TROUBLE MARRIAGE

download

.

B
y tmarionlie

.

H
unHan

.

Yaoi | Marriage Life | Hurt & Comfort | Romance | Mature

.


CHAPTER 10


 

 

Untuk kesekian kalinya Sehun memukul-mukul klakson mobilnya dengan tak sabaran diantara kemacetan lalu lintas sore itu. Emosinya naik karena mobil-mobil yang berjejer panjang di depan mobilnya menghambatnya untuk cepat sampai di apartemen. Sehun juga tak tau mengapa dia bertingkah seaneh ini, hanya saja Sehun benar-benar khawatir pada keadaan Luhan. Sehun tak ingin memikirkan apa alasan dari segala perasaan anehnya itu, Sehun tak perduli. Yang ingin dia lakukan saat ini hanya cepat sampai apartemen dan melihat kondisi pria cantiknya.

 

 

Lagi-lagi Sehun memukul-mukul klakson mobilnya, mendesis marah ketika mobil dihadapannya berjalan seperti siput, padahal lampu hijau telah menyala sejak tadi.

 

 

“Akh, cepatlah berengsek!” umpatnya kesal.

 

 

Mobil hitamnya melaju sangat cepat ketika jalanan sudah agak lengang. Sehun turun dengan terburu-buru dari dalam mobil ketika dia sampai, kemudian berlari-lari masuk ke dalam gedung apartemen. Di depan pintu Sehun berhenti sejenak, sekedar untuk menyeimbangkan pernafasannya, baru memutuskan masuk ke dalam. Kaki panjangnya berjalan lurus ke satu arah, ke kamar rekan hidupnya yang katanya sedang sakit itu. Jantungnya terasa sedikit nyeri ketika membuka pintu kamar Luhan pertama kali. Matanya menatap lurus pada pria mungil yang kini sedang berdiri lemah sambil berpegangan pada pintu kamar mandi, dengan wajah yang sangat pucat dan nafas yang berantakan.

 

 

“Kau sakit?” tanya Sehun, membuat pria yang berdiri di depan pintu kamar mandi menoleh cepat kearahnya.

 

 

“Oh, kau…apa Kai yang memberikan informasi padamu?” tanya Luhan lemah, lalu menunjukkan senyum tipisnya pada suaminya.

 

 

Sehun hanya diam pada posisinya, bingung harus melakukan apa. Luhan terbatuk beberapa kali, lalu mulai melangkahkan kakinya lagi memasuki kamar mandi.

 

 

“Aku baik-baik saja Sehun…pergilah” kata Luhan sebelum benar-benar masuk ke dalam kamar mandi dan menutup rapat pintunya dari dalam.

 

 

Sehun masih diam pada posisinya. Dia ingin melakukan banyak hal, tapi bingung mau memulainya dari mana. Sehun tak pernah merasa sangat bodoh seperti saat ini, tapi otaknya tak mampu memikirkan sikap seperti apa yang seharusnya dia ambil di saat-saat begini. Otaknya terasa amat tumpul, membuatnya sedikit merasa frustasi.

 

 

Sehun terkesiap ketika mendengar suara-suara seperti orang muntah dari dalam kamar mandi. Tanpa membuang banyak waktu, kakinya langsung melangkah cepat menuju kamar mandi dan membuka pintunya lebar-lebar. Jantungnya mencelos saat melihat pria mungil itu berlutut di depan kloset, berusaha memuntahkan isi perutnya tapi tak ada apapun yang keluar. Sudut-sudut mata pria itu sampai mengeluarkan sedikit air mata, mungkin tak tahan dengan kejang yang menyerang perutnya ketika berusaha mengeluarkan isi perutnya sendiri. Dengan mengabaikan segala pikiran anehnya, Sehun berjalan cepat menghampiri Luhan, lalu berjongkok disamping pria mungil itu. Ditekannya tengkuk Luhan pelan-pelan, berusaha membantu pria mungil itu agar lebih mudah mengeluarkan isi perutnya. Luhan menatap Sehun dengan tatapan aneh namun terkesan lemah ketika acara muntahnya selesai, lalu memberikan senyum tipisnya untuk pria pucat itu.

 

 

“Terima kasih” kata Luhan sebelum bangkit berdiri dari posisinya menuju ke wastafel dan mencuci mulut dan wajahnya sendiri.

 

 

Sehun ikut bangkit, lalu hanya diam menatap tubuh mungil yang mulai berjalan kembali menuju ranjangnya sendiri itu. Beberapa kali Luhan seperti hendak terjatuh, membuat Sehun tak sabar hingga akhirnya tangannya meraih pinggang ramping itu mendekat padanya.

 

 

“Aku akan membantumu” kata Sehun, lalu menuntun tubuh kecil itu bergerak kearah ranjang.

 

 

Luhan hanya diam, membiarkan tubuhnya direbahkan oleh Sehun diatas ranjang. Matanya lemah menatap wajah suaminya yang sibuk merapikan selimutnya itu, hingga kedua tatapan mata mereka bertemu. Luhan hanya diam, Sehun juga sama. Mereka hanya saling tatap dengan pikirannya masing-masing hingga keheningan itu pecah saat Luhan bersuara.

 

 

“Terima kasih Sehun”

 

 

Sehun tak menjawab. Matanya tajam menatap setiap lekukan wajah rekan hidupnya, dan baru saja otaknya menyadari jika Luhan sangat cantik. Sehun ingin menyangkalnya sekuat tenaga, namun entah mengapa tubuhnya tak sejalan dengan otaknya sendiri. Jari-jarinya yang panjang bahkan baru saja terangkat dan mengusap pipi Luhan tanpa ia sadari, membuat pria yang disentuh itu agak tersentak karena terkejut dan menggenggam tangan Sehun secara refleks.

 

 

“….”

 

 

“….”

 

 

“….”

 

 

“Kau panas” bisik Sehun pelan, tepat beberapa senti dari kulit wajah Luhan, bahkan nafas hangatnya menerpa-nerpa kulit wajah pria cantik itu. Tatapan mata Sehun menyiratkan kesakitan, seolah sangat sedih melihat wajah rekan hidupnya yang terlihat sangat pucat saat ini.

 

 

Luhan hanya diam.

 

 

“Apa kepalamu sakit?”

 

 

Lagi-lagi Luhan hanya diam tak menjawab, bingung dengan sikap yang ditunjukkan Sehun padanya kali ini. Matanya menatap lurus pada wajah Sehun hingga lagi-lagi tatapan mereka bertemu, menciptakan kecanggungan yang lebih dalam apalagi tangan mereka saling menggenggam saat ini.

 

 

Luhan lebih dulu tersadar dari situasi yang aneh itu. Tangannya yang menggenggam tangan Sehun dia tarik lalu menggeser sedikit wajahnya ke sisi kanan, membuat jemari Sehun yang tadi menempel pada pipinya jadi menggantung di udara. Luhan menatap mata Sehun beberapa detik sebelum cepat-cepat memiringkan posisi tubuhnya ke sisi kanan. Jantungnya berdebar tak menentu, dan otaknya tak mampu menafsirkan apa yang sedang Sehun pikirkan hingga sikapnya berubah aneh seperti ini. Luhan pusing, karena itu dia memutuskan untuk tak memikirkan segala keanehan suaminya itu.

 

 

“Aku baik-baik saja Sehun…Pergilah”

 

 

Sehun menegakkan tubuhnya, duduk membelakangi Luhan. Keningnya berkerut dalam, bingung dengan tingkahnya –dan debaran aneh pada jantungnya– sendiri.

 

 

“Kau demam…aku akan menelepon Dokter dan memanggilkan Eomma” kata Sehun singkat, kemudian bangkit dari posisi duduknya.

 

 

Baru saja berniat melangkahkan kaki, Luhan menahan jemari Sehun, membuat pemilik tangan menoleh bingung pada pria yang sedang terbaring sakit itu.

 

 

“Tak perlu menghubungi Dokter…Aku tak ingin merepotkanmu…dan jangan katakan apapun pada Eomma…Aku tak ingin merepotkan siapapun, apalagi Ibumu” kata Luhan.

 

 

Sehun terdiam beberapa detik, sebelum akhirnya menaikkan sudut bibirnya dengan ragu, menunjukkan senyum tipisnya.

 

 

“Tak apa-apa…Itu tidak akan merepotkan” katanya, tapi Luhan menggenggam tangannya semakin erat.

 

 

“Tidak usah Sehun…umm…Kai akan membawa teman yang juga seorang Dokter untuk memeriksaku, lagipula aku baik-baik saja” kata Luhan.

 

 

Sehun terdiam beberapa lama, tapi akhirnya menganggukkan kepalanya. Rasa kecewa menyelinap sedikit dalam hatinya ketika Luhan melepaskan tangannya dan berbalik memunggunginya lagi, entah kenapa. Tak ada lagi yang bisa dia lakukan di dalam kamar pria cantik itu, jadi harusnya dia keluar saja kan? Tapi Sehun merasa sangat enggan meninggalkan Luhan.

 

 

“Luhan…”

 

 

Luhan terkesiap ketika mendengar namanya dipanggil. Karena itu Luhan menelentangkan posisi berbaringnya, menatap Sehun penuh tanda tanya.

 

 

“Ya?”

 

 

“Umm…Apa kau…membutuhkan sesuatu?”

 

 

“Huh?”

 

 

Sehun mengerutkan keningnya lagi. Lagi-lagi dia bingung menentukan bagaimana sikap yang harus dia ambil saat ini. Ah bukan, bahkan dia bingung harus mengatakan apa. Sehun agak…gugup?

 

“Mak-maksudku…kalau kau membutuhkan sesuatu, kau bisa memanggilku” katanya singkat, lalu cepat-cepat berbalik dan keluar dari kamar Luhan dengan langkah lebar-lebar, meninggalkan pria mungil yang menatap punggungnya dengan raut heran dan penuh tanda tanya dalam kepalanya.

 

 

Blamm!

 

 

Sehun menyandarkan punggungnya pada daun pintu kamar Luhan dengan nafas yang tak beraturan. Tangan kanannya terangkat, menempel pada dadanya sendiri, merasakan seberapa kuat detakan dari organ vital yang berada di balik dadanya itu.

 

 

Sehun mengerang frustasi. Keningnya berkerut semakin dalam, nafasnya terasa semakin berat seiring dengan detakan jantung yang kian detik terasa kian menggila. Mata sipitnya terpejam, dan tangannya mengelus dadanya sendiri.

 

 

“Apa ini?” gumamnya seorang diri.

 

.

.

.

.

.

 

Kris mengerutkan keningnya dalam-dalam ketika dia melihat begitu banyak perawat disekitar bed stretcher kekasihnya, dan matanya sontak terbelalak ketika melihat tubuh Lay yang tersentak-sentak kejang padahal matanya masih tertutup sempurna layaknya orang yang tertidur.

 

 

“Ada apa dengan Lay? Apa yang terjadi?” katanya panik sambil berusaha mendekat, namun beberapa perawat menahannya.

 

 

“Maaf Tuan, silahkan anda menunggu di luar, Dokter Zitao akan segera memeriksa keadaan pasien”

 

 

“Tapi-“

 

 

“Percayakan pada kami. Kami pasti akan melakukan yang terbaik untuk pasien” potong perawat itu, hingga mau tak mau Kris membalikkan tubuhnya dan keluar dari ruang rawat kekasihnya.

 

 

Kris menghentakkan kakinya beberapa kali sambil menggigit bibirnya dengan gusar disetiap detik-detik yang terlewati. Kris cemas. Tentu saja, semua orang juga pasti akan merasakan hal yang sama seperti apa yang dia rasakan saat ini. Apa kau tidak akan cemas saat sesuatu yang –mungkin– buruk terjadi pada orang yang paling kau cintai?

 

 

Kris mendongak ketika beberapa orang perawat keluar dari ruang rawat kekasihnya, dengan membawa serta bed stretcer Lay entah menuju kemana. Kris baru hendak akan bertanya dan mengikuti mereka tapi seseorang sudah menepuk bahunya, menahan. Kris menoleh dengan cepat dan langsung mendapatkan wajah Tao, Dokter funky yang kini sedang melempar senyum simpul padanya. Tapi sebaliknya, wajah Kris malah mengeras dan tanpa diduga-duga tangannya sudah mencengkram kerah baju Tao.

 

 

“Apa yang terjadi pada kekasihku!” katanya geram, dengan nada sarkastik disertai gertakan gigi yang merapat.

 

 

Tao menatap datar pada pria labil di hadapannya, tetap memasang senyum seperti tadi hanya saja kini tangan kanannya telah memegangi tangan Kris dengan agak bertenaga, menyingkirkan cengkeraman tangan itu dengan paksa dari kerah kemeja yang berada dibalik jas putih kedokterannya.

 

 

“Pengendalian dirimu buruk sekali” kata Tao menilai, bersamaan dengan terlepasnya cengkraman tangan Kris dari kerah kemejanya.

 

 

Kris mendengus geram, lalu melemparkan pandangannya kearah lain.

 

 

“Ikuti aku” kata Tao datar, lalu berjalan melewati tubuh Kris menuju keruangannya sendiri.

 

 

Kris berdiri mematung beberapa lama pada posisinya, namun dia tak punya pilihan. Dia butuh informasi tentang Lay, dan hanya Tao yang dapat memberikan seluruh informasinya, jadi mau tak mau Kris mulai melangkahkan kakinya, mengekor beberapa meter dibelakang Dokter funky itu.

 

 

.

 

 

.

 

 

Encephalopathy, ini diagnosis awalku…aku akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut pada pasien Zhang  untuk memastikannya” kata Tao pada pria yang duduk di hadapannya.

 

 

Ence..phalopathy?” tanya Kris.

 

 

“Itu adalah istilah untuk mendefinisikan gejala malfungsi otak. Aku belum yakin jika ini adalah penyebab pasien Zhang koma begitu lama, namun hal yang dapat kuyakini adalah perubahan-perubahan pada tekanan di dalam otaknya selalu terjadi, memperburuk kondisinya hingga manifestasi fisik terjadi seperti tadi”

 

 

Tao mendesah satu kali, sedangkan Kris hanya diam dengan wajah terlukanya.

 

 

“Aku akan melakukan pemeriksaan komplit pada –Tao berdehem satu kali– kekasih anda…Mungkin menggunakan CBC, CT Scan dan MRI, dan mungkin akan ditambah dengan pemeriksaan Encephalogram juga untuk menilai sampai sejauh mana kerusakan otak yang terjadi. Aku akan meneliti lebih jauh pola-pola gelombang otak yang abnormal pada pasien Zhang” jelas Tao panjang lebar.

 

 

Kris menatap lututnya sendiri. Lidahnya terasa kelu, bingung ingin mengatakan apa.

 

 

“Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menyelamatkan hidup kekasih anda tapi…jangan berharap terlalu besar” kata Tao lagi.

 

 

Kris menatap Tao dengan tatapan penuh tanda tanya. Matanya menyiratkan kebutuhan akan penjelasan yang lebih dalam, meskipun bibirnya tak bergerak untuk mengucapkannya. Untung saja Tao peka, jadi Tao menjawab segala rasa keingintahuan itu dengan perasaan menyesalnya.

 

 

“Jangan berharap terlalu besar untuk kesembuhan kekasihmu..karena kesempatannya untuk sembuh hanya 12%…Kalaupun kekasihmu kembali membuka mata dalam arti sadar, dia tidak akan mampu untuk kembali hidup normal seperti sebelum kecelakaan terjadi. Kemungkinan komplikasi yang paling ringan, dia akan mengalami kehilangan 70% dari memori otaknya, lalu akan diikuti oleh komplikasi-komplikasi lainnya seperti gangguan pola makan, halusinasi, kebingungan mental, depresi, sering kejang dan pingsan…”

 

 

Tao berdehem beberapa kali, lalu menggenggam tangannya sendiri, seolah berat mengatakan serentetan kalimat yang menggantung dalam otaknya. Tapi melihat wajah Kris, Tao tak punya pilihan. Tao mendesah satu kali, lalu…

 

 

“Dan komplikasi yang paling buruk, pasien…mungkin akan mengalami kematian”

 

 

Kris membeku, bahkan tak mampu hanya untuk sekedar mengedipkan kelopak matanya yang terasa sangat panas dan berat. Tao meringis, menatap pria tampan itu dengan prihatin. Sisi feminin yang ada dalam jiwa prianya tergores sedikit ketika mata pandanya menangkap beberapa bulir airmata yang mengalir di pipi pria tampan yang duduk diseberang mejanya saat ini. Sisi lembutnya membuncah, membuat tubuhnya bergerak sendiri kearah pria tampan itu. Tao melangkah mengitari meja, lalu menarik kepala pria tampan itu kedalam pelukannya. Tangan kanannya menepuk-nepuk punggung Kris, dan bibirnya mengucapkan sebuah kalimat yang menenangkan.

 

 

“Kau pria…kau harus kuat menghadapi apapun, seburuk dan semenyakitkan apapun Kris…” hibur Tao pada pria yang berada dalam pelukannya itu.

 

.

.

.

.

.

Lagi-lagi Kyungsoo mengecek layar ponselnya, lalu mendesah kecewa. Entah kenapa kegiatan itu tiba-tiba saja telah menjadi rutinitasnya sejak hari ini. Ya, Kyungsoo menunggu kabar dari Kai. Pria itu tak menemuinya sama sekali sejak kemarin, bahkan tak memberi kabar juga. Tadi sore memang mereka bicara melalui ponsel namun beberapa keanehan jelas-jelas terjadi dan Kyungsoo bisa merasakannya dengan sangat nyata. Kyungsoo tau ada yang aneh, dan mungkin saja ini tentang kebohongan besarnya yang mungkin telah ketahuan. Tapi Kyungsoo tak bisa menyimpulkannya semudah itu karena pria eksotis itu tak mengatakan apapun selain hanya mengucapkan alasan logis yang membuatnya yakin jika segalanya masih baik-baik saja. Namun hati tak bisa dibohongi. Kyungsoo cemas.

 

 

Kyungsoo mengambil kembali ponselnya, lalu dengan usaha keras menepis segala keraguan hati serta harga dirinya, jari-jarinya kini telah mengetuk-ngetuk layar ponselnya dan meletakkan benda berbentuk persegi itu ke telinganya sendiri. Nada sambung mulai terdengar, dan Kyungsoo menekan kegugupannya dengan menggigit ujung-ujung kukunya sendiri. Jantungnya ingin meloncat keluar ketika telinganya menangkap nada klik dan suara “Hallo” dari seberang sana. Kyungsoo menelan ludah satu kali sebelum menjawab sapaan pria diseberang.

 

 

HaHallo…”

 

 

~Kyungsoo…ada apa?~

 

 

Kyungsoo menggigit bibirnya sendiri, mulai mengutuk kinerja otaknya yang tak sempat memikirkan tentang alasan menelepon jika Kai menanyakannya.

 

 

~Kyungsoo?~

 

 

Kyungsoo menekan-nekan keningnya sendiri dengan kepalan tangan, lalu memberanikan diri membuka suaranya.

 

 

“K-Kai…apa kau sibuk?”

 

 

~Umm…lumayan…ada sesuatu yang harus kulakukan sekarang…Ada apa?~

 

 

“Tak ada apa-apa…tapi…ummm…apa kau tak bisa menunda urusanmu dan datang ke apartemenku?”

 

 

~…..~

 

 

“K-Kai?”

 

 

~Aku tak bisa sayang…maaf…tapi aku harus mengunjungi Luhan sekarang…Aku harus mengutamakan Luhan terlebih dulu…Luhan jauh lebih penting untuk saat ini~

 

 

Kyungsoo terdiam.

 

 

~Kyungsoo?~

 

 

Kyungsoo hanya diam. Entah apa yang dia rasakan saat ini, tapi sesuatu yang dia rasakan itu sangat tidak enak. Entah bagaimana mendeskripsikannya, tapi Kyungsoo merasa nyeri yang amat mendalam di salah satu bagian tubuhnya.

 

 

~Soo…apakah itu penting? Apa aku benar-benar harus datang?~ kata Kai dari seberang sana.

 

 

“…..”

 

 

~Kyungie?~

 

 

“…..”

 

 

~Kyungsoo…apa sesuatu telah terjadi padamu?~ tanya Kai lagi dari seberang, terdengar khawatir sekarang.

 

 

Kyungsoo menggenggam ponselnya kuat-kuat sampai buku-buku jarinya memutih, lalu…

 

 

“Tidak…aku baik-baik saja…ya sudah, bye Kai”

 

 

Pip’

 

 

Kyungsoo menjatuhkan tubuhnya sendiri di atas ranjangnya setelah memutuskan sambungan telepon itu secara sepihak. Mata bulatnya menatap langit-langit kamar yang membosankan itu dengan pikiran yang berkecamuk. Kyungsoo tak tau apa yang terjadi pada hatinya, namun dia dapat merasakan dengan jelas jika bagian itu terasa sangat sakit sekarang. Sakit di bagian ‘itu’ bahkan berefek pada organ tubuhnya yang lain, karena Kyungsoo kini merasa tubuhnya mendadak lemas dan…

 

 

“Oh, sialan!” umpatnya marah ketika merasakan sebulir airmata jatuh dan merosot melalui matanya kemudian tergelincir ke pelipisnya sendiri.

 

 

Kyungsoo menyeka airmata itu dengan ibu jarinya kemudian bangkit dan duduk di tepian ranjang. Keningnya berkerut dalam memikirkan tingkahnya yang kini sudah keluar dari batas kenormalan seorang Do Kyungsoo –menurutnya- dan dia merasa sangat frustasi sekarang. Kedua tangannya kini meremas sisi-sisi rambutnya sendiri sebelum kembali menjatuhkan dirinya lagi di atas ranjangnya. Kyungsoo merasa lelah dengan perasaannya sendiri, karena itu dia memilih untuk memejamkan mata bulatnya dan berusaha sekuat tenaga untuk menembus batas kesadarannya. Kyungsoo ingin tidur agar denyutan di hatinya mereda, tapi bukannya tertidur, yang ada malah airmatanya kembali meleleh dari sepasang mata bulatnya.

 

.

.

.

.

.

Kai menatap jalanan lengang yang berada di hadapannya dengan raut wajah yang menyiratkan kebingungan. Ada sedikit kekhawatiran pada wajahnya setelah Kyungsoo menghubunginya lalu memutuskan secara sepihak pembicaraan mereka tanpa perasaan. Kai frustasi.

 

 

“Apa terjadi sesuatu?” gumamnya.

 

 

Kai menghembuskan nafasnya satu kali lalu cepat-cepat mengambil ponselnya lagi, mengetuk layar beberapa kali, menelepon seseorang.

 

 

Hallo…Tao…apa kau sudah selesai?”

 

 

~Aku masih mempersiapkan beberapa benda yang akan kugunakan untuk memeriksa keadaan Luhan Gege…ada apa?~

 

 

“Bisakah kau percepat acara mempersiapkan peralatanmu?”

 

 

~Ya, aku juga sedang berusaha cepat…Maaf Kai, ada sedikit masalah dengan salah satu pasienku di Rumah Sakit, makanya aku terlambat dan baru bisa merencanakan untuk memeriksa Luhan Gege malam-malam begini~

 

 

“Ya, aku bisa mengerti…lagipula Luhan memiliki Sehun di apartemen mereka, suaminya itu pasti sudah memberikan pertolongan pertama untuk Luhan. Apakah aku sudah bisa menjemputmu sekarang?”

 

 

~Memangnya ada apa? Kau tampak terburu-buru~

 

 

“Ya, ada sesuatu hal penting yang harus kukerjakan…aku akan mengantarkanmu ke apartemen Luhan dan meninggalkanmu untuk sementara waktu disana, lalu aku akan menjemputmu kembali ketika urusanku selesai”

 

 

~Jika urusanmu sangat penting, berikan saja alamat apartemen Luhan Gege…Aku akan pergi sendiri kesana~

 

 

Kai mengerutkan keningnya, berpikir.

 

 

~Kai? Bagaimana? Sudahlah, tak usah menjemputku…Lagipula pihak Rumah Sakit tempatku ditugaskan meminjamkan satu mobil untuk kupakai selama aku berada di Korea…berikan saja alamatnya~

 

 

“Kau yakin bisa mencarinya sendiri? Bagaimana kalau kau tersesat? Kau baru tiba 2 Minggu yang lalu Tao”

 

 

~Kalau begitu aku akan menggunakan taksi saja~

 

 

Kai kembali berpikir.

 

 

~Hey hitam, berikan saja alamatnya padaku, cepat!~

 

 

Kai menghembuskan nafasnya, lalu tersenyum tipis sebagai bentuk luapan kelegaannya.

 

 

“Baiklah…terima kasih Tao…kuharap kau tidak akan tersesat…aku akan mengirimkan alamat serta nomor apartemen Luhan melalui SMS”

 

 

~Ya, tentu saja aku tak akan tersesat…aku ini sangat cerdas Kai, jangan meremehkanku, ck! Aku tunggu SMS darimu, jangan terlalu lama, aku takut keadaan Luhan Gege semakin memburuk”

 

 

“Ya ya, baiklah…tak usah cerewet Panda!” kata Kai, lalu memutuskan sambungan telepon dan mengetikkan beberapa kalimat pada kotak pesan dan mengirimkannya pada Tao. Kai langsung menyalakan mobil dan melesat cepat setelah mengirimkan pesan pada sahabat Dokternya itu, menuju apartemen Kyungsoo.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

Kai berlari-lari kecil menuju satu pintu ketika tubuhnya sudah keluar dari dalam lift di lantai 8 itu. Jarinya kini sibuk memencet bel berulang-ulang, dan kekhawatirannya menjadi semakin membuncah karena Kyungsoo tak kunjung membukakan pintu untuknya.

 

 

Kai sudah mulai mengepalkan tangannya, bermaksud menggedor pintu itu, tapi tiba-tiba saja pintu itu terbuka, menampilkan wajah kekasihnya yang terlihat sangat kacau saat ini.

 

 

“Kyungsoo…”

 

 

Mata Kyungsoo yang sudah bulat semakin membulat ketika melihat Kai ada diluar pintu apartemennya saat ini. Dengan gugup dia memalingkan wajah dan menghapus airmata sialannya sendiri sebelum membuka pengait Chain Lock dan menyingkir dari pintu, membiarkan Kai masuk.

 

 

Kai berhenti melangkah hanya beberapa langkah dari pintu utama, tepat disamping tubuh Kyungsoo berada. Mata Kai menatap lurus pada wajah pria mungil dihadapannya sayangnya pria yang lebih manis membuang wajahnya kearah lain.

 

 

“Ada apa Soo? Apa ada masalah?” tanya Kai lembut.

 

 

Pria mungil itu menggeleng.

 

 

“Tapi kau menangis”

 

 

Kyungsoo hanya diam, lalu melangkahkan kakinya menuju ke dalam. Kai mengekor dibelakangnya.

 

 

“Kyungsoo…kau sakit?”

 

 

Lagi-lagi pria mungil itu menggelengkan kepala sebagai bentuk jawaban.

 

 

Kai membuang nafasnya, lalu mengikuti pria mungil yang kini telah masuk ke kamarnya sendiri itu. Kai berdiri mematung di ambang pintu dan hanya diam melihat kekasihnya sendiri yang kini sedang duduk di tepian ranjang sambil menundukkan kepalanya. Kai berjalan lambat menghampiri Kyungsoo dan berlutut di hadapan pria mungil itu.

 

 

“Kau bisa menceritakan masalahmu padaku Soo…” kata Kai pelan.

 

 

Kyungsoo tak menjawab, hanya saja tangannya sudah meraih jemari Kai yang bertumpu di pahanya sendiri, lalu menggenggamnya erat-erat.

 

 

“Kenapa kau datang? Bukankah kau akan menemui Luhan?”

 

 

Kai mendesah satu kali.

 

 

“Tidak jadi…aku mengkhawatirkanmu, makanya aku membatalkan niatku mengunjungi Luhan dan langsung datang kesini untukmu”

 

 

“….”

 

 

“…..”

 

 

“Luhan…kenapa?” tanya Kyungsoo pelan.

 

 

Kai tersenyum.

 

 

“Luhan sakit…”

 

 

Kyungsoo tertegun, dan baru sadar ketika Kai mengusap kepalanya pelan-pelan.

 

 

“Tak apa Soo…tadinya aku hanya ingin mengantarkan teman kami yang seorang Dokter untuk memeriksa keadaan Luhan karena Dokter itu belum tau daerah-daerah di kota Seoul ini, tapi Dokternya bilang dia akan pergi sendiri ke sana menggunakan taksi, jadi aku bisa menemuimu dengan cepat”

 

 

Kyungsoo tertunduk dalam.

 

 

“Maafkan aku…” katanya menyesal.

 

 

Kai tertawa kecil, lalu bangkit dan berdiri tegak dihadapan Kyungsoo.

 

 

“Tak apa-apa…tak usah merasa bersalah…sekarang katakan padaku, kenapa kau tiba-tiba memanggilku? Kau memutuskan pembicaraan secara sepihak, membuatku khawatir setengah mati. Kupikir sesuatu yang buruk telah terjadi padamu”

 

 

Wajah Kyungsoo menghangat ketika mendengar kata-kata itu.

 

 

“Kau…mengkhawatirkanku?”

 

 

“Tentu saja” jawab Kai cepat.

 

 

Kyungsoo mengangkat kedua tangannya, melingkarkan lengan-lengannya yang putih disekitar pinggang Kai.

 

 

“Aku tak apa-apa…hanya saja-“

 

 

Kyungsoo menjeda sejenak, menelan ludah satu kali. Pelukannya pada pinggang Kai semakin mengerat, dan bagian sisi wajahnya kini menempel rapat di perut Kai.

 

 

“Aku merindukanmu Kai…” lanjut Kyungsoo, lalu memejamkan mata bulatnya, meresapi segala perasaan rindunya yang membuncah untuk pria eksotis yang berdiri dihadapannya itu.

 

 

Kai tak menjawab. Matanya menatap kosong pada objek yang berada di balik punggung Kyungsoo dengan kening yang berkerut dalam. Wajah Kai terkesan dingin, meskipun kini tangan kanannya sudah mengelus-elus kepala Kyungsoo dengan lembut.

 

 

~Merindukanku? Ini hanya sebagian dari aktingmu kan aktor Do Kyungsoo? Kita akan lihat siapa yang merupakan The Real Actor diantara kita berdua Kyungsoo-ya…kau pasti akan ketahuan olehku sebentar lagi~ bathin Kai perih.

 

 

Pria eksotis itu melepaskan pelukan Kyungsoo dari pinggangnya, lalu kembali berlutut dihadapan kekasih virtualnya yang mungil itu. Diusapnya pipi Kyungsoo sekilas sambil menatap dalam pada mata bulat kekasihnya. Kai menunjukkan senyuman tipisnya untuk Kyungsoo sebelum mendekati wajah kekasihnya itu. Satu kecupan dia daratkan pada kening Kyungsoo, dilanjutkan dengan kecupan dalam pada heartlips milik pria manis dihadapannya.

 

 

“Aku juga merindukanmu sayang…” kata Kai pelan, dengan wajah terlukanya yang tampak samar karena senyuman palsu yang dia tunjukkan untuk pria manis dihadapannya itu.

 

 

 .

.

.

.

.

Mata bulat itu menatap kosong pada gumpalan awan-awan putih cerah yang berada di bawahnya. Tangannya yang sebelah kiri menempel pada jendela bening disisi kirinya. Bibirnya hanya diam. Tubuh jangkung itu tak bergerak, namun sebenarnya otaknya saat ini penuh dengan berbagai pikiran-pikiran yang bergerak acak hingga berakhir seperti benang kusut.

 

 

Princess…Aku merindukanmu…” gumamnya, diikuti dengan sebulir air mata yang jatuh ke pipinya yang sebelah kanan, sedangkan di sebelah kiri, airmata itu masih menggantung dan pria tinggi itu tak membiarkannya jatuh karena tangannya sudah cepat-cepat mengusap airmata itu dari wajahnya sendiri. Hatinya sangat sakit. Pria jangkung itu ingin melupakan semuanya, tentang orangtua kandungnya, orangtua tirinya, tentang Baekhyun, tapi tak bisa…

 

 

Matanya lagi-lagi menatap gumpalan awan-awan di sekitar pesawat yang akan membawa dirinya pulang ke Seoul saat ini. Sebenarnya dia tak siap, tak pernah siap untuk pulang kerumah Baekhyun. Ketika berada di Flat miliknya yang bahkan hanya diitinggali selama beberapa minggu oleh pria mungil itu saja dirinya sudah tak mampu menahan setiap kesakitan yang menusuk dada ketika otaknya memutar kembali memori-memori tentang pria kecil bernama Baekhyun itu. Apalagi dirumah mereka nanti, yang menyimpan seluruh kenangan mereka dari sejak mereka anak-anak hingga dewasa. Chanyeol takut, tapi dia tak punya pilihan. Dia harus pulang.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

Mobil hitam milik keluarga Byun sudah menanti Chanyeol di sekitar Bandara. Dari kejauhan Chanyeol sudah dapat menangkap sosok Jung –Jin Woo- Ahjussi yang kini sedang melemparkan senyum kearahnya. Chanyeol hanya diam tanpa ekspresi. Kakinya yang panjang semakin cepat melangkah kearah Jung Jin Woo yang langsung memeluknya ketika mereka sudah saling berhadapan. Dengan cekatan Jin Woo membukakan pintu mobil untuk Chanyeol lalu mengambil kendali ke jok kemudi.

 

 

“Senang melihat anda kembali Tuan”

 

 

Chanyeol tak menjawab, hanya diam sambil menatap kearah jalanan melalui jendela mobil sebelah kanan.

 

 

“Silahkan gunakan sabuk pengaman anda Tuan” kata Jin Woo lagi, tapi seperti sebelumnya, Chanyeol mengabaikan dan hanya diam.

 

 

“Kita akan berangkat menuju rumah Tuan muda” kata Jung Jin Woo sambil tersenyum, lalu mulai menyalakan mesin mobil dan mengemudikannya kearah Utara, menuju kearah rumah keluarga Byun berada.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

Tangan Chanyeol bergetar ketika menyentuh bermacam-macam bentuk botol-botol parfum milik Baekhyun yang berjajar rapi di meja rias pria mungil itu. Matanya menatap kesekitar kamar, dan denyutan-denyutan pada jantungnya terasa semakin menjadi-jadi ketika apapun objek yang tertangkap oleh matanya merefleksikan bayangan Baekhyun disana. Baekhyun yang duduk di kursi dekat jendela, Baekhyun yang berbaring di ranjang berseprai merah itu, Baekhyun yang sedang menyusun botol-botol parfum di depan meja rias, Baekyun yang…

 

 

“Akh” erang Chanyeol sambil menjambak salah satu sisi rambut cokelatnya.

 

 

Chanyeol berjalan dengan sedikit terhuyung-huyung kearah ranjang Baekhyun, lalu menjatuhkan tubuhnya keatas ranjang berseprai merah itu. Kepalanya dia tolehkan kearah kanan, menatap lurus kearah luar melalui gorden jendela yang terbuka. Tak ada apapun yang bisa dia lihat dari dalam sini, hanya cahaya putih yang menyilaukan. Chanyeol mengeluh saat lagi-lagi otaknya memutar kenangan yang paling membuatnya menyesal sampai saat ini, ketika Baekhyun menyatakan cinta untuk pertama kalinya padanya.

 

Flashback

 

 

Chanyeol tersenyum ketika matanya menangkap punggung sempit Baekyun di halaman belakang rumah mereka. Pria mungil itu berdiri tegak membelakangi Chanyeol, mengangkat dagu runcingnya keatas. Mata sipitnya menatap lurus kearah bulan purnama yang menggantung di langit, dan tangannya terangkat, seolah ingin menggapai salah satu bintang yang menemani bulan di langit hitam di atas sana.

 

 

Chanyeol mendekat, berdiri selangkah di sisi kanan belakang Baekhyun tanpa disadari oleh pria mungil itu. Untuk sekejap, Chanyeol tertegun. Baekhyun sedang tersenyum. Chanyeol tau pria mungil itu sedang tersenyum walaupun Chanyeol hanya melihat sebagian sisi wajah tirusnya. Sudah sangat lama Chanyeol kehilangan senyum itu. Sejak ayahnya di vonis penjara seumur hidup ditambah kegilaan ibunya hingga berakhir dengan perawatan khusus di rumah sakit jiwa –hasil kerja keras dari aksi balas dendam Chanyeol- senyum Baekhyun lenyap seperti tulisan dipasir pantai yang tersapu oleh ombak.

 

 

“Princess…”

 

 

Baekhyun terkejut dan sontak menoleh ketika mendengar suara orang lain dibelakangnya.

 

 

“Ye-Yeol…apa yang kau lakukan disini?”

 

 

“Harusnya aku yang bertanya…Ini sudah hampir tengah malam, udara diluar rumah sangat dingin…apa yang kau lakukan disini tengah malam begini?”

 

 

Baekhyun tak menjawab, hanya diam sambil menundukkan kepalanya dengan tetap membelakangi adik angkatnya itu.

 

 

Chanyeol maju satu langkah, merapat pada tubuh mungil itu. Kedua lengannya melingkar ke perut Baekhyun yang datar, dan dagunya sudah mendarat di bahu sempit milik Baekhyun. Pria yang lebih pendek hanya diam, dan kembali mendongakkan kepalanya, menatap langit.

 

 

“Apa yang kau lihat?” tanya Chanyeol, setelah mereka terdiam beberapa lama.

 

 

“Bintang” jawab Baekhyun singkat.

 

 

“…..”

 

 

“…..”

 

 

“…..”

 

 

“Yeol…”

 

 

“Hmm?”

 

 

“Apa kau pernah merasa sangat menyukai seseorang sampai kau rela mati untuk orang itu?”

 

 

Chanyeol terdiam.

 

 

~Ya, pernah…Kau Baekhyun…~

 

 

“Yeol?”

 

 

Chanyeol mendesah satu kali.

 

 

“Ya, pernah”

 

 

“Apa dia cantik?”

 

 

“Hmm, sangat cantik”

 

 

~Kau sangat cantik Baek~

 

 

“…..”

 

 

“…..”

 

 

“Cantik? Berarti dia seorang gadis ya?” kata Baekhyun lirih.

 

 

~Bodoh, bukan gadis, tapi kau~

 

 

Chanyeol mengerutkan dahi, heran.

 

 

“Kenapa kau bertanya hal-hal aneh seperti itu?”

 

 

Baekhyun terdiam beberapa saat, lalu…

 

 

“Aku…menyukai seseorang Yeol…”

 

 

Lagi-lagi Chanyeol tertegun. Chanyeol tak bisa mendeskripsikan apa yang dia rasakan ketika mendengar Baekhyun menyukai seseorang, tapi yang pasti perasaannya langsung campur aduk dan terasa sangat tak nyaman saat ini.

 

 

“Menurutmu, haruskah aku mengakui perasaanku ini padanya?” kata Baekhyun lagi, membuyarkan pikiran Chanyeol.

 

 

Chanyeol mengangkat dagunya dan melepaskan pelukannya pada tubuh pria mungil itu.

 

 

“Itu bukan urusanku Hyung, terserah kau mau mengatakannya ataupun tidak” kata Chanyeol ketus. Entah kenapa dia merasa emosi tiba-tiba.

 

 

Baekhyun lagi-lagi terdiam. Nafas pria mungil itu tak beraturan, dan Chanyeol mendesah kuat ketika menyadarinya.

 

 

“Princess, kau sudah kesulitan bernafas, ayo masuk…aku tau tubuhmu tak bisa menahan dingin”

 

 

Chanyeol menarik pergelangan tangan Baekhyun, bermaksud menarik si mungil itu ke dalam rumah, tapi Baekhyun menahan tangan Chanyeol, membuat pria yang lebih tinggi mengerutkan dahinya karena bingung.

 

 

“Yeol…apa kau menyayangiku?”

 

 

Chanyeol memutar bola matanya, bosan.

 

 

“Tentu saja aku sayang padamu, kenapa kau menanyakan hal seperti itu?”

 

 

Baekhyun menunduk dalam.

 

 

“JIka aku sakit jiwa, kau tak akan meninggalkanku sendirian kan?”

 

 

“Apa maksudmu? Tentu saja aku tak akan meninggalkanmu Hyung”

 

 

Baekhyun mendongak cepat dengan rahang yang mengeras ketika mendengar bibir Chanyeol memanggilnya dengan panggilan yang sangat amat dia benci itu. Dia sudah mendengarnya satu kali tadi, dan kini jumlahnya bertambah menjadi 2, dan Baekhyun sangat benci ketika menyadarinya.

 

 

“Bisakah kau tidak memanggilku dengan panggilan itu? Aku tak suka Yeol, aku bukan Hyung-mu”

 

 

Chanyeol mengekrutkan keningnya.

 

 

“Sebenarnya ada apa Baek? Ucapanmu semuanya terdengar aneh”

 

 

“Tak apa, aku hanya ingin meminta pendapatmu tentang satu hal yang mengganggu pikiranku selama beberapa bulan ini”

 

 

Chanyeol menghadap Baekhyun dengan sempurna. Kata-kata yang keluar dari bibir tipis pria mungil itu menarik minatnya untuk mendengarkan lebih jauh.

 

 

“Apa yang begitu mengganggumu? Katakanlah”

 

 

Baekhyun menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menatap ke dalam mata Chanyeol dengan ragu. Beberapa kali dia menggigit bibirnya, menunda beberapa kata yang ingin keluar dari mulutnya sendiri.

 

 

“A-aku takut kau menatap jijik padaku jika aku mengatakan hal ini” kata Baekhyun frustasi.

 

 

Chanyeol mengelus kepala pria mungil itu, dan melemparkan senyumnya untuk menenangkan.

 

 

“Katakanlah..aku berjanji aku tak akan melakukan hal-hal seperti yang kau khawatirkan” kata Chanyeol meyakinkan.

 

 

Baekhyun kembali menarik nafasnya dalam-dalam, dan…

 

 

“Yeol…sepertinya aku bukan namja normal…Aku Gay, dan Aku mencintaimu…”

 

 

Chanyeol memebeku. Entah apa yang terjadi, tapi tiba-tiba saja Chanyeol merasa jika dirinya baru saja terjatuh dari lantai 27 hingga tubuhnya hancur berantakan. Oh bukan tubuh, tapi hatinya kini terasa sangat remuk. Jujur saja Chanyeol memang sudah mencintai Baekhyun lebih dulu, bahkan sejak mereka masih kecil, tapi jika teringat bahwa ayah pria mungil itu adalah orang yang telah membunuh ayah kandungnya, rasanya….

 

 

“G-Gay?” kata Chanyeol, lalu memalingkan wajahnya kearah kanan. Chanyeol mengerutkan keningnya dalam, bingung dengan situasi gila ini.

 

 

Baekhyun menatap Chanyeol dengan tatapan terkejut seolah baru saja tersengat oleh aliran listrik jutaan volt.

 

 

“Ye-Yeol…kau sudah janji tidak akan menganggapku menjijikkan…K-kau ingat dengan apa yang kau ucapkan barusan kan? Kau akan tetap menyayangiku kan? Kau tak akan meninggalkanku meskipun aku-“

 

 

“…..”

 

 

“Ye-Yeollie…”

 

 

Baekhyun meraih ujung kemeja Chanyeol dan meremasnya kuat-kuat. Baekhyun takut..sangat takut jika Chanyeol…

 

 

“Tapi aku bukan Gay, Byun Baekhyun! Dan aku tak mencintaimu!” desis Chanyeol tajam.

 

 

Chanyeol kembali membeku dan menatap perih pada wajah tirus Baekhyun ketika airmata pria mungil itu mengalir turun dari kelopak sipitnya. Chanyeol mengepalkan tangannya sekuat tenaga, menahan dirinya untuk tak terpengaruh pada situasi gila ini, meskipun jauh di dalam lubuk hatinya, dia sangat ingin memeluk tubuh mungil itu dan mengatakan jika sebenarnya dia juga memiliki perasaan yang sama, tapi Chanyeol melawannya sekuat tenaga. Setiap detik yang terlewati membuat Chanyeol semakin bingung karena airmata kakak angkatnya semakin deras mengalir. Akhirnya karena tak tahan, Chanyeol berbalik dan meninggalkan pria mungil itu sendirian disana tanpa mengatakan apapun.

 

End Flashback

 

 

Chanyeol memejamkan matanya ketika ingatan pahit itu singgah ke otaknya. Sudut-sudut matanya kembali basah, dan Chanyeol benar-benar merasa seperti pecundang kini. Pengecut, brengsek, itulah caranya menilai dirinya sendiri saat ini. Chanyeol menyesal, namun tak tau bagaimana caranya untuk mengembalikan segala keadan agar menjadi lebih baik. Tak ada yang bisa dilakukannya sekarang. Segalanya telah terlambat.

 

 

Chanyeol merogoh salah satu saku jaketnya dan mengeluarkan kotak beludru berwarna biru gelap dari dalam sana. Dibukanya kotak itu dan dipandanginya 2 buah cincin berbeda ukuran yang tersimpan di dalamnya. Diambilnya salah satu yang memiliki diameter lebih kecil, dan memakainya di jari kelingkingnya sendiri.

 

 

“Seharusnya kau memakai ini di atas Altar ketika kita bersumpah untuk saling mencintai sebagai pasangan hidup Baek…Jika saja aku tidak sepengecut ini, kau pasti akan bahagia bersamaku, tapi-”

 

 

Chanyeol menggantung ucapannya, membiarkan satu tetes airmatanya lolos. Dikeluarkannya cincin itu dari jarinya dan dia kembalikan pada tempatnya.

 

 

“Tapi cincin ini sudah tak berguna…Kau telah pergi meninggalkanku sendirian” kata Chanyeol, melanjutkan kalimatnya tadi.

 

 

Chanyeol membawa dirinya bangkit dari posisi rebahannya setelah menutup kembali kotak biru itu. Chanyeol tak tahan, dia ingin segera keluar dari kamar Baekhyun dan melarikan diri ke ruangan lain dirumah itu agar perasaannya menjadi lebih baik. Dia bawa kakinya turun dari ranjang dan mulai menapak bergantian di atas lantai. Chanyeol berjalan lurus menuju cermin hias milik Baekhyun. Cermin itu terapit di antara lemari kayu berukuran pendek yang memiliki banyak laci di sisi kanan, kiri dan bagian bawahnya. Chanyeol membuka salah satu laci secara random tanpa memilih, dan meletakkan kotak cincin itu di dalamnya. Chanyeol baru saja hendak menutup laci itu namun urung karena matanya tiba-tiba saja menangkap sesuatu yang sangat menarik perhatian dan membuatnya shock sesaat.

 

 

Mata pria jangkung itu membulat. Nafasnya terasa tersangkut di tenggorokan. Darahnya seolah terpompa dengan sangat cepat ketika menemukan benda berwarna hijau gelap itu. Tangannya bergetar kuat ketika dia mengambil benda itu dan mengeluarkannya dari laci milik Baekhyun.

 

 

Paspor.

 

 

Dengan gemetar Chanyeol membuka halaman paspor itu dan matanya terasa sangat panas ketika melihat cap stempel approval imigrasi Negara Amerika melekat di sana dengan tanggal kepulangan satu hari sebelum tanggal kecelakaan pesawat terjadi. Bagaimana bisa paspor Baekhyun berada di rumah ini dalam keadaan utuh, mulus dan tanpa cacat sedikitpun jika pesawat yang ditumpangi pria mungil itu bahkan sudah hancur berkeping-keping karena ledakan yang sangat besar? Tak ada hal yang masuk akal disini kecuali…

 

 

“B-Baekhyun masih hidup…” gumam Chanyeol sambil menatap nanar pada lantai disekitar kamar itu.


To Be Continued


Advertisements