TROUBLE MARRIAGE

download

.

B
y tmarionlie

.

H
unHan

.

Yaoi | Marriage Life | Hurt & Comfort | Romance | Mature

.


CHAPTER 8


 

 

Baekhyun menatap harian umum yang dari tadi masih berada dalam genggamannya. Didalamnya tercetak sangat jelas kronologi tragedi kecelakaan pesawat New York City Airlines yang menewaskan seluruh penumpangnya. Baekhyun menggerakkan bola matanya sekali lagi ke nama salah satu korban kecelakaan itu.

 

Byun Baekhyun ( 21 tahun )

 

Tangan Baekhyun gemetaran, lalu dalam sekejap saja harian umum itu sudah diremasnya sekuat tenaga lalu dilemparkannya kelantai.

 

Baekhyun mengarahkan tangan kanannya ke bibirnya sendiri, lalu menggigiti kukunya dengan perasaan yang berkecamuk. Mata sipitnya nanar menatap kesegala arah, dan Baekhyun mengerang frustasi sambil memegangi kepalanya yang terasa berputar-putar.

 

.

 

.

-Flashback-

 

“Ahjussi….apa-apaan ini? Kenapa kalian memperlakukan fotoku seperti foto orang yang sudah mati?” kata Baekhyun meminta penjelasan.

 

 

Pria tua itu tersentak dan langsung menoleh kearah Baekhyun. Mata pria tua itu langsung terbelalak lebar. Wajahnya pun langsung berubah pucat pasi saat melihat tuannya kini berdiri angkuh sambil melipat tangan didepan dadanya. Mata sipit tuannya itu sedang menatap tajam menusuk kearahnya dan para maid, yang kini sudah berteriak-teriak ketakutan seperti melihat hantu.

 

 

“Tu-tuan Baekhyun? Anda masih hidup?” kata Jung Jin Woo tak percaya.

 

 

Baekhyun menurunkan tangannya dari dadanya sendiri, lalu menatap semua orang yang berada disana satu persatu.

 

 

“Ada apa sebenarnya? Apa yang sudah terjadi? KENAPA KALIAN MENGIRA AKU SUDAH MATI?” bentak Baekhyun murka.

 

 

Jung Jin Woo mulai bergerak, melangkahkan kakinya mendekat kearah Baekhyun lalu menyentuh wajah tirus Baekhyun perlahan-lahan. Airmata pria tua itu berjatuhan.

 

 

“Anda hidup Tuan….anda benar-benar hidup….Astaga….”

 

 

Pria tua itu memeluk Baekhyun erat, sementara pria mungil itu masih tak mampu mencerna segala situasi.

 

 

Baekhyun menarik dirinya, lalu mengguncang bahu pria tua dihadapannya, meminta penjelasan.

 

 

“Sebenarnya ada apa Ahjussi, eoh? Apa yang sudah terjadi?” desak Baekhyun. 

 

 

Pria tua itu memberi kode pada salah satu maid wanita yang berdiri beberapa meter dibelakangnya, yang dengan sigap langsung menyerahkan sebuah tanda pengenal yang hangus sebagian. Itu adalah kartu tanda kependudukan milik Baekhyun.

 

 

“Ini….bagaimana bisa?” Tanya Baekhyun. Kepalanya mendadak pusing.

 

 

“Kepolisian New York memberi kabar bahwa pesawat yang anda tumpangi mengalami kecelakaan Tuan….disini tertulis jelas” kata Jung Jin Woo sambil menyerahkan sebuah harian umum pada Baekhyun.

 

 

Baekhyun membacanya sekilas, tapi tetap tak mengerti. Apa maksud dari berita kecelakaan itu? Jelas-jelas Baekhyun duduk dengan nyaman dalam pesawatnya kemarin malam.

 

 

“Aku tak mengerti” kata Baekhyun kebingungan.

 

 

“Mereka bilang pesawat yang anda tumpangi jatuh ke dalam hutan dan meledak…seluruh badan pesawat hangus terbakar hingga semua penumpang meninggal…” jelas Jung ahjussi.

 

 

Baekhyun tetap bingung.

 

 

“Tapi aku tak apa-apa….pesawat yang kutumpangi tak mengalami kecelakaan ataupun hal-hal buruk lainnya….jadi kenapa mereka menyimpulkan aku adalah salah satu korban? Dan ini…”

 

 

Baekhyun menatap bangkai kartu kependudukan miliknya sendiri yang masih berada dalam genggamannya, lalu mulai berpikir keras. Otaknya mulai bekerja, mengurutkan satu-persatu apa yang sudah dilakukannya.

 

 

Kemarin malam saat beres-beres di Flat milik Chanyeol, Baekhyun meletakkan semua pakaiannya dalam koper, lalu menyimpan paspor, ponsel, dan hal-hal penting lainnya dalam postman bag miliknya. Baekhyun memisahkan uangnya menjadi dua bagian, sebagian besar dimasukkannya kedalam dompet dan disimpan kedalam kopernya, lalu Baekhyun menyimpan sebagiannya lagi kedalam postman bag miliknya….

 

 

Degg!!!

 

 

Dompet…..koper?

 

 

Baekhyun berjalan cepat menuju kopernya yang masih berdiri tegak diambang pintu utama, meraihnya dan langsung mencocokkan kode nomor kombinasi kopernya, tapi….

 

 

“Tak bisa terbuka….” Gumamnya.

 

Baekhyun meletakkan kepalan tangannya kebibirnya sendiri sambil berpikir keras, sementara semua yang ada diruangan itu menatapnya penuh tanda tanya.

 

 

Baekhyun kembali mengingat-ingat, dan akhirnya menemukan penyebab kesalah pahaman ini. Segalanya menjadi jelas dalam ingatannya. Kemarin malam Baekhyun sempat bertabrakan dengan seseorang yang terdesak waktu keberangkatan. Pesawat orang asing itu sudah akan lepas landas pada pukul 8 malam, dan pria asing itu berlari-lari seperti orang gila hingga menabrak tubuhnya dan membuat koper mereka terpental jauh dari posisi mereka terjatuh. Orang itu masih sempat membantu Baekhyun berdiri dan mengucapkan maaf berkali-kali dengan Bahasa Inggris meskipun kulitnya sama kuningnya dengan kulit Baekhyun. Setelahnya pria asing itu menatap bingung kearah dua koper yang sama persis, lalu dengan kepercayaan dirinya pria itu menyambar salah satu koper yang diyakininya sebagai miliknya dan kembali berlari meninggalkan Baekhyun.

 

 

Baekhyun hanya membuang nafas berat dan mengambil koper yang tersisa, kemudian berjalan lurus kearah jejeran kursi tunggu untuk menunggu pesawatnya yang akan berangkat 45 menit lagi. Baekhyun bahkan masih sempat menghabiskan sekaleng kopi hingga akhirnya meninggalkan ruang tunggu untuk menuju kebadan pesawat yang akan membawanya pulang ke Seoul.

 

.

 

.

 

.

 

 

.

 

 

Baekhyun menatap Jung Jin Woo dengan tatapan penuh bebannya.

 

 

“Ahjussi….korban itu adalah pria asing, bukan aku….” Kata Baekhyun mencoba memulai penjelasannya.

 

 

Jung Jin Woo menatap Baekhyun dengan tatapan penuh tanda tanya.

 

 

“Tuan….apa maksud anda?”

 

 

“Koper ini bukan milikku….kami bertarbrakan, dan sialnya koper kami sama persis…”

 

 

Jung Jin Woo masih belum mengerti.

 

 

“Koper ini….milik korban meninggal itu….koper kami…tertukar….”

 

 

-End Flashback-

 

 

.

 

 

.

Baekhyun masih berpikir keras sejak tadi dan belum melakukan apapun sampai konsentrasinya terputus karena pintu kamarnya yang tiba-tiba terbuka. Seorang Maid wanita membawakan satu nampan berisi makan malam, dan Jung Jin Woo mengiringi Maid itu dibelakangnya.

 

“Ini makan malam anda tuan…” kata Maid itu, lalu membungkuk hormat pada Baekhyun sebelum akhirnya pergi meninggalkan Baekhyun dan Jung Jin Woo berdua saja dalam ruangan itu.

 

“Makanlah Tuan…..anda pasti lelah dan lapar……” kata Jung Jin Woo lembut.

 

Baekhyun memegangi kepalanya yang masih terasa pusing, lalu menyamankan posisi duduknya, menyandar pada headboard ranjang. Jari-jarinya yang lentik meraih nampan makanan itu dan meletakkannya di pangkuannya sendiri, kemudian mulai mengambil sumpit dan memakan makanannya, masih sambil berpikir.

 

Jung Jin Woo –Chanyeol dan Baekhyun memanggilnya Jung Ahjussi– tersenyum melihat Baekhyun. Hati pria tua itu tadinya sangat sedih. Meskipun dia hanya seorang kepala asisten rumah tangga didalam keluarga ini, tapi Baekhyun sudah diasuhnya sejak balita. Bahkan sebelum Chanyeol hadir dalam keluarga Byun. Semenjak tuan Byun dipenjara seumur hidup karena kasus pembunuhan, juga nyonya Byun yang akhirnya berakhir dirumah sakit jiwa, Chanyeol yang memegang kendali dalam keluarga ini, namun Chanyeol menyerahkan semua tanggung jawab itu pada Jin Woo.

 

Pria tua itu tau segalanya, apapun yang terjadi pada keluarga Byun, siapa Chanyeol sebenarnya, apa alasan tuan Byun dipenjara, Jin Woo tau segalanya, karena itu Chanyeol mempercayakan segalanya pada Jin Woo, menyuruhnya menutup mulut rapat-rapat, mengusahakan agar Baekhyun tak mengetahui tentang apapun, karena Chanyeol tak ingin membuat Baekhyun merasa bersalah atas segala hal yang terjadi. Chanyeol tak ingin Baekhyun tau jika korban yang dibunuh oleh ayahnya adalah ayah Chanyeol.

 

Jin Woo juga tau tentang orientasi Baekhyun dan Chanyeol, bagaimana keduanya sebenarnya saling mencintai dibelakang hubungan adik kakak yang mereka jalani. Segala hal, Jin Woo adalah mesin penyimpannya.

 

Ahjussi…..aku sebenarnya tak ingin makan…umm…bolehkah aku selesai?” kata Baekhyun memelas.

 

Jin Woo terdiam. Kebiasaan itu masih dilakukan oleh Baekhyun ternyata. Pria mungil itu memang selalu meminta izin padanya jika ingin melakukan apapun, karena tau Chanyeol akan selalu memantaunya melalui mata Jin Woo. Ah, Jin Woo lupa memberi informasi bahagia ini pada Tuannya yang berada di New York sana.

 

“Baiklah Tuan…..jika anda tak bernafsu makan anda boleh selesai…. setidaknya perut anda sudah terisi sedikit makanan” kata Jin Woo sambil mengambil nampan itu dari pangkuan Baekhyun.

 

“Aku ingin tidur” kata Baekhyun sambil memejamkan matanya tanpa merubah posisi duduknya.

 

“Baiklah, silahkan istirahat Tuan…..saya akan menghubungi Tuan Chanyeol dan mengabarkan padanya bahwa berita itu salah….beliau pasti sangat bahagia mendengar anda masih hidup”

 

Degg!

 

Baekhyun membuka matanya dan menatap tegang kearah Jin Woo.

 

“Ja-jadi Chanyeol sudah tau tentang berita itu?” tanya Baekhyun dengan wajah yang pucat pasi.

 

Jin Woo mengangguk lemah.

 

“Ya…..saya mengabarkan padanya kemarin pagi”

 

Baekhyun menatap nanar ke sekeliling sambil berpikir kuat. Tangannya terasa dingin dan berkeringat.

 

“Baiklah, saya permisi Tuan…silahkan beristirahat” kata Jin Woo sambil hendak meraih nampan makanan tadi, tapi tiba-tiba saja….

 

Grepp!

 

 

“Jangan beritahukan pada Chanyeol jika aku berhasil pulang dalam keadaan hidup”

 

Pria tua itu tercekat.

 

“Tu-tuan…..mak-maksud anda?”

 

Baekhyun mengeratkan cengkramannya pada lengan Jin Woo.

 

“Kumohon Ahjussi…jangan katakan apapun pada Chanyeol”

 

“Tapi Tuan-”

 

Ahjussi, tolong aku! biarkan Chanyeol menganggapku telah mati…jebal….”

 

Jin Woo menatap Baekhyun sambil berpikir keras. Rasa ragu dan khawatir menyerang dirinya.

 

Jebal…”

 

“…..”

 

Ahjussi……”

 

“Tapi Tuan….saya-”

 

Airmata Baekhyun jatuh.

 

“Kumohon satu kali ini saja, berpihaklah padaku…kali ini saja…komohon...”

 

Jin Woo terenyuh, lalu membawa Baekhyun kedalam pelukannya.

 

“Tapi kenapa Tuan?” tanya pria tua itu sambil mengusap kepala Baekhyun yang menempel diperutnya dengan sayang.

 

“Chanyeol membenciku…hiks…aku membuat kesalahan fatal dan Chanyeol meninggalkanku sendirian…dia tak mau menemuiku setelahnya Ahjussi…dia membenciku…jadi biarkan dia menganggapku sudah mati karena itu lebih baik”

 

“Tapi Tuan, Tuan Chanyeol terdengar sangat terpukul saat mendengar anda kecelakaan…tak mungkin dia membenci anda”

 

“Tidak, dia membenciku! Aku yakin dia membenciku! Kumohon…berpihaklah padaku untuk satu kali ini saja…tolong aku…”

 

Jin Woo menepuk-nepuk kepala Baekhyun untuk menenangkan.

 

“Baiklah Tuan…baiklah…”

 

“Terima kasih…terima kasih…”

 

Baekhyun bangkit dengan cepat setelah mengatakan hal itu dan mengambil sebuah ransel, memasukkan barang-barangnya kedalamnya.

 

“Tuan? apa yang anda lakukan? anda mau kemana?” tanya Jung Jin Woo heran.

 

“Aku harus pergi. Aku tak bisa tinggal disini atau Chanyeol akan menemukanku”

 

Jung Jin Woo menarik nafas dalam-dalam. Sepertinya pria tua itu harus bertingkah seperti Severus Snape dalam novel Harry Potter setelah ini.

 

.

.

.

.

.

Luhan menopangkan dagunya, melihat Tao dan Kai yang sedang melahap makanan mereka saat ini. Bibirnya tersenyum. Yeah…setidaknya kedua orang ini memberikan sedikit udara segar ditengah masalah rumah tangganya yang sangat rumit.

 

Gege….kenapa tak makan?” tegur Tao.

 

“Entah kenapa melihat kalian berdua makan dengan lahap, membuatku kenyang dengan sendirinya” kata Luhan.

 

“Cihh, dasar bodoh” kata Kai.

 

“YA!” protes Luhan.

 

Kai tertawa, Tao hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

 

“Jadi….bagaimana dia Ge? Tampan?” tanya Tao lagi.

 

“Kalau kau menanyakan hal itu padanya, tentu saja dia akan menjawab tampan” sahut Kai.

 

Luhan merengut.

 

“Sehun memang tampan kok, setidaknya lebih tampan dari kau” kata Luhan.

 

Tao tertawa melihat ekspresi Kai yang aneh.

 

“Aku lebih sexy daripada suamimu itu” kata Kai.

 

“Aishh…terserah” kata Luhan.

 

“Lalu, apa dia baik pada Gege?”

 

Degg!!

 

Luhan terdiam.

 

Ge?”

 

“Te-tentu saja…ahaha” jawab Luhan, salah tingkah.

 

Tao mengangguk-angguk.

 

“Oh ya Tao, sebenarnya kau ke Korea dalam rangka apa?” tanya Luhan, mencoba mengalihkan topik tentang Sehun.

 

“Aku ditugaskan disini”
“Tugas apa?” kata Kai.

 

“Merawat pasien” jawab Tao.

 

Luhan menatap takjub pada Tao.

 

“Jadi kau?”

 

Tao mengangguk.

 

“Ya Ge…aku Dokter…ehehe…”

 

Kai menjatuhkan rahangnya.

 

“Sungguh?” tanya Luhan.

 

Tao mengangguk-angguk imut.

 

“Woaahhh….kau hebat Tao…Gege sangat bangga padamu” kata Luhan sambil mengacak surai blonde pria berkulit agak gelap itu.

 

“Hey! jujur saja ya, sebenarnya kau tak cocok menjadi Dokter” celetuk Kai tiba-tiba.

 

“Memangnya kenapa?” tanya Tao bingung.

 

Kai menggerak-gerakkan sumpitnya naik turun.

 

“Lihat saja penampilanmu“

 

Tao langsung melihat penampilannya sendiri.

 

“Tak ada yang salah dengan penampilanku…aku tampan kok” kata Tao percaya diri.

 

“Apanya yang tidak salah….kau itu dokter, tapi menurut penglihatanku kau lebih cocok disebut Gangster….rambut blonde berpotongan Mohawk, anting, dan ck, ya Tuhan….gayamu sangat funky, mana ada dokter seperti kau” kata Kai lagi.

 

“Justru karena tak ada makanya aku datang, jadi sekarang ada dokter funky sepertiku” kata Tao cuek.

 

Luhan tertawa kecil, lalu mengecek arlojinya.

 

“Astaga, sudah hampir tengah malam…sebaiknya aku pulang…” kata Luhan.

 

“Cepat sekali sih Ge, eighh!” protes Tao.

 

“Hey, dia ini sudah menikah, suaminya akan kesepian jika dia tak kunjung pulang” kata Kai.

 

“Benar juga sih” kata Tao setuju.

 

Luhan terdiam, lalu memaksakan tersenyum pada dua ‘adik kecilnya’ itu.

 

“ Ya sudah, aku pulang dulu ya…bye…” pamit Luhan.

 

“Hati-hati Lu” Kata Kai.

 

“Ya, hati-hati Ge” tambah Tao.

 

Luhan mengangguk, lalu mulai melangkah meninggalkan hotel itu.

.

.

.

Luhan berjalan lambat menuju apartemen Sehun. Setelah memasukkan beberapa kode kombinasi ke intercom, Luhan membawa tubuh mungilnya masuk ke dalam.

 

Gelap.

 

Luhan meraba-raba dinding, mencari tombol saklar lampu.

 

Klik’

 

Lampu menyala, dan Luhan sedikit terlonjak saat melihat seseorang berdiri sambil melipat tangan di depan dada disamping pintu utama. Oh Sehun. Pria pucat itu mendongak, menatap Luhan dengan tatapan tajam menusuk. Iris coklatnya sedikit berkilat, hingga Luhan menyimpulkan jika pria ini pasti sedang dalam keadaan tak baik.

 

“Se-Sehun….apa yang kau lakukan di sini?”

 

Pria itu hanya diam beberapa saat, lalu berdecih.

 

“Kenapa kau pulang?” tanya Sehun dengan senyum remeh yang tersungging di bibir tipisnya.

 

Luhan menatap bingung ke arah ‘suaminya’ itu.

 

“Maksudmu? Tentu saja aku akan pulang” jawab Luhan.

 

Sehun menurunkan sebelah kakinya yang sejak tadi menapak pada dinding, lalu berdiri di hadapan Luhan, memasukkan salah satu tangan ke saku celananya.

 

“Bagaimana rasanya? Nikmat?” tanya Sehun.

 

Luhan mengerutkan dahinya, bingung.

 

“Apa maksudmu?”

 

Sehun terkekeh.

 

“Jangan berpura-pura bodoh! Dasar Jalang! Aku tau kau namja bermuka dua, tapi kau tak akan bisa mengelabuhiku sialan! Wajahmu, topengmu, aku bisa membedakan keduanya, jadi kau tak perlu bertingkah sok polos didepanku, namja brengsek! Cihh, tak ku sangka kau bisa bertindak sejauh ini, memasang wajah tak berdosa dihadapan semua orang dan bermain di belakang suamimu sendiri…ckckck….kau benar-benar hebat!”

 

Wajah Luhan sontak memanas. Luhan bingung dan tak mengerti apa alasan Sehun memfitnahnya, tapi kata-kata Sehun cukup menohok perasaannya. Luhan menarik nafasnya berkali-kali, berusaha sabar.

 

“Kau sudah selesai? Aku lelah….aku akan tidur” kata Luhan, lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Sehun.

 

“Tentu saja lelah! Berapa ronde yang kau habiskan untuk melayani kekasihmu itu, heumm?” celetuk Sehun sinis, membuat Luhan menghentikan langkahnya.

 

Luhan menggigit bibirnya sendiri, mencoba tetap sabar. Beberapa lama diam, Luhan kembali melangkah. Tapi…
“Dasar tukang selingkuh! Pelacur!”

 

“AKU BUKAN PELACUR!!” teriak Luhan sambil , membalikkan tubuhnya dengan cepat, menatap tajam pada Sehun. Emosinya benar-benar terpancing.

 

“Dan aku tak pernah selingkuh” tambah Luhan lagi.

 

Sehun terdiam, tapi beberapa saat kemudian sudah tertawa meremehkan sambil bertepuk tangan.

 

“Kau masih menyangkal juga? JELAS-JELAS AKU MELIHATMU BERGANDENGAN DENGAN PRIA LAIN DAN MEMASUKI HOTEL, BRENGSEK!” maki Sehun, lalu dengan cepat menarik tubuh Luhan dan mendorongnya dengan keras ke tembok.

 

“Akh”

 

Luhan meringis, merasakan nyeri yang teramat sangat di punggungnya.

 

“Siapa dia?” kata Sehun tajam, mencengkram kedua bahu sempit Luhan dengan tangannya.

 

Luhan hanya diam, masih mencoba mencerna situasi gila ini.

 

“SIAPA DIA!!” bentak Sehun, tak sabaran, kedua tangannya sudah mencekik leher Luhan.

 

“Akh…Sehun…..lep…as….” rintih Luhan, nafasnya sudah tak karuan. Udara tertahan ditenggorokannya dan Luhan merasa sangat sesak.Tapi Sehun masih menekan kuat lehernya, meskipun tangan Luhan mencoba menarik tangan Sehun sekuat tenaga agar terlepas.

 

“Dasar pelacur murahan! Kau datang tiba-tiba dan menghancurkan hidupku yang berharga…sekarang saat aku sudah merasa sangat kacau dengan perasaanku kau menghianatiku seenaknya…lebih baik kau mati!” kata Sehun geram.

 

Luhan hanya diam. Air mata sudah menetes di sudut-sudut matanya dan wajahnya sudah memerah. Tangan pria mungil itu terkulai lemas. Luhan sudah pasrah saja jika Sehun akan membunuhnya. Tapi tidak, karena sesaat kemudian Luhan merasa udara berlomba-lomba masuk ke paru-parunya. Sehun melepaskan cekikannya dan tubuh Luhan ambruk ke lantai.

 

Sehun menatap tubuh mungil itu dengan tatapan yang sulit di artikan. Sehun pun tak mengerti kenapa dia sangat marah saat ini. Seperti ucapannya tadi, Sehun merasa sangat kacau. Perasaannya aneh. Sehun merasa kini otaknya hanya dipenuhi oleh Luhan, Luhan dan Luhan. Dan Sehun sedang berusaha menolaknya sekuat tenaga.

 

Luhan bangkit dengan lemah, lalu tanpa menatap Sehun, Luhan berjalan sempoyongan menuju kamarnya sendiri, meninggalkan Sehun yang masih berdiri mematung pada posisinya.

 

Blamm!

 

Sehun menempelkan kedua lengannya pada dinding dan memukul-mukul tembok itu berkali-kali dengan kepalan tangannya. Sehun sangat stress. Dua jam yang lalu Sehun memergoki Luhan bersama seorang pria dan masuk ke dalam Hotel, dan satu jam kemudian salah satu utusan dari keluarga Byun mengantarkan sebuah kotak, yang isinya adalah semua barang pemberiannya pada Baekhyun dulu sekaligus mengabarkan tentang berita kematian Baekhyun. Entah mengapa Sehun menjadi sangat emosi. Sehun merasa takdir mempermainkannya dan Sehun sangat marah.

 

Sehun tak mengerti apa alasannya marah seperti ini. Entah karena dirinya terlalu sedih karena berita kematian Baekhyun yang dicintainya atau sedih karena Luhan ternyata berselingkuh dibelakangnya. Sehun bingung dan juga pusing.

 

Pria pucat itu akhirnya berjalan ke arah lemari es, mengambil segelas air dingin untuk menyamankan perasaannya, lalu duduk di salah satu kursi makan. Sehun mengangkat kedua tangannya dan menatapnya lama, tangan yang hampir membunuh ‘teman hidupnya’ tadi.

 

.

.

.

.

.

Kai berjalan cepat menuju mobilnya –mobil pemberian Kris– yang baru didapatkannya tadi malam. Ini masih jam 7 pagi. Tapi entah kenapa Kai sangat ingin bertemu dengan ‘kekasih virtual tapi nyata’ miliknya itu, Do Kyungsoo. Kai juga tak mengerti dengan perasaannya sendiri. Awalnya Kai hanya ingin membuktikan pada Kris jika Kyungsoo akan dengan mudah ditaklukan olehnya, tapi belakangan perasaannya jadi sedikit ‘aneh’. Sepertinya Kai mulai ‘sedikit’ menyukai hubungannya dengan Kyungsoo. Atau sebenarnya mungkin Kai memang mulai ‘suka’ pada Kyungsoo. Entahlah…

 

Yang pasti Kai sama sekali tak memiliki rencana untuk berpisah dengan Kyungsoo. Kai ingin mengenal Kyungsoo lebih jauh lagi.

 

Kai mengendarai mobilnya dengan cepat ke arah Apartemen yang di tinggali Kyungsoo. Beberapa menit saja mobilnya sampai dan terparkir di basement gedung apartemen tempat Kyungsoo tinggal. Kai turun dengan cepat dan berjalan dengan langkah lebar-lebar menuju lift. Sebuah kantong plastik berisi dua buah kotak Styrofoam berisi sarapan untuk dirinya dan untuk ‘kekasihnya’ itu berada dalam genggamannya.

 

Akhirnya lift sampai di lantai 8. Kai membawa dirinya keluar dari lift dan berjalan cepat menuju kamar apartemen yang menjadi tujuannya. Sepanjang malam tadi dia ber-chatting ria dengan kekasihnya itu dan Kyungsoo sudah memastikan jika hari ini jadwalnya kosong, jadi Kai yakin jika pria manis itu pasti sedang bersantai atau masih tertidur di dalam apartemennya.

 

Kai hampir sampai. Tapi matanya menangkap ‘kekasihnya’ sedang berbicara berdua dengan seseorang yang Kai yakin jika dirinya sangat mengenal siapa orang itu.

 

Kris.

 

Kai urung mendekat dan memutuskan menyembunyikan dirinya dibalik tembok yang terletak di seberang lift dan kebetulan adalah merupakan pertigaan menuju kamar-kamar penghuni apartemen lainnya.

 

“Kris? Kenapa dia bisa berada ditempat ini? Jadi sebenarnya dia dan Kyungsoo sudah saling mengenal?” gumam Kai seorang diri, heran.

 

Karena merasa sangat penasaran, Kai mengintip sedikit ke arah dua orang itu, dan matanya dapat menangkap jika wajah Kyungsoo terlihat ‘sangat tidak baik-baik saja’, sedangkan Kris berkali-kali menyeringai aneh ke arah kekasihnya itu. Kai menajamkan pendengarannya, dan telinganya dapat menangkap suara-suara dua orang yang sepertinya sedang berdebat itu dengan jelas, karena hari masih pagi dan masih sangat sepi.

 

“Aku tak mau lagi Kris! Aku tak tega melakukan ini padanya…dia baik Kris!”

 

“Sudah berapa kali ku katakan padamu? Aku ingin kau menghancurkan dia, Do Kyungsoo!  Kau tak bisa berhenti sebelum kau menghancurkan namja hitam itu…aku tak peduli pada apapun yang kau katakan. Dia baik? Cihh, DIA HAMPIR SAJA MEMBUAT KEKASIHKU MATI!!!”

 

Kai mengerutkan keningnya. Tak mengerti dengan apa yang di bicarakan oleh dua orang itu.

 

“Kris…aku tak bisa…ku mohon lepaskan saja dia….”

 

“Apa katamu? Melepaskannya? Are you kidding me?”

 

Kai kembali mengintip ke arah dua orang itu. Kris sedang mencengkram rahang Kyungsoo dengan kuat, dan Kai sedikit geram karena wajah Kyungsoo terlihat kesakitan.

 

“Hancurkan Kai, Kyungsoo…hancurkan dia! Aku tak peduli pada apapun yang kau katakan tentangnya….buat dia bertekuk lutut padamu, lalu bunuh dia!”

 

Mata Kai membulat saat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Kris. Kai dapat melihat dengan jelas jika saat ini Kris sedang mencium paksa bibir ‘kekasihnya’ dan mendesak tubuh mungil Kyungsoo agar masuk ke dalam Apartemen.

 

Kai lemas seketika. Kepalanya tiba-tiba saja terasa sangat pusing. Sekelilingnya terlihat buram dan tampak blur. Kai tak mengerti apa arti semua ucapan Kris tadi, tapi Kai yakin jika Kris sedang ‘mengincarnya’, dan sialnya Kyungsoo…..ada di pihak yang sama dengan Kris. Kedua orang itu memang sudah saling mengenal dan sedang menjebaknya.

 

Kai berlari secepat bayangan saat seseorang membuka pintu lift dan Kai langsung ikut masuk ke dalamnya. Lift itu bergerak turun ke bawah lagi. Kai mengurungkan niatnya untuk menemui Kyungsoo.

 

Siapa Kris sebenarnya? Dan Kyungsoo?….apa arti semua ini?~ batin Kai.

 

“Ugghh”

 

Kai memegangi kepalanya yang terasa sangat pening. Pria hitam itu harus memikirkan segala hal dengan kepala jernih. Kai butuh waktu untuk sendirian.

 

Lift terbuka dan Kai berjalan pelan menuju mobilnya kembali setelah membuang kotak makanan yang digenggamnya tadi begitu saja ke tong sampah. Kai masuk ke dalam mobil dan kembali berpikir keras. Kai tak mengerti –belum mengerti– tentang apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa Kris mengincarnya?

 

Apa yang sebenarnya telah terjadi? Aku harus segera mencari tau ~ batin Kai.

 


To Be Continued


 

 

 

Advertisements