil Baekhyun. Oh, sepertinya masa lalu yang pedih telah menciptakan seorang Hellboy berwajah imut disini. Hanya karena merasa Tuhan tak adil padanya dengan menggariskan kelahiran yang sangat sial untuknya, Baekhyun tumbuh menjadi anak seperti itu. Dan sialnya, Luhan adalah sasaran yang empuk untuk menuangkan segala kemarahan serta kekecewaan bocah imut itu pada Tuhan. Segalanya menjadi pelik hanya karena satu perasaan aneh yang boleh kau sebut dengan perasaan iri. Hanya itu, sesepele itu. Hanya karena iri.

 

Usia 9 tahun. Usia yang masih terlalu kecil untuk memulai satu permusuhan kan?


To Be Continued


 

 



Advertisements