OTHELLO

Othello

 

.

B
y tmarionlie

.

H
unHan

.

Yaoi | Hurt & Comfort | Romance | Mature


CHAPTER


 

-Luhan Pov-

 

Lagi-lagi aku menatap bayangan diriku sendiri dicermin yang ada dihadapanku. Tapi kali ini aku tak lagi menatap bayanganku dengan wajah terluka seperti kemarin-kemarin. Kali ini aku tersenyum. Aku bahagia.

 

Kubuka perlahan pakaianku, dan lagi-lagi kulihat bayangan yang sama seperti terakhir kali aku menatap bayanganku sendiri di cermin beberapa waktu yang lalu. Seperti sebelumnya, cermin itu lagi-lagi memantulkan bayangan tubuhku yang penuh dengan kissmark-kissmark yang memerah, tapi kali ini adalah murni hasil karya dari Sehun, pria yang sangat kucintai, yang akhirnya menjadi milikku.

 

Kusentuh salah satu kissmark yang terlukis didadaku itu, dan lagi-lagi aku tersenyum. Mataku terpejam, mencoba mengingat lagi setiap detil moment-moment indah yang sudah kulalui dengannya.

 

Saranghae Luhannie…

 

Hatiku menghangat ketika teringat oleh kata-kata Sehun kemarin. Jantungku berdebar dan aliran darahku terasa kian cepat jika memikirkan bahwa Sehun adalah milikku kini. Milik Luhan. Bagus kan?

 

Nado saranghae, Sehunnie…” gumamku sendiri, seolah dia ada didepanku saat ini.

 

Kubuka mataku dan aku berjalan kelemari pakaianku. Kutelusuri lipatan-lipatan shirt milikku yang kini sudah tampak rapi, tak berantakan seperti sebelum-sebelumnya. Kemarin aku pulang ke apartemenku sendiri karena aku telah sembuh dari demamku, dan seharian kemarin Sehun sukses

membuat telingaku terasa gatal dan panas karena dia mengomel terus sepanjang waktu sambil membenahi apartemenku yang acak-acakan. Tak ada sesuatupun yang luput dari omelannya, apalagi saat dia memergoki isi kulkasku yang tak berisi apapun selain cemilan-cemilan aneh dan berpuluh-puluh kaleng minuman beralkohol di dalamnya.

 

 

Tak hanya mengomel, bahkan dia membuang semua ‘anak-anak’ kesayanganku yang selalu kuminum saat aku dilanda stress itu ke tong sampah, dilanjutkan dengan berbagai peringatan keras padaku untuk tidak lagi menyentuh apalagi meminum minuman beralkohol itu seumur hidupku.  Dan sialnya aku tak bisa membantahnya. Yang kulakukan hanya mengangguk pasrah, menuruti segala ucapannya. Sehun memang sangat perhatian, membuatku jatuh cinta berkali-kali padanya seperti ketika aku mencintainya untuk kali pertama. Sehun membuatku gila.

 

 

Aku sudah berpakaian lengkap. Senyum tak pernah luntur dari wajahku ketika aku menatap bayangan diriku sendiri. Aku akan berkencan. Sehun pasti sudah menungguku saat ini. Aku tak tau jika Sehun memiliki rencana bagus seperti ini. Ini sempurna, kencan di hari Minggu dengan cuaca yang cerah dan udara kering yang hangat. Aku tak tau dia akan membawaku kemana, tapi dengan senang hati –tentu saja– aku akan mengikutinya. Ini pertama kalinya dia mengajakku berkencan, semoga saja aku tak mengacaukannya.

 

Aku bergegas keluar apartemenku dan benar saja, kekasihku yang tampan itu sudah menungguku didepan pintu apartemen. Senyumnya langsung terkembang saat melihatku dan tanpa dikomando dia langsung memeluk tubuhku erat-erat.

 

“Kau lama sekali sayang, aku sudah hampir mati karena merindukanmu” katanya –sok– mesra sambil menciumi pipiku.

 

Aku hanya tertawa kecil sebagai respon.

 

“Kita baru berpisah selama satu malam saja Sehunnie…” kataku, kupeluk juga tubuhnya erat-erat. Sebenarnya aku juga sangat merindukannya.

 

“Sedetik pun terasa lama bagiku Lu….” katanya sambil melepaskan pelukannya, melemparkan senyum tampannya sebelum memberikan satu kecupan di keningku.

 

Aku tak tau apa yang harus kulakukan untuk menyenangkannya. Saat ini aku hanya memberikan senyum termanisku untuknya dan Sehun membayarnya dengan memberikan elusan lembut pada pipiku.

 

“Senyuman yang sangat cantik….kita berangkat sekarang?”

 

Aku mengangguk dan Sehun langsung meraih tanganku, menautkan jari-jarinya pada jemariku dan menarikku pergi.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

 

 

Aku mengerutkan kening dan mulai gelisah ketika Sehun membawaku kearah jalan yang sangat kukenali kemana arahnya. Kulirik sekilas 2 buket bunga yang berada di jok belakang yang semakin membuatku yakin Sehun akan membawaku kesana, sebuah tempat yang kumasukkan dalam daftar teratas tempat-tempat yang pantang untuk kukunjungi.

 

Makam Xiao Huo dan Eomma.

 

Kulirik Sehun dengan gelisah dan dia melirikku juga sambil tersenyum. Kubuang wajahku kearah kaca mobil disamping kiriku. Tanganku terkepal dan aku menggigit bibirku sendiri. Aku sangat kesal, sungguh. Aku mencoba menahan emosiku, tapi aku tak bisa menahannya lebih lama ketika mobil yang kami kendarai melaju semakin dekat kearah makam itu.

 

“Berhenti Oh Sehun, aku mau turun!!” kataku sarkatis, mengandung unsur perintah yang tegas di dalamnya.

 

Tak ada jawaban apapun darinya ,dan aku tak tau bagaimana ekspresinya saat ini karena aku tak mau melihat wajahnya sama sekali karena aku sangat kesal.

 

Beberapa menit terlewati, dia tak juga menghentikan bahkan tak mengurangi sedikitpun kecepatan laju mobilnya. Aku menarik nafas dalam dan dengan mantap kuraih handle pintu mobil. Aku ingin nekat melompat keluar karena aku tak ingin kesana. Tapi belum sempat aku melaksanakan niatku Sehun sudah menggenggam tangan kananku dan menahannya, lalu dia menghentikan mobil.

 

Aku menarik kasar tanganku yang dipegangnya dan langsung keluar dari mobil itu. Sekarang kami sedang berada di jalanan yang sekelilingnya hanya terdapat ilalang liar. Aku tak tau ini dimana dan aku harus kemana, tapi aku tetap melangkah meninggalkan Sehun dan mobilnya. Aku sudah menduga sikapku ini memang percuma, karena sekejap saja Sehun sudah memelukku dari belakang dengan sangat erat.

 

“Kau mau kemana?” tanyanya lembut.

 

“Entahlah…tapi i aku tak mau ikut denganmu…” jawabku.

 

“Kenapa?” tanyanya masih dengan nada yang sama.

 

Aku melepaskan pelukannya dengan kasar dan langsung berbalik menghadapnya.

 

“Jangan kau pikir aku ini bodoh Oh Sehun! Aku tau kau akan membawaku kemana dan aku tak mau pergi kesana. Aku tak suka!” kataku setengah berteriak.

 

Sehun tak menjawab dan hanya menatapku dengan tatapan lembutnya. Aku membuang tatapanku kearah kanan, menghindari tatapannya.

 

“Aku tak suka…” kataku pelan tanpa melihatnya.

 

 

“….”

 

“Jangan bawa aku kesana Sehun….kumohon….” lanjutku dengan suara bergetar, aku sudah hampir menangis.

 

Sehun tak menjawab, tapi sedetik kemudian dia sudah meraihku kedalam pelukannya.

 

“Jangan begini Luhannie….jangan terlalu keras berusaha membohongi dirimu sendiri…kumohon ikutlah denganku agar kau tak menyesal” katanya lembut padaku.

 

Aku menarik diriku dari pelukannya dan lagi-lagi membuang pandanganku kearah lain.

 

“Aku membenci mereka Sehun..Kau juga tau kan?”

 

“Itu tidak benar. Kau bohong Lu”

 

Aku menatap Sehun dengan kesal.

 

“Kau tak tau apapun, kau tak mengenalku! Jika kukatakan aku benci mereka berarti aku benar-benar membenci mereka! AKU BENCI MEREKA!!!” teriakku emosi.

 

“Kau bohong Luhan! Kau menyayangi mereka, kau merindukan mereka!”

 

 

PLAKKK!!!

 

 

Tanganku terasa panas setelah aku menampar wajah Sehun dengan keras. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya akibat aku menamparnya terlalu keras. Dia memegangi pipinya dan menyeka sedikit darah yang keluar itu, lalu tersenyum lembut lagi padaku.

 

“Tamparanmu lumayan keras sayang” katanya.

 

Aku menggigit bibirku dan mengepalkan tanganku yang menamparnya tadi. Sedikit perasaan menyesal karena telah memukulnya, hinggap dirongga dadaku.

 

“Aku ingin pulang” kataku pelan.

 

“Tidak sebelum kau menemui Siyan dan Eomma-mu” jawabnya tegas.

 

Air mataku mulai menetes.

 

“Kenapa kau tega melakukan ini padaku Sehuna? Kau sudah berjanji tak akan melukaiku lagi…kau mau mengingkarinya?” tanyaku sambil menahan isakanku.

 

Sehun menangkup wajahku dan menyeka airmataku dengan ibu jarinya.

 

“Tidak Lu….aku tak akan mengingkari janjiku…”

 

“Tapi sekarang kau menyakitiku lagi….”

 

Sehun terdiam.

 

“Kau tak mengerti seberapa berat luka yang kutanggung sejak mereka berdua pergi meninggalkanku…aku tak punya sandaran hidup Sehun…aku kesepian…”

 

“….”

 

“Mereka membiarkanku tinggal bersama Appa yang buruk, seorang Appa yang tak pernah peduli padaku…yang hanya bisa menyakitiku, yang selalu membanding-bandingkanku dengan Xiao Huo, dan memukuliku seperti memukuli hewan ketika aku nakal…”

 

“….”

 

“Bahkan Appa tak peduli saat aku merintih kesakitan dengan tubuh yang memar-memar membiru setiap harinya karena kelainan sex yang diderita istri barunya…”

 

Tanpa kusadari, kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirku. Tak perlu melihat, aku yakin jika Sehun pasti sangat shock saat ini. Oleh karena itu dia…

 

“Ap-apa yang baru saja kau katakan?” tanyanya.

 

Aku tersenyum miris dengan airmata yang masih bercucuran.

 

“Sepuluh tahun….itu usiaku ketika Appa memutuskan menikah dengan wanita itu. Sejak saat itu pula aku menjadi budak sex wanita pedofil maniak itu…Aku dipaksa memuaskannya dan tubuhku juga dipukuli, tch! Tapi dia selalu membayarku setiap habis menuntaskan hasrat sex-nya. Tidakkah kau fikir aku terdengar seperti pelacur kecil Sehun? Wanita itu memperlakukanku seperti pelacur Sehuna….hiks…hiks….”

 

Tangisanku mulai menguat, membuat pelukan Sehun menjadi semakin erat. Sehun juga menangis bersamaku.

 

“Astaga Lu…hiks…Luhan…Ya Tuhan…Luhannie…” isaknya.

 

Aku membalas pelukan Sehun dengan erat juga. Tubuhnya seolah memberikan kekuatan padaku untuk bertahan dengan nasibku yang mengenaskan ini.

 

“Semua yang kau katakan benar…Aku menyayangi Eomma dan Hyung…Aku sangat merindukan mereka Sehun….Aku tak bisa menerima kenyataan kalau mereka benar-benar telah pergi meninggalkanku….Aku sudah berusaha keras melupakan mereka dan meyakinkan diriku agar membenci mereka demi mengurangi luka yang kutanggung…Aku berharap itu dapat membuatku bisa melepaskan kematian mereka dengan lebih ringan, tapi ternyata sangat sulit. Setiap malam aku memimpikan mereka Sehuna…A-aku tak mau melihat makam mereka….hiks…Aku tak mau, aku tak sanggup…A-aku….apa yang harus kulakukan?”

 

 

“….”

 

Sehun tak menjawabku. Dia hanya terisak bersamaku, memelukku erat-erat seolah ingin mengungkapkan padaku jika dia juga merasakan sakit yang sama seperti yang kurasakan.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

Aku menyandarkan kepalaku kedada Sehun dan memejamkan mataku. Kunikmati belaian tangannya pada kepalaku. Sesekali dia mengecupi kepalaku, mencoba menunjukkan jika dia sangat menyayangiku, membuat hatiku terasa sangat hangat.

 

Aku merasa lelah…mataku juga sudah sangat bengkak. Seharian tadi aku menangis di depan makam Hyung dan makam Eomma. Sekarang perasaanku sudah agak lega. Aku sudah meminta maaf pada mereka tadi. Meminta maaf karena aku tak pernah mengunjungi mereka. Meminta maaf karena selama ini aku telah salah langkah karena berusaha membenci mereka. Aku sudah mengungkapkan kalau aku sangat menyesal. Dan aku berjanji akan lebih sering mengunjungi mereka mulai dari sekarang. Aku juga mengenalkan Sehun pada mereka…mengenalkannya sebagai seseorang yang sangat kucintai.

 

Kuraih jemari Sehun dan menggenggamnya erat. Aku tak tau apa jadinya jika aku tak memiliki kekasih sebaik Sehun. Aku sangat beruntung memilikinya disisiku. Aku harus berterima kasih.

 

“Terima kasih Sehunnie…Karena kau aku bisa bertemu dengan Eomma dan Xiao Huo Hyung” kataku tulus.

 

Sehun hanya diam. Ditariknya tanganku lalu dikecupnya sekilas, kemudian dia memelukku erat-erat. Hangat nafasnya menerpa-nerpa kulit pipiku. Pelukan tangannya pada perutku membuatku hangat.

 

“Seandainya kecelakan itu tak terjadi, pasti aku masih bisa melihat Xiao Huo Hyung saat ini dan meminta maaf padanya. Aku juga mungkin masih sempat mengatakan kalau aku sangat menyayanginya…”

 

Sehun tertawa kecil, lalu mengecup pipiku sekilas.

 

“Tidak sayang….kalaupun dia tak meninggal dalam kecelakaan itu, kau akan tetap kehilangannya…”

 

Aku terdiam, bingung dengan ucapan Sehun barusan.

 

“Kau akan tetap kehilangan kakakmu, karena Siyan sakit Lu…”

 

Aku membeku. Jantungku langsung berdetak tak normal, perasaanku tak enak. Dan benar saja, hanya dalam sekejap jantungku langsung terasa mati saat Sehun melanjutkan kata-katanya.

 

“Siyan mengidap kanker usus besar sejak menginjak usia 10 tahun….sejak orangtuamu lebih memperhatikannya dan mulai mengabaikanmu”

 

Aku melepaskan pelukan Sehun dan menatapnya dengan wajah tak percaya.

 

“Ja-jadi…D-dia…”

 

Sehun mengusap-usap kepalaku lembut dan tersenyum.

 

“Siyan juga menderita sayang, sama seperti kau. Dia sangat sedih saat adik yang menyayanginya perlahan menjauhinya. Dia bahkan menceritakan bagaimana perasaan sayangnya padamu sampai dia menangis sesenggukan di hadapanku. Dia sangat merindukanmu Luhan…”

 

Aku tak tau lagi bagaimana mengungkapkan perasaanku. Hatiku terasa terkoyak, teriris lebar sampai berdarah-darah. Air mataku mulai menetes lagi. Aku sudah tak mampu bicara lagi. Aku hanya bisa menangis, menangisi kebodohanku.

 

“Dia bilang dia sangat merindukan Xiao Lu, adiknya yang selalu melindunginya. Dia bilang berpisah dengan Xiao Lu seperti kehilangan separuh nyawanya. Siyan bahkan meminta pada ayah tirinya agar berusaha mempertemukannya denganmu sebelum penyakit kanker itu benar-benar membunuhnya. Dia ingin meminta maaf padamu Luhan…Dia ingin mengatakan kalau dia sangat menyayangimu karena saat itu dokter bilang sisa waktunya hanya kurang dari setahun…Karena itu

ayah tirinya meminta pada pihak sekolahmu yang dulu agar mentransfermu kesekolah kami saat tahun ajaran baru, yang berarti masih menyisakan 6 bulan umurnya agar bisa bersama denganmu, tapi…ternyata takdir berkata lain. Tuhan sudah menjemputnya lebih dulu sebelum kalian sempat bertemu.

 

 

“Hiks…”

 

 

Sehun membelai kepalaku lagi, lalu mengusap bulir-bulir airmataku dengan raut menyesalnya.

 

“Ketika kau menuduhnya meninggalkanmu, coba kau ingat lagi, benarkah Siyan yang meninggalkanmu atau kau yang menolaknya?” kata Sehun lagi, yang sukses membuat tangisanku semakin dalam.

 

Aku mulai sesenggukan. Kepalaku berputar-putar. Dalam sekejap memori menyakitkan itu hinggap dikepalaku, seperti film yang sedang berputar.

 

 

.

 

 

.

 

 

Flashback

 

 

“Eomma…..Aku tak mau pergi. Jangan pisahkan aku dengan Xiao Lu….”

 

Xiao Huo meronta-ronta dari pelukan Eomma. Tangannya menggapai-gapai kearahku, namun aku hanya diam, menatapnya dengan tatapan datar dan tanpa minat.

 

“Lepaskan aku Eomma! Xiao Lu, tolong aku !!!” jeritnya padaku, lalu dia menangis frustasi.

 

Tapi aku hanya menatapnya dingin, walaupun aku juga menangis. Aku tak mengerti dengan diriku, tapi aku merasa semua kekacauan ini terjadi karena Xiao Huo, semua karena dia.

 

“Xiao Lu, tolong aku…Aku tak mau pergi…Eomma…jangan pisahkan aku dengan Xiao Lu…Jangan…Kumohon…” tangisan Xiao Huo terdengar sangat menyayat, tapi aku tetap tak bergeming.

 

Entah bagaimana akhirnya Eomma melepaskan Xiao Huo hingga tubuh kurusnya itu langsung berlari kearahku dan menubrukku dengan kuat. Xiao Huo memelukku dengan sangat erat.

 

Aku bisa merasakan dengan jelas kalau dia memang sungguh-sungguh tak mau berpisah denganku. Aku sebenarnya juga sangat ingin memeluknya. Demi Tuhan aku sangat menyayanginya, tapi egoku tak sejalan dengan hatiku.

 

Perasaan muak karena dia diperlakukan segala-galanya dibandingkan aku membuatku sangat kesal, membuat sekeping perasaan iri itu melebar hingga aku yakin jika aku mulai membenci keberadaannya. Karena itu aku…

 

 

BRUKKK!!!

 

 

Kudorong tubuh kurusnya dengan kasar sampai dia mengaduh kesakitan. Matanya menatapku terkejut.

 

“Akan lebih baik bagiku jika kau pergi Hyung! Kau itu lemah, kau hanya bisa merepotkanku….sudah cukup aku melindungimu selama ini, dan sekarang aku sudah muak melakukannya. Jadi pergilah dari hidupku, lebih cepat kau pergi, itu jauh lebih baik bagiku!” kataku kejam, ketika itu. Padahal dalam hati aku menjerit, memaki segala ucapan yang telah kukeluarkan untuknya, belahan jiwaku itu.

 

Xiao Huo terlihat membeku sekejap. Tubuhnya melemas, hingga akhirnya dia mulai menumpahkan airmatanya lagi.

 

“Ta-tapi aku tak mau pergi….aku sayang padamu Xiao Lu…”katanya terisak-isak.

 

“TAPI AKU MEMBENCIMU!!!” bentakku padanya, yang membuatnya sangat terkejut sampai tubuh ringkihnya itu bergetar hebat.

 

“Xi-Xiao Lu…”

 

“AKU BENCI KAU HYUNG…JADI CEPATLAH PERGI. AKU MUAK MELIHATMU!!!” teriakku dengan airmata yang sudah mengucur deras. Hatiku sangat sakit saat aku mengatakan kalau aku membencinya, sungguh…

 

Sekian lama memandangi lantai dengan tatapan terluka dan tubuh bergetarnya, Xiao Huo mengusap airmatanya, lalu berdiri dari jatuhnya tadi dan memberikan senyum terlukanya padaku.

 

“Maaf…Maafkan aku adikku…maafkan aku jika selama ini aku hanya bisa merepotkanmu…..maafkan aku jika sikapku membuatmu muak dan membenciku. Aku memang tak berguna….maafkan aku Xiao Lu…Mungkin kau akan sangat muak mendengar ini, tapi sungguh…Aku sangat sayang padamu….” katanya sebelum tubuhnya berbalik, menyembunyikan buliran airmata kesakitannya dan pergi menjauh dariku.

 

Tubuh kecilnya menjauh, menghilang bersama tubuh Eomma yang menuntunnya pergi. Aku lemas setelah tubuh mereka tak tampak lagi. Tubuhku merosot jatuh kelantai yang dingin dan aku menangis sekencang-kencangnya, tak memperdulikan Appa yang marah-marah dan menyuruhku bangkit sampai dia bosan menyuruhku lalu dia pergi.

 

“Eomma….Hyung….jangan pergi….jangan tinggalkan aku…kembalilah…kumohon…hiks….” rintihku sendirian saat itu sambil terbaring dilantai yang dingin dan memeluk lututku. Aku

menangis tanpa henti sampai aku lelah dan jatuh tertidur di atas lantai yang dingin itu.

  

End Flashback

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

Sehun mengusap airmataku berkali-kali. Walaupun sia-sia karena airmataku tak mau berhenti mengalir.

 

Menyesal……itulah yang kurasakan saat ini. Aku ingin berteriak, tapi aku sudah tak mampu. Yang bisa kulakukan hanyalah menangis dan menangis, menyesali kebodohanku sendiri.

 

“Sudahlah…..jangan menangis lagi sayang….kau sudah terlalu banyak menangis hari ini Lu..”bujuk Sehun, mencoba menenangkanku.

 

Dia mengangkat tubuhku, membawaku ke kamarnya, karena saat pulang tadi keadaanku memang sangat kacau, jadi dia membawaku lagi ke apartemennya. Sehun membaringkan tubuhku ke atas ranjangnya, lalu ikut berbaring dan memelukku merapat pada tubuhnya.

 

“Sttt…jangan menangis lagi sayang….” bisiknya lagi.

 

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

 

Aku menatap punggung Sehun dalam diam. Saat ini kekasihku itu sedang menuangkan sereal dan susu kedalam mangkuk untuk sarapanku pagi ini. Semalam aku kembali menginap diapartemennya. Aku sudah berpikir semalaman, dan aku memutuskan akan menata kembali hidupku yang sudah sangat kacau selama 7 tahun ini. Aku akan menjadi seseorang yang lebih baik, demi Xiao Huo Hyung, demi Eomma…dan demi Sehun juga…

 

“Buka mulutmu sayang…” kata Sehun, menyuapi sereal itu kemulutku.

 

Aku tersenyum, membuatnya menatapku dalam-dalam. Munginkah dia sedang terpana oleh senyumku?

 

“Wuahh…mimpi apa aku semalam, sepagi ini sudah dihadiahi dengan senyuman yang sangat cantik dari kekasihku ini…” godanya.

 

Aku tertawa melihat ucapan konyolnya.

 

“Tapi sebuah senyuman tak terlalu memuaskan Luhan…Jadi bolehkah kau memberi bonus lebih untukku sayang?”

 

“Bonus? Apa yang kau inginkan?” tanyaku.

 

Give me one kiss, Love…”

 

Okay, as you wish My Prince…” jawabku sambil menarik wajahnya dan mengecup bibir tipisnya sedikit lama.

 

Sehun terkekeh disela-sela ciuman kami. Ditahannya tengkukku dan dia lumat bibirku, membuatnya mengerang nikmat ketika aku membalas setiap serangannya. Kami berciuman agak lama, meresapi perasaan cinta yang sangat dalam pada diri kami sendiri, sampai suara bel mengacaukan romantisme yang telah kami buat.

 

Sehun melepaskan tautan bibir kami dan tersenyum.

 

“Kurasa Eomma sudah datang….” katanya.

 

Eomma?” tanyaku.

 

“Mmm...Eomma-ku ingin bertemu denganmu” katanya.

 

“Ta-tapi Sehun…” kataku khawatir.

 

Sehun terkekeh geli, lalu kembali mengecup bibirku satu kali.

 

“Tenang sayang...Eomma dan Appa tau kalau aku seorang gay….”

 

“O-ohh….begitu…” kataku sedikit lega.

 

Sehun mengangguk dan menepuk kepalaku satu kali.

 

“Aku akan membukakan pintu, tunggu sebentar ya” katanya sambil berlalu.

 

Aku mengangguk. Aku sebenarnya merasa agak aneh. Jadi Sehun tak merahasiakan orientasi seksualnya yang menyimpang dari kedua orangtuanya? Dan dari cara Sehun berbicara, sepertinya orangtuanya juga tak mempermasalahkan hal itu.

 

Kau sungguh beruntung Xi Luhan– batinku.

 

Aku mengambil gelas susuku yang berada dimeja dan mengabaikan serealku. Samar-samar kudengar suara Sehun yang sedang berbicara dengan seorang wanita. Itu pasti suara Eomma-nya kan?

 

Eomma….kau sudah datang?”

 

“Eo…jadi mana kekasihmu yang cantik itu?”

 

“Ah…itu dia”

 

Tentu saja….aku berani bertaruh kalau saat ini mereka berdua pasti sedang menatap punggungku karena semua sisi ruangan terlihat dengan jelas diapartemen yang tidak memiliki dinding ini. Aku masih bertahan diposisiku yang membelakangi mereka, masih sibuk dengan gelas susuku, hingga kudengar lagi suara Sehun…

 

“Itu dia Eomma…kekasihku yang cantik…”

 

Aku tersenyum mendengar kata-katanya. Aku cantik? Lucu sekali…

 

“Namanya si cantik ini adalah-” lanjut Sehun, bersamaan dengan tubuhku yang berbalik menghadap mereka.

 

“-Xi Luhan”

 

 

PRANGGG!!!!!

 

 

Tiba-tiba gelas yang kupegang jatuh dan hancur berkeping-keping bersamaan dengan ucapan Sehun yang menyebutkan namaku barusan.

 

Mataku terbelalak saat melihat ibu Sehun. Dan ibunya juga tampak sangat terkejut ketika melihatku.

 

E-Eomma…” ucapku pelan.

 

Jangan salah mengartikan. Ucapanku barusan bukanlah pertanyaan karena aku ingin menanyakan apakah dia sungguh-sungguh ibunya Sehun atau bukan, tapi itu adalah sebuah panggilan, karena aku juga memanggil wanita itu dengan sebutan yang sama…

 

Eomma….

 

Dia adalah wanita itu…Si Pedofilia itu. Kenapa dia ada disini? Jai dia….ibunya Sehun? Ibu tiriku?

 

Apa lagi ini Tuhan?

 

Baru saja aku merasa bahagia karena Kau mengirimkan Sehun untukku…

 

Lalu apa lagi ini?

 

Ya Tuhan….aku bisa gila!

 

Entah apa yang terjadi denganku, tiba-tiba kepalaku terasa berputar-putar. Aku pusing, dan sekejap saja, segalanya menjadi gelap. Tubuhku ambruk ke lantai. Aku pingsan.


 

To Be Continued 


A/N : Big Thanks to Ferina Rindhi ( Oh My Lady Design ) 

 

Advertisements