OTHELLO

 

Othello

.

.

By tmarionlie

.

HunHan

.

Y
aoi | Hurt & Comfort | Romance | Mature


 

CHAPTER 7


 

 

Previous Story 

 

 

Aku sangat benci melihatmu yang seperti ini Luhan…kau sungguh murahan…kau buruk…aku benar-benar tak menyukainya…aku benar-benar marah….” bisik Sehun, bibir tipisnya menghisap leher Luhan dan tangannya sudah mempercepat pijatannya pada penis pria cantik itu.

 

 

Luhan menggigit bibirnya sendiri sambil memejamkan mata diantara sakit yang menyerang hatinya dan nikmat yang menjalari tubuhnya. Pijatan tangan Sehun membuatnya gila, namun sakit hatinya jauh lebih besar. Luhan memejamkan matanya lebih kuat lagi saat merasakan penisnya yang diremas-remas oleh Sehun itu terasa semakin membesar. Perutnya mengejang dan terasa menggerumbul ke bawah. Luhan menggigit bibirnya sekuat tenaga saat klimaks itu datang menghampiri. Darahnya mengalir dengan cepat dan tubuhnya terasa terbakar. Luhan emosi, dan Luhan bersumpah jika saat ini dia sangat ingin sekali membunuh pria yang bernama Oh Sehun itu karena berani melecehkannya dan membuat dadanya terasa amat sesak sampai seperti ini.

 

Sehun berhenti memijat ketika merasakan cairan hangat yang tumpah ditangannya. Bibirnya mengecup dalam bibir Luhan, dengan mata yang terpejam. Sehun sangat mencintai Luhan, dia sangat yakin saat ini.

 

 

Sehun menarik dirinya setelah kecupannya terlepas. Tangannya melepaskan penis Luhan dan menyembunyikannya lagi ke dalam panty hitam pria mungil itu, kemudian memberi jarak lebih lebar lagi dengan tubuh mungil yang di peluknya sejak tadi. Mata Sehun menatap lembut ke arah wajah kecil pria mungil didepannya itu, yang kini hanya berdiri mematung, gemetaran dengan kepala  tertunduk dan memejamkan mata sambil menggigit bibirnya sendiri.

 

 

“Lu…”

 

 

Sehun tercekat ketika pria cantik itu membuka mata, menatap tajam kearahnya dengan mata yang memerah. Air mata pria cantik itu mengambang di kelopak mata rusanya, membuat kata-kata yang hendak di keluarkan oleh Sehun mendadak tersangkut di tenggorokan, lalu lenyap begitu saja.

 

 

tes….

 

 

tes…

 

 

tes…

 

 

Airmata Luhan akhirnya jatuh juga meskipun sudah sekuat tenaga ditahannya. Wajah Sehun yang tadinya mengeras sontak berubah. Entah kenapa melihat Luhan menatapnya seperti itu dan menangis membuat hatinya mencelos perih.

 

 

“Lu-Luhan….maaf…..” kata Sehun pelan, menyesal.

 

 

Tangan Sehun berusaha meraih Luhan tapi pria mungil itu menepisnya dengan kasar, dan….

 

 

PLAKKKK!!!

 

 

Sehun merasakan pipinya terasa sangat panas dan perih. Luhan menamparnya dengan sangat keras. Bahkan sampai sudut bibir Sehun mengeluarkan darah.

 

 

“Pergi….” kata Luhan lemah. 

 

 

Tubuh Luhan merosot ke lantai. Wajahnya sudah basah seluruhnya oleh airmatanya.

 

 

“Lu….”

 

 

Sehun berjongkok dan hendak memeluk Luhan, tapi lagi-lagi pria itu menepisnya.

 

 

“Jangan sentuh aku!!” 

 

 

“Lu…”

 

 

“Pergi…..”

 

 

“Luhan….”

 

 

“Pe-pergi….hiks…..”

 

 

“Luhannie.…”

 

 

“Kumohon pergilah Sehuna…..”


 

 ~***~Othello Chapter 7~***~


 

 Pria mungil berambut orange itu, sedang duduk disofa sambil memeluk lututnya, masih menangis. Bahkan ini sudah satu jam setelah pria pucat tadi pergi setelah melecehkannya dan mengatainya dengan kata-kata kasar yang menginjak-nginjak harga dirinya, tapi air matanya belum juga berhenti mengalir.

 

.

 

.

 

Luhan Pov

Sangat sakit…..itulah yang saat ini kurasakan. Entah kenapa aku merasa dadaku sangat sesak. Bahkan aku masih menangis. Entah apa yang membuat airmata bodoh ini tak mau berhenti
mengalir. Memalukan!

 

Kenapa aku begini?  Apa karena aku dilecehkan oleh Sehun? Oh, ayolah….aku bukan namja polos yang akan menangis seperti yeoja ketika keperawanannya direnggut orang lain. Aku bahkan sudah pernah bercinta berkali-kali dengan beberapa pria yang berbeda.

 
Aku sudah sangat kotor.

Lalu kenapa aku harus menangis seperti ini? Bahkan Sehun tak memperkosaku, dia hanya ‘menyentuhku’. Tapi kenapa rasanya sangat menyakitkan? Apa karena kata-kata kasarnya padaku? Jika dipikir-pikir, ucapannya juga ada benarnya. Aku memang murahan, bahkan aku sudah menjadi pelacur untuk ibu tiriku sejak usiaku masih 10 tahun. Tapi kata-katanya yang ‘itu’…tak bisa kuterima. Dia mengataiku pembohong. Dia bilang aku tak bersungguh-sungguh saat aku mengatakan kalau aku mencintainya. Itu sangat menyakitkan. Dan dia mengatakannya saat dia marah sambil melecehkanku. Bagaimana bisa dia berkata seperti itu padaku? Tidakkah dia melihat kesungguhanku saat aku mengatakan kalau aku mencintainya?

Seumur hidupku, baru kali ini aku merasakan jatuh cinta pada seseorang, dan orang itu adalah Oh Sehun. Tidakkah dia bisa melihat apa saja yang sudah kukorbankan untuknya? Aku bahkan harus menghilangkan harga diriku dan sampai harus merubah diriku menjadi orang lain, dan itu semua kulakukan hanya untuknya. Semua kulakukan karena aku mencintainya, dan aku sangat berharap agar dia juga mencintaiku. Tapi apa yang dilakukannya? Dia membuangku. Dia menghinaku, bahkan menyuruhku agar aku tak mengganggunya. Dia juga mengatakan kalau dia tak mengenalku dan menyuruhku agar berhenti mengajaknya bicara.

‘Berhenti berbicara denganku, aku tak mengenalmu!’

Bukankah dia sendiri yang mengatakan hal itu padaku? Tapi kenapa saat aku mengatakan kalau aku tak mengenalnya dia harus marah? bukankah itu yang diinginkannya?

 

Aku sudah berusaha keras untuk tak mengganggunya. Aku bahkan sedang berusaha mengubur cintaku padanya. Meskipun rasanya sangat sakit dan tak rela melepasnya, tapi aku harus tetap melakukannya kan? Aku menderita! Aku sangat ingin melupakan perasaan bodohku ini. Aku ingin membenci Oh Sehun, Tapi…….kenapa sangat sulit?

Sampai kapan kau akan terus menyakitiku Sehun?

Ck, bodoh!!!

Ini bukan salahmu. Aku yang salah. Aku yang awalnya mengganggumu. Aku sendiri yang bodoh karena mencintaimu. Tapi aku sedang berusaha melupakan cintaku padamu. Aku benar-benar ingin membencimu. Jadi kenapa sekarang kau menjadi seperti ini? Dan bodohnya lagi cintaku padamu belum berkurang sedikitpun. Aku masih sangat mencintaimu Sehun…Jadi apa yang harus kulakukan? Aku harus bagaimana?

 

End Luhan Pov

 

.

 

 

.

 

 

.

Pria pucat itu, langsung jatuh terduduk dipintu apartemennya sendiri setelah Luhan mengusirnya. Tatapannya kosong. Sesekali dia menjambak rambutnya sendiri dengan kesal, lalu akhirnya menangis tanpa suara sambil menelungkupkan wajahnya diantara kedua lututnya. Menyesal, itulah yang dirasakannya saat ini. Lagi-lagi dia menyakiti pria cantik itu, pria yang di cintainya itu.

Sehun Pov

 
Apa yang sudah kulakukan padanya? Aku sangat bodoh, membiarkan emosi menguasai diriku sampai-sampai aku harus melukainya lagi, pria cantik yang sangat kucintai itu. Sekarang aku harus bagaimana? Dia pasti sudah sangat membenciku kan? Aishh!! Kenapa aku tak bisa melawan emosiku sendiri? Aku lagi-lagi menyakitinya. Aku sudah melukai perasaannya, dan kini menyakiti tubuhnya juga. Namja seperti apa aku ini? Benar apa yang dikatakannya, aku memang brengsek!

Aku lagi-lagi membuatnya menangis karena ulahku. Sungguh perih melihatnya menangis seperti tadi. Dia terlihat sangat rapuh dan lemah. Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku harus segera meminta maaf padanya kan?  Apa dia masih mau memaafkanku setelah apa yang kulakukan padanya?

 

Aku sangat berharap Luhan mau memaafkanku. Jika dia mau memberikanku satu kesempatan lagi, aku berjanji akan membahagiakannya…aku berjanji tak akan menyakitinya lagi.

Aku sangat mencintainya…

End Sehun Pov

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 


Luhan menatap bayangan dirinya sendiri di cermin. Menatap tubuh polosnya sendiri dengan tatapan kosong. Dia baru menyadari betapa kotor tubuhnya. Kulitnya dipenuhi oleh bercak merah keunguan, dan sedikit terasa perih. Kissmark-kissmark yang dihasilkan oleh 2 pria yang berbeda.

 

Luhan menyentuh salah satu kissmark yang membiru dileher sebelah kirinya. Itu adalah hasil perbuatan Sehun kemarin. Dahinya mengernyit saat jarinya menyentuh kissmark itu. Terasa sangat ngilu. Seberapa kuat Sehun menghisap lehernya?

Luhan berjalan lunglai ke bathub yang sudah penuh terisi air. Dia menenggelamkan tubuhnya sendiri di bathub itu dan hanya diam. Luhan masih memikirkan kejadian kemarin. Kenapa Sehun bisa sampai semarah itu padanya? Apa mungkin Sehun sudah mulai mencintainya? Luhan bahkan tak berani memikirkan hal itu. Sangat mustahil Sehun mencintai pria kotor sepertinya. Tatapannya pada Luhan selama ini bahkan terkesan jijik. Lagipula Sehun sangat tampan, jadi dia berhak mendapatkan yang lebih baik.

Luhan adalah pria murahan.

Luhan adalah pembohong.

Luhan adalah pria licik.

Luhan sangat buruk.

Itulah yang diucapkan Sehun untuk menggambarkan siapa dirinya.

Dan Luhan adalah pelacur.

Itu adalah tambahan dari Luhan sendiri untuk menggambarkan siapa dirinya. Sehun juga pernah menanyakan padanya apa dia adalah pelacur atau tidak, dan kini Luhan sudah tau jawabannya. Dia memang pria seperti itu. Saat Sehun menanyakannya, Luhan masih menyangkal dalam hati. Luhan tak merasa serendah itu. Tapi kini semuanya sudah jelas. Semua benar. Luhan memang manusia yang sangat rendah.

Luhan tersenyum miris saat menyadari hal itu, tapi lagi-lagi airmatanya menetes saat dia mengakuinya. Pria kecil itu memegang kepalanya yang terasa sangat pusing, karena perutnya sama sekali belum terisi makanan sejak pulang sekolah kemarin, dan buruknya, Luhan menghabiskan hampir 5 kaleng bir tadi malam sekedar untuk melupakan sejenak beban-beban dan rasa sesak yang menghimpit dadanya. Tapi Luhan tidak mabuk. Dia hanya merasa sedikit pusing dan merasakan sedikit perih dibagian perut.

Luhan menenggelamkan kepalanya kedalam air agak lama. Matanya masih terbuka, menatap kosong pada siluet-siluet tak jelas yang tertangkap matanya karena dia melihat didalam air. Luhan mengeluarkan kepalanya dari dalam air saat merasa dadanya sudah sangat sesak karena menahan nafas terlalu lama. Matanya memerah. Luhan mengerjapkan matanya berkali-kali, dan kini dia merasa kesadarannya sudah sedikit pulih. Air ternyata sangat membantu mengurangi efek alcohol yang membuat matanya sedikit mengantuk.

Akhirnya, pria mungil itu keluar dari air dan menyambar handuknya, lalu berjalan keluar dari kamar mandi, menyambar seragam sekolahnya dengan cepat dan memakainya, lalu bergegas  keluar dari apartemen setelah semua persiapan sekolahnya selesai.

 

.

 

.

 

.

 

Luhan terhenyak. Baru saja dia membuka pintu, mata rusanya langsung menangkap sosok Sehun yang berdiri mematung didepan pintu apartemennya, menunggunya. Luhan hanya diam, dan hanya menatap wajah Sehun dengan tatapan kosong. Pria mungil itu tak mengatakan
apapun, Sehun juga masih diam.

Luhan tak tau apa yang harus dilakukannya saat ini. Sungguh, dia tak ingin bertemu dengan Sehun, apalagi di pagi pertama setelah dilecehkan oleh pria pucat itu. Luhan tak mengatakan apa- apa, dan mulai berjalan melewati Sehun begitu saja. Tapi dalam sekejap gerakannya terhenti. Sehun memeluk tubuhnya dari belakang. Pria pucat itu memeluknya sangat erat, dan menghirup lehernya dalam-dalam. Luhan masih tak bereaksi, hanya diam saja.

“Maafkan aku…”

Kata-kata itu keluar dari bibir tipis Sehun. Pria pucat itu masih menghirup leher dan telinga Luhan dengan mata terpejam, menghirup aroma tubuh Luhan dengan penuh penghayatan. Pelukannya diperut Luhan semakin mengerat. Hingga beberapa menit berlalu seperti itu, hingga Sehun membalikkan tubuh Luhan agar menghadap kearahnya, dan kembali memeluk tubuh mungil itu rapat-rapat ketubuhnya.

“Maafkan aku Luhan….maafkan aku….aku salah….”

Luhan merasa sesak mendengar Sehun meminta maaf padanya seperti itu, tapi bibirnya hanya diam. Perasaannya sedikit nyaman berada dipelukan Sehun, meskipun hatinya masih sakit. Tangan mungilnya sudah hampir terangkat, hendak membalas pelukan pria pucat yang sangat dicintainya itu dan berniat memberikan maaf. Tapi tiba-tiba pikiran itu datang lagi. Dia mengingat dirinya yang sangat kotor dan rendah. Luhan merasa tak pantas dipeluk seerat ini oleh Sehun. Karena itu secara perlahan, Luhan melepaskan diri. Luhan menekan lembut dada Sehun agar menjauh darinya, lalu tanpa mengatakan apapun Luhan membawa tubuh mungilnya menjauh dan melangkah pergi meninggalkan Sehun begitu saja.

Sehun hanya dapat menatap punggung mungil yang mulai menjauh itu dengan rasa sesak yang teramat dalam didadanya. Luhan terlihat seperti mayat hidup, dan semua itu adalah akibat dari perbuatannya. Menyesal? Sangat.

“Lu, kumohon maafkan aku….” gumam Sehun sedih.

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

Sehun masih memandangi Luhan. Seharian ini pria mungil itu hanya diam. Luhan benar-benar seperti mayat hidup sungguhan. Sehun menjadi semakin merasa bersalah. Sehun mengikuti Luhan kemanapun, dan mengucapkan kata maaf berkali-kali, tapi Luhan terlihat tak peduli. Saat Sehun mengajaknya bicara, Luhan hanya menatap datar padanya tanpa mengatakan apapun, membuat Sehun menjadi frustasi. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir mungil favorit Sehun itu, bahkan sampai sekolah berakhir. Sehun sudah mengucapkan maaf berkali-kali, tapi Luhan yang keras kepala itu hanya diam, tak mau menjawab ucapan maaf dari Sehun sama sekali. Dan Sehun harus mendesah kecewa setelah Luhan masuk keapartemennya, mengabaikan Sehun yang terus berusaha mendapatkan maaf darinya. Mungkin Sehun harus mencoba lebih keras lagi besok.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 
Luhan berjalan terhuyung-huyung menuju lapangan bola. Hari ini dia harus mengikuti latihan sepak bola disekolah, padahal tubuhnya terasa sangat lemah saat ini. Sejak kemarin lusa dia belum memakan apapun. Luhan stress, membuat nafsu makannya terbang dan menghilang entah kemana. Perutnya sangat perih, tapi Luhan mengabaikannya. Perutnya kosong, mungkin hanya beberapa kaleng bir saja yang masuk ke dalam perutnya sejak insiden malam itu. Otaknya sangat kacau belakangan ini, dan memaksa Luhan menggunakan bir hanya sekedar untuk membuang beban fikirannya. Saat ini kepalanya terasa sangat pusing dan dia juga merasa mual, wajahnya juga terlihat pucat, tapi Luhan tak peduli.

Akhirnya ia sampai juga dilapangan setelah perjuangan keras berjalan terhuyung sambil menahan nyeri-nyeri di perut dan kepalanya, Sehun juga sudah berada disana. Sehun berlari-lari mendekat kearah Luhan saat melihat Luhan datang. Wajah Sehun tampak khawatir saat melihat wajah Luhan yang terlihat pucat.

“Lu, kau baik-baik saja? Wajahmu pucat” kata Sehun sambil memegangi pipi Luhan.
 

Dengan tak berperasaan Luhan menepis kasar tangan Sehun, lalu berjalan kearah kursi panjang yang berada ditepian lapangan itu. Guru mereka belum datang, jadi Luhan masih bisa beristirahat sebentar.  Luhan menatap kosong kearah teman-temannya yang sedang bermain bola,dan Sehun hanya diam menatapnya. Tapi sesuatu yang buruk terjadi, tiba-tiba saja sebuah bola melayang mendekat kearah mereka, dan menghantam wajah Luhan dengan keras.

BUAKKK!!!!

Sehun terbelalak dan langsung berlari cepat menghampiri Luhan. “Luhan? Kau baik-baik saja? Lu? Singkirkan tanganmu!” kata Sehun panik.

Luhan tak menjawab dan tak menurut. Si mungil itu hanya memegangi kuat batang hidungnya sambil memejamkan matanya rapat-rapat, sepertinya sangat kesakitan,t api tak ada suara yang keluar dari bibirnya. Sehun menyingkirkan paksa tangan Luhan saat melihat darah menetes ke baju olahraga Luhan, dan jantungnya jadi berdebar tak karuan ketika melihat darah segar menetes-netes dari hidung pria mungil itu. Darahnya keluar sangat banyak, malah hampir membasahi sebagian besar kerah kaus olahraga yang di gunakan pria cantik itu.

 

“Lulu…Luhan? Hey, lihat aku” kata Sehun, sambil menepuk-nepuk pelan pipi Luhan, tapi Luhan hanya diam, menatap Sehun dengan tatapan sayu kesakitan.

Sehun hampir menangis melihat wajah pria cantik yang berlumuran darah itu, dan bersiap-siap menggendong tubuh mungil itu ke ruang kesehatan.  “Bertahanlah Lu…aku akan membawamu ke ruang kesehatan” kata Sehun panik.

Dengan cepat Sehun menggendong Luhan dan berlari-lari kearah ruang kesehatan yang lumayan jauh dari lapangan. Luhan hanya diam sambil terus-menerus memencet hidungnya. Luhan ingin menangis sebenarnya. Hidungnya benar-benar sakit, dan kepalanya juga pusing. Akhirnya tangannya terkulai lemah. Luhan kehilangan kesadaran dalam gendongan Sehun.

 

“Luhan?….Luhannie….sadarlah!!!” Sehun semakin panik dan berlari lebih kencang lagi.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

Sehun masih memandangi wajah Luhan yang tertidur pulas. Saat ini Sehun sudah berada diapartemennya. Sehun terpaksa membawa Luhan keapartemennya sendiri karena dia tak tau password masuk ke apartemen Luhan. Tadi saat Luhan pingsan, dokter sekolahnya mengatakan kalau Luhan sedang mengalami dehidrasi, perutnya kosong dan pencernaanya mengalami infeksi. Karena itu hantaman bola tadi langsung membuatnya tak sadarkan diri karena sejak awal tubuhnya sudah lemah. Untung saja sekolahnya adalah sekolah elit, jadi Sehun tak sampai harus membawa Luhan ke rumah sakit karena sekolah sudah menyediakan dokter dan obat-obatan untuk siswa yang sakit saat berada dilingkungan sekolah.

Sehun mengusap kening Luhan perlahan. Panas. Luhan demam. Sehun beranjak kearah dapur, tempat dimana ibunya meletakkan obat-obatan darurat untuknya. Sehun membongkar-bongkar kotak obat itu untuk mencari plester penurun demam. Akhirnya Sehun menemukan satu pak plester dan langsung menuju kekamarnya lagi, tempat dimana Luhan tertidur. Sehun menempelkan plester itu kedahi Luhan dan membelai pipi Luhan perlahan.

“Lama sekali kau tertidur…..apa kau sangat lelah?” kata Sehun pada Luhan yang masih terlelap.

Sehun menatap intens wajah Luhan yang pucat, dan menangkap garis hitam dibawah mata rusa pria cantik itu.

“Sudah berapa lama kau tak tidur?” gumam Sehun lagi.
Sehun mengambil nafas dalam. Jemarinya bergerak, meraih jemari Luhan. Dikecupnya jari-jari mungil itu sekali, kemudian tangannya beralih, mengusap pipi pucat Luhan.

“Maaf….aku menyakitimu lagi….”

“…..”

“Aku mencintaimu…..”

Sehun akhirnya mengatakan kata-kata itu, walaupun dia tau Luhan tak bisa mendengarnya. Sehun tak perduli. Dia hanya ingin mengungkapkan apa yang dirasakannya saat ini, perasaan cinta yang semakin hari semakin membuncah di dalam dadanya. Sehun mengecup pipi Luhan lama, lalu merapikan selimut Luhan dan meninggalkan pria mungil itu ke dapur.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

Luhan membuka matanya perlahan dan menatap sekelilingnya dengan bingung. Tubuhnya bangkit duduk, sambil memegangi kepalanya yang sakit. Luhan merasakan sesuatu didahinya dan menarik sesuatu
itu, plester penurun demam yang ditempelkan Sehun kedahinya. Luhan menatap plester penurun panas itu dengan aneh, karena dia tidak pernah menggunakan benda seperti itu sebelumnya, dan terkejut saat Sehun tiba-tiba muncul.

“Kau sudah bangun?” tanya Sehun sambil tersenyum hangat pada Luhan.

Sehun berjalan menghampiri Luhan dan memegang kening Luhan, memeriksa apakah demam Luhan sudah turun atau belum.

“Kau masih demam….apa kepalamu masih pusing?” tanya Sehun lembut.

Luhan menepis kasar tangan Sehun dan beranjak turun dari ranjang. Luhan baru berencana pergi, tapi Sehun menahannya.

“Jangan pergi! Kau masih sakit Lu….biarkan aku merawatmu sampai kondisimu membaik….” kata Sehun.

“Tak perlu! Aku tak apa-apa…aku tak butuh siapapun…aku ingin pulang” jawab Luhan datar.

“Luhan….biarkan aku merawatmu sampai sembuh…..” bujuk Sehun, memohon.

Sehun menarik tubuh Luhan kepangkuannya, dan Luhan hanya diam tak menolak. Tangan Sehun melingkari perut Luhan yang datar, hidung mancungnya menghirup aroma leher Luhan dalam-dalam, sebelum akhirnya mengecup leher Luhan dengan lembut.

“Maafkan aku Luhan…kumohon…berikan satu kesempatan padaku untuk berubah….aku berjanji aku tak akan melukaimu lagi….”

“…..”
Sehun membalikkan tubuh Luhan agar menatapnya. Dibelainya pipi Luhan  yang pucat, lalu menempelkan dahinya kedahi Luhan.

“Maafkan aku…Aku mencintaimu Lu…”

Sehun mengucapkan kata-kata itu sebelum bibirnya bertemu dengan bibir Luhan. Sehun mengecup bibir Luhan lama dan Luhan hanya diam tak menolak. Sehun mulai menggerakkan bibirnya, melumat bibir Luhan dengan lembut, membuat Luhan lupa caranya bernafas untuk sekejap. Pernyataan cinta itu, dan ciuman ini….

 

Luhan melayang. Dengan perasaan yang campur aduk, Luhan memejamkan matanya dan mulai membalas ciuman itu…


 

To Be Continued


A/N : Big Thanks to Ferina Rindhi ( Oh My Lady Design )

 

 

Advertisements