OTHELLO

Othello

.

.

By tmarionlie

.

HunHan

.

Y
aoi | Hurt & Comfort | Romance | Mature


CHAPTER 6


 

Previous Story 

 

“Kau bertengkar lagi dengan Baekhyun?” tanya Luhan lembut.

Pria yang ditanya itu hanya diam tak menjawab. Luhan mengusap kepala Chanyeol dengan sayang.

“Aku akan mengambilkan minum untukmu…tunggu sebentar” kata Luhan sambil beranjak dari ranjang.

Tapi belum sempat melangkah, Chanyeol sudah menarik Luhan ke pangkuannya.

“Aku tak butuh air….yang kubutuhkan hanya kau….aku menginginkanmu malam ini Luhan….kumohon temani aku…” kata Chanyeol sendu.

Tanpa berkata apa-apa lagi dan tanpa menunggu jawaban Luhan, pria tinggi itu sudah menyambar bibir mungil Luhan, menghisap bibir atas dan bawah Luhan secara bergantian.

Luhan terbawa suasana, dengan sekali gerakan, tangannya mendorong Chanyeol hingga tubuh pria itu terjatuh diranjangnya, lalu dengan perlahan Luhan merangkak naik menindih pria tinggi itu dan langsung mencium bibir Chanyeol dengan lembut. Ciuman itu berlangsung lambat beberapa saat, hingga akhirnya semakin dalam dan menjadi semakin memanas.

Chanyeol berguling hingga kini Luhan yang berada dibawah tubuhnya. Pria itu menyerang leher Luhan, menjilati dan menghisapnya dengan kuat hingga meninggalkan bercak merah keunguan di leher Luhan.

 

Chanyeol menyibakkan bathrobe Luhan, memperlihatkan tubuh mulus Luhan yang sangat sexy. Dengan cepat lidah basah Chanyeol menjilati nipple pink pria mungil itu, membuat Luhan mendesah kenikmatan sambil meremas-remas rambut Chanyeol. Chanyeol menghisapi dada dan perut Luhan, meninggalkan lebih banyak kissmark disana.

“Ssshhhh….Chanyeollie….hhh” desah sexy Luhan sukses keluar.

Tapi tiba-tiba saja suara bel mengintrupsi kegiatan mereka.

“Ck!!” decak Chanyeol kesal.

Pria tinggi itu menyingkir dari atas tubuh Luhan, membiarkan pria yang lebih mungil itu beranjak untuk melihat siapa yang datang.

“Tunggu sebentar ya sayang….” kata Luhan lembut sambil mengecup bibir Chanyeol sekilas.

Chanyeol mengangguk.

Luhan berjalan dengan cepat kearah pintu dan membukanya. Tapi nafasnya langsung tercekat saat melihat siapa yang berdiri di depan pintu apartemennya.

“K-kau?” kata Luhan sambil menatap nanar orang itu.

 

 

.

 

 

.

 

 

~***~Othello Chapter 6~***~

 

 

.

 

 

.

 

Tubuh mungil, seluruh tubuh basah kuyup. Meskipun kepala pria itu sedang tertunduk dalam, Luhan tau itu siapa.

 

 

“Baekhyun?”

 

 

Pria mungil dihadapannya mendongak. Luhan menatap pria mungil itu nanar. Mata pria mungil yang dipanggil Baekhyun itu membengkak, mungkin habis menangis.

 

 

Pria itu masih diam, menatap Luhan dalam-dalam. Beberapa lama hanya memandangi wajah Luhan sebelum mengalihkan tatapannya kearah leher dan dada Luhan yang terbuka, karena Luhan masih mengenakan bathrobe putihnya sehingga dada dan lehernya terekspos jelas. Luhan mencengkam kuat bathrobe putihnya saat menyadari tatapan pria mungil itu mengarah kemana.

 

 

Kissmark-kissmark yang baru saja diciptakan oleh Chanyeol ditubuhnya…

 

 

Luhan semakin mengeratkan kuat-kuat bathrobe putih itu dengan tangan kirinya, berusaha menutupi kissmark yang sangat banyak itu, meskipun sebenarnya sadar jika usahanya itu hanya akan membuahkan hasil yang sia-sia. Pria dihadapannya ini bahkan sudah melihatnya sejak tadi.

 

 

 

“Lu-Luhannie….ap-apa C-Chanyeol ada?” tanyanya terbata-bata.

 

 

Akhirnya pria itu bersuara…

 

 

 

Luhan mendesah kecil, lalu meraih pergelangan tangan mungil pria yang juga berpostur mungil dihadapannya itu dan menariknya masuk kedalam apartemennya. Luhan mendudukkan pria itu di sofanya, lalu bergegas ke kamar mandi yang berada diluar kamarnya dan mengambil handuk bersih.

 

 

Sepanjang kegiatanya Luhan terus-menerus mengerutkan dahi, memikirkan tentang bagaimana bisa si mungil yang bernama Baekhyun itu sampai di sini…apa masalahnya dengan Chanyeol? Chanyeol juga terlihat kurang baik….masalah beratkah?

 

Luhan kembali mendesah sekali sebelum melangkahkan kaki-kakinya, menghampiri Baekhyun dan berlutut dihadapan pria itu duduk, lalu mengarahkan tangannya yang memegang handuk ke kepala Baekhyun, mengeringkan rambut cokelat yang sangat basah itu.

 

 

“Kenapa kau hujan-hujanan begini Baekhyun-ah…kau bisa sakit…” kata Luhan sambil terus mengeringkan rambut pria imut dihadapannya itu.

 

 

Baekhyun hanya menatap datar pada Luhan dan mulutnya masih tetap diam. Suasana aneh tercipta di antara keduanya, dan akhirnya pecah ketika Baekhyun memegang tangan Luhan yang sedang mengeringkan rambutnya itu dan menggenggamnya erat-erat.

 

 

“Luhannie…..apa Chanyeol ada disini? bo-bolehkah kau memanggilkannya sebentar?”

 

 

Baekhyun menatap Luhan penuh harap. Sangat berharap jika Luhan mau memanggilkan kekasihnya itu untuknya. Luhan mengusap pipi Baekhyun yang terasa sangat dingin, tersenyum hangat dan kemudian mengangguk.

 

 

“Tentu saja….aku akan memanggilkannya untukmu….tapi kau harus mengganti pakaianmu dulu….oke?” kata Luhan, disambut dengan anggukan lemah oleh Baekhyun.

 

 

Luhan menarik tubuh Baekhyun yang sedikit bergetar karena kedinginan, lalu menarik tubuh kecil itu bersamanya. Baekhyun hanya diam, tak mengatakan apapun. Suasana memang agak canggung bagi Baekhyun, apalagi jika mengingat bagaimana hubungannya dengan Luhan selama ini. Tapi Luhan tampak biasa saja, jadi Baekhyun berusaha tak memikirkannya.

 

 

Luhan membiarkan Baekhyun menunggunya di depan pintu kamar mandi selama dirinya mengambil pakaiannya yang berada di lemari tepat disebelah pintu kamar mandi itu, kemudian menyerahkan pakaian yang dipilihnya barusan pada Baekhyun, mendorong tubuh kecil itu masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya, baru kemudian Luhan berjalan pelan kearah kamarnya, tempat dimana Chanyeol-kekasih Baekhyun-berada.

 

Luhan berdecak kecil ketika mendapati Chanyeol sedang duduk menyandar di headboard ranjang miliknya dengan santai, sambil memainkan ponselnya. Wajah pria itu tertekuk, terlihat sangat bosan.

 

 

“Chan….”

 

 

Chanyeol menoleh kearah Luhan ketika namanya di panggil, dan langsung mempoutkan bibirnya begitu pria mungil berambut orange itu menghampirinya.

 

 

“Hhhh….kau lama sekali Lu….kau membuat libidoku kembali turun…” keluh pria jangkung itu, dengan nada yang terdengar seperti rengekan di telinga Luhan.

 

 

Luhan hanya tersenyum tipis, dan duduk ditepi ranjangnya. Baru hendak mengatakan sesuatu, Chanyeol sudah menyerangnya dengan ciuman-ciuman nakal yang datang bertubi-tubi seperti hujan, hingga membuat Luhan sulit untuk mengatakan apapun.

 

 

” Chanmmmpphhttt…..hentikammmphptt…”

 

 

Luhan berusaha keras berbicara, tapi Chanyeol melumat bibirnya semakin dalam dan semakin basah, yang malah membuat bunyi kecipak ciuman itu terdengar sangat jelas. Entah apa yang dipikirkan oleh pria bernama lengkap Park Chanyeol itu, bahkan Luhan tak diberi kesempatan sama sekali untuk mengatakan sepatah katapun. Tubuh mungilnya malah ditarik kuat hingga Luhan terjatuh ke atas ranjangnya sendiri dengan Chanyeol yang langsung memposisikan tubuh tingginya di atas tubuh Luhan, menindihnya rapat-rapat tanpa memberikan celah sedikitpun. Ciuman-ciuman, lumatan-lumatan, hisapan-hisapan liarnya pada bibir mungil Luhan yang menggoda tak berkurang sama sekali intensitasnya, malah tampak semakin bergairah, basah dan semakin dalam. Untunglah  sesaat kemudian Chanyeol mengalihkan ciumannya keleher Luhan, hingga membuka kesempatan bagi Luhan untuk bicara.

 

 

“Chanyeollie….hentikan….” kata Luhan lembut sambil membelai kepala bagian belakang Chanyeol yang sedang bergerak-gerak, karena bibir pria itu masih menikmati lehernya putih mulusnya.

 

 

“Emmmhh….kenapa sayang?….aku sudah tak tahan baby….jadi jangan menyuruhku berhenti….oke?” jawab Chanyeol dengan wajah mengeluhnya, kemudian meneruskan kegiatannya yang sempat tertunda tadi.

 

 

Luhan memejamkan matanya, merutuki tingkah pria tinggi yang menindihnya ini.

 

 

“Tapi Chanyeollie….kita tak bisa melakukan ini sekarang….kau harus segera ber- aahhh…..”

 

 

 Sial!

 

 

Luhan mengumpat dalam hati. Pasalnya pria jangkung itu kini sengaja meremas penisnya dari luar panty hitam yang di kenakannya, membuat desahan erotis langsung keluar dari bibirnya. 

 

“Hmpphh….kau bohong…kau tak benar-benar ingin berhenti sayang….” kata Chanyeol meremehkan, dengan tangan yang masih meremas-remas lembut penis kebanggaan Luhan itu dengan gerakan sensual.

 

 

Luhan menggigit bibir bawahnya sambil memejamkan mata. Nafasnya sudah agak memberat karena menahan nafsunya yang mendadak bangkit karena sentuhan Chanyeol, tapi Luhan berusaha keras melawannya. Otaknya memikirkan pria kecil yang sedang menunggu di luar sana, hingga Luhan menguatkan dirinya sendiri untuk menarik paksa tangan Chanyeol yang sedang menggoda penis kebanggaannya di areal bawah tubuh moleknya, meskipun matanya masih terpejam.

 

Menghirup nafas beberapa saat, Luhan membuka mata dan langsung mendapatkan wajah Chanyeol yang sedang menatap lekat padanya saat ini.

 

 

“Hentikan sayang…” bisik Luhan lembut. Jari-jarinya bergerak di sekitar rahang Chanyeol, lalu menangkup pipi Chanyeol yang tembem dengan kedua tangan.

 

 

“Kenapa? Heumm??” tanya Chanyeol sambil menatap teduh ke mata Luhan.

 

 

Chanyeol mengecup bibir Luhan sekilas dan Luhan hanya diam menerimanya. Luhan tetap diam ketika Chanyeol mengelus pipinya dengan punggung tangan sebelum kembali mengecup bibir merekahnya.

 

 

“Kenapa aku harus berhenti? aku tidak bisa menahannya Luhannie…”

 

 

Luhan tersenyum tipis, lalu balas mengelus pipi Chanyeol dengan kedua ibu jarinya.

 

 

“Kau harus bisa…dan kuharap ini terakhir kalinya kau datang padaku jika kau sedang bermasalah dengan Baekhyun…kita harus berhenti Chanyeollie….dia sedang menunggumu saat ini…”

 

 

Tangan Chanyeol yang mengelus pipi Luhan mendadak berhenti. Chanyeol menatap Luhan bingung. Tatapan matanya seakan ingin memastikan kebenaran kata-kata Luhan barusan. Luhan langsung mengangguk seakan mengerti arti tatapan Chanyeol yang dilemparkan padanya itu.

 

 

“Yang datang tadi adalah Baekhyun….dia hujan-hujanan hanya untuk menemuimu kesini….dia sudah sangat pucat dan kedinginan Chan….cepat temui dia dan bawa dia pulang…kau tak mau dia jatuh sakit kan?” kata Luhan lembut sambil tersenyum.

 

 

Chanyeol bangkit perlahan dari atas tubuh Luhan dan menjambak rambutnya sendiri. Pria jangkung itu terlihat stress dan frustasi.

 

 

“Temui dia….kasihan dia Chanyeol-ah…” kata Luhan sambil mengusap punggung Chanyeol.

 

Chanyeol menepis kasar tangan Luhan.

 

“Kenapa kau harus peduli padanya Lu?? ini sama sekali tak mirip kau…!” kata Chanyeol ketus.

 

 

“Bukan aku, tapi kau…karena aku tau kau peduli padanya….makanya aku mengatakan hal ini…”jawab Luhan lembut.

 

 

“Aku tak peduli padanya!! asal kau tau, dia juga tak peduli padaku!!”

 

 

Chanyeol mengatakan hal itu setengah berteriak, tak peduli jika pria mungil yang berada diluar sana akan mendengarnya atau tidak.

 

 

Luhan menarik nafas pelan. Sebenarnya Luhan agak sedikit kesal.

 

 

“Kalau dia tak peduli padamu, dia tak akan menyusulmu hujan-hujanan begitu sampai kulitnya pucat dan tubuhnya gemetaran, Park Chanyeol!”

 

 

Chanyeol diam, hingga tak berapa lama kemudian menarik tangan Luhan dan membawa Luhan keluar, menemui Baekhyun.

 

Pria mungil bernama Baekhyun itu sedang duduk menunduk di sofa sambil meremas celana Luhan yang dipakainya saat ini. Dan Chanyeol  sengaja memeluk pinggang Luhan saat mereka hampir berada di dekat Baekhyun duduk.

 

 

“Untuk apa kau menyusulku kesini, Byun Baekhyun? bukannya seharusnya sekarang kau sedang bersenang-senang dengan namja pirang yang sangat tampan itu?” kata Chanyeol, ketus.

 

Baekhyun hanya diam, dan tak juga mengangkat wajahnya untuk menatap kekasihnya yang sedang memeluk pinggang Luhan itu. Pria kecil itu hanya diam seribu bahasa, tanpa suara. Tapi sebenarnya pria itu sedang menangis. Setelah diam beberapa waktu lamanya, akhirnya pria itu berdiri, dan berbicara walau kepalanya masih tetap tertunduk.

 

 

“Maafkan aku Yeollie…maaf jika aku mengganggumu….”

 

 

Baekhyun membungkuk kearah Luhan setelah meminta maaf pada Chanyeol, kekasihnya sendiri yang jelas-jelas sedang berselingkuh di depannya.

 

 

“Maafkan aku Luhannie…..maaf sudah mengganggu kalian…si-silahkan lanjutkan saja kegiatan yang ingin kalian lakukan…hiks…” Baekhyun tak bisa menyembunyikan tangisannya lagi.

 

 

Pria mungil itu berbalik, lalu berjalan menuju pintu utama, bermaksud keluar. Luhan hanya diam, tapi dia merasakan dengan jelas jika tangan Chanyeol yang sedang memeluk pinggangnya itu perlahan bergetar dan mengepal. Luhan tersenyum tipis, dan hanya menonton saja apa yang akan dilakukan Park Chanyeol selanjutnya.

 

Baekhyun sudah mencapai pintu, tapi dengan cepat Chanyeol melepaskan pelukannya pada pinggang Luhan dan berjalan cepat kearah Baekhyun. Chanyeol menarik kasar tangan Baekhyun hingga pria mungil itu meringis kesakitan. Dengan tak berperasaan Chanyeol mengabaikan rintihan Baekhyun dan mengalihkan tatapannya ke arah  Luhan.

 

 

“Luhannie…aku pulang dulu….terima kasih sudah membantuku selama ini…aku….sayang padamu….”kata Chanyeol sekilas dan dijawab  dengan senyuman dan anggukan oleh Luhan.

 

 

Chanyeol  membuka pintu apartemen Luhan dan menyeret Baekhyun pergi dari tempat itu.

 

 

 

“Hufftt….”

 

 

Luhan menghembuskan nafas beratnya setelah Chanyeol dan Baekhyun menghilang.

 

 

“Cinta……sungguh perasaan yang merepotkan…” gumamnya pada dirinya sendiri.

 

 

Luhan melangkahkan kaki-kakinya, berjalan kearah pintu, bermaksud menutup pintu yang belum tertutup sempurna. Tapi baru saja hendak menutupnya, pintu apartemennya sudah ditahan oleh seseorang. Luhan mendongak menatap orang itu dan matanya terbelalak saat melihat Sehun berdiri dihadapannya sambil menatap tajam kearahnya. Mata pemuda itu berkilat-kilat hingga Luhan dapat menyimpulkan jika pria pucat itu sedang dalam perasaan tak baik, entah karena apa. Yang pasti, aura yang dibawa oleh Sehun membuat Luhan merasa tak enak, hingga memaksanya berniat untuk segera mengusir pria pucat itu sesegera mungkin dari apartemennya.

 

 

“Mau apa kau, brengsek!! pergi kau!!” usir Luhan sambil berusaha mendorong pintu utama.

 

 

Tapi tentu saja tenaga Luhan kalah dengan tenaga Sehun. Apalagi pria pucat itu terlihat tidak dalam keadaan baik saat ini. Orang yang sedang marah tenaganya akan bertambah berkali-kali lipat kan?

 

 

Sehun mendesak Luhan masuk kedalam apartemennya. Meskipun Luhan berkali-kali mendorong Sehun dengan kasar dan mulutnya tak pernah berhenti memaki pria itu, tapi Sehun tak perduli. Pria pucat itu sudah kalap hingga otaknya berkabut dan tak mampu berpikir jernih.

 

 

“Kubilang pergi, namja brengsek!! berani-baraninya kau datang kesini setelah apa yang kau lakukan padaku!” pekik Luhan geram.

 

 

Luhan memukuli dada Sehun dengan kasar, tapi pria yang sedikit lebih tinggi dari tubuhnya itu malah menangkap kedua tangannya lalu mendorong tubuhnya, menghimpitnya ketembok. Sehun mengunci pergelangan tangan Luhan disisi kanan dan kiri tubuh mungil itu, dengan rahang yang mengeras tajam. Nafas Luhan tersengal-sengal menahan amarahnya sambil menatap geram pada wajah Sehun yang berada dihadapannya saat ini.

 

 

“Dasar pembual!” kata Sehun tajam, setajam tatapannya pada Luhan.

 

 

“Apa yang kau bicarakan? lepaskan tanganku, brengsek!” kata Luhan geram.

 

 

“Kau pembohong Xi Luhan…kau licik…kau mengatakan kalau kau mencintaiku, tapi lihat kelakuanmu saat ini….aku benar sejak awal…semua ucapanmu hanyalah omong kosong!”

 

 

“Tutup mulutmu dan lepaskan aku, brengsek!” teriak Luhan saking geramnya.

 

Sehun tersenyum sinis dan semakin mengeratkan cengkramannya.

 

“Sebenarnya namja seperti apa dirimu Xi Luhan? kau benar-benar sangat jauh dengan yang kubayangkan….kau benar-benar buruk…dan apa tadi yang kau ucapkan disekolah? Apa kau mengatakan kau tak mengenalku?? that’s so damn bullshit!!” kata Sehun sebelum bibirnya menyambar bibir Luhan dan menekannya dalam-dalam, menggesek bibir Luhan dengan amarahnya yang meluap-luap.

 

 

Sehun melumat bibir Luhan dengan kasar, menghisapi bibir atas dan bawah milik Luhan, dan menggigitnya sampai berdarah. Tak perlu menunggu lama, Sehun langsung melesakkan lidahnya masuk ke mulut Luhan saat mulut pria cantik itu terbuka karena gigitannya barusan.

 

 

Luhan merintih kesakitan, bibirnya terasa panas dan perih, dan ciuman itu terasa asin yang bercampur dengan rasa besi yang menjijikkan, karena saliva mereka bercampur dengan darah Luhan. Luhan menahan nafasnya saat lidah Sehun menari-nari di dalam mulutnya, menjilati lidahnya dengan rakus. Meskipun Luhan berusaha melawannya sekuat tenaga, namun hasilnya nihil. Sehun malah semakin gencar menyerang bibirnya.

 

 

“Mmmmphhh….hentikan Sehun….kumohon….” ucap Luhan susah payah disela-sela ciuman itu.

 

 

Sehun tak peduli dan tetap melumat bibir Luhan dengan kasar, mengabaikan seluruh rintihan dan penolakan yang dilakukan oleh pria cantik itu hingga akhirnya Luhan kehabisan tenaga dan tak melawan lagi. Tubuhnya sudah lemas, dan hatinya juga perih diperlakukan sekasar ini oleh Sehun, pria yang pernah –atau masih- dicintainya.

 

Sehun melepaskan tangan Luhan, tapi masih tetap melumat bibir Luhan. Tempo hisapannya menurun, lalu kemudian beralih dari bibir ke leher pria mungil itu. Luhan tak melawan, hanya diam, pasrah dengan apapun yang akan Sehun lakukan padanya.

 

Sehun menggeram kesal saat menyadari terlalu banyak kissmark merah keunguan yang tercetak jelas di leher Luhan. Dengan emosi yang tak terkendali tangan-tangannya yang menguat melepas paksa bathrobe Luhan, melepasnya hingga benar-benar terpisah dari tubuh mungil itu dan membuangnya sembarangan ke lantai. Tubuh Luhan terekspos sempurna. Kulitnya tak terbalut apapun lagi selain hanya berbalut panty hitam ketat yang hanya menutupi daerah pinggul hingga pangkal pahanya. Mata Sehun menatap kecewa melihat kulit yang tercetak banyak ‘noda’ itu. Kekesalan Sehun bertambah berkali-kali lipat. Kissmark-kissmark yang tak tau situasi itu sangat banyak bertebaran di bagian leher, dada dan perut pria cantik itu.

 

 

“Brengsek!!” geram Sehun.

 

 

Sehun kalap. Bibirnya menghisapi leher, dada dan perut Luhan dengan liar untuk menutupi kissmark yang disematkan oleh Chanyeol itu. Luhan hanya pasrah, dan hanya bisa merintih kesakitan ketika Sehun menghisap dan menggiti dengan kuat pada bagian-bagian kulit tubuhnya.

 

 

Setelah puas menghisapi tubuh Luhan, tangan kanan Sehun meraih tengkuk Luhan dan mengecup kembali bibir Luhan, sedikit lama, dan dalam, sebelum mulai melumatnya lagi, lagi-lagi dengan lumatan liarnya. Luhan memejamkan matanya erat-erat, menahan sekuat tenaga agar airmata sialan yang sudah mengambang di sudut-sudut matanya tak menetes turun.

 

 

Sehun meraih pinggang Luhan dengan tangan kirinya, manyerukkan bibirnya ke bahu Luhan dan menghisap bahu pria mungil itu dengan rahang yang mengeras. Sehun benar-benar marah. Marah karena merasa dibohongi oleh Luhan. Marah karena merasa seperti pria dungu, hingga Luhan bisa dengan mudah memperdaya dan mempermainkan perasaannya seperti sekarang. Dan juga…..marah karena dia sangat mencintai pria cantik itu.

 

 

 

Cinta…

 

 

Sehun masih menyerang. Tangan kanannya yang bebas bergerak kearah penis pria yang lebih mungil dan meremasnya pelan, membuat kedua tangan Luhan yang tadinya terkulai lemas sontak naik dan meremas bahu Sehun dengan kuat. Sehun menelusupkan tangannya kedalam panty hitam Luhan itu hingga jari-jari panjangnya bersentuhan langsung dengan kulit penis pria cantik itu, meremasnya sekilas kemudian mengeluarkannya dari lindungan panty hitam itu, dan Sehun melanjutkan dengan memijatnya perlahan.

 

 

“Aku sangat benci melihatmu yang seperti ini Luhan…kau sungguh murahan…kau buruk…aku benar-benar tak menyukainya…aku benar-benar marah….” bisik Sehun, bibir tipisnya menghisap leher Luhan dan tangannya sudah mempercepat pijatannya pada penis pria cantik itu.

 

 

Luhan menggigit bibirnya sendiri sambil memejamkan mata diantara sakit yang menyerang hatinya dan nikmat yang menjalari tubuhnya. Pijatan tangan Sehun membuatnya gila, namun sakit hatinya jauh lebih besar. Luhan memejamkan matanya lebih kuat lagi saat merasakan penisnya yang diremas-remas oleh Sehun itu terasa semakin membesar. Perutnya mengejang dan terasa menggerumbul ke bawah. Luhan menggigit bibirnya sekuat tenaga saat klimaks itu datang menghampiri. Darahnya mengalir dengan cepat dan tubuhnya terasa terbakar. Luhan emosi, dan Luhan bersumpah jika saat ini dia sangat ingin sekali membunuh pria yang bernama Oh Sehun itu karena berani melecehkannya dan membuat dadanya terasa amat sesak sampai seperti ini.

 

Sehun berhenti memijat ketika merasakan cairan hangat yang tumpah ditangannya. Bibirnya mengecup dalam bibir Luhan, dengan mata yang terpejam. Sehun sangat mencintai Luhan, dia sangat yakin saat ini.

 

 

Sehun menarik dirinya setelah kecupannya terlepas. Tangannya melepaskan penis Luhan dan menyembunyikannya lagi ke dalam panty hitam pria mungil itu, kemudian memberi jarak lebih lebar lagi dengan tubuh mungil yang di peluknya sejak tadi. Mata Sehun menatap lembut ke arah wajah kecil pria mungil didepannya itu, yang kini hanya berdiri mematung, gemetaran dengan kepala  tertunduk dan memejamkan mata sambil menggigit bibirnya sendiri.

 

 

“Lu…”

 

 

Sehun tercekat ketika pria cantik itu membuka mata, menatap tajam kearahnya dengan mata yang memerah. Air mata pria cantik itu mengambang di kelopak mata rusanya, membuat kata-kata yang hendak di keluarkan oleh Sehun mendadak tersangkut di tenggorokan, lalu lenyap begitu saja.

 

 

tes….

 

 

tes…

 

 

tes…

 

 

Airmata Luhan akhirnya jatuh juga meskipun sudah sekuat tenaga ditahannya. Wajah Sehun yang tadinya mengeras sontak berubah. Entah kenapa melihat Luhan menatapnya seperti itu dan menangis membuat hatinya mencelos perih.

 

 

“Lu-Luhan….maaf…..” kata Sehun pelan, menyesal.

 

 

Tangan Sehun berusaha meraih Luhan tapi pria mungil itu menepisnya dengan kasar, dan….

 

 

PLAKKKK!!!

 

 

Sehun merasakan pipinya terasa sangat panas dan perih. Luhan menamparnya dengan sangat keras. Bahkan sampai sudut bibir Sehun mengeluarkan darah.

 

 

“Pergi….” kata Luhan lemah.

 

 

Tubuh Luhan merosot ke lantai. Wajahnya sudah basah seluruhnya oleh airmatanya.

 

 

“Lu….”

 

 

Sehun berjongkok dan hendak memeluk Luhan, tapi lagi-lagi pria itu menepisnya.

 

 

“Jangan sentuh aku!!”

 

 

“Lu…”

 

 

“Pergi…..”

 

 

“Luhan….”

 

 

“Pe-pergi….hiks…..”

 

 

“Luhannie.…”

 

 

“Kumohon pergilah Sehun-ah…..”

 

 


 

To Be Continued


A/N : Big Thanks to Ferina Rindhi ( Oh My Lady Design )

 

 

 

 



 

 

 

 

 

Advertisements