ALL ABOUT LOVE ( OTHELLO SEASON 2 )

All About Love Poster

.

By tmarionlie

.

Poster By L.E Design

.

ChanBaek  |  ChanLu  |  KrisBaek

.

Yaoi | Hurt & Comfort | Romance | Mature

.

.


WARNING!!

Karakter semua tokoh dalam FF ini akan sangat menjijikkan dan memuakkan. Bagi ChanBaek hardshipper yang tidak mampu membedakan antara Fiksi dan Real, yang tidak suka jika biasnya dinistakan di dalam FF, harap CLOSE FF INI DENGAN SEGERA agar tidak terjadi kesalahpahaman dengan Author ( saya ). Thanks!


Gerimis turun dari langit, seperti jarum-jarum logam yang hendak mengoyak tanah. Dua orang pasangan suami isteri, saat ini terlihat saling beradu mulut. Sang isteri melemparkan apa-apa saja yang dapat dijangkaunya dengan tangan, sedangkan suaminya menghindari barang-barang yang dilemparkan isterinya itu dengan bibir yang menyerukan kata-kata kasar, menunjukkan bahwa dia tengah emosi.

 

“Dasar pria pemalas, mati saja kau!”

 

“Kau wanita pembawa sial! Aku hidup begini juga karena menikah denganmu, dasar wanita tolol!”

 

“Pergi kau pria brengsek, aku dan Baekhyun tak butuh pria tolol seperti kau!”

 

Dan perseteruan itu terus saja berlanjut  dengan seruan-seruan kata-kata kasar berikut kata-kata binatang di dalamnya. Kedua suami isteri itu sama-sama keras kepala, tak ada yang mau mengalah, keduanya hanya terlarut dalam emosi mereka sendiri, mengabaikan seorang bocah kecil  imut yang saat ini sedang mencoret-coret buku pelajarannya dengan geram didalam sebuah kamar sempit dibagian lain dari rumah kumuh itu.

 

 

“Orangtua sialan! Kalian berdua sama saja, sama-sama gila!” umpat bocah kecil itu, kata-kata yang seharusnya tak pantas keluar dari bibir mungil bocah-bocah seusianya.

 

Kepala bocah kecil itu semakin memanas ketika telinganya mulai mendengar lagi suara barang-barang yang di lemparkan hingga menimbulkan kegaduhan dalam rumah sempit itu, membuat otaknya terasa amat kusut dan menuntun tangan mungilnya mengepal kuat, dan kini mulai merobek-robek buku pelajarannya dengan kesal sampai buku-buku itu hancur berantakan.

 

“Buku-buku ini tak berguna, jadi lebih baik di hancurkan. Toh aku tak pernah bisa belajar di rumah sialan ini” desis bocah itu, kesal.

 

Bocah kecil itu masih asyik melampiaskan kemarahannya pada lembaran-lembaran tak berdosa yang berada dalam genggamannya ketika Ibunya tiba-tiba saja masuk ke kamarnya.

 

“Baekhyun, cepat bantu Eomma membilas pakaian-pakaian tetangga, kalau tidak kita tak akan bisa makan hari ini, dan juga….YA!! APA YANG KAU LAKUKAN??”

 

Wanita yang memang sudah dipenuhi emosi sejak tadi itu menjadi semakin emosi ketika menyadari apa yang dilakukan oleh putera kecilnya. Emosi yang sebenarnya sudah agak mereda kembali naik karena melihat putera kecilnya itu merobek-robek buku yang dibelinya dengan susah payah, dengan keringat penderitaannya. Karena gelap mata, wanita itu menyeret tubuh mungil puteranya ke arah kamar mandi dan mengguyur tubuh putera kecilnya itu dengan gigi yang bergemeretak karena emosi yang meluap-luap.

 

“Dasar anak sialan! kau pikir aku membeli buku-buku itu dengan uang hasil merampok? aku bahkan harus mengeluarkan keringat darah agar kau menjadi anak pintar, tapi kau malah menyia-nyiakan usaha kerasku! Kau sama saja seperti ayahmu, mati saja kau!!” maki wanita itu sambil terus mengguyur tubuh bocah berusia 8 tahun itu sambil sesekali memukuli tubuh mungil puteranya.

 

“Kau tak akan kuberi makan hari ini, tahankan! Itu hukuman yang pantas untuk anak bodoh dan nakal sepertimu!”

 

Wanita itu pergi meninggalkan bocah mungil itu sendirian setelah ia merasa puas menghukum puteranya. Sementara bocah kecil yang di hukum itu hanya diam, meringkuk disudut kamar mandi sambil menggigil kedinginan. Tapi dia tak menangis, malah senyum tipis tersungging di bibir mungilnya.

 

“Hanya tak makan? Tch, kenapa tak membunuhku saja? Bahkan mati mungkin lebih baik daripada hidup menyedihkan seperti ini”

 

 .

.

.

.

.

“Hey bocah miskin! Apa yang kau lakukan disini? Tempat ini tak cocok untuk anak perempuan seperti kau” kata seorang anak pada Baekhyun kecil yang sedang duduk sendirian di atas rumput sambil melihat anak-anak lainnya yang sedang bermain bola.

 

Baekhyun kecil hanya diam dan mengabaikan anak itu, membuat anak yang menggodanya menjadi sedikit kesal.

 

“Aishhh, dasar menyebalkan! Sudah miskin, angkuh pula! Hey teman-teman kemarilah, bantu aku memberi pelajaran pada bocah perempuan ini”

 

Anak-anak lainnya datang berganti-gantian, dan mulai menggoda Baekhyun dengan mengatainya anak perempuan, membuat bocah mungil itu menjadi kesal.

 

“Aku bukan yeoja!” teriak Baekhyun, emosi.

 

“Benarkah? Tapi wajahmu tampak seperti yeoja, benarkan teman-teman?” kata anak lainnya dan dijawab dengan anggukan oleh anak-anak yang sekarang sudah mengerumuni Baekhyun kecil.

 

“Sudah kukatakan aku bukan yeoja, brengsek!!!” Baekhyun memukul anak yang barusan mengejeknya, sampai anak itu jatuh tersungkur di atas tanah.

 

Anak yang dipukul itu bangkit dengan cepat, menatap marah pada Baekhyun lalu membisikkan sesuatu pada anak-anak lainnya. Kemudian, entah bagaimana kejadiannya tiba-tiba saja anak-anak itu sudah menangkap tubuh mungil Baekhyun, membuat bocah kecil itu meronta-ronta sekuat tenaganya sambil mengumpat dengan kata-kata kasar, tapi anak-anak nakal itu tak memperdulikannya. Empat dari lima anak-anak itu memegangi tangan Baekhyun, dan seorang lagi memukul keras wajah Baekhyun sampai pipi bocah mungil itu membiru.

 

“Dasar miskin! Berani sekali kau memukulku? Jadi kau namja, eoh? mari kita lihat, kau namja atau yeoja?”

 

Dengan gerakan cepat anak itu menarik turun celana Baekhyun, membuat Baekhyun terbelalak kaget.

 

“Ap-apa yang kau lakukan?” teriak Baekhyun panik.

 

“Hanya ingin membuktikan ucapanmu, haha…Jadi kau namja atau yeoja Byun Baekhyun? Atau bukan keduanya?”

 

Anak nakal itu sudah melucuti celana kumal Baekhyun, dan saat ini sudah berusaha melepaskan celana dalam bocah mungil itu juga, membuat kaki-kaki mungil Baekhyun menerjang-nerjang secara brutal.

 

“Jangan!” ronta Baekhyun, mulai histeris.

 

“Ayo telanjangi anak miskin ini!” kata salah seorang anak yang memegangi tangan Baekhyun kecil.

 

“Tidak! Jangan, kumohon….” rintih Baekhyun, mulai menangis.

 

Tapi rintihannya sia-sia karena tubuhnya sudah benar-benar telanjang saat ini. Baekhyun meringkuk sambil menangis, membuat anak-anak nakal itu tertawa-tawa mengejeknya.

 

“Ya ampun…ternyata bocah miskin ini memang namja…Ah, mengecewakan! Dan, Ya Tuhan…Byun Baek, apa ini kau sebut pakaian? Tch, bahkan lap dapur Ibuku lebih bagus dari ini” kata anak yang melucuti celananya tadi, sudah berancang-ancang membuang pakaian Baekhyun ke tong sampah.

 

“Jangan! Jangan dibuang…hiks…” Baekhyun memohon sambil menangis, tapi percuma karena pakaian kumalnya sudah dimasukkan oleh anak tadi ke tong sampah. Bukan hanya itu, anak itu bahkan mengaduk-aduknya sampai tercampur dengan sampah lainnya yang sangat bau menggunakan sebuah ranting kayu. Baekhyun hanya diam sambil menangis, tak bisa melawan karena anak-anak itu jumlahnya banyak.

 

“Hey lihat, dia menangis, haha…sudahlah, ini sudah tidak asyik…Ayo kita pergi!”

 

Anak-anak nakal itu pergi meninggalkan Baekhyun yang menangis sambil berjongkok memeluk tubuh polosnya dibawah terik matahari. Baekhyun kecil baru bangkit setelah anak-anak nakal yang mengganggunya itu benar-benar telah menghilang. Dia bawa tubuh kecilnya menuju tong sampah tadi, lalu Baekhyun membongkar tong sampah itu, mencari pakaiannya. Setelah dapat, bocah mungil itu memakainya kembali, terpaksa daripada dia harus pulang tanpa pakaian.

 

“Sialan! Sampai kapan aku akan terus menerus hidup menderita seperti ini? Brengsek, hiks…”

 

Bocah malang itu mulai melangkah perlahan, membawa tubuh mungilnya yang berbau sampah dengan kaki-kaki yang tak pernah mengenakan alas kaki itu pulang menuju rumah. Sesekali mulutnya mengumpat, dan tangannya berkali-kali menghapus air mata yang terus-menerus turun dengan seenaknya di pipi tirusnya. Baekhyun benci pada anak-anak itu, benci pada hidupnya, bahkan dia membenci Tuhan karena memberinya takdir yang buruk seperti ini.

 

 .

.

.

.

.

Baekhyun kecil menghentikan langkah beberapa meter dari rumah kumuhnya ketika mata sipitnya melihat orang-orang ramai berkumpul di sekeliling rumahnya. Keningnya berkerut tajam, menandakan dia sedang bingung dan heran dengan pemandangan yang dilihatnya saat ini. Dengan gerakan cepat, bocah kecil itu menghapus kasar airmatanya dan mulai melangkah menerobos kerumunan orang-orang dengan tubuhnya yang masih berbau sampah, membuat orang-orang itu menatapnya dengan tatapan yang beraneka ragam.

 

Baekhyun kecil membeku ketika melihat tubuh kedua orangtuanya sudah tergeletak tak bernyawa diatas tanah pekarangan rumahnya yang kumuh itu. Dunia seolah berhenti berputar saat itu juga. Baekhyun melihat Ayahnya tewas dengan tubuh yang penuh luka memar diseluruh tubuh dan wajahnya, dan juga luka tusuk tepat dijantungnya, sedangkan Ibunya meninggal dalam posisi masih menikam perutnya sendiri, sepertinya bunuh diri.

 

Mata Baekhyun kecil yang masih sembab karena diganggu anak-anak nakal tadi kini kembali berair, dan hanya dalam hitungan detik saja airmatanya sudah menganak sungai dipipi tirusnya. Tapi bocah malang itu hanya diam tanpa mengatakan apapun.

 

Orang-orang dewasa yang berada disekitarnya terlihat iba padanya, tapi mereka juga hanya diam. Seorang pria setengah baya yang memegangi stick baseball menghampirinya dan memegangi kepala bocah malang itu.

 

“Maafkan kami Baekhyun…Ayahmu mencuri uang seorang warga, dan warga lainnya mengeroyoknya…tapi kami sungguh tak menyangka kalau Ibumu tiba-tiba datang dan menusuk Ayahmu. Ibumu bunuh diri setelah membunuh Ayahmu…Maaf kami tak bisa mencegahnya…”

 

Baekhyun kecil menepis tangan pria itu dengan kasar.

 

“Jangan sentuh aku! Paman juga ikut memukuli Ayahku kan? Kalian semua sama saja, Kalian pembunuh!” teriak Baekhyun sambil menangis.

 

Pria tadi hanya bisa diam, prihatin.

 

Baekhyun kecil membawa langkah kecilnya kearah mayat orang tuanya, mengguncang-guncang  tubuh keduanya sambil menangis.

 

AppaEomma, bangunlah…Kalian tak boleh meninggalkanku sendirian…”

 

Baekhyun kecil terus menggoncang-goncang tubuh orangtuanya yang sudah tak bernyawa itu.

 

AppaEomma…jangan mati…Aku tak memiliki siapapun lagi…kalian tak boleh mati…”

 

Tapi sekeras apapun Baekhyun berusaha, tubuh dua orang itu tak pernah bergerak. Tangisan bocah malang itu semakin keras, mulai terdengar pilu.

 

Appa, Eomma, jangan tinggalkan Baekhyun…hiks…bangunlah…”

Orang-orang yang berada disitu menjadi terenyuh. Beberapa bahkan mulai ikut menangis karena kasihan pada bocah malang itu. Baekhyun tak memperdulikan orang-orang yang berada di sana. Bocah itu hanya menangis sambil menunduk.

 

“Kenapa harus aku yang mengalami ini? Bahkan untuk memiliki orangtua yang buruk seperti merekapun aku tak bisa…hiks….” Tangis bocah kecil itu, membuat orang-orang dewasa yang berada di sana menjadi semakin kacau.

 

Baekhyun menghapus airmatanya dengan kasar, lalu bangkit berdiri. Dia bawa tubuh kecilnya menjauh dari mayat orang tuanya, kembali menerobos orang-orang dewasa disekelilingnya. Tatapan mata bocah itu sudah hampa, tak ada lagi pancaran semangat di dalamnya. Bocah itu berjalan menjauh dari tempat itu dengan hati yang hancur. Baekhyun ingin pergi, dan sebenarnya dia juga tak tau ingin kemana. Dia hanya membawa kakinya melangkah lurus, yang penting dia menjauh dari tempat itu. Baru beberapa langkah dia berjalan, tanpa sengaja tubuh mungilnya menabrak tubuh seorang pria dewasa. Baekhyun kecil mendongak kearah orang itu, dan menatap aneh pada pria dewasa yang saat ini tengah melempar senyuman padanya.

 

Hallo Byun Baekhyun” kata pria dewasa itu dengan senyuman hangatnya, membuat Baekhyun kecil semakin menatap aneh kearahnya.

 

“Paman siapa? Kenapa Paman tau namaku?”

 

Orang itu berjongkok dihadapan Baekhyun, lalu mengusap rambut bocah kecil itu.

 

“Aku? Aku malaikat penolong untukmu Baekhyunnie…”

 

“Malaikat? Benarkah?”

 

Pria itu mengangguk, masih dengan senyuman hangatnya.

 

“Apa Baekhyun mau ikut dengan Paman?”

 

Baekhyun kecil hanya diam, masih kebingungan. Dia tak mengenal pria dewasa yang tampak asing ini, tapi Baekhyun yakin pria dewasa ini bukan orang jahat.

 

“Bagaimana? Ikutlah bersama Paman, hmmm?”

 

Baekhyun kecil terdiam lama, tapi setelah berpikir lama dan juga karena memang dia tak punya pilihan, akhirnya dia menganggukkan kepalanya. Baekhyun tak memiliki siapapun sekarang, jadi tak ada salahnya mengikuti pria penolong didepannya ini kan?

 

“Bagus! Sekarang, ayo peluk Paman, dan panggil Paman Appa…”

 

“A-Appa?

 

“Ya, kalau kau mau ikut dengan Paman, kau akan menjadi putera Paman, bagaimana, kau mau kan?”

 

 

“…..”

 

 

“Baekhyun?”

 

 

“Ba-Baiklah…”

 

 

“Bagus nak…sekarang ayo peluk Appa…”

 

“Ta-Tapi…”

 

Baekhyun menatap tubuhnya sendiri lalu menatap pria dewasa itu dengan ragu. Baekhyun takut mengotori tubuh pria dewasa di hadapannya dengan tubuhnya yang kotor dan bau itu. Tapi pria itu saat ini sedang merentangkan tangannya, menunggu Baekhyun memeluknya sambil tersenyum.

 

“Tak apa Baekhyunnie…ayo peluk Appa sayang…”

 

Baekyuh kecil tersenyum lebar, lalu menghambur cepat, memeluk pria itu erat-erat dengan tubuh berbau sampahnya.

 

Appa….terima kasih…” kata Baekhyun kecil, membuat pria itu tertawa geli.

 

“Bagus nak….mulai sekarang dan seterusnya panggil aku Appa, oke? Lupakan penderitaanmu Byun Baekhyun…mulai sekarang Appa yang akan melindungimu…kau mengerti?”

 

“Ya…terima kasih, Appa…”

 

 .

.

.

.

.

Bocah mungil yang imut itu tak henti-hentinya berdecak kagum pada apapun yang dilihat oleh matanya. Saat ini dia sudah berada di dalam rumah Ayah barunya yang sangat mewah dan berkelas. Baekhyun merasa sangat kagum, karena selama hidupnya dia tak pernah melihat kemewahan seperti ini. Hanya penderitaan demi penderitaan yang didapatnya selama 8 tahun hidupnya, karena itu Baekhyun merasa jika ini seperti mimpi.

 

Ayah barunya memiliki beberapa maid di rumah itu, bahkan salah satunya kini sedang memandikan Baekhyun, membuat Baekhyun menjadi sedikit merasa bangga dan memuji Tuhan atas takdir tak terduga yang ia dapatkan kali ini. Baekhyun sampai mencium aroma tubuhnya berkali-kali karena merasa sangat senang dengan aroma tubuhnya yang harum. Bibir tipisnya tak pernah berhenti melengkungkan senyuman, apalagi ketika ia melihat Ayah barunya, malaikat penolongnya itu.

 

“Sudah selesai? Wah, ternyata putera Appa sangat imut jika bersih seperti ini” puji pria itu, membuat Baekhyun semakin menyukai Ayah barunya.

 

Pria itu mengacak rambut basah Baekhyun, lalu dia bawa tubuh mungil Baekhyun kecil kedalam gendongannya. Kakinya melangkah menapaki anak-anak tangga satu-persatu, menuju ke lantai atas, membawa Baekhyun ke dalam sebuah kamar berukuran lebar yang penuh dengan warna-warni yang menarik di sana-sini.

 

“Nah, ini kamar Baekhyun…bagaimana, suka?” tanya pria itu.

 

Baekhyun menatap ruangan itu dengan mulut terbuka karena kagum, kemudian bocah itu mengangguk dengan cepat. Bagaimana tidak? kamar itu sangat luas, dengan perabotan yang lengkap dan juga mewah, yang bahkan tak pernah terpikirkan oleh Baekhyun jika dia akan mendapatkan semua ini, bahkan dalam mimpi sekalipun.

 

Baekhyun melorot turun dari gendongan Ayahnya, kemudian membawa kaki mungilnya, berlari ke ranjangnya yang empuk. Bocah kecil itu duduk diatasnya sambil melompat-lompatkan pantatnya karena begitu senang. Bibir bocah mungil itu terus-menerus tersenyum. Baekhyun benar-benar senang, membuat Ayah barunya tersenyum geli melihat tingkah putera angkatnya itu. Pria itu baru saja hendak menghmpiri putera barunya ketika seorang bocah lainnya berteriak-teriak di dalam rumah, memanggil-manggilnya.

 

APPA

 

Pria itu tersenyum lebar, dan Baekhyun langsung berhenti melompat-lompat. Mata sipit Baekhyun menatap bingung pada Ayah barunya, tapi pria dewasa itu malah tersenyum lebar sambil menatap kearah luar kamar, entah melihat siapa.

 

“Oh, Chanyeol sudah pulang? Kemarilah, Appa punya hadiah untuk Chanyeol” kata pria itu, membuat Baekhyun langsung diam dan duduk tenang diatas ranjangnya dengan kening yang berkerut.

 

Chanyeol? Siapa itu?~ Batin Baekhyun. Mata sipitnya menatap lurus pada pintu kamarnya, penasaran dengan ‘bocah lain’ yang bernama Chanyeol itu.

 

Tak lama kemudian seorang bocah tinggi masuk ke kamar itu, membuat Baekhyun langsung melemparkan tatapan polosnya yang terlihat sangat imut. Baekhyun tau bocah itu pasti adalah saudara barunya, karena itu Baekhyun ingin bersikap baik pada bocah itu.

 

“Nah Chanyeol, ayo sapa saudara barumu…Namanya Byun Baekhyun….”

 

Bocah tinggi itu menatap Baekhyun terpana. Bibirnya membulat ketika matanya menatap wajah saudara barunya yang sangat imut. Beberapa detik saja, Chanyeol sudah tersenyum, bahkan sangat lebar.

 

“Jadi Appa benar-benar memberikanku saudara baru? Assa! Terima kasih Appa!!” kata Chanyeol kecil karena terlampau senang.

 

Chanyeol memang sudah sangat lama meminta pada Ayahnya agar mengadopsi satu anak lagi untuk menjadi temannya di rumah itu. Chanyeol tak punya Ibu, dan Ayahnya adalah seseorang yang sangat sibuk, karena itu setiap hari Chanyeol merengek-rengek agar Ayahnya mengadopsi seorang anak lagi agar dia tak lagi merasa kesepian. Melihat Baekhyun yang seumuran dengannya, tentu saja membuat bocah tinggi itu menjadi sangat senang, apalagi Baekhyun sangat imut dan lucu.

 

Dengan senyum yang terkembang, Chanyeol kecil menghampiri Baekhyun yang sedang duduk diam itu dengan cepat, menatap wajah tirus Baekhyun lekat-lekat, dan senyuman bodoh lagi-lagi terukir pada wajahnya. Tangannya sudah terangkat, mencubiti pipi Baekhyun. Sebenarnya memang sudah sejak tadi tangannya gatal ingin melakukannya karena gemas melihat wajah saudara barunya yang sangat lucu.

 

Hallo Baekkie… Ah, kau sangat imut dan lucu, mumumu…”

 

“B-Baekkie??” tanya Baekhyun dengan kening yang berkerut.

 

“Ya, Baekkie…Itu panggilan sayangku untukmu, haha…” kata Chanyeol, membuat Baekhyun lagi-lagi menatapnya dengan aneh.

 

“Kau…sayang padaku?” tanya Baekhyun karena merasa aneh, soalnya selama ini tak ada orang yang menyayanginya, yang ada dia selalu di bully terus-menerus karena dia miskin.

 

“Tentu saja! Kau kan saudaraku, jadi aku pasti akan menyayangimu” kata Chanyeol kecil dengan senyum lebarnya.

 

Baekhyun juga ikut tersenyum. Entahlah, Baekhyun merasa bahagia. Ayah barunya sangat baik, dan saudara barunya juga baik. Baekhyun merasa sangat beruntung.

 

“Wah, kau sangat cantik….” puji Chanyeol.

 

“Cantik? Tapi aku namja…” kata Baekhyun.

 

“Ahaha, ya…kau namja cantik, seperti si kembar”

 

“Si kembar?” tanya Baekhyun.

 

Chanyeol mengangguk cepat.

 

“Si kembar adalah tetangga yang tinggal di sebelah rumah kita…Kau mau berkenalan dengan mereka? Ayo kerumah sebelah, akan kukenalkan kau pada mereka” kata Chanyeol sambil menarik tangan mungil Baekhyun agar ikut dengannya.

 

Kedua bocah itupun berjalan keluar, mengabaikan Ayahnya yang sejak tadi masih berdiri didepan pintu kamar Baekhyun. Chanyeol membawa Baekhyun kerumah sebelah.

 

Ketika memasuki pagar rumah pertama kali yang dilihat Baekhyun adalah 2 orang bocah kembar berwajah identik yang sedang bermain sepeda. Ah, bukan bermain sepeda, tapi salah satunya sedang mengajarkan bocah yang satunya lagi bersepeda. Baekhyun menatap dua bocah itu dari balik punggung Chanyeol.

 

“Xiao Lu, jangan biarkan aku jatuh…” kata bocah yang satu.

 

“Ya, aku mengerti Hyung, tenang saja…mana mungkin aku membiarkan Hyung jatuh….” kata bocah yang satunya lagi.

 

Chanyeol kembali meraih jemari Baekhyun dan mulai berjalan menghampiri kedua bocah kembar identik itu.

 

“Hai Twins….” sapa Chanyeol riang.

 

Kedua bocah kembar itu sontak menoleh kearah Chanyeol dan Baekhyun.

 

~Wah…Chanyeol benar, mereka sangat cantik~ puji Baekhyun di dalam hati.

 

Bocah yang mengajarkan kakaknya bersepeda tadi langsung tersenyum begitu melihat Chanyeol, lalu menggendong saudara kembarnya turun dari sepeda dan menggandeng kakaknya itu berjalan menghampiri Chanyeol dan Baekhyun.

 

“Hai Chanyeollie…kau membawa teman baru?” sapa salah satu dari si kembar itu, sedangkan yang satunya lagi tersenyum ramah pada Baekhyun.

 

Chanyeol menoleh kearah Baekhyun yang juga sedang menatapnya saat ini.

 

“Ini bukan temanku…Ini adalah Baekhyun, saudara baruku” kata Chanyeol.

 

Salah satu dari si kembar yang lebih terlihat aktif itu mengulurkan tangan pada Baekhyun.

 

Anneyong Baekhyun….aku Luhan, dan ini Hyung kembarku, Siyan….” kata bocah itu, memperkenalkan dirinya dan saudara kembarnya.

 

Baekhyun menyambut uluran tangan itu dengan ragu. Baekhyun merasa canggung, soalnya selama ini tak ada yang mau berteman dengannya.

 

“Ha-hai….aku Baekhyun….”

 

Luhan kecil tersenyum lagi.

 

“Lupakan saja bocah tiang listrik ini Baekhyunnie…lebih baik kau bermain dengan kami….Ayo kita main bersama!” kata Luhan ramah, lalu merebut jemari Baekhyun dari genggaman Chanyeol.

 

“Hei!” protes Chanyeol, tapi Luhan malah tertawa dan menarik kakak kembarnya serta Baekhyun menjauh dari bocah tinggi itu.

 


To Be Continued


A/N : Terima kasih sudah membaca!

Advertisements