th (2)

Love Story In Autumn


.

.

By tmarionlie

.

HunHan

.

Y
aoi | Hurt & Comfort | Fluff | Romance

.

.



Tiba-tiba saja pria pucat itu kembali menyeruak dalam hidupku. Suaranya yang khas dari seberang telepon membuat dadaku sesak mendadak dan membuyarkan pikiranku yang cerah di pagi hari yang indah itu.


-First Impressions-

 

Namanya Oh Sehun. Aku melihatnya pertama kali ketika musim semi 7 tahun yang lalu. Saat itu aku adalah mahasiswa pindahan dari China. Ketika itu seluruh mahasiswa dan mahasiswi di kampus baruku membicarakan pria ini. Katanya pria pucat ini adalah pemimpin dari aktivis mahasiswa terkemuka. Namanya sangat populer, yang kerap kali disebut dengan sangat hormat oleh para demonstran mahasiswa universitas lain disamping ketampanannya yang di atas rata-rata, ‘begitulah kata mereka’. Semua orang mengaguminya, tak hanya kalangan normal, tapi abnormal ( baca :  pria menyimpang ) juga ikut memujanya. Segala fakta yang menyapa indera penglihatan dan pendengaranku itu membuatku penasaran, hingga aku yang notabenenya adalah pria biasa yang introvert, mengikuti para aktivis kampus itu hanya untuk mendengarkan orasinya. Menggelikkan.

 

 

“Kau tak akan menyesal menunggunya, dia adalah bintang yang paling bersinar di kampus kita,” kata seorang gadis yang berada disampingku saat itu.

 

 

Aku hanya tersenyum tipis dan mengangguk sebagai respon. Hingga akhirnya pria pucat itu muncul. Dia naik dengan penuh percaya diri ke atas podium dan berdiri angkuh di sana dengan dagu runcingnya yang sedikit terangkat, memperkenalkan dirinya dalam rentetan suara berat diiringi dengan kalimat-kalimat ringan yang terkesan dingin.

 

 

Aku baru mengerti mengapa pidato singkat pria pucat ini adalah yang paling ditunggu diantara serangkaian panjang pidato dari sekian banyaknya pimpinan delegasi kampus. Pria pucat itu memang memiliki ‘sesuatu’. Aura kebintangannya sangat bersinar, dan dia memiliki pesona yang mampu menarik semua orang agar hanya mengarah padanya saja, seperti magnit. Padahal apa yang dia ucapkan adalah serentetan kata-kata yang sering kudengar, namun entah mengapa segala ucapannya terkesan bermutu dan efisien, tidak seperti rangkaian kata-kata membosankan yang diucapkan oleh para pimpinan delegasi kampus yang sebelumnya. Dia bukan saja memperkenalkan dengan amat lugas semua anggota delegasinya, namun juga secara tandas memberikan setengah lusin catatan untuk agenda-agenda pokok pertemuan. Paparannya terkesan rapi dan tersusun rata, menukik tajam dan langsung tepat sasaran, langsung ke tujuan. Benar-benar bermutu dan efisien. Pria itu memiliki obsesi.

 

.

.

.

.

.

-First Meet, First Introduction-

Awal musim gugur di bulan September. Suhu udara di Korea sejuk pada awalnya, sekitar 20 derajat celcius. Kulihat dedaunan di pohon-pohon mulai berubah warna, hijau muda, orange, merah muda, dan juga merah tua, berwarna-warni seperti lukisan cat air, sangat cantik. Aku tak terkejut jika Negara Korea ini mendapat julukan sebagai The Land of Morning Calm, begitu mempesona setiap pergantian musim tiba. Aku tak tau jika musim gugur adalah pertanda baik yang menjadi benang merah penghubung diriku dan ‘dia’. Aktivitas yang kulakukan masih sama seperti biasanya, kuliah sampai sore, pulang ke tempat tinggalku yang boleh kau sebut dengan one room stay, haha…lalu aku akan melakukan pekerjaan sambilan di sebuah cafe kecil dekat tempat tinggalku, namanya I’m Crazy Café, what a funny name

 

 

Aku tak ingat bagaimana awalnya, ketika itu suhu udara berada pada batas terdingin di musim gugur, 5 derajat celcius. Aku mulai merasakan gejala-gejala aneh seperti pusing dan menggigil. Malam itu aku tak fokus pada apapun yang berada di sekelilingku, bahkan ketika para teman-teman di café heboh membicarakan soal Band Indie yang popular di kalangan remaja sepertiku, yang malam itu menjadi Band tamu di café.  Entahlah, mereka bilang namanya adalah Cozy Band. Aku tak perduli dan lebih memilih menyendiri di meja paling sudut café untuk menunggu jam kerjaku habis di tengah malam sambil menikmati keadaan tubuhku yang mulai tak terkendali. Aku tak sadar kala itu jika aku terkesan seperti seekor anak kucing yang seolah baru saja terjebak ditengah hujan lebat hingga terlihat layu dan tak bergairah, namun seseorang mengatakannya dengan jelas di hadapanku dengan kekehan aneh diakhir kalimat ejekannya.

 

 

“Kau sangat lemas, seperti seekor Kitty imut yang baru saja kehujanan,” katanya kala itu.

 

 

Waktu itu aku membuka mataku dan terkejut setengah mati saat kulihat siapa dia. Ya, itu benar-benar ‘dia’, pria pucat bernama Oh Sehun, bintang yang paling bersinar di kampus kami.

 

 

Aku terdiam sekian lama agar otakku yang jenius mampu mencerna apa alasannya berada di café ini. Awalnya kupikir dia adalah salah satu pengunjung, sampai aku melihat beberapa pria tampan yang berkostum hampir-hampir mirip seperti yang dia gunakan menyapanya dan berlalu dari hadapan kami yang terduduk di sisi etalase café.

 

 

“Jadi kau adalah salah satu dari mereka? Band itu?” tanyaku.

 

 

Dia mengangguk.

 

 

“Selain pemimpin aktivis kampus, kau juga musisi?” tanyaku lagi.

 

 

Lagi-lagi dia mengangguk.

 

 

Aku diam, lalu kami terhanyut dalam keheningan yang panjang.

 

 

“Apa kau mengenalku?” tanyanya tiba-tiba.

 

 

Aku tersenyum tipis. Apa itu sebuah pertanyaan?

 

 

“Ya…seluruh orang di universitas tahu siapa kau,” kataku.

 

 

Dia tersenyum. “Lalu…siapa aku?” tanyanya.

 

 

Aku mengerutkan keningku, dan dia lagi-lagi tersenyum.

 

 

“Bukankah kau bilang kau mengenalku? Kalau begitu…siapa namaku, Luhan?”

 

 

Aku terkesiap. Bagaimana dia tahu namaku?

 

 

“K-Kau…tahu namaku?” tanyaku.

 

 

Dia mengangguk, lalu menunjuk kearah seragam yang kupakai. Aku meringis saat dia melakukannya. Sial, padahal jantungku baru saja meletup-letup aneh tadi.

 

 

“Luhan?” tegurnya.

 

 

Aku mendongak, menatapnya sambil meringis. Kepalaku sangat pusing.

 

 

“Namamu…Oh Sehun kan?” kataku.

 

 

Dia tersenyum lagi, sangat tampan.

 

 

“Wajahmu sedikit merah,” katanya, disambut dengan gerakan tangan yang cepat lalu menempel di pipiku. “Kau sakit?” katanya dengan nada yang terdengar seperti terkejut, lalu telapak tangannya meraba-raba hampir seluruh bagian kulit wajah dan juga leherku. Aku hanya diam menerima sentuhannya. “Kau demam, kau harus pulang,” katanya.

 

 

Aku tersenyum kecil. “Ya…jam kerjaku juga sudah habis, aku akan pulang,” kataku, lalu aku berdiri.

 

 

“Tempat tinggalmu jauh?” tanyanya.

 

 

“Tidak, hanya beberapa blok dari sini,” jawabku.

 

 

“Aku akan mengantarmu pulang,” tawarnya.

 

 

Aku menggeleng cepat. “Tak usah, aku bisa pulang sendiri, Sehun.”

 

 

“Makhluk semanis kau tak baik berjalan sendirian. Aku akan menjadi bodyguard untukmu,” katanya sambil melemparkan wink mautnya kearahku, membuatku tertawa geli.

 

 

“Yahh…jika kau memaksa boleh juga sih,” kataku kala itu.

 

 

Ya. Dagu runcing itu tak lagi mendongak selepas malam itu, dimana dengan kelembutan tangannya yang menyentuh kulitku secara langsung, berbekas panjang dalam ingatanku yang tajam. Bahkan hari-hari setelahnya semakin menggairahkan, karena demam tinggi itu menjadi awal hikayat hubungan kami yang terjalin semakin dekat, lekat dan erat. Dia selalu menjengukku di antara antarmata jeda acara, memegang tanganku sesekali, menatapku dengan tatapan yang mengandung makna namun sulit kumengerti meskipun aku mengaku jika aku adalah jenius. Dan bibir tipisnya yang melengkung sempurna itu kerap kali membisikkan kata-kata pengharapan yang menyiratkan sesuatu, bukan hanya sekedar dengungan doa supaya aku lekas sembuh, namun ada kata-kata lainnya yang membangkitkan getaran-getaran aneh, membuat jantungku meletup-letup bahagia dan isi kepalaku yang boleh kau sebut dengan fantasi menjadi melonjak-lonjak tak terkendali. Saat itu aku tersadar, jika aku telah jatuh cinta.

 

 

Lalu hari-hari setelahnya, adalah hari-hari kami, hari-hari Xi Luhan dengan Oh Sehun. Kau tahu maknanya kan?

 

.

.

.

.

.

-First Date-

Kami duduk bersisian, saling berpegangan tangan dibawah tas ransel besar milik Sehun yang sengaja kami letakkan diatas kedua tangan kami yang bertautan. Yah, aku dan dia akhirnya menjalin hubungan, sebagai sepasang kekasih romantis namun tersembunyi. Saat-saat seperti ini adalah hal yang paling kunikmati dalam hubungan kami. Entah mengapa saling mencuri-curi kemesraan di tempat umum meninggalkan kesan yang amat mendalam, lucu tapi menggairahkan, aku sangat bersemangat saat melakukannya. Konyol memang. Sejak tadi dia menggonta-ganti posisi genggamannya hanya untuk mencari sedikit udara karena tautan tangan kami yang terkadang menjadi licin karena keringat, namun Sehun akan selalu menggenggam erat tanganku lagi setelahnya. Kekasihku ini memang ‘super’.

 

 

“Pembicara dan materi seminar ini sangat membosankan Lu,” keluhnya tiba-tiba.

 

 

Aku hanya diam, menatap lurus kearah pembicara itu dan mendengarkan dengan tenang, takzim seperti jemaat setia dihadapan pengkhotbah agungnya.

 

 

“Aih…tak bermutu!” keluhnya lagi.

 

 

Aku tersenyum tipis, dan hanya menggenggam tangannya lebih erat di bawah sana. Kurasakan dia mendekat padaku, lalu hangat nafasnya menerpa lembut di telingaku.

 

 

“Sayang…bagaimana kalau kita membolos saja? Aku bosan berada disini,” bisiknya padaku.

 

 

Aku menatapnya dengan senyum yang terukir indah di bibir, lalu mengangguk setuju oleh idenya. Itu adalah hari pertama kami membolos dari seminar kampus. Dan percayalah, setelah itu kami banyak sekali membolos dari mata acara seminar-seminar semacamnya, untuk mencari kesenangan dan melepaskan diri dari kebosanan. Bagiku, hari-hari membolos seminar bersama Sehun justru merupakan rangkaian seminar yang menyenangkan. Itu adalah hari-hari kuliah paling teramat sangat membahagiakan selama aku hidup di Negara Korea ini, sungguh. Semuanya karena Sehun. Meskipun terkadang dia berceloteh membosankan seperti para pembicara yang dikeluhkannya itu saat kami bersama, namun terasa sangat menyenangkan bagiku. Yah, mungkin itu karena dia pembicaranya. Hal yang paling kuingat adalah saat Sehun berbicara tentang seorang professor ekonomi politik Jerman yang baru saja mengumumkan jilid buku terbarunya. Aku tak ingat lagi siapa professor itu, namun aku ingat jika Sehun bilang bahwa professor itu sangat mengagumi Jepang, dan meratapi Brazil.

 

 

“Pembangunan Jepang sukses karena menjaga jarak dari kapitalisme internasional yang penuh jebakan Lu…” itulah opininya tentang Jepang dibelakang ceritanya tentang professor tadi.

 

 

“Menurutmu begitu?” Aku melemparkan pertanyaan sebagai respon. Aku tau dia cerdas. Dia suka bercerita, dan jangan lupa dia adalah pemimpin aktivis yang pidatonya selalu ditunggu-tunggu, dan disini aku adalah pendengar yang setia untuknya.

 

 

“Ya…menurutku Jepang membangun sistim kapitalisme disosiatif. Mereka menggunakan sistim kapitalisme, namun tetap membentengi diri dengan kebijakan ekonomi yang berorientasi pada pasar domestik. Sebaliknya, Brazil menggunakan sistim kapitalisme asosiatif, tunduk, bertekuk lutut pada kapitalisme internasional, karena itu mereka berdiri diantara zona kehancuran, monumen kegagalan pembangunan.”

 

 

Aku menatap wajahnya dari samping. Tampan…sungguh tampan. Sejak dia berceloteh tadi, sesungguhnya aku tak banyak memberikan respon untuknya. Sebagian otakku yang picik hanya menganggap ucapannya seperti angin lalu. Aku mulai berpikir jika Sehunku adalah seorang humanis dengan pikiran yang meloncat-loncat ke depan. Kutipan kesimpulan dari berbagai aspek yang dipelajarinya berhamburan keluar dari bibir tipisnya, menderu kencang seperti lengkingan suara kereta yang tak ada habis-habisnya, dan sesungguhnya sebagian kutipan besar itu sama sekali tak bersahabat dengan isi kepalaku yang sempit meskipun aku selalu mengaku sebagai jenius, haha. Tapi itulah Sehun. Meskipun pemikiran besarnya berjejal-jejal di kepalaku dan membuat otakku serasa ingin berhamburan keluar, namun anehnya setiap kata yang dia keluarkan dari bibir tipisnya itu selalu berhasil menghasilkan rasa bahagia yang menghanyutkan. Dan aku selalu berpikir jika aku tak ingin kehilangan dan tak akan pernah ingin melepaskan pria mempesona ini. Kini akulah yang memiliki obsesi.

 

.

.

.

.

.

-First Kiss-

Sore hari di awal bulan November. Musim gugur masih menguasai alam Korea. Saat ini kami –aku dan Sehun– sedang duduk di sebuah kursi panjang di taman kota yang tampak sepi sambil menikmati masing-masing satu cup tinggi Americano Coffee. Keadaan yang tampak sunyi membuat aku dan Sehun kembali mencuri-curi kemesraan lagi di alam terbuka seperti ini. Tangan kami saling bertaut, awalnya. Namum perlahan tubuh kami sama-sama saling merapat. Kepalaku menyandar dengan gemulai pada bahunya, dan dia mengelus setiap helai rambut karamelku dengan penuh kelembutan. Aku tak begitu ingat bagaimana kejadiannya, awalnya bibirnya menempel pada pelipisku, terasa lembut, dan sedikit basah. Lalu jari-jari pucatnya yang panjang itu mengelus sepanjang tulang rahang dan kulit pipiku yang –menurutnya– cantik karena kemerahan, mengusapnya penuh penghayatan. Respon yang kuberikan adalah mendongak, menatapnya hingga kedua netra kami saling bersinggungan. Itu kali pertama aku melihat bola matanya yang terasa amat teduh, dibingkai dengan kelopak mata sipitnya yang menatapku lembut. Indra pendengaranku seperti mampu menangkap irama musik romantis yang mendengung dari kepalaku, hingga nadanya menjadi sangat mellow ketika wajah Sehun semakin mendekat. Nafas kami terasa amat hangat di tengah udara yang dingin ini. Hidungnya yang mancung menggesek kulit pipiku dan bibirnya yang lembut mendarat pada bibirku. Diam. Beberapa saat kami terjebak dalam kecanggungan hingga akhirnya Sehun memejamkan mata sipitnya –yang langsung kuikuti jejaknya– dan bibirnya langsung bergerak lembut pada permukaan bibirku, menyesapnya pelan hingga aku terhanyut dan lagi-lagi jantungku serasa meletup-letup tak karuan seperti saat aku jatuh cinta padanya untuk pertama kali. Ciuman pertamaku dengannya adalah di taman itu, dengan 2 cup tinggi Americano, dan daun-gaun musim gugur yang berwarna-warni. Aku tak akan melupakannya. Dan kau tau? semenjak saat itu, kami jadi sering melakukannya, bahkan lebih dalam dan lebih panjang, namun hanya ciuman pertama itu yang paling berkesan dalam ingatan jeniusku.

 

.

.

.

.

.

-First Night-

Penghujung musim semi di bulan November. Daun-daun semakin banyak yang berguguran dan hampir seluruh pepohonan sudah botak. Sebentar lagi musim salju akan turun, dan suhu udara semakin hari semakin dingin saja. Kala itu Sehun datang ke ‘apa yang kusebut dengan rumah’, memelukku dengan hangat ketika aku membuka pintu pertama kali untuknya. Satu kecupan mendarat di bibirku, dan kami masuk ke dalam kamar sempitku dengan tubuh yang tak memberikan jarak karena bibirnya enggan melepaskan bibirku. Aku hanya meremas erat sweater abu-abunya untuk menekan gairah yang mulai terpancing, hingga akhirnya Sehun melepaskan ciumannya. Dia tersenyum penuh arti, ada apa?

 

 

“Apa yang membuatmu begitu senang?” tanyaku langsung pada poin utama tentang apa yang ingin kuketahui, dan senyumnya semakin melebar.

 

 

“Kau harus melihat ini,” katanya, sambil menyodorkan sebuah kertas padaku.

 

 

Aku terdiam ketika membaca isinya.

 

 

“Band kalian akan melakukan kontrak dengan perusahaan rekaman luar negeri?” tanyaku lirih, nyaris tak bertenaga.

 

 

Sepertinya Sehun menangkap raut sedihku, tentu saja dia tau, Sehunku sangat cerdas. Karena itu dia meraihku ke dalam pelukannya, lalu mengecupi leherku dengan lembut.

 

 

“Aku akan kembali sayang, jangan khawatir,” katanya menenangkan.

 

 

Aku memeluknya juga, sangat erat.

 

 

“Berapa lama kontraknya akan berjalan?”

 

 

“Sekitar 7 tahun…”

 

 

Aku mendorong tubuhnya sedikit kasar, lalu berbalik, memunggunginya. Aku agak kecewa mendengar ucapannya. Kurasakan tangannya mengelus bahuku, lalu dia memelukku dari belakang, pelukan yang sangat erat.

 

 

“Aku akan kembali untukmu. Aku janji…” katanya.

 

 

“Aku tak mau kau pergi, jangan pergi Sehun…” pintaku, sedikit memelas.

 

 

“Ini mimpiku Lu…Aku suka musik, kau tahu kan?”

 

 

Aku terdiam. Ya, aku tahu…tentu saja aku tahu. Itu adalah mimpinya. Beberapa waktu kebersamaan kami mengungkapkan segalanya. Sehun yang awalnya kupikir sangat menyukai dunia politik mengatakan jika dia sesungguhnya lebih suka bermusik, menyanyi. Dia bahkan pernah mengatakan jika mimpinya adalah menjadi seorang musisi yang terkenal. Dan kau tau? mimpiku adalah hidup bersama dengannya sampai batas  waktu dimana aku merasa lelah. Tapi sekarang aku belum lelah, aku masih ingin bersama lebih lama lagi dengannya, menghabiskan hari-hari dengan celotehannya yang membosankan sambil menatap kagum pada ketampanannya. Aku masih menginginkan semua itu!

 

 

“Aku-“

 

 

“Aku mencintaimu Luhan…Kumohon jangan meragukan cintaku,” katanya memotong ucapan yang baru saja ingin kukeluarkan.

 

 

Kata-katanya sungguh fatal, sungguh tajam, tepat pada sasaran hingga langsung dengan segera menyudahi peperangan dalam hatiku. Bulir-bulir airmataku jatuh. Kata-katanya membuat hatiku terenyuh. Lengkaplah sudah. Seluruh bagian hatiku telah ditaklukkannya tampa ampun. Aku menyerah. Aku sungguh-sungguh mencintai Sehun, Aku sangat mencintainya. Dengan sekali gerakan aku berbalik dan kembali memeluk dengan erat tubuh jangkungnya. Kusembunyikan wajahku dalam dadanya karena aku tak mau dia melihat air mataku. Aku pria, dan harga diriku akan sangat ternoda jika aku menunjukkan wajahku yang kacau ini padanya. Tapi aku tak mampu menyembunyikannya lama-lama, karena jari-jari panjang Sehun telah menarik wajahku dan menangkup kedua pipiku, memaksaku agar menatapnya. Mau tak mau akupun menurut. Apa boleh buat? Aku tak punya pilihan. Kulihat dia tersenyum lembut padaku.

 

 

“Kau percaya padaku kan?” katanya mencari keyakinan dariku.

 

 

Aku mengangguk pasrah. Dia tersenyum lagi, lalu mendaratkan satu kecupan dikeningku.

 

 

“Aku mencintaimu Luhan…Aku akan kembali ketika aku sukses, lalu aku akan membawamu ke sisiku dan tak akan pernah lagi melepaskanmu meskipun kau yang memintanya.”

 

 

Aku kembali mengangguk sambil menunduk.

 

 

“Kau rela menukar 7 tahun untuk selamanya bersamaku kan?” tanyanya lagi.

 

 

Dan aku kembali mengangguk. Memangnya aku bisa apa lagi?

 

 

Dia mengusap kedua pipiku, lalu mengecupinya berganti-gantian. Bibirnya yang tak tau aturan itu kemudian mendarat di bibirku, lalu menyesapnya penuh nafsu. Tangannya mencengkram erat pinggangku, lalu sebelahnya menelusup masuk ke dalam kausku hingga aku berjengit karena merasa geli. Kulepaskan ciuman itu dengan paksa tapi bibir tipisnya malah merambat turun ke leherku. Kuremas rambutnya dengan lembut dan mencari cara untuk menghentikannya.

 

 

“Engghh…Sehun, bukankah kau ingin jadi politikus? Kupikir kau akan…Ughhh…”

 

 

Aku menjambak rambutnya sedikit kuat ketika bibirnya menghisap kuat leherku dengan kedua jempol yang menekan pada dua puting di dadaku. Dia terkekeh pelan.

 

 

“Aku tau kau menanyakan hal itu hanya untuk mengalihkan perhatianku Luhan,” katanya, dan lagi-lagi menekan pada dua tonjolan itu, mengakhirinya dengan belaian lembut.

 

 

“Jadi kau..egghh…tahu ya?” kataku susah payah. Aku mencoba menarik tangannya dari ‘situ’, tapi…

 

 

“Jangan memberontak sayang…atau kau akan menyesal karena kita belum pernah mencoba melakukan ini selama kita menjalin hubungan. Kita akan berpisah 7 tahun Lu, dan aku tak akan membiarkanmu menerka-nerka bagaimana sensasi ketika melakukan ‘hal itu’ hingga akhirnya kau akan melakukannya dengan orang lain disaat aku tak ada.”

 

 

Aku paham jika itu adalah kata-kata rayuan, namun entah mengapa aku tak berkutik dan membenarkan segala ucapannya itu. Akhirnya aku hanya pasrah saja, memberikan segala yang kumiliki untuknya, bersama segenap perasaan cintaku yang mengalir seiring remasan kuat jari-jemariku pada rambut blonde miliknya. Kami mendesah bersahut-sahutan dalam kamar sempitku, lalu mengerang penuh pernghayatan secara bersamaan ketika kami mencapai ‘apa yang disebut surga dunia itu’.

 

.

.

.

.

.

-Separation-

Awal musim salju, adalah hari perpisahanku dengannya. Dia menggenggam erat tanganku, dan tatapan matanya menggetarkan ulu hatiku. Mataku nanar dan nyaris berair. Aku benar-benar menangis ketika suara baritonnya menyeruput telinga kiriku.

 

 

“Aku mencintaimu sayang…tunggu aku…”

 

 

Lututku bergetar hebat. Tulangku serasa dilolosi ketika tubuhnya tenggelam diantara orang-orang yang mengantri untuk menuju ke badan pesawat. Aku terduduk lemas di kursi panjang, diantara lautan para manusia yang berlalu-lalang di areal bandara itu. Aku menangis di sana, melupakan fakta bahwa aku adalah seorang pria yang harga dirinya akan ternoda jika menumpahkan airmata seperti ini. Tapi aku tak perduli lagi. Sehunku pergi, membawa seluruh hatiku bersamanya.

 

.

.

.

.

.

-History-

Sejarah dimulai dan berakhir pada titik yang sama. Hari-hariku setelah perpisahan itu adalah sebuah penantian terpanjang tanpa ujung. Pria pucat itu lenyap dari hidupku secara sempurna. Bulan demi bulan, dan tahun-tahunku yang panjang tak pernah disinggahi sepotong kabarpun darinya. Yang kutau adalah dua tahun setelah kepergiannya, wajahnya beserta seluruh member Cozy Band lainnya kerap menghiasi layar televisi, majalah, dan tabloid-tabloid. Suara baritonnya akrab menggauli telinga siapa saja yang mendengarkan lagu-lagu mereka. Karir bermusiknya melejit. Tapi dia melupakanku

 

 

Sejak tahun kedelapan, akupun menutup rapat-rapat buku sejarahku dengannya, dan berniat memuseumkannya dalam hatiku yang telah kosong karena sudah dia bawa pergi. Segalanya sudah kuanggap tamat, usai, sad ending. Sudah, begitu saja. Sudah cukup banyak waktu yang kuhabiskan dengan perasaan yang teriris-iris dan terkoyak-koyak. Sudah cukup. Delapan tahun penantian tanpa kejelasan itu, mengubah sosoknya dalam persepsiku. Dari cinta pertamaku, ciuman pertama, bahkan pria pertama yang meniduriku, yang dulu dengan segenap jiwa dan raga, pemujaan, serta cinta naifku kuserahkan, dia menjelma menjadi sesosok bajingan yang tak memiliki rasa tanggung jawab dan tak beretika, menurut otak jeniusku. Aku sudah bertekad bulat untuk menjadikan ‘sejarah 8 tahun yang teramat sangat pendek’ itu agar melapuk dan menguap saja, lalu aku akan mengukir sejarah baru untuk menyongsong masa depanku. Tapi segalanya tentu saja tak berjalan sesuai dengan keinginanku, niatku yang pada awalnya-menurut otak jeniusku (lagi-lagi)– akan berjalan dengan mulus tanpa hambatan untuk melupakan ‘dia’, kembali ternodai karena dering ponsel yang mengalun merdu di satu pagi yang cerah, tanpa ID penelepon, dan nomornya tak kukenal sama sekali, bagus bukan? Tapi aku tetap menjawabnya, sebagai wujud dari etika moral yang kutelan sejak aku kecil.

 

 

Hallo?

 

 

~Sayang, ini aku…Bagaimana kabarmu?~ 

 

 

Aku terhenyak dan membeku seperti patung. Tiba-tiba saja pria pucat itu kembali menyeruak dalam hidupku. Suaranya yang khas dari seberang telepon membuat dadaku sesak mendadak dan membuyarkan pikiranku yang cerah di pagi hari yang indah itu.

 

 

“Se-Sehun?” kataku tergagap-gagap, mencoba mencari keyakinan jika itu memang benar adalah dirinya.

 

 

~Ya, ini aku sayang. Aku sudah selesai dengan segala urusanku disini. Aku telah sukses. Aku akan pulang untuk menjemputmu Lu, kemudian tak akan ada apapun lagi yang bisa memisahkan kita~

 

 

Aku malu mengakuinya pada kalian, namun saat itu pertahanan diriku runtuh. Aku kembali menangis, dan parahnya, aku menangis sesenggukan seperti seorang gadis, bisa kalian bayangkan betapa hancurnya harga diriku saat itu?

 

 

~Luhan? Hei, kenapa? Kau baik-baik saja kan?”

 

 

Aku tak menjawab, aku hanya menangis. Menangisi kebodohanku.

 

 

~Luhan…jangan menangis. Aku akan kembali secepatnya. Tunggu aku sayang. Kau masih setia menungguku seperti janjimu kan?~

 

 

Aku terkekeh pelan di sela-sela air mataku. “Ya…tentu saja aku masih menunggumu Sehunnie. Cepatlah pulang, aku merindukanmu…”

 

 

Bohong.

 

Aku berdosa. Aku membohonginya. Aku bukanlah seorang jenius, melainkan bodoh. Bahkan sangat bodoh.

 

.

.

.

.

.

-My Love is Back-

Aku kembali mengetuk-ngetukkan ujung sepatuku pada lantai Bandara. Lama sekali. Aku sudah tak sabar untuk melihatnya secara langsung, Sehunku. Aku sudah mulai kesal. Tampangku pasti sudah sangat jelek. Oh, aku tak perduli, asal kau tahu.

 

 

Aku berdiri dan mulai berjalan mondar-mandir, gelisah. Kakiku tak bisa berhenti bergerak kesana-kemari sampai seseorang menarik lenganku. Punggungku menempel erat pada dadanya, dan hangat nafasnya membelai telinga kananku.

 

 

“Hai Luhan yang cantik, sudah lama menunggu?” bisiknya.

 

 

Aku menggigit bibirku, lalu aku berbalik secepat kilat menghadapnya. Pria itu menggunakan topi hitam dan kini dia kembali menutup wajahnya dengan masker yang tadi dibukanya sedikit hanya untuk membisikkan kata-kata godaan itu. Dari lengkungan matanya, aku sangat paham jika dia sedang tersenyum padaku saat ini. Aku juga tersenyum. Lalu tanpa menunggu waktu lama aku segera menghambur ke pelukannya.

 

 

“Kau lama sekali…sangat lama…dan kau tak memberi kabar apapun, kau bajingan Oh Sehun!” makiku, meluapkan segala emosi yang kupendam karena ‘ulahnya’.

 

 

Dia tak menjawab, hanya membelai-belai rambutku.

 

 

“Aku membencimu! Aku hampir saja ingin mengingkari janjiku dan melupakanmu brengsek! Kau bilang tujuh tahun, tapi ini sudah delapan tahun, dasar tak beretika, kejam!”

 

 

Dia terkekeh.

 

 

Kulepaskan pelukanku, lalu menatap tajam ke matanya. Dengan sekali gerakan kutarik topinya dan kulepaskan maskernya, membuangnya sembarangan. Aku tak perduli jika dia adalah orang terkenal. Aku tak perduli jika jika semua orang akan mengenalnya. Dia harus dihukum. Kutarik wajahnya dengan cepat dan kukecup bibir tipisnya, sangat lama, lalu kulepaskan dan aku tersenyum.

 

 

“Aku merindukanmu,” kataku jujur dan juga tulus.

 

 

Dia tersenyum, lalu menatap sekeliling kami yang sudah penuh dengan orang-orang yang saling memekik  heboh, beberapa mengambil foto-foto kami, err…foto Sehun lebih tepatnya. Sehun terkekeh lagi sebelum kembali fokus menatapku. Dibelainya pipiku dengan ibu jarinya, lalu sebelah tangannya menarik pinggangku merapat padanya. Dia tersenyum, lebih tampan beribu kali lipat dari yang dulu. Ditatapnya mataku dalam-dalam, lalu…

 

 

“Maafkan aku sayang…aku tak memberi kabar karena aku takut tak bisa menahan diri ketika aku mendengar suaramu. Aku juga merindukanmu Luhan…dan aku-“

 

 

Dia mendekatkan wajahnya padaku, sangat dekat, membuatku merona.

 

 

“-mencintaimu” lanjutnya sebelum bibirnya menekan lembut bibirku.

 

 

Sehun memang gila, dan akupun sama. Kami berciuman ditengah-tengah lautan para fans yang memekik histeris karena tingkah kami. Oh, aku tak perduli. Otak jeniusku menyangkal untuk perduli. Dan kurasa Sehunpun sama.

.

.

.

.

.

-My Happy Ending-

Kututup semua kenangan yang mengalir dalam kepalaku itu dengan senyuman. Mataku menatap lurus, jauh kedepan sana, menatap kumpulan gedung-gedung pencakar langit dengan berbagai bentuk di kota Seoul yang megah ini. Sehun memenuhi janjinya. Dia menarikku ke dalam kehidupannya yang gemerlap, dan tak pernah melepaskanku lagi semenjak dia kembali untukku beberapa tahun yang lalu. Dia mencurahkan seluruh cintanya padaku. Seluruh kasih sayangnya dia berikan tanpa perlu kuminta. Kami hidup berdua di apartemen mewah yang kami sebut dengan wilayah privat kami. Membangun sebuah hubungan yang saling mengikat yang disebut dengan pernikahan. Hubungan kami sangat indah karena berpondasikan cinta yang begitu mendalam. Ya…cinta…

 

 

Angin bertiup lembut, memainkan helaian-helaian rambutku yan sudah mulai sedikit panjang, hingga beberapa kali aku harus menyibakkannya agar pandangan mataku tak terhalang oleh helaian rambutku sendiri. Dan dalam waktu yang bersamaan ketika aku mengusap helaian rambutku, dua buah lengan berkulit seputih susu telah melingkar pada perutku. Sesuatu yang lembut dan basah telah mengecup leherku yang sebelah kanan.

 

 

“Disini dingin sayang…masuklah, aku tak mau melihatmu kedinginan,” katanya.

 

 

Aku terkekeh dan menggenggam kedua tangannya yang masih melingkar erat di perutku.

 

 

“Aku sedang mengenang kisah cinta kita,” jawabku jujur, dan kudengar dia tertawa.

 

 

Kami terdiam lama, sampai tubuhku dibalikkan perlahan olehnya.

 

 

“Jangan mengingat masa lalu terus-menerus Lu…” katanya memberi nasehat.

 

 

Aku menggeleng.

 

 

“Aku tak bisa menuruti ucapanmu kali ini…Kenangan kita terlalu indah untuk dilupakan,” tolakku.

 

 

DIa tersenyum. Sebelah tangannya terangkat, membelai pipiku. Tubuhnya mendekat merapat, menghimpitku pada tembok pembatas balkon. Tangan kirinya mengelus tengkukku, kemudian dia menciumku dengan lembut dan penuh penghayatan. Kami saling melempar senyum ketika ciuman itu terlepas.

 

 

“Aku mencintaimu,” katanya.

 

 

Aku tertawa kecil, lalu memeluk erat tubuhnya.

 

 

“Aku juga.”


END


 

A/N : FF ini terinspirasi dari berbagai cerpen bagus yang pernah aku baca di koran-koran harian. Thanks sudah menyempatkan membaca.

Advertisements