TROUBLE MARRIAGE

download

.

B
y tmarionlie

.

H
unHan

.

Yaoi | Marriage Life | Hurt & Comfort | Romance | Mature

.


CHAPTER 9


Chanyeol masih duduk di sana, menempelkan pipi pada meja Bar Diskotik sambil menatap kosong pada gelas berisi Budwerser miliknya. Musik berdentum sangat keras, tapi entah mengapa pikirannya terasa amat kosong. Wajahnya yang tampan kini sudah tampak layu.  Lingkaran hitam tampak jelas dibawah matanya yang sedikit bulat, meskipun tak mengurangi ketampanan wajahnya. Beberapa kali gadis-gadis penghibur mencoba menggodanya, namun pria jangkung itu tak perduli sama sekali. Chanyeol kini bagai seonggok tubuh bernyawa yang tak memiliki jiwa. Tentu saja ini semua adalah tentang Baekhyun. Segala hal tentang Baekhyun kini hampir menguasai seluruh hidupnya yang amat kasihan. Chanyeol mulai berpikir jika ini mungkin adalah karma yang harus ditanggungnya karena telah menyakiti pria kecil itu begitu dalam. Chanyeol menyesal.

 

 

Dengan gerakan yang sangat lambat Chanyeol menegakkan tubuhnya, lalu mulai turun dari kursi tinggi itu dan berjalan terhuyung-huyung keluar dari tempat berisik itu. Chanyeol terus berjalan menuju mobilnya. Dengan setengah sadar dia menyetir sendiri menuju Flat miliknya. Untung saja matanya masih mampu melihat jelas ke arah jalanan ramai di kota New York yang tak pernah tidur ini, jadi dia sampai di Flat miliknya dengan selamat.

 

 

Hal pertama yang dia dapatkan adalah kesunyian. Yeah, selalu seperti ini. Setelah kepergian Baekhyun semuanya memang tampak tak terkendali. Flat itu terasa sepi, dingin. Padahal Baekhyun hanya berada beberapa minggu saja di sana sebelum kematiannya –sepengetahuan Chanyeol– yang tragis.

 

 

Chanyeol masih sempat mencuci wajahnya sekilas sebelum melangkahkan kaki panjangnya menuju ke kamarnya.

 

 

“Kau sudah pulang?”

 

 

Chanyeol berdiri kaku pada posisinya. Matanya menatap lurus ke arah ranjang, yang kini terdapat tubuh mungil Baekhyun di atasnya. Pria mungil itu –dalam penglihatannya– sedang memeluk Teddy Bear berwarna cokelat yang sengaja dibelikan Chanyeol beberapa minggu yang lalu. Tanpa kata-kata Chanyeol mendekat ke arah ranjangnya –ranjang mereka– dan mengelus lembut rambut cokelat milik Baekhyun. Pria mungil itu tersenyum padanya, sangat cantik sampai membuat hati Chanyeol terasa sangat remuk saat melihatnya. Chanyeol berhalusinasi, dia tau itu. Tapi dia tak ingin tersadar. Dengan airmata yang mulai menetes dirabanya pipi kemerahan milik pria mungil itu, dan pria mungil itu menatapnya dengan raut wajah bersalahnya.

 

 

“Yeol? Kenapa menangis? Maafkan aku, aku selalu mengganggumu…maaf Yeol, aku salah. Maaf…jangan membenciku, aku tak akan mengganggumu lagi, aku janji…jangan membenciku…”

 

 

Airmata Chanyeol semakin banyak yang jatuh. Kalimat panjang yang dilontarkan pria mungil –dalam bayangannya– itu membuat perasaannya semakin hancur. Matanya sudah terasa sangat panas, namun Chanyeol bersikeras menahan matanya agar tetap terbuka. Chanyeol benar-benar tak ingin tersadar, padahal bayangan wajah Baekhyun sudah tampak blur dalam pandangannya.

 

 

Pria mungil itu menegakkan tubuhnya, berdiri dengan lututnya yang mungil. Dipeluknya pinggang Chanyeol erat-erat dengan pipi yang menempel erat pada perut Chanyeol.

 

 

“Maaf Yeol…”

 

 

Chanyeol masih tetap diam, hanya diam sampai tubuh mungil itu berdiri tegak dengan kakinya di atas ranjang dan memeluk erat leher Chanyeol yang kini sudah mendongak menatapnya. Baekhyun tersenyum sangat cantik, lalu…

 

 

“Meskipun kau tak menyukainya, aku tetap akan mengatakannya padamu Yeolie…”

 

 

“…..”

 

 

“Saranghae…”

 

 

Chanyeol mencengkram kuat pinggang ramping Baekhyun dengan tangan yang bergetar. Darahnya berdesir halus ketika dia mendengar lagi kata-kata cinta itu dari bibir pria mungil dihadapannya. Bayangan wajah mungil Baekhyun semakin dekat dalam pandangannya, hingga akhirnya kedua bibir menyatu tanpa celah. Air mata Chanyeol sudah tak terbendung lagi. Bibir tipis itu bergerak pada permukaan bibirnya, dan Chanyeol terbuai. Mata bulatnya terpejam, lalu dalam sekejap saja semuanya terasa amat ringan. Ciuman itu menghilang. Pinggang ramping yang dipeluknya menghilang. Chanyeol membuka matanya dan Baekhyun telah lenyap. Chanyeol merutuki kebodohannya karena memejamkan mata barusan. Dengan wajah yang masih basah Chanyeol menjatuhkan tubuhnya begitu saja ke atas ranjang, lalu meremas dadanya sendiri. Tangisannya tak lagi bisu, bahkan sudah terdengar keras kini. Jantungnya seperti terbelah. Chanyeol menyesal.

 

 

“Princess…”

 

.

.

.

.

.

Apartemen itu sepi. Sejak tadi Sehun hanya diam sambil menatap layar televisi yang dinyalakan tanpa suara. Hanya suara hujan yang berderai lembut di luar gedung apartemen dan terdengar karena Sehun membuka salah satu jendela di dekat ruangan menonton. Wajahnya yang tampan tampak berwarna-warni karena terpaan cahaya yang bersumber dari potongan-potongan gambar yang berganti-ganti pada layar LED di hadapannya. Sebenarnya Sehun agak sedikit resah. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari dan –pengantinnya– Luhan belum juga kembali ke apartemen. Sehun mulai berpikir jika pria cantik itu akan mengulangi tingkahnya seperti beberapa waktu yang lalu, menginap di kantornya karena tak ingin pulang ke apartemen.

 

 

“Apa dia takut pulang karena kejadian kemarin?” gumam bibir tipis itu dengan kening yang berkerut seakan sangat stress karena memikirkan hal yang begitu rumit.

 

 

Sehun menoleh ke arah jam dinding lagi, lalu setelah berpikir beberapa saat, pria pucat itu mulai beranjak dari duduknya kemudian mengambil rain coat dari dapur berikut kunci mobilnya. Sehun berencana menjemput Luhan ke kantornya.

 

 

 

.

 

 

.

 

 

Setengah jam dalam perjalanan, Sehun akhirnya sampai di gedung perkantoran milik Luhan. Gedung itu sudah gelap. Sehun mengenakan rain coat miliknya sambil duduk di jok kemudi sebelum akhirnya turun dari mobil dan mendekat ke arah salah satu  Security yang berjaga di sekitar gedung. Dua orang Security bertubuh besar langsung mendekati Sehun ketika melihat Sehun menghampiri salah satu temannya. Sehun menarik nafas singkat sebelum bertanya pada salah satu Security yang berada tepat dihadapannya.

 

 

“Apa di dalam gedung masih ada orang?” tanya Sehun.

 

 

“Anda siapa? Mau apa datang ke sini sepagi ini?”

 

 

“Aku Oh Sehun, suami dari Presdir kalian” jawab Sehun ketus, tak suka diperlakukan seperti penjahat oleh bawahan –pengantin cantiknya– Luhan.

 

 

Para Security itu saling berpandangan lalu salah satunya meminta maaf pada Sehun.

 

 

“Ah…maafkan sikap kami Boss, kami tak tau jika ini adalah Anda”

 

 

Sehun mengabaikan ucapan maaf itu, dan mulai bertanya pada intinya.

 

 

“Apa Presdir kalian masih berada di dalam?”

 

 

Security yang berada tepat di hadapan Sehun menggeleng.

 

 

“Saya pikir tidak, saya mulai berjaga pukul 8 malam, tepat ketika saya melihat Presdir keluar dari gedung dan pergi mengemudikan mobilnya keluar areal perkantoran ini” jawab Security tadi.

 

 

Sehun terdiam. Otaknya mulai menerka-nerka kemana pria cantiknya itu pergi di waktu selarut ini, ditengah hujan lebat begini. Sehun memikirkan banyak kemungkinan, dan kemungkinan terbesar yang di dapatkannya adalah Luhan kembali ke rumah mewahnya dan menginap disana.

 

 

Sehun mengusap kasar wajahnya, lalu pergi begitu saja dari sana tanpa memperdulikan para Security yang menatapnya dengan penuh tanda tanya.  Sehun memutuskan kembali saja ke apartemen, dan berencana mengunjungi rumah Luhan pada keesokan harinya. Sehun mendesah sepanjang perjalanan pulang. Entah apa…tapi Sehun merasakan sesuatu yang mengganjal di dalam dadanya, mirip seperti perasaan resah, dan…cemas?

 

 

Sehun menggelengkan kepalanya berkali-kali, lalu menaikkan laju mobilnya agar cepat sampai di apartemen pribadinya.

 

 

.

 

 

.

 

 

Sehun melangkahkan kakinya lebar-lebar menuju apartemennya. Sambil berjalan, tangannya tak henti-hentinya memijit pelipisnya sendiri. Sehun merasa sedikit pusing dan juga bingung saat ini. Entahlah, segalanya terasa amat aneh karena dia tak melihat Luhan seharian sejak kejadian tadi malam, dimana dia hampir saja membunuh Luhan karena merasa dikhianati. Hari ini Luhan berangkat ke kantornya di pagi buta, bahkan di saat langit masih sepekat malam, dan tak pulang ke apartemen sampai pagi ini. Sehun merasa aneh, entah merasa aneh pada apa, mungkin dengan perasaannya sendiri? Entahlah…

 

 

Beberapa langkah menuju kamar apartemennya, langkah Sehun terhenti mendadak. Mata sipitnya menatap lurus pada suatu objek hidup-Luhan– yang sedang terduduk sambil memeluk lutut didepan pintu apartemennya dengan kepala yang tersembunyi di sela-sela lutut. Sehun mengerutkan keningnya dan berdecih sepintas sebelum berjalan cepat kearah orang itu.

 

 

“Kenapa kau duduk di sini seperti orang bodoh dan bukannya langsung masuk ke dalam!” kata Sehun ketus.

 

 

Pria itu mendongak. Wajahnya pucat, dan tubuhnya menggigil karena kehujanan. Pakaiannya basah kuyup. Tangannya terangkat, memijit pelipisnya sendiri, lalu berusaha bangkit berdiri.

 

 

“A-aku menunggumu pulang” jawabnya lemah.

 

 

Sehun menatap pria itu datar.

 

 

“Untuk apa menungguku? Kau bisa memencet ID Pass dengan tanganmu sendiri. Kau bukan anak kecil kan?” kata Sehun sengit.

 

 

Lagi-lagi pria cantik itu memijit kepalanya.

 

 

“Aku pusing…Aku tak ingat berapa kode kombinasinya…”

 

Sehun membuang nafasnya kasar sebelum akhirnya mendorong tubuh mungil Luhan ke samping dan memencet kode kombinasi apartemen pribadinya. Sehun langsung masuk ke dalam begitu pintu terbuka, membiarkan pria yang satunya tertinggal.

 

 

Luhan berjalan lambat dan terhuyung-huyung ke dalam apartemen. Kepalanya terasa amat berat. Sehun memperhatikannya beberapa meter dihadapan pria cantik itu dan dengan sigap langsung berlari maju saat mata sipitnya menangkap tubuh Luhan yang hampir limbung. Sehun berdecak keras.

 

 

“Kau bisa jalan dengan benar atau tidak sih!” umpatnya.

 

 

Luhan hanya diam, hanya menunduk ketika Sehun melepaskan kedua bahunya, lalu mulai melangkah kembali. Tapi lagi-lagi tubuhnya limbung, dan kali ini benar-benar hampir terjatuh. Tapi –untungnya– Sehun sudah lebih dulu menahan pinggang pria cantik itu agar tak terjatuh.

 

 

“Aissshh, merepotkan!” umpat Sehun.

 

 

Sehun memeluk perut Luhan dari belakang, membiarkan kausnya basah oleh pakaian kantoran Luhan yang basah kuyup, dan Luhan berusaha kembali berjalan, namun Sehun menahan langkahnya. Pria pucat itu membalikkan tubuh Luhan agar matanya dapat melihat dengan jelas wajah Luhan saat ini. Luhan tetap diam dan menahan kepalanya tetap tertunduk dalam.

 

 

“Kau sakit?” tanya Sehun, intonasinya mulai melemah, tak seketus tadi.

 

 

Luhan hanya diam, membuat Sehun kembali mendengus kesal. Tanpa kata-kata ditariknya dagu Luhan agar pria cantik itu menatapnya.

 

 

Degg!

 

 

Jantung Sehun berdebar kencang. Bola mata Luhan yang cokelat menatap lemah padanya, membuat Sehun merasa kacau.

 

 

“Kau sakit?” ulang Sehun sekali lagi.

 

 

Luhan terdiam beberapa lama, lalu…

 

 

“Tidak” jawabnya.

 

 

Kening Sehun berkerut dalam. Cengkramannya pada dagu Luhan menguat dan bergeser ke mulut pria cantik itu, membukanya paksa, lalu Sehun mendekatkan hidungnya pada bibir Luhan, menghirup aroma mulut pria cantik itu.

 

 

“Kau mabuk-mabukan?” tanya Sehun tak percaya setelah melepaskan dagu Luhan.

 

 

Luhan menunduk lagi.

 

 

“Tidak…Aku tidak mabuk” katanya, lalu melepaskan diri dari pelukan Sehun.

 

 

Luhan berjalan terhuyung-huyung menuju kamarnya, tapi Sehun mengekor di belakangnya. Sehun menahan pintu kamar Luhan ketika pria cantik itu hendak menutup pintu kamarnya.

 

 

“Kenapa kau meminum alkohol? Dimana kau sejak tadi? Kau menghabiskan beberapa jam untuk Clubing dan menenggak minuman keras?” tanya Sehun dengan intonasi yang mulai meninggi, emosi.

 

 

Luhan menarik nafas sekali, lalu…

 

 

“Aku lelah Sehun…Kalau mau berdebat besok saja, biarkan aku istirahat malam ini”

 

 

Sehun tertawa sinis.

 

 

“Malam katamu? Ini bahkan sudah pagi! Dan kau menghabiskan waktumu di luar sana, di dalam Club seperti pelacur murahan!”

 

 

Luhan menggigit bibirnya sekali, lalu dengan satu hentakan kasar di dorongnya tubuh Sehun yang berdiri di tengah pintu kamarnya.

 

 

“Aku tak berminat mendengarkan ocehanmu Oh Sehun! Aku lelah, jadi jangan mengangguku! Tak usah sok perduli dengan apa yang kulakukan. Aku ingin meminum alkohol ataupun bercinta dengan wanita murahan itu adalah hakku, tak ada hubungannya denganmu!” kata Luhan emosi.

 

Sehun membeku.

 

 

“A-apa kau bilang?”

 

 

Sehun terpaku pada posisi berdirinya. Baru kali ini Luhan bersikap sekasar ini padanya, dan sukses membuat darahnya naik sampai ke ubun-ubun. Sehun menggertakkan gigi saking kesalnya, lalu dengan sekali gerakan, tangan Luhan sudah berada dalam genggamannya, lalu tubuh kecilnya terseret dan terhempas kuat di atas ranjang.

 

 

“Kau bilang apa? Tak ada hubungannya denganku? Kau pikir kau itu siapa? Kau milikku!” pekik Sehun kesal, lalu merangkak naik ke atas ranjang dan mencekal kedua tangan Luhan dengan cengkraman tangannya.

 

 

Luhan memberontak sekuat tenaga, namun upayanya tak membuahkan hasil. Sehun menindih tubuhnya tanpa celah, lalu mencumbui lehernya dengan brutal, menjilat dan menghisap sampai meninggalkan beberapa kissmark. Luhan meronta kuat, berusaha melepaskan diri dari cekalan suaminya.

 

 

“Sehun…jangan begini, kumohon” pinta Luhan.

 

 

Sehun berpura-pura tuli. Hisapannya pada leher Luhan menggila. Setiap gerakan yang dilakukan Luhan seolah seperti penambah tenaga bagi Sehun hingga pria pucat itu bertingkah lebih liar lagi. Bibir tipisnya merambat keseluruh permukaan leher Luhan, lalu dengan gigi ditariknya kemeja Luhan yang basah hingga kancing-kancing kemeja itu terlepas dari tempatnya. Bibir Sehun terus bergerak, mencumbui setiap inci kulit dada Luhan tak terkecuali dua tonjolan di dada pria cantik itu, membuat Luhan langsung diam dan tak memberontak lagi. Pria cantik itu kini hanya diam, menatap kosong pada langit-langit dan terisak pelan.

 

 

Membeku.

 

 

Sehun berhenti mencumbui tubuh Luhan, lalu mengangkat kepalanya, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Luhan yang kacau. Pria cantik itu menangis. Sehun menatap wajah cantik itu dengan perasaan campur aduk sebelum akhirnya mengeraskan rahangnya karena geram.

 

 

“Apa aku seburuk itu?” gumam Sehun putus asa.

 

 

Luhan hanya diam, menatap Sehun dengan tatapan lemahnya.

 

 

“Katakan padaku, apa aku sangat buruk hingga kau tak ingin kusentuh? Aku suamimu Lu!” kata Sehun geram.

 

 

Luhan terkekeh lemah di sela-sela airmatanya.

 

 

“Suami?” gumamnya teramat pelan.

 

 

Sehun terdiam. Sikap Luhan yang seperti ini, entah mengapa membuat dadanya terasa sesak dan sakit.

 

 

“Suami? Haha…Ya, kau suamiku, lakukan saja apa yang ingin kau lakukan, aku tak perduli Oh Sehun” kata Luhan sinis sebelum membuang wajahnya kearah kiri.

 

 

Sehun menatap separuh wajah Luhan itu selama beberapa detik. Hatinya berdenyut-denyut perih dengan penolakan yang dilakukan oleh Luhan. Sehun ingin marah, tapi sudah tak mampu lagi mengekspresikannya baik dengan ucapan ataupun perbuatan. Akhirnya Sehun hanya memejamkan matanya karena putus asa dan membuang nafasnya dengan kasar sebelum akhirnya bangkit menjauh dari atas tubuh Luhan dan meninggalkan Luhan sendiri di kamar itu.

 

 

“Suami? Tch, menggelikkan” gumam Luhan, lalu menutup wajahnya sendiri dengan punggung tangan.

 

 .

.

.

.

.

St. Mary’s Hospital Seoul Yeouido…

 

 

Tao menggerakkan jari-jarinya pada touchpad notebook di hadapannya. Mata pandanya menatap lurus pada layar di hadapannya, lalu membaca Medical Record pasien yang akan menjadi tanggung jawabnya di rumah sakit tempatnya ditugaskan saat ini.

 

 

“Zhang Yixing? Chinese? Wah…” gumamnya excited, lalu terkekeh.

 

 

Bola matanya bergerak teratur semakin ke bawah, memeriksa anamnesis maupun diagnosis awal dari Dokter yang menangani pasien bernama Zhang Yixing itu sebelumnya. Tao membaca setiap detailnya dengan teliti, takut-takut jika ada informasi yang luput dari penglihatannya. Medical Record pasien itu sangat panjang, karena sudah terhitung kurang lebih 4 tahun lamanya pasien itu di rawat di rumah sakit ini.

 

 

“Kecelakaan, hematoma intraparenkimal, TIK 70 mmHg…Ini sangat buruk” gumamnya lagi, lalu mematikan notebook dan mengambil jas putihnya, kemudian beranjak keluar dari ruangan itu menuju ke kamar pasien bermarga Zhang itu.

 

 

Tao berjalan pelan di koridor Rumah Sakit yang terang benderang, dan berhenti pada satu kamar rawat yang menjadi tempat tujuannya. Di bukanya pintu kamar rawat dan hal pertama yang dilihatnya adalah pasien berambut cokelat yang tertidur pulas –koma– dan seorang pria lain berambut pirang yang sedang menciumi tangan pasien koma itu.

 

 

“Ehem”

 

 

Pria pirang itu langsung menoleh saat mendengar deheman yang sengaja dikeluarkan oleh Tao barusan. Matanya menatap tajam pada Tao, dengan tatapan yang err…tak bersahabat. Tao menarik sudut-sudut bibirnya, tersenyum pada ‘orang itu’ lalu berjalan mendekat kearah Bed Stretcher pasiennya.

 

 

“Siapa Anda?” tanya pria pirang itu pada Tao. Nada suaranya sangat dingin, dan gerakan tubuhnya sangat waspada, sepertinya terlalu protektif pada pasien yang sedang koma itu.

 

 

Lagi-lagi Tao tersenyum.

 

 

“Saya adalah Dokter baru yang akan merawat pasien Zhang…”

 

 

Tao tersenyum kikuk ketika melihat bola mata pria pirang dihadapannya bergerak, menyapu seluruh tubuhnya dari ujung kaki sampai ujung kepala.

 

 

“Dokter baru?” tanya pria pirang itu dengan intonasi sedingin es.

 

 

Tao mengangguk.

 

 

“Ya, kenalkan…nama saya Zitao” kata Tao ramah, sambil menyodorkan tangannya. Tapi pria pirang itu hanya diam dan menatap tangannya dengan datar.

 

 

“Kris” katanya singkat, tanpa menyambut uluran tangan Tao.

 

 

Tao menarik kembali tangannya dan mengedikkan bahu, lalu mendekat pada pasiennya. Dikeluarkannya sarung tangan karet miliknya, lalu diambilnya beberapa alat yang dia bawa, Stetoskop, Termometer, Tensimeter, dan juga Colonoscopy yang memang sengaja dia bawa untuk memeriksa kondisi pencernaan pasiennya. Tao memeriksa kondisi tubuh pria berambut cokelat itu dengan raut wajah serius, lalu mengecek Abocath beserta Transet dan Infusion Pump-nya. Tao juga sempat memeriksa letak NGT yang terpasang pada hidung pria berambut cokelat itu, lalu melemparkan senyumnya lagi pada Kris.

 

 

“Sepertinya pemeriksaan awal cukup…Saya akan melakukan pemeriksaan lanjutan pada Tuan Zhang nanti untuk kebutuhan informasi lainnya. Kalau begitu saya permisi” kata Tao, lalu hendak berjalan pergi, tapi Kris keburu mencegahnya.

 

 

“Err Dokter, apa Lay…baik-baik saja?” tanya Kris khawatir.

 

 

Tao mengerutkan dahi.

 

 

“Lay?”

 

 

Kris mengangguk. Tao melirik sekejap pada pasiennya, lalu tersenyum.

 

 

“Ya, untuk saat ini dia baik-baik saja, kau lihat kan? Grafik detakan jantungnya masih normal” kata Tao sambil menunjuk kearah ECG disisi kiri Lay, lalu tersenyum.

 

 

“Baiklah…terima kasih Dokter”

 

 

Tao meringis saat mendengar julukan itu, tapi kemudian mengangguk.

 

 

“Terima kasih kembali. Kalau begitu saya permisi dulu” kata Tao formal, kemudian keluar dari ruangan itu.

 

 

Hening. Hanya irama yang berasal dari ECG yang tertangkap oleh gendang telinga Kris saat ini. Kris membuang nafas sekali, lalu mendekat kearah tunangannya, meraih jemari Lay dan mengecupnya.

 

 

“Sayang, bangunlah…kau sudah tidur terlalu lama” gumamnya, mengelus pipi kurus Lay sekejap dan mendaratkan satu kecupan pada kening pria manis yang tertidur sangat pulas itu.

 

 

 .

.

.

.

.

Lagi-lagi Kyungsoo menatap ponselnya. Kyungsoo sedang resah menunggu kabar dari kekasihnya, Kai. Dua malam yang lalu mereka masih ber-chatting ria melalui akun sosial media milik mereka, kemudian Kai mengajaknya bertemu hingga Kyungsoo terpaksa berbohong dan berpura-pura sakit pada manager Kim dan menyuruh manager Kim memberinya waktu libur satu hari. Kyungsoo bahkan bangun sangat pagi keesokan harinya, dan mempersiapkan dirinya untuk bertemu dengan Kai, tapi yang datang di pagi buta justru adalah Kris. Seperti biasa Kris hanya datang untuk memberinya peringatan, lalu ‘sedikit’ menyenangkan dirinya sendiri dengan menikmati bibir Kyungsoo yang sexy sebelum akhirnya pergi dan meninggalkan Kyungsoo berkutat dengan kekesalannya sendiri. Kemarin Kyungsoo menunggu  sampai sore, tapi Kai tak kunjung datang menemuinya. Kyungsoo sangat ingin menghubungi Kai, tapi ego menahannya melakukan hal itu. Kyungsoo pun tak mengerti dengan dirinya, mengapa bisa seresah ini saat Kai tak memberi kabar padanya. Kyungsoo hanya khawatir.

 

 

Kyungsoo melirik jam dinding. Sudah hampir jam 3 sore, dan sejak sejam yang lalu manager Kim mewanti-wantinya agar bersiap-siap karena jam 5 sore nanti Kyungsoo harus melakukan sesi pemotretan lagi. Kyungsoo membuang nafasnya berkali-kali. Perasaan aneh yang dirasakannya semakin detik semakin bertambah saja, dan Kyungsoo sudah tak bisa menahan harga dirinya lebih jauh lagi. Dengan cepat disambarnya ponsel yang tadi dia lemparkan di atas sofa lalu mulai menghubungi nomor ponsel Kai. Kyungsoo menempelkan benda berbentuk persegi itu ditelinganya dan menunggu Kai menjawabnya dari seberang, namun Kai tak menjawab panggilan teleponnya. Beberapa kali Kyungsoo mencoba, dan tak sekalipun Kai menjawab panggilannya. Akhirnya Kyungsoo hanya bisa memijit pelipisnya dan menggigit bibirnya karena kesal, entah pada apa. Dahi Kyungsoo berkerut dalam. Dia yakin ada sesuatu yang tak beres dengan Kai, dan sudah berpikir tentang kemungkinan terburuk yang membuat Kai menghilang, tapi tiba-tiba saja ponselnya bergetar, dengan nama Kai yang berkerlap-kerlip pada layar ponsel itu, membuat pikirannya tadi pecah kemana-mana. Kyungsoo menggeser jarinya kearah kanan di permukaan layar ponselnya lalu dengan cepat menempelkan benda itu ke telinga.

 

 

“Kai? Kau baik-baik saja? Kenapa tak mengabariku sama sekali? Apa terjadi sesuatu? Kau tidak sakit kan?” tanya Kyungsoo bertubi-tubi.

 

 

Tak ada jawaban.

 

 

Kyungsoo mengeratkan genggamannya pada ponselnya sendiri, jantungnya berdegup cepat, takut-takut jika…

 

 

~Maaf sayang…Aku bukan sengaja mengabaikanmu, tapi kemarin aku sibuk~

 

 

Kyungsoo membeku. Pikiran buruknya sekejap saja menghilang. Jantungnya berdegup semakin kencang ketika mendengar panggilan mesra tadi sampai tangannya sedikit gemetaran.

 

 

~Kau menungguku ya? Maaf Soo~

 

 

“Ah, ya…tak apa-apa”

 

 

~Kau baik-baik saja kan?~

 

 

“Mmm…Kau?”

 

 

~Aku juga baik-baik saja~

 

 

“Ponselmu aktif…kenapa kau…umm…tak mengangkatnya?”

 

 

~Oh, tadi aku sedang mengendarai motor, karena itu aku tak bisa menjawab panggilanmu, maaf Soo~

 

 

Kyungsoo menarik nafas lega.

 

 

“Syukurlah kau tak apa-apa Kai. Aku….menghawatirkanmu”

 

 

~…..~

 

 

“Aku pikir kau sakit atau tertimpa hal buruk dan semacamnya, Aku-“

 

 

~…..~

 

 

“-takut terjadi sesuatu padamu” lanjut Kyungsoo.

 

 

Kai hanya diam di seberang sana, dan Kyungsoo sudah menggigit bibirnya sendiri. Kyungsoo tak tau apa yang dilakukannya. Bibirnya begitu saja mengeluarkan kata-kata yang terlampau jujur itu. Tak ada jawaban apapun dari Kai, dan Kyungsoo mulai merasa aneh dengan obrolan ini.

 

 

“Eumm…Aku ada pekerjaan, jadi aku akan tutup teleponnya, bye Kai”

 

 

Kyungsoo menunggu beberapa saat dan tak ada jawaban apapun dari Kai, hingga dengan berat hati Kyungsoo memutuskan sambungan teleponnya. Pria manis itu memikirkan tentang tingkahnya barusan. Yang tadi itu sungguh bukan gayanya sama sekali. Dia tak pernah seperti itu sebelumnya. Lagipula tentang perasaannya pada Kai…Kyungsoo tak mengerti. Segalanya terasa aneh. Perasaannya aneh.

 

.

.

.

.

.

Kai masih berdiri mematung di posisinya, dengan ponsel yang masih menempel pada telinga kanannya. Padahal percakapannya dengan Kyungsoo sudah berakhir sejak beberapa detik yang lalu, dengan beberapa kebohongan yang dia katakan hanya untuk membuat Kyungsoo tenang. Kai juga tak mengerti kenapa dia harus melakukan hal itu. Kai sudah berusaha mengabaikan apapun tentang Kyungsoo, tapi ketika Kyungsoo menghubunginya berkali-kali, Kai jadi merasa tak tega. Kai mengeluh pelan. Bukan apa-apa, Kai hanya sedang memikirkan kata-kata Kyungsoo barusan. Kyungsoo mengkhawatirkannya, benarkah? Kai ingin sekali mempercayai hal itu, tapi jika teringat soal kejadian kemarin itu Kai kembali merasa terluka. Entahlah…Kai merasa dadanya sesak. Kai tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya, namun Kai yakin jika ada yang aneh pada perasaannya. Kemarin ketika melihat Kris mencium Kyungsoo, rasanya…

 

 

“Ughh”

 

 

Kai menepuk pelan dadanya ketika teringat akan ‘hal itu’. Hatinya sakit. Kai yakin jika dirinya memang telah menyukai pria manis dan mungil bernama Kyungsoo itu.

 

 

Tapi Kris?

 

 

Kai memijit pelipisnya dengan tangan kiri lalu menurunkan tangan kanannya yang sejak tadi masih menempelkan ponselnya di telinga kanan seperti orang gila. Pikirannya terasa campur aduk sekarang. Jika mengikuti emosinya, Kai pasti sudah akan menghilang saja dari hidup Kyungsoo dan menyelesaikan urusannya dengan Kris secara jantan tanpa melibatkan pria manis yang lainnya. Tapi Kai merasa tak rela jika harus melepaskan Kyungsoo begitu saja. Meskipun hubungan yang mereka bangun berpondasikan kebohongan, namun perasaannya untuk pria kecil itu adalah nyata dan Kai tak ingin mengingkarinya. Lagipula Kai belum tau apa kesalahan yang dia lakukan sampai Kris menjebaknya dengan cara licik seperti ini. Kai harus mencari tau dan satu-satunya informan itu hanyalah Kyungsoo.

 

 

Kai masih berkutat dengan pikirannya dan terkesiap ketika ponsel yang masih dia pegang bergetar-getar dalam genggamannya. Kai menatap layar ponselnya dan mengerutkan dahi ketika melihat nama Luhan berkedip-kedip pada layar ponselnya. Kai menempelkan kembali ponsel itu ke telinganya dengan cepat.

 

 

Hallo

 

 

~Kai…Apa kau sibuk?~

 

 

“Tidak…Ada apa Lu? Suaramu serak” jawab Kai.

 

 

~Entahlah…Aku merasa aneh sejak pagi tadi…Aku merasa pusing, lalu aku kedinginan dan tubuhku terasa nyeri-nyeri seluruhnya, dan aku merasa mual~

 

 

Kai membelalakkan matanya.

 

 

“Kau sakit?”

 

 

~Sepertinya ya~

 

 

“Astaga Lu! Dimana kau sekarang? Sehun sudah memanggilkan Dokter? Apa dia menjagamu?”

 

 

~…..~

 

 

“Luhan?”

 

 

~Aku…I-itu…Sehun…tak ada~

 

 

“Huh?”

 

 

~Dia kuliah hari ini~

 

 

Kai berdecih.

 

 

“Bagaimana bisa dia membiarkanmu sendirian saat kau sakit seperti itu?” Kata Kai agak emosi.

 

 

~Kai…jangan marah-marah…Sehun tak tau kalau aku sakit~

 

 

Kai hanya diam, lalu menarik nafas berkali-kali.

 

 

“Kalau begitu kenapa kau tak menghubungi dia? Kau bisa memintanya pulang”

 

 

~…..~

 

 

“Luhan?”

 

 

~Err…I-itu…aku tak punya nomor ponselnya~

 

 

“Apa? Bagaimana bisa kau tak punya nomor ponsel suamimu sendiri?!”

 

 

~Itu karena…Ka-karena beberapa saat yang lalu aku tak sengaja menghapusnya Kai, dan aku lupa memintanya kembali pada Sehun~

 

 

“Kalau begitu aku akan mencarinya dan menyuruhnya pulang sekarang”

 

 

~Tidak Kai! Kumohon jangan lakukan hal itu. Bisakah kau saja yang datang?~

 

 

Kai mengerutkan dahinya dalam-dalam.

 

 

“Sehun suamimu, kau akan lebih leluasa jika di rawat olehnya Lu”

 

 

~Emm…Kai, lupakan saja…Aku tak apa-apa…Jangan katakan apapun pada Sehun, kumohon~

 

 

“Apa kau sudah gila? Aku akan mencari Sehun sekarang, dan jika aku tak menemukannya aku akan langsung menuju apartemenmu secepatnya”

 

 

Kai memutus sambungan ponselnya dengan cepat secara sepihak, lalu langsung berlari menuruni tangga dan berniat berkeliling kampus untuk mencari suami Luhan yang berkulit pucat itu. Berkali-kali ponselnya bergetar, dan Kai mengabaikan panggilan dari Luhan itu. Kai tak mengerti apapun, tapi Kai berpikir mungkin jika Sehun dan Luhan sedang bertengkar saat ini dan hal itu sangat amat wajar. Hanya saja, sepupunya yang cantik itu sedang sakit, dan suaminya si Sehun itu harus mengetahuinya.

 

 

Kai menemukan Sehun menyender pada pilar penyangga gedung sambil mendengarkan musik dengan mata terpejam. Kaki-kaki Kai langsung berjalan cepat kearah pria pucat itu dan menepuk bahu Sehun dengan keras, membuat mata sipit Sehun terbuka dan langsung menatap aneh pada Kai. Kai memberi isyarat pada Sehun agar melepaskan headset-nya dan Sehun menurutinya. Kai membuang nafas satu kali sebelum menatap dingin kearah Sehun.

 

 

“Kau bertengkar dengan Luhan?”

 

 

Air muka Sehun sontak berubah.

 

 

“Dia mengadu padamu? Tch, kekanakan!” kata Sehun sinis.

 

 

Kai mendengus kesal.

 

 

“Dia bukan mengadu, Luhan bukan tipe namja pengadu seperti itu”

 

 

“Aku tak perduli” kata Sehun ketus.

 

 

“Dia menghubungiku barusan. Dia bilang nomor ponselmu tanpa sengaja terhapus olehnya, jadi dia menghubungiku”

 

 

Sehun terdiam, mengerutkan keningnya dan berpikir tentang ucapan Kai barusan. Nomor ponselnya terhapus? Bukankah mereka memang tak saling memiliki nomor ponsel satu dengan lainnya?

 

 

Kai menatap Sehun dan kembali menarik nafasnya lagi. Agak emosi sebenarnya, tapi Kai menahannya. Diamnya Sehun dianggap sebagai sikap tak perduli dalam pandangan Kai.

 

 

“Aku bisa mengerti jika kalian mungkin sedang bertengkar atau semacamnya, tapi kau harus bisa mengendalikan egomu Sehun, apalagi jika Luhan sedang dalam keadaan sakit seperti sekarang ini”

 

 

Bagai tersambar petir, Sehun langsung memutar lehernya kearah Kai dan menatap Kai dengan raut penuh keterkejutannya.

 

 

“Luhan sakit?”

 

 

Kai mengangguk.

 

 

“Ya, sakit…Suaranya serak, lalu dia bilang kepalanya pusing dan tubuhnya nyeri…Dia juga kedinginan dan sekarang tak ada seorangpun di apartemen kalian. Jika kau memang tak perduli padanya, maka aku akan-“

 

 

Ucapan Kai terhenti seketika, dan berganti dengan senyuman tipis ketika matanya melihat Sehun yang langsung berlari cepat  seperti orang kesetanan kearah tangga menuju bawah.

 

 

“Hhhh…pasangan merepotkan” keluhnya.

 


To Be Continued


Advertisements