TROUBLE MARRIAGE

 

 

download

Written B
y tmarionlie  |  Poster By L.E Design

.

H
unHan

.

Yaoi | Marriage Life | Hurt & Comfort | Romance | Mature

.


CHAPTER 13


Langit sore mulai bergerak menjadi senja. Bias oranye menerpa seluruh permukaan bumi, dan udara semakin lama menjadi semakin mendingin. Orang-orang yang sejak tadi berada di taman semakin lama semakin berkurang hingga akhirnya habis sama sekali. Baekhyun bangkit dari posisi duduknya dengan malas. Sudah saatnya ia pulang ke rumah kecilnya yang membosankan. Sudah saatnya ia kembali bergelut dengan kesepian. Dia eratkan jaketnya, dan ia gosok-gosok tangannya, kemudian ia meniupkan nafas hangatnya pada kedua telapak tangannya itu agar tangannya tak terlalu beku. Baekhyun mulai melangkahkan kaki pendeknya dengan payah, satu langkah…dua langkah…lalu ia berhenti. Untuk kali kedua, dia rogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya dari sana hanya untuk memandangi foto seseorang agar ia mendapatkan kekuatan. Mata sipitnya memandangi foto itu sedikit lebih lama dari yang sebelumnya, dan kali ini hampir saja ia menangis karena merasa frustasi pada perasaannya sendiri. Tidak, bukan kekuatan yang ia dapatkan, namun sebaliknya. Baekhyun justru merasa sakitnya semakin bertambah parah.

 

 

“Sialan! Dasar cengeng!” umpatnya untuk dirinya sendiri. Dengan perasaan jengkel ia kembali menyimpan ponselnya, kemudian menghapus setetes airmata yang sempat jatuh tadi. Baekhyun menarik nafasnya dalam-dalam, lalu ia kembali melangkah.

 

 

Jam baru menunjukkan angka 6 lewat 27 menit, namun suhu udara begitu tak bersahabat. Dingin, dan Baekhyun sangat benci dengan suhu udara yang rendah ini. Jika saja ada Chanyeol, pria itu pasti tak akan keberatan untuk memeluknya saat ini, ngg…sebagai adik tentu sa–Oh, stop Baekhyun, jangan mulai berfikir yang tidak-tidak atau kau akan menyakiti perasaanmu sendiri!

 

 

Baekhyun mengeratkan jaketnya semakin rapat, dan mulai melangkah selebar yang ia bisa dengan kaki-kaki pendeknya itu. Langkahnya terus bertambah banyak, menuju trotoar jalanan yang tampak ramai. Baekhyun butuh pengalih perhatian agar otaknya tak terus-menerus memikirkan pria yang bernama Park Chanyeol itu. Tapi keramaian ternyata tak begitu membantu begitu banyak karena meskipun di sekitarnya saat ini penuh dengan para pejalan kaki yang begitu meyesaki trotoar, otaknya tetap saja memikirkan pria itu.

 

 

“Hhhhh….” Baekhyun mengeluarkan desahan lelahnya. Dia benar-benar merasa sendirian saat ini, dalam keramaian ini. Kaki-kakinya menapak berganti-gantian pada permukaan trotoar yang berdebu itu, dan matanya tak lagi fokus pada jalanan serta para manusia-manusia yang membludak di sekelilingnya. Sepanjang dia melangkah, mata sipitnya hanya menatap lemah pada sepatunya sendiri, yang bergerak berganti-gantian di permukaan trotoar berdebu itu. Langkahnya tetap mengarah lurus ke depan.

 

 

Dengan kepala yang agak tertunduk, Baekhyun tetap melangkah meskipun langkahnya terkesan payah. Pikirannya masih tetap menari-nari pada bayangan pria yang sama, sudah sejak tadi. Langit sudah semakin gelap, dan Baekhyun mempercepat langkah pendeknya agar ia cepat sampai di rumah mungilnya. Udara yang semakin dingin semakin tak bersahabat dengan tubuh ringkihnya. Baekhyun amat lelah, ia hanya ingin cepat pulang kemudian tidur. Kaki-kaki pendeknya melangkah dengan tempo yang semakin cepat, namun segala pikirannya menjadi buyar ketika mata sipitnya menangkap sepasang ujung sepatu mengkilat dari sepasang kaki panjang seseorang yang berdiri tegak di hadapannya, membuatnya terpaksa menghentikan langkah kaki pendeknya. Baekhyun mengutuk-ngutuk dalam hati pada ‘orang gila’ yang berdiri diam di trotoar ramai itu. Baekhyun sudah berniat memaki orang itu karena telah berani menghalangi langkahnya, tapi ketika ia mengangkat dagu, jantungnya langsung terasa jatuh ke kakinya sendiri. Mata sipitnya melebar, dan Baekhyun dapat merasakan jika ujung-ujung jarinya menjadi dingin dalam sekejap. Aliran darahnya seolah macet, dan tubuhnya sontak gemetaran. Pria tinggi  yang berdiri di hadapannya saat ini….bagaimana bisa? Dia ketahuan! Sial!

 

 

“Y –Ye –Yeollie??”

 

 

Baekhyun mengutuk mulutnya sendiri ketika tanpa sadar mengucapkan nama pria tinggi itu. Bagaimana bisa mulutnya itu memanggil nama pria itu dengan begitu lancangnya?

 

 

Sial-sial-sial! –umpat Baekhyun dalam hati.

 

 

Baekhyun menundukkan kepalanya, takut menatap orang itu. Baekhyun berniat untuk lari, namun kakinya seolah terpaku di trotoar yang ia pijak. Nafasnya tersengal tanpa ia sadari, dan tubuhnya semakin gemetaran. Baekhyun benar-benar takut…takut pria itu semakin membencinya karena ia ketahuan berbohong dan memalsukan kematiannya.

 

 

Bagaimana ini? –keluh Baekhyun di dalam hati. Panik. Baekhyun benar-benar merasa kacau sekarang. Airmatanya rasanya mendesak ingin keluar sekarang juga. Baekhyun lelah.

 

 

“Baekkie…akhirnya aku menemukanmu…”

 

 

Baekhyun mendongak cepat ketika suara berat itu menyapa gendang telinganya. Mata mereka bertemu tepat ketika Baekhyun merasa jantungnya kembali berdetak dan darahnya kembali mengalir. Tenaganya yang sempat menghilang tadi seolah terkumpul kembali. Pria di hadapannya itu tersenyum padanya. Meskipun senyumannya teramat sangat tipis, namun senyuman itu terasa mengerikan, membuat Baekhyun benar-benar merasa semakin ketakutan.

 

 

Baekhyun mengepalkan tangannya. Kaki kanannya berayun ke belakang, satu langkah, dua langkah, secara perlahan dan terlihat gemetar. Baekhyun memilih mundur dan ingin lari. Langkah mundurnya semakin ia perbanyak, lalu ia berbalik cepat dan berniat kabur. Tapi baru saja mengayunkan langkahnya satu kali, tubuh mungilnya tiba-tiba saja menjadi kaku. Entah sejak kapan, tapi Baekhyun bersumpah jika saat ini tubuh mungilnya telah terperangkap di dalam pelukan seseorang.

 

 

“Jangan pergi…”

 

 

Baekhyun membeku ketika sepasang bibir lembut yang basah mengecup lehernya yang sebelah kanan. Sepasang lengan yang memeluk perutnya semakin mengerat, dan kepala berambut cokelat milik pria tinggi itu tenggelam semakin dalam di lekuk lehernya.

 

 

“Jangan tinggalkan aku lagi Princess….”

 

 

Baekhyun melemah. Entah mengapa otot-ototnya terasa sangat lemas sekarang. Matanya memanas, dan buliran airmatanya terjatuh begitu saja. Dia sentuh sepasang lengan yang memeluk perutnya itu kemudian ia genggam erat-erat.

 

 

“Maaf….” Bisik Baekhyun, menyesal.

 

 

Tak ada lagi kata-kata. Kata maaf adalah suara terakhir yang terdengar sebelum keduanya terlarut dalam kerinduan masing-masing. Puluhan pasang mata menatap aneh pada sepasang pria dengan tubuh yang saling merapat itu, namun Baekhyun dan Chanyeol tak dapat melihat tatapan aneh mereka. Sepasang manusia itu terlalu larut dalam dunia mereka sendiri, yang tak ada siapapun di dalamnya –di dalam dunia mereka.

 

.

.

.

.

.

Sudah berjam-jam, pria tampan berambut pirang itu duduk di sana, di samping ranjang rawat kekasihnya. Tatapan matanya kosong, hanya menatap lurus pada wajah pria lainnya yang masih terbaring koma. Tak ada suara apapun yang terdengar selain hanya suara dari ECG yang menunjukkan jika pria manis berlesung pipi itu masih hidup. Pria berambut pirang itu terkesiap ketika mendengarkan langkah-langkah kaki yang mendekat. Suara pintu yang terbuka membuat matanya langsung mengarah ke sana, dan ia langsung menemukan sosok Dokter bergaya funky berkulit eksotis itu, sedang melemparkan senyum padanya.

 

 

“Hai Kris, bagaimana kabarmu hari ini?” tanya Dokter itu ramah, tapi Kris malah mendengus dan melemparkan tatapannya kearah lain, kemudian hanya diam tanpa memperdulikan kehadiran pria funky itu.

 

 

Tao mendesah ketika melihat respon pria tampan itu, tapi ia mencoba tak perduli dan tetap melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan, mendekat ketubuh pasiennya yang masih terbaring koma. Di setiap gerakan yang ia lakukan, Tao menyadari jika tatapan tajam dari sepasang mata manusia sadar yang berada di dalam ruangan itu terus-menerus mengikuti gerakannya. Tao tersenyum tipis dan menghentikan gerakannya, kemudian menatap pria tampan itu.

 

 

“Apa kau sudah makan? Sejak kemarin kau berada di sini, dan aku tak pernah melihatmu keluar dari kamar ini. Seharusnya kau menjaga kesehatanmu juga supaya kau kuat menjaga kekasihmu ini.”

 

 

Tao mendesah saat pertanyaannya diabaikan oleh pria tampan itu. Tapi Tao tak ingin menyerah. Pemuda tinggi itu terlihat sangat menyedihkan, dan Tao benar-benar tak tega melihatnya.

 

 

Kau pasti sangat terpukul, tapi kau juga harus memperhatikan kesehatanmu Kris –kata Tao dalam hati.

 

 

“Apa yang kau rasakan sekarang?”tanya Tao lagi, kembali berbasa-basi.

 

 

Kris menatap Tao tanpa minat, lalu mendengus keras. “Bukan urusanmu,” jawabnya ketus, membuat Tao merasa jengkel.

 

 

“Dasar keras kepala! Kalau kau seperti itu terus, kau mungkin akan lebih dulu mati ketimbang kekasihmu ini, kau tahu? Kau harusnya menjaga kesehatanmu, jadi ketika sesuatu yang lebih buruk datang pada kekasihmu, kau akan–“

 

 

“DIAM!!” bentak Kris, membuat Tao sedikit terlonjak karena terkejut.

 

 

Tao terdiam saat melihat wajah Kris yang mengeras, tapi kemudian ia menaikkan sudut bibirnya, menunjukkan senyum meremehkan. “Kau itu menyedihkan,” ejeknya, membuat Kris naik pitam dan langsung bangkit dari posisi duduknya. Dia hampiri Tao dengan cepat lalu ia cengkram kerah kemeja Tao kuat-kuat.

 

 

“Tahu apa kau tentang aku, hah? Kau tahu apa tentang perasaanku? Lay akan tetap hidup, sialan! Jangan mengatakan jika kekasihku akan mati seolah-olah kau adalah Tuhan, dasar brengsek!”

 

 

Tao terkekeh ketika makian itu meluncur begitu saja dari bibir pria tampan yang berada di hadapannya. “Aku memang bukan Tuhan, tapi aku bisa memastikan jika kekasihmu tak akan mampu bertahan. Tahu apa kau tentang medis? Kau menyedihkan Kris, seharusnya yang kau lakukan saat ini adalah menjaga kesehatanmu dan tetap berdoa untuk kesembuhannya, bukan menyakiti dirimu sendiri seperti ini dan– Akhh!”

 

 

Tao memekik ketika tangan Kris mencengkram rahangnya. Tao memejamkan matanya kuat-kuat karena rahangnya terasa begitu nyeri, dan ketika ia membuka mata, ia melihat jika kepalan tangan Kris sudah mengayun di udara, siap memukulnya. Mata pandanya terbelalak karena terkejut, dan ia menatap mata berkilat Kris dalam-dalam. Tao sudah mempersiapkan diri dan pasrah akan apa yang terjadi. Dia kembali memejamkan matanya, namun tak terjadi apapun, karena itu ia kembali membuka mata dan ia melihat wajah shock milik Kris dengan tatapan yang bingung.

 

 

Kris masih membeku. Dengan kepalan tangan yang  masih mengambang di udara ia terdiam. Entah mengapa, ketika melihat bayangan dirinya sendiri dalam pupil mata Tao beberapa detik yang lalu, ia merasa nyawanya seolah terbang. Bayangan dirinya yang berada di sana terlihat begitu menjijikkan. Kejadian ini, membuat memorinya melayang kembali ke masa lalu.

 

Flashback

“Aku tak melakukan itu, Kris. Aku berani bersumpah! Kau salah paham!”

 

 

Lay beringsut mundur, namun punggungnya sudah terlanjur merapat pada tembok. Pria manis berlesung pipi itu hanya mampu menatap Kris dengan tatapan memohon dan wajah pucat karena ia merasa begitu ketakutan. Tubuh Lay bahkan sudah gemetar.

 

 

“K –Kris…aku tidak selingkuh, sungguh! Gadis itu bukan siapa-siapa, dia hanya teman lama dan–“

 

 

“DIAM! AKU MELIHATMU MENCIUMNYA, JANGAN MEMBODOHIKU!!” teriak Kris, membuat Lay langsung membeku lalu merosot jatuh pada lututnya.

 

 

“Tidak! Aku tak melakukan itu, kau salah paham! Kumohon, percayalah…percayalah padaku…aku tak berani mengkhianatimu, sungguh…” mohon Lay, dengan lengan yang telah melingkar erat pada lutut tunangannya itu.

 

 

Kris hanya diam dengan wajah dinginnya, kemudian tanpa perasaan ia tarik paksa lengan Lay hingga pemuda manis itu berdiri dengan terhuyung-huyung. Tubuh Lay di seret paksa dan dihempaskan ke atas ranjang dengan sangat kuat oleh Kris. Pemuda manis itu berusaha bangkit, namun tubuh jangkung kekasihnya telah lebih dulu mengunci gerakannya. Tangannya dicekal di atas kepalanya sendiri, kakinya dihimpit kuat oleh kaki milik pria yang lainnya, dan Lay meronta-ronta ketika Kris berusaha menciumnya. Pria tampan itu mencari-cari bibirnya, namun Lay menolak. Dia gerakkan kepalanya dengan tak terkendali ke sana kemari untuk menghindar, membuat Kris geram hingga akhirnya satu pukulan melayang pada wajah manis itu.

 

.

 

 

Diam.

 

.

 

Gerakan keduanya terhenti setelah suara tamparan itu mewarnai udara. Nafas Kris masih tersengal-sengal menahan emosinya, sedangkan Lay kini terdiam dengan mata berair sambil menatap lemah pada pria yang duduk diatas tubuhnya.

 

 

“Katakan yang sejujurnya Lay…Kau –straight?” tanya Kris, dengan wajah terlukanya.

 

 

Lay tak menjawab. Matanya berputar arah, menghindar dari tatapan lemah pria menyedihkan yang mengurung tubuhnya. Lay menggigit bibirnya sendiri. Tubuhnya masih gemetaran, dadanya naik turun karena paru-parunya tak bisa menyaring udara dengan normal. Lay terkesiap ketika setetes air terjatuh dipipinya. Dia bawa tatapannya kembali pada wajah Kris, dan jantungnya terasa berdebam nyeri saat melihat airmata pria itu.

 

 

“Kenapa kau membohongiku? Kenapa kau sangat tega mempermainkan perasaanku? Sejak awal kau bukan gay, lalu apa alasanmu mendekatiku?”

 

 

“Kris, aku–“

 

 

“Kau memperalatku demi tujuanmu!” potong Kris tajam, “apa yang kau inginkan Lay? Apa yang ingin kau dapatkan dariku hingga kau mampu melakukan hal sekeji ini? Berpura-pura menjadi gay, bersikap manis di depanku, bahkan rela bertunangan denganku, apa tujuanmu?”

 

 

Lay masih diam, tak berani menatap Kris.

 

 

“Kau tahu? Aku –sangat mencintaimu.” Kata Kris dengan suara yang lemah.

 

 

Lay bergetar. Entah mengapa ia merasa begitu sedih. Pemuda itu menangis tanpa suara, dan tetap enggan menatap Kris. Beberapa saat hanya seperti itu, hingga akhirnya Lay mengeluarkan desahan beratnya.

 

 

“Jangan mencintaiku, dasar tolol!” Kata Lay singkat. Dengan penuh keyakinan ia tatap mata Kris dengan matanya yang memerah dan berair. “Kau ingin mendengar semuanya? Kau benar Kris, aku straight, dan gadis yang kau lihat kemarin itu memang kekasihku. Kau ingin tahu mengapa aku rela melakukan semua ini? Jawabannya sangat sederhana, aku membutuhkan uangmu, itu saja.” Kata Lay kejam, lalu kembali membuang tatapannya kearah lain.

 

 

“Kau bohong. Jangan membohongiku…kumohon jangan…Kau mencintaiku Lay, kau mencintaiku…” kata Kris dengan suaranya yang bergetar. Harga dirinya runtuh. Pria itu melonggarkan cengkramannya pada pergelangan tangan Lay, kemudian menjatuhkan kepalanya pada ceruk leher pemuda manis itu. Tubuh Kris bergetar, dan ia menangis di sana. Lay tak mampu melakukan apapun. Pemuda itu hanya diam, matanya menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Lay tak menduga jika apa yang ia lakukan ternyata telah menorehkan luka yang begitu dalam pada pria menyedihkan ini. Dia pikir Kris adalah pria dingin yang tak memiliki perasaan namun ia salah. Lay pikir hubungan mereka selama ini hanya bersifat kesenangan semata, namun Kris ternyata mencintainya.

 

 

Apa yang sudah kulakukan?  –batin Lay perih.

 

 

Lay memejamkan matanya kuat-kuat, kemudian ia tarik wajah Kris dari lehernya. Dia hapus airmata pemuda tinggi itu, dan dengan penuh keyakinan ia satukan bibir mereka. Lay tak menyangka jika ini akan terjadi. Ini adalah ciuman pertamanya dengan Kris selama 2 tahun mereka menjalani hubungan –semu–ini. Kris menghormatinya, dan tak pernah menyentuhnya sembarangan selama mereka bersama bahkan hingga Kris meminta Lay untuk menjadi tunangannya. Karena itulah selama ini Lay berpikir jika dirinya hanya dianggap sebagai ‘benda pelengkap’ saja dalam kehidupan mewah pria tampan itu. Pria kaya raya dan menyimpang seperti Kris tentu saja membutuhkan seorang pria manis di sampingnya sebagai penyempurna.

 

 

Atas hasutan beberapa temannya yang membenci Kris, Lay mengambil peluang itu. Lagipula ia memang butuh uang yang banyak untuk menyenangkan kekasih cantiknya yang bergaya hidup mewah. Tanpa ia duga, si tampan Kris ternyata tertarik padanya hingga akhirnya mereka benar-benar menjalin hubungan.

 

 

Lay menjalani hubungan  itu dengan mengandalkan topeng malaikat di wajahnya.  Dia pria normal, tentu saja ia merasa jijik pada awalnya. Tapi segala perasaan jijik itu lenyap tanpa bekas sejak tahun kedua hubungan mereka. Lay menyadari jika apa yang ia lakukan selama ini salah. Pemuda itu menyesal. Karena itu dia memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Namun niat hanyalah niat. Meskipun niatnya begitu kuat, Lay tak mampu menjalankannya dengan begitu mudah. Berkali-kali ia mencoba melangkah ke depan untuk mengambil sebuah keputusan, namun berkali-kali pula ia mundur karena ia takut menyakiti perasaan pemuda tampan itu. Hingga akhirnya Lay benar-benar terperangkap. Segalanya bukan lagi hanya kepura-puraan, namun ia benar-benar jatuh cinta pada Kris. Lay benar-benar terjebak pada permainannya sendiri dan ia sudah terperosok terlalu dalam. Hatinya sakit, dan keinginannya untuk mengakui segalanya menjadi semakin terkubur dalam-dalam. Obsesinya akan uang berbelok arah, dan kini yang ia inginkan hanyalah Kris.

 

 

Lay memutuskan untuk mengakhiri hubungan percintaan dengan gadisnya kemarin, tapi diluar dugaan Kris mengikutinya. Mungkin pemuda tampan itu memang telah lama tahu. Bisa jadi Kris telah lama curiga. Lay juga yakin jika serapi apapun bangkai disimpan, aromanya tetap akan menguar juga, dan ia harus rela bersusah payah menghadapi kenyataan itu. Kris melihatnya. Pemuda itu menyaksikan dengan matanya sendiri ketika gadis cantik yang pernah ia cintai dulu menyerangnya dengan sebuah ciuman yang terburu-buru. Lay berani bersumpah jika tak ada perasaan apapun di dalam ciuman itu, namun ia mengakui jika ia memang tak berusaha menolaknya. Itu adalah salahnya, dan tadi dengan tanpa tahu malu ia masih juga berani menyangkalnya, masih berusaha membohongi Kris lagi. Lay merasa jika dirinya saat ini adalah manusia yang begitu rendah.

 

 

Ciuman Kris dan Lay semakin dalam di setiap detiknya. Hawa kamar menjadi semakin panas. Lay menyerah. Dia melakukan apapun untuk pria tampan yang berada di atas tubuhnya itu. Dia biarkan Kris menyentuhnya dengan kasar. Lay tahu pemuda itu marah, dan ia tak bisa melakukan apapun selain hanya diam dan pasrah.

 

 

“Hhh…katakan kalau kau mencintaiku baby…” mohon Kris di antara sentakan-sentakan tubuh mereka, namun Lay hanya diam, mendesah nikmat di bawah himpitan tubuh kekasih tampannya.

 

 

Kris menciuminya lagi, kemudian mengalihkan bibirnya ke telinga pemuda manis itu. “Aku mencintaimu Lay…Kumohon cintai aku juga…” mohon Kris untuk yang kesekian kalinya, dan kali ini Lay tak mengabaikan. Lay meremas surai blonde itu kuat-kuat ketika ia melepaskan hasratnya, disusul oleh Kris beberapa saat setelahnya. Lay memeluk punggung telanjang pria tampan itu erat-erat setelah gerakan tubuh mereka sama-sama terhenti, dan dengan penuh kasih sayang ia kecupi leher pria tampan itu.

 

 

“Aku juga mencintaimu Kris…Maafkan aku…” bisik Lay penuh kasih sayang.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

Semuanya membaik. Hubungan Kris dan Lay semakin hari menjadi semakin mesra. Kris bahkan tak canggung memperlihatkan kemesraan mereka di depan Kyungsoo. Kris tak perduli, toh Kyungsoo adalah sejenis pribadi yang tak suka mencampuri urusan orang lain. Mereka bertiga sangat akrab. Kris dan Kyungsoo, Lay dan Kyungsoo, mereka berteman baik. Kyungsoo bahkan tersenyum sangat lebar ketika Kris dan Lay mengutarakan keinginan mereka untuk segera menikah. Kyungsoo bahkan rela repot-repot membantu Lay mempersiapkan segalanya karena Kris tak bisa melakukannya.  Segalanya sangat lancar dan terkendali, namun tanpa disangka hari naas itu datang. Ketika itu Kyungsoo disibukkan oleh jadwal modellingnya, dan Kris juga sama, terlalu sibuk oleh pekerjaannya, hingga mau tak mau Lay mempersiapkan pernikahan mereka sendiri yang semakin hari semakin dekat.

 

 

Lay sudah terlalu letih hari itu. Tubuhnya lemas, dan ia juga kurang tidur. Dia menyetir mobil sendirian, setelah mengambil cincin pernikahan untuk menggantikan cincin tunangan mereka yang dipesan oleh Kris beberapa minggu lalu sambil menguap sesekali. Matanya memang tak terlalu fokus. Lay benar-benar ingin segera sampai di Mansion milik Kris agar ia bisa tidur. Seharusnya ia hanya butuh waktu 25 menit lagi untuk sampai ke Mansion milik Kris, namun ia malah kehilangan seluruh waktu yang ia miliki dalam hidupnya tanpa ia duga-duga. Tangannya yang memegang setir mobil sudah melemas, dan matanya sudah semakin payah dibuka, kemudian tiba-tiba saja seorang pemuda berseragam sekolah mengendarai motor dengan menyilang tepat di depan mobilnya, membuat Lay menjadi panik dan menggerakkan setir mobil dengan tak terkendali. Lay memutuskan menghantamkan mobilnya kearah pembatas jalan di sebelah kiri, namun sialnya, sebuah minibus menabrak mobilnya dengan begitu kencang hingga ia merasakan tubuh lelahnya berputar-putar di dalam mobil yang sudah terguling-guling di jalanan itu. Lay masih bisa merasakan nyeri-nyeri yang menyerang sebagian besar tubuhnya. Dia masih sempat meraba kepalanya yang mengalirkan darah dengan begitu banyak, sebelum akhirnya ia merasa perutnya seperti diaduk-aduk dan nafasnya sesak. Beberapa detik kemudian kepalanya terasa sangat nyeri bahkan Lay sangat ingin mati saat itu juga karena ia tak mampu menahan rasa sakitnya. Lay mengerang kesakitan dengan airmata yang mengalir di pipi, kemudian sekejap saja, pandangannya berubah menjadi gelap seluruhnya.

 

End Flashback

Tubuh Kris gemetaran ketika ia teringat akan hari naas itu. Kepalan tangannya jatuh terkulai begitu saja, lalu tubuhnya merosot ke lantai, membuat kening Tao berkerut heran. Tao tercekat ketika melihat guncangan pada tubuh pria yang berlutut di bawah kakinya. Pria itu menangis, membuat hatinya mencelos.

 

 

“Kris?” panggil Tao pelan, namun Kris tak mengubah posisinya. Pria tampan itu malah terisak-isak di bawah kakinya.

 

 

Tao menelan ludahnya dengan susah payah, kemudian ia berjongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh pria malang berwajah tampan itu. Tao mendaratkan kedua lengannya pada bahu Kris, kemudian mengusapnya dengan lembut tanpa mengatakan apapun. Beberapa lama mereka habiskan waktu dengan posisi seperti itu, bahkan hingga Kris terdiam sambil menunduk untuk waktu yang cukup panjang. Tao juga hanya diam, hanya mengamati pria itu sambil mengusap-usap bahu Kris dengan lembut agar pria itu tenang. Kris pasti sangat tertekan saat ini, membuat Tao jadi tidak tega melihatnya. Tao terlalu sibuk bermain dengan pikirannya sendiri hingga ia tak menyadari jika pria tampan yang berada di hadapannya itu telah menatap wajahnya dengan tatapan yang intens. Tao baru menyadari ada yang aneh ketika jari-jari panjang Kris menyentuh dagu runcingnya, kemudian jari itu bergerak lambat menuju bibir bawahnya dan mengelus di sana. Dia kernyitkan dahinya dengan wajah penuh tanda tanya saat melihat tingkah pria itu. Tao merasa bingung.

 

 

“Lay…aku mencintaimu…”

 

 

Tao membulatkan mata pandanya ketika kalimat pendek itu keluar dari bibir Kris. Dia bukan Lay, dan jelas-jelas Lay saat ini sedang terbaring di belakang punggung Kris sendiri, lalu mengapa pria itu memanggilnya dengan nama kekasihnya sendiri? Tao benar-benar sangat yakin jika ada yang tak beres dengan pria tampan itu. Tao baru akan membuka mulut untuk menyadarkan pria itu dari halusinasinya, tapi suaranya tercekat di tenggorokan ketika tiba-tiba saja Kris menarik dagunya mendekat.

 

Satu detik.

 

Dua detik.

 

Tao merasa jantungnya terjatuh ke bawah kakinya ketika bibir Kris mendarat tepat diatas bibirnya. Tenaganya seolah lenyap dalam sekejap. Tao diam tak bergerak dalam posisinya, bahkan ia hanya mampu mengerjapkan mata beberapa kali ketika Kris mendesak tubuhnya ke dinding dan menyerang bibirnya dengan ciuman yang sangat dalam.

.

.

.

.

.

Sehun terbangun di pagi yang dingin, ketika jam baru menunjukkan angka lima. Dia usap wajahnya hingga beberapa kali, kemudian ia mengangkat tubuhnya sendiri, memisahkan punggungnya dari permukaan ranjang. Matanya menatap ke sekeliling kamarnya, kemudian tatapannya jatuh pada ranjangnya sendiri, pada tempat kosong yang berada di sisi kirinya. Angannya berputar, dan entah mengapa tiba-tiba saja ia membayangkan bagaimana jika tubuh mungil Luhan berbaring disana. Sehun terkekeh sekilas ketika ia membayangkan hal itu. Dia raba tempat kosong itu lalu ia ambil gulingnya sendiri, memeluknya sambil berpikir.

 

 

Aneh. Dia memang aneh akhir-akhir ini, Sehun pun menyadari hal itu. Tak dia pungkiri jika segala tingkahnya –dan juga perasaannya–sedikit membuatnya menjadi gelisah. Bagaimana jika pada akhirnya dia benar-benar jatuh cinta pada –ah, Sehun takut membayangkannya. Dia tahu jika jantungnya memang selalu berdetak dengan ritme yang begitu cepat ketika ia berada di dekat Luhan. Dia juga menyadari tentang adanya debaran-debaran aneh dalam hatinya saat ia melihat wajah mungil berparas cantik itu, yang seringkali membuat perutnya terasa di aduk-aduk karena  darahnya sepertinya mengalir dengan begitu cepat hingga ia merasa gerah. Sehun menyadari itu semua, tapi ia tak mau. Logikanya selalu menyangkal perasaan aneh –atau apapun itu– dan ia tak ingin terperangkap di dalamnya. Sangkalan-sangkalan itu terkadang membuatnya merasa begitu menderita, tapi –ah, sudahlah.

 

 

Sehun mengeluarkan erangan frustasinya ketika tiba-tiba saja ia merindukan sosok cantik itu. Sekali lagi, ia usap wajahnya dengan gerakan kasar, lalu ia menggigit bibirnya sendiri. Tangannya terkepal lalu ia meremas selimutnya sendiri kuat-kuat. Sehun memejamkan matanya, menarik nafas beberapa kali namun sialnya bayangan wajah Luhan semakin terlihat jelas dalam pikirannya. Sehun mengerang lagi, kemudian ia bangkit dari ranjangnya. Dia bawa langkahnya menuju kamar mandi dan ia benamkan dirinya –berikut kepalanya–ke dalam bathup. Sehun benar-benar berharap semoga otaknya dapat berpikir dengan lebih jernih setelah ini. Air hangat yang merendam tubuhnya memang membuatnya merasa sedikit rileks, tapi otaknya tetap saja tak bisa menghapus bayangan ‘pria itu’.

 

 

“Ck, sial!” umpatnya, lalu ia mengeluarkan tubuhnya dari dalam bathup dan menyambar handuk putihnya. Sehun melangkahkan kakinya menuju cermin yang berada di dekat pintu kamar mandi, menatap refleksi dirinya. Otaknya semakin kusut saat ia melihat bayangan wajahnya sendiri. Wajah itu terlihat tampan, namun terlihat kusut dan juga terlihat mengeras karena kesal. Sehun terdiam hingga beberapa lama, lalu ia basuh wajahnya. Sehun membuang nafas beratnya, lalu ia kembali terdiam. Kali ini ia tak mencoba memblokir bayangan wajah itu, dan secara aneh ia malah merasa sangat rileks ketika ia tak berusaha menolaknya. Ekspresi kerasnya mengendur secara perlahan dan ia terkekeh kecil saat ia menatap bayangan wajahnya sekali lagi.

 

 

“Kau benar-benar sudah gila Oh Sehun,” katanya pada bayangan dirinya sendiri. Ia berkedip beberapa kali, lalu menggigit bibir. “Kau sudah kalah, bodoh!”erangnya kesal.

 

 

Sehun tak tahan lagi. Dia melangkah cepat setelahnya, membawa dirinya keluar dari kamar mandi itu dan memakai pakaiannya dengan cepat. Dia keluar dari kamarnya sendiri dengan langkah tak terkendali bahkan ia hampir saja tersandung ujung karpet tebal lantai kamarnya. Kakinya melangkah berganti-gantian menuju ke satu arah, dan baru berhenti di hadapan sebuah pintu kayu yang bercat hitam. Dia bawa kepalan tangannya ke udara, berniat mengetuk pintu itu, tapi ia urungkan. Dia takut mengganggu Luhan yang masih tertidur. Akhirnya ia memutar kenop pintu pelan-pelan dan ia melangkah masuk ke dalam dengan hati-hati. Mata sipitnya menatap lurus ke satu arah, dan ia tersenyum tipis saat ia melihat wajah cantik yang tertidur itu.

 

 

Dia berjalan dengan sangat pelan, mendekat ke ranjang Luhan dan ia mendudukkan dirinya di tepian ranjang pria itu. Sehun hanya diam hingga beberapa lama, mencoba menahan diri untuk tak menyentuh pipi Luhan, bagian wajah Luhan yang akhir-akhir ini menjadi favoritnya, tapi ia gagal. Sambil mengumpat di dalam hati ia menyentuh kulit pipi itu, mengusapnya dengan ibu jari beberapa kali, lalu tangannya mengarah ke kening Luhan. Dia rapikan poni ikal bercorak karamel itu, dan ia sentuh dahi pria itu. Sehun tersenyum saat ia tak lagi merasakan hawa panas di dahi itu. Demam Luhan sudah turun. Sehun mengusap kepala pria itu beberapa kali, tapi ia cepat-cepat menarik tangannya ketika Luhan menggeliat dalam tidurnya. Dia keluarkan nafas leganya saat pria cantik itu kembali pulas setelahnya. Sehun terkekeh melihat raut wajah itu. Ingin sekali ia mencubit hidung pria yang tertidur itu, tapi tentu saja ia tak akan melakukannya. Sehun menggigit bibirnya sendiri saat ia menyadari betapa menggemaskannya wajah Luhan. Kenapa ia bodoh sekali dan baru sekarang menyadarinya?

 

 

Sehun mendesah satu kali. Dia rapikan selimut pria itu, lalu ia berjalan keluar kamar Luhan, menuju dapur. Sehun tak tahu apa yang ia pikirkan, tapi ia benar-benar ingin melakukan ini. Dia ambil beberapa lembar roti tawar dan ia masukkan roti-roti itu ke pemanggang roti. Sambil menunggu, Sehun memutuskan untuk menyeduh secangkir kopi hitam untuk dirinya sendiri. Dia cepat-cepat melangkah ketika ia sadar bahwa rotinya sudah selesai, dan ia tangkap roti-roti itu dengan sigap sebelum ia bawa ke piring lebar bercorak putih yang ia ambil dari lemari. Dia menahan tangan di udara hingga beberapa lama ketika ia hendak mengambil topping dari atas meja. Ada beberapa rasa di atasnya, dan Sehun tak tahu rasa apa yang disukai oleh Luhan. Dia mengutuk dirinya sendiri saat ia menyadari jika ia tak tahu apapun tentang pria itu, dan mood-nya kembali memburuk karenanya. Dengan ragu ia ambil botol yang berisi selai kacang, karena sepertinya jam dengan rasa buah tak begitu baik untuk lambung Luhan saat ini. Dia oleskan selai kacang itu di permukaan roti panggangnya, lalu ia tata semuanya di atas piring putih tadi. Dia kembali berjalan mondar-mandir di dapur, kali ini ia mengambil kotak susu milik Luhan dari dalam lemari gantung dan ia seduh susu itu di dalam sebuah gelas berukuran ramping agar suhunya nanti tak cepat mendingin. Dia masih sempat menghabiskan kopi hitamnya sendiri sebelum ia bawa susu itu ke atas tatakan –bersama roti panggangnya dan juga segelas air putih– lalu membawa semua itu ke kamar Luhan.

 

 

Sehun meletakkan sarapan Luhan di permukaan nakas kosong yang hanya berisi obat-obatan di sisi ranjang. Dia sambar obat-obatan itu dan ia ambil beberapa jenis yang sesuai dengan jumlah yang harus ditelan oleh rekan hidupnya, lalu ia letakkan juga di atas tatakan agar Luhan tak melupakan obatnya sendiri nanti. Dia juga masih sempat menyambar sebuah note dan menuliskan sesuatu di dalamnya sebelum ia merobek selembar kertas note berisi catatan tangannya itu dan menyelipkannya di bawah gelas yang berisi air putih. Sehun kembali mendudukkan bokongnya di tepian ranjang Luhan dan lagi-lagi ia tersenyum saat melihat raut wajah polos yang masih tertidur pulas itu. Dia lirik arlojinya sendiri, dan ia mendengus saat ia sadar jika ia harus berangkat ke kampusnya sebentar lagi. Dia kembali menaikkan sedikit selimut Luhan dan meletakkan bantal-bantal guling disisi tubuh pria itu, lalu ia kembali menggigit bibirnya sendiri sambil memandangi wajah mungil itu.

 

 

Sehun membuang nafas beratnya, berusaha melawan isi otaknya sendiri, tapi lagi-lagi ia tak mampu menahan dan menolak pikirannya. Dia cengkram selimut Luhan sambil mendesis frustasi namun ia menyerah dan ia bungkukkan tubuhnya. Dengan ragu-ragu ia mendekatkan wajahnya pada wajah mungil itu, dan setelah berperang dengan isi otaknya sendiri, Sehun mendekat tanpa ragu lagi untuk mengecup kening Luhan. Dia menahan bibirnya di sana hingga beberapa detik, lalu tiba-tiba saja hembusan nafas Luhan yang menerpa-nerpa jakunnya membuat otaknya terasa kosong. Sehun menarik bibirnya dari kening itu, dan ia menatap wajah Luhan dari jarak yang begitu dekat sambil mengerutkan kening dalam-dalam. Perasaannya berkecamuk, dan cengkramannya pada selimut Luhan semakin mengerat karena tiba-tiba saja ia kembali merasa sangat kesal.

 

 

Tak mampu bergelut dengan isi otaknya lebih lama lagi, Sehun memilih menyerah. Dia tempelkan bibirnya di atas permukaan bibir pria yang masih pulas itu lalu ia menekannya dalam-dalam. Tubuhnya tersengat hebat ketika ia melakukannya, dan kepalanya seperti tersiram air es di musim dingin dalam sekejap. Sehun gemetaran. Kemarin ketika ia mencium pria itu dengan ciuman yang begitu dalam, perasaannya tak sehebat ini. Mungkin kemarin ia merasa sangat kesal hingga ia tak mampu menikmatinya, tapi ketika ia mencuri ciuman seperti saat ini rasanya begitu berbeda. Sehun jadi membayangkan bagaimana jika –misalnya–Luhan membalas ciumannya? Oh, Sehun takut membayangkannya. Mungkin ia akan langsung melemas jika hal itu terjadi. Tak ingin kehilangan kendali, Sehun menarik dirinya dengan cepat. Jantungnya berdebam tak terkontrol saat tubuh Luhan bergerak kecil, namun ia kembali bernafas lega saat pria itu kembali pulas tertidur. Sehun menelan ludahnya dengan susah payah, kemudian ia bangkit berdiri.

 

 

Shit!” umpatnya saat ia tak merasakan tenaga pada kaki-kakinya. Dia benar-benar lemas, sungguh. Dia melangkah perlahan dengan susah payah kearah pintu kamar Luhan. Sehun benar-benar ingin kabur dari situasi mengerikan ini. Dia tutup pintu kamar itu perlahan-lahan agar tak menimbulkan kegaduhan, lalu ia menyandarkan punggungnya pada pintu itu sambil berusaha menetralkan detak jantungnya sendiri. Kakinya benar-benar kehilangan tenaga sekarang, hingga tanpa bisa ia tahan, tubuhnya merosot dengan punggung yang menggesek daun pintu, dan ia terduduk sambil menyandar di pintu itu. Sehun mengerang stress. Dia tekan dadanya sendiri, lalu ia menepuk-nepuknya agar jantungnya bisa sedikit tenang. Ini gila! Jantungnya terasa ingin meledak saat ini juga.

 

 

“Ya Tuhan…” erangnya frustasi.

 

 .

.

.

Luhan terbangun oleh deringan alarm dari ponselnya sendiri. Dia mengerjap beberapa kali, kemudian ia mendudukkan dirinya, menyandar pada headboard ranjangnya. Pandangannya yang masih belum begitu fokus mencari-cari sumber suara itu, dan ia menyambar ponsel yang tergeletak di sisi kanan tubuhnya. Dia matikan alarm itu, lalu ia tertegun ketika ia hendak meletakkan ponselnya ke permukaan nakas di sisi kiri ranjangnya. Matanya menatap lurus pada sepaket sarapan pagi yang tersedia disana, hingga akhirnya dia mengulurkan tangannya dengan ragu untuk menarik selembar catatan yang terselip di bawah salah satu di antara dua gelas yang berada di sana. Dia tatap kertas itu beberapa lama, dan bibirnya tersungging naik ketika ia selesai membaca pesannya.

 

‘Aku sengaja menyiapkan ini untukmu agar kau cepat sembuh. Aku tak tahu kau suka rasa apa, tapi aku memutuskan memilih yang menurutku paling baik mengingat kondisi tubuhmu yang belum begitu pulih. Kuharap kau tak keberatan untuk menghabiskannya. Take care Luhan, jangan lupa makan obat dan minum susunya juga agar kau cepat sembuh’

Luhan tak bisa berhenti tersenyum sekarang. Berkali-kali ia baca note itu, dan hatinya terasa sangat hangat, bahkan pipinya juga ikut-ikutan memanas. Dia letakkan catatan itu di sisi kanan pahanya, lalu ia mengambil paket sarapannya dengan senyuman yang terus-menerus terkembang di bibirnya. Dia gigit roti panggang itu dengan perasaan senang yang begitu membuncah. Entahlah, sedikit perhatian yang diberikan Sehun saat ini membuatnya merasa melayang. Luhan bahkan tak perduli jika saja ini semua hanya bentuk lain dari rasa kasihan Sehun, persetan dengan semuanya. Biarkan dia menikmati hidup indahnya untuk saat ini saja. Sesekali ia lirik note di sisi kakinya itu sambil menggigit rotinya, membuat semangat paginya sukses meluap. Tak ada satupun yang ia sisakan. Dia habiskan satu paket  sarapan itu tanpa sisa, lalu ia tenggak obatnya. Baru saja pil obat itu meluncur turun melalui tenggorokannya, ponselnya kembali berdering-dering, membuyarkan imajinasi indahnya. Keningnya berkerut ketika ia melihat nomor luar area yang berkedip-kedip pada layar ponselnya, dan ia tak ragu untuk mengangkat panggilan itu. Panggilan dari orang ini, isinya pasti adalah sesuatu yang sangat penting.

 

 

“Yes, Uncle?”

 

.

.

.

.

.

Kyungsoo menatap gelas kopi hitamnya dengan tatapan kosong. Diluar udara sangat dingin, tapi ruangan coffee shop ini lumayan hangat. Sudah berjam-jam ia duduk di tempat ini, hanya diam sambil menatap orang-orang yang berlalu lalang di trotoar depan coffee shop ataupun gelas kopinya sendiri. Matanya tak terlalu fokus pada apapun yang ia lihat, karena otaknya hanya mampu fokus pada seseorang saja sekarang, Kim Jongin. Sudah berkali-kali ia mencoba menarik nafasnya agar perasaannya menjadi semakin nyaman, namun hal itu tak dapat membantu. Sejak tadi ia meremas-remas ponselnya sendiri, sambil berpikir untuk melakukan sesuatu yang sangat dia inginkan. Kyungsoo sangat ingin mendengar suara pria itu. Dia sangat ingin bertemu dengan Kai sekarang, tapi apakah pria itu mau menemuinya?

 

 

Kyungsoo mendesah lelah saat menyadari bagaimana kondisi hubungan mereka berdua sekarang. Kai pasti membencinya, dan Kyungsoo sangat yakin akan hal itu. Tapi sejujurnya, Kyungsoo sangat ingin mencoba peruntungannya hari ini. Lagi-lagi ia genggam erat ponselnya sambil menggigit bibir bawahnya. Dia harus menjelaskan  segala hal pada Kai, dan ia sangat berharap jika Kai setidaknya mau mendengarkannya meskipun hubungan mereka tak akan bisa diperbaiki lagi nantinya.

 

 

Dia tatap ponselnya, kemudian jari-jarinya mulai mengetuk-ngetuk layar ponselnya, menelepon Kai. Beberapa kali ia mencoba, namun tak ada satu panggilanpun yang diterima oleh pria yang berada di seberang sana, membuat mentalnya menjadi down. Dengan putus asa dia buka kotak pesan dan ia mulai mengetikkan sesuatu di sana.

 

 

‘Kai, bisakah kau menemuiku? Aku sedang berada di kedai kopi di dekat areal Apartemenku sekarang . Aku janji ini adalah yang terakhir, dan setelah ini aku tak akan mengganggumu lagi’

Kyungsoo menunggu hingga beberapa lama, dan tak ada balasan apapun yang masuk ke ponselnya. Ia kembali mengetikkan pesan baru, dan ia kirim pesan itu ke nomor ponsel mantan kekasih virtual-nya itu kembali.

 

 

‘Maukah kau datang? Aku akan menunggumu’

Satu jam, dua jam, tetap tak ada balasan. Baru saja Kyungsoo ingin mengirim satu pesan lagi, namun ia urungkan niat itu. Kyungsoo memutuskan untuk menunggu saja, karena ia yakin pria itu pasti akan datang. Tapi sampai langit diluar menggelap, Kai tetap tak datang juga. Mental Kyungsoo benar-benar jatuh ke posisi terendah saat ini. Dia cengkram ponselnya sekuat tenaga, lalu ia berusaha keras menahan airmata yang hendak jatuh dari kelopak matanya. Tidak, dia harus bisa menahan diri untuk tak menangis. Dia adalah pria kuat. Dia tak selemah itu!

 

.

.

.

.

.

Kai kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku. Beberapa panggilan, dan beberapa pesan dari pria manis itu telah ia abaikan. Dia tahu jika sikapnya ini sangat kejam, tapi ia hanya mencoba untuk tak terperangkap lebih jauh lagi kedalam pesona seorang Do Kyungsoo. Dia tak boleh terjatuh lagi pada pria manis itu!

 

 

Sejak tadi Kai mencoba menyibukkan diri, menghabiskan waktu berjam-jam dengan PSP-nya dengan tujuan mengalihkan pikirannya dari bayang-bayang pria manis yang berada di sana. Tapi meskipun begitu, tetap saja sejak tadi yang ia lakukan hanya membaca pesan dari Kyungsoo berulang-ulang, padahal pesan itu sudah sejak tadi sore masuk ke ponselnya. Otaknya sangat kusut, hingga ia tak mampu memenangkan satupun dari berbagai jenis game yang ia mainkan.

 

 

“Shit!”

 

 

Kai melemparkan PSP-nya dengan sembarangan. Kembali ia ambil ponselnya dan ia baca lagi pesan dari pria manis itu. Sejujurnya ia merasa gelisah sekarang. Kai takut jika Kyungsoo masih menunggunya, tapi ia sekuat tenaga untuk tak memikirkannya meskipun itu sangat sulit. Dia simpan kembali ponselnya, namun perasaan gelisah itu semakin lama semakin melebar, membuatnya merasa frustasi. Kai menjambak rambutnya hingga beberapa saat, lalu dengan geram ia beranjak dari posisi duduknya. Dia sambar jaket dan kunci mobilnya, lalu ia berjalan secepat mungkin menuju pintu keluar.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

Kai berlari-lari menuju coffee shop itu, lalu ia masuk dengan tergesa-gesa ke dalamnya. Matanya beredar, mencari sosok manis itu, tapi ia tak menemukannya. Kai melemas, kemudian ia membungkuk sambil mengucapkan maaf pada para pengunjung kedai kopi yang sejak tadi menatap heran padanya sebelum ia melangkahkan kakinya keluar dari coffee shop itu. Dia masih sempat berdiri diam di depan pintu coffee shop itu, kemudian dalam sekejap saja ia kembali berlari-lari menuju gedung Apartemen Kyungsoo.

 

 

Semakin dekat ia dengan Apartemen Kyungsoo, semakin lambat langkah kakinya. Kai berhenti beberapa langkah dari pintu Apartemen itu. Dia berpikir hingga beberapa lama, melangkahkan satu kakinya dengan ragu, namun kembali berhenti. Beberapa detik yang panjang ia lewati tanpa melakukan apapun, dan akhirnya ia memutuskan untuk berbalik saja dan pulang ke rumah. Tapi baru saja ia berbalik, sosok manis yang berdiri diam di hadapannya membuatnya membeku dalam sekejap. Pria itu menatapnya dengan wajah sembab yang kentara sekali habis menangis, tapi bagian dirinya yang egois mencoba untuk tak memperdulikannya.

 

 

“Kau baik-baik saja, baguslah. Kalau begitu aku akan pulang,” kata Kai dingin.

 

 

Kai melangkah cepat menuju Kyungsoo, lalu berjalan dari sisi kiri pria manis itu tanpa menoleh. Tapi langkahnya terhenti mendadak saat tangannya diraih dengan cepat oleh Kyungsoo. Kai membuang wajahnya kearah kiri, tapi ia langsung terkesiap saat Kyungsoo menubruknya, melingkarkan lengannya erat-erat pada tubuhnya, memeluknya. Pria mungil itu menempelkan pipi kirinya pada dada Kai, dan ujung-ujung rambutnya menggelitik dagu Kai yang berbelah.

 

 

“Kai…maafkan aku…” kata Kyungsoo dengan suara yang bergetar, tapi Kai hanya diam, bingung harus bicara apa.

 

 

“Aku merindukanmu…” kata Kyungsoo lagi, dan Kai merasa pelukan pria itu semakin erat membungkus tubuhnya.

 

 

Kai mendesah. Dia cengkram lengan pria itu, lalu ia sentakkan lengan itu kuat-kuat, menyingkirkannya dari tubuhnya. “Aku sibuk Kyungsoo. Kita sudah bertemu, dan kuharap ini benar-benar adalah pertemuan terakhir kita.”

 

 

“Kai…”

 

 

“Aku pergi.” Kai berjalan cepat menuju lift, tapi–

 

 

“Aku mencintaimu Kim Jongin!”

 

 

Lagi-lagi Kai membeku. Langkahnya terhenti saat ia mendengar suara lembut pria yang berdiri di belakangnya, dan darahnya berdesir mendengar sebaris kalimat pendek itu.

 

 

“Aku mencintaimu…Dan tak ada kepura-puraan di dalamnya…” lanjut Kyungsoo lagi, diiringi isakan saat ini.

 

 

Kai tercekat. Tangannya terkepal kuat, tapi ia kembali melangkah cepat, agak berlari sekarang. Dia ingin lari dari situasi ini. Dia tenggelamkan tubuhnya ke dalam lift dan ia menyandar lemas pada dinding lift itu dengan tatapan mata nanar yang menatap ke segala arah. Matanya memanas, perasaannya kacau. Kai berjongkok di dalam lift itu lalu menelungkupkan kepalanya diantara lututnya seperti orang gila. Untung saja ia hanya sendirian di dalam sini. Dia bangkit dengan cepat ketika pintu lift terbuka. Langkahnya terlihat payah ketika ia mencoba membawa dirinya keluar dari gedung Apartemen itu, tapi lagi-lagi ia behenti di tengah jalan. Kai mencengkram dadanya kuat-kuat saat kata-kata Kyungsoo kembali terngiang di telinganya.

 

 

“Aku mencintaimu…Dan tak ada kepura-puraan di dalamnya…”

 

 

1 detik…

 

2 detik…

 

Tidak! Dia tak bisa pergi! Kyungsoo membutuhkannya sekarang!

 

 

Dengan yakin, Kai memutar langkahnya dan berbalik lagi menuju Apartemen Kyungsoo. Pintu lift yang begitu lama terbuka membuatnya tak sabar, hingga ia memutar arah untuk menggunakan tangga darurat. Hatinya mencelos perih ketika matanya melihat Kyungsoo masih berdiri mematung dengan kepala tertunduk ditempat ia meninggalkan pria itu tadi. Dengan cepat ia berlari kearah pemuda itu, lalu ia balikkan tubuh mungil itu menghadapnya. Mata bulat pria yang ada di hadapannya semakin melebar sekarang karena pria mungil itu terkejut.

 

 

“K –Kai?”

 

 

Kai tak mengatakan apapun. Mengabaikan nafasnya yang masih saja tersengal-sengal, ia dorong tubuh mungil itu kearah tembok dan ia cium bibir penuh Kyungsoo dalam-dalam. Tangan Kyungsoo tak dapat bergerak, terkurung diantara cengkraman kuat tangan Kai dan juga tembok. Ciuman Kai begitu terburu-buru, tergesa-gesa, hingga Kyungsoo kehabisan nafas. Kyungsoo mendesah lega ketika bibirnya terbebas dari ciuman pria eksotis itu, namun dia lanjutkan dengan lenguhan lemah saat lehernya diserang oleh Kai tanpa ampun.

 

 

.

 

 

.

 

 

Kyungsoo tak dapat bergerak. Tubuh polosnya terhimpit kuat oleh tubuh pria yang masih menikmati bibirnya sejak tadi. Bibirnya di jilat, dihisap kuat dan sesekali gigitan-gigitan kecil membuat sesi ciuman panas itu menjadi begitu nikmat. Tubuhnya menegang hebat saat jemari Kai menjalar lambat di sekitar dadanya, menggelitik puting-putingnya yang menegang hingga erangan dalam keluar dari tenggorokannya. Dia cengkram punggung Kai erat-erat, lalu tubuhnya tersentak dan gemetaran hebat saat jemari Kai menyentuh penisnya yang telah menegang sejak tadi.

 

 

“Nghh…”

 

 

Kai mencumbui leher Kyungsoo dengan gerakan lambat dan menggoda, ia begitu bersemangat menikmati tubuh molek itu saat ini, apalagi setelah ia mendengar erangan pemuda manis itu. Dia genggam penis itu dengan lembut, lalu ia pijat pelan-pelan tanpa melepaskan bibirnya dari titik-titik sensitif di tiap jengkal kulit tubuh Kyungsoo.

 

 

“Kai…nggh..nghhhh..” Kyungsoo mengerang nikmat ketika penisnya terasa begitu nikmat karena dimanjakan oleh jari-jari Kai yang begitu lihai. Perasaan geli menggelitik di bagian dalam perutnya, membuat bulu tubuhnya meremang sampai ia merinding. Perasaan geli itu semakin lama semakin meningkat dan ia cepat-cepat menarik  sisi-sisi rahang Kai untuk menggapai bibir penuh pria eksotis itu saat rasa gelinya semakin meningkat. Kyungsoo menggerakkan bibirnya dengan tak terkendali, melumat bibir Kai terburu-buru sambil mengerang dalam seiring dengan dekatnya orgasme pertamanya. Tubuhnya tersentak kuat ketika saat itu hampir datang. Dia lepaskan bibirnya dari bibir pemuda yang menghimpitnya lalu ia mendesah hebat dengan mata terpejam saat ia lepaskan seluruh cairannya di tangan Kai.

 

 

Kyungsoo baru sempat menarik nafas selama beberapa detik saat Kai membawa tubuhnya bangkit. Kai memangku tubuh mungilnya, menempatkan bokongnya diatas paha pria eksotis itu dan tangannya dituntun oleh Kai untuk menyentuh milik pria tampan itu. Kyungsoo menunduk dan membiarkan dahinya dikecupi oleh Kai, sedang tatapannya sendiri fokus pada tangannya yang bergerak cepat memijat penis Kai dibawah sana. Sesekali ia kecup bibir Kai, sesekali ia mengecup leher.

 

 

“Ahhh…Kyungsoo, cukup!” erang Kai frustasi. Kai menarik tangan Kyungsoo dan menuntun tangan itu ke lehernya sendiri. Dia arahkan ujung penisnya ke bagian tengah dari bokong pria manis itu, kemudian ia tekan bahu Kyungsoo pelan-pelan ketika ujung penisnya menemukan dimana lubang itu. Kyungsoo memekik kecil saat penis itu menusuk bagian Selatan tubuhnya, tapi Kai malah mendesis nikmat. Pinggulnya dituntun oleh Kai untuk bergerak naik turun beberapa kali, kemudian Kyungsoo mulai bergerak sendiri, memijat-mijat penis itu dengan lubangnya.

 

 

“Akh..akh…”

 

 

Desahan mereka bercampur baur dalam ruangan kamar itu, diiringi dengan suara decakan becek dari kedua organ intim yang saling bertautan. Kai mengerang hebat saat spermanya berlomba-lomba keluar dan menembak dinding-dinding rektum Kyungsoo, namun pria manis itu masih saja bergerak naik turun secara cepat. Kai membuka matanya saat sesuatu yang basah mengenai pusarnya, dan ia terkekeh saat melihat Kyungsoo memejamkan mata, menikmati orgasme keduanya. Tatapan mereka kembali bertemu saat mata Kyungsoo terbuka, dan saat ini Kai tak ragu untuk melemparkan senyumannya untuk pria manis itu. Kyungsoo memeluk leher Kai semakin erat, kemudian sengaja menempelkan dahi-dahi mereka berdua. Tubuh mereka terasa licin akibat keringat yang masih berlomba-lomba keluar dari pori-pori kulit mereka, tapi keduanya mengabaikan hal kecil itu.

 

 

“Kenapa kau kembali?” Kyungsoo berbisik di depan bibir Kai. Dia lihat pria tampan itu tersenyum, kemudian satu kecupan di bibir ia dapatkan kembali.

 

 

“Karena aku tak ingin berbohong lagi Kyungsoo…Aku juga mencintaimu…”

 

.

.

.

.

.

 

Baekhyun memainkan jari-jarinya sendiri sambil menunduk. Dia terduduk di permukaan ranjangnya sendiri dengan sikap yang begitu canggung. Dia tak tahu mengapa ia begitu ketakutan. Dia sudah ingin menangis berada dalam situasi saat ini. ‘Ini sangat mengerikan’ –pikirnya, karena sejak ia di bawa pulang dengan paksa oleh Chanyeol ke rumahnya sendiri, pria tinggi itu tak membiarkan siapapun mendekat padanya, termasuk Jung Ahjussi. Padahal Baekhyun sangat membutuhkan pria tua itu untuk menggantikannya memberikan penjelasan pada Chanyeol, namun sepertinya Chanyeol memang ingin ia menjelaskan dengan mulutnya sendiri.

 

 

Baekhyun terkesiap saat pintu kamarnya terbuka, dan ia membuang tatapannya ke segala arah saat pria tinggi itu menatapnya dari pintu tanpa suara. Dia remas jari-jarinya sendiri, dan pacuan jantungnya menjadi semakin cepat saat kaki-kaki panjang pria itu melangkah mendekat ke tempat dimana ia duduk. Baekhyun terkesiap ketika Chanyeol berlutut di hadapannya. Mata bulat pria itu menatap tepat pada matanya hingga Baekhyun merasa seolah terhisap masuk kedalamnya. Baekhyun hanya diam dengan tubuh yang gemetaran, dengan jakun yang naik-turun karena tenggorokannya sudah terasa sangat sakit akibat ia menahan-nahan tangisannya sejak tadi.

 

 

“Kenapa?”

 

 

Baekhyun merinding saat suara berat itu menyapa telinganya. Dia hanya diam, lalu menggigit kecil bibir bawahnya.

 

 

“Kenapa kau tega sekali membohongiku?”

 

 

Baekhyun tak bisa menahannya lagi. Air matanya jatuh begitu saja. Dia juga tak mengerti mengapa ia lahir dengan kepribadian yang begitu lemah dan juga sangat cengeng. Bibirnya masih terkatup rapat. Dia hanya diam sambil menangis, dengan kepala yang tertunduk dalam, membuat Chanyeol meringis perih.

 

 

Princess…”

 

 

“…..”

 

 

“Baekkie…”

 

 

Chanyeol menyentuh dagu pemuda mungil itu, kemudian mengangkatnya. Dia tatap wajah basah itu dengan wajah terlukanya, lalu ia usap airmata pria mungil itu dengan ibu jarinya. “Jangan menangis…aku tak akan menyakitimu…”

 

 

Baekhyun menatap wajah Chanyeol dalam-dalam, kemudian ia genggam tangan yang masih memegangi wajahnya itu. “Maafkan aku…aku hanya takut mengganggumu Yeol…aku–hanya ingin menghilang dari hidupmu, kumohon jangan membenciku…”

 

 

Chanyeol terdiam dengan tatapan terlukanya. Dia merasakan cengkraman jemari Baekhyun pada tangannya menguat. Baekhyun meremas jari-jarinya dengan begitu kencang seolah takut ditinggalkan, membuatnya semakin mencelos perih.

 

 

“Jangan membenciku…Jangan Yeol…”

 

 

Chanyeol tak tahan lagi. Dia berdiri dari posisi berlututnya, kemudian ia tarik pemuda mungil itu, memerangkapnya ke dalam pelukannya. Chanyeol memeluk tubuh mungil itu begitu erat dengan tubuh yang gemetaran. Dia menyesal, dan menyadari jika dia tak bisa hidup tanpa pemuda cengeng ini.

 

 

“Sssttt…tenanglah…aku tak membencimu Princess, jangan menangis lagi…”

 

 

“Maaf Yeol…” rengek Baekhyun sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh Chanyeol.

 

 

 

 

“Hmm…aku tak marah. Aku hanya stress. Aku sangat menyayangimu, kau tahu? Aku hampir saja ingin bunuh diri saat mendengar kau mengalami kecelakaan mengerikan itu. Ini salahku Princess, maafkan aku…maafkan aku, maaf…”

 

 

Hening hingga beberapa saat. Baekhyun tertegun mendengar ucapan pria tinggi itu. Yah, tentu saja Chanyeol sangat menyayanginya, tapi entah mengapa kata-kata itu terdengar sangat menyakitkan untuk saat ini. Baekhyun meremas kemeja Chanyeol kuat-kuat, kemudian ia melepaskan dirinya dari pelukan pemuda itu. Baekhyun masih menunduk, berpikir sambil menggigit bibirnya sendiri. Tangannya terkepal, lalu ia mengangkat dagunya, memberanikan diri menatap adiknya.

 

 

“Yeol…aku janji aku akan berubah. Aku tak akan mengganggumu lagi, jadi bisakah kau tetap berada di sisiku?”

 

 

Chanyeol mengerutkan keningnya dalam-dalam. Dia tatap mata Baekhyun lekat-lekat, dan ia mulai merasa tak enak. Situasinya sepertinya tak akan menguntungkan baginya. Chanyeol gelisah.

 

 

“Baek, ap–“

 

 

“Mari kita lupakan masa lalu, aku akan mulai membiasakan diriku untuk menganggap kau sebagai adik kandungku.  Aku sangat mencin –tidak, maksudku aku juga sangat sayang padamu Yeol, jadi–“

 

 

Baekhyun meremas kemeja Chanyeol erat-erat dan menumpahkan lagi airmatanya, “–j-jadi mari kita menjadi kakak adik yang sesungguhnya.”

 

 

“Ap –apa? B –Baek, apa maksud–”

 

 

“Panggil aku Hyung…Aku ini Hyung-mu Yeollie…” potong Baekhyun sambil tersenyum miris.

 

 

Chanyeol mencelos. Jantungnya terasa diremas kuat lalu dikorek dengan sadis hingga hancur berkeping-keping. Tubuhnya mati rasa, hatinya juga. Chanyeol membeku seperti orang tolol dalam posisi berdirinya. Dia tak merubah posisinya bahkan ketika Baekhyun melepaskan cengkraman pada kemejanya dan melangkah mundur. Mata Chanyeol menatap Baekhyun, dan ia merasa pemuda mungil itu terasa sangat jauh meskipun mereka hanya dipisahkan oleh jarak beberapa langkah. Tubuh Chanyeol bergetar. Tidak! Dia tak menginginkan ini!


To Be Continued


Advertisements