OTHELLO

Othello

.

B
y tmarionlie

.

H
unHan

.

Yaoi | Hurt & Comfort | Romance | Mature


CHAPTER 8


 

Previous Story :

 

Sehun menarik tubuh Luhan kepangkuannya, dan Luhan hanya diam tak menolak. Tangan Sehun melingkari perut Luhan yang datar, hidung mancungnya menghirup aroma leher Luhan dalam-dalam, sebelum akhirnya mengecup leher Luhan dengan lembut.
“Maafkan aku Luhan…kumohon…berikan satu kesempatan padaku untuk berubah….aku berjanji aku tak akan melukaimu lagi….”

“…..”
Sehun membalikkan tubuh Luhan agar menatapnya. Dibelainya pipi Luhan  yang pucat, lalu menempelkan dahinya kedahi Luhan.

“Maafkan aku…Aku mencintaimu Lu…”

Sehun mengucapkan kata-kata itu sebelum bibirnya bertemu dengan bibir Luhan. Sehun mengecup bibir Luhan lama dan Luhan hanya diam tak menolak. Sehun mulai menggerakkan bibirnya, melumat bibir Luhan dengan lembut, membuat Luhan lupa caranya bernafas untuk sekejap. Pernyataan cinta itu, dan ciuman ini….

 

Luhan melayang. Dengan perasaan yang campur aduk, Luhan memejamkan matanya dan mulai membalas ciuman itu…


 

 ~***~Othello Chapter 8~***~


Luhan merasa jantungnya berdenyut kuat saat Sehun mengucapkan kata-kata cinta untuknya. Salah dengarkah dia? Tapi sepertinya tidak. Luhan sangat yakin kalau Sehun baru saja mengatakan Aku mencintaimu padanya. Luhan menjadi semakin yakin karena sedetik kemudian Sehun sudah mengecup bibirnya, lama. Seketika perasaannya menjadi aneh, mirip seperti perasaan ketika dia mendapat juara pertama kompetisi dance saat dia berumur 8 tahun. Hanya saja saat ini perasaan itu jauh lebih kuat ketimbang ketika dia memenangkan kompetisi dance itu dulu.

 

Apakah artinya dia merasa bahagia? Luhan tak bisa mengartikannya dengan jelas. Pria mungil itu hanya mencoba menikmati sensasi aneh yang dia rasakan saat ini. Dan saat bibir Sehun mulai bergerak melumat bibirnya, Luhan hanya menutup mata, merasakan manisnya sentuhan bibir tipis Sehun pada bibirnya sendiri, meskipun dia hanya diam menerima ciuman itu tanpa berniat membalas. Luhan merasa tubuhnya seperti melayang ketika Sehun melumat bibirnya dengan sangat lembut dan pelan-pelan, seolah bibir Luhan adalah sesuatu yang sangat rapuh dan mudah robek jika disentuh dengan sentuhan yang sedikit kasar.

 

Tangan Luhan terangkat, lalu mendarat dikedua bahu Sehun. Dengan keinginannya sendiri, Luhan mulai menggerakkan bibirnya, membalas lumatan-lumatan pria albino itu sama lembutnya. Tangan Sehun yang memeluk erat pinggang Luhan, menjadi semakin erat lagi saat merasakan Luhan mulai membalas ciumannya. Sehun menarik pinggang Luhan agar semakin merapat ke tubuhnya, lalu ciumannya semakin dia perdalam. Sehun sedikit merasa lega dengan situasi ini. Luhan tak menolaknya, mungkin saja pria mungil itu sudah mau menerima dan memaafkannya kan?

 
Kedua pria tampan –yang satunya cantik– itu kini mulai menikmati ciuman mereka. Kepala mereka sudah bergerak kekanan dan kekiri, saling menyesap bibir lawannya dengan bergairah. Beberapa menit terlewati hingga Sehun mulai merasa sesak dan melepaskan tautan bibir mereka, lalu mengalihkan ciumannya kedagu Luhan. Bibirnya menjalar semakin turun keleher seiring waktu yang terus berdetak. Sehun mencumbui leher Luhan dengan lembut. Hanya mengecupinya di beberapa tempat, tanpa berniat menghisap leher yang masih memperlihatkan banyak bekas kissmark yang sudah mulai menguning itu.

 
Dan Luhan, pria mungil itu memejamkan matanya, mendongakkan kepalanya keatas, agar memudahkan Sehun mengeksplorasi setiap inci dari kulit lehernya. Tangan mungilnya memeluk leher Sehun, dan jari-jarinya yang lentik sedang membelai tengkuk Sehun yang jenjang.

 

“Enghhhhh….” erangan kecil keluar dari bibir mungil Luhan saat lidah basah Sehun menjilati cuping telinganya.

 
Tapi ditengah-tengah kenikmatan itu, tiba-tiba kata-kata Sehun 3 hari yang lalu kembali terngiang-ngiang ditelinganya.

 

 

Dasar pembual!

 

Luhan menggigit bibirnya saat ingatan itu kembali menyeruak di dalam kepalanya.

 

Kau pembohong Xi Luhan, kau licik!

 



Luhan mencengkram bahu Sehun dengan kuat saat mengingat kata-kata itu. Entah mengapa tiba-tiba hatinya terasa perih ketika kata-kata itu kembali terngiang-ngiang di telinganya.
Kau sangat murahan Xi Luhan, kau buruk! Aku benar-benar tak menyukainya…

 



Airmata Luhan mulai menetes. Pria mungil itu tersadar. Dirinya memang murahan, terbukti dengan keadaannya saat ini. Hanya karena Sehun mengucapkan kata-kata cinta untuknya saja Luhan sudah langsung menurut pada Sehun. Bahkan Luhan merasa bahagia? Menggelikkan.

 

Luhan membuka matanya yang sedikit basah dan langsung mendorong Sehun dengan kasar, membuat pria pucat itu terkejut dan lebih terkejut lagi saat melihat Luhan menangis.

 

“Luhan? Ada apa? Mengapa menangis? Apa aku menyakitimu lagi? Maafkan aku, aku tak bermaksud menyakitimu” kata Sehun panik.

 

Luhan hanya diam menunduk, sambil menggigit bibirnya sendiri.

 

 

 

“Jangan menangis lagi…kumohon…” bujuk Sehun. Jari-jarinya menghapus setiap bulir air mata yang jatuh itu berkali-kali.

 

 

 

Luhan mengangkat wajahnya, menatap wajah Sehun dengan raut wajah sedihnya. Ditatapnya wajah Sehun lama. Luhan mencoba mencari sesuatu yang mungkin bisa membuatnya membenci pria pucat itu. Tapi tak ada. Semakin Luhan menatap Sehun, semakin besar pula perasaan cintanya untuk pria itu. Sehun menangkup kedua pipi Luhan dan mengelusnya pelan dengan kedua ibu jarinya.

 

“Maafkan aku jika aku melakukan kesalahan lagi…” kata Sehun lembut.

 

Luhan menatap mata Sehun dan masih diam, tapi beberapa detik setelahnya tangannya sudah terangkat, menyingkirkan tangan Sehun yang menangkup pipinya. Luhan beranjak dari pangkuan Sehun dan langsung membalikkan tubuhnya, berjalan menjauhi Sehun. Tapi untungnya Sehun dengan sigap berlari dan menahan tangannya.

 

“Lu….kenapa? Apa yang salah?”

 

“…”

 

“Kau marah karena aku menciummu?”
 

“…”

 

“Dengar, aku tak bermaksud melecehkanmu Lu, sungguh! Aku hanya ingin menunjukkan kalau aku bersungguh- sungguh dengan ucapanku…Aku tak akan menyakitimu, aku bersumpah!”

 

“…”

 

“Aku mencintaimu”

 

Jantung Luhan berdenyut sakit saat mendengarnya.

 

“Aku sangat mencintaimu Luhan, kau dengar itu?”

 

Luhan menahan nafasnya, mencoba menahan airmatanya kembali jatuh. Jadi Sehun mencintainya? Mimpikah dia?

 

“Aku sangat mencintaimu, melebihi nyawaku sendiri…percayalah padaku…”

 

Suara Sehun terdengar bergetar, seperti ingin menangis.

 

Luhan menarik tangannya dari genggaman Sehun.

 

“Sudah terlambat Sehun…maaf…tapi sekarang aku membencimu…”

 

 

 

Bohong.

 

 

“…”

 

“Aku sangat benci padamu Sehun, jadi mulai sekarang menjauhlah dariku”

 

Luhan kembali melangkah.Tapi….

GREPP!!!

Luhan tersentak. Sehun memeluknya sangat erat dan…….menangis?

 

“Jangan membenciku…”

 

Luhan membeku, tak tau harus melakukan apa.

 

“Kumohon….” kata Sehun lagi.

 

Luhan mencoba melepaskan diri dari pelukan Sehun, tapi pria pucat itu semakin erat memeluknya.

 

“Lepaskan aku”

 

“Tidak”

 

“Kau sudah membuangku Sehun….Jangan memungut sesuatu yang sudah kau buang, karena sesuatu itu pasti sudah rusak. Begitu juga aku….”

“Maaf”

“Hatiku sudah sangat hancur”

 

“Aku akan menyusunnya kembali untukmu Lu…Berikan aku satu kesempatan untuk membahagiakanmu, aku tak akan melukaimu lagi, aku janji” Kata Sehun, tak mau menyerah.

 

 

 

Luhan membuang nafasnya.

 

“Sehun, lepaskan aku!” kata Luhan lagi, dengan nada perintah yang tegas kini, tapi  Sehun menggeleng, menolak.

 

 

“Dengarkan aku Oh Sehun, aku benar-benar ingin membencimu, jadi kumohon jangan begini”

 

“Tidak! Kau yang jangan begini! Aku tau kau mencintaiku juga Lu!”

 

Luhan mendecih, meremehkan ucapan Sehun.

 

“Sepertinya baru kemarin kau mengataiku pembual karena aku mengatakan kalau aku mencintaimu, jadi kenapa sekarang kau yang seperti ini? Kau sangat labil” sindir Luhan.

 

“Maaf…saat itu aku hanya merasa sangat marah. Aku cemburu Lu…Aku sudah mencoba mengabaikan perasaanku saat melihat kau berciuman lagi dengan namja tinggi itu, tapi lagi-lagi aku kalah dan tak mampu menahan emosiku”

 

 

 

Dahi Luhan berkerut dalam.

 

Lagi?” tanya Luhan, merasa janggal dengan ucapan Sehun barusan.

 

“Mmm…sejak awal melihat kalian berciuman aku sudah merasa sangat cemburu, aku tak suka melihat orang lain menyentuhmu…”

 

Luhan melepas paksa tangan Sehun yang memeluk pinggangnya dan membalikkan tubuhnya, menatap wajah Sehun dengan tatapan aneh.

 

“Mak-maksudmu…kau itu….” Luhan tak yakin dengan isi otaknya sendiri.

 

“Ya, aku sudah mencintaimu jauh sebelum kau mengatakan kalau kau mencintaiku” kata Sehun.

 

Luhan membelalakkan matanya tak percaya. Jantungnya berdebar sangat kencang. Luhan mendadak lupa bagaimana caranya bernafas saat ini.

 

“Jangan menipuku Sehun! Lagipula i-itu mustahil…”

 

Sehun menangkup pipi Luhan.

 

“Aku tau ini sulit dipercaya, tapi aku serius…. Kau tau, aku sudah sejak lama mengenal sosokmu dari Siyan, dan aku sudah mencintaimu sejak pertama kali dia menceritakan tentangmu padaku”

 

Luhan menepis tangan Sehun dan membuang wajah, tak suka saat Sehun menyebut nama saudara kembarnya itu.

 

“Apapun yang dikatakannya tentangku semuanya pasti salah!” kata Luhan ketus.

 

Sehun mengelus rambut Luhan.

 

“Tidak, aku tau itu benar….dia bilang kau-”

 

“Hentikan! Aku tak mau mendengarnya!” potong Luhan cepat.

 

Sehun mendesah pelan.

 

“Kau tak boleh begini terus…berhentilah membenci kakakmu sendiri”

 

Luhan menarik nafas dalam, dia merasa sedikit emosi.

 

“Aku sudah pernah bilang padamu jangan pernah menyebut namanya didepanku…jika kau membahas tentang dia terus-menerus maka aku akan-”

 

“Baiklah! Aku tak akan membahasnya lagi” potong Sehun cepat.

 

Luhan terdiam, bingung dengan perasaannya.

 

“Benarkah…kau..umm..mencintaiku?” tanya Luhan memastikan.

 

“Kau ingin aku melakukan apa agar kau bisa mempercayai ucapanku?” tanya Sehun.

 

 

 

Luhan meringis.

 

“Entahlah, aku tak tau…” kata Luhan, lalu menunduk.

 

Luhan menatapi lantai yang polos. Entah mengapa dia merasa dirinya tak pantas dicintai oleh pria pucat didepannya ini.

 

“Sehun… bisakah kau jangan mencintaiku? Aku tak pantas untukmu…a-aku namja kotor …” kata Luhan sambil menggigit bibirnya, sedikit merasakan perih menghujam hatinya ketika mengingat siapa dirinya jka dibandingkan dengan Sehun.

Sehun membuang nafas sekali, lalu kembali meraih Luhan kedalam pelukannya.

 

“Aku akan melakukan apapun yang kau minta, asal jangan menyuruhku berhenti mencintaimu karena sampai kapanpun aku tak akan pernah mau melakukannya” tolak Sehun tegas.

 

“Tapi aku-”

 

“Aku tak peduli” potong Sehun, lalu mengecup puncak kepala Luhan.

 
Luhan hanya diam, tapi tangannya terangkat secara perlahan dan membalas pelukan Sehun.

 

Saranghae, Luhannie…”

 

 

“…”

 

 

 

“Kau mau memaafkanku kan?” bisik Sehun pelan ditelinga Luhan.

 

“Aku tak tau…hanya pegang saja janjimu untuk tak menyakitiku lagi” jawab Luhan.

 

“Ya, aku janji…”

 

Luhan memeluk Sehun semakin erat. Beberapa lama mereka bertahan dalam posisi itu, saling membagi kehangatan dari tubuh mereka masing-masing, sampai akhirnya Sehun kembali bersuara.

 

“Aku akan membahagiakanmu”

 

Luhan terdiam lama, lalu melepaskan dirinya dan menatap mata Sehun, berusaha mencari kebohongan disana. Tapi Luhan tak menemukannya. Akhirnya Luhan mengangkat tangannya sendiri, meraba wajah Sehun sesaat, sebelum akhirnya menarik wajah pria pucat itu dan mengecup bibirnya. Sehun terdiam, tapi sesaat kemudian sudut-sudut bibir tipisnya terangkat, mengukir sebuah senyuman yang dibalas dengan senyuman pula oleh Luhan. Sehun kembali mendekat, mengecup bibir Luhan sekilas lalu menempelkan dahinya kedahi Luhan saat ciuman itu terlepas.

 

“Terima kasih sudah mau menerimaku…Aku mencintaimu…” bisik Sehun.

 

“Terima kasih karena mencintaiku….Aku juga mencintaimu….” balas Luhan.

 

Sehun membawa Luhan kembali ke pelukannya. Dia merasa sangat lega dan senang saat ini. Luhan mencintainya, dan akhirnya menjadi miliknya, apa lagi yang lebih membahagiakan daripada itu?

 
“Aku pusing” rengek Luhan.

 

Sehun melepaskan pelukannya dan memegang kening Luhan.

 

“Kau masih demam sayang, tentu saja pusing…Dokter sekolah tadi memberikan obat untukmu, kau harus segera memakannya, heumm?”

 

“Tidak mau, aku tak suka obat Sehuna” tolak Luhan dengan poutan imutnya, membuat Sehun jadi geli sendiri.

 

“Jangan manja Lu, bukankah kau namja? Aku sudah memasakkan bubur untukmu…perutmu kosong, harus segera diisi. Ayo makan, setelah itu makan obat lalu tidur, kau mengerti?”

 

Luhan memajukan bibirnya sedikit, tapi akhirnya mengangguk pasrah.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

Luhan menatap horror ketika Sehun mulai menuangkan sirup obat untuknya. Luhan memang tak suka obat, bukan karena rasanya yang pahit, hanya saja Luhan tak tahan dengan aromanya yang menurutnya sangat menjijikkan. Luhan menutup hidungnya dengan tangan kanan saat Sehun menyodorkan sirup obat itu untuknya.

 

 

 

“Ayolah, buka mulutmu” bujuk Sehun.

 

 

 

“Tapi aku tidak mau Sehun” tolak Luhan sambil (ehem) merengek.

 

 

 

“Ayolah, ini hanya sirup obat Lu, bukan racun”

 

Tapi bukannya menurut, Luhan malah menutup mulutnya dengan telapak tangannya.

 
“Dengar, walaupun ini pahit kau tetap harus memakannya. Kalau tidak bagaimana kau akan sembuh?”

 

“Aku bukan tak mau karena rasanya pahit, hanya saja aku tak suka aromanya…perutku mual jika mencium baunya” tolak Luhan lagi.

“Tutup saja hidungmu, kan tidak susah. Come on baby, Aaaaa….” bujuk Sehun, seperti membujuk balita.

 

Luhan tetap menggeleng.

 

“Ayolah sayang….Kau membuatku tampak seperti ibu-ibu yang membujuk balitanya untuk meminum obat, ck! Ayolah, ini hanya sirup obat kan? berapa usiamu sebenarnya, eoh?” omel Sehun.

 

“Tapi walaupun menutup hidung aromanya akan tetap melekat ditenggorokanku….pokoknya aku tidak mau, titik!” kata Luhan, tetap keras kepala.

 

Sehun memijit pelipisnya karena stress melihat tingkah pria cantik itu. Otaknya sedang berputar, mencari-cari cara agar Luhan mau memakan obatnya.

 

“Lebih baik kau menempelkan plester aneh yang kau tempelkan ke keningku seperti tadi siang saja, oke?” rayu Luhan.

 

“Aishhh….jangan manja Luhannie….Atau kau mau kupaksa?” ancam Sehun.

 

Luhan menatap Sehun seperti menatap sebuah tong sampah, membuat Sehun tertawa dalam hati. Sepertinya Luhan tak suka di desak terus- menerus seperti ini.

 

“Baiklah….sepertinya kau memang harus dipaksa”

 

Sehun memasukkan sirup obat itu kemulutnya sendiri dan menarik tangan Luhan, lalu dengan cepat menempelkan bibirnya ke bibir kekasihnya itu. Sehun memaksa membuka bibir Luhan dengan jari telunjuknya, menyalurkan obat itu kemulut Luhan. Luhan terkejut dan juga kesal, tapi dia hanya pasrah menerima dan hanya diam, apalagi ketika Sehun menyalurkan obat dengan sedikit melumat bibir-bibirnya, Luhan terlena. Cairan obat itu berpindah, lalu mereka hanya saling melumat lembut bibir lawannya. Sehun menarik kepalanya saat merasa mulutnya sudah kosong, tapi tangan Luhan sudah dengan cepat menahan tengkuknya dan menjilati sisa-sisa obat dimulut Sehun sampai tak bersisa sambil memejamkan mata. Acara –mari menghabiskan obat demam– itupun berubah haluan menjadi –mari menikmati bibir tipis Sehun yang menggoda- hingga mau tak mau ciuman itupun berlanjut menjadi lebih dalam.

 

Luhan terus melumat bibir Sehun tanpa ampun, dan Sehun tentu saja membalasnya dengan antusias. Akhirnya Luhan menarik dirinya juga ketika merasakan oksigen mulai sedikit yang masuk kedalam paru-parunya. Pria cantik itu terengah-engah, dengan pipi-pipi yang memerah entah karena sesak atau karena malu. Sehun menatap kekasihnya itu dengan senyum-senyum aneh, membuat Luhan salah tingkah dan menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal.

 

 

“Kau nakal, eoh?” goda Sehun.

Luhan membuang tatapannya kesembarang arah. Pipinya memanas dan sebenarnya dia memang sedang malu. Pria mungil itu akhirnya menundukkan kepala, menyembuny­­ikan wajahnya yang mungkin sudah seperti kepiting rebus sekarang. Entah mengapa saat bersama Sehun, Luhan bisa bersikap kekanakan dan malu-malu seperti ini. Itu bukan gayanya sama sekali. Luhan tak pernah bersikap seperti itu sebelumnya dengan partner-partner kencannya terdahulu. Luhan cenderung bersikap agresif dan tak tau malu. Entahlah….mungkin karena dulu dia tak memakai perasaan saat berkencan dengan pacar-pacarnya. Yah, walaupun saat ini sifat agresifnya masih ada sedikit.

 

“Aku harus merapikan tempat tidur untukmu, kutinggal sebentar, heumm?” kata Sehun.

 

Luhan mengangguk, masih menunduk.

 

Sehun tertawa geli, lalu mengusap kepala Luhan sejenak dan beranjak ke arah ranjangnya. Luhan memukul kepalanya sendiri saat Sehun meninggalkannya, merutuki sikap bodohnya barusan.

 

“Aissshhhh….kenapa aku menjadi sangat pervert seperti ini sih? Lagipula kenapa aku harus merasa malu? Aku kan sudah pernah menciumnya duluan, sudah pernah melihatnya naked bahkan aku juga sudah pernah menyentuh pen-…”

 
Luhan menggantung ucapannya dan mengarahkan matanya keatas, membayangkan saat dulu dia menggoda Sehun, mencium bibir Sehun dengan ganas dan menarik handuk Sehun sampai pria pucat itu naked total.

Blush~

Lagi-lagi Luhan merasakan pipinya memanas. Luhan menepuk-nepuk pipinya sendiri lalu mengibas-ngibaskan tangannya ke wajahnya karena merasa sangat kepanasan.

 
“Astaga…kenapa udara tiba-tiba menjadi sangat panas? Ughh…sepertinya demam membuatku menjadi bodoh” gumamnya pada dirinya sendiri.

 

Luhan membanting tubuhnya ke sofa dengan sedikit kasar, lalu memejamkan mata. Luhan mungkin lupa kalau apartemen Sehun tidak memiliki dinding seperti apartemennya. Tanpa dia sadari sejak tadi Sehun menyender sambil menyilangkan tangan di rak pembatas kamarnya dan
ruang tempat Luhan duduk, menyaksikan tingkahnya sambil menahan tawa. Sehun sangat geli melihat tingkah pria cantik itu, bahkan Sehun mendengar dengan jelas apa-apa yang dikatakan oleh Luhan barusan. Sehun menggeleng pelan dan mulai berjalan kearah ranjang kemudian merapikannya, untuk Luhan.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

Puk’

Luhan membuka matanya saat merasakan sentuhan halus yang menyibak poninya dan sekejap kemudian merasakan sejuk dikeningnya. Luhan langsung menemukan wajah Sehun yang tersenyum padanya begitu dia membuka mata. Sesuatu yang sejuk itu menarik minatnya, membuat Luhan meraba kening sesaat.

 

 

“Oh, kau menempelkan benda aneh ini lagi? bukannya aku sudah memakan obatku?” tanya Luhan.

 

“Kan tadi kau yang memintanya…aku hanya mengabulkan keinginanmu saja kok” kata Sehun.

 

Luhan mempoutkan bibirnya, membuat tangan Sehun gatal dan mencubit bibir mungil kekasihnya itu.

“Sudah waktunya tidur, ayo…”

 

Sehun mengangkat tubuh Luhan kegendongannya dan berjalan kearah ranjang.

 

“Aku bisa berjalan sendiri, babo!” protes Luhan.

 

“Isshhhh…berisik!” jawab Sehun.

 

Sehun merebahkan tubuh Luhan keranjangnya dengan hati-hati, tapi wajah innocent Luhan memerangkapnya hingga tubuhnya terasa sangat sulit digerakkan untuk menyingkir dari atas tubuhpria cantik itu. Sehun memandangi wajah imut Luhan sedikit lama. Jari-jarinya yang panjang bergerak mengelus pipi Luhan dengan lembut. Luhan memejamkan mata, menikmati sentuhan tangan Sehun dipipinya. Jantungnya berdegup kencang, dan hampir saja meledak ketika sesaat kemudian bibirnya sudah dikecup oleh Sehun. Beberapa saat hanya diam, Sehun tak juga menggerakkan bibirnya, membuat Luhan gemas. Oh, lupakan siapa pria yang seharusnya lebih dominan disini, karena Luhan yakin jika itu adalah dirinya. Luhan tau jika dalam hubungan apapun –terkecuali dengan wanita dan itu sangat mustahil karena dia membenci mereka– posisinya tetap akan menjadi bottom. Tapi ayolah…Luhan tak suka berlama-lama. Luhan berpikir jika Sehun sangat payah sebagai Top untuknya. Dengan tak sabaran Luhan meraih tengkuk Sehun dan berinisiatif melumat bibir Sehun duluan, yang tentu saja langsung disambut baik oleh Sehun sendiri. Luhan membuka mulutnya, dan Sehun langsung melesakkan lidahnya masuk kedalam mulut Luhan, menjilati lidah Luhan dengan perlahan. Jari-jari Sehun membelai-belai kepala Luhan dengan sayang, dan beberapa saat kemudian Sehun melepaskan tautan bibirnya dengan kekasih mungilnya itu, sayangnya gagal. Dengan bakat keras kepalanya Luhan masih bersikeras memegangi tengkuk Sehun dan mengecupi leher pria itu, membuat pria pucat itu mendesah sambil mendongakkan kepala.

 

 

Tangan Luhan yang memegangi tengkuk Sehun, menjalar turun kepunggung pria pucat itu, merambat kepinggang, lalu menelusup masuk kekaus Sehun, menyentuh kulit pucat Sehun secara langsung dan mengelusnya dengan gerakan halus, membuat tubuh Sehun menegang dan nafasnya pun mulai memberat. Luhan meraup bibir Sehun lagi, tapi Sehun menarik dirinya sekaligus menarik tangan Luhan yang masih merayap seperti ular dipunggungnya.

 

Luhan mendesah kecewa.

 

“Kenapa? Kau tidak menginginkanku?” tanya Luhan dengan nada kecewa yang begitu kentara.

 
Sehun tertawa.

 

“Apa itu masuk akal? Aku sangat ingin sayang, tapi kau masih sakit kan? Jadi intinya adalah aku akan menahan diriku sampai kau sembuh”

 

“Aku baik-baik saja kok” sergah Luhan.

 

Sehun tertawa, lalu mengecup bibir Luhan sekilas.

 

“Sabar sedikit Luhannie….kau tau, sangat sulit menahan diriku untuk tak menyentuhmu…kau itu sangat cantik dan menggairahkan. Kau sangat menggoda iman…”

 

Kata-kata Sehun membuat wajah Luhan kembali merona.

 

“Ka-kau boleh kok menyentuhku” kata Luhan gugup.

 

“Tentu saja aku akan menyentuhmu, tapi tidak sekarang….Aku akan menunggumu sampai sembuh. Sekarang tidurlah, oke?”

 

“Baiklah…” kata Luhan pasrah.

Sehun mengecup bibir Luhan sekilas, berguling kesamping lalu meraih Luhan kedalam pelukannya.

 

“Selamat tidur…” kata Sehun.

 

“Mmm….” jawab Luhan singkat sambil memejamkan matanya, mencoba mengalihkan nafsunya dan berusaha tidur hingga akhirnya dia benar-benar terlelap.

 

Sehun memandangi wajah polos yang sedang tertidur itu, meringis sekilas kemudian membuang nafasnya dengan berat.

 

“Ya Tuhan, aku bisa gila! Cepatlah sembuh Lu…” gumamnya pelan sambil menggigit bibirnya sendiri, mencoba menekan nafsunya sekuat tenaga.

 

 

.

 

 

.

 

 

.
Eomma….sakit….”

 

Sehun membuka matanya saat mendengar suara Luhan. Keningnya berkerut dalam, lalu Sehun melihat jam yang baru menunjukkan angka 2 dini hari. Ditatapnya kekasihnya itu, yang ternyata masih tertidur. Luhan hanya mengigau.

 

Eomma…Xiao Lu sakit….Hyung….Aku merindukanmu…Aku rindu pada kalian…”

 

Tiba-tiba saja dada Sehun terasa sesak saat mendengar igauan Luhan itu.

 

“Jangan tinggalkan Xiao Lu…Jangan Eomma, Hyung….jangan pergi…hiks….”

 

Tangan Luhan terangkat dalam tidurnya, seperti ingin menggapai sesuatu. Dengan cepat Sehun meraih tangan Luhan dan mengecupnya. Hati Sehun mencelos melihat kekasihnya saat ini, Luhan terlihat sangat rapuh.Tapi sejenak kemudian Sehun tersenyum ketika menyadari sesuatu.

 

“Kau bohong Lu….kau tak benar-benar membenci mereka….” gumamnya pelan.

 

Sehun menghapus sedikit air mata yang menetes disudut mata Luhan lalu mengecup pipi Luhan lama.

 

“Jangan menangis lagi sayang, aku disini….Aku berjanji akan membahagiakanmu…”

 

Sehun menarik kepala Luhan kedadanya dan mengelusnya. Senyumnya kembali mengembang ketika merasakan kepala Luhan yang menggeliat, menyamankan posisi di dadanya, membuat senyumnya tak pernah pudar.

 

 

 

“Jangan sedih…Aku akan mengembalikanmu menjadi Luhan yang dulu…” gumam Sehun, sebelum mendaratkan satu kecupan pada pipi pria cantik yang tertidur dalam pelukannya itu.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 


Luhan membuka matanya saat merasakan udara yang terasa sangat panas dan tubuhnya sudah penuh dengan keringat hingga piyama milik Sehun yang dipakainya saat ini sudah basah. Luhan menyingkirkan selimut dari tubuhnya dan duduk, menatap ruangan apartemen Sehun yang kosong.

 

“Kemana Sehun?” tanyanya, entah pada siapa.

 

Luhan melihat jam, sudah jam 11 siang. Luhan beranjak dari ranjang Sehun dan bergerak kearah dapur. Perutnya terasa sangat lapar, mungkin karena beberapa hari dia tak mengisi perutnya, hanya beberapa suap bubur yang dimasak Sehun tadi malam.

Luhan menemukan berbagai macam masakan di meja makan, dan menemukan secarik ketas yang terselip dibawah piring kosong yang disediakan Sehun untuknya. Luhan menyambar kertas itu dan
membaca isinya.

 

 

 

.

To: Mine

Morning baby….atau mungkin aku harus mengucapkan selamat siang? Jangan bohong, kau pasti baru bangun kan?

Aku berangkat kesekolah hari ini, tak apa-apa kan kalau kau kutinggal sendirian?

Tenanglah, aku akan cepat pulang, jadi jangan merindukanku, oke?

Aku mengecek suhu tubuhmu tadi pagi, dan suhumu sudah kembali normal, jadi kau boleh makan enak hari ini^^

Aku sudah menyiapkan banyak makanan untukmu. Hey, kau harus makan  yang banyak ya, awas kalau tidak dihabiskan!

Aku pulang jam 3 sore, sampai bertemu nanti ya sayang^^

Saranghae…….

From: Yours

 

 

.

Luhan tersenyum saat membaca note itu dan mulai memakan makanannya. Sepanjang acara makan Luhan tak pernah berhenti tersenyum memikirkan sikap Sehun yang berubah 360 derajat padanya. Luhan baru tau jika sosok Sehun yang sesungguhnya adalah pria yang sangat lembut dan sangat perhatian seperti ini. Betapa beruntungnya dirinya!

 

 

 

Luhan menyusun piring kotornya dan membawanya ke wastafel pencucian piring setelah acara makannya selesai. Dia sempat menatap piring-piring itu beberapa lama, berniat mencucinya, tapi urung melakukannya karena teringat catatan Sehun tadi.

 

“Kau bilang aku pemalas, jadi silahkan kau cuci sendiri piring ini ya Pangeran Es,ck!” kata Luhan seolah ada Sehun diruangan itu.

Luhan meninggalkan dapur dan menyalakan tv, tapi tak ada tontonan apapun yang menarik, jadi Luhan memutuskan tiduran di sofa. Memang dasar pemalas, Luhan kembali tertidur.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 
Sehun memasuki apartemennya dan menemukan kekasihnya sedang tertidur pulas disofa dengan tv yang masih menyala. Tangannya bergerak cepat menyambar remote lalu mematikan tv itu, kemudian bergerak kedapur dan memeriksa makanan yang dia siapkan tadi pagi untuk Luhan. Sehun tersenyum, karena sebagian besar makanan itu sudah habis dimakan oleh Luhan. Sehun duduk dan mulai memakan sisa makanan yang masih lumayan banyak itu lalu bergerak kearah wastafel pencucian piring untuk mencuci piring-piring kotor.

 

 

 

 

 

Jam sudah menunjukkan jam 5.30 sore saat Sehun selesai mandi. Pria pucat itupun berjalan menghampiri Luhan untuk membangunkan pria mungil itu.

 

Baby…bangunlah”

 

Luhan menggeliat pelan dan membuka matanya.

 

“Kau sudah pulang?” tanya Luhan, membuat Sehun tertawa.

 

“Pertanyaan bodoh macam apa itu, aku disini, jadi tentu saja aku sudah pulang, ck!” jawab Sehun sambil menyentil dahi Luhan.

 

“Jam berapa ini?” tanya Luhan sambil menguap.

 

“Apa kau hanya tidur seharian ini? Ini bahkan sudah hampir malam…”

 

“Benarkah? Astaga! Tubuhku sangat lelah sih, jadi aku hanya ingin tidur sepanjang hari” kata Luhan sambil meniup poninya.

 

“Mungkin karena kau baru sembuh, makanya tubuhmu masih lemas….lalu sekarang bagaimana?”

 

“Aku sudah merasa segar” kata Luhan sambil menggerak-gerakkan tubuhnya kekanan dan kekiri.
 

Sehun tertawa.

“Mandilah… Aku sudah menyiapkan air panas untukmu…sudah 2 hari kau tak mandi, Ughh…kau bau!” goda Sehun sambil berpura-pura menutup hidungnya, dan sukses membuat Luhan cemberut.

 

“Ck, kau menyebalkan!” kata Luhan jengkel sambil beranjak kekamar mandi.

 

“Aku sudah meletakkan bathrobe milikku dikamar mandi, sementara pakai dulu ya, aku akan mengambilkan piyama untukmu” kata Sehun setengah berteriak.

 

“Eo” jawab Luhan ogah-ogahan sebelum tubuhnya menghilang dikamar mandi.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

Sehun sedang mencari piyama untuk Luhan saat kekasihnya itu keluar dari kamar mandi dan menghampirinya sambil mengeringkan rambut. Aroma shampoo dan sabun menyeruak ke dalam indera penciuman Sehun, hingga tanpa menolehpun dia tau jika Luhan sedang datang menghampirinya.

 

“Sudah selesai?” tanyanya tanpa menoleh kearah Luhan.

 

“Eo…” jawab Luhan singkat.

 

Sehun masih mencari piyama untuk Luhan, dan akhirnya menarik sebuah piyama berwarna cokelat untuk dipakai Luhan nanti. Sehun berbalik untuk menyerahkan piyama itu, namun tubuhnya mendadak beku ketika melihat bagaimana keadaan Luhan saat ini. Luhan hanya memakai bathrobe yang memperlihatkan sebagian dadanya. Rambut basah dan acak-acakan membuatnya terlihat sangat sexy dalam pandangan Sehun. Belum lagi aroma sabun lemon yang menguar dari tubuh kekasihnya itu, yang entah mengapa seperti menghentikan fungsi otaknya dalam sekejap. Sehun merasa gairahnya bangkit mendadak. Sehun membuang nafasnya pelan. Demi Tuhan, dia sedang berusaha sekuat tenaga untuk mencoba menetralisir otak mesumnya. Biar bagaimanapun, Luhan baru saja sembuh, dan masih butuh banyak istirahat, jadi Sehun harus mampu menahan gejolak nafsunya saat ini. Bukankah begitu?

~Sabar Sehun~ batinnya, menguatkan dirinya sendiri.

 

Sehun mengambil handuk kecil yang berada ditangan Luhan, dan mengambil alih mengeringkan rambut kekasihnya itu. Mereka hanya saling diam. Sehun menggosok-gosok rambut basah Luhan dengan gerakan pelan, namun gerakan tangannya langsung terhenti ketika matanya terperangkap kedalam manik cokelat milik Luhan yang juga sedang menatapnya. Mereka saling menatap satu sama lain dengan
pikirannya masing-masing.

 

Sehun membuang nafas beratnya dan menggigit bibirnya sendiri. Pria pucat itu sedang berusaha keras menahan dirinya. Tapi akhirnya gagal juga. Pertahanannya runtuh. Sehun tak dapat menahan diri lebih lama lagi untuk tak menyentuh Luhan. Karena itu dengan segala macam sumpah serapah yang dia ucapkan di dalam hati untuk mengutuki hormon kelelakiannya yang begitu mudah terpancing, Sehun melemparkan handuk yang berada ditangannya itu kesembarang tempat dan langsung menarik pinggang Luhan agar merapat ketubuhnya. Tanpa memberikan jeda waktu yang banyak Sehun menyambar bibir Luhan, menciuminya dengan nafas yang memburu karena sangat bernafsu. Sedangkan Luhan secara refleks mencengkram lengan Sehun dan membalas ciuman kekasihnya itu, tentu saja. Hisapan-hisapan lembut dilakukan oleh Sehun, sedangkan Luhan membalasnya dengan kasar. Ciuman itu terasa sangat nikmat. Mereka saling memagut dan menyesap bibir lawannya, dengan saling menggerakkan kepala mereka kearah yang berlawanan.

 

Luhan membuka mulutnya dengan sukarela ketika merasakan ujung lidah Sehun menjilat lembut bibirnya, mencari celah untuk bisa masuk ke dalam mulutnya, hingga akhirnya lidah Sehun yang lincah sukses masuk, menyapa lidahnya dengan jilatan serta belaian lembut. Lidah mereka saling menyerang, menimbulkan irama decapan-decapan nikmat dikamar itu. Saliva mereka sudah tercampur baur, dan sebagian bahkan sudah menetes kedagu Luhan.

 

Sehun melepaskan tautan bibir mereka dengan perlahan dan memeluk Luhan dengan sangat erat. Bibir tipisnya mengecupi leher Luhan sebelum beralih ke telinga dan berbisik ditelinga Luhan.

 

“Aku tak bisa menahannya lagi…aku menginginkanmu sayang…jadi, bolehkah?”

 

Luhan hanya menjawab dengan desahan karena Sehun telah menjilati telinganya saat ini.

 

 

“Bolehkah?” bisik Sehun lagi, lalu mengulum telinga Luhan dengan penuh penghayatan.

 

“Kenapa kau harus bertanya…ughhh…tentu saja bo..leh…mhhhh” jawab Luhan susah payah.

 

Sehun melepaskan telinga itu, menjalarkan bibir tipisnya untuk menyusuri leher Luhan, menjilati dan menghisapi leher itu, membuat kissmark yang baru diatas bekas kissmark yang sudah menguning. Sedangkan Luhan mendongakkan kepala, bergerak ke arah yang berlawanan dari bibir Sehun hingga semakin memudahkan Sehun mencumbui lehernya.

 

Tangan nakal Luhan sudah merayap ke dalam kaus putih yang dipakai Sehun, meraba perut Sehun dengan gerakan memutar, membuat tubuh Sehun bergetar halus karena merasa geli.

 

Sehun menyibak sedikit bathrobe Luhan sehingga sebelah nipple pink menggoda milik Luhan terlihat. Tangan Sehun menekan dan memilinnya lembut, membuat Luhan mengerang kenikmatan. Luhan yang agresif bahkan sudah bergerak cepat membuka kancing celana pendek Sehun dengan jari-jarinya yang sudah terlatih hingga celana itu langsung meluncur turun kebawah begitu Luhan menurunkan resletingnya, berikut dengan underware-nya yang juga sudah melorot turun tanpa Sehun sadari. Luhan menyeringai sambil menatap wajah Sehun diantara kegiatan tangannya yang sedang memijat lembut penis Sehun di bawah sana. Respon yang diberikan oleh kekasihnya sangat sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Luhan. Wajah pria pucat itu sedikit memerah, bibir tipisnya terbuka dan erangan-erangan berat keluar dari mulutnya. Sehun menggeram kuat ketika Luhan memijat penisnya maju mundur dengan tempo yang sangat cepat, hingga membuatnya hampir tak tahan lagi untuk menyerang tubuh molek yang berada di hadapannya ini. Sebagai pengalih perhatian dan memperpanjang waktu, Sehun mencari bibir Luhan di tengah keputus asaannya akan kenikmatan yang diberikan oleh kekasihnya, melumat bibir pria cantiknya itu dengan ganas saat jari-jari Luhan yang lentik semakin gencar menggelitik setiap titik sensitif pada batang penisnya. Nafas Sehun memburu dan berkali-kali Sehun menahan nafasnya dan mengerang frustasi ketika Luhan dengan sengaja memperlambat tempo gerakan tangannya.

 

 

 

 

Luhan –dengan kelihaiannya– terus menerus memberikan dan memperdalam rasa frustasi pada diri kekasihnya dengan gerakan tangan yang tak terduga. Bibirnya menyerang di sekitar leher Sehun, mengecupi jakun yang menonjol ataupun sekedar menjilat tulang selangka milik Sehun yang terlihat keras namun sexy sebelum akhirnya menghisap di beberapa tempat dan meninggalkan banyak kissmark disana. Gerakan tangannya terhenti total, dan Luhan sangat ingin tertawa keras ketika melihat wajah kekasihnya yang sungguh-sungguh amat sangat terlihat kacau akibat ulahnya.

 

 

“Dasar rusa nakal…kau harus mendapatkan hukuman berat karena berani menggodaku sejauh ini” ancam Sehun, yang tentu saja hanya direspon dengan tawa meremehkan dari pria yang lebih cantik.

 

 

 

“Oh, aku takut Sehun…hukuman seperti apa yang kau maksud? Apa kau sedang berencana memompa tubuhku hingga beronde-ronde? Aku akan dengan senang hati menerima hukumanku jika itu hukuman yang kau maksud” kata Luhan dengan nada sensual, menantang, menggoda.

 

 

 

“Baiklah, kau lihat apa yang bisa kulakukan” kata Sehun, bersamaan dengan jatuhnya bathrobe yang tadinya menutupi tubuh Luhan ke lantai.

 
Sehun mendorong pelan tubuh kekasihnya itu ke ranjang, lalu merangkak naik keatas tubuh Luhan yang sexy. Bibirnya mulai menjelajah, mengecupi dan menjilat setiap inci tubuh Luhan, meninggalkan kissmark yang merekah disana-sini. Sehun mulai menyeringai kecil ketika bibirnya hampir saja menyentuh ujung penis kekasihnya yang sudah menegang, hanya saja bibirnya sengaja berbelok ke daerah paha bagian dalam Luhan dan menjilat-jilat disana, membuat pemilik tubuh molek itu mengerang frustasi.
Luhan menghentak-hentakkan pinggulnya tak sabar, karena Sehun benar-benar tak menyentuh sedikitpun bagian penisnya sama sekali, padahal Luhan sangat penasaran dengan sensasi ketika batang penisnya berada di dalam himpitan bibir tipis Sehun yang pastinya hangat dan basah.

 

“Sehunniehhh…sentuh aku pleasehhhh….”

 

Luhan mengerang dan memohon beberapa kali, namun Sehun menolak. Hingga ketika Luhan menjambak rambutnya dengan keras untuk menunjukkan kekesalannya, Sehun baru sadar jika dia sudah menggoda kekasihnya terlalu jauh dan semuanya sudah cukup. Sehun berhenti. Dengan nafsu yang menggelora, bibirnya akhirnya mendarat pada milik Luhan. Dukecupinya batang penis itu beberapa kali hingga akhirnya seluruh batang penis itu tenggelam ke dalam mulutnya. Sehun tertawa dalam hati ketika mendapatkan fakta jika pria yang sedang dihimpitnya kini sedang menggeram frustasi. Erangan-erangan teredam namun kuat menggema dari dalam tenggorokan pria cantik itu. Urat-urat lehernya menonjol dan remasan tangannya pada rambut pelangi Sehun menguat, membuat Sehun semakin bersemangat menghisap penis menggemaskan itu.

 
“Ahhhh…..Sehunahhhhh….” racau Luhan nikmat.

 

Sehun melepaskan tangannya dari puting-puting Luhan, menyusuri lengkungan pinggang molek itu lalu menuju ke bawah lagi, berhenti pada bongkahan kenyal milik kekasihnya. Ujung jarinya  meraba-raba kerutan permukaan rektum Luhan, mencari letak lubang pria mungil itu, dan langsung memasukkan satu jarinya kedalamnya saat dia menemukannya, membuat pria cantik yang terhimpit semakin meracau tak jelas. Sehun menambahkan jumlah jarinya ketika dia merasakan elastisitas lubang pria cantik itu, menambah jumlahnya terus-menerus membuat Luhan sedikit berteriak karena merasakan nikmat oleh jari-jari nakal yang menyerang 2 titik kenikmatannya sekaligus. Luhan sudah tak tahan lagi.

 

“Sehunnie…inside me…Ahhhhh….” Luhan memohon.

 

Sehun masih meneruskan kegiatannya, mengabaikan permintaan kekasihnya, untuk menghukum. Digerakkannya jari-jari panjangnya dengan lincah dalam lubang itu, menggoda ‘sesuatu’ di dalamnya sampai-sampai Luhan lagi-lagi menggigit bibir frustasi dan menghentak-hentakkan pinggulnya tak sabaran (lagi).

 

“Sehun…please…mmmhhhh…” mohon Luhan untuk yang kedua kali hingga pria di atasnya itu tak tega dan menghentikan kegiatan menghukumnya.

 

 

 

Sehun merangkak naik, mengecup bibir Luhan sekilas kemudian mulai
menggesek-gesekkan ujung penisnya pada permukaan rektum Luhan. Pria yang lebih cantik meremas sprei dengan brutal ketika merasakan –lagi– sensasi itu. Sebuah penis besar dan kuat sedang memasuki rektumnya dengan perlahan saat ini. Meskipun ini bukanlah penis pertama yang ditelan oleh lubangnya tapi Luhan berani bersumpah jika baru kali ini dia merasa begitu bahagia ketika penis seseorang memasukinya dan bersatu dengan dirinya, karena ini adalah satu-satunya penis milik pria yang dia cintai. Wajahnya memerah sempurna ketika Sehun menggerakkan pinggul, menekan semakin dalam, mendorong masuk penisnya hingga tertancap sempurna didalam hole kekasihnya.

 

Sehun mengerang hebat saat penisnya merasakan hangat dari lubang Luhan. Dia mencoba mengatur nafasnya sebentar, sama seperti yang dilakukan kekasih yang berada dibawahnya saat ini.

 

“Kau siap?” tanya Sehun sambil meraih tangan kanan Luhan dan mengecupnya.
Luhan mengangguk. “Tentu saja, aku selalu siap, bergeraklah, aku sudah tak tahan” rengek Luhan, yang sukses menciptakan kekehan geli dari bibir tipis pria di atasnya.

 

 

 

“Nafsumu ternyata sangat besar” ejek Sehun.

 

 

 

“Kau baru tau? Dasar lamban” balas Luhan.

 

Keduanya terkekeh bersama sebelum Sehun mulai beraksi. Dia melepaskan tangan Luhan dan mulai menggerakkan pinggulnya pelan-pelan. Tangan kanannya meraih penis Luhan yang menganggur dan memijatnya dengan tempo cepat, membuat kepala Luhan terdongak dengan bibir terbuka. Sehun terus bergerak dan menaikkan tempo gerakannya saat merasakan sesuatu diperutnya hampir mau meledak. Tangannya juga bergerak semakin cepat meremas-remas penis kekasihnya agar cepat klimaks.

 

“Ahhhhh….Sehunnie…..lebih cepat sayang….” racau Luhan.

 

Tangan Luhan semakin kuat mencengkram sprei hingga sprei itu tak berbentuk lagi. Sedangkan Sehun menaikkan lagi tempo gerakan tangan dan pinggulnya sambil menggigit bibirnya sendiri. Dia juga sudah hampir mencapai klimaksnya.

 

“Ohhh….ini sangat nikmat Baby….” kata Sehun sambil memejamkan matanya.

 

Peluh sudah membanjiri tubuh keduanya. Gerakan Sehun semakin cepat dan tubuhnya bergetar hebat saat cairannya meledak di dalam hole Luhan, bersamaan dengan cairan hangat Luhan yang juga sudah keluar dan memuncrat ke perut mereka dan sedikit membasahi jari-jarinya sendiri. Sehun membuka matanya dan mengatur nafasnya, lalu memasukkan jarinya yang terkena cairan Luhan kemulutnya sendiri.

 

 

 

“Kau manis” puji Sehun.

 

 

 

Luhan terkekeh.

 

 

 

“Aku yang manis atau spermaku?”

 

 

 

“Keduanya” jawab Sehun, lalu menarik penisnya dari lubang Luhan, membuat bibirnya mendesah pelan ketika merasakan sensasinya. Dengan bertumpu pada tangan, Sehun membawa tubuhnya merangkak naik, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Luhan yang masih memejamkan mata. Luhan masih mengatur nafasnya ternyata.

 

Baby….” panggil Sehun, tangannya mengusap peluh yang membasahi kening kekasihnya itu.

 

Luhan membuka matanya perlahan dan menatap kedalam mata Sehun.

 

“Apa aku memuaskanmu?” tanya Luhan, khawatir.

 

“Tentu saja, kau sangat memuaskan, terima kasih” jawab Sehun.

 

Sehun meraih tangan Luhan dan mengecupnya.

 

“Berjanjilah, mulai sekarang kau hanya milikku Lu…tubuhmu, hatimu, semuanya milikku….jangan memberikannya pada orang lain karena aku tak akan membiarkannya” kata Sehun tegas.

 

“Mmm…aku hanya milikmu, aku janji…”

 

Sehun tersenyum dan mencubit pipi Luhan karena gemas.

 

“Ayo panggil aku lagi seperti tadi….” kata Sehun tiba-tiba.

 

Luhan mengernyitkan dahinya karena tak mengerti.

 

 

 

“Apa maksudmu?”

 

 

 

Sehun tertawa kecil.

 

“Panggil aku ‘sayang’ seperti saat kita bercinta tadi….”

 
Luhan buru-buru mengalihkan tatapannya dari wajah kekasihnya, mencoba menutupi kegugupan sialan yang terus-menerus hinggap di saat-saat yang tak tepat seperti ini.

 

“A-apa maksudmu, aku tak mengerti!” kata Luhan dengan pipi yang merona.

 

“Ayolah, aku ingin mendengarnya lagi…satu kali saja, oke?” rengek Sehun.

 

Tapi Luhan malah menyingkirkan tubuh Sehun dari atas tubuhnya, sehingga bibir pria pucat itu pun spontan mengeluarkan protesnya.

 

“YA! Aishhh…dasar tak romantis! Hhh…ya sudahlah…” kata Sehun sambil menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua dan memunggungi Luhannya.

 

Luhan menggembungkan pipinya, lalu memeluk perut Sehun dan menempelkan dadanya dipunggung kekasihnya itu. Luhan berbisik dengan mesra ditelinga pria pucat yang sedang mencoba mendramatisir keadaan itu, sedikit memberikan kepuasan untuk pria pucatnya.

 

“Jangan hiperbola Sehunnie..”

 

 

“…”

 

 

“Baiklah, aku menyerah…Maafkan aku sayang…”

 

Sehun tersenyum tipis dan berbalik menghadap Luhan, mengecup bibir Luhan sekilas lalu membawa Luhan kedalam pelukannya.

 

“Terima kasih BabySaranghae…” kata Sehun.


 

To Be Continued


A/N : Big Thanks to Ferina Rindhi ( Oh My Lady Design )

 

 

 

Advertisements