Marriage

large

By tmarionlie

.

HunHan

.

Y
aoi | Romance | Yadong


 

 

Mata sipit itu kembali menatap pada jarum jam arloji yang terus-menerus berputar di pergelangan tangannya. Dia gigit bibirnya berkali-kali, dengan keringat dingin yang turun melalui pelipis dan jatuh di garis rahangnya sendiri. Jantungnya berdegup sangat kencang, hatinya terasa ngilu. Empat jam lagi dari sekarang, adalah waktu dimana kekasihnya –coret– lebih tepatnya mantan kekasihnya akan menikah dengan orang lain. Pria pucat itu merasa resah, dan juga merasa gelisah. Bonusnya, hatinya terasa amat sakit.

 

 

Tak ada yang bisa di salahkan. Xi Luhan, pemuda berwajah cantik yang berusia 4 tahun lebih tua darinya itu bahkan sudah memohon berkali-kali padanya agar dia mau menemui orangtua Luhan dan mengakui hubungan mereka agar perjodohan Luhan di batalkan. Tapi Sehun memang tak memiliki nyali untuk melakukan hal itu hingga Luhan menyerah dan memutuskan untuk mengakhiri hubungan, kemudian Luhan menerima perjodohan yang telah lama di rencanakan oleh oleh orangtuanya sendiri itu.

 

 

Sehun tahu jika ia tampak seperti pengecut saat ini, tapi sungguh, ia hanya takut tak bisa membahagiakan Luhan. Pria cantik itu sudah di tuntut oleh orangtuanya untuk menikah karena tahun ini Luhan sudah genap 28 tahun, dan Sehun tak siap untuk menjalani hubungan yang lebih dalam dengan Luhan, apalagi sampai menikah. Demi Tuhan Sehun sangat mencintai Luhan, namun ia sangat takut memikirkan hal-hal yang menyangkut soal keterikatan hubungan, apalagi hubungan semacam pernikahan. Sehun tak pernah ingin menikah karena ia merasa trauma.

 

 

Sejak dia masih kecil, kedua orangtuanya tak pernah akur sama sekali. Meskipun kedua orangtuanya sangat menyayanginya, tapi keributan yang kerap kali terjadi di dalam rumah menyisakan luka yang sangat mendalam di hatinya. Entahlah, Sehun hanya merasa jika dirinya seperti tak diinginkan. Entah bagaimana bisa kedua orangtuanya itu menikah. Hampir tiada hari tanpa keributan di dalam rumah, membuat Sehun tak pernah merasa nyaman berada di dalamnya. Selama ini, Luhan adalah tempatnya berkeluh kesah. Hanya Luhan yang mengerti dirinya. Hanya Luhan yang terasa benar-benar ada untuknya. Sehunpun merasakan hal itu. Beberapa hari setelah mereka putus, Sehun merasa jika hari-harinya semakin hampa, hidupnya semakin terpuruk, apalagi sekarang ini Luhan sudah akan menikah dengan orang lain.

 

 

Sebagian besar hatinya yang egois, masih sangat mendambakan agar Luhan mau kembali untuknya, tapi tentu saja hanya dengan hubungan saling menguntungkan seperti hubungan mereka yang lalu-lalu. Sehun tak ingin hubungan semacam pernikahan terjadi di antara mereka. Tapi tentu saja segalanya tak akan bisa berjalan sesuai dengan apa yang ia inginkan. Walau bagaimanapun, dia dan Luhan adalah dua pribadi yang berbeda. Bukan haknya memaksa Luhan agar mau mengikuti keinginannya. Pria cantik itu pantas bahagia, dan kebahagiaan Luhan bukanlah dirinya. Ouwh, entah mengapa hati Sehun semakin terasa bagai ditusuk ribuan duri ketika ia memikirkan status Luhan yang akan berubah menjadi suami  orang lain dalam beberapa jam lagi.

 

 

 

“Sehun, kau yakin tak akan merubah keputusanmu? Luhan akan menikah dalam waktu kurang dari 4 jam lagi Oh Sehun. Bukankah kau sangat mencintai dia? Kalau kau benar-benar mencintainya seharusnya kau menyelamatkan dia dari pernikahan konyolnya itu, bukan hanya diam di sini seperti orang bodoh. Apa kau tak memikirkan bagaimana perasaannya? Aku bisa melihat dengan sangat jelas jika Luhan itu sangat mencintaimu.”

 

 

Sehun melirik sekilas pada kakaknya, dan ia perdengarkan dengusan kerasnya pada kakaknya yang berpostur mungil itu.

 

 

“Dia yang memilih meninggalkanku dan menjalani pernikahan konyolnya itu Hyung, jadi Luhan dan masalah perasaannya bukan urusanku lagi.”

 

 

“Ck, kau benar-benar egois dan tolol, Sehuna….Kau itu–“

 

 

“Jangan menggangguku Baekhyun Hyung, aishh!”

 

 

Baekhyun mendengus, kemudian melangkah menjauh sambil menyindir.

 

 

“Terserah kau saja sih, toh perasaanmu adalah milikmu sendiri Oh Sehun. Kuatkan saja hatimu sekuat yang kau mampu. Aku sudah mencoba membujukmu, tapi kalau kau tak ingin mempertimbangkan saranku ya terserah. Nikmati saja rasa sakitnya Saengie…”

 

 

Sehun mengerutkan keningnya dalam-dalam ketika Baekhyun telah lenyap dari pandangannya. Dia kepalkan tangannya kuat-kuat, dan ia mulai berpikir. Semakin keras ia mencoba membuang bayangan Luhan, semakin jelas bayangan pria cantik itu, memenuhi seluruh bagian di dalam otaknya bahkan tak menyisakan secuil bagianpun untuk digunakan Sehun memikirkan hal lainnya.

 

 

“Astaga! Kalau begini caranya, lama-lama aku bisa gila.” Keluh Sehun.

 

 

Sehun mengangkat tangan kirinya, dan debaran jantungnya menjadi semakin menggila lagi ketika melihat jarum jam yang semakin lama semakin mendekati waktu pernikahan pria yang dia cintai itu.

 

 

“Luhan….” gumamnya, menyebutkan nama kekasihnya itu seperti sebuah mantera.

 

 

Sehun membuang nafasnya dan memutuskan untuk menyerah. Dia baringkan tubuhnya di sofa ruang tamu, dan ia pejamkan matanya. Dia tak mencoba menghindari kemunculan bayangan Luhan lagi di dalam otaknya, dan kini ia hanya membiarkan bayangan Luhan memenuhi otaknya. Sehun hanya mencoba menikmati bayangan pemuda cute itu sambil merasakan nyeri-nyeri di dalam hatinya sendiri.

 

 

Baru saja bergelut dengan bayangan-bayangan pria cantik itu, ponselnya bergetar-getar. Dia rogoh sakunya sendiri, dan tanpa membuka mata dia terima panggilan itu.

 

 

Hallo…”

 

 

Sehunnie….”

 

 

Sehun sontak membuka matanya dan terlonjak duduk ketika ia mendengar suara pria yang sangat ia rindukan itu.

 

 

“Luhan?”

 

 

“Sehunnie…aku tak mau menikah…hiks…”

 

 

Sehun tertegun mendengar ucapan mantan kekasihnya itu.

 

 

“Lu, aku–“

 

 

“Oh Sehun, aku mencintaimu….kembalilah padaku Sehuna….aku tak akan memintamu untuk menjalin hubungan yang saling terikat denganku, aku janji aku tak akan pernah menyinggung tentang hal semacam pernikahan lagi asal kita bisa kembali seperti dulu, kumohon Sehun”

 

 

“Luhan, kau–“

 

 

“Sehun…kumohon…aku tak bisa jika tanpa kau, aku sudah berusaha sangat keras melupakanmu tapi aku tak sanggup melakukannya. Aku rela tak menikah seumur hidup asal aku tetap bisa bersama denganmu…maafkan aku Sehun…kembalilah padaku. Sungguh, aku tak bermaksud memutuskanmu waktu itu, aku hanya merasa sangat frustasi karena aku merasa kau tak menginginkanku. Aku tahu aku egois, aku hanya–“

 

 

“Luhan, kau ada di mana?”

 

 

“Sehun, kau memaafkanku kan? Kau–“

 

 

“Katakan padaku kau ada di mana Luhan, sekarang!”

 

 

“Aku…di Hotel. Aku kabur…aku tak mau di jodohkan.”

 

 

Sehun memejamkan matanya, lalu membuang nafas leganya.

 

 

“Berikan alamat Hotelnya dan tunggu aku. Aku juga mencintaimu sayang.”

 

 .

.

.

.

.

Sehun berlari-lari kecil menuju kamar 1024. Senyumnya merekah ketika matanya menemukan nomor kamar yang ia cari dan kakinya terasa begitu gemetar ketika ia berdiri tepat di depan pintu kamar itu. Sehun mengatur nafasnya yang berantakan sebelum ia gedor pintu kayu berwarna cokelat itu kuat-kuat.

 

 

“Luhan, ini aku! Buka pintunya Lu!”

 

 

Sehun menghentakkan kakinya dengan tak sabaran karena pintu yang tak kunjung terbuka. Sedetik saja terasa begitu lama baginya saat ini. Sehun sudah sangat merindukan Luhan hingga ketika pintu terbuka dan menampilkan sosok mungil yang sangat ia cintai itu, Sehun sudah tak mampu menahan dirinya lebih jauh lagi. Dia bawa sosok mungil itu ke dalam pelukan eratnya, kemudian dia desak tubuh Luhan masuk ke dalam kamar Hotel dan ia sudutkan tubuh mungil itu ke pintu Hotel yang telah tertutup rapat.

 

 

“Aku merindukanmu Lu, aku mencintaimu…” Bisiknya dengan nafas yang tak beraturan sambil memandangi wajah Luhan dari jarak yang teramat sangat dekat.

 

 

Luhan tertegun hingga beberapa saat, tapi sekejap kemudian bibir pria cantik itu sudah saling menukik, melengkung indah membentuk sebuah senyuman yang sangat cantik.

 

 

“Aku yang lebih mencintaimu Sehunnie…” jawab Luhan, lalu langsung membawa bibirnya menyapa bibir tipis Sehun.

 

 

Bibir mereka saling melumat dalam, dan posisi Luhan semakin tersudut ke pinntu hingga ia tak memiliki ruang gerak sama sekali. Sehun semakin merapatkan tubuhnya pada tubuh Luhan, tanpa jarak, tanpa celah. Jari-jari Luhan mencengkram erat kemeja yang di gunakan oleh Sehun, menyalurkan rasa nikmat dari ciuman memabukkan yang di berikan oleh pria pucat itu.

 

 

Sehun melepaskan ciumannya pertama kali, dan menatap ke dalam mata Luhan dengan tatapan teduhnya. “Kau benar-benar mencintaiku kan?” bisiknya tepat di depan wajah Luhannya.

 

 

Luhan mengusap pipi pucat itu dan tersenyum lembut. “Ya, aku sangat mencintaimu Sehun…”

 

 

Jakun Sehun naik-turun. “Kalau begitu…maukah kau menjadi milikku? Seutuhnya?”

 

 

Luhan terdiam, menatap mata Sehun beberapa lama, kemudian menunduk. Dia gigit bibirnya sendiri, berpikir.

 

 

“Lu…”

 

 

Luhan mendongak, kemudian tersenyum getir. “Hmm…tentu saja sayang…apapun akan kulakukan untukmu.” Kata Luhan dengan suara yang bergetar.

 

 

Luhan memejamkan matanya erat-erat ketika bibir Sehun menyapu kulit lehernya. Jari-jari cekatan milik Sehun, telah berhasil melucuti seluruh pakaiannya tanpa sisa. Tubuh telanjangnya di desak hingga terhempas di atas ranjang, dan mata rusanya masih sempat menyaksikan Sehun yang melepaskan seluruh pakaiannya sendiri hingga sama polosnya seperti keadaan tubuhnya saat ini. Luhan tak mengatakan apapun saat pemuda pucat itu mencumbui tubuhnya. Hatinya terasa perih, tapi Luhan mencoba mengabaikannya karena ini adalah pilihannya sendiri. Siapa suruh ia terlalu mencintai pria bernama Oh Sehun itu?

 

 

Luhan mengerang ketika Sehun mencumbui areal dadanya dengan gerakan yang sangat lambat dan terkesan menggoda. Bibir tipis pria itu menyapu hampir seluruh permukaan kulit dada serta perutnya, dengan tangan yang tak pernah berhenti memijat-mijat areal pribadinya hingga bibir Luhan tak bisa berhenti mendesah hingga berulang-ulang. Luhan tersentak kaget ketika pijatan tangan Sehun pada penisnya tergantikan oleh permainan lidah basah pria pucat itu, menjilat dan menggelitik batang penisnya dengan gerakan yang sensual hingga seluruh bulu-bulu halus pada permukaan kulit Luhan menjadi meremang.

 

 

“Hhhh….Sehunnie….aku…akhh…” Luhan mendongakkan kepalanya dalam-dalam ketika ia klimaks di dalam mulut kekasihnya.

 

 

Luhan mengatur nafasnya yang sangat berantakan sambil mengatur detakan jantungnya yang menggila setelah seluruh spermanya di sedot habis oleh Sehun. Pria itu bahkan masih saja menikmati penisnya di bawah sana meskipun benda itu sudah mulai terkulai lemas.

 

 

Dua jari Sehun mengarah pada lubang anus Luhan, meraba permukaannya dengan lembut sebelum membawa kedua jarinya itu masuk perlahan-lahan secara sekaligus, membuat Luhan langsung menahan nafasnya sambil meremas sprei kuat-kuat. Mata pria cantik itu terpejam sangat erat, dan wajahnya sangat jelas tengah meringis kesakitan meskipun bibirnya tak mengeluarkan rintihan apapun karena dia sedang menggigit bibirnya sendiri sekarang. Sehun menggerakkan jarinya lambat-lambat sambil menikmati rona pipi Luhan yang memerah, yang membuat libidonya semakin bangkit tanpa bisa ia bendung lagi. Pria itu menggeram ketika ia tak mampu menahan hasratnya lebih lama. Dia tarik dua jarinya kemudian ia mulai mengambil posisi di atas tubuh Luhan.

 

 

Sehun melebarkan kaki-kaki Luhan, mengelus bagian paha dalam pemuda itu dengan gerakan halus, dan mulai mengarahkan ujung penisnya pada permukaan lubang kemerahan milik kekasihnya itu. Dia dorong pinggulnya sedikit, membuat ujung penisnya tertekan dan melesak masuk ke dalam lubang Luhan. Pemuda yang berada di bawah kembali menahan nafas ketika Sehun berusaha lebih keras lagi mendorong penisnya hingga seluruhnya mulai tenggelam ke dalam lubang Luhan.

 

 

“Sakit sayang?” tanya Sehun, dan Luhan menjawabnya dengan anggukan.

 

“Tahan sebentar, aku akan melakukannya dengan cepat dan lembut.” Kata Sehun lagi, dan lagi-lagi Luhan hanya mengangguk pasrah.

 

 

Sehun mulai bergerak, menarik pinggulnya sedikit, lalu mendorongnya lagi, tarik, dorong hingga penisnya terasa licin, kemudian Sehun baru mulai bergerak teratur dengan tempo sedang. Luhan membuka matanya dan menatap Sehun dengan tatapan sayu ketika pria yang memompa lubangnya itu mulai bergerak cepat. Ujung penis pria pucat itu menghajar prostatnya berkali-kali hingga bibirnya mengeluarkan desahan-desahan laknat yang menggairahkan, yang semakin membuat kekasihnya itu bergerak semakin liar memompa tubuhnya. Luhan tersentak keras dan hampir saja terduduk ketika Sehun menusuknya dalam-dalam hingga prostatnya terasa benar-benar geli, bahkan spermanya langsung keluar ketika ia mendapatkan serangan mendadak itu. Luhan masih sempat melihat senyum tampan Sehun sebelum ia menutup matanya karena ingin menikmati orgasme keduanya. Tubuhnya masih terguncang-guncang kuat, dan dalam beberapa menit kemudian Luhan merasakan lubangnya basah dan terasa lengket oleh cairan sperma milik Sehun.

 

 

Mereka bedua terengah-engah. Sehun terkekeh kecil, lalu membungkuk untuk mengecupi seluruh wajah Luhan yang mempesona. Dia tarik penisnya keluar dari tubuh kekasih cantiknya, kemudian dia baringkan tubuhnya di samping Luhan yang belum juga selesai meredakan nafasnya sendiri.

 

 

“Terima kasih sayang…”bisik Sehun tepat di telinga Luhan.

 

 

Luhan membuka matanya, tapi dia hanya diam, tak menjawab, juga tak mengangguk. Matanya menatap lurus pada mata Sehun. Luhan sangat ingin memiliki Sehun sepenuhnya, mengikatnya dalam ikatan pernikahan yang sah, membuat Sehun hanya menjadi miliknya, tapi Luhan tak bisa memaksa pria pucat itu. Akhirnya Luhan hanya tersenyum miris, dan berbalik memunggungi kekasihnya itu. Hatinya sangat perih, sungguh. Luhan rasanya ingin menangis saat ini juga.

 

 

“Lu…”

 

 

“Hmm?”

 

 

“Kau marah?”

 

 

“Tidak…aku justru merasa sangat bahagia Sehunnie…”

 

 

“Sungguh?”

 

 

“Hmm…”

 

 

Hening sejenak.

 

 

“Luhan…”

 

 

“Ya?”

 

 

“Lihat aku sayang….”

 

 

Luhan membuang nafas satu kali, kemudian berbalik dan menatap wajah kekasihnya.

 

 

“Lu…aku tahu aku sangat egois, aku kekanakan, dan aku sangat pengecut. Tapi kau tetap mencintaiku kan?”

 

 

Luhan tersenyum tipis. “Ya, tentu saja.”

 

 

Sehun terdiam hingga beberapa lama, dan Luhan juga melakukan hal yang sama.

 

 

“Sayang…bagaimana acara pernikahanmu? Kau meninggalkannya begitu saja, semua orang pasti sedang kebingungan mencarimu.” Kata Sehun lagi.

 

 

“Aku tak perduli Sehun…aku hanya ingin bersama dengan orang yang ku cintai. Aku tak perduli pada apapun saat ini, biarkan saja semua berjalan seperti ini. Appa mungkin akan membunuhku, tapi aku sedang tak ingin memikirkannya sekarang Sehuna, jadi bisakah kau tak membahas masalah pernikahan itu dulu?”

 

 

Sehun terkekeh. “Sudah sejauh mana persiapannya?”

 

 

Luhan mendesah. “Appa bahkan sudah menyiapkan pesta yang sangat besar untuk acara pernikahan omong kosong itu Sehun….”

 

 

Luhan terdiam hingga beberapa detik, kemudian mengerang.

 

 

“Sehun, sepertinya aku tak akan berani pulang setelah ini…bagaimana kalau kau membawaku kabur saja? Setelah itu kita bisa–“

 

 

“Daripada membawamu kabur, aku justru ingin membawamu kembali ke pesta itu Luhannie.” Kata Sehun, membuat Luhan langsung membeku.

 

 

“Se-Sehun….k-kau…kau mau mengembalikanku ke pesta dan membiarkanku menikah dengan gadis yang tak kucintai? Aku tak percaya kau bisa melakukan hal seperti ini padaku. Kau kejam Sehun, kau–”

 

 

Cup!

 

 

Luhan terdiam seketika setelah mendapatkan ciuman mendadak dari Sehun. Mata Luhan menyiratkan kebingungan ketika melihat Sehun tersenyum lembut sambil menggenggam erat jari-jemarinya.

 

 

“Luhan…aku sangat mencintaimu, dan kupikir aku tak akan sanggup kehilanganmu lagi Lu. Beberapa hari kemarin aku merasa sebagian diriku telah hilang karena kau meninggalkanku, dan aku tak ingin mengalaminya lagi, jadi–“

 

 

Sehun menggigit bibirnya dan Luhan menatapnya dengan wajah yang menyiratkan kebingungan.

 

 

“–jadi…bagaimana jika kita…pergi menemui Appamu saja?” lanjut Sehun.

 

 

Luhan terdiam membeku, dan hanya menatap Sehun lekat-lekat. Otaknya berputar cepat, mencoba mencerna ucapan Sehun, dan ia berkesimpulan jika Sehun baru saja terdengar seperti memintanya untuk…

 

 

“Sehunnie…maksudmu…kau–”

 

 

“Hmm….aku –ingin menikah Luhan….aku ingin menikahimu…Kau mau kan menikah denganku?”

 

 

“Huh?”

 

 

“Kita –kau dan aku, menikah…mau kan?”

 

 

Luhan berkedip beberapa kali, kemudian matanya melebar sampai ia melonjak hingga terduduk, membuat Sehun juga jadi ikut duduk.

 

 

“Se-Sehun…apa kau baru saja me-melamar…ku?”

 

 

Sehun tersenyum. “Ya, aku baru saja melakukannya. Aku akan melamarmu secara resmi saat aku mendapatkan restu dari Appamu. Sekarang yang terpenting adalah kau Luhan. Kau mau kan menikah denganku?”

 

 

Luhan menelan ludahnya, berkedip beberapa kali, kemudian tersenyum. Dia menghambur cepat ke pelukan Sehun hingga keduanya terhempas keras ke permukaan ranjang. Luhan menciumi wajah Sehun dengan brutal sebelum akhirnya mendudukkan bokongnya tepat di atas penis Sehun yang masih telanjang.

 

 

“Tentu saja aku mau menikah denganmu! Kau tak perlu menanyakannya lagi bodoh! Aku–“

 

 

“Ugh, Lu…”

 

 

Luhan menatap Sehun dengan raut bingungnya. “Kau kenapa? Kau tak berubah pikiran dan ingin menarik ucapanmu kembali kan?”
Sehun menggeleng. “Tidak, bukan itu…tapi, bisakah kau menyingkirkan bokong telanjangmu dari situ?” kata Sehun sambil melirik pada miliknya sendiri yang ditindih oleh Luhan.

 

 

Luhan menatap posisinya sendiri, kemudian terkekeh. “Ouw, maaf. Tapi….bisakah kita melakukannya sekali lagi?” kata Luhan, kemudian sengaja menggoyangkan pinggulnya sendiri untuk menggoda Sehun, membuat Sehun langsung mengerang frustasi.

 

 

“Luhan, sebaiknya kita…ughh…segera menemui Appamu, lalu–“

 

 

Ucapan Sehun terhenti. Luhan tak membiarkannya  bicara lebih banyak lagi dan memilih menyerangnya dengan ciuman dalam yang memabukkan.


END


Advertisements