I Felt it….Perfect….That was Perfect…


THE DIVA

10846233_762338183841634_7062789868990290372_n

Story By tmarionlie  |  Poster By L.E Design

.

HunHan

.

Y
aoi | Romance | Mature | Explicit Sex Scene

 

 


Prolog


 

 

 Tubuh Luhan masih meliuk-liuk indah, bergerak gemulai di atas panggung. Tangan kanannya membelai-belai pole di sisi kanan tubuhnya. Pinggulnya bergoyang-goyang, bergerak erotis memutari pole itu. Tangan kanannya lagi-lagi membelai pole, seolah-olah pole itu adalah seonggok tubuh molek yang menggairahkan.

Luhan mencondongkan tubuhnya ke depan, seperti menungging, memperlihatkan wajahnya yang dibuat seakan-akan seperti wajah tersiksa orang yang klimaksnya sedang tertunda, menggigit bibirnya sendiri sambil mengedipkan matanya dengan genit ke arah para kaum gay yang menonton aksinya di bawah sana dengan tatapan bodoh –menurut Luhan- mereka.

 

Luhan kembali berdiri tegak setelah mengelus bagian betis jenjangnya sendiri, kemudian kembali meliuk-liuk erotis sambil bersandar pada pole itu. Kaki-kakinya melebar, mengangkang, menggoda mata-mata jalang yang sedang menontonnya, lalu kembali merapat setelah tangan kanannya sempat melemparkan flying kiss berikut wink maut pada seorang pria tampan berkulit pucat yang berada di sudut paling kanan club yang jika Luhan tak salah, sejak tadi selalu menatap tajam ke arahnya.

 

Kini mata Luhan terpejam. Dengan mengandalkan nalurinya, Luhan menari indah sambil bergelantungan di pole itu, hingga berakhir dengan kepala di bawah, menahan tubuh dengan apitan kuat kakinya pada batangan pole.

 

“Buka!”

 

“Buka!”

 

“Buka!”

 

Luhan menyeringai. Mereka sudah memintanya…..meminta sang Diva, menunjukkan tubuh polosnya….

 

Dengan gerakan gemulai Luhan turun. Kakinya menapak pada lantai panggung dan lagi-lagi fliying kiss dia tebarkan ke semua pengunjung club malam itu. Lalu Luhan berputar…..memunggungi para pengunjung club, menyembunyikan seringaian di bibirnya.

 

“It’s show time…”

 

Luhan mencengkram ujung-ujung pakaiannya, lalu menariknya lepas melalui kepala. Punggung mulusnya terekspos, dan para pria hidung belang di bawah sana sudah bersorak-sorai heboh. Sedikit gerakan sensual dilakukan oleh Luhan, sebelum membalikkan tubuhnya, mempertontonkan tubuh bagian atasnya yang polos, mulus tanpa cela. Luhan meraba-raba tubuhnya sendiri, menjepit nipple-nipple menggoda miliknya dengan kedua tangannya yang tak lagi menyentuh pole.

 

Dari dada, tangan Luhan bergerak meraba-raba abs-nya sendiri, membuat gerakan memutar pada bagian perut dan pusarnya sambil menunjukkan wajah ‘pengundang birahi’ andalannya ke semua pengunjung.

 

Puas dengan perut, Luhan mulai mengapit sedikit lingkaran pinggang panty hitam super ketatnya dan menariknya sedikit ke bawah. Pangkal penisnya yang sedikit memerah sudah terlihat. Mata-mata nista di hadapannya seolah sudah tak sabar menanti Luhan melepaskan panty itu dan mempertontonkan central tubuhnya yang mempesona. Namun sayang, Luhan kembali melepaskan kapitannya pada panty itu, membiarkan penisnya kembali tersembunyi di baliknya dan malah meliuk-liukkan tubuh setengah telanjangnya lagi dibarengi dengan seringaian aneh yang terpahat pada bibir merah merekah pada wajah cantiknya, mengabaikan erangan kecewa yang lolos dari bibir-bibir kotor para pria hidung belang di bawah panggung.

 

Entah sejak kapan….Luhan bahkan sudah lupa…..Tapi yang pasti dirinya sudah terserang syndrome yang dinamakan obsesi ini sejak lama….

 

Hanya saat melalukan tarian striptease pengundang birahi seperti saat inilah, Luhan di hinggapi perasaan bergairah, karena tarian telanjangnya inilah yang membuatnya menjadi seorang Diva pencipta pesona, membuat dirinya selalu dipuja berkat liukan maut serta lekuk tubuh moleknya yang terpahat sempurna. Dan Luhan bersumpah akan terus melakukannya.

 

“Buka!”

 

“Buka!”

 

“Buka!”

 

Para pengunjung kembali heboh. Luhan kembali melangkah elegan ke tepian panggung paling depan dan berdiri dengan lutut di sana, membiarkan tangan-tangan ‘para budak nafsu’ di bawah panggung terangkat, berusaha menggapainya, namun tak berani menyentuh sedikitpun kulit Sang Diva, atau mereka akan mendapatkan hukuman mereka, dengan tak akan pernah bisa lagi menatap bahkan melirik satu incipun kulit mulusnya.

 

Luhan sengaja kembali menurunkan ujung panty hitamnya pada posisi itu, lagi-lagi hanya memperlihatkan ‘sangat sedikit’ bagian penisnya, lalu kembali menyembunyikannya.

 

Tatapan mata-mata berdosa di bawah kembali menatap kecewa padanya, tapi Luhan tak perduli.

 

Dengan langkah anggun Luhan kembali menuju ke tengah panggung, kemudian menari-nari erotis bersandarkan tiang pole di sana, memunggungi para pengunjung club. Luhan bergerak-gerak lambat sambil berpikir, apa lebih baik jika dia sedikit memberikan ‘bonus’ pada para pengunjung?  padahal Luhan sebenarnya benar-benar sedang tak ingin telanjang bulat dalam aksinya kali ini.  Tapi setelah bepikir-pikir dan menimbang-nimbang…

 

Srett!

 

Luhan pun menurunkan panty hitam super ketatnya juga ke bawah, hanya sebatas lutut.

 

“Woooooooohhhh……”

 

Teriakan heboh langsung menggema ke seluruh penjuru, dan semakin nyaring ketika Luhan ,membalikkan tubuh menghadap para pengunjung, dengan tangan yang menutupi penisnya sendiri.

 

“Buka!”

 

“Buka!”

 

“Buka!”

 

Semua mendesak Luhan agar benar-benar mempertontonkan areal sensitifnya, dan Luhan menyerah. Tangannya menyingkir dari penisnya sendiri, lalu mengarah ke atas, memegang pole yang berada di atas kepala dan meliuk-liuk lagi dengan gerakan sensual nan erotis.

 

Luhan tersenyum puas saat melihat orang-orang yang berada di bawah panggung menjadi ribut. Segalanya jadi saat kacau setelah Luhan mempertontonkan tubuh telanjangnya. Semua orang saling berdesak-desakan, saling berebut untuk mendapatkan tempat di barisan paling depan, agar dapat melihat kemolekan tubuh telanjangnya dari jarak yang lebih dekat.

 

Luhan berteriak senang dalam hati.

 

“Lihatlah mata-mata jalang….inilah aku….Sang Diva….Pujalah aku….”

 

Luhan mematung pada posisinya beberapa detik sambil menonton keributan yang tercipta karenanya, lalu menarik panty hitam naik menutupi kembali penis mempesona miliknya. Tangannya masih sempat kembali menebar flying kiss terakhir sebelum lampu panggung meredup dan tubuh Luhan lenyap dari atas panggung.

 

Di sudut paling kanan panggung, sesosok pria pucat yang sejak tadi menonton aksi Luhan sudah menyeringai aneh, lalu berjalan mantap, melangkahkan kaki-kakinya menuju ke belakang panggung. Pria itu ingin mengambil miliknya….Si Diva cantik bernama Luhan, yang hak miliknya sudah berpindah padanya karena Master Sang Diva itu sudah menjual Sang Diva padanya beberapa jam yang lalu.

 

“Tunggulah Luhan….aku sudah tak sabar untuk membawamu pulang ke rumah….” Gumaman itu lolos dari bibir tipis pria pucat itu, diakhiri dengan seringaian aneh setelahnya….


 Prolog End


A/N : FF nista lagi, XD. Sudah pernah di share di FFN dan FP.


Advertisements