Marriage Is Not A Joke

.

.

By tmarionlie

.

HunHan

.

Y
aoi | Marriage Life | Romance | Yadong


 

Iris cokelat bening itu merefleksikan bayangan tarian hujan di luar jendela. Raut wajahnya dingin, arogan. Jari-jemarinya memegangi gelas berkaki ramping dengan tautan yang agak renggang. Sesekali ia putar cairan yang berada di dalam gelas hingga cairan gelap beraroma tajam itu berdansa gemulai di dinding gelas beningnya. Aroma parfumnya yang elegan dan berkelas menyeruak tajam di dalam ruangan, dan lehernya langsung berputar ketika telinganya mendengar suara gesekan pintu yang berdecit dengan lantai. Bibir ranumnya mengeluarkan decihan, kemudian ia perhatikan gerak-gerik pemuda pucat yang baru muncul itu dengan sudut matanya.

 

 

“Kamar ini wangi sekali. Apa kau selalu menyemprotkan parfummu secara membabi-buta seperti ini? Tch, aku tak bisa bernafas.” cibir pria pucat itu sambil mengibas-ngibaskan tangannya di udara seolah aroma parum itu bisa lenyap jika ia melakukannya.

 

 

Dia tertawa remeh, lalu meneguk minumannya dengan gesture yang anggun. Dia diam hingga beberapa detik, melirik senyap pada pria pucat yang terlihat sibuk mengobrak-abrik lemari pakaian mereka.

 

 

“Dimana kemeja hitamku, Luhan?”

 

 

Dia terkekeh ketika melihat tautan dalam pada wajah pucat yang menatapnya dengan wajah penuh kefrustasian itu, lalu ia tegakkan telunjuknya, mengarah lurus pada kemeja hitam elegan yang tergantung di terali ranjang besi milik ‘mereka’. Pemuda pucat itu mendengus, kemudian melangkah cepat menuju kemeja itu, menyambarnya dan memakainya secepat kilat.

 

 

“Wanita mana lagi yang kau kencani sekarang Sehun?” akhirnya suara lembutnya terdengar.

 

 

Sehun menghentikan gerakan tangannya, kemudian ia berdiri menghadap ‘dia’ dengan wajahnya yang tampak bosan.

 

 

“Apa sekarang kau mulai perduli padaku Luhan?” tanya Sehun, lalu kembali mengancingkan kemejanya setelah ia mengeluarkan dengusan kerasnya.

 

 

Wajah dingin itu berubah sendu. Kelopak matanya meredup, dan ia alihkan tatapannya kearah lain ketika ia merasakan kelopak mata bagian bawahnya memberat.

 

 

Pria yang lebih pucat kembali berbenah, kini terlihat merapikan rambutnya sendiri di depan cermin rias kamar mereka.

 

 

“Kau tahu Sehun? Pernikahan kita bukanlah candaan…” dia berbicara dengan suara getirnya.

 

 

Pria yang lebih pucat mendengus keras. “Ucapkan itu pada dirimu sendiri!” Katanya dingin, kemudian kembali berkutat dengan kesibukannya.

 

 

Dia menundukkan kepala, menggigit bibir bawahnya dan meremas celananya sendiri. Surai karamelnya terjuntai ke dahi, tapi ia tak perduli. Hatinya terasa remuk, dan jiwanya seolah terbang menembus angkasa hingga sepertinya tak mampu ia gapai kembali. Seluruh dunianya seolah lenyap terhisap bumi, hingga ia merasa seolah berada di dalam kehampaan yang gelap dan dingin.

 

 

Pemuda yang berkulit pucat sudah mulai melangkahkan kaki menuju pintu, namun langkahnya terhenti ketika sebuuah isakan terdengar dari sudut ruangan di dekat jendela. Pemuda pucat itu berbalik, dan hanya berdiri diam sambil menyaksikan si wajah boneka itu menangis sambil menunduk. Meskipun jarak tubuh mereka terpisah beberapa meter, mata sipit si pucat dapat melihat dengan jelas bulir-bulir airmata itu menetes-netes jatuh ke lantai.

 

 

“Maafkan aku…” kata si cantik itu dengan getaran samar pada suara lembutnya, membuat pria pucat itu memejamkan matanya sambil meremas kepalan tangannya sendiri.

 

 

“Maafkan aku Sehun…Maaf karena aku terlalu lama mengabaikan keberadaanmu…Maaf…Aku memang bukan pendamping hidup yang baik. Aku–“

 

 

Pemuda pucat itu terdiam. Jantungnya terasa teririrs perih melihat pemuda yang teramat ia cintai terlihat sesedih itu.

 

 

“Aku mencintaimu Sehun….”

 

 

Hanya 3 kata. Hanya satu kalimat dalam belaian suara lembut itu yang sangat diimpikan oleh Sehun, dan akhirnya ia mendengarnya. Dengan langkah yakin dan tanpa keragu-raguan ia melangkah lebar-lebar menuju si wajah boneka. Diraihnya dagu runcing itu dan ia kecup bibir merekah ‘milik dia’ dalam-dalam.

 

 

Si cantik itu terkesiap. Jemarinya meremas kemeja hitam pekat yang melekat pada tubuh tinggi yang memeluknya hingga kemeja itu terlihat kusut. Bibirnya disesap kuat oleh bibir tipis pria pucat yang berdiri merapat pada tubuhnya itu, membuatnya kewalahan. Jemari pucat pria yang lebih tinggi meremas lembut surai karamel si wajah boneka, dengan tekanan lembut agar ciuman mereka menjadi semakin dalam. Erangan kenikmatan keluar dari tenggorokan salah satunya, membangkitkan gairah pemuda yang satunya lagi. Tubuh mereka merapat tanpa celah, bergerak lambat hingga punggung si cantik menempel lekat dengan dinding disisi jendela. Tautan bibir itu terlepas, dan keduanya mengatur nafas dengan mata yang terpejam dan dahi-dahi yang saling menempel lelah.

 

 

“Kenapa baru mengatakannya, hmm? Apa kau tak tahu jika aku menunggu sebaris kalimat pendek itu selama bertahun-tahun? Aku bahkan hampir sinting Xi Luhan….”

 

 

Senyuman cantiknya melengkung, dan tanpa sepatah katapun ia tarik tengkuk pucat itu merendah, lalu ia cium lagi bibir tipis si pucat itu dalam-dalam. Bibir keduanya kembali bertemu dalam gairah, saling berusaha meremukkan bibir lawannya. Si cantik itu membuka bibirnya, menyambut lidah yang datang dengan lidahnya sendiri. Erangan dalam yang mengalir dari tenggorokan keduanya menyatu menciptakan irama erotis, bercampur-baur bersama dengan gemericik air hujan di luar sana.

 

 

Jemari pria yang lebih pucat menjalar pelan, melepaskan segala apapun yang membalut tubuh molek berkulit indah itu tanpa suara. Terpaan angin yang berhembus masuk dari jendela membuat si cantik itu merinding, hingga bintik-bintik halus tercipta di kulitnya yang mulus.

 

 

“Dingin?” tanya si pelaku pelucutan itu dengan senyuman genitnya, kemudian satu jilatan ia hadiahkan di telinga bertindik si cantik yang tak mengenakan apapun lagi pada tubuhnya itu.

 

 

Si wajah boneka itu menyeringai, ia kecup kembali bibir si pucat lalu ia berbisik sangat lembut di telinga pria pucat itu.

 

 

“Kalau kau ingin tahu aku kedinginan atau tidak, sebaiknya kau cari tahu sendiri saja…” katanya, kemudian ia mengecupi pipi suaminya itu sambil menggerakkan tangannya secara cepat untuk melepaskan kemeja hitam yang telah kusut bagian dadanya dan apapun yang melekat pada tubuh berkulit pucat itu.

 

 

Pemuda pucat itu tersenyum maklum, lalu hanya membiarkan saja si wajah boneka itu menelanjanginya. Kulit-kulit mereka yang berbintik-bintik halus karena udara dingin itu kini telah saling menempel, saling menggesek, berusaha mencari kehangatan. Bibir tipis pria pucat itu mengecupi seluruh bagian wajah pria bersurai karamel, menjalar turun ke dagu kemudian ia angkat sedikit tubuh mungil itu ke gendongannya agar ia mudah menggapai bagian dada menggairahkan milik si cantik itu. Dia kecup, dia jilat dan dia hisap bagian dada dan perut pria cantik itu hingga kulit indah dari tubuh si wajah boneka itu memerah dimana-mana. Dia sudutkan tubuh molek itu semakin merapat pada tembok, dan ia turunkan tubuh si cantik itu hingga telapak kaki telanjang si wajah boneka kembali menyentuh lantai.

 

 

Kaki kiri si wajah boneka ditarik dan dilingkarkan paksa oleh pemuda pucat itu ke pinggangnya sendiri, kemudian tubuh keduanya menyatu, membuat gejolak panas mengalir cepat pada pembuluh darah kedua anak Adam itu. Pria yang terhimpit di dinding mendesah, lalu mengerang dalam ketika pria yang satunya semakin menghimpit rapat-rapat tubuhnya, membuat penis itu menghujam sangat dalam ke tubuhnya. Erangannya semakin kuat saat tubuhnya terlonjak-lonjak, tersentak-sentak tak menentu akibat gerakan pinggul si pucat yang sangat cepat. Pinggangnya dicengkram kuat oleh jemari pucat itu, sedangkan tangannya sendiri kini meremas-remas surai blonde si pucat itu dengan gemas.

 

 

Terlambat menyadari karena sentuhan pemuda pucat itu terlalu memabukkan, si cantik itu tak tahu sejak kapan tubuhnya sudah melayang hingga akhirnya terhempas ke permukaan ranjang mereka. Organ vital yang saling bersinggungan dengan posisi intim di atas ranjang seperti ini membuat gejolak keduanya semakin kuat. Nafsu mereka membakar hingga ke ubun-ubun, membuat gerakan tubuh keduanya menjadi semakin tak terkendali. Mereka bergerak kearah yang berlawanan, berganti posisi bercinta hingga beberapa kali hingga akhirnya keduanya melepaskan erangan kuat ketika mereka meledak di waktu yang hampir-hampir bersamaan.

 

 

Keduanya lelah. Peluh yang mengalir dari tubuh keduanya membuat gesekan kulit mereka tak sekesat tadi. Pemuda pucat itu masih menindih tubuh pengantinnya yang berwajah boneka, memperhatikan rona merah yang menjalar pada pipi si cantik yang masih berusaha mengatur nafas di bawah himpitan tubuhnya itu. Poni karamelnya terlihat basah, dan si pucat itu menyibak poni si cantik hingga wajah sempurna itu tertangkap seluruhnya oleh pandangannya.

 

 

“Kau semakin cantik dan terlihat dewasa Luhan…bahkan kau tak membiarkan aku menyadarinya…kau membuatku sangat menyesal karena aku tak bisa mengikuti dengan jelas setiap perubahan yang terjadi pada dirimu, padahal segala tentangmu sangat berharga bagiku…”

 

 

Kelopak mata rusa itu terbuka, hingga netra mereka kembali bertemu. Raut penyesalan tercetak jelas pada wajah cantik itu, dan satu kata maaf meluncur dari bibirnya yang merekah.

 

 

Diam.

 

 

Keduanya merapatkan bibir mereka namun mata mereka masih saling bertatapan. Keduanya berusaha menyampaikan segala apa yang mereka rasakan melalui tatapan itu. Namun tentu saja itu tak akan cukup karena tak semuanya bisa dimengerti hanya dengan tatapan saja. Karena itu Luhan mengangkat kepalanya, mengecup bibir suami yang telah ia abaikan selama bertahun-tahun karena keterpurukannya oleh kematian saudara kembar identiknya sendiri, yang tanpa ia sadari ternyata mengorek luka yang begitu lebar pada hati suaminya yang tampan itu. Luhan menyesal, karena itu….

 

 

“Maaf….” Katanya sambil mengecup kembali bibir pria pucat itu.

 

 

“Maafkan aku…”

 

 

Luhan membawa kepala bersurai blonde itu ke lekukan leher telanjangnya. Dia belai sayang surai lembut suaminya itu dan sesekali ia kecup wajah pria pucat itu.

 

 

“Aku mencintaimu Luhan…” bisik Sehun dengan suara teredam karena kini ia sibuk mengecupi tulang selangka si wajah boneka.

 

 

Luhan tersenyum, lalu ia tarik paksa wajah runcing itu hingga kembali sejajar dengan wajahnya. Dia tatap mata sipit itu dengan mata rusanya yang mengeluarkan pancaran lembut penuh cinta, dan bibirnya menukik naik, melengkung menciptakan senyuman cantik yang menggoda.

 

 

“Aku juga mencintaimu Oh Sehun…”

 


END


Advertisements