TROUBLE MARRIAGE

 

download

 

.

B
y tmarionlie

.

H
unHan

.

Yaoi | Marriage Life | Hurt & Comfort | Romance | Mature

.


CHAPTER 11


 

Kening pemuda itu berkerut dalam saat melihat rekan hidupnya yang terlihat sibuk menutup tirai-tirai dan gorden yang masih terbuka lebar di ruang tamu Apartemen yang mereka tinggali. Rambut pria pucat itu masih basah, dan matanya menatap lurus pada punggung sempit pria yang kini malah berdiri di depan jendela besar Apartemen, hanya diam sambil menatap lurus pada objek tak beraturan yang sebenarnya nampak indah jika di lihat dari atas sini. Jemari pria cantik itu masih menggenggam sebagian gorden berwarna hijau lumut itu, dengan nafas yang tak teratur karena masih demam.

 

 

“Luhan”

 

 

Pria yang sedang melamun itu terkesiap ketika mendengar namanya di panggil, dan lehernya berputar cepat ke belakang, menatap wajah rekan hidupnya dengan tatapan lelah, namun masih tetap memaksakan tersenyum.

 

 

“Tinggalkan itu, aku yang akan melakukannya. Kembalilah ke kamarmu” perintah Sehun dengan suara yang rendah.

 

 

Luhan hanya diam hingga beberapa lama, namun kepalanya mengangguk patuh setelahnya, dan kakinya mulai bergerak, melangkah lemah menuju kamarnya sendiri. Sehun hanya termangu pada posisi berdirinya. Setiap detik terasa sangat menyiksa seiring dengan langkah Luhan yang semakin mendekat pada posisi berdirinya. Sehun sangat ingin…ah, tapi Sehun masih sangat gengsi. Namun apapun pikiran yang ada di otaknya yang egois tak mampu bekerja secara berkesinambungan dengan refleks tubuhnya yang kuat. Tangannya yang sejak tadi terkepal terangkat dengan spontan saat tubuh Luhan melintas di sebelahnya. Dia cekal tangan itu dengan  lembut, kemudian dia tarik pinggang Luhan sambil memutar posisi tubuhnya sendiri hingga mereka saling berhadapan sekarang. Kedua mata itu masih sempat bertatapan dengan artian yang berbeda, tapi Luhan membuang cepat wajahnya karena tak tahan di tatap se-intens itu oleh Sehun.

 

 

Tangan kanan Sehun bergerak naik, menempel cepat pada kening pria yang merona di hadapannya, dan akhirnya menjalar turun dari sisi wajah cantik itu menuju ke pipi yang sangat merah entah karena demam atau memang benar-benar karena sedang merona.  Luhan hanya diam, bahkan hingga jemari Sehun merambat turun ke lehernya yang mulus.

 

 

“Kau masih sangat panas Lu” keluh Sehun.

 

 

Luhan hanya diam, membiarkan Sehun meraba-raba seluruh lekukan pada wajahnya lagi.

 

 

“Ayo ku antar ke kamarmu. Istirahat saja, jangan melakukan apapun” kata Sehun bersamaan dengan tangannya yang menggenggam erat jemari rekan hidupnya itu, menarik Luhan menuju kamarnya sendiri.

 

 

Luhan tetap menutup rapat mulutnya hingga tubuhnya sudah terbaring di atas ranjang. Matanya menatap wajah Sehun dengan tatapan yang entah mengandung makna apa, tapi pemuda itu tetap bungkam. Sehun duduk di tepian ranjang, menatap Luhan dengan kening yang bertaut dalam, kemudian dia keluarkan desahannya satu kali.

 

 

“Lain kali jangan hujan-hujanan”

 

 

Luhan menjawab dengan kedipan mata, kemudian menggumam pelan, mengiyakan.

 

 

“Aku bertanya pada Eomma tentang sesuatu yang bisa membantu meredakan demam, dan Eomma merekomendasikan plester penurun demam padaku. Aku akan keluar untuk mendapatkan beberapa plester, dan kau jangan bergerak ke manapun sebelum aku kembali, kau mengerti?” kata Sehun tegas, dan keningnya berkerut tak senang ketika melihat Luhan membuka mulutnya, terlihat hendak membantah.

 

 

“Tetaplah di kamarmu sampai aku kembali” kata Sehun menegaskan, dan Luhan akhirnya hanya mengangguk patuh.

 

 

“Aku tak akan lama” kata Sehun, kemudian bergegas keluar kamar Luhan sambil mengancingkan jaket hitamnya.

 

 

Blamm!

 

 

 

Luhan membuang nafas beratnya bersamaan dengan menghilangnya tubuh Sehun di balik daun pintu. Keningnya berkerut, dan isi otaknya serasa berputar-putar memikirkan sikap aneh yang di tunjukkan Sehun padanya. Ya, memang aneh. Sikap aneh Sehun bukan hanya perasaannya saja seperti apa yang dia pikirkan sebelumnya, tapi semuanya adalah kenyataan. Luhan lelah memikirkannya, dan hatinya –sejujurnya-agak sedikit menghangat  dengan sikap yang ditunjukkan suaminya itu akhir-akhir ini. Luhan pikir Sehun akan mengabaikannya meskipun dia akan sekarat sekalipun, tapi kenyataannya tidaklah seperti itu. Sehun tak seburuk ekspetasinya selama ini. Pria itu cukup bertanggung jawab pada hidupnya sebagai suaminya yang sah, meskipun dia tahu jika Sehun sangat membencinya.

 

 

“Mungkin Sehun hanya kasihan padaku” gumam Luhan disertai senyuman miris pada bibir. Pria itu mengusap wajahnya beberapa kali, kemudian memilih memejamkan mata, lagipula kepalanya sangat pusing.

 

 

Luhan masih memikirkan ini dan itu ketika bell Apartemen berbunyi nyaring. Mata rusanya terbuka, dan menebak-nebak siapa yang datang berkunjung malam-malam begini. Luhan memaksakan tubuhnya bangkit, dan ia seret langkahnya menuju pintu utama. Bibirnya tersungging naik saat matanya menangkap sosok Tao dari dalam, dan dengan gerakan yang bersemangat dia buka pintu utama Apartemen dan tersenyum lebar pada ‘adik’ kesayangannya itu.

 

 

“Hei” sapa Luhan singkat, dan menarik tangan Tao masuk ke dalam.

 

 

“Astaga, kau sangat panas Ge” komentar Tao sambil melepaskan jaketnya dan meletakkannya dengan sembarang di sofa Apartemen Sehun.

 

 

“Ya, begitulah…kau sendirian? Kai tak bersamamu?” tanya Luhan, dan berdiri tenang di sisi sofa sambil menunggu Tao melepaskan sepatunya sendiri.

 

 

“Bocah itu memiliki urusan yang urgent, makanya aku datang sendirian ke sini, ahh…untung aku tak tersesat…maaf aku terlambat datang Ge…aku tak bermaksud menjadikanmu prioritas ke dua, hanya saja ada seseorang yang lebih penting untuk ku tangani sepanjang hari ini dan aku tak bisa meninggalkannya begitu saja, kau tahu, ini menyangkut nyawa pasienku” kata Tao, membuat Luhan mendesah.

 

 

“Tak apa, seharusnya aku yang meminta maaf karena telah merepotkanmu, lagipula kupikir ini hanya demam biasa” kata Luhan.

 

 

Tao tertawa sambil mengibaskan tangan kanannya. “Sama sekali tak merepotkan asal itu Gege…Ya sudah, di mana aku bisa mengecek kondisi Gege?”

 

 

Luhan menunjuk ke arah pintu kamarnya sendiri “Di sana” katanya singkat.

 

 

“Baiklah…ayo”

 

.

.

.

.

.

 

Pria berpostur mungil, berambut karamel, dengan jaket kebesaran yang membungkus tubuh, kembali berhenti di depan salah satu toko Fancy yang terang benderang karena lampu-lampu yang berwarna-warni tengah bekerlap-kerlip hampir di seluruh bagian dalam dan luar toko. Bibir tipis pria itu tersungging naik, kemudian dia bawa langkahnya ke dalam setelah dia mengeratkan jaket hitamnya dan mengancingkannya karena udara yang sudah sangat dingin.

 

 

Pria itu berdecak kagum pada apapun barang-barang yang terpanjang di dalam. Mata sipitnya berbinar, dan dia bawa jari-jarinya untuk menyentuh bulu-bulu boneka berukuran besar yang terpajang di etalase. Sisi feminin pria itu memang lebih dominan daripada sisi maskulinnya. Tak heran jika kepribadiannya sangat lembut, perasa dan cengeng. Matanya masih menyusuri berbagai bentuk boneka berwarna-warni yang bertumpuk-tumpuk di etalase toko itu, namun gerakan mata dan gerakan jarinya terhenti mendadak ketika matanya menangkap dan ujung jarinya menyentuh bulu sebuah boneka beruang cokelat berukuran besar yang terduduk di etalase paling ujung. Boneka beruang itu mengingatkannya pada seseorang, pria yang paling ingin dia lupakan dalam hidupnya.

 

 

“Yeol…” gumamnya teramat pelan.

 

 

Dia buang nafasnya satu kali, kemudian dia raih boneka beruang itu. Dibelainya bulu boneka itu hingga akhirnya dia bawa boneka itu ke dalam pelukannya sambil memejamkan mata sipitnya.

 

 

“Maaf, apa Anda akan membeli boneka ini?”

 

 

Pria itu tersentak dan sontak membuka matanya. Dia menoleh kearah suara tadi dan menemukan seorang gadis tersenyum sopan padanya, menunggu dia menjawab.

 

 

“Ya, aku akan membeli ini” katanya pada gadis itu, kemudian dia serahkan boneka itu pada gadis tadi.

 

 

Gadis tadi membawa boneka itu dengan cepat kearah meja yang terletak di sebelah meja kasir, mengambil segulung plastik pembungkus yang berpola-pola dan membungkus boneka besar itu dengan cekatan. Pria tadi baru hendak bersuara, bermaksud mencegah gadis itu membungkus karena itu bukan di belinya untuk kado, namun tangan si gadis terlalu lihai bergerak hingga mata sipitnya bahkan tak mampu menangkap gerakannya. Sepertinya gadis itu sudah sangat professional dalam bidang pekerjaannya.

 

 

“Anda ingin menggunakan pita berwarna apa Tuan?”

 

 

Pria itu menatap beberapa pita yang di sodorkan gadis itu, dan menunjuk pita berwarna merah dengan telunjuknya yang lentik. Selanjutnya dia hanya diam, menunggu gadis itu selesai membungkus ‘kadonya’.

 

 

“Apa yang harus Saya tuliskan pada kartu ucapan? Anda akan berikan pada siapa boneka ini?” tanya gadis itu lagi, membuat pria tadi tertawa kecil.

 

 

“Byun Baekhyun, boneka ini untuk seseorang yang bernama Byun Baekhyun” kata pria mungil itu.

 

 

~Ya, boneka ini hanya akan kuberikan pada diriku sendiri~ katanya dalam hati.

 

 

 

“Ini boneka Anda Tuan, silahkan datang berkunjung lagi pada kesempatan lainnya” kata gadis itu sopan.

 

 

Pria itu tersenyum sambil menyerahkan uang dan mengambil ‘bonekanya’ dari tangan si gadis, sebelum akhirnya dia membungkukkan tubuh dan membawa kaki-kaki pendeknya keluar dari toko itu sambil memeluk boneka yang besarnya hampir separuh dari besar tubuhnya itu.

 

 

Pria itu terus berjalan menuju ke sebuah lorong yang gelap di tikungan blok jajaran toko Fancy tadi. Kaki-kakinya menapak berganti-gantian pada jalanan basah hingga akhirnya sampai di depan sebuah rumah kecil yang berada di tengah-tengah padatnya pemukiman penduduk daerah itu. Dia letakkan boneka besarnya begitu saja di jalanan yang di pijaknya, lalu dia rogoh saku jaketnya untuk mengeluarkan kunci rumahnya. Pria itu menyambar bonekanya dengan cepat sebelum tubuhnya lenyap di balik daun pintu.

 

 

Jaket hitam itu terbuka, lalu terhempas begitu saja di atas sofa pendek yang berada di ruang tamu. Pria tadi mondar-mandir ke sana ke mari sambil melepaskan pakaiannya satu-persatu, lalu mencari piyama yang lebih nyaman di lemari kecil yang berada di sudut kamar. Bibirnya bersenandung, kemudian dia menyambar lagi bonekanya setelah dia selesai berpakaian. Dia perhatikan kata-kata yang tertulis di kartu, dan dia mendesah satu kali. Baru saja hendak membuka bungkusan boneka itu, ponselnya berdering-dering nyaring. Pria mungil itu mendengus, lalu berjalan kearah jaket hitamnya dan merogoh-rogohnya, mengeluarkan ponselnya dari sana ketika jemarinya menemukannya.

 

 

Hallo” jawabnya datar pada si pemanggil di seberang sana.

 

 

~Tuan Baekhyun, bagaimana keadaan Anda?~

 

 

“Aku baik-baik saja Ahjussi, jangan khawatir…Ada apa kau meneleponku? Apa hanya ingin menanyakan kabar saja?” jawab pria mungil itu sambil memijiit pelipisnya.

 

 

~Tidak Tuan, ada sesuatu hal penting harus Anda ketahui…~

 

 

“Ya, aku mendengarkan…lalu apa hal penting itu?” tanya Baekhyun tanpa minat.

 

 

~Tuan Chanyeol sudah kembali dari New York kemarin pagi, dan dia memutuskan akan tinggal di rumah mulai dari sekarang~

 

 

Baekhyun terdiam, tapi kemudian membuang nafasnya dan menjawab “Ya, biarkan saja…lagipula aku tak akan kembali lagi ke rumah”

 

 

~Tuan, sebenarnya bukan itu poin penting yang ingin Saya sampaikan…Ada hal penting lainnya yang harus Anda ketahui, dan mungkin Anda akan terkejut, tapi…Tuan Chanyeol sudah menyadari jika Anda masih hidup~

 

 

Tubuh pria itu membeku, mata sipitnya menatap nanar pada sekitar, nafasnya berubah tak beraturan dengan genggaman yang bergetar pada ponsel yang dia pegang. Jantungnya memompa dengan sangat cepat dan aliran darahnya terasa panas mengaliri tubuh.

 

 

“Ba-ba-bagaimana bisa?” tanyanya dengan suara yang bergetar.

 

 

~Tuan Chanyeol menemukan paspor Anda Tuan…Maafkan saya, saya tak menduga hal seperti ini akan terjadi~

 

 

“Pas…por?”

 

 

~Ya…paspor Anda tanpa sengaja di temukan oleh Tuan Chanyeol di laci meja rias kamar Anda…Tuan Chanyeol menyadari Anda masih hidup ketika dia menemukannya untuk pertama kali~

 

 

Baekhyun menggigit ujung ibu jarinya, menyesali kecerobohan yang mempersulit dirinya sendiri.

 

 

Ahjussi….jangan katakan  pada Chanyeol di mana aku tinggal saat ini…jebal…”

 

 

~Ya, Anda tenang saja Tuan…Saya tak akan memberikan informasi apapun pada Tuan Chanyeol, tapi –jika Tuan Chanyeol akhirnya menemukan Anda, itu bukan tanggung jawab saya….Maafkan saya Tuan~

 

 

“Ya, aku mengerti…terima kasih atas informasinya Ahjussi…jaga dirimu baik-baik…aku merindukanmu”

 

 

~Ya, Anda juga harus menjaga diri Anda Tuan…pasti sangat sulit hidup sendiri tanpa ada yang membantu Anda setiap harinya~

 

 

Baekhyun terkekeh “Tidak, aku baik-baik saja Ahjussi, sungguh”

 

 

~Ya, saya mengerti…baiklah, saya akan tutup teleponnya…selamat beristirahat~

 

 

Ahjussi!”

 

 

~Ya?~

 

 

“Apa Chanyeol…ummm…baik-baik saja?”

 

 

~Tidak…err…sebenarnya keadaannya sangat amat kacau…benar-benar sangat kacau~

 

 

Baekhyun terdiam hingga beberapa lama, hingga bulir-bulir airmata jatuh begitu saja ke pipi halusnya.

 

 

~Tuan?~

 

 

“…..”

 

 

~Tuan Baekhyun?~

 

 

Baekhyun tersentak dan menghapus airmatanya “Ya, aku sedang mendengarkan”

 

 

~Apa Anda berencana kembali ke rumah? Lagipula Tuan Chanyeol sudah tahu jika Anda–

 

 

“Tidak! Maksudku, a-aku tak ingin pulang” jawab Baekhyun lemah.

 

 

Hening menyelimuti hingga beberapa lama, hingga akhirnya suara desahan nafas berat terdengar di seberang sana.

 

 

~Baiklah, Saya mengerti…Saya akan tutup teleponnya…selamat beristirahat Tuan Muda Baekhyun~

 

 

“Hmm…selamat malam Ahjussi, terima kasih”

 

 

Baekhyun menurunkan ponsel itu dari telinganya ketika sambungan telepon terputus. Tubuhnya terasa lemas secara mendadak. Baekhyun tak menduga jika dia akan ketahuan secepat ini. Baekhyun membawa tubuhnya naik ke atas ranjang single-nya, kemudian mengusap kasar wajahnya dan memejamkan matanya sendiri. Kepalanya mendadak terasa pusing, membuat keningnya jadi berkerut sangat dalam.

 

 

“Ya Tuhan….” keluhnya.

 

.

.

.

.

.

Kai, sedang mengaduk teh di dapur Apartemen Kyungsoo ketika sepasang lengan melingkar di perutnya. Gerakan tangan pemuda itu berhenti, dengan wajah datar yang tak terlihat oleh pria manis yang memeluk tubuhnya dari belakang itu.

 

 

“Kyungie…apa yang kau lakukan di sini?” tanya Kai, dengan nada lembutnya.

 

 

Yang di tanya hanya diam, dan mengeratkan pelukannya di sekitar perut Kai. Kai juga diam hingga beberapa lama, tapi kemudian meletakkan sendok yang dia pegang dan melepaskan pelukan pria itu dari perutnya. Dia balikkan tubuhnya, kemudian dia usap bahu sempit Kyungsoo dan dia ikut tersenyum karena Kyungsoo juga sedang tersenyum padanya saat ini.
“Ada apa? Ada yang ingin kau katakan padaku?” tanya Kai lembut, sembari merapikan anak-anak rambut Kyungsoo dengan tangan kirinya.

 

 

Pemuda yang di tanya menggeleng, dan tanpa mengatakan apapun lengan-lengannya yang putih sudah kembali melingkar di tubuh Kai, membuat Kai lagi-lagi terdiam.

 

 

“Kau kenapa, hmm? Sikapmu sangat manja, kau tahu?”
“Hmmm…aku tahu” jawab pria dalam pelukannya.

 

 

“Kau sangat lucu Kyungie…” kata Kai sambil terkekeh, lalu memegangi sisi-sisi wajah Kyungsoo, memaksa pria manis itu agar menatapnya.

 

 

Mereka saling bertatapan dalam diam. Senyum tak pernah luntur dari wajah Kyungsoo, sedangkan Kai hanya terdiam hingga beberapa lama walaupun akhirnya dia tersenyum juga. Kai membawa kedua ibu jarinya untuk mengelus pipi-pipi halus pria yang berada di depannya. Bola matanya yang hitam menyusuri setiap lekuk wajah pria yang kini menatapnya dengan senyuman itu. Kai membawa ibu jari kanannya untuk membelai bibir Kyungsoo, sebelum akhirnya dia tarik jarinya itu dan dia gantikan dengan bibirnya sendiri.

 

 

Keduanya hanya diam hingga beberapa lama. Kai tak berniat bergerak sama sekali, namun pria yang satunya tak ingin ciuman itu hanya berakhir dengan begitu saja, karena itu Kyungsoo membawa tangannya melingkar pada leher Kai sebelum akhirnya dia menggerakkan bibirnya sendiri, melumat bibir kekasih eksotisnya yang tampak menahan nafas ketika dia menggerakkan bibirnya.

 

 

Kai mencengkram pinggang Kyungsoo kuat-kuat, jantungnya berdetak sangat kencang, hingga pembuluh venanya seakan ingin pecah saat Kyungsoo melumat bibirnya dengan semakin liar dan menuntut. Kai membalas ciuman itu dengan tempo yang sama seperti Kyungsoo melakukannya. Bibir Kyungsoo yang bergerak lincah mau tak mau memaksa nafsunya meledak hingga tangan kanannya terangkat naik dan menelusup masuk ke dalam kaus hitam yang Kyungsoo kenakan. Dia belai puting Kyungsoo yang telah mengeras, menghasilkan satu erangan tertahan dari bibir pria yang dia cumbui itu.

 

 

Tubuh mereka bergerak. Kyungsoo terdesak mundur namun akhirnya malah menempel dengan kaki yang melingkari pinggang Kai. Kai menggeram ketika Kyungsoo menghisapi lehernya, membuat tenaga terkumpul menjadi satu pada kepalan tangannya hingga dia tarik kaus Kyungsoo sampai terlepas dari tubuh pemiliknya dengan sadar. Kai terengah-tengah. Dia pandangi tubuh molek menggairahkan itu hingga beberapa lama, sebelum akhirnya melangkah cepat menuju kamar Kyungsoo. Dia baringkan tubuh Kyungsoo dengan kasar ke atas ranjang, kemudian dia tindih pria manis itu dan menghujaninya dengan ciuman-ciuman liarnya. Kecupan-kecupan lembut Kai sematkan pada seluruh wajah Kyungsoo hingga lagi-lagi berakhir di bibir, bagian favoritnya. Tangannya menjalar kemana-mana, begitu juga tangan pria manis yang terhimpit di bawah tubuhnya. Jemari Kyungsoo malah telah berhasil membuka pengait celana jeans milik Kai dan menelusupkan tangannya masuk ke dalam celana itu, menyentuh penis Kai hingga membuat Kai tersentak karena menyadari ‘sesuatu’ dan dia lepaskan ciumannya secara sepihak.

 

 

“Hentikan!” kata Kai dengan nafas yang tak beraturan, lalu dia tarik tangan Kyungsoo dari areal pribadinya yang sejujurnya memang telah terangsang karena sentuhan Kyungsoo.

 

 

Kyngsoo menatapnya dengan raut terkejut. Mata pria itu menatap Kai dengan alis yang bertaut karena merasa heran.

 

 

“K-Kai…ke-kenapa? Kau tak menyukainya?” tanya Kyungsoo terbata-bata.

 

 

Kai membuang tatapannya kearah lain. Keningnya berkerut dalam karena dia merasa emosi. Kai marah. Pria itu menarik nafasnya beberapa kali sebelum kembali menatap tajam pada pria yang berada di bawah tubuhnya.

 

 

“Cukup Do Kyungsoo, hentikan! Haruskah kau bertingkah sejauh ini? Apa kau akan menyerahkan tubuhmu juga padaku? Apa kau pelacur, huh?” tanya Kai dengan intonasi yang meninggi karena terlalu marah, yang sukses membuat pria yang berada di bawah tubuhnya terdiam membeku.

 

 

“Kai, kenapa kau –“ ucapan Kyungsoo terhenti karena dia merasa tercekat secara mendadak. Kata-katanya tersangkut di tenggorokan. Kyungsoo menyadari ke mana arah pembicaraan Kai saat ini dan sesungguhnya dia juga sudah menduga hal seperti ini akan terjadi, hanya saja dia tak menyangka jika segalanya akan terbongkar secepat ini.

 

 

“K-Kau sudah tahu?” kata Kyungsoo dengan suara yang bergetar.

 

 

Kai mendengus dan menunjukkan senyum miringnya pada pria bermata bulat itu, lalu dia bangkit dan merapikan celananya sendiri. Dia sambar jaket dan kunci mobilnya lalu dia pergi menuju pintu kamar pria bermata bulat itu.

 

 

“Benar, aku sudah tahu. Aku akan menemui Kris dan menyelesaikan masalahku dengannya tanpa melibatkanmu. Maaf atas segala kekacauan tadi, dan jangan menganggap segala yang terjadi di antara kita sebagai sesuatu hal yang serius karena aku dan kau sama. Selama ini kita hanya bermain-main dan aku sudah muak memainkan game membosankan ini, Aku tak mau lagi…” kata Kai.

 

 

Kyungsoo mengepalkan tangannya yang terasa berkeringat dingin, tapi dia tetap berbaring diam pada ranjangnya sendiri.

 

 

“Kita akhiri sampai di sini sebelum segalanya menjadi terlalu jauh Kyungsoo-ya…dan setelah ini lebih baik kita tak usah bertemu lagi….Aku pergi” lanjut Kai, sebelum meninggalkan Kyungsoo begitu saja tanpa menoleh lagi pada pria bermata bulat yang masih tampak shock itu.

 

 

 

Kyungsoo menatap kosong pada pintu yang baru saja tertutup. Bibir pria itu bergetar. Matanya terasa memanas, kemudian air mata meluncur begitu saja dari sepasang mata bulat itu. Kyungsoo menangis tanpa bisa ia tahan lagi.

 

 

“Aku tak bermain-main…Aku tak mempermainkanmu Kai…Aku serius, Aku–mencintaimu…” kata pria itu di sela-sela isakannya sendiri.

 

 

Kyungsoo memutar posisi tubuhnya hingga tengkurap pada ranjangnya. Dia sembunyikan wajahnya ke bantal untuk meredam tangisan sialannya sendiri. Baru kali ini dia merasa sehancur ini dalam hidupnya. Kyungsoo benar-benar merasa sangat hancur. Hatinya sangat nyeri hingga dia tak mampu merasakan lagi bagaimana rasa sakit yang menyerang organ vitalnya itu.

 

 .

.

.

.

.

Sehun mengeratkan jaketnya karena udara yang semakin lama terasa semakin kian mendingin hingga tulang-tulangnya terasa sangat ngilu. Kaki yang panjang menapak berganti-gantian melewati blok-blok bangunan Apartemen di sekitar Gedung Apartemen pribadinya. Sehun melangkah semakin cepat setelah dia mengecek arlojinya sendiri. Sudah hampir satu setengah jam dia pergi meninggalkan Luhan hanya untuk mendapatkan beberapa plester penurun demam. Sehun tak menyangka jika Apotek yang sering dia lalui, yang kelihatannya sangat dekat dari kompleks Gedung Apartemennya ternyata lumayan jauh jika di tempuh dengan berjalan kaki, belum lagi dia harus mengantre karena Apotek tadi lumayan ramai pengunjung.

 

 

Lift bergerak naik, membawa dirinya ke tempat di mana Apartemennya berada. Sehun merogoh sakunya dan menggenggam bungkusan plester yang baru di belinya sambil menarik nafasnya sendiri. Dia mengeluarkan semua bungkusan plester itu dan menggenggamnya menggunakan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya kini sibuk memencet password di Intercom.

 

 

Hal yang pertama kali ia temukan ketika memasuki pintu adalah sepasang sepatu asing berukuran besar dan sebuah jaket yang juga berukuran besar yang tergeletak di atas sofanya, membuat kening pria pucat itu berkerut dalam secara mendadak. Kepalanya bertanya-tanya siapa yang datang berkunjung malam-malam begini namun dia tak menemukan ‘Si Tamu’ di ruang depan, hanya menemukan barang-barangnya saja, membuat otaknya secara otomatis berdelusi yang aneh-aneh. Dia bawa langkahnya menuju kamar Luhan yang terbuka, dan tubuhnya langsung menegang saat melihat pemandangan menjijikkan yang berada di dalam. Rahang Sehun mengeras, dengan tangan yang terkepal kuat karena merasa sangat marah. Sehun berdiri mematung hingga beberapa lama dengan nafas yang tersengal-sengal karena emosi. Matanya menatap lurus pada ranjang Luhan, menyaksikan rekan hidupnya yang tengah terbaring di atas ranjang tanpa menggunakan pakaian bagian atasnya, sedangkan seorang pria asing –yang sepertinya pernah dia lihat sebelumnya– kini tengah duduk di tepian ranjang sambil meraba-raba perut rekan hidupnya itu dengan kurang ajarnya, hal yang bahkan tak berani dia lakukan pada Luhan. Emosi Sehun semakin tak bisa di kendalikan saat dia menyadari siapa pria asing itu. Pria asing itu, adalah pria yang sama dengan pria yang membawa Luhan memasuki Hotel.

 

 

~Brengsek!~ umpatnya dalam hati.

 

 

Saat emosinya sudah tak mampu dia tahan lagi, dengan rahang yang mengeras dan gigi yang bergemeletuk tajam, Sehun berjalan cepat menghampiri dua orang itu, mencengkram kerah baju pria asing yang ‘menyentuh’ tubuh pria cantiknya seenaknya dan Sehun melayangkan tinjunya dengan sangat keras pada wajah pria itu.

 

 

“Sehun!” Pekik Luhan karena terkejut dengan tindakan tiba-tiba yang di lakukan oleh suaminya.

 

 

“Diam kau, Brengsek! Berani sekali kau membawa namja lain ke Apartemenku! Dasar jalang!” pekik Sehun marah, kemudian kembali memukuli wajah Tao hingga bertubi-tubi, membuat Luhan panik.

 

 

Luhan memaksakan tubuhnya bangkit dengan susah payah dan mencoba sekuat tenaganya untuk menahan Sehun, namun sialnya pria pucat itu malah memukulnya tanpa sengaja hingga hidungnya mengeluarkan darah.

 

 

“Akh”

 

 

“Luhan Ge!” pekik Tao, kemudian mendorong kasar tubuh Sehun dan menghampiri Luhan yang sedang meringis sambil memencet hidungnya sendiri itu. Sedangkan Sehun kini telah membeku sambil menatap Luhan dengan shock. Demi Tuhan ia tak bermaksud memukul rekan hidupnya itu, hanya saja dia sudah sangat emosi hingga dia gelap mata.

 

 

 

“Tao…kau tak apa-apa?” tanya Luhan lemah sambil menekan batang hidungnya agar tak mengeluarkan darah terlalu banyak.

 

 

“Astaga…Gege mimisan….Aishh, apa yang sebenarnya kau pikirkan? Luhan Gege masih sakit dan kau memukulnya sampai berdarah, suami macam apa kau!” teriak Tao pada Sehun, yang masih diam mematung karena masih terkejut dengan tindakannya sendiri.

 

 

Luhan memegangi bahu Tao dan mengelusnya pelan, masih sambil meringis.

 

 

“Tao, pulanglah…”

 

 

“Tapi Ge–“

 

 

“Aku baik-baik saja” kata Luhan lagi.

 

 

“Tidak, biarkan aku menghentikan darah Gege dulu, setelah itu aku akan pulang”

 

 

“Tidak Tao. Pulanglah, kumohon…aku baik-baik saja”

 

 

“Tapi –“

 

 

“Aku baik-baik saja Tao…”

 

 

Tao membuang nafasnya satu kali, kemudian membantu Luhan berdiri. Dia bawa tubuhnya menghadap pada Sehun, dan Tao masih sempat mendengus satu kali.

 

 

“Kau jangan salah paham, aku dan Luhan Gege tak memiliki hubungan apapun, kami hanya berteman” jelas Tao, tapi Sehun membuang muka kearah lain.

 

 

Luhan hanya diam, dan tersenyum paksa saat Tao menatapnya.

 

 

“Kau berhutang penjelasan padaku Ge” kata Tao tegas, membuat Luhan terdiam.

 

 

“Dan kau, jangan sakiti dia. Aku tak akan membiarkan sesuatu apapun terjadi padanya, kau mengerti?” ancam Tao pada Sehun, tapi pria pucat itu malah mendengus dan terkekeh sinis setelahnya, membuat Tao meniup poninya sendiri karena kesal, padahal pengendalian diri Tao tergolong sangat baik dan ia tak pernah merasa sekesal ini pada seseorang sebelumnya.

 

 

“Aku akan memberikan resep obat, setelah itu aku akan pergi” kata Tao sambil mengambil sebuah nota resep dari dalam sakunya dan menuliskan beberapa nama jenis obat, kemudian menyerahkannya pada Luhan, sementara Sehun menatap Tao dengan tatapan penuh tanda tanya. Pria pucat itu memejamkan matanya sendiri ketika dia menyadari profesi pria asing berpotongan rambut Mohawk yang dia pukul barusan itu.

 

 

~Aishh…sial!~ bathin Sehun jengkel.

 

 

“Makan obat dengan teratur agar cepat sembuh Ge….aku pergi dulu” kata Tao sambil meringis menahan sakit pada bibirnya yang sobek karena di pukul oleh Sehun tadi, sedangkan Luhan hanya mengangguk patuh.

 

 

“Maaf Tao…hati-hati” kata Luhan, dan mengikuti langkah Tao menuju pintu utama Apartemen.

 

 

“Cuci darahnya sampai benar-benar bersih Ge, jangan ada yang tersisa di dalam hidungmu, karena darah yang tertinggal di dalam hidung bisa mengakibatkan infeksi serius” kata Tao mengingatkan.

 

 

“Ya, aku mengerti…”

 

 

“Baiklah, aku pergi dulu ya” kata Tao sambil mengelus bahu Luhan.

 

 

“Ya, terima kasih Tao…Maafkan sikap suamiku…” kata Luhan.

 

 

 

Tao mendengus, tapi pria itu menganggukkan kepalanya. Tao membawa tubuhnya keluar dari Apartemen Sehun, kemudian melangkah lebar-lebar menuju lift sambil mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya. Dia mengetuk-ngetuk layar ponselnya beberapa kali, memanggil seseorang.

 

 

Hallo  Kai, kurasa aku butuh bicara denganmu”

 

 

“…..”

 

 

“Ini tentang Luhan Gege

 

 

“…..”

 

 

 

“Baiklah, aku mengerti…bye

 

 .

.

.

.

.

Luhan membalikkan tubuhnya dan berjalan memasuki kamarnya kembali saat Tao sudah menghilang. Dia abaikan suaminya yang masih berdiri di dalam kamarnya, dan dia bawa langkahnya lurus menuju kamar mandi. Luhan mencuci hidungnya sendiri sambil meringis sesekali, namun gerakannya terhenti ketika sepasang lengan mencekal pergerakan tangannya dan memaksanya berdiri berhadapan dengan orang itu.

 

 

“Siapa namja tadi?” tanya Sehun dengan nada sarkastiknya.

 

 

“Dia hanya temanku Sehuna…”

 

 

Sehun membuang nafasnya satu kali, kemudian kembali menatap Luhan dengan tajam.

 

 

Namja tadi adalah namja yang sama dengan pria yang membawamu ke Hotel, jangan membohongiku!” kata Sehun geram.

 

 

Luhan hanya diam, dan menunduk.

 

 

“Dia hanya temanku, sungguh….aku tak berbohong” jawab Luhan, sambil berusaha melepaskan cengkraman Sehun pada lengannya, namun gagal.
“Apa dia orangnya?” tanya Sehun, membuat Luhan mengerutkan keningnya karena merasa bingung, tapi Luhan tak mengatakan apapun.

 

 

“Katakan padaku Lu, apa namja tadi adalah namja yang kau cintai?” tanya Sehun dengan raut wajah yang entah bagaimana menggambarkannya.

 

 

Luhan menatap wajah Sehun hingga beberapa lama, kemudian menggeleng lemah.

 

 

“Bukan Sehun…” jawab Luhan, dan Sehun tak mengatakan apapun lagi setelahnya, hingga menciptakan keheningan yang teramat lama.

 

 

 

“Aku sangat muak denganmu” kata Sehun tiba-tiba, membuat Luhan sontak mendongak pada pemuda pucat itu, tapi Sehun tak menatapnya sama sekali.

 

 

“Ya, aku tahu” kata Luhan, dengan senyuman miris yang terukir di bibirnya.

 

 

“Kau sangat menyebalkan. Kau menjijikkan. Aku sangat membencimu!” kata Sehun lagi, dan lagi-lagi Luhan hanya mengangguk mengiyakan meskipun hatinya teriris-iris perih, membuat emosi Sehun kembali naik.

 

 

“Kenapa kau hidup seperti ini, eoh? Kau begitu penurut, kau benar-benar membuatku muak Xi Luhan!” kata Sehun dengan intonasi yang mulai meninggi, membuat Luhan bungkam.

 

 

Sehun mencengkram tangan Luhan semakin kencang, membuat pria itu meringis kesakitan.

 

 

“Aku sudah tak bisa menahannya lagi. Sekarang katakan padaku Lu, siapa dia?”

 

 

“Akh, lepaskan Sehun…ini sakit” erang Luhan, namun cengkraman Sehun malah semakin mengerat.

 

 

“Cepat katakan padaku Luhan, siapa namja itu? Siapa namja yang kau cintai itu?!”

 

 

“Sehun….lepaskan aku”

 

 

“KATAKAN PADAKU SEKARANG, SIALAN!” bentak Sehun, yang membuat Luhan terlonjak karena karena merasa sangat terkejut. Luhan masih menutup rapat mulutnya, membuat suami pucatnya semakin menggila.

 

 

Luhan memekik saat Sehun menyeretnya paksa menuju ranjang. Tubuhnya di banting dengan keras, kemudian di himpit paksa di bawah tubuh suaminya itu.

 

 

“Siapa dia?” tanya Sehun lemah. Mata pria pucat itu memerah, membuat gerakan tangan Luhan yang tadinya berusaha mendorong dada Sehun jadi berhenti bergerak seketika.

 

 

“Sehun…”

 

 

“Siapa dia Lu? Kau tahu, kau membuatku merasa sangat frustasi…aku –“

 

 

Sehun merendahkan tubuhnya, tangan kirinya mengelus ujung kepala Luhan, sedangkan tangan yang satunya lagi mencengkram bahu Luhan yang sebelah kiri, kemudian Sehun menyembunyikan wajahnya sendiri pada lekuk leher Luhan yang panas.

 

 

“Maafkan aku….” Kata Sehun dengan suara yang teramat pelan, namun terdengar sangat jelas oleh Luhan, yang membuat Luhan seolah mengalami stagnasi secara mendadak. Luhan hanya diam karena bingung dengan situasinya.

 

 

“Maafkan aku Lu….” ulang Sehun lagi, dan kata-kata itu kembali membawa Luhan pada kesadaran, tapi pemuda itu tak bergerak dan hanya diam.

 

 

Sehun menarik kepalanya. Mata sipitnya menatap dalam pada mata rekan hidupnya yang juga menatapnya dengan tatapan bingung saat ini. Sehun menggerakkan tangan kanannya, mengelus pipi Luhan hingga beberapa kali. Bola matanya bergerak-gerak, menyusuri lekuk-lekuk wajah rekan hidupnya. Jari telunjuknya menekuk, dan ia gerakkan perlahan pada kening Luhan, menjalar turun ke hidung. Jari telunjuk itu kembali lurus ketika menyentuh belahan bibir Luhan yang terkatup rapat. Jakun Sehun naik turun, dan hanya dalam beberapa detik saja Sehun telah menarik tangannya dari bibir Luhan. Sehun bergerak sedikit, membawa bibirnya mendarat pada kening Luhan. Dia kecup kening pria cantik itu hingga beberapa lama dengan mata terpejam, yang membuat pria yang berada di bawahnya kembali membeku dengan mata yang membulat.

 

 

“Se-Sehun”

 

 

Luhan menggerakkan tangannya, mengarahkannya pada dada Sehun untuk mendorong pria pucat itu, namun Sehun mencengkram kedua tangannya dan menekannya ke sisi-sisi tubuhnya sendiri.

 

 

“Kau tak berhak menolakku!” kata Sehun emosi, membuat Luhan langsung terdiam dan hanya menatap mata Sehun dalam-dalam.

 

 

Tatapan Sehun melemah. Bola matanya kembali bergerak menyusuri lekuk wajah rekan hidupnya. Lagi-lagi dia rendahkan kepalanya, dan kali ini dia kecup pipi Luhan hingga beberapa detik.

 

 

“Kau milikku….” Bisiknya pada telinga Luhan, sebelum menggeser posisi kepalanya untuk meraih bibir Luhan. Dia tempelkan bibirnya sendiri pada bibir Luhan dan menyesapnya lembut hingga beberapa kali sebelum dia lepaskan ciuman itu. Sehun kembali menatap Luhan yang kini menatap shock padanya, dan Sehun tak perduli dengan reaksi pria itu. Dia telusupkan kedua tangannya ke bawah punggung telanjang Luhan dan ia peluk tubuh panas yang masih shirtless itu. Sehun mengecupi leher dan bahu telanjang Luhan beberapa kali dengan mata yang terpejam, penuh perasaan. Luhan hanya terdiam membeku bahkan ketika Sehun kembali menatapnya lekat-lekat dengan ujung-ujung hidung yang saling bersentuhan.

 

 

“Kau milikku Luhan….” ulang Sehun sekali lagi, dan untuk kedua kalinya, Sehun kembali mencium bibir pria yang berada di bawah himpitan tubuhnya itu.

 


To Be Continued


Advertisements