OTHELLO

Othello

By tmarionlie

.

HunHan

.

Y
aoi | Hurt & Comfort | Romance | Mature


CHAPTER 5


 

 

Pria mungil itu, kini sedang menatap bayangan dirinya sendiri di cermin. Bibirnya menyunggingkan senyuman tipis, lebih mirip seperti smirk sebenarnya.

“Welcome back myself, and goodbye Oh Sehun….” gumamnya pada bayangan dirinya sendiri.

Pria mungil yang tak lain adalah Luhan itu memasang dasi seragamnya, kemudian merapikan rambutnya yang tak lagi berwarna cokelat madu itu dengan jari-jarinya yang lentik. Dia sudah mengganti lagi warna rambutnya menjadi orange menyala saat ini. Pria yang sangat manis itu memang cocok dengan warna rambut apapun, tetap terlihat cute dengan model rambut apapun.
Luhan masih sempat memandangi bayangan dirinya yang ‘tampan’ sekali lagi sebelum melangkahkan kaki ke arah meja di ruang tengah, mengambil kunci mobilnya dan bergegas keluar apartemennya. Sudah 3 hari ini dia membolos sekolah. Dan juga tak pulang ke apartemennya. Selama 3 hari belakangan ini waktunya hanya dia habiskan untuk bersenang-senang di club favoritnya, tempat yang dulu sering dikunjunginya setiap malam.

Yeah…pria itu sebenarnya sudah hampir ingin merubah kebiasaan buruknya dulu saat bertemu pria es bernama Oh Sehun itu. Hanya saja niatnya menjadi terkubur kembali setelah pria es itu menolak –membuang dalam anggapan pribadi-nya. Padahal baru saja merasa jika pria pucat itu sudah berhasil membuat hatinya yang telah membeku selama bertahun-tahun, perlahan menjadi terasa hangat kembali.

 

Luhan sudah rela mengorbankan apapun demi pria pucat itu, berharap Sehun dapat membalas cintanya. Tapi Sehun justru menorehkan luka baru dihatinya yang sudah sangat terluka. Dan kini hati itu telah membusuk sempurna.

 

Menjadi pria yang brengsek seperti dulu mungkin adalah pilihan hidup yang paling menyenangkan untuknya. Setidaknya menjalani kehidupan normalnya seperti dulu -yang sesungguhnya tak normal dimata orang lain- dapat membuat beban kesedihan yang menghimpit didadanya sedikit berkurang, jadi Luhan memutuskan untuk kembali menjadi Luhan yang liar,
seperti saat sebelum dia mengenal pria dingin bernama Oh Sehun itu.

Walaupun Luhan sebenarnya masih merasakan cinta pada Sehun kian tumbuh semakin besar dalam dadanya, tapi Luhan yakin suatu saat perasaan itu akan bisa tertutup oleh rasa bencinya. Bukankah Luhan sudah pernah mengalaminya? Luhan sangat mencintai ibu dan kakak kembarnya sendiri, tapi dengan terus-menerus memikirkan apa
yang telah mereka lakukan akhirnya rasa cintanya bisa tertutupi oleh rasa bencinya yang teramat besar pada 2 sosok itu, bahkan rasa benci itu permanen sampai mereka meninggal. Luhan yakin suatu saat dia juga akan membenci Oh Sehun itu sebesar cintanya pada pria itu.

Luhan bersumpah akan membenci siapapun orang yang tak menginginkannya. Siapapun yang telah ‘membuang’ Xi Luhan tak pantas mendapatkan cintanya, termasuk Sehun.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

Sehun Pov
Aku menatap pintu kelas dengan was-was. Entah kenapa belakangan ini aku menjadi sangat khawatir pada Luhan. Namja itu sudah 3 hari tak muncul di sekolah. Bahkan aku juga tak menemukannya di apartemen.
Selama 3 hari aku terus-menerus mengawasinya kalau-kalau dia pulang ke apartemennya, tapi bahkan walaupun aku mengawasi sampai hampir dini hari, Luhan tak juga muncul. Aku sangat stress memikirkan apa yang sudah kulakukan padanya. Aku yakin dia sengaja menghilang setelah kata-kataku tempo hari. Tapi saat itu aku benar-benar sangat marah…..

Aku sudah sangat kesal padanya sejak pertama kali aku melihatnya berciuman dengan namja tinggi itu. Saat itu rasanya ingin sekali aku menarik namja itu dan memukulinya sampai babak belur. Tapi aku
masih waras, aku bukan siapa-siapa bagi Luhan, bahkan saat itu kami belum berkenalan. Lagipula aku melihat dengan mataku sendiri Luhan yang pertama kali menarik namja itu dan menciuminya dengan ganas. Hal yang membuatku bertanya-tanya kenapa sosoknya sama sekali berbeda dari apa yang diceritakan Siyan padaku. Apa Siyan membohongiku?

 

 

Ah, jawabannya tentu saja tidak mungkin, karena Siyan adalah seseorang yang paling jujur yang pernah kutemui dalam hidupku. Siyan bahkan menceritakan segala hal secara gamblang padaku.

 
Saat keesokan harinya aku menatap Luhan terus-menerus, mengabaikan dia yang terlihat sangat risih oleh tatapanku pun, aku tetap tak mengerti dengan sikapnya. Sebenarnya bagaimana sosoknya yang sesungguhnya??

Sosok Luhan yang diceritakan Siyan padaku adalah sosok yang seperti malaikat. Hanya dengan membayangkannya saja membuatku sangat ingin memilikinya. Tapi kenapa saat aku sudah benar-benar bertemu dengannya sosok malaikat itu seakan lenyap. Yang kulihat hanyalah sosok namja yang egois dan ambisius, yang rela melakukan apapun demi apa yang diinginkannya. Bahkan saat aku mengucapkan kata-kata kasar yang jelas-jelas merendahkannya saja dia tak berniat membela dirinya sama sekali, dia hanya diam, seolah membenarkan semua apa yang kuucapkan padanya. Bayanganku tentang Luhan yang lembut dan penyayang seakan sirna tanpa bekas. Tapi meskipun begitu entah kenapa rasa cintaku tak berkurang sedikitpun.

Saat dia memelukku dan mengatakan kalau dia mencintaiku, hatiku rasanya ingin meleleh…aku sudah hampir mempercayainya…saat itu aku sudah akan mengatakan kalau aku juga sangat mencintainya…tapi sesaat setelah mengatakan mencintaiku, dia malah kembali mengungkit soal penampilannya yang kini sengaja dibuat sangat mirip dengan Siyan…

‘Bagaimana penampilanku sekarang? Aku sudah membuktikan kalau aku bisa menjadi XiaoHuo. Kau suka?’

Kata-kata itu….kembali membuatku sangat kesal.

 

Aku jadi yakin kata-kata cintanya dan semua hal yang dilakukannya itu hanya sebagian dari acting agar aku luluh padanya. Aku tak suka dia bersikap seperti itu. Di mana sosok Luhan yang lembut dan penyayang seperti yang ada dalam bayanganku selama ini?

 

Aku akan menunggunya sampai kembali menjadi Luhan yang dulu.

 

.

 

.

Aku masih bergelut dengan pikiranku sendiri saat aku merasakan seseorang duduk di meja milik Luhan. Aku menoleh kearah orang itu dan sangat terkejut saat kulihat Luhan sendiri yang duduk disana. Dia memasang wajah datarnya, dan tak melirikku sama sekali. Padahal biasanya jika melihatku dia akan langsung memamerkan senyum cantiknya itu, meskipun aku selalu bersikap ketus padanya.

 

Kutatap wajahnya dari samping dengan seksama. Baru 3 hari aku tak melihatnya, tapi aku sudah seperti melihat orang asing kembali. Rambutnya tak lagi cokelat, melainkan orange menyala, tapi dia tetap terlihat mempesona dengan penampilan barunya.

 

Siyan tak bohong…dilihat dari segi apapun, adiknya ini memang memiliki pesona yang sangat mematikan.

 

Gayanya kembali funky seperti saat pertama aku melihatnya. Hanya saja saat ini dia bersikap seolah-olah tak mengenalku. Apa dia sengaja?

Ya Tuhan…apa dia sudah membenciku saat ini?

Aku sudah mengacaukan kesempatan yang seharusnya kumanfaatkan untuk mendekatinya dan membuatnya jadi milikku. Harusnya aku bisa mengesampingkan egoku dan tidak bersikap pengecut seperti kemarin-kemarin.

Aku harus segera meminta maaf padanya.

 

End Sehun Pov

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

“Xi Luhan…”

Luhan berhenti melangkah saat mendengar namanya dipanggil. Tapi dia sama sekali tak menoleh, karena dia tau siapa yang memanggilnya saat ini. Oh Sehun.

“Apa kau baik-baik saja?”

“………”

“Kau kemana saja selama beberapa hari ini? kau tak muncul di sekolah, bahkan diapartemen…kau baik-baik saja?”

“………”

“Hey,Luhan, aku bertanya padamu”

“………”

“Aku minta maaf atas ucapanku kemarin, aku tau sikapku sudah sangat keterlaluan, aku ha-”

“Apa sih yang daritadi kau bicarakan?? kenapa kau bertanya terus-menerus dan membuatku merasa muak? Jangan mengoceh terus….aku tak suka dengan ocehanmu!” potong Luhan setelah berbalik menatap Sehun, menjawab segala ocehan Sehun dengan pernyataan yang sungguh membuat Sehun sangat terkejut.

Sehun menatap pria mungil itu dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Luhan…” gumam Sehun tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.

 

Smirk.

Luhan menunjukkan senyum sinisnya pada pria pucat itu.

“Siapa kau? Apa aku mengenalmu?” katanya kemudian, membuat Sehun mengerutkan keningnya semakin dalam.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

Sehun memikirkan ucapan Luhan tadi. Wajahnya tampak mengeras. Sehun sangat gusar.

‘Siapa kau? Apa aku mengenalmu?’

Shit!!” umpat Sehun.

Pria pucat itu mengusap kasar wajahnya. Dia sungguh tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Sikap bodohnya telah mengacaukan hubungannya dengan Luhan.

“Sekarang apa yang harus kulakukan?” ucapnya bermonolog ria.

Sehun menarik nafasnya lalu dengan mantap berjalan keluar apartemennya menuju partemen Luhan. Sehun berencana meminta maaf. Tapi lagi-lagi pemandangan yang tak ingin dilihatnya malah kembali dilihatnya. Pria mungil yang dicintainya itu, terlihat sedang menikmati ciuman panasnya dengan err…lagi-lagi pria tinggi yang dilihatnya sebulan yang lalu.

 

Tangan Sehun mengepal. Pria pucat itu benar-benar marah.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

Luhan baru saja selesai mandi saat didengarnya bel berbunyi. Dengan cepat dia bergegas menuju ke arah pintu apartemennya, tak peduli jika saat ini dia hanya menggunakan bathrobe putih polosnya. Dia buka pintu itu, lalu-

“Luhannie…..”

“Chanyeol? ada apa?” tanya Luhan saat melihat pria tinggi itu berdiri di depan pintu apartemennya dengan tampang yang sangat sedih.

Pria itu tak menjawab, malah langsung menarik pinggang Luhan dan menciumi bibir pria yang lebih mungil itu dengan ganas. Luhan tak memberontak. Dia tau, jika sudah seperti ini, Chanyeol pasti sedang ada masalah dengan Baekhyun. Hal seperti ini sudah terjadi beberapa kali. Saat ada masalah, Chanyeol akan selalu datang padanya dan selalu berakhir dengan kegiatan panas mereka diatas ranjang.

Perlahan Luhan melepaskan ciumannya dan menangkup wajah pria tinggi itu.

“Kita masuk dulu, hmm?”

Pria itu mengangguk. Luhan membawa Chanyeol ke kamarnya dan mendudukkannya diranjangnya. Lantas diapun ikut duduk.

“Kau bertengkar lagi dengan Baekhyun?” tanya Luhan lembut.

Pria yang ditanya itu hanya diam tak menjawab. Luhan mengusap kepala Chanyeol dengan sayang.

“Aku akan mengambilkan minum untukmu…tunggu sebentar” kata Luhan sambil beranjak dari ranjang.

Tapi belum sempat melangkah, Chanyeol sudah menarik Luhan ke pangkuannya.

“Aku tak butuh air….yang kubutuhkan hanya kau….aku menginginkanmu malam ini Luhan….kumohon temani aku…” kata Chanyeol sendu.

Tanpa berkata apa-apa lagi dan tanpa menunggu jawaban Luhan, pria tinggi itu sudah menyambar bibir mungil Luhan, menghisap bibir atas dan bawah Luhan secara bergantian.

Luhan terbawa Susana, dengan sekali gerakan tangannyapun mendorong Chanyeol hingga tubuh pria itu terjatuh diranjangnya, lalu dengan perlahan Luhan merangkak naik menindih pria tinggi itu dan langsung mencium bibir Chanyeol dengan lembut. Ciuman itu berlangsung lambat beberapa saat, hingga akhirnya semakin dalam dan menjadi semakin memanas.

Chanyeol berguling hingga kini Luhan yang berada dibawah tubuhnya. Pria itu menyerang leher Luhan, menjilati dan menghisapnya dengan kuat hingga meninggalkan bercak merah keunguan di leher Luhan.

 

Chanyeol menyibakkan bathrobe Luhan, memperlihatkan tubuh mulus Luhan yang sangat sexy. Dengan cepat lidah basah Chanyeol menjilati nipple pink pria mungil itu, membuat Luhan mendesah kenikmatan sambil meremas-remas rambut Chanyeol. Chanyeol menghisapi dada dan perut Luhan, meninggalkan lebih banyak kissmark disana.

“Ssshhhh….Chanyeollie….hhh” desah sexy Luhan sukses keluar.

Tapi tiba-tiba saja suara bel mengintrupsi kegiatan mereka.

“Ck!!” decak Chanyeol kesal.

Pria tinggi itu menyingkir dari atas tubuh Luhan, membiarkan pria yang lebih mungil itu beranjak untuk melihat siapa yang datang.

“Tunggu sebentar ya sayang….” kata Luhan lembut sambil mengecup bibir Chanyeol sekilas.

Chanyeol mengangguk.

Luhan berjalan dengan cepat kearah pintu dan membukanya. Tapi nafasnya langsung tercekat saat melihat siapa yang berdiri di depan pintu apartemennya.

“K-kau?” kata Luhan sambil menatap nanar orang itu.


To Be Continued


A/N : Big Thanks to Ferina Rindhi ( Oh My Lady Design )

 

 

 

Advertisements