OTHELLO

Othello

.

B
y tmarionlie

.

H
unHan

.

Yaoi | Hurt & Comfort | Romance | Mature


CHAPTER 12-End


 

Luhan meremas tangannya sendiri. Pria mungil itu sangat bingung. Sejak tadi, Presdir Oh Sen Woo-ayah Sehun– memohon-mohon padanya agar dirinya mau kembali ke Korea untuk puteranya.

 

“Kumohon, kembalilah untuk puteraku…Sehun sangat membutuhkanmu nak”

 

Tapi untuk kesekian kalinya, Luhan menggeleng.

 

“Maafkan aku Ahjussi, tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri kalau aku tak akan pernah lagi kembali” kata Luhan.

 

“Tapi kenapa Luhan? Apa kau sudah tak mencintai puteraku lagi? Atau…kau sudah memiliki pengganti Sehun?”

 

Luhan menggeleng cepat-cepat.

 

“Tidak Ahjussi, demi Tuhan, aku masih sangat mencintai Oh Sehun. Tapi-”

 

“Apa karena ibunya Sehun?”

 

Luhan mengigit bibirnya sendiri. Pria mungil itu merasa resah, tapi akhirnya Luhan mengangguk lemah, membuat ayah Sehun membuang nafasnya sendiri, maklum.

 

“Jangan perdulikan wanita itu Luhan. Jika kau mencintai puteraku, kau hanya perlu kembali padanya…Sehun sudah mencarimu selama bertahun-tahun, apa kau tak kasihan padanya?”

 

Luhan tak menjawab, hanya diam dan menunduk semakin dalam. Sejujurnya, Luhan merasa sangat bingung.

 

“Aku tau ini sulit bagimu, tapi kumohon pikirkan posisi puteraku nak…Sehun sangat mencintaimu…” bujuk ayah Sehun lagi.

 

“…..”

 

“Wanita jalang itu tak usah kau pikirkan. Aku tau kau sangat benci padanya, aku juga tak menyangka kau menjadi korban wanita Pedofilia itu”

 

Luhan tercekat, dan mendongak dengan cepat. Luhan terkejut, tentu saja. Pria mungil itu tak menyangka jika ayah Sehun juga mengetahui rahasia besar ini.

 

“Ja-jadi, Anda tau kalau mantan istri Anda itu-”

 

“Tentu saja! Aku sangat membenci wanita itu! Itu alasan kenapa aku menceraikannya dan membawa Sehun bersamaku” potong ayah Sehun cepat, tampak emosi tiba-tiba.

 

Luhan terdiam.

 

“Sehun puteraku, juga sama denganmu nak” kata ayah Sehun, dengan mata yang mulai terlihat berair. Sejujurnya, pria tua itu tak ingin mengingat hal buruk ini, namun terpaksa karena Luhan juga harus tau.

 

“Sama denganku? Apa maksud Anda?” tanya Luhan, mengerutkan keningnya karena bingung.

 

 

Pria tua itu mendesah, kemudian menatap Luhan dalam-dalam.

 

“Sehun puteraku…juga korban wanita gila itu Luhan, sama sepertimu…”

 

Luhan menutup mulutnya dengan tangan sambil membelalak. Jantungnya terasa sakit secara mendadak, dan sepertinya akan meledak sebentar lagi. Sebersit perasaan marah hinggap dalam dadanya, tapi Luhan sebenarnya tak ingin percaya jika ibu tirinya tega melakukan itu juga pada putera kandungnya sendiri.

 

“Ti-tidak mungkin Presdir…bukankah wanita itu-”

 

“Ibu kandungnya?” potong ayah Sehun.

 

Luhan mengangguk.

 

“Itu benar, dia memang ibu kandung puteraku, tapi dia ibu kandung yang kejam”

 

Luhan mengerutkan keningnya semakin dalam. Terlalu banyak hal yang membuatnya bingung, dan Luhan ingin menanyakan segala hal yang ingin diketahuinya pada ayah Sehun, haya saja Luhan bingung harus memulainya dari mana.

 

“Kalau memang benar Sehun juga korban, ke-kenapa Sehun tak membenci ibunya?”

 

Pria tua itu mendesah satu kali. “Puteraku Oh Sehun…hilang ingatan…”

 

Lagi-lagi jantung Luhan kembali berdenyut-denyut.

 

“Hi-hilang ingatan? Ap-apa maksudnya? Aku tak mengerti”

 

Ayah Sehun menarik nafas dalam-dalam, lalu mulai bercerita walaupun dia sebenarnya tak ingin. Dia pikir hubungan Sehun dan Luhan bukan seperti sebuah hubungan percintaan biasa. Pria tua itu bisa melihat seberapa dalam cinta keduanya, karena itu pria tua itu memutuskan untuk membuka segala hal tentang Sehun pada Luhan, meskipun sebenarnya itu adalah aib keluarga. Luhan sepertinya memang harus tau, dan pria tua itu sangat berharap Luhan akan merubah pendiriannya dan akhirnya mau kembali pada puteranya.

 

“Sehun masih berumur 9 tahun ketika itu. Aku masih merintis perusahaanku, dan itu membutuhkan usaha yang sangat keras. Aku sering berpergian keluar kota dan meninggalkan anak isteriku dirumah”

 

Pria tua itu menarik nafas satu kali.

 

“Ketika itu aku baru saja kembali dari perjalanan bisnisku saat aku menemukan Sehun menangis sambil merintih kesakitan di dalam kamarnya sendiri…”

 

 

.

 

 

.

 

Flashback

 

 

Sen Woo melangkahkan kakinya memasuki rumah sambil menenteng sebuah kotak besar berisi pesawat mainan yang akan dia berikan pada putera kecilnya. Senyum lebar tak pernah luntur dari wajah pria itu. Sudah 3 minggu lamanya dia pergi meninggalkan istri serta putera kesayangannya, dan Sen Woo sudah sangat merindukan mereka berdua, terutama puteranya sendiri. Pria itu menapaki satu-persatu anak-anak tangga menuju ke lantai atas, dan bibirnya yang tersenyum, memanggil-manggil nama puteranya.

 

“Sehuna, Appa pulang….lihat apa yang Appa bawa”

 

“Sakit” 

 

Langkah pria setengah baya itu terhenti mendadak di dua anak tangga terakhir. Keningnya berkerut dalam, mencoba memikirkan rintihan yang baru saja dia dengar. Dia pikir itu hanya halusinasinya, tapi lagi-lagi telinganya mendengar suara rintihan yang sama. Dengan perasaan yang mulai tak enak, pria itu berjalan ragu-ragu kearah pintu kamar puteranya dan memasang telinganya baik-baik.

 

“Sakit….hiks…..”

 

Tanpa memikirkan apapun lagi, Sen Woo memasuki kamar puteranya secepat yang dia bisa, dan otaknya terasa kusut seketika saat menemukan putera kecilnya itu saat ini sedang menangis sambil memeluk lututnya sendiri,  tanpa sehelai pakaianpun ditubuh kecilnya. Pesawat mainan yang sejak tadi dia pegang, terjatuh begitu saja saat mata Sen Woo melihat kondisi anaknya yang terlihat begitu menyedihkan. Tubuh puteranya itu dipenuhi oleh bercak-bercak merah keunguan dan seluruh tubuh mungilnya terluka oleh memar-memar yang membiru di sana-sini.

 

“Sehun? apa yang terjadi padamu nak?” tanya Sen Woo panik, berjalan setengah berlari kearah ranjang, tempat dimana Sehun kecil meringkuk sambil menangis.

 

Sehun kecil mendongak, dan langsung berlutut untuk memeluk ayahnya.

 

“Appa, Sehun takut…..hiks…..sakit Appa….”

 

Sen Woo menangkup wajah anaknya dan menatap Sehun dengan perasaan terlukanya. Wajah putera kecilnya itu penuh dengan luka memar dan bibirnya sobek dengan darah yang hampir mengering.

 

“Sehuna, siapa yang melakukan ini padamu?”

 

Sehun kecil hanya diam, dan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Sepertinya bocah itu ketakutan. Tapi Sen Woo tak mau menyerah. Diusapnya pipi putera kecilnya, dan dia bujuk lagi bocah itu agar mau mengatakan siapa yang tega melukai tubuhnya sampai seperti ini.

 

 

“Sehuna, katakan pada Appa nak…siapa yang melakukan ini padamu? Hmmm?”

 

 

Sehun menatap ayahnya dengan takut-takut, tapi bibir kecilnya akhirnya terbuka, dan mulai bicara.

 

“Eom..ma…”

 

Sen Woo tercekat. Pria itu sangat shock dengan pengakuan putera kecilnya. Dia tak ingin percaya, tapi telinganya mendengar pengakuan itu dari putera kandungnya sendiri. Dengan perasaan yang hancur, Sen Woo memeluk putera kandungnya itu erat-erat. Dan wanita yang menjadi sumber masalah itupun datang. Istrinya yang sangat cantik, muncul memasuki kamar dengan hanya mengenakan bathrobe serta rambut basahnya, sepertinya baru selesai mandi. Wanita itu tampak sangat terkejut saat melihat suaminya sudah pulang. Matanya menatap Sehun kecil dengan tatapan aneh yang sulit diartikan, namun bibir tipis wanita cantik itu melengkungkan senyuman samar, meskipun sangat terlihat jelas jika tubuhnya sudah gemetaran karena takut.

 

“Oh Sen Woo…K-kau sudah pulang?” kata wanita itu gugup dengan wajah yang sudah pucat pasi.

 

Sen Woo yang sudah sangat marah langsung gelap mata saat melihat istrinya itu. Tanpa berkata-kata, pria itu berjalan cepat, menghampiri istrinya dan menampar wajah cantik itu sekeras yang ia bisa. Gigi pria itu bergemeretak, dengan desisan tajam yang dilanjutkan dengan makian pedas pada wanita yang dia cintai itu.

 

“Dasar wanita jalang! apa yang kau lakukan pada puteraku, hah?!”

 

“Yeobo, maafkan aku…aku tak bermaksud menyakiti Sehun…aku khilaf”

 

“Diam kau, wanita sialan! Kau ibu yang sangat kejam! tega sekali kau melakukan itu pada putera kandungmu sendiri, dasar biadab! Aku akan segera menceraikanmu secepatnya!”

 

Dengan gerakan cepat Sen Woo kembali menghampiri Sehun kecil yang sedang meringkuk ketakutan diatas ranjang. Sen Woo melepaskan jasnya untuk menutupi tubuh polos puteranya itu, kemudian menggendong Sehun kecil pergi, mengabaikan istrinya yang meminta maaf sambil berteriak-teriak memanggil mereka seperti orang gila.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

Beberapa minggu kemudian….

 

 

“Sehuna, Appa akan pergi bekerja….kau tidak apa-apa kan jika Appa tinggal disini sampai sore?”

 

Sehun kecil menoleh ke belakangnya, melihat banyak anak-anak yang bermain dengan riang. Bocah itupun mengangguk sambil tersenyum.

 

“Ya Appa! banyak teman disini, Sehun suka disini….” kata Sehun kecil dengan senyuman riang ala bocahnya.

 

“Good Boy! Kalau begitu, Appa pergi dulu….jangan nakal, oke?”

 

“Oke” kata Sehun sambil tertawa riang, lalu membalikkan tubuh mungilnya dan membaur dengan teman-temannya yang juga dititipkan di Daycare itu, membuat ayahnya tersenyum geli melihat tingkah puteranya sendiri.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

Sehun kecil sedang bermain bola dihalaman Daycare ketika seorang wanita yang sangat cantik datang menghampirinya.

 

“Sehuna….” panggil wanita itu dengan nada yang teramat sangat lembut.

 

Sehun mendongak, dan dalam sekejap saja, tubuh kecilnya langsung gemetaran melihat wanita itu -ibunya sendiri- kini sedang tersenyum manis padanya. Bola yang dipegang bocah itu terjatuh begitu saja di atas rerumputan. Lalu bocah itu berjalan mundur perlahan-lahan. Wajah Sehun kecil sudah sangat pucat karena ketakutan.

 

 

“Sehuna, ini Eomma nak, datanglah pada Eomma sayang….” bujuk wanita itu sambil berjalan maju pelan-pelan.

 

Sehun kecil menggeleng kuat-kuat.

 

“Tidak, jangan mendekat!”

 

“Sehun….Eomma rindu padamu…kemarilah nak….”

 

“Tidak!!!! jangan mendekat, jangan mendekat!!!!!” kata Sehun kecil, mulai panik.

 

 

Sehun kecil baru hendak kabur, tapi wanita itu sudah dengan cepat menangkapnya.

 

“Jangan sentuh aku! Eomma jahat, hiks….lepaskan aku…..lepaskan aku!!!”jerit Sehun sambil meronta-ronta.

 

Sehun kecil terus-menerus memberontak sambil menerjang-nerjang tubuh ibunya sendiri, membuat wanita itu kesal dan akhirnya menampar wajah putera kecilnya itu sampai bibir Sehun kecil lagi-lagi robek dan berdarah.

 

“Itu akibatnya jika kau berani melawan Eomma!” kata wanita itu kesal.

 

“Sakit….Eomma jahat….hiks….lepaskan Sehun Eomma….” rintih Sehun kecil sambil menangis.

 

“Diam dan jangan membantah! kau harus ikut dengan Eomma!”

 

Wanita itu menggendong puteranya dan memeganginya kuat-kuat, tapi Sehun kecil terus memberontak, membuatnya kewalahan. Sehun kecil akhirnya menggigit tangan ibunya itu, dan langsung melepaskan diri saat ibunya mengerang kesakitan. Kesempatan itu digunakan Sehun kecil untuk lari.

 

“Sehun, kembali pada Eomma!” teriak wanita itu kesal.

 

Sehun kecil terus berlari saking takutnya, dan tanpa dia sadari tubuh mungilnya saat ini berada ditengah-tengah jalan raya. Ketakutan yang teramat besar membuat bocah kecil itu tak memperhatikan keadaan sekitarnya, dan naas baginya karena tiba-tiba sebuah mobil melaju dengan kencang kearah tubuh mungil itu dan…..

 

.

 

 

.

 

 

Ckiiiiiitttttttt…..

 

.

 

 

.

 

 

BRAKKKKKK!!!!

 

.

 

 

.

 

 

Tubuh bocah itu terpental jauh hingga beberapa meter. Kepala bocah itu mengeluarkan darah yang sangat banyak karena membentur aspal dengan cukup keras. Wajah dan tubuhnya juga penuh luka. Darahnya menggenang dimana-mana, dan bocah kecil itu langsung tak sadarkan diri seketika.

 

 

End Flashback

 

 

.

 

 

.

 

 

 

Luhan mencelos saat mendengarkan cerita ayah Sehun. Mata pria mungil itu sudah mulai berair, dan hanya dalam hitungan detik saja, Luhan sudah mulai menangis.

 

“Sehun koma selama 2 bulan lebih, dan saat tersadar dia tak mengingat apapun, bahkan dirinya sendiri….” kata ayah Sehun, mengakhiri ceritanya.

 

Ayah Sehun menatap wajah Luhan sambil meringis, lalu mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.

 

 

Hallo…Sehuna….”

 

Luhan menoleh dengan cepat kearah ayah Sehun, merasa sangat shock karena ayah Sehun tiba-tiba menelepon puteranya. Ayah Sehun mengaktifkan loudspeaker dan meletakkan ponselnya sendiri di atas meja, diantara dirinya dan Luhan.

 

~Appa...~ terdengar suara Sehun diseberang sana, membuat tubuh mungil Luhan membeku seketika saat mendengar suara pria pucat yang sangat dirindukannya itu.

 

“Bagaimana kabarmu nak?”

 

~Aku…buruk Appa…Aku belum juga menemukan Luhan~

 

Oh Sen Woo tak menjawab dan menatap wajah Luhan, memperhatikan bagaimana ekspresi pria mungil itu saat mendengar suara puteranya sendiri.

 

~Appa, aku lelah Appa…Apa yang harus kulakukan?~ kata Sehun dari seberang sana, membuat airmata pria mungil yang sedang mendengarkan diruangan itu menjadi semakin deras mengalir. Luhan menangis sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya sendiri, mencoba meredam suaranya sekuat tenaga agar tak terdengar oleh Sehun dari seberang sana.

 

“Sehuna, jika kau sudah lelah berhentilah mencari nak” kata ayah Sehun.

 

~Tidak Appa, aku tak bisa melakukannya…Aku tak akan berhenti mencari karena Luhan bilang dia tak akan kembali, jadi harus aku yang mencarinya. Aku…. sudah putus asa Appa, tapi aku tak bisa berhenti. Jika aku berhenti disini, perjuanganku selama 5 tahun akan sia-sia….aku benarkan?~

 

“Sehun, dengarkan Appa…berhentilah mencari nak, jika Luhan mencintaimu, dia pasti akan kembali padamu….jangan menyiksa dirimu sendiri lagi….”

 

~Tidak Appa, bagaimana kalau Luhan sudah tak mencintaiku lagi? Dia pasti tak akan kembali kan? Appa, aku merindukannya, aku sangat rindu padanya…Aku harus mencari kemana lagi? Aku…bingung…Aku sudah putus asa…Aku lelah…~

 

Luhan menutup mulutnya rapat-rapat dengan tangannya, tapi airmata pria cantik itu, terus-menerus mengalir turun. Sedangkan ayah Sehun hanya diam, tak mengatakan apapun dan hanya memperhatikan ekspresi pria mungil yang ada di hadapannya saat ini. Senyum tipis sedikit melengkung pada bibirnya. Sen Woo tau usahanya tak sia-sia. Sen Woo yakin Luhan pasti akan memutuskan kembali pada puteranya, karena dia dapat melihat seberapa dalam cinta Luhan untuk putera kandungnya itu.

 

 

~Appa….aku tutup dulu, aku harus mencari lagi…maafkan aku karena ikut menyusahkan Appa….Bye Appa, Saranghae~

 

“Hmm…Bye nak, nado saranghae…”

 

Sambungan telepon itu terputus, dan kini yang terdengar hanya suara isakan Luhan di dalam ruangan itu. Pria mungil itu terisak-isak sambil menjambak rambutnya sendiri. Luhan menyesal karena telah meninggalkan pria pucat yang sekarang tampak sangat putus asa di Korea sana. Luhan tak tau kalau kepergiannya akan membuat pria yang dia cintai itu menjadi begitu hancur. Luhan menyesali keputusannya sendiri.

 

“Sehunnie…Maafkan aku…Maafkan aku…”

 

Oh Sen Woo berdiri dari posisinya untuk menghampiri pria cantik itu, lalu langsung meraih Luhan kedalam pelukannya.

 

“Aku tau kau juga menderita nak, tapi kumohon kembalilah….tak seharusnya dua orang yang saling mencintai terpisah….” katanya sambil mengelus-elus punggung Luhan yang bergetar dalam pelukannya.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

~***~Othello~***~

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

Seoul, Korea…

Luhan berdiri mematung didepan pintu Apartemen itu. Dia tarik nafasnya, mencoba menguatkan mentalnya sendiri, lalu memencet password yang masih sangat dihapalnya ketika dia sudah merasa siap. Pintu Apartemen terbuka, membuat jantung Luhan menjadi semakin berdebar tak terkontrol saat ini. Pria berwajah cantik itu berjalan perlahan menuju kedalam, dan mata rusanya langsung menemukan tubuh kurus Sehun yang sangat dicintainya itu, saat ini sedang meringkuk disofa depan tv, tertidur.

 

Luhan mulai melangkahkan kakinya, berjalan mendekat kearah pria pucat itu. Airmatanya meluncur begitu saja ke pipinya yang kemerahan ketika matanya itu sudah bisa melihat dengan jelas bagaimana kondisi Sehun saat ini. Pria pucat itu sudah sangat kurus, wajahnya yang pucat sudah semakin pucat dan lingkaran hitam tampak sangat jelas dibawah matanya. Dan raut wajah Sehun juga terlihat sangat lelah.

 

Luhan menghapus kasar airmatanya dan mulai berjongkok disebelah pria yang sedang tertidur itu.

 

“Sehunnie…” panggilnya dengan suara yang teramat lembut.

 

Pria pucat itu tak bergerak, membuat Luhan harus kembali memanggilnya.

 

“Sehunnie…”

 

Mata sipit Sehun terbuka. Pria pucat itu menatap Luhan, tapi hanya menatapnya dengan tatapan kosong. Beberapa detik kemudian, pria pucat itu menutup kembali kelopak matanya, lalu menutupnya lagi dengan lengan kanannya sendiri. Luhan menatap Sehun dengan kening yang berkerut dan airmata yang masih mengalir. Mata rusanya dapat melihat dengan jelas jika saat ini  setetes air mata sudah jatuh dari sudut mata sipit Sehun yang sedang terpejam, lalu mengalir turun ke pelipis pria pucat itu.

 

“Aku….gila….” kata pria pucat itu.

 

 

Luhan hanya diam, menatap Sehun dengan tangisan tanpa suaranya di sisi sofa yang ditiduri oleh pria pucat itu.

 

 

“Aku benar-benar sudah gila sungguhan…Sekarang bukan hanya suaramu, bahkan aku sudah mulai berhalusinasi melihat wajahmu Luhan…Kau dimana? Aku sudah sangat merindukanmu Lu…” kata Sehun, masih tetap memejamkan matanya.

 

Luhan membeku. Airmatanya mengalir semakin deras dan isakannya tak lagi diam. Luhan menangis keras karena hatinya terlalu perih saat melihat Sehun yang seperti itu.

 

“Sehuna, ini aku sayang…Aku kembali untukmu, Oh Sehun…” kata Luhan sambil menangis, kemudian meletakkan kepalanya diatas perut Sehun yang masih berbaring di sofa itu.

 

 

.

 

 

.

 

 

1 detik

 

 

2 detik

 

 

3 detik

 

 

Sehun merasa seolah dunia berhenti berputar saat ini juga. Pria pucat itu menatap wajah Luhan yang juga sedang menatapnya lekat-lekat. Luhan mengangkat kepalanya dari perut Sehun dan melemparkan senyuman terbaik yang ia miliki untuk pria pucat itu.

 

“Luhan…” gumam Sehun, berharap bahwa dia tak sedang bermimpi saat ini.

 

“Ya…ini aku Sehunnie…” jawab Luhan.

 

Sehun merasa seolah baru saja kembali dari dunia antah berantah ketika melihat sosok cantik yang berlutut di samping tubuhnya itu benar-benar bergerak dan berbicara dengan suara lembut yang terdengar sangat jelas di telinganya. Tidak, Sehun tidak sedang bermimpi. Luhan yang berada di hadapannya itu adalah nyata, dan Sehun yakin akan hal itu.

 

“Luhan…benarkah ini kau?” Sehun mencoba meyakinkan mata dan telinganya sekali lagi.

 

“Ya Sehunnie….ini aku….”

 

Sehun bernafas dengan tak beraturan. Jantungnya berpacu teramat cepat, kemudian dalam sekejap saja air mata Sehun mulai menetes lagi dan benar-benar turun dengan jumlah yang sangat banyak saat ini, meskipun dia pria. Jari-jari pucatnya bergetar, lalu berusaha bergerak mengelus pipi Luhan, membuat Luhan tersenyum dan langsung memegangi tangan Sehun, menahannya dipipinya sendiri yang juga sudah basah oleh airmata.

 

Sehun menerjang tubuh mungil Luhan sampai mereka berdua terjatuh ke karpet tebal yang terhampar dibawah sofa itu. Pria pucat itu memeluk tubuh Luhan rapat-rapat, menyerukkan kepalanya ke leher pria mungil yang terhimpit di bawah tubuhnya, menghirup aroma tubuh yang sangat dia rindukan itu dalam-dalam.

 

“Lu, kau nyata…aku sedang memelukmu saat ini, kau nyata Lu, kau benar-benar kembali…Syukurlah aku tidak sedang bermimpi kali ini” kata Sehun dengan tubuh yang bergetar diatas tubuh Luhan.

 

Sehun menangis, tapi demi Tuhan, dia merasa sangat bahagia saat ini. Luhan pun sama. Tangannya mendekap erat pinggang Sehun yang kini semakin mengecil sambil menangis juga. Beberapa lama Luhan hanya diam, membiarkan Sehun mengecupi lehernya, hingga akhirnya Sehun mengangkat kepalanya dan memandangi wajahnya. Jari-jari Sehun menelusuri setiap lekukan wajah kekasihnya itu, dan Luhan hanya memejamkan mata, menikmati setiap sentuhan jari-jari Sehun dipermukaan kulit wajahnya.

 

“Aku sangat merindukanmu” kata Sehun, dengan suara yang masih bergetar samar, membuat Luhan membuka matanya dan menatap manik mata Sehun dalam-dalam.

 

“Aku juga sangat rindu padamu” balas Luhan, sambil tersenyum.

 

“Aku mencintaimu Lu…”

 

“Aku juga mencintaimu Sehun…”

 

“Jangan pergi lagi…Aku gila tanpamu Luhan…”

 

Luhan tak menjawab. Pria mungil itu kembali menarik tubuh Sehun kepelukannya.

 

“Maafkan aku….” bisik Luhan pada telinga pria pucat itu.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

~***~Othello~***~

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

Kedua pria berwajah mirip itu, kini duduk diatas ranjang Sehun. Tak ada yang mereka lakukan selain hanya saling menatap satu sama lain. Jari-jari mereka bertautan, dan bibir mereka saling melemparkan senyum.

 

“Kau banyak berubah Lu….kau sudah terlihat lebih dewasa, umm…dan semakin cantik…” puji Sehun, sambil merapikan anak-anak rambut Luhan yang kini sudah berubah warna lagi menjadi cokelat lembut.

 

“Dan kau tampak sangat kurus Sehunnie…Lihatlah, pipimu sudah hilang separuh sayang…” kata Luhan sambil mengarahkan kedua tangannya ke wajah Sehun, menangkup pipi pria pucat itu dengan bibir yang maju 2 senti.

 

“Aku tak bisa makan dan tidur dengan baik setelah kau pergi meninggalkanku”

 

Luhan terdiam lama, lalu meneteskan airmatanya lagi, tapi Sehun langsung mengusapnya dengan jari-jarinya.

 

“Maafkan aku” kata Luhan, menyesal.

 

Sehun menarik wajah Luhan, menempelkan dahinya kedahi Luhan dan melemparkan senyuman lembutnya.

 

“Taka pa sayang….yang penting sekarang kau sudah ada didepanku. Aku pasti akan hidup dengan baik sekarang karena kau sudah ada disampingku Lu…Maaf aku tak bisa merawat diriku untukmu. Aku mati tanpamu Luhan…”

 

Luhan tak menjawab, hanya memejamkan mata, merasakan hangat yang menjalar dipermukaan kulitnya karena tergelitik oleh nafas Sehun.

 

“Meskipun aku sudah seperti ini, tapi kau tetap akan mencintaiku kan?” tanya Sehun.

 

Luhan membuka matanya lalu tersenyum geli.

 

“Tentu saja…kau sangat tampan Sehunnie….” kata Luhan sebelum bibirnya mengecup bibir tipis Sehun.

 

“Aku sangat mencintaimu” lanjut Luhan saat melepaskan ciuman itu, membuat senyuman lega langsung tampak pada bibir pria pucat yang berada di hadapanya.

 

“Aku juga mencintaimu Lu…Kau pergi sangat lama…Demi Tuhan, ini sudah 5 tahun Lu, aku sangat rindu padamu”

 

“Maaf….” Kata Luhan, dan Sehun tak menjawab.

 

Pria pucat itu mengelus-elus tengkuk Luhan, lalu menekannya lembut, mempertemukan kembali bibir mereka. Sehun melumat bibir Luhan pelan-pelan, meresapi rasa memabukkan yang selalu hinggap didirinya ketika berciuman dengan Luhan seperti ini. Bibir tipis itu terus bergerak, melumat lembut bibir Luhan hingga akhirnya berubah menjadi kecupan-kecupan ringan yang manis, menyisakan senyuman cantik dari pria yang juga cantik ketika ciuman itu terlepas.

 

“Aku lelah dan juga mengantuk…ayo kita tidur Sehunnie” kata Luhan sambil menjatuhkan dirinya berbaring diranjang.

 

Tapi Sehun tak bergeming, membuat Luhan menatap heran pada pria pucat itu. Luhan menepuk-nepuk permukaan ranjang disebelahnya, menyuruh Sehun ikut berbaring bersamanya.

 

“Sini Sehun….” Kata Luhan lagi, sambil menarik-narik lengan pucat kekasihnya.

 

Akhirnya Sehun berbaring juga disebelah tubuh Luhan, tapi matanya tak mau terpejam. Luhan tertawa kecil, lalu mengusap-usap kening Sehun pelan-pelan agar pria pucat itu mengantuk.

 

“Tidurlah…kau juga pasti sudah sangat lelah…” bujuk Luhan lembut.

 

“Aku tak ingin tidur Lu…Aku takut…”

 

Luhan mengerutkan keningnya tak mengerti.

 

“Apa yang kau takutkan?” tanya Luhan bingung.

 

“Aku takut jika saat membuka mata nanti aku tak lagi menemukanmu disampingku….”

 

Luhan tercekat, sedih karena kekasihnya berubah menjadi paranoid seperti ini.

 

“Aku tak akan pergi lagi” kata Luhan meyakinkan Sehun.

 

Sehun tak menjawab, malah menatap wajah Luhan dengan tatapan ragunya. Sejujurnya pria pucat itu sangat trauma, takut ditinggalkan lagi oleh Luhan saat dirinya pulas tertidur.

 

“Aku tak akan pernah meninggalkanmu lagi Sehunnie…Aku janji…” Luhan kembali mencoba meyakinkan pria pucat itu.

 

Akhirnya Sehun menurut setelah Luhan berkali-kali mengucapkan janji padanya, dan mulai memejamkan mata pada akhirnya. Luhan mengecup kening Sehun sekilas dan membenamkan wajahnya kedada kekasihnya itu, membiarkan tangan Sehun menarik tubuhnya agar merapat ketubuh kurus pria pucat dihadapannya. Luhan juga memeluk tubuh Sehun erat-erat, karena sebenarnya dia juga sangat merindukan kekasih tampannya ini, jadi tak mungkin Luhan akan pergi lagi. Lima tahun sudah cukup lama bagi Luhan membiarkan Sehun tersiksa dan sejujurnya dia juga menyiksa dirinya sendiri. Luhan menyesal dan dia tak akan pernah melakukannya lagi meskipun suatu saat nanti ibu Sehun mungkin benar-benar akan membunuhnya.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

~***~Othello~***~

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

Luhan membuka matanya ketika pagi datang. Pria mungil itu tersenyum saat melihat wajah damai Sehun yang sedang terlelap disampingnya. Luhan menyingkirkan tangan Sehun yang melingkari pinggangnya, mengecup pipi tirus Sehun sekilas, lalu bangkit dari ranjang.

 

Pria cantik itu membersihkan dirinya, kemudian bergerak kearah kulkas. Luhan sebenarnya masih pemalas, tapi dia ingin membahagiakan Sehun mulai dari sekarang. Luhan ingin mencoba memasakkan sesuatu untuk kekasihnya itu meskipun sebenarnya dia tak tau apa yang harus dia lakukan pertama kali.

 

Dibukanya pintu kulkas Sehun, mencoba mencari sesuatu yang bisa diolahnya menjadi masakan. Tapi tenggorokannya langsung tercekat saat melihat tak ada apapun dikulkas itu selain beratus-ratus cup es krim rasa cokelat yang tumpang tindih, bertumpuk-tumpuk secara tak beraturan di dalamnya.

 

~Xi Luhan sangat suka es krim cokelat, kau harus mengingatnya ya Sehunnie~

 

Luhan teringat pada kata-kata yang diucapkannya pada Sehun beberapa tahun yang lalu itu, dan pria mungil itu kembali meneteskan airmatanya sepagi ini.

 

“Kenapa kau seperti ini Oh Sehun? Dasar namja bodoh!” makinya sendiri seolah Sehun dapat mendengarnya, namun meskipun sedikit kesal, sebenarnya Luhan saat ini merasa sedih.

 

Luhan mengeluarkan cup-cup es krim itu, dan meletakkan seluruhnya di atas meja. Sebagian besar es krim itu sudah kadaluarsa, entah sudah berapa lama Sehun menyimpannya. Luhan memasukkan cup-cup es krim itu ke plastik sampah dan menyeretnya keluar Apartemen. Pria cantik itu membuang semuanya ke tong sampah, lalu ia memutuskan pergi ke minimarket yang berada didekat Apartemen Sehun itu untuk membeli apa-apa yang dia butuhkan.

 

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

~***~Othello~***~

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

Sehun membuka matanya perlahan-lahan, namun langsung terbelalak saat menemukan ranjang sebelahnya sudah kosong. Jantungnya langsung berdetak tak karuan karena rasa takut mulai menjalar seenaknya ke dalam hatinya, karena itu dengan cepat Sehun bangkit dan mencari-cari Luhan disetiap sudut Apartemen, tapi sialnya Sehun tak menemukan Luhan dimanapun.

 

“Luhan, kau dimana?” teriak Sehun sambil berputar-putar di dalam Apartemen itu.

 

Sehun terus menyusuri setiap ruangan di Apartemennya, tapi Luhan tetap tak ada.

 

“Kumohon, jangan pergi lagi, jangan lagi…” kata Sehun frustasi.

 

 

Sehun mulai panik dan langsung berlari keluar Apartemen seperti orang gila, tanpa alas kaki, dan masih mengenakan piyama tidurnya yang tampak kusut, sekusut wajahnya saat ini. Kepalanya menoleh kesana-sini, mengedarkan pandangannya kesetiap sudut yang dapat dijangkau oleh matanya, mencari sosok Luhan.

 

“Ya Tuhan…jangan lagi, kumohon jangan lagi…”kata Sehun putus asa.

 

Sehun terus berlari sambil menjambak rambutnya sendiri saking kalutnya, sampai seorang pria mungil menarik pergelangan tangannya dari belakang dan menatap aneh padanya.

 

“Sehun? Apa yang kau cari?” tanya pria mungil itu dengan nada serta tatapan herannya.

 

Sehun langsung menoleh cepat kearah pria mungil itu, memegangi pelipisnya, lalu memejamkan matanya yang tadi sudah sempat berair. Sehun menarik nafas lega, kemudian membuka matanya dan langsung memeluk tubuh Luhan erat-erat.

 

“Syukurlah, kupikir kau sudah pergi meninggalkanku lagi…Jangan pergi tanpa mengatakan apapun padaku, aku takut kehilanganmu lagi Lu…kumohon jangan lakukan hal seperti ini lagi padaku…Jangan Luhan, aku bisa gila…”

 

Luhan membeku, diam, dan hanya bisa memeluk tubuh Sehun erat-erat dengan segala perasaan bersalahnya. Apa yang sudah ia lakukan pada pria ini? Luhan merasa telah menjadi orang yang paling jahat di dunia sekarang ini. Luhan tak menyangka kepergiannya memberikan efek yang sangat besar pada kepribadian Sehun. Pria itu sakit sekarang, dan itu semua adalah salah Luhan.

 

“Aku hanya berbelanja Sehun, maafkan aku….lain kali aku akan mengatakan padamu jika aku hendak pergi kemanapun ” kata Luhan dalam pelukan Sehun. Luhan dapat merasakan pelukan pria pucat itu semakin mengerat pada tubuhnya, dan Luhan hanya membiarkkannya. Sehun membutuhkan dirinya, dan Luhan akan memberikan apapun untuk membuat pria itu tenang.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

~***~Othello~***~

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

 

Luhan menggigit bibirnya sendiri. Pria mungil itu sudah merasa pegal, soalnya sudah sejak berjam-jam tadi dirinya dipangku dan dipeluk possesif oleh Sehun.

 

“Sehunnie, apa aku sudah boleh dilepaskan? Aku pegal….”

 

Sehun melonggarkan pelukannya, tapi belum mau melepaskan Luhan.

 

“Sehuuuunnn~~” rengek Luhan manja dengan melengkungkan bibirnya kebawah seperti seorang gadis, yang membuat Sehun sedikit merasa geli.

 

Sehun mengusap pipi Luhan dan menatap mata pria mungil itu dalam-dalam.

 

“Aku tak bisa menahannya lagi, aku sudah tak sanggup lagi terus-menerus hidup dalam ketakutan seperti ini Lu, aku bisa gila…” kata Sehun tiba-tiba.

 

Luhan hanya diam, dan lagi-lagi rasa bersalah hinggap dalam dadanya. Sehun menarik kalung yang dipakainya dan menunjukkannya tepat didepan hidung Luhan, membuat mata Luhan otomatis langsung menatap kalung, ah bukan…lebih tepatnya cincin yang dijadikan liontin kalung itu lekat-lekat.

 

“Sehun, ini kan-”

 

“Hmmm, ini milikmu Lu…Menikahlah denganku, aku tak bisa kehilanganmu lagi…Kau mau kan?” kata Sehun, memohon.

 

Luhan tercekat, dan menatap dalam-dalam ke mata Sehun. Matanya menemukan sebuah harapan yang sangat besar di dalam sana, membuatnya terenyuh. Luhan mengelus wajah tirus kekasih tampannya itu, tersenyum manis, lalu mengecup bibir Sehun dalam-dalam.

 

“Baiklah…Ayo kita menikah…”

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

~***~Othello~***~

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

“Oh Sehun, apakah Anda bersedia menerima Xi Luhan sebagai pendamping hidup Anda, dalam susah ataupun senang, sehat dan sakit dan akan tetap setia sampai ajal menjemput kalian?”

 

“Saya bersedia” kata Sehun mantap.

 

“Dan Xi Luhan, apakah Anda bersedia menerima Oh Sehun sebagai pendamping hidup Anda, dalam susah dan senang, sehat dan sakit, dan akan tetap setia sampai ajal menjemput kalian?”

 

Luhan terdiam karena sangat gugup. Tapi genggaman tangan Sehun dijari-jarinya menguatkannya hingga akhirnya Luhan mampu menguasai diri dan membuang kegugupannya itu. Oh ayolah, dia akan menjadi pasangan hidup dari seorang Oh Sehun, orang yang sangat dia cintai, bagaimana bisa jantungnya berdetak normal di saat-saat begini?

 

“Lu…” tegur Sehun, sebenarnya takut Luhan berubah pikiran, tapi untunglah dia menegur Luhan, karena Luhan langsung tersadar dari lamunannya dan langsung menjawab sumpah pernikahan itu dengan mantap.

 

“Ya, saya bersedia, sangat bersedia!” jawab Luhan akhirnya, membuat Sehun langsung membuang nafas leganya.

 

“Baiklah, sekarang kalian sudah sah sebagai err…pasangan hidup yang sah” kata pendeta itu, bingung mendeskripsikan bagaimana sebutan yang tepat untuk mereka, membuat Sehun dan Luhan, ayah Sehun, serta orang-orang yang menjadi saksi ditempat itu jadi tertawa geli mendengarnya.

 

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

~***~Othello~***~

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

 

Luhan sedang berdiri di balkon Apartemen –Sehun– mereka, menikmati udara malam sambil menatap cincin yang menghiasi jari manisnya. Bibir pria mungil itu tak henti-hentinya tersenyum. Hatinya merasa sangat lega dan bahagia dengan hasil sempurna yang sudah terjadi pada hidupnya setelah hidup menderita selama beberapa tahun ini. Di antara otaknya yang sedang memutar balik segala kenangan-kenangan indah dan juga kenangan buruk hubungannya bersama Sehun, tiba-tiba saja sebuah tangan melingkari pinggangnya, membuat Luhan tersenyum dan langsung menggenggam tangan yang melingkari pinggangnya itu.

 

“Terlihat sangat cantik dijarimu sayang…” bisik Sehun di telinga Luhan.

 

“Mmm….cincin ini sangat cantik, aku sangat menyukainya…” jawab Luhan.

 

“Kau tau apa artinya?” tanya Sehun.

 

“Memangnya apa artinya?” tanya Luhan bingung.

 

“Kau milikku” jawab Sehun.

 

Pria yang lebih mungil itu tertawa, lalu kembali terdiam.

 

“Apa yang kau pikirkan?” bisik Sehun ditelinga Luhan.

 

“Aku sangat lega, dan bahagia…Dan juga, aku mencintaimu….” jawab Luhan hampir berbisik juga.

 

Sehun tertawa kecil. Bibirnya mengecupi leher Luhan, dan jarinya sudah bergerak menarik pipi Luhan untuk mengecupi bibir pria mungil itu. Luhan membalikkan tubuhnya menghadap Sehun, dan tangannya langsung dia kalungkan dileher suaminya yang berkulit pucat itu, yang langsung dibalas Sehun dengan pelukan erat pada pinggang ramping Luhan.

 

“Aku yang lebih mencintaimu sayang…” bisik Sehun lembut, membuat senyuman langsung tercipta di bibir Luhan.

 

“Ini malam pertama kita Sehunnie…” bisik Luhan menggoda, dengan jari-jari lentiknya yang telah berputar-putar didada Sehun. Gerakan jari-jari itu teramat pelan, terkesan sangat menggoda dalam pandangan Sehun.

 

“Mmmm, ini malam pertama kita sayang….” jawab Sehun singkat.

 

“Lalu, apa lagi yang kau tunggu?” goda Luhan lagi, jari-jarinya kini sudah mulai melepaskan kancing kemeja yang dikenakan Sehun satu-persatu.

 

“Tak ada, aku bahkan sudah tak sabar Luhannie…” jawab Sehun sambil mendekatkan wajahnya untuk meraih bibir menggoda milik Luhan. Dia lumat bibir Luhan dengan ciuman basahnya, lalu bibirnya menjalar kebawah, mengecupi leher Luhan dan menghisapinya, meninggalkan jejak-jejak cintanya disana, membuat kepala Luhan terdongak dan bibirnya mengeluarkan erangan-erangan dengan nama Sehun di dalamnya.

 

Sehun mengangkat tubuh Luhan kegendongannya, melingkarkan kaki-kaki pria cantik itu di sekitar pinggangnya sendiri, dan Luhan langsung memeluk leher Sehun erat-erat, berpegangan di sana. Bibir mereka kembali bertemu, saling melumat dengan kepala yang bergerak kearah yang saling berlawanan. Dan dengan perlahan tapi pasti, kaki-kaki Sehun mulai melangkah, menuju kamar mereka…

 

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

~***~Othello~***~

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

 

Luhan tersenyum geli melihat wajah Sehun yang sedang tertekuk saat ini. Luhan tak tau kenapa Sehun tak suka berada di sini, padahal Luhan sudah lama memendam keinginan untuk kembali mengunjungi pantai ini, tempat dimana mereka melakukan kencan pertama mereka sebelum mereka berpisah 5 tahun yang lalu.

 

“Hey, tersenyumlah, jangan cemberut begitu, hmm?” rayu Luhan.

 

“Kenapa kita harus kembali berkencan ke pantai ini? Aku tak suka berada di sini” protes Sehun.

 

“Kenapa? Pantai ini indah Sehunnie, aku menyukainya” kata Luhan sambil tersenyum.

 

“Tapi ingatanku tentang pantai ini sangat buruk Lu….kau pergi meninggalkanku setelah kita berkencan disini, dan aku tak ingin mengingatnya lagi”

 

Luhan membuang nafasnya, lalu berdiri menghadap Sehun. Diraihnya jemari Sehun dan digenggamnya jemari pria pucat itu erat-erat.

 

“Karena itulah aku mengajakmu kesini lagi. Aku ingin mengulangnya dari awal. Aku suka pantai Sehuna….Saat di Kanada, jika aku merindukanmu aku pasti akan pergi ke pantai dan mengingat kencan kita saat berada dipantai ini”

 

“Jadi selama berpisah denganku, kau juga merindukanku?”

 

“Tentu saja, ck! Selama berpisah denganmu dan memutuskan pergi, aku bahkan sudah seperti orang gila Sehun…3 tahun pertama berada di Kanada, tak ada yang kulakukan selain menangis setiap hari karena merindukanmu. Aku bahkan tak menyelesaikan sekolahku yang hanya tersisa 4 bulan. Tapi 2 tahun lalu seorang teman lama menemukanku yang sedang terpuruk dan kembali mengajarkanku tentang fotografi. Sejak itu aku mulai bisa menata hidupku lagi, tak kusangka aku punya bakat dalam bidang itu. Pekerjaan sebagai fotografer menghasilkan banyak uang…keberuntungan demi keberuntungan datang padaku hingga akhirnya Tuhan mempertemukanku dengan ayahmu…”

 

Sehun mempererat tautan jemari mereka dan tersenyum hangat pada Luhan.

 

“Aku sebenarnya masih sangat penasaran…”

 

“Tentang apa?” tanya Luhan.

 

“Tentang kau dan Eomma…Kenapa Eomma menyuruhmu pergi meninggalkanku? Lu, sebenarnya apa hubunganmu dengan Eomma? Apa kalian sudah saling mengenal sebelumnya?” tanya Sehun penasaran.

 

Luhan menatap dalam kemanik mata Sehun, lalu kembali tersenyum.

 

“Mmm…kami sudah saling mengenal….”

 

“Bagaimana kalian bisa saling mengenal? Kalian bertemu dimana? Dan…apa hubungan kalian sebenarnya?” tanya Sehun lagi.

 

“Ceritanya sangat panjang Sehunnie…dan sangat menyakitkan untuk diingat. Dan juga…jika kukatakan alasannya, kau akan terluka…”

 

Sehun terdiam, tapi sebenarnya sedikit tak mengerti dengan jawaban Luhan.

 

“Sehuna, bagaimana perasaanmu waktu aku bilang padamu kalau aku adalah korban pelecehan seksual saat aku kecil?” tanya Luhan.

 

Sehun membuang nafasnya.

 

“Tentu saja aku sedih, dan juga sangat terluka saat mendengarnya” jawab Sehun.

 

Begitu juga aku Sehunnie…Jika aku mengatakan siapa wanita itu,dan kau kembali mengingat masa lalumu yang sudah kau lupakan, aku juga akan sangat terluka karena kau pasti juga akan terluka….biar saja masa lalumu tetap kau lupakan. Aku tak akan membiarkan orang yang kucintai terpuruk seperti apa yang kualami dulu…

 

“Sayang? Kau melamun?” panggil Sehun, sambil mengibas-ngibaskan tangannya didepan wajah Luhan.

 

Luhan menggeleng lalu tersenyum.

 

“Sehuna, mari kita tidak memikirkan lagi hal-hal yang tidak penting…Mulai saat ini kau hanya boleh memikirkan aku, oke?”

 

Sehun tersenyum lembut.

 

“Mmmm…oke…”

 

Luhan memeluk tubuh suaminya itu erat-erat sambil memejamkan mata.

 

“Sehun…aku sangat mencintaimu…”kata Luhan, dengan suara yang sengaja di manja-manjakan, membuat Sehun tertawa geli.

 

“Aku juga sangat mencintaimu sayang…” balas Sehun sambil mengelus-elus kepala Luhan yang sedang memeluknya.

 

“Selamanya?”

 

“Ya…Selamanya aku akan mencintaimu Baby…I love you...” jawab Sehun.

 

Luhan tertawa kecil, lalu mendongak menatap Sehun. Tatapan mata pria cantik itu sudah mulai nakal lagi seperti biasanya.

 

“Sayang, ayo cium aku…” rengek Luhan.

 

Sehun tertawa geli dan menyentil kening Luhan.

 

“Dasar rusa nakal” kata Sehun.

 

Luhan mengedikkan bahunya cuek, lalu menarik tengkuk Sehun mendekat, dan…

 

 

Chupp!

 

 

Bibir itupun bertemu. Hanya sekejap, dan Luhan menarik wajahnya lalu tersenyum sangat manis untuk Sehun. Beberapa saat lamanya, Sehun terpana oleh senyum itu, lalu tangannya yang memeluk pinggang Luhan kembali menarik pinngang itu semakin merapat lagi ke tubuhnya sendiri.

 

“Senyuman yang sangat cantik sayang…” kata Sehun, lagi-lagi kembali mengecup bibir Luhan, melumat bibir itu selembut yang dia bisa, yang langsung dibalas oleh ciuman yang juga lembut oleh Luhan.


 

END


A/N : Big Thanks to Ferina Rindhi ( Oh My Lady Design )

 

 

 

Advertisements