THE DIVA

10846233_762338183841634_7062789868990290372_n

Story By tmarionlie  | Poster by L.E Design

.

HunHan

.

Y
aoi | Romance | Mature | Explicit Sex Scene


CHAPTER 1


 

 

-Sehun Pov-

 

 

Aku melangkahkan kaki-kaki panjangku dengan mantap ke arah pintu lebar berwana hitam pekat itu. Tanpa perlu mengetuk pintu, aku langsung membukanya dan membawa tubuhku masuk ke dalam. Mataku beredar ke seluruh penjuru. Tak ada siapapun.

 

Dimana si Diva cantik itu?

 

Mataku mengembara ke sudut-sudut ruangan, mengagumi interior yang berwarna-warni, melambangkan kelas ‘tertentu’.

 

Jadi ini kamar Sang Diva?

 

Kamar ini sangat wangi. Aroma kamar yang terkesan ‘elegan dan berkelas’ berlomba-lomba masuk, menyerbu indera penciumanku. Beberapa porselen Cina antik, tersusun rapi di atas lemari setengah badan yang juga terkesan antik di sudut kanan ranjang elit Sang Diva, mirip seperti porselen Jiki zaman Dinasti Ming.

 

Di dinding tempat headboard ranjang menempel, tergantung lukisan Hoshibokufu, juga gaya lukisan ciri khas zaman Dinasti Ming. Sepertinya ‘Diva cantik’ ini memiliki selera tinggi dan sangat berkelas. Aku tak menyangka jika penari striptis ‘semacam’ dia memiliki selera seperti ini.

 

Kulangkahkan kakiku mendekati dinding sebelah kiriku. Beberapa fotonya, foto ‘Si Diva cantik’ itu, tersusun rapi di tembok. Wajah cantiknya yang terpahat sempurna, entah kenapa selalu membuat monster yang berada dalam diriku selalu bergejolak dan menggelora aneh. Kuraba salah satunya, sebuah foto setengah telanjangnya yang sedang terduduk di sofa single berukiran naga, dan hanya mengenakan Black Tuxedo Dress sepaha tanpa bawahan yang menampilkan gaya androgyny, sangat cocok dengan wajahnya yang membuat mata-mata nista salah menafsirkan organ seksualnya. Pancaran matanya terlihat redup, di bawah naungan alis cokelatnya yang sedikit lebat. Bibirnya yang sering tak terkatup rapat itu sangat menggoda, menggantung dengan sanggahan dagu runcingnya. Wajahnya kecil, tapi selayaknya pemuda Cina, kedua tulang pipinya terlihat tegar. Tapi wajahnya itu…Ah, entah kenapa saat melihat wajahnya, selalu saja pancaran mimik arogannya yang lebih menonjol.

 

“Kau suka fotoku?”

 

Aku membeku. Suara lembut itu menyapa pendengaranku, membuat leherku berputar otomatis ke arahnya. Dan mataku langsung menangkap sosoknya, si little preety creepy doll itu, Sang Diva cantik -Xi Luhan- sudah berdiri di ambang pintu, memperhatikanku.

 

Aku tak menjawab kata-katanya, hanya tersenyum miring menyambut kehadirannya. Dia masih berdiri arogan di sana, dengan posisi tubuh tak tegak dan tangan yang bersedekap di depan dada, menatapku dengan tatapan angkuhnya, tapi terlihat seperti tatapan pengundang birahi bagiku.

 

Kualihkan tatapanku dari boneka porselen hidup yang sangat cantik namun mengerikan itu. Jika terus-menerus menatapnya, aku pasti akan kesulitan membedakan mana imajinasi dan realita yang ada.

 

Bicara soal realita, aku sejenis pribadi yang tak suka memisahkan secara mutlak antara realita dengan imajinasi. Sosok pria cantik yang berdiri beberapa meter di dekatku ini sudah terlalu sering merasuk ke dalam khayalan liarku. Aku menghayalkan jika dia adalah milikku. Aku sering membayangkan jika dia sedang mendesah erotis di bawah himpitan tubuh berpeluhku hingga aku dapat melihat urat-urat kecil membiru yang berkelok-kelok di areal dada putih mulusnya, mencumbuinya dengan penuh gairah dan dia akan mendesahkan namaku dengan keputus asaannya. Oke, ini adalah ‘sedikit’ dari bagian fantasi nistaku tentang Luhan.

 

Seperti yang ku katakan tadi, aku tak suka memisahkan antara realita dan imajinasi pribadiku. Semua khayalanku tentangnya –Si Diva cantik itu-adalah milikku, merupakan kenyataan yang terjadi dalam otakku dan tak seorangpun berhak mengatakan tidak! Aku siap bertarung untuk itu dengan cara apapun. Buktinya, dengan imajinasi liarku aku mampu memilikinya dalam realita yang sesungguhnya. Sekarang. Bukan hanya dalam imajinasiku saja.

 

Menurutku dunia yang bisa kita lihat dengan kedua mata, terserap oleh indera perasa, dan terhirup melalui indera penciuman, segalanya adalah wujud dari permainan imajinasi. Karena itu dengan hanya mengandalkan imajinasi liarku, dan dengan ketajaman ingatan yang kudapatkan sejak aku lahir, aku menemukannya…

 

Xi Luhan….malaikat bersayap putih yang terbalut topeng ‘gelap’ itu….aku sudah sangat merindukannya….menunggu bertahun lamanya sampai akhirnya aku menemukannya dalam dunia gelap dan nista ini, membuatku sangat emosi dan juga sedih saat melihat dia menunjukkan tubuh polosnya yang indah pada mata pria-pria jalang budak nafsu yang selalu menatap lapar ke arahnya….

 

“Kau masih ingin memandangi foto semu itu terus-menerus? Bukankah yang nyata ada di sini?”

 

Aku kembali terkesiap, lalu menoleh ke kiri. Si cantik Luhan sudah berdiri tepat di sampingku tanpa ku sadari kapan dia melangkah ke sini.

 

Dia tersenyum. Sangat cantik, tapi terlihat mengerikan bagiku, karena aku langsung berfantasi aneh lagi saat melihatnya, apalagi dalam jarak yang mematikan seperti ini. Wajahnya itu, ughhh….membangkitkan libidoku saja!

 

Dia memutar tubuhnya. Menghadapku. Posisi yang….errr….mengancam kesehatan ‘akal sehatku’ sebenarnya. Tapi entah kenapa mataku tak bisa lepas juga dari wajahnya, seolah terpaku di sana tanpa bisa di alihkan kemanapun.

 

“Begitu lebih bagus. Kau melihatku, bukan memandangi fotoku terus-menerus” katanya.

 

Aku hanya tersenyum tipis sebagai respon.

 

“Jadi kau Master baruku?” tanyanya.

 

Aku menaikkan alisku. Master?

 

“Kau tak perlu memanggilku begitu. Namaku Oh Sehun” kataku nyaris tanpa intonasi.

 

Dia menarik sedikit sudut bibirnya, tersenyum sinis.

 

“Oh Sehun” ulangnya datar.

 

Aku mengangguk, berusaha meyakinkannya jika bibir kecilnya itu tak salah menyebut namaku.

 

“Jadi aku tak perlu memanggilmu Master?”

 

Aku menggeleng. Aku tak suka panggilan itu, ck!

 

Dia tertawa kecil. Lalu berputar, membelakangiku. Kutatap punggungnya yang sempit. Langsing, ramping, lengkungan bahunya indah….

 

“Jadi apa alasanmu membeliku, Sehun?” tanyanya.

 

Aku mengerutkan kening, berpikir. Membeli? Aku tak suka pilihan kata itu, tapi itu ada benarnya juga sih…

 

“Aku menyukaimu” jawabku jujur.

 

Dia terkekeh, tapi kemudian tertawa keras sambil bertepuk tangan, sedikit menunjukkan sisi menyebalkannya di hadapanku. Beberapa detik kemudian dia berbalik lagi, menatapku dalam…dan juga tajam…

 

“Menyukaiku? Kau sangat naif” katanya, lalu membuang wajahnya ke arah lain, terlihat tak suka dengan kata-kata yang kuucapkan untuknya tadi, padahal aku kan jujur.

 

Aku menatapnya lama, lalu mendesah panjang.

 

“Aku akan membawamu pulang ke rumahku” kataku lagi.

 

“Aku suka di sini” potongnya cepat, tajam.

 

“Ya, tentu saja kau suka di sini, sangat jelas terlihat. Tapi aku sudah ‘membelimu’, jadi kau adalah milikku, dan sekarang aku ingin membawamu bersamaku, pergi dari tempat ini” kataku, memberi sedikit penekanan saat aku mengatakan ‘kau adalah milikku’ agar dia tau siapa Masternya saat ini.

 

Dia terdiam. Bibirnya yang merah basah di gigitnya dengan gigi-giginya yang putih. Wajahnya tampak kesal. Kusentuh dagu runcingnya dengan dua jari tangan, lalu ku paksa matanya menatap ke dalam mataku.

 

“Kau tak ingin ikut denganku?” tanyaku.

 

Dia menatapku dan hanya diam, tapi kemudian dia mulai mengeluarkan suaranya juga, menjawab dengan ragu-ragu.

 

“Aku tak suka lingkungan baru. Aku suka di sini Sehun…”

 

Nada suaranya terdengar putus asa.

 

“Kenapa? Kau tak suka pada lingkungan baru, atau tak suka padaku?” tanyaku, penasaran.

 

Lagi-lagi dia hanya diam. Bibirnya dia katupkan rapat-rapat.

 

Aku kembali mendesah, lalu ku tangkup wajahnya yang mungil.

 

“Ikutlah denganku. Meskipun kau tak mau, kau tetap harus ikut. Kau milikku Luhan….” kataku lagi, mengandung unsur memerintah yang tegas di dalamnya.

 

Dia menunduk.

 

“Aku suka menari…” katanya lagi.

 

Aku hanya diam.

 

“Jika aku ikut denganmu, apa aku masih boleh menari?” tanyanya.

 

Tanganku yang memegang dagunya tadi, diraihnya dan di letakkannya di pipinya sendiri. Mata bulatnya yang indah itu menatapku, tatapan yang redup, tapi membuat hatiku langsung bergejolak liar karenanya. Pria mungil ini, entah kenapa seolah seperti magnit yang mampu menarik apapun, seperti burung yang bisa semaunya terbang melampaui batas dan pesonanya tak mampu untuk kucegah.

 

Aku menertawai diriku sendiri. Dirinya yang sangat mempesona ini, bukankah sudah sejak dulu?

 

“Kau sangat suka striptis? Telanjang? Mempertontonkan tubuhmu pada mata-mata jalang pria bau dan buncit di luar sana?” kataku.

 

Emosi.

 

Kurasa dia dapat langsung menangkap maksud ucapanku saat aku mengatakan kalimat panjang itu. Tapi…

 

Dia tertawa kecil, lalu melepaskan tanganku yang langsung terkulai, lepas dari pipi mungilnya.

 

“Apa kau sedang berusaha mengatakan kalau aku ‘menjijikkan’? katanya.

 

Aku memijit pelipis. Maksudku bukan begitu kan? Kupikir dia cukup cerdas untuk mengartikan nada ‘ketidak-sukaan’ dalam ucapanku tadi. Oke, biar ku jelaskan! Aku tak suka dia menunjukkan tubuh moleknya pada mata-mata nista para pria hidung belang di luar sana. Tubuhnya itu ‘sesuatu’ yang istimewa bagiku. Di masa depan dia hanya boleh menunjukkan kemolekan tubuhnya itu ‘hanya di hadapanku’. Hanya untukku saja. Luhan milikku, titik!

 

“Bukan itu yang ku maksud” kataku meluruskan, tapi dia malah berdecih.

 

Dia menyentuh dadaku, lalu berputar-putar disana, memilin-milin kemeja yang ku pakai.

 

“Oh Sehun….tidakkah kau pikir striptis memang menjijikkan?”

 

“…..”

 

“Tapi itu menyenangkan. Meskipun aku menjadi ‘gelap’, tapi tarian striptis membuatku merasa bebas dan bergairah…”

 

“Kau harus berhenti!” perintahku tegas.

 

Dia menatapku, lalu tersenyum sinis.

 

“Tidak. Dan tidak akan pernah!” tolaknya tegas.

 

“Kenapa?”

 

“Entahlah, ini….complicated….sesuatu dalam diriku kadang menentangnya, tapi bagian diriku yang lain menyukainya. Striptis itu seperti morfin. Aku sulit untuk lepas dari rasa canduku. Sensasi saat aku melakukan tarian telanjang sangat menakjubkan. Semua mata menatapku dengan tatapan memuja, dan aku menyukainya” akunya.

 

Aku diam, lalu tersenyum. Bukan! tapi sebenarnya aku sedang menyeringai.

 

“Kalau begitu, kau bisa melakukannya, di depan mataku…hanya di hadapanku saja, bukan di hadapan orang lain…” kataku.

 

Dia berhenti memutar-mutar kain kemeja yang kupakai, lalu menatapku lama.

 

“Kau suka tubuhku?” tanyanya, diiringi dengan kerjapan imut beberapa kali.

 

“Tidak” jawabku.

 

Dia melepaskan kemejaku, lalu membuang muka. Sepertinya harga dirinya terluka saat aku menolak mengakui jika tubuhnya itu sangat menggiurkan.

 

Kutarik wajah kecilnya lagi, lalu kuusap lembut pipi halusnya.

 

“Bukan hanya tubuh. Aku menyukai seluruhnya, apapun yang ada pada dirimu Luhan…” kataku lembut.

 

Dia terdiam. Bola matanya terpaku pada mataku beberapa lama, tapi kemudian bergerak-gerak, menelusuri wajahku. Tangannya terangkat, membelai rahang tegasku dengan usapan lembut dari jari-jarinya yang lentik.

 

“Sehun, kau sangat tampan” pujinya.

 

Aku tersenyum.

 

“Kau suka wajahku?” tanyaku.

 

Dia berhenti mengelus wajahku, lalu menatapku lama. Oh, ditatap seperti ini olehnya terus-menerus, kurasa aku bisa terserang penyakit jantung mendadak sebentar lagi.

 

“Aku suka” Jawabnya, entah jujur atau hanya ingin menyenangkanku saja, tapi kupikir aku cukup tampan sih.

 

“…..”

 

“…..”

 

“…..”

 

Diam.

 

Hening.

 

Suara detak-detik jarum jam menguasai udara di dalam kamar ini. Mata-mata kami saling menatap lembut satu sama lainnya. Bibir-bibir kami masih saling diam. Jarinya masih mengelus rahangku. Dan aku menyentuh lengkungan bibirnya sambil menikmati lekuk-lekuk wajahnya yang sempurna.

 

“Luhan…”

 

“Hmm?”

 

“Kau akan ikut denganku kan?”

 

“…..”

 

“Aku akan memberikan apapun yang kau inginkan….”

 

Dia berhenti menggerakkan tangan sekilas, dan tersenyum.

 

“Apapun?” ulangnya.

 

“Ya…”

 

“Kenapa kau harus?”

 

“Aku menyukaimu, tadi sudah ku katakan kan?”

 

“Tapi aku tidak”

 

Diam.

 

Aku melepaskan paksa tangannya yang mengelus wajahku, lalu membuang wajah ke arah lain. Sekarang harga diriku yang terluka, sungguh!

 

Tapi…

 

Dia mendekat, lalu memeluk tubuhku dari belakang.

 

“Maafkan aku. Aku akan ikut…maafkan aku Master…” ucapnya lembut.

 

Aliran darahku langsung berubah menjadi lebih cepat. Otot-ototku mengejang, merespon sentuhannya. Dan jantungku..Oh, jangan di tanya! Sepertinya dia akan meledak sebentar lagi.

 

Aku menyentuh jemarinya yang halus itu, menggenggamnya, lalu meremasnya sedikit kuat. Apa yang menempel di punggungku itu adalah pipi kecilnya?

 

Astaga, jantung! Berhentilah memberontak, kau bisa membuatku mati mendadak!

 

“Luhan…”

 

Suara sialan! Kuharap Luhan tak mendengar getaran yang keluar bersama suaraku tadi. Demi Tuhan, aku sangat gugup.

 

Dia melepaskan pelukannya, dan aku berbalik perlahan, menghadapkan diriku padanya. Kami kembali bertatapan.

 

“Panggil aku Sehun, bukan Master…” Kataku.

 

“Baiklah, aku mengerti…maaf Sehun…” katanya, menuruti keinginanku dengan patuh.

 

Aku tersenyum. Dia juga.

 

“Aku ingin menciummu…” kataku jujur. Aku memang sudah sejak tadi tak tahan melihat bibir merekah miliknya itu.

 

Dia menatapku dalam-dalam, lalu mengangkat jari telunjuknya, menyentuh belahan bibirnya sendiri.

 

“Kau ingin mencium ini?” tanyanya.

 

“Mmm…” jawabku, sengaja hanya bergumam, karena aku takut dia menangkap getaran gugup dalam nada suara yang keluar dari pita suaraku.

 

Dia mendekat, merapatkan tubuhnya pada tubuhku, lalu mengalungkan tangannya di leherku. Dipejamkannya matanya. Hembusan nafasnya yang wangi sangat memabukkan, membuatku hampir lupa pada bumi tempat kakiku berpijak.

 

Aku masih mematung, tapi tanganku yang kurang ajar –sebenarnya– sudah memeluk erat pinggang rampingnya sejak tadi. Mataku masih menatap wajahnya, cantik….mulus….tanpa cela….benarkah dia pria?

 

Keningnya berkerut karena aku tak kunjung menciumnya. Kelopak matanya bergerak, dan mataku langsung dapat menangkap kedua bola mata cokelatnya yang indah.

 

“Kenapa?” tanyanya bingung.

 

“Aku takut…” jawabku.

 

“Takut?”

 

Aku mengangguk.

 

“Kenapa?” ulangnya lagi. Pertanyaan yang sama, ditujukan pada pertanyaan yang berbeda.

 

“Aku takut tak bisa berhenti…” jawabku jujur.

 

Dia tersenyum, sangat cantik. Tangan-tangannya yang mulus semakin erat memeluk leherku. Matanya kembali terpejam. Aku mencoba mengendalikan detak jantungku yang menggila. Tanganku yang memeluk pinggangnya sudah sedikit bergetar. Aku tak kuat lagi dan hampir saja membatalkan niatku untuk menjamah bibir merekah itu. Tapi aku penasaran…

 

Pada akhirnya, aku memejamkan mata juga, lalu menggerakkan wajahku menuju wajahnya yang kecil.

 

Aku berhasil. Bibirku menggapai bibirnya. Kami bersentuhan bibir agak lama, hanya menempel selama beberapa detik. Sebenarnya bukan karena aku tak pernah ataupun tak mahir dalam melakukan hal ini, hanya saja saat ini otakku sedang berputar untuk mencari-cari cara berciuman yang paling elegan dan paling romantis untuk Luhan. Hey, ini adalah ciuman pertamaku dengannya, tentu saja ini harus berkesan, meskipun di masa depan aku akan sering mencium –well-bibirnya ini.

 

Jantungku bergedup kencang, seperti ada aliran kenikmatan yang menjalari seluruh sendi-sendiku. Kupikir, apa yang dikatakan orang-orang tentang dunia akan berhenti ketika kau mencium seseorang yang kau sukai adalah sesuatu yang salah. Karena pada realita yang kudapatkan, aku malah merasa jika dunia dan seisinya seakan hilang saat aku melumat bibir Luhan. Padahal aku sudah pernah –beberapa kali– berciuman dengan gadis yang berbeda-beda, tapi aku belum pernah merasakan sensasi seperti ini sebelumnya. Mungkin karena hanya bibir ini, yang sedang kupagut intens ini, yang paling kuinginkan selama aku mengenal romansa percintaan. Ciuman ini bukan hanya ‘penyempurna’ seperti yang biasa kulakukan pada gadis-gadis yang kukencani. Terhadap ‘mereka’ itu, esensi tentang ciuman sudah punah, sisanya hanya ritual. Tapi dengan si Diva cantik, Si Stripper sexy ini, entahlah…tak dapat kulukiskan dengan kata-kata. Yang pasti adalah, aku masih ingin menciumnya, melumat bibirnya penuh gairah hingga beberapa lama. Aku ingin membelit lidahnya dengan lidahku, lalu akan kuhisap bibir-bibirnya yang menggoda, dan aku akan merealisasikannya saat ini juga, Sekarang!

 

-End Sehun Pov-

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

~***~The Diva~***~

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

Kedua belah bibir itu masih saling berpagut…dalam, basah, bergairah…

 

Sebelah tangan Sehun menekan tengkuk Luhan, memperdalam ciuman mereka, mengecap rasa bibir Luhan yang manis, membuat Sehun semakin menggila. Luhan mendesah tertahan meskipun tangan Sehun tak menjamah ataupun menjelajahi kontur tubuh mungilnya, tapi tubuh mereka yang semakin merapat seiring dalamnya lumatan intens itu membuat Luhan merasakan getar-getar aneh dalam dadanya, yang sangat sulit dia deskripsikan getaran apa itu. Getaran itu menelusup ke sumsum tulang, lalu merambat ke setiap pembuluh vena, berusaha keluar, melesak meminta untuk di bebaskan. Luhan tak pernah mendapatkan sikap selembut ini sebelumnya. Meskipun Masternya yang sebelumnya bersikap ‘baik’ padanya, namun baru kali ini Luhan mendapatkan perlakuan selembut dan sehangat ini.

 

Lidah Sehun tak pernah bosan menari-nari dalam mulutnya, mengajak lidah Luhan ikut serta, menciptakan sebuah ciuman yang indah. Beberapa lama saling membelit lidah, dan nafas keduanya sudah mulai terdengar lelah. Sebuah hisapan dalam, lalu dilanjutkan dengan kecupan-kecupan kecil, menjadi akhir dari ciuman panjang yang baru saja mereka lakukan.

 

Luhan membuka matanya, langsung menemukan mata Sehun yang teduh, yang sedang menangkap bayangan wajah mungilnya saat ini. Banyak yang ingin di tanyakan oleh Luhan. Kenapa Sehun sangat lembut? Kenapa Sehun sangat hangat? Kenapa tak ada perlakuan kasar? Dan kenapa saat ini Sehun tersenyum padanya?

 

“Kau-“

 

Ucapan Luhan menggantung di situ, hanya saja jari-jarinya sudah meremas kemeja Sehun di bagian dada. Luhan agak emosi, dan Sehun bisa menangkap gelagat itu. Senyum hangat Sehun lenyap ketika Luhan membalikkan tubuhnya dengan cepat, membelakangi dirinya.

 

“Sebenarnya apa alasanmu membeliku Sehun?” tanya Luhan frustasi.

 

Sehun mendekat, lalu menarik perut Luhan, membuat punggung sempit itu menubruk dadanya dengan kuat. Bibir tipis Sehun mendarat pada bahu Luhan yang terbuka, mengecup, menjilat, menghisap di sana, hingga sebuah bercak merah tercetak samar pada kulit mulus itu.

 

“Bukankah sudah ku katakana? Aku menyukaimu…”

 

Luhan meringis.

 

“Suka? Suka pada apa? Aku ini pria penghibur, jalang, binal. Tubuhku adalah ‘benda’ untuk di obral. Tapi kenapa kau bersikap lembut padaku? Kau-“

 

Luhan menggantungkan ucapannya disana, membuang nafasnya satu kali.

 

“-mengerikan Sehun….” lanjut Luhan.

 

Sehun terkekeh. Apa Luhan sekarang takut padanya? Semudah itukah Sehun menguasai pria manis ini?

 

Sehun masih diam, tapi bibirnya  sudah menjelajah, mengecup leher, naik ke telinga, membuat Luhan berjengit geli. Kemudian merayap, menciumi pipi Luhan. Pelukannya semakin mengerat, merapatkan tubuh mereka, membuat penis yang sudah terangsang menubruk bongkahan kenyal milik Luhan yang masih berbalut celana. Luhan mendesah tertahan. Luhan dapat merasakannya, gairah pria tampan yang membelinya ini. Luhan jadi mengerti sekarang, jika pria itu jujur. Oh Sehun yang tampan, memang menginginkannya.

 

“Sehun, eunghhh…” keluh Luhan di antara desahan putus asanya.

 

Luhan mulai merasa tak nyaman, dan berusaha melepaskan pelukan ‘pria lembut tapi menakutkan’ baginya itu, namun tak berhasil.

 

“Sehun….kau sudah mendengarnya kan? Aku ini buruk, jalang, binal, menjijikkan. Tak seharusnya kau-“

 

“Kau pernah melihat kupu-kupu?” potong Sehun, berbisik tepat di telinga Luhan.

 

Kupu-kupu?

 

Luhan mulai bingung. Kenapa pembahasan jadi mengarah ke serangga berwarna-warni itu?

 

“Kupu-kupu?” tanya Luhan.

 

“Mmmm…mereka cantik kan?”

 

Luhan bingung, tapi mengangguk.

 

“Kupu-kupu itu seperti kau…”

 

Luhan mengernyit bingung. Luhan mulai berpikir jika Masternya kali ini mungkin sedang mengalami sedikit kelainan jiwa, dan Luhan mulai takut. Usahanya melepaskan pelukan Sehun semakin gencar, tapi Sehun malah mendorongnya ke atas ranjang dan merangkak naik ke atas tubuhnya, menghimpit kuat di atas tubuh mungilnya.

 

“Kupu-kupu itu…kau tau siklus hidupnya Luhan?” tanya Sehun, dengan tatapan mengintimidasinya.

 

Luhan terdiam, masih bingung dengan arah percakapan ini sebenarnya menuju ke mana.

 

“Ulat yang menjijikkan, bermetamorfosa menjadi kupu-kupu. Meskipun orang-orang menganggap ulat sangat menjijikkan, tapi mereka menyukai kupu-kupu. Seperti yang kukatakan tadi, kupu-kupu itu adalah kau Luhan…kau cantik, menarik, mempesona. Kau berasal dari mana, aku tak perduli. Jangan merendahkan dirimu sendiri, terutama di depanku” kata Sehun, tegas.

 

Luhan membeku.

 

“Bukankah kau adalah Diva? Seluruh tubuhmu adalah pesona, dan aku sudah terjatuh lama dan terjatuh sangat dalam Luhan…”

 

“…..”

 

“Aku mencintaimu”

 

Mata Luhan terbelalak.

 

Cinta?

 

 

Cinta?

 

 

“Cinta?” ulang Luhan, dengan getaran samar dalam suaranya.

 

“Ya, sejak lama…sejak dulu, ketika aku mengenalmu pertama kali…” Jawab Sehun, membuat Luhan semakin bingung.

 

“Kita…pernah saling mengenal?”

 

“Hmm…”

 

Luhan menatap Sehun nanar. Dengan sekuat tenaga, Luhan mencoba melepaskan kungkungan tubuh Sehun pada tubuhnya, namun lagi-lagi gagal.

 

“Siapa kau sebenarnya?” tanya Luhan, semakin takut akan ‘tingkah aneh’ Sehun.

 

Sehun tersenyum miring.

 

“Siapa aku? Kau tak ingat?”

 

Luhan mengerutkan keningnya dalam-dalam, lalu menggeleng kecil.

 

Lagi-lagi Sehun tersenyum. Dia turunkan kepalanya, mengecup bibir Luhan satu kali. Ciuman yang dalam dan lama.

 

“Kau akan mengingatnya nanti” kata Sehun setelah menarik wajahnya.

 

Luhan hanya diam. Bola matanya bergerak-gerak liar, efek dari kebingungannya sendiri pada tingkah dan ucapan Sehun.

 

Siapa kau?

 

Siapa kau?

 

Apa hubungan kita?

 

Aku tak mengenalmu….

 

Kenapa kau bilang kalau kau mencintaiku?

 

Kenapa kau cinta padaku?

 

Kenapa Sehun?

 

Siapa kau?

 

Luhan sangat ingin bertanya, namun pertanyaan itu menyangkut di tenggorokan. Luhan hanya mendesah ketika lidah Sehun menjilat-jilat leher dan dua tojolan di dadanya sampai basah.

 

“Aku mencintaimu Lu…” Ulang Sehun lagi.

 

Luhan menelan ludah sekali, lalu…

 

“Tapi aku tidak” jawabnya arogan.

 

Sehun mengangkat kepalanya, mensejajarkan wajahnya pada wajah Luhan, menatap kedua mata rusa itu dalam-dalam.

 

“Tak masalah. Kau punya tubuh, aku punya tubuh. Aku butuh tubuhmu, dan kau juga akan membutuhkan tubuhku. Tubuh telanjangmu di ciptakan bukan untuk dilihat oleh mata-mata nista di luar sana, tapi di ciptakan untuk ku sentuh. Aku akan terus meremas birahimu sampai kau mencintaiku Lu….Cinta bisa tumbuh sebagaimana bisa mati. Kau pasti akan mencintaiku nanti setelah kau kecanduan pada tubuhku…” ucap Sehun panjang lebar sebelum bangkit, menyingkir dari tubuh Luhan.

 

“Ganti pakaianmu, kita akan pulang ke rumah. Aku tak akan membiarkanmu tinggal di sini lebih lama lagi” perintah Sehun tegas, sebelum meninggalkan Luhan sendirian dalam kamar itu, yang masih terlentang dengan pikiran berkecamuk karena kebingungan.

 

Sehun……sebenarnya kau siapa?

 

Hanya itu yang masih jadi pertanyaan Luhan saat ini. Kapan pertanyaan ini akan terjawab?


 

To Be Continued


Advertisements