OTHELLO

Othello

.

B
y tmarionlie

.

H
unHan

.

Yaoi | Hurt & Comfort | Romance | Mature


CHAPTER 11


 

Sehun berjalan lunglai ke apartemennya sendiri. Pria pucat itu langsung merebahkan dirinya diranjangnya, sambil menatap langit-langit kamarnya dengan pikiran yang berkecamuk. Terlalu banyak pertanyaan yang muncul di dalam otaknya, membuat kepalanya terasa sangat pusing dan terasa ingin pecah. Apa yang membuat Luhan pergi meninggalkannya? Apa Luhan sudah mulai bosan padanya? Jawabannya tentu saja tidak, karena dengan tegas Luhan menuliskan dalam suratnya kalau dia sangat mencintai Sehun, bahkan Luhan juga mengatakannya dengan bibirnya sendiri beberapa hari yang lalu dan menyuruh Sehun mengingatnya. Lalu apa masalahnya?

 

“Sebenarnya kau kenapa Lu?” keluh Sehun, dengan rasa sakit yang menyerang sangat dalam pada hatinya.

 

Sehun memejamkan matanya dan mulai mengingat-ingat kejadian beberapa hari belakangan. Luhan mulai aneh sejak seminggu yang lalu. Lebih tepatnya semenjak kekasihnya itu bertemu dengan ibunya.

 

Tapi kenapa? mereka terlihat baik-baik saja saat itu.

 

Sehun membuka matanya lagi dengan kening yang berkerut tajam. Entah kenapa tiba-tiba kejadian saat Luhan bertemu ibunya, membuatnya gelisah. Kekasihnya itu memang terlihat aneh sejak saat itu. Sehun bisa mengingat dengan jelas bagaimana ekspresi keterkejutan yang ditunjukkan oleh kekasihnya itu saat melihat ibunya, dan kalau Sehun tak salah ingat, ibunya juga menunjukkan ekspresi yang begitu mirip dengan Luhan.

 

Ekspresi terkejut.

 

Tapi kenapa? Apa mereka saling mengenal? Bahkan Luhan sempat pingsan secara tak wajar. Sehun kembali duduk, lalu menatap lantai dengan pandangan kosong. Sehun yakin ada ‘sesuatu’ disini, dan Sehun sangat penasaran tentang apa ‘sesuatu’ itu.

 

“Pasti ada sesuatu diantara mereka yang aku tidak ku ketahui. Aku harus mencari tau….” gumamnya sendiri.

 

Sehun mengambil cincin milik Luhan dan mengelusnya.

 

“Aku sudah pernah bilang, jika kau pergi, maka aku akan mencarimu sampai aku menemukanmu…karena itu bersiaplah Lu, meskipun kau melarangnya, aku akan tetap mencarimu. Kau milikku, dan selamanya akan tetap begitu….aku pasti menemukanmu”

 

 

  .

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

~***~Othello~***~

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

 

 

Sehun berjalan memasuki sebuah rumah yang sangat mewah, rumah ibunya. Entah kenapa ayahnya tak mengizinkan Sehun tinggal bersama ibunya dan bersikeras membelikan Sehun sebuah apartemen elit itu ketika Sehun memilih kembali bersekolah di Korea. Saat itu yang ada dalam pikiran Sehun adalah ayahnya bersikap seperti itu mungkin karena masalah lama yang menyebabkan mereka bercerai. Sehun bahkan berpikir mungkin ayahnya sedikit membenci ibunya. Atau mungkin ada hal lainnya yang Sehun tidak tau. Yang pasti, Sehun tak pernah bisa mengingat apapun tentang masa kecilnya. Sehun tak tau bagaimana hidupnya saat kecil dulu, saat ayah dan ibunya belum berpisah. Entah kenapa, tapi Sehun memang tak bisa mengingatnya. Dia hanya ingat saat dirinya dibesarkan oleh ayahnya sendiri di Kanada. Sehun bahkan dulu sempat berpikir kalau dirinya tak mempunyai ibu. Tapi saat memutuskan akan bersekolah di Korea 3 tahun yang lalu, tiba-tiba saja seorang wanita yang sangat cantik itu mengaku sebagai ibunya.

 

Wanita itu bahkan menunjukkan beberapa foto-foto bukti bahwa dia adalah mantan istri ayahnya, dan saat Sehun mengkonfirmasikannya pada ayahnya sendiri, ayahnya memang membenarkan ucapan wanita itu. Tapi tetap saja ayahnya berpesan agar Sehun tak terlalu dekat dengan ibunya itu, entah kenapa, tapi Sehun menurut, tentu saja. Sehun hanya bertemu beberapa bulan sekali dengan ibunya itu, hanya saat ibunya datang berkunjung sesekali untuk membawakan makanan, obat-obatan, atau apapun untuk dirinya. Tapi hubungan mereka hanya seperti itu saja. Tak pernah sekalipun Sehun berusaha lebih dekat atau bermanja-manja pada ibunya itu. Sehun hanya menghormati ibunya itu sebagaimana seorang anak pada umumnya.

 

Sehun berjalan masuk ke dalam ruang keluarga yang sangat besar itu, dan melihat ibunya sedang duduk sambil membaca majalah.

 

“Oh? Sehuna…..kau sudah datang?”

 

“Hmmm” jawab Sehun tanpa minat, lalu dia duduk.

 

Wanita itu menutup majalahnya dan meletakkannya di meja.

 

“Jadi…apa yang membawamu kesini sayang?” tanya wanita itu lembut.

 

Eomma….apa Eomma mengatakan sesuatu pada Luhan?”

 

Wanita itu tampak terkejut, tapi kemudian pura-pura berpikir.

 

“Apa maksudmu sayang? Eomma tak mengerti”

 

“Luhan pergi” jawab Sehun singkat.

 

“Lalu? Apa hubungannya dengan Eomma sayang?”

 

Eomma pasti tau sesuatu. Katakan padaku Eomma, dimana Luhan?”

 

“Ya Tuhan….Sehuna…kau menuduh Eomma menyembunyikan kekasihmu? itu tak masuk akal sayang…”

 

“Aku tidak bodoh. Aku tau ada sesuatu diantara Eomma dan Luhan….hanya saja aku baru menyadarinya sekarang”

 

Wanita itu mulai tampak gelisah.

 

“Luhan bersikap aneh sejak dia bertemu dengan Eomma….pasti Eomma mengatakan sesuatu padanya. Apa yang Eomma katakan pada kekasihku?” tanya Sehun, sarkastik.

 

Eomma tak tau apa-apa sayang…sungguh…”

 

“Apa Eomma menyuruh Luhan pergi?”

 

“Ya Tuhan, kemana arah pembicaraanmu Oh Sehun!”

 

“Aku tau ada yang aneh denganmu Eomma…aku tak mengerti kenapa Appa melarang keras aku terlalu dekat denganmu, tapi kali ini aku mulai merasakannya sendiri. Eomma…sepertinya kau bukan orang baik”

 

“Hentikan Oh Sehun! Kenapa hanya demi namja binal seperti itu kau tega memperlakukan Eomma seperti ini?”

 

Namja binal?” tanya Sehun tajam, dengan kerutan dalam pada dahinya.

 

Wanita itu membuang wajahnya kearah lain.

 

“Darimana Eomma tau Luhan namja seperti itu? bukankah seminggu yang lalu adalah pertemuan pertama kalian? atau…..Eomma memang sudah mengenal Luhan sebelumnya?” selidik Sehun.

 

Eomma tak tau Sehun! kalau tak ada lagi yang ingin kau tanyakan, lebih baik kau cepat pergi”

 

“Aku memang sudah mau pergi…aku harus segera mencari kekasihku…”

 

“Untuk apa kau mencarinya lagi? biarkan dia pergi Sehun!”

 

Sehun yang sebenarnya sudah berjalan pergi itu kembali berbalik karena ucapan ibunya itu.

 

“Jadi benar Eomma yang menyuruhnya pergi? kenapa Eomma? aku sangat mencintai Luhan, kenapa kau tega memisahkan kami?” kata Sehun emosi.

 

“Benar! aku yang menyuruhnya pergi! ini semua kulakukan demi kau Sehun…kau puteraku, kau berhak mendapatkan yang lebih baik daripada namja binal itu…dia tak pantas untukmu!”

 

Eomma tak mengenal Luhan!” teriak Sehun, emosi.

 

“Tentu saja Eomma mengenalnya! Dia itu-”

 

Wanita itu cepat-cepat menghentikan ucapannya. Hampir saja dia kelepasan bicara.

 

“Dia siapa?” selidik Sehun.

 

“Sudahlah, lebih baik kau pergi”

 

Sehun membuang nafas kesalnya.

 

“Dengarkan aku….aku mencintai Luhan, dan siapapun tak akan bisa melarangku mencintainya…aku lebih mengenal siapa dia, karena aku mencintainya….aku akan mencarinya, karena aku mencintainya….jadi jika aku menemukannya, kuharap kau tak mengusik hubungan kami lagi…”

 

“Tapi Sehun, aku ini ibumu!”

 

“Itu benar! Tapi sejujurnya, aku tak mengenalmu, Eomma…”

 

Wanita itu tampak kesal, tapi hanya diam.

 

“Aku pergi” kata Sehun sambil berlalu pergi dari tempat itu.

 

 

Sehun sudah berada dimobilnya ketika ponselnya berdering nyaring. Sehun mengambilnya dengan cepat, berharap kalau yang meneleponnya itu adalah Luhan, tapi ternyata yang menelepon adalah ayahnya yang berada di Kanada.

 

Hallo Appa.…”

 

“…..”

 

“Aku tidak baik-baik saja Appa….Luhan meninggalkanku….”

 

“…..”

 

Eomma menyuruhnya pergi”

 

“…..”

 

Kening Sehun berkerut tajam saat mendengar ucapan ayahnya diseberang sana. Ayahnya sudah menduganya? Apa maksudnya?

 

Appa….apa kau tau sesuatu? apa sebenarnya hubungan antara Eomma dan Luhan? Kumohon beritahu aku Appa….”

 

“…..”

 

“Tapi kenapa? kenapa tak mengatakannya saja padaku”

 

“…..”

 

“Aku akan mencarinya, tentu saja!”

 

“…..”

 

“Baiklah, aku mengerti….aku akan segera mengirimkan fotonya padamu….terima kasih sudah mau membantuku Appa….Saranghae….bye

 

 

Pip’

 

 

Sehun membuka file manager dan membuka folder foto dengan cepat, lalu mengirimkan sebuah foto ke ponsel ayahnya. Fotonya dengan Luhan beberapa hari yang lalu saat mereka berkencan di taman bermain. Sehun menatap foto itu lama, dan meraba tepat pada bagian pipi Luhan.

 

“Aku sudah sangat merindukanmu Baby…Kau dimana? apa kau baik-baik saja? kau pasti sedang menangis kan? tunggu aku Lu, aku pasti menjemputmu pulang….” kata Sehun pelan, dan lagi-lagi setetes airmatanya jatuh di pipi pucatnya. Sehun terlalu sedih dengan nasib percintaannya sendiri.

 

“Aku akan menemukanmu Lu, aku pasti menemukanmu….jadi kau harus menjaga hatimu untukku. Saranghae….”

 

 

 

.

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

~***~Othello~***~

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

 

Vancouver City, Kanada….

 

 

Seorang pria setengah baya, sedang melihat bingkai foto berukuran mini yang berada diatas meja kerjanya. Foto itu adalah foto dirinya dan puteranya yang saat itu masih berusia 12 tahun.

 

“Sehuna….Appa sangat khawatir padamu nak…apa Ibumu benar-benar akan memisahkanmu dengan kekasihmu? Wanita itu sangat jahat…”

 

Pria itu mengambil nafas sejenak. Pikirannya melayang-layang ke minggu lalu, saat mantan istrinya itu meneleponnya.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

Flashback

 

 

“Hallo, Sen Woo-ya”

 

“Tumben kau meneleponku, apa ada hal penting yang ingin kau bicarakan?”

 

 “Tentu saja, ini hal yang sangat penting dan juga gawat”

 

“Apa yang kau maksud dengan hal penting dan hal gawat itu? To te point saja” 

 

“Putera kita, ternyata menjalin hubungan dengan putera tiriku”

 

“Lalu?”

 

“Apa yang kau maksud dengan ‘lalu’? Tentu saja ini masalah gawat, bocah itu mengenalku” 

 

“Tentu saja mengenalmu, kan kau ibu tirinya….lalu apa masalahmu?” 

 

“A-aku sudah menyentuh bocah itu, Sen Woo…”

 

“Apa katamu? Astaga….kau sungguh gila!”

 

“Lalu aku harus bagaimana Sen Woo-ya? aku tak menyangka jika kekasih Sehun adalah anak pria itu…a-aku takut bocah itu mengatakan hal itu pada Sehun….aku takut Sehun kembali mengingat kejadian dulu….”

 

“Lalu bagaimana bisa putera tirimu bertemu dengan Sehun?”

 

“Aku juga tak tau…Bocah itu kabur dari rumahku 4 bulan yang lalu. Aku juga tak tau bagaimana dia bisa bertemu dengan Sehun. Aku bahkan tak pernah melihatnya disini saat aku mengunjungi Sehun hingga beberapa kali…..”

 

“Itu resiko yang harus kau tanggung! Jika Sehun mendengar apa yang kau lakukan dari kekasihnya dan mengingat lagi saat kau menyentuhnya dulu, itu bukan urusanku!” 

 

“Apa katamu? jadi kau seperti itu? tak cukupkah kau membawa kabur Sehun selama 8 tahun dan membuatku hampir gila? aku tau aku memang salah, aku memang lepas kendali saat itu, tapi aku tetap ibu kandungnya. Aku menyayanginya, Oh Sen Woo!!”

 

“Kalau kau menyayanginya, biarkan saja mereka berhubungan seperti itu” 

 

“Apa maksudmu? Membiarkan saja mereka berhubungan? Aishhhh, tidak akan! Aku tak akan membiarkan anak itu menjalin hubungan dengan puteraku…dia itu namja binal, dia liar, dia pelacur!”

 

“Namja yang kau sebut binal, liar, dan pelacur itu adalah korbanmu….jika memang dia menjadi seperti itu, kemungkinan besar penyebabnya adalah kau! Bukankah orientasinya sama dengan Sehun? Dia juga gay, sama seperti Sehun. Itu adalah salahmu!”

 

“Ap-apa katamu?”

 

“Apa yang kukatakan sudah sangat jelas. Jangan usik lagi hubungan mereka. Mereka berdua sudah cukup menderita karena ulahmu, jadi jangan kau tambah lagi dengan mencoba memisahkan mereka berdua, terutama jangan sakiti lagi puteraku. Sehun sudah cukup menderita karena kau, dia bahkan sampai harus kehilangan ingatannya. Jangan membuatnya terluka lagi!” 

 

“AKU TAK PERDULI! Pokoknya aku akan melakukan apapun agar bocah itu pergi dari kehidupan Sehun, lagipula aku sudah bercerai dengan ayahnya….aku juga akan menyingkirkan bocah itu dari hidup puteraku!”

 

“YA! jangan laku-“

 

 

Pip’

 

 

Belum sempat pria setengah baya itu menjawab, mantan istrinya sudah memutuskan sambungan telepon itu secara sepihak.

 

 

End Flashback

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

 

Pria itu sangat khawatir, karena itu dengan cepat dia mengeluarkan ponselnya dari laci meja kerjanya dan menelepon puteranya.

 

“Hallo Appa…

 

“Hallo Sehuna, bagaimana kabarmu nak? apa kau baik-baik saja? bagaimana kabar kekasihmu? dia sudah sehat kan?”

 

“Aku tidak baik-baik saja Appa….Luhan meninggalkanku….”

 

Pria itu tercekat mendengar ucapan puteranya. Jadi, mantan isterinya benar-benar? Astaga…

 

“Apa yang terjadi Sehun? kenapa kekasihmu pergi?”

 

Eomma menyuruhnya pergi”

 

“Sudah kuduga….” kata pria setengah baya itu pada dirinya sendiri, tapi sayang, puteranya yang berada diseberang sana dapat mendengarnya.

 

Appa….apa kau tau sesuatu? apa sebenarnya hubungan antara Eomma dan Luhan? Kumohon beritahu aku Appa….”

 

Pria setengah baya itu menjauhkan ponsel itu dan menutupnya dengan tangannya.

 

~Sial….aku lupa kalau sedang berbicara dengan Sehun~ 

 

“Sehun, Appa memang tau…tapi Appa tak bisa mengatakannya padamu. Maaf nak…”

 

“Tapi kenapa? kenapa tak mengatakannya saja padaku?”

 

“Karena jika Appa mengatakannya, itu hanya akan menyakitimu saja. Sudahlah, jangan di pikirkan lagi. Jadi sekarang apa yang akan kau lakukan?”

 

“Aku akan mencarinya, tentu saja!”

 

“Baiklah, Appa mengerti….Appa akan membantumu mencarinya. Appa memiliki beberapa kenalan yang berprofesi sebagai detektif, Appa akan meminta bantuan mereka. Nama kekasihmu Xi Luhan kan? bisakah kau kirimkan fotonya pada Appa?

 

“Baiklah, aku mengerti. Aku akan segera mengirimkan fotonya padamu. Terima kasih sudah mau membantuku Appa….Saranghae.…”

 

Nado saranghae….jaga dirimu baik-baik nak. Jangan membuat Appa khawatir. Appa akan tutup teleponnya…Bye

 

Bye”

 

 

Pip’

 

 

Pria setengah baya itu menunggu sejenak. Tak berapa lama, ponselnya berdering lagi. Sebuah foto masuk ke ponselnya. Pria itu membukanya dan memperhatikan foto itu sejenak.

 

“Jadi ini yang namanya Xi Luhan? Bertubuh mungil, rambut orange menyala, dan…..astaga , benarkah bocah ini namja? Wajahnya sangat cantik…”

 

Pria tua itu memperbesar fotonya.

 

“Benar-benar namja yang sangat cantik dan imut. Sayang sekali nasibmu kurang beruntung karena harus bertemu dengan mantan istriku yang sedikit gila itu nak…. Tapi tenang saja, aku pasti akan mengembalikanmu pada puteraku. Jangan sedih ya, Xi Luhan….” gumam pria itu sambil tersenyum.

 

Beberapa saat kemudian pria tua itu sudah terlihat sibuk menghubungi teman-temannya yang berprofesi sebagai detektif diberbagai negara, meminta bantuan mereka untuk menemukan kekasih anaknya itu.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

~***~Othello~***~

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

 

 

Seoul…..

 

 

Lagi-lagi Sehun berhenti di kedai es krim yang sama, dan membeli beberapa cup besar es krim rasa cokelat kesukaan Luhan. Lalu seperti hari-hari sebelumnya, Sehun membawa pulang es krim itu, memakannya beberapa suap, lalu menyimpannya dikulkas. Setiap hari hanya seperti itu. Mencari Luhan kemana-mana, dan pulang ke apartemen dengan 2 cup besar es krim kesukaan Luhan. Sudah setengah tahun lamanya Sehun mencari, tapi Luhan belum juga dia temukan.

 

Pria itu menjatuhkan tubuhnya di sofanya, dan mengeluarkan sebuah cincin yang kini dipakainya sebagai liontin kalung, lalu mengelus cincin itu perlahan. Seperti biasa pula, yang dilakukannya setiap hari hanyalah mengingat setiap moment indahnya dengan Luhan jika dia berada di apartemennya sendiri.

 

“Sudah 6 bulan Lu, dan aku belum juga menemukanmu. Aku bahkan sudah lulus, seharusnya kau sudah menjadi pengantinku saat ini. Kau dimana Baby?

 

Pria itu berbaring disofa, dan memejamkan matanya. Karena kelelahan, pria pucat itupun akhirnya jatuh tertidur. Dia harus menyimpan tenaganya, karena besok dia masih harus mencari lagi.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

~***~Othello~***~

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

 

 

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun. Kini Sehun sudah berusia 22 tahun, berarti sudah 5 tahun lamanya dia berpisah dengan Luhan. Dan selama itu pula dia tanpa mengenal lelah terus mencari kekasihnya itu. Tubuh Sehun sudah semakin kurus, dan sudah terlihat sangat rapuh. Sehun hampir putus asa. Tapi keyakinannya yang begitu besar jika dia pasti akan menemukan kekasihnya lagi, membuat semangatnya muncul setiap waktu dan tetap berusaha mencari Luhan kemana-mana.

 

“Luhannie, kau dimana sayang? Aku sudah sangat lelah Lu…Aku lelah…”

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

~***~Othello~***~

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

 

 

Vancouver City, Kanada…..

 

 

“Presdir, ini adalah fotografer muda berbakat yang akan memfoto model untuk produk terbaru perusahaan kita, namanya adalah Mr Leonardo Xi…..”

 

Pria setengah baya itu menatap pria muda dihadapannya dengan senyumannya, dan membalas jabatan tangan fotografer muda itu.

 

“Perkenalkan, saya Leonardo Xi. Senang bekerjasama dengan Anda, Presdir Oh….” kata pria itu.

 

“Ya…senang juga bekerjasama dengan pemuda berbakat seperti Anda….”

 

Pria muda itu hanya membungkuk hormat.

 

“Oh ya Mr Leonardo, kenapa Anda menggunakan masker?”

 

“Oh…maafkan saya Presdir Oh, kesehatan saya sedang tidak baik, saya terserang flu sejak 3 hari yang lalu. Semoga Anda tak merasa terganggu dengan hal itu…”

 

“Ah, tidak apa-apa, tentu saja tak masalah. Kalau begitu, bisa kita mulai rencana kerja kita?”

 

“Oke”

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

~***~Othello~***~

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

 

 

 

 

Akhirnya meeting yang dilakukan oleh Presdir Oh, Leonardo si fotografer, dan beberapa orang lainnya itupun selesai. Kesepakatan sudah mereka lakukan, si fotografer itupun pamit pergi.

 

“Baiklah, saya permisi dulu Presdir Oh. Saya akan menyusun jadwal dan tempat pemotretan yang akan kita pakai besok lusa…”

 

“Baiklah….hati-hati dijalan Mr Leonardo….”

 

Fotografer itupun membungkukkan tubuhnya dan berlalu pergi.

 

Pria yang dipanggil Presdir Oh itu, yang adalah ayah Sehun, sedang memperhatikan contoh-contoh hasil jepretan Leonardo si fotografer tadi. Helai demi helai dia perhatikan, dan semakin kebawah, tanpa sengaja jari-jarinya menyentuh sebuah benda berbentuk segi empat dibalik tumpukan-tumpukan kertas itu.

 

“Ponsel siapa ini?” gumam ayah Sehun itu seorang diri.

 

Tangannya membolak-balik ponsel itu, berharap akan menemukan identitas atau paling tidak melihat stiker nama yang tertempel di case ponselnya, tapi pria tua itu tak menemukannya.

 

“Apa tidak apa-apa kalau aku melihat isinya?”

 

Pria itu tampak ragu, tapi kemudian jarinya memencet salah satu tombol, sehingga layar LCD ponsel itu menyala. Pria itu baru mau mencari identitas si pemilik ponsel, tapi matanya sontak terbelalak saat melihat wallpaper yang terpasang di halaman paling depan ponsel itu. Tangan pria tua itu sedikit gemetar. Lalu dengan gerakan terburu-buru pria tua itu mengambil ponselnya sendiri, membuka folder foto dan mensejajarkannya dengan ponsel orang asing yang dipegangnya tadi.

 

“100% sama. Mungkinkah fotografer itu…”

 

Baru saja ayah Sehun hendak menyuarakan isi pikirannya, si pemilik ponsel itu tiba-tiba muncul dihadapannya.

 

“Ah, Presdir Oh…maafkan saya kembali datang dan mengganggu Anda…tapi ponsel saya sepertinya tertinggal di ruangan ini. Apakah mungkin….ponsel itu milik saya?” tanya si fotografer itu saat melihat ponsel yang sangat mirip dengan miliknya dipegang oleh ayah Sehun.

 

Ayah Sehun berjalan perlahan-lahan, mendekati fotografer muda itu. Dengan tangan yang bergetar, pria tua itu melepaskan masker yang menutupi sebagian wajah fotografer itu, dan pria tua itu langsung menutup mulutnya sendiri dengan shock ketika berhasil melihat wajah fotografer muda itu dengan jelas saat ini.

 

“Presdir Oh? Anda baik-baik saja?” tanya fotografer itu khawatir melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh pria tua yang berada di hadapannya.

 

Tapi yang ditanya malah memeluknya erat-erat,  membuat kening fotografer itu berkerut dalam karena bingung.

 

“Ap-apa Anda baik-baik saja?” tanya fotografer itu untuk yang kedua kali.

 

“Xi Luhan…akhirnya aku menemukanmu nak. Kau Xi Luhan kan?”

 

Fotografer itu membeku.

 

Pria tua itu melepaskan tubuh mungil itu karena pria itu tak bergerak. Tangan tuanya bergerak kewajah mungil pria itu, dan menangkup pipi pria itu dengan kedua tangannya.

 

“Kau Luhan kan? Kau benar-benar Xi Luhan kan?”

 

“A-anda tau nama asliku?” kata pria mungil itu, terkejut.

 

“Ternyata benar ini kau. Ya Tuhan, terima kasih….” kata ayah Sehun, bersyukur.

 

Pria mungil itu masih tak mengerti dan juga masih merasa bingung dengan apa yang terjadi. Luhan tak bisa membaca situasi aneh ini. Luhan benar-benar kebingungan sekarang.

 

“Ba-bagaimana Anda bisa tau nama asliku?” tanya Luhan, gugup.

 

“Tentu saja aku tau….sudah 5 tahun aku mencari keberadaanmu nak….” jawab Presdir Oh sambil tersenyum.

 

“Me-mencariku? T-tapi untuk apa? S-siapa anda?” tanya Luhan, mulai takut.

 

“Namaku Oh Sen Woo. Aku adalah ayah kandung Oh Sehun, Luhan…”

 

Luhan membelalakkan matanya dengan sempurna. Pria itu terkejut setengah mati sampai tubuhnya gemetaran hebat, hingga akhirnya tubuh itu melemas dan hampir saja terjatuh.


 

To Be Continued


A/N : Big Thanks to Ferina Rindhi ( Oh My Lady Design )

 

 

 

Advertisements