OTHELLO

 

Othello

 

.

.

By tmarionlie

.

HunHan

.


Y
aoi | Hurt & Comfort | Romance | Mature


 

CHAPTER 4


 

 

All Sehun POV

 

Aku membanting tubuhku kekasurku dan menatap langit-langit kamarku yang polos dengan pikiran yang tak menentu. Beberapa kejadian yang kualami selama beberapa minggu terus-menerus berputar-putar diotakku. Dan sosok itu tak pernah bisa lepas dari otakku walau hanya sedetik saja. Sosok pria yang imut dan menggemaskan yang memiliki rambut berwarna merah…ahh…bukan, sekarang dia sudah mengecatnya menjadi cokelat agar menyamai kakak kembarnya, dan itu membuatku sangat marah. Aku tak suka melihatnya yang seperti itu. Dia tampak seperti orang lain dimataku. Aku tak suka sikapnya yag seolah mengikuti ambisi dan egonya yang membuat dia merendahkan dirinya sendiri di depan orang lain. Aku marah bukan tanpa alasan. Aku bersikap seperti ini karena aku sangat mencintainya. Aku mencintai pria cantik  itu, Xi Luhan.

 

 

Mungkin terdengar sangat konyol. Tapi sungguh, itulah yang kurasakan. Aku sudah mengenal sosok Luhan jauh sebelum aku bertemu dengannya. Aku mengenal sosoknya dari sahabatku, Siyan, saudara kembar Luhan sendiri. Entah kenapa, tanpa kusadari, perasaan aneh yang disebut cinta itu tumbuh begitu saja dalam hatiku. Saat Siyan bercerita tentang adiknya itu, hanya satu kalimat yang ada diotakku “aku harus bertemu denganmu dan membuatmu menjadi milikku,  Xi Luhan…..”

 

 

Perasaan cintaku menjadi lebih besar saat aku benar-benar melihat sosoknya secara nyata dihadapanku. Seorang pria yang sangat manis, imut, dan sangat menggemaskan. Melihatnya membuat jantungku berdebar secara tak normal. Aku melihatnya pertama kali saat menghadiri pemakaman Siyan. Pria yang sangat unik itu hanya mengenakan pakaian kasual serba merah dengan rambutnya yang juga merah saat semua orang memakai pakaian hitam. Entah apa yang ada dipikirannya, aku pun tak mengerti. Bahkan dia tak menangis sama sekali. Padahal upacara pemakaman yang dihadirinya itu adalah upacara pemakaman ibu kandung dan kakak kandungnya sendiri.

 

 

Masalahnya dan Siyan? tentu saja aku mengetahuinya. Tak ada yang disembunyikan Siyan dariku, karena dia adalah sahabat terbaikku.

 

 

.

 

.

 

.

 

Flashback

 

 

“Aku memiliki saudara kembar…” kata Siyan suatu saat padaku.

 

 

Aku menatapnya tak percaya. “Sungguh? wah, aku tak menyangka,” jawabku.

 

 

“Ya, dan kami adalah kembar identik, aku lahir 15 menit lebih cepat sebelum dia dilahirkan,” tambahnya.

 

 

“Pasti akan sangat sulit membedakan kalian,” kataku.

 

 

“Tidak Sehun, sangat mudah membedakan kami, karena kami memang sangat berbeda…”

 

 

Aku menatap Siyan tak mengerti.

 

 

“Adikku itu sangat aktif dan ceria….dia sangat energik, semua orang menyukainya…dan dia adalah primadona dikeluarga kami…”

 

 

“…..”

 

 

“Adikku adalah anak yang populer….dia pintar menyanyi…suaranya sangat bagus, dan dia juga jago dance…kuberi tahu sebuah rahasia padamu…sebenarnya, aku sangat iri padanya dan sangat ingin bertukar tempat dengannya…dia sangat spesial dimataku, dirinya yang terkesan sangat bebas seolah sangat mustahil untuk kugapai…”

 

 

“Ahahaha” aku tak dapat menahan tawaku.

 

 

Bagaimana tidak, Siyan adalah anak yang pintar, dia bintang sekolah sepanjang aku mengenalnya, nilai-nilainya tak pernah menurun sedikitpun, dia seorang pianis muda berbakat,dan sudah melanglang buana ke negara-negara Eropa, dia sudah sangat sempurna.

 

 

Aku menghentikan tawaku saat kulihat Siyan melemparkan deathglare-nya padaku.

 

 

“Oke-oke…maaf…lanjutkan…” kataku.

 

 

Siyan menarik nafas, lalu melanjutkan ceritanya.

 

 

“Tapi dia sedikit nakal…….dan dia…..membenciku……” lanjutnya sambil menunduk. Terlihat raut kesedihan diwajah imutnya.

 

 

“Kenapa?” tanyaku penasaran.

 

 

“Entahlah…..dia berubah…..saat kecil, kami saling menyayangi…..”

 

Aku hanya diam,tak berniat bertanya karena aku yakin Siyan akan menceritakan segalanya padaku. Aku hanya perlu menjadi pendengar yang baik untuknya.

 

 

“saat berusia 6 tahun,aku pernah terjatuh….dan saat itu dia menangisi lututku yang terluka….dia bilang dia sangat bodoh karena tidak bisa menjagaku dengan baik….haha….waktu itu kukatakan padanya agar jangan sok mau menjagaku…aku bahkan lebih tua darinya walaupun hanya selisih 15 menit….saat mendengarnya dia tertawa sambil menangis, tampangnya sangat lucu….akhirnya dia menggendongku pulang dan melarang keras padaku untuk berjalan sendiri….aku sungguh tak menyangka adikku ternyata sangat kuat…”

 

 

 

Siyan mengambil nafas sejenak.

 

 

 

“saat 8 tahun,aku pernah digangggu oleh anak-anak yang jauh lebih besar dari kami karena anak-anak itu melihatku sedang bermain dengan boneka rusa pemberian ibuku….adikku juga memiliki satu yang sama…anak-anak itu mengejekku, lalu merebut bonekaku dan membuangnya ke dalam kubangan lumpur hingga bonekaku menjadi sangat kotor….kau tau apa yang kulakukan? aku sangat lemah Sehun…..saat diganggu seperti itu aku hanya bisa menangis…..”

 

 

 

“Lalu?” tanyaku.

 

 

 

“Lalu adikku datang membelaku….dia melawan anak-anak itu dengan berani….akhirnya dia dikeroyok dan dipukuli hingga babak belur…setelah anak-anak itu puas menghajarnya dan pergi, dia bangkit dan berjalan tertatih-tatih mengambil bonekaku dan mengembalikannya padaku….aku sangat sedih melihatnya….aku menangis dengan keras, karena luka-luka ditubuh adikku sangat parah…tapi saat itu dia malah bilang ‘aku tak apa-apa hyung….aku akan melakukan apapun untuk melindungimu…kau adalah belahan jiwaku hyung…meskipun aku harus merelakan nyawaku sendiri untukmu, akan dengan senang hati kuberikan…jadi jangan menangisiku seperti itu, ini hanya luka kecil….Ck, kau sungguh cengeng…ulijima, ne? saranghae hyung….aku sangat sayang padamu…mumumu’ lalu dia mengusap airmataku dan mencubiti pipiku sambil tersenyum dengan wajahnya yang penuh luka itu…tidakkah kau berpikir dia itu sangat bodoh?”

 

 

 

DEGG!!!

 

 

 

Pertama kalinya aku merasakan debaran aneh untuk sosok Luhan.

 

 

 

“Waktu itu aku memapahnya pulang….padahal adikku saja kuat menggendongku, tapi aku malah tidak….akupun tak tau kenapa aku dilahirkan sangat lemah dan tak kuat seperti adikku. Sampai dirumah, dia malah dimarahi habis-habisan oleh ayah…ayah mengira dia berkelahi, bahkan dia dipukuli lagi oleh ayah…..padahal tubuhnya sudah penuh luka…..hiks…..”

 

 

 

Siyan menangis. Akupun mengusap surai cokelat madunya untuk menenangkannya, tapi Siyan meraih jemariku dan menautkannya pada jari-jarinya, lalu melanjutkan ceritanya.

 

 

“Aku adalah kakak yang tak berguna Sehun-ah….saat adikku dihukum seperti itu aku hanya diam, aku ingin sekali membelanya, tapi aku takut dipukuli juga oleh ayah….akhirnya aku hanya bisa meminta maaf pada adikku sambil menangis, dan dia hanya menjawabnya dengan senyuman sambil memelukku dan mengatakan kalau dia baik-baik saja….”

 

 

 

Siyan mengusap airmatanya.

 

 

 

“Aku tak suka tidur tanpa memeluk bonekaku…adikku sangat tau hal itu, karena itu dia memberikan boneka miliknya untuk kupeluk, tapi aku menolak dan hanya bisa menangis, aku hanya ingin bonekaku….akhirnya aku jatuh tertidur tanpa bonekaku dan memeluk adikku sebagai gantinya….tapi saat pagi datang aku tak menemukan adikku dimanapun…aku mencarinya keseluruh rumah dan menemukannya sedang mencuci bonekaku yang sesungguhnya sangat mustahil untuk dibersihkan itu….hiks….dia ternyata mencucinya semalaman sampai tangannya memerah dengan kulit yang terkelupas….dia sangat bodoh, untuk apa dia melakukan hal itu? tapi saat kumarahi lagi-lagi dia hanya tersenyum dan memelukku…”

 

 

 

“dia pasti sangat menyayangimu Siyan….”

 

 

Siyan diam, tapi bulir-bulir airmata terus mengalir dipipinya.

 

 

“Itu dulu Sehun…..tapi sekarang dia sangat membenciku….aku masih mengingatnya, saat ibu membawaku pergi,aku berusaha mati-matian menggapai adikku…aku tak ingin berpisah dengannya,aku sangat menyayangi adikku, tapi saat aku sudah berhasil memeluknya, dia malah mendorongku…..hiks…dia menolakku dan mengatakan kalau dia sangat membenciku….aku tau dia berbohong, tapi tetap saja menyakitkan…akhirnya aku pergi dengan ibu dan meninggalkannya bersama ayah”

 

 

 

“apa yang membuatnya berubah?” tanyaku.

 

 

 

“karena dia merasa diabaikan oleh ayah dan ibu….”

 

 

“kenapa orangtuamu mengabaikannya?”

 

 

“itu karena aku sakit…..”

 

 

“sa-sakit?”

 

 

“ya…..kanker usus besar, dan sekarang sudah menjalar ke limpa….tinggal menunggu selnya menjalar ke hati dan mengggerogotinya…”

 

 

 

“Si-Siyan…kau?? astaga….” aku tak mampu meneruskan kata-kataku.

 

 

Dia menatapku sendu…”hmmm…aku sudah mau mati Sehun-ah….” katanya.

 

 

Aku meraihnya kedalam pelukanku, lalu kuelus surai cokelat madunya.

 

 

“berapa lama lagi kau bisa bertahan?”

 

 

“setahun….atau kurang dari itu….” jawabnya sambil menarik dirinya dari pelukanku. Siyan tersenyum.

 

 

“kenapa tak melakukan operasi?” tanyaku.

 

 

“sekarang sudah terlambat…dulu saat divonis kanker, aku hampir menginjak 10 tahun…ibu dan ayah mencurahkan seluruh perhatiannya padaku…sejak itu pula adikku berubah….dia menjadi sangat nakal dan pemberontak…nilai-nilainya menurun drastis, padahal dia sangat pintar…dan perlahan-lahan dia menjauh dariku…dia berubah menjadi pendiam dan tak peduli pada orang lain…sikapnya itu membuat ayah sering membanding-bandingkannya denganku bila ayah marah….”

 

 

Siyan berhenti sebentar,lalu kembali bercerita.

 

 

“Semuanya menjadi semakin buruk saat tiba-tiba saja perusahaan ayah bangkrut, dan tertimpa hutang yang sangat banyak…ayah menjadi stress, dan menjadi penjudi, yang membuat ekonomi keluarga kami menjadi semakin buruk…rencana operasiku gagal, ayah menjadi pemabuk dan kasar…kenakalan adikku yang semakin menjadi-jadi membuat dia jadi sering dipukuli ayah…bahkan ayah juga memukuli ibuku….akhirnya ibu tak tahan dan memutuskan bercerai…”

 

 

Siyan menghapus airmatanya dan tersenyum lebih lebar.

 

 

“Tapi sebentar lagi aku akan bertemu dengan adikku Sehun-ah….dia akan menjadi bagian dari sekolah kita….ahh…aku sudah tak sabar, aku sudah sangat merindukannya…ini kesempatan baik untuk memperbaiki hubungan kami…kalaupun dia masih menolakku setidaknya aku dapat melihatnya lagi sebelum aku mati…”

 

 

Aku berusaha mencerna kata-kata Siyan barusan dan entah kenapa aku merasa sangat bersemangat.

 

 

“D-dia akan datang?” tanyaku.

 

 

“ya…dan bisa kupastikan kau akan jatuh cinta padanya saat pertama kau melihatnya…”

 

 

“mwoya…aku ini namja tau, namja!”

 

 

“Haha…lihat saja nanti…adikku itu sangat tampan dan memiliki pesona yang sangat mematikan…”

 

 

“Mana mungkin…bukankah kalian identik? jadi wajahnya pasti persis kau…kau saja jelek” kataku.

 

 

Sebenarnya aku hanya bercanda. Siyan adalah namja yang sangat imut dan manis.

 

 

”Issshhh….kau akan menyesali ucapanmu itu! sekali kau melihatnya, kau pasti akan terjebak dalam pesonanya dan sulit untuk bangkit lagi”

 

 

“Wooo…sehebat itukah? tapi tetap sajakan dadanya rata? sayang sekali aku masih menyukai yeoja berdada besar”

 

 

“Ahaha…bukankah kau seorang gay?” katanya sambil tertawa.

 

 

“YA! kalau begitu kau juga gay, bodoh! bukankah kita digosipkan sebagai pasangan gay oleh satu sekolah?” protesku.

 

 

Satu sekolah memang konyol. Kedekatanku dengan Siyan diartikan dalam makna berbeda, padahal aku dekat dengannya karena kami se-tipe, yang disebut dengan Antisosial.

 

 

“Ahahaha….” Siyan tertawa.

 

 

“jadi… siapa dia?” tanyaku.

 

 

“Xiao Lu…….,Xi Luhan”

 

 

~Xi Luhan~ ulangku dalam hati.

 

 

End Flashback

 

.

 

.

 

.

 

Aku mengusap wajahku dengan kasar.

 

 

Xi Luhan….

 

 

Mengapa sosoknya sangat berbeda dari yang kubayangkan? dia sangat agresif, egois, dan ambisius. Dia bahkan mengatakan menyukaiku hanya 48 jam setelah aku melihatnya berciuman dengan pria tinggi itu. Aku merasa seperti sebuah barang pajangan di etalase yang kebetulan sedang dilihatnya dan secara kebetulan juga menarik perhatiannya, lalu dengan mudahnya dia membeliku. Lalu setelah aku didapatkannya, suatu saat dia akan bosan dan dengan mudahnya dia membuangku, seperti ucapannya untuk pria tinggi itu…

 

 

 

‘Aku bisa membuangnya kalau kau mau!

 

 

Aku tak ingin bernasib sama dengan pria itu. Karena itu aku menolaknya. Kuakui aku memang pengecut, aku pecundang. Tapi aku sangat mencintainya. Aku benar-benar sangat takut menjadi seperti pria itu. Aku tak mau dibuang seenaknya. Aku ingin Luhan mencintaiku dengan sungguh-sungguh.

 

 

Tapi…

 

 

‘Aku menyukaimu…aku mencintaimu Sehun…’

 

 

“Saat kau mengatakannya, apa kau serius? aku sangat takut hanya dipermainkan olehmu…aku sangat mencintaimu Lu…sangat…


To Be Continued


A/N : Big Thanks to Ferina Rindhi ( Oh My Lady  Design )

 

 

 

 

Advertisements