TROUBLE MARRIAGE

download

.

B
y tmarionlie

.

H
unHan

.

Yaoi | Marriage Life | Hurt & Comfort | Romance | Mature

.


-Previous Story-

“Maafkan aku Lu….” ulang Sehun lagi, dan kata-kata itu kembali membawa Luhan pada kesadaran, tapi pemuda itu tak bergerak dan hanya diam.

 

 

Sehun menarik kepalanya. Mata sipitnya menatap dalam pada mata rekan hidupnya yang juga menatapnya dengan tatapan bingung saat ini. Sehun menggerakkan tangan kanannya, mengelus pipi Luhan hingga beberapa kali. Bola matanya bergerak-gerak, menyusuri lekuk-lekuk wajah rekan hidupnya. Jari telunjuknya menekuk, dan ia gerakkan perlahan pada kening Luhan, menjalar turun ke hidung. Jari telunjuk itu kembali lurus ketika menyentuh belahan bibir Luhan yang terkatup rapat. Jakun Sehun naik turun, dan hanya dalam beberapa detik saja Sehun telah menarik tangannya dari bibir Luhan. Sehun bergerak sedikit, membawa bibirnya mendarat pada kening Luhan. Dia kecup kening pria cantik itu hingga beberapa lama dengan mata terpejam, yang membuat pria yang berada di bawahnya kembali membeku dengan mata yang membulat.

 

 

“Se-Sehun”

 

 

Luhan menggerakkan tangannya, mengarahkannya pada dada Sehun untuk mendorong pria pucat itu, namun Sehun mencengkram kedua tangannya dan menekannya ke sisi-sisi tubuhnya sendiri.

 

 

“Kau tak berhak menolakku!” kata Sehun emosi, membuat Luhan langsung terdiam dan hanya menatap mata Sehun dalam-dalam.

 

 

Tatapan Sehun melemah. Bola matanya kembali bergerak menyusuri lekuk wajah rekan hidupnya. Lagi-lagi dia rendahkan kepalanya, dan kali ini dia kecup pipi Luhan hingga beberapa detik.

 

 

“Kau milikku….” Bisiknya pada telinga Luhan, sebelum menggeser posisi kepalanya untuk meraih bibir Luhan. Dia tempelkan bibirnya sendiri pada bibir Luhan dan menyesapnya lembut hingga beberapa kali sebelum dia lepaskan ciuman itu. Sehun kembali menatap Luhan yang kini menatap shock padanya, dan Sehun tak perduli dengan reaksi pria itu. Dia telusupkan kedua tangannya ke bawah punggung telanjang Luhan dan ia peluk tubuh panas yang masih shirtless itu. Sehun mengecupi leher dan bahu telanjang Luhan beberapa kali dengan mata yang terpejam, penuh perasaan. Luhan hanya terdiam membeku bahkan ketika Sehun kembali menatapnya lekat-lekat dengan ujung-ujung hidung yang saling bersentuhan.

 

 

“Kau milikku Luhan….” ulang Sehun sekali lagi, dan untuk kedua kalinya, Sehun kembali mencium bibir pria yang berada di bawah himpitan tubuhnya itu.

 


CHAPTER 12


Cengkraman itu semakin menguat meskipun Luhan tak berontak sama sekali. Luhan hanya diam, pasrah menerima ciuman suaminya yang entah mengapa bersikap aneh akhir-akhir ini. Sejujurnya, ciuman Sehun membuat Luhan merasa melayang, namun jika mengingat kembali setiap ucapan kebencian, umpatan, dan juga hinaan pria yang berada di atas tubuhnya itu, membuat Luhan jadi berusaha keras agar tak terpengaruh pada sikap aneh serta kata-kata maaf yang diucapkan oleh Sehun tadi, meskipun ia tak bisa menyangkal jika dirinya –dan apapun yang berada dalam dirinya– adalah mutlak milik Sehun, itu benar sekali.

 

 

Bibir Sehun terus bergerak, semakin lembut di setiap detik yang berjalan. Luhan memejamkan matanya kuat-kuat. Jantungnya berdegup sangat kencang, dan nafasnya sudah mulai tersengal. Pengendalian dirinya hampir saja runtuh ketika dia mendengar erangan kenikmatan yang keluar dari tenggorokan Sehun. Hampir saja ia balas ciuman memabukkan itu. Luhan sangat ingin melingkarkan kedua lengannya di leher Sehun, lalu ikut berpartisipasi dalam ciuman itu untuk menciptakan satu ciuman panjang yang dalam dan penuh gairah, tapi tangannya di cengkram dengan sangat erat oleh Sehun. Dengan kesadaran yang setengah mati ia bawa naik, kini yang di lakukan Luhan malah memalingkan wajahnya dengan paksa ke arah kanan hingga ciuman itu terlepas  dan bibir Sehun membentur pipi kirinya.

 

 

Sehun mengerang dengan raut wajah kecewanya ketika ciuman itu terlepas. Dia tatap satu sisi wajah rekan hidupnya dengan tatapan yang menyiratkan kekecewaan yang teramat dalam meskipun pria pucat itu tak mengatakan apapun, yang membuat perasaan Luhan jadi campur aduk oleh rasa bersalah ketika sepasang mata rusanya menemukan guratan kekecewaan itu pada wajah Sehun.

Luhan menatap mata Sehun dengan pikiran yang berkecamuk. Dia buang nafasnya satu kali, lalu dia meringis.

 

 

“Aku –pusing…maaf Sehun…” kata Luhan, yang cukup membuat ekspresi keras pada wajah Sehun langsung mengendur hanya dalam hitungan detik.

 

 

Sehun melepaskan cengkramannya pada kedua pergelangan tangan Luhan, kemudian mengangkat tubuhnya sendiri dari atas tubuh pemuda itu.

 

 

“Kepalamu sakit?” tanya Sehun dengan nada khawatir yang begitu kentara, sayang Luhan tak mendengarnya seperti itu. Luhan malah mendengar nada cibiran dalam kalimat itu yang membuatnya cukup merasa tertohok, namun Luhan hanya diam saja dengan segala delusinya.

 

 

Luhan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, kemudian mengambil kausnya yang tergeletak di sebelah paha Sehun dan memakainya tanpa menatap suaminya itu. Kepalanya tetap tertunduk, bahkan hingga ia selesai dengan kegiatannya.

 

 

Diam.

 

 

Diam.

 

 

 

Suasana jadi begitu aneh dan terasa amat canggung, hingga akhirnya Sehun mendesah dan menadahkan telapak tangannya di hadapan Luhan, yang di sambut dengan ekspresi bingung oleh pria cantik itu.

 

 

“Berikan nota resepnya padaku.” Kata Sehun.

 

 

“Huh? Nota re–sep?”

 

 

“Hmm…nota resep yang ditinggalkan oleh temanmu yang Dokter tadi, berikan padaku. Aku akan kembali ke Apotek untuk menebus obatnya.” Kata Sehun memperjelas ucapannya.

 

 

“Engg, tidak usah Sehun…aku akan pergi menebusnya sendiri.”

 

 

Sehun mendengus keras. “Kau sakit, dan aku tak bisa membiarkanmu pergi kemanapun dengan keadaan seperti ini. Mungkin kau mengenalku sebagai pria buruk yang sangat kejam dan memuakkan, tapi maaf, aku tak sebejat yang kau pikir.” Kata Sehun dengan nada yang sangat jelas mengandung emosi.

 

 

Luhan terdiam, menggigit bibirnya sekali lagi. Perasaan gugup dan juga bingung menguasai seluruh pikirannya, dan segalanya buyar ketika mendengar suara desakan yang keluar dari bibir Sehun.

 

 

“Berikan nota resepnya Lu!”

 

 

Luhan membuang nafasnya satu kali, kemudian merogoh saku celananya sendiri. Dia keluarkan nota resep pemberian Tao dari sana dan menyerahkannya pada suaminya. Sehun menyambutnya sambil menatap tajam ke wajah Luhan sebelum mengalihkan tatapannya ke nota resep yang ia pegang sekarang.

 

 

“Kau–“

 

 

Sehun mendongak ketika mendengar Luhan berbicara.

 

 

“ –tak perlu mengasihaniku Sehun…” Lanjut Luhan.

 

 

“Apa?”

 

 

“Jangan mengasihaniku…aku –tak butuh di kasihani.” Kata Luhan sambil menunduk.

 

 

Ekspresi Sehun kembali mengeras. Kata-kata Luhan benar-benar memancing emosinya, dan Sehun sedang mencoba sekeras yang ia bisa untuk meredamnya saat ini. Bibir tipisnya masih terkatup rapat, meskipun otaknya terasa amat kusut sekarang. Daripada berlama-lama lagi, Sehun memutuskan untuk bangkit dari posisinya, atau ia akan kembali mengamuk pada pria cantik yang masih sakit itu. Sehun masih cukup tahu diri untuk tak menganiaya orang sakit, terlebih itu adalah rekan hidupnya sendiri meskipun ia masih sangat yakin jika ia membenci Luhan.

 

 

“Aku tahu kau pria Independen, tapi tak usah berusaha terlalu keras untuk menolak bantuan orang lain ketika kau membutuhkannya –meskipun itu adalah bantuan dari suami yang sangat kau benci.”

 

 

Luhan mendongak cepat sambil menggelengkan kepalanya. “Sehun, aku tak pernah membenci–“

 

“Usahakan agar kau tetap terjaga hingga aku kembali dari Apotek.” Kata Sehun singkat, mengabaikan kalimat protes atau apapun yang coba di sampaikan Luhan padanya. Dia bawa kakinya untuk berjalan cepat, keluar dari kamar Luhan dengan meninggalkan bantingan yang sangat keras pada pintu.

 

 

Luhan mendesah ketika Sehun lenyap dari pandangannya. Lagi-lagi pria itu marah. Untung Luhan sudah kebal pada sikap Sehun yang sering berubah-ubah. Luhan memutar balik otaknya pada kejadian beberapa menit yang lalu, ketika dirinya berada di bawah himpitan tubuh Sehun dengan bibir suaminya yang melumat lembut bibirnya. Entah mengapa mengingatnya membuat Luhan merasa melayang meskipun otaknya tak mampu memikirkan alasan di balik Sehun melakukan itu padanya. Tangan kanannya terangkat, dan ia sentuh bibirnya sendiri menggunakan dua jarinya. Lengkungan senyuman terukir pada bibir Luhan. Degupan jantungnya masih saja berpacu cepat, dan tubuhnya terasa kian panas saja. Luhan menjilat bibirnya sendiri, kemudian kembali tersenyum seperti orang sinting.

 

 

“Ini –ciuman kedua…” Gumamnya pelan, dengan senyuman yang masih terukir pada wajah cantiknya.

 

 

Luhan masih saja merasa melayang ketika membayangkan bagaimana esensi yang tercipta dari gerakan bibir suaminya itu, namun tiba-tiba saja kesadarannya pulih dan ruhnya mendadak kembali pada tubuhnya. Teringat akan ucapan serta umpatan kebencian Sehun beberapa menit sebelum ciuman itu terjadi, membuat senyuman Luhan memudar, untuk kemudian lenyap secara total dari wajahnya.

 

 

“Ya, aku menyebalkan, menjijikkan dan memuakkan. Kau pasti sangat membenciku Sehunnie…” Gumamnya lagi dengan nada pahit sebelum menyandarkan punggungnya sendiri pada headboard ranjangnya. Dia usap wajahnya, kemudian ia pejamkan matanya namun berusaha untuk tetap sadar, atau Sehun akan memarahinya lagi jika sampai ia tertidur. Luhan hanya tak ingin Sehun semakin membencinya, karena itu ia harus pintar-pintar menjaga sikapnya di depan suaminya itu.

 

.

.

.

Lagi-lagi Sehun mendengus. Apotek masih ramai meskipun tak seramai tadi. Untung saja segala urusannya di tempat ini telah selesai dan ia melangkah lebar-lebar menuju mobilnya sendiri yang ia bawa kali ini karena ia kapok berjalan kaki di tengah-tengah udara malam yang suhunya kian menggila. Sehun menyetir sambil memikirkan segala ucapan rekan hidupnya tadi, lalu mulai berpikir tentang sikap anehnya sendiri yang di anggap Luhan sebagai wujud dari rasa kasihan itu. Bukan, Sehun melakukannya bukan karena di landasi rasa kasihan, seharusnya Luhan tahu itu. Tapi pria itu tak tahu dan sejujurnya Sehun pun tak mengerti dengan sikapnya sendiri. Segalanya terasa begitu aneh akhir-akhir ini, dan semua itu membuat Sehun merasa sangat frustasi. Perasaannya, sikap cemburunya, dan hal-hal lainnya yang menyangkut Luhan membuat tanda tanya besar selalu muncul di dalam kepalanya.

 

 

Sehun tidak bodoh. Sehun adalah seseorang yang cerdas. Dia tahu segala perasaan itu mengartikan apa dan mengarah kemana, namun dia berusaha melawannya meskipun refleks tubuh serta ucapannya terkadang selalu tak sejalan dengan isi otaknya sendiri. Tidak, dia tak mau terjebak pada perasaan ‘itu’, terlebih itu untuk Luhan yang dia benci. Tapi semakin ingin ia menyangkal, dadanya terasa semakin sesak dan biasanya Sehun akan berakhir dengan tingkahnya yang sedikit gila. Ouwh, memikirkan hal itu terus-menerus membuat otaknya terasa semakin kusut saja. Akhirnya Sehun memutuskan untuk menarik nafas serta membuang segala pikirannya itu untuk sementara agar kegilaannya tak semakin bertambah parah lagi nanti, apalagi setelah ini dia masih harus bertemu dengan Luhan.

 

 

Gedung Apartemen telah terlihat. Sehun melajukan mobilnya lebih cepat lagi lalu ia kembali melangkahkan kakinya lebar-lebar menuju Apartemen pribadinya sendiri setelah memarkirkan mobilnya di Basement. Keadaan Apartemen begitu hening, membuatnya langsung memutar otaknya, mencari cara membangunkan Luhan untuk memakan obatnya seandainya saja pria itu telah tertidur. Tapi untungnya tidak. Luhan, rekan hidupnya itu masih menunggunya. Pemuda itu sedang duduk menyandar pada headboard ranjangnya sendiri dengan raut wajah yang murung, membuat Sehun langsung mengeluarkan desahan berat karena ia –dengan sialnya– hampir belum pernah melihat Luhan yang tertawa lepas, sama sekali belum selama mereka hidup sebagai pasangan yang menikah.

 

 

“Kepalamu masih pusing?” tanya Sehun, berbasa-basi sambil berjalan cepat kearah ranjang Luhan dan duduk di tepian ranjang itu.

 

 

Luhan hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, lalu hanya diam dengan bola mata yang bergerak-gerak mengikuti segala pergerakan suaminya. Sehun mengeluarkan pil-pil obat dan mengumpulkannya ke tangannya sendiri sebelum meraih segelas air dari atas nakas yang bersisian dengan ranjang Luhan. Dia sodorkan pil-pil itu satu persatu ke bibir Luhan, yang di sambut pria itu dengan gerakan ragu-ragu di setiap pil obat yang diarahkan ke mulutnya.

 

 

Sehun membuang nafas leganya ketika genggamannya kosong tanpa pil apapun lagi di sana. Dia sodorkan gelas berisi air untuk yang terakhir kali ke bibir rekan hidupnya, lalu ia mengecek arlojinya sendiri.

 

 

“Sudah tengah malam, sebaiknya kau segera tidur.” Kata Sehun dengan nada datar, namun memerintah.

 

 

Luhan hanya diam tapi menurut. Dia langsung membaringkan tubuhnya sendiri di atas ranjangnya, lalu memejamkan matanya yang sebenarnya sudah terasa sangat berat sejak setengah jam yang lalu. Luhan hampir saja tertidur ketika merasakan sesuatu yang dingin menempel di permukaan dahinya. Dengan berat dia buka matanya, dan dia menemukan tangan Sehun yang masih sibuk berkutat dengan plester penurun demam di dahinya sendiri.

 

 

“Terima kasih Sehunnie…” Kata Luhan dengan senyuman samar pada bibirnya setelah tangan-tangan Sehun menjauh dari dahinya. Mata rusanya kembali terpejam setelahnya, dan hanya dalam waktu beberapa menit saja pemuda itu sudah pulas tertidur.

 

 

Sehun masih duduk diam pada posisinya, memandangi wajah damai pria yang teridur pulas itu dengan sejumlah pikiran yang kembali menari-nari secara acak pada otaknya. Dia keluarkan desahan beratnya satu kali, lalu ia buang tatapannya kearah lain, kemana saja asal bukan mengarah ke wajah cantik rekan hidupnya itu. Tapi Sehun hanya mampu melakukannya dalam waktu beberapa detik karena pada akhirnya tatapannya lagi-lagi mengarah pada wajah mungil pria yang tertidur itu.

 

 

Tangan Sehun bergerak. Ujung jarinya yang panjang menyentuh permukaan lembut pada kulit pipi Luhan. Dengan mengikuti isi otaknya, Sehun meraba kulit halus itu dengan jari-jarinya. Sekian detik yang terlewati dengan semakin banyaknya jumlah gerakan tangan yang ia lakukan, membuat bibirnya menukik tanpa ia sadari. Sehun tersenyum lembut, lalu ia rendahkan tubuhnya sendiri, membawa bibirnya untuk mengecup pipi kiri rekan hidupnya yang tertidur pulas itu. Kecupannya lama dan dalam, bahkan ia merasa sangat enggan ketika menjauhkan bibirnya sendiri dari kulit pipi yang terasa halus itu.

 

 

“Cepatlah sembuh, dan jangan sakit lagi Luhannie….” bisiknya pelan.

 

 

Sehun sempat tertegun sesaat ketika menyadari tingkahnya yang kembali gila jika berada di dekat Luhan seperti sekarang ini, tapi bagian otaknya yang egois membuang segala pikiran itu jauh-jauh.  Lagi-lagi ia bawa jari panjangnya untuk mengelus lembut pipi pria yang tertidur itu. Entah mengapa dia sangat suka merasakan tekstur kulit pipi Luhan sekarang-sekarang ini, entah sejak kapan dia mulai menyukainya, Sehun pun tak tahu.

 

 

“Kenapa aku seperti ini? Apa yang kau lakukan padaku?” bisiknya teramat pelan, kemudian ia keluarkan desahannya lagi, lelah karena telah terlalu banyak mengeluh hari ini.

 

.

.

.

.

.

“Jadi tentang apa ini? Apa yang terjadi pada Luhan? Dia hanya demam biasa kan Tao?” tanya Kai dengan kerutan dalam pada dahinya ketika ia melihat Dokter funky itu malah menyesap kopi panasnya.

 

 

Tao terdiam hingga beberapa lama, membuat Kai tak sabaran.

 

 

“Tao, jika kau–“

 

 

“Ini bukan tentang demam yang menyerang Luhan gege…dia tak memiliki penyakit serius, itu hanya demam biasa, dia bilang dia kehujanan malam sebelumnya.” Jawab Tao tanpa menatap Kai.

 

 

Kai membuang nafas leganya lalu melemparkan tatapannya kearah depan, kearah yang sama dengan tatapan Tao. Tak ada yang menarik di depan sana, hanya lalu-lalang manusia-manusia pejalan kaki dengan berbagai pose.

 

 

“Jadi…apa sebenarnya yang ingin kau katakan padaku?” tanya Kai.

 

 

Tao membuang nafasnya, lalu memutar lehernya kesamping, menatap Kai yang juga sedang menatapnya.

 

 

“Kupikir Luhan gege tak bahagia hidup bersama suaminya, Kai.” Kata Tao, yang mau tak mau membuat alis hitam Kai langsung bertaut erat karena heran.

 

 

“Maksudmu?”

 

 

“Sikap suaminya tampaknya tak begitu baik pada Luhan gege…entahlah, tapi kupikir umah tangga mereka tak harmonis seperti yang Luhan gege bilang.”

 

 

Kai terdiam. Otaknya berputar cepat, memikirkan ini dan itu. Dia tatap wajah Tao, kemudian ia picingkan matanya. “Tao, jangan bilang memar-memar di wajahmu itu….”

 

 

“Ya, suaminya memukulku kemarin–“

 

 

Kai menegakkan posisi duduknya. “Bagaimana bisa?”

 

 

Tao terkekeh. “Kurasa ia cemburu.”

 

 

Lagi-lagi Kai terdiam.

 

 

“Suaminya juga memukul Luhan gege kemarin.” Kata Tao lagi, membuat mata Kai langsung melebar sempurna. Kai sudah membuka mulutnya, tapi sebelum Kai sempat mengatakan apapun, Tao sudah mendahuluinya. “Dia tak sengaja.”

 

 

“Tapi bagaimana bisa si Brengsek itu memukul Luhan? Shit!” kata kai tak terima.

 

 

“Bukankah sudah kukatakan kalau dia tak sengaja?”

 

 

“Iya tapi–“

 

 

“Kurasa Luhan gege menyembunyikan sesuatu dari kita…”potong Tao, mengabaikan ocehan Kai tadi. “Aku selalu berpikir jika rumah tangga mereka baik-baik saja, tapi dari sikap mereka berdua yang terkesan aneh sepertinya mereka tak sedang baik-baik saja. Aku curiga mereka tak saling mencintai.”

 

 

“Tidak, kau salah, Luhan sangat mencintai Sehun, bahkan sejak kecil.” Kata Kai sambil menatap sepatunya sendiri. Suaranya terdengar getir, membuat Tao teringat akan sesuatu.

 

 

“Kau baik-baik saja?” tanya Tao.

 

 

“Pertanyaan bodoh macam apa itu?” kata Kai sambil berdecih.

 

 

“Kau menyukai Luhan gege.” Kata Tao santai, membuat leher Kai langsung berputar cepat kearahnya dengan mata yang melebar.

 

 

“ –Sejak  JHS.” Lanjut Tao lagi, dan Kai langsung menyandarkan punggungnya dengan lemas ke sandaran kursi yang ia duduki.

 

 

“Bagaimana bisa kau mengetahui hal itu?” tanya Kai dengan raut wajah kesalnya.

 

 

Well, aku terlahir cerdas.” Kata Tao santai.

 

 

Mereka terdiam hingga beberapa lama.

 

 

“Kurasa kita harus mengajak Luhan gege bicara.” Kata Tao, tapi–

 

 

“Tidak, jangan campuri urusan rumah tangga mereka Tao. Selama Luhan bilang jika dia baik-baik saja, kita hanya harus yakin jika ia mampu mengatasi masalahnya sendiri.” Kata Kai.

 

 

Tao terdiam, berpikir. “Ya, kurasa kau benar juga. Lagipula suaminya memukulku karena cemburu, jadi yah…kau tahu maksudku.”

 

 

Kai mengangguk, lalu terdiam. Tao menatap wajah murung temannya itu, lalu berdecak. “Sudahlah, lupakan saja Luhan gege…dia sudah bersuami…” katanya, membuat Kai terkekeh.

 

 

“Aku tidak sedang memikirkan Luhan.”

 

 

“Lalu?” tanya Tao heran.

 

 

“Aku sedang memikirkan seseorang…” jawab Kai, lagi-lagi dengan nada getirnya.

 

 

Mereka kemudian sama-sama diam. Kai menatap sepatunya sendiri sambil masih memikirkan ‘seseorang’ itu, sedangkan Tao kini juga pusing karena memikirkan tentang hasil pemeriksaan penyakit pasien khususnya. Dia pijit pelipisnya, kemudian dia mengecek arlojinya sendiri dan bangkit dari kursi yang ia duduki.

 

 

“Kai, aku harus kembali ke Rumah Sakit sekarang. Aku harus menemui wali dari pasienku sebentar lagi…”kata Tao.

 

 

Kai menganggukkan kepalanya dan ikut berdiri dari posisi duduknya. “Ya, baiklah…lagipula aku juga mau pulang…” kata Kai.

 

 

Mereka berjalan beriringan kearah pintu coffee shop itu dan berpisah di tempat parkir.

 

.

.

.

 

Kai menepikan mobilnya di dekat Apartemen Kyungsoo. Entah apa yang dia pikirkan, tapi ia tak bisa menahan dirinya untuk tak berbelok di Area gedung Apartemen ini. Kai sempat mematung dan berpikir keras di samping mobilnya sendiri hingga beberapa lama, tapi akhirnya ia bawa juga langkahnya menuju lift gedung dan memencet angka 8 dimana Kyungsoo tinggal.

 

 

Baru saja ia keluar dari dalam lift, ia melihat Kyungsoo keluar dari Apartemennya dengan tampang kusut. Keberanian dan semangat Kai yang meluap-luap tadi lenyap begitu saja ketika ia melihat pemuda manis itu. Kai tak mampu bergerak dari posisinya hingga beberapa detik hingga akhirnya ia mampu mengendalikan otak dan tubuhnya kemudian ia berlari dan bersembunyi di balik tembok. Dia hanya menatap Kyungsoo yang melewatinya tanpa suara.

 

 

Sudah berlalu beberapa lama, Kai hanya diam sambil terus melangkah, mengikuti langkah kaki Kyungsoo beberapa meter dari belakang pria manis itu. Kyungsoo berjalan terus tanpa curiga, membawa langkahnya menuju salah satu Minimarket yang berada di sekitar gedung Apartemen dimana ia tinggal. Kai tetap mengikuti langkah pria itu dan berhenti di depan etalase Minimarket, menatap punggung Kyungsoo yang sibuk memilih bahan-bahan makanan di dalam Minimarket entah dengan ekspresi apa. Pria berkulit gelap itu hanya diam pada posisinya sambil memandangi Kyungsoo yang berada di dalam sana, hingga akhirnya ia menatap kakinya sendiri dan membuang nafas beratnya.

 

 

“Maaf Kyungie, maafkan aku…” gumamnya pelan, kemudian ia melangkah pergi menjauhi Minimarket itu dengan perasaan yang berkecamuk. Setidaknya ia sudah melihat Kyungsoo hari ini, jadi rasa rindunya yang begitu besar pada pemuda manis itu telah sedikit berkurang.

 

.

.

.

.

.

Mata sipit itu masih saja menatap kerumunan anak-anak dan balita yang bermain di taman dimana ia menghabiskan sorenya hari ini. Bibir tipisnya sesekali mengulas senyum, sesekali membulat dengan wajah panik ketika melihat beberapa balita yang baru belajar berjalan oleng dan hendak terjatuh, lalu mengerucut ketika ia membuang nafas leganya saat para balita itu ditangkap oleh orangtua mereka.

 

 

Baekhyun memejamkan matanya saat angin yang bertiup menerpa-nerpa kulit wajahnya. Poni cokelatnya yang agak menjuntai terjatuh di atas matanya, hingga ia harus mengibaskan rambutnya berkali-kali kearah kanan agar pandangan matanya tak terhalang oleh helaian-helaian rambutnya sendiri.

 

 

Matahari masih tampak, bahkan hangatnya masih menyengat kulit. Bias oranye matahari sore itu menerpa rerumputan, membuat pandangan mata sipit itu terkadang menjadi sedikit silau. Baekhyun membuang nafasnya satu kali sebelum ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya dari dalam sana. Ia ketuk layar ponselnya satu kali, kemudian ia pandangi foto seseorang yang berada di layar utama ponselnya. Bibirnya menukik, mengulas senyum, tapi kemudian senyuman itu memudar hingga akhirnya lenyap. Raut wajahnya berubah menjadi sedih dalam sekejap. Dia simpan kembali ponselnya ke dalam saku celananya, kemudian ia menunduk menatap rerumputan yang mengelilingi sepatunya sendiri.

 

 

“Aku merindukanmu Yeollie…” gumamnya nyaris tanpa suara.

 

.

.

.

.

.

Dua puluh empat jam. Baru selama waktu itu saja Kyungsoo tak melihat Kai, tapi dia sudah sangat merindukan pria eksotis itu. Kyungsoo telah berusaha sangat keras untuk tak memikirkan apapun yang menyangkut pria itu, tapi dia belum bisa melakukannya. Selama eksistensinya, Kyungsoo belum pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Kyungsoo mengeluarkan umpatan kotor ketika ia menyadari jika cinta pertamanya –yang sialnya adalah Kim Jongin– tak memiliki perasaan yang sama dengannya. Pria itu sudah mengatakan dengan sangat jelas menggunakan mulutnya sendiri jika selama ini dia hanya bermain-main saja padanya.

 

 

Shit!” umpat Kyungsoo, lagi-lagi.

 

 

Kyungsoo tertawa hambar sebelum ia meraih segelas air dan meneguknya dengan cepat hingga tenggorokannya terasa sakit. Dia banting gelas kosong itu lalu dia hempaskan tubuhnya di sofa ruang tengah. Baru saja memejamkan mata, seseorang muncul di ruangan itu, membuat mata bulatnya langsung terbuka dan ia sontak terduduk. Dia mendongak hanya untuk menatap pria tinggi di hadapannya yang saat ini menatapnya dengan tatapan yang entah mengartikan apa.

 

 

Sial! Seharusnya aku mengaitkan Chainlock-nya tadi –batin Kyungsoo.

 

 

Baru saja Kyungsoo mengeluarkan dengusannya, tiba-tiba saja pria itu jatuh bersimpuh di hadapannya, membuatnya terkejut.

 

 

“Kris?” panggil Kyungsoo, sedikit khawatir.

 

 

Kris tak mengatakan apapun, tapi mata pria itu sangat merah dan tubuhnya juga sedikit gemetar. Kyungsoo menurunkan kakinya dari sofa dan mulai berlutut di hadapan pria bersurai blonde itu. Dia rundukkan kepalanya untuk melihat wajah Kris dengan jelas karena sekarang pria tampan itu menundukkan kepalanya. Kyungsoo menyentuh bahu kiri Kris, kemudian mengusapnya pelan.

 

 

“Kau kenapa Kris? Apa yang terjadi?”

 

 

Pria tampan itu mendongak, menatap lurus ke wajah Kyungsoo dengan tatapan sendu.

 

 

“Kyungsoo….”

 

 

Kyungsoo baru sempat menarik nafasnya dua kali ketika tiba-tiba saja tubuhnya sudah dipeluk sangat erat oleh Kris. Tubuh pria itu bergetar, dan ia menangis tanpa suara. Airmatanya membasahi bahu Kyungsoo, membuat Kyungsoo tercekat.

 

 

“Lay akan mati Kyung…Dokter itu sudah memastikan diagnosanya hari ini…Lay tak akan bisa bertahan hidup untukku…Lay akan pergi meninggalkanku Kyungsoo…bagaimana aku akan hidup jika dia pergi?” kata Kris dengan getaran suara yang begitu kentara sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh Kyungsoo.

 

 

Kyungsoo tak tahu apa yang harus dia lakukan dalam situasi seperti ini. Dia hanya bisa memeluk Kris erat-erat, memberikan usapan lembut pada punggung pria tinggi itu tanpa mengatakan apapun. Kyungsoo tahu jika Kris sedang membutuhkan seseorang yang bisa menguatkannya, dan Kris datang padanya sekarang, jadi ia akan melakukan apapun agar pria itu tenang. Meskipun tingkah Kris terkadang buruk, tapi pria itu tetap saja merupakan penolongnya. Kyungsoo tak bisa melupakan fakta yang satu itu.

 

 

“Kris…tenanglah…tenangkan dirimu…” bujuk Kyungsoo dengan nada lembutnya.

.

.

.

.

.

Mobil hitam itu masih menyusuri jalanan di kota Seoul. Lampu-lampu jalanan sudah dinyalakan meskipun langit belum gelap sepenuhnya. Raut wajah pria yang duduk di kursi kemudi masih saja sama, kusut, tak pernah berubah selama beberapa minggu ini. Mulutnya berkali-kali bergerak, menggumamkan nama seseorang yang telah berminggu-minggu ini ia cari namun belum membuahkan hasil. Pria itu, Park Chanyeol, hanya mencari tanpa tujuan yang jelas. Orang kepercayaannya tahu dimana Baekhyun berada, namun bersikeras tak ingin memberitahunya dengan alasan janji. Chanyeol sangat faham dengan watak pria tua yang satu itu. Sejak pertama kali ia dibawa oleh Ayah Baekhyun ke dalam keluarga Byun dan mengenal pria tua yang merupakan asisten kepercayaan keluarga Byun itu, Jung Jin Woo memang tak pernah sekalipun mengingkari apa yang telah ia janjikan. Tapi Chanyeol pantas berterima kasih karena Jung Ahjussi setidaknya telah memastikan padanya jika Baekhyun masih berada di sekitar Seoul.

 

 

Chanyeol masih tetap mengemudikan mobilnya lambat-lambat, dengan leher yang tak pernah berhenti bergerak dan juga mata yang tak pernah berhenti beredar kesana-kemari. Tangannya sudah terasa sedikit kebas sekarang, dan ia memutuskan untuk berhenti sejenak. Dia menepi di dekat trotoar yang penuh dengan pejalan kaki, lalu ia keluar dari dalam mobil hitamnya dan menyandar di sisi kiri mobilnya sendiri. Dia menghirup udara dalam-dalam, lalu ia mengeratkan jaketnya sendiri karena udara di luar ternyata lumayan dingin. Kepalanya terdongak, menatap langit yang sudah mulai menghitam. Lampu-lampu jalan kini terlihat lebih cerah, menyorot jalanan yang berada di hadapannya. Orang-orang masih ramai berlalu lalang di hadapannya, dan Chanyeol hanya diam di posisi menyandarnya sambil menatap orang-orang yang berjalan di depannya.

 

 

Chanyeol membuang nafas lelahnya. Dia kibas-kibaskan kedua tangannya sendiri karena ia memang terasa pegal akibat terlalu lama menyetir. Posisi tubuhnya yang miring perlahan tegak. Chanyeol mengusap wajahnya beberapa kali kemudian memutuskan untuk berjalan-jalan ke sekitar situ untuk mencari udara segar agar otaknya menjadi sedikit fresh. Di susuri trotoar itu, di antara keramaian orang-orang yang baru saja terbebas dari aktivitas bekerja mereka. Bahunya sesekali bertubrukan dengan bahu orang lain, namun Chanyeol mengabaikannya. Apa boleh buat, jalanan ini memang sangat ramai.

 

 

Kaki panjangnya terus ia bawa untuk melangkah lurus ke depan. Tatapan matanya juga sama, lurus ke depan. Chanyeol mengamati wajah-wajah para pejalan kaki, menilai-nilai bermacam-macam ekspresi yang ia  temukan dari raut wajah orang-orang yang berada di sekitarnya. Sekali lagi, bahunya ditubruk oleh seseorang, kali ini agak keras. Chanyeol mendengus dan menatap tajam pada orang itu, membuat orang yang menabraknya itu membungkuk dan mengucapkan kata maaf hingga berkali-kali. Chanyeol membuang nafasnya satu kali sebelum ia kembali melangkah, mengabaikan ucapan maaf orang tadi. Tapi baru saja ia melangkahkan kaki sebanyak dua langkah, wajah mungil seseorang yang sangat ia rindukan tiba-tiba saja berada di antara wajah-wajah para pejalan kaki yang berada beberapa meter di hadapannya. Lampu jalanan yang membiaskan cahaya kekuningan menerpa rambut dan wajah mungil itu, membuat dunia Chanyeol seolah terhisap masuk ke alam mimpi.  Kakinya seolah terpaku di trotoar jalanan yang ia pijak dan tubuhnya juga telah membeku. Tenggorokannya tercekat dan jantungnya berdebam tak terkontrol.

 

 

Dia tetap berdiri tegak dengan tatapan bodoh kearah pria berwajah kecil itu, membiarkan bahunya berkali-kali bertubrukan dengan bahu orang-orang. Ah, persetan dengan tubuhnya yang berkali-kali ditabrak oleh orang lain, Chanyeol tak perduli pada apapun. Perhatiannya tersedot pada pria mungil yang sedang berjalan pasti kearahnya. Dia tak menyangka jika apa yang ia cari selama berminggu-minggu saat ini malah datang sendiri padanya. Jaraknya dengan pria yang berjalan sambil terus-menerus menatap sepatunya sendiri itu hanya tinggal beberapa langkah, hingga akhirnya mereka berdiri berhadap-hadapan. Pria itu menghentikan langkahnya, merasa terusik dengan tubuh yang berdiri diam di hadapannya, yang menghalangi langkah pendeknya. Wajah mungilnya terangkat, dan mata sipitnya langsung melebar. Tubuh mungilnya bergetar dan bibirnya bergerak-gerak, gemetaran.

 

 

“Y –Ye –Yeollie?” cicit pria mungil itu dengan wajah yang sudah pucat pasi.

 

 

Chanyeol menatap pria itu beberapa detik, lalu sudut bibirnya terangkat sedikit, mengukir senyum tipis yang terlihat lelah.

 

 

“Baekkie…akhirnya aku menemukanmu…”

 


To Be Continued


Advertisements