OTHELLO

Othello

.

B
y tmarionlie

.

H
unHan

.

Yaoi | Hurt & Comfort | Romance | Mature


CHAPTER 10


 

Luhan kini tengah terbaring di ranjang Sehun. Sudah 45 menit dia tak sadarkan diri dan Sehun tak henti-hentinya menggenggam jemari Luhan yang dingin sambil terus-menerus memanggil kekasihnya itu agar cepat sadar. Raut wajah pria berkulit pucat itu tampak sangat khawatir.

 

“Lu, bangunlah” bisik Sehun ditelinga Luhan, mencoba membangunkan untuk kesekian kalinya.

 

Sehun mengelus-elus pipi Luhan dan mencoba lagi menyadarkan kekasihnya itu tanpa bosan.

 

Baby, ayo bangun…kau tak kasihan padaku?”

 

Beberapa menit berlalu hingga akhirnya mata rusa Luhan terbuka perlahan, membuat ekspresi khawatir Sehun berubah menjadi sedikit tenang.

 

“Ya Tuhan, akhirnya kau sadar juga….syukurlah…” kata Sehun sambil membantu Luhan duduk.

 

Luhan memegangi kepalanya yang sedikit pusing, dan mencoba mengingat kembali apa yang terjadi beberapa menit yang lalu. Sementara Sehun menatapnya dengan tatapan yang masih menunjukkan sedikit kekhawatiran.

 

“Kau baik-baik saja? apa ada yang sakit? tadi kau jatuh dan hampir terkena pecahan-pecahan gelas…untung saja kau tak jatuh tepat diatas pecahan gelas itu”

 

Luhan tak menjawab.

 

“Apa yang terjadi Lu? kenapa tiba-tiba kau pingsan? apa kau terlalu lelah karena kemarin terlalu banyak menangis? matamu juga masih terlihat  sedikit bengkak” kata Sehun lagi. Tangannya sudah menangkup wajah Luhan dan memperhatikan setiap detil lekukan wajah kekasih mungilnya itu hingga tatapan mereka bertemu.

 

Luhan tak tau apa yang terjadi pada hatinya, tapi sangat jelas jika kini ada rasa sakit yang teramat sangat ketika melihat wajah Sehun. Luhan tak menyangka jika kekasih yang sangat dia cintai itu ternyata adalah putera dari wanita yang telah membuat hidupnya hancur seperti sekarang ini. Segalanya sungguh diluar dugaan Luhan. Menatap wajah Sehun semakin lama, membuat goresan luka yang ada dalam hatinya kembali beradarah-darah. Luhan sekuat tenaga menahan dirinya untuk tak menangis lagi kali ini. Dia hanya diam.

 

“Lu…” panggil Sehun, membuyarkan pikiran-pikiran pria cantik itu.

 

Luhan kembali menatap wajah Sehun, lalu menepis tangan Sehun yang menangkup wajahnya sedikit kasar, membuat Sehun mengernyitkan dahinya karena heran. Tapi sesaat saja, pria pucat itu sudah melemparkan senyumannya untuk Luhan.

 

“Kau masih pusing ya? kalau begitu tidur saja lagi, hmm?”

 

Luhan hanya diam tak menjawab. Kini kepalanya tertunduk dalam, bingung harus melakukan apa di saat-saat seperti ini.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

Diluar apartemen Sehun, seorang wanita paruh baya yang sangat cantik terlihat sedang sibuk berbicara dengan seseorang melalui telepon.

 

“Lalu aku harus bagaimana Sen Woo-ya? Aku tak menyangka jika kekasih Sehun adalah anak pria itu…A-aku takut bocah itu mengatakan ‘hal itu’ pada Sehun….Aku takut Sehun kembali mengingat kejadian dulu”

 

“…..”

 

“Aku juga tak tau….bocah itu kabur dari rumahku 4 bulan yang lalu. Aku juga tak tau bagaimana dia bisa bertemu dengan Sehun. Aku bahkan tak pernah melihatnya disini saat aku mengunjungi Sehun hingga beberapa kali”

 

“…..”

 

“Apa katamu? jadi kau seperti itu? tak cukupkah kau membawa kabur Sehun selama 8 tahun dan membuatku hampir gila? aku tau aku memang salah, aku memang lepas kendali saat itu, tapi aku tetap ibu kandungnya, aku menyayanginya Oh Sen Woo!”

 

“…..”

 

“Apa maksudmu? membiarkan saja mereka berhubungan? Aishhhh…..tidak akan! aku tak akan membiarkan anak itu menjalin hubungan dengan puteraku. Dia itu namja binal, dia liar, dia pelacur!”

 

“…..”

 

“Ap-apa katamu?”

 

Warna wajah wanita cantik itu berubah keruh. Wanita itu terlihat sedikit kesal, sepertinya dia agak tersinggung dengan ucapan seseorang yang berada diseberang sana.

 

“AKU TAK PERDULI! Pokoknya aku akan melakukan apapun agar bocah itu pergi dari kehidupan Sehun. Lagipula aku sudah bercerai dengan ayahnya….aku juga akan menyingkirkan bocah itu dari hidup puteraku!”

 

 

Pip’

 

 

Wanita itu mengatur nafasnya, mencoba mengontrol emosinya karena ucapan mantan suaminya-ayah kandung Sehun– tadi tepat menohok dirinya. Semua yang dikatakan mantan suaminya tadi benar, tapi wanita itu tak peduli, dia akan tetap menyingkirkan Luhan dari hidup Sehun dan mengabaikan saran ayah kandung Sehun itu untuk membiarkan puteranya menjalin hubungan dengan Luhan.

 

Wanita itu mendengus satu kali, kemudian mulai menghentakkan high heels merahnya memasuki apartemen puteranya sendiri. Begitu memasuki pintu, hal yang pertama kali dia lihat adalah 2 orang pria-Sehun dan Luhan-yang masih duduk dengan tangan yang saling bertautan.

 

Sehun tersenyum saat melihat ibunya muncul. “Eomma…Luhan sudah sadar” kata Sehun ceria.

 

Wanita itu menatap datar kearah Luhan selama beberapa detik, tapi kemudian memasang senyuman di wajah cantiknya. Senyum palsu tentu saja. “Oh, syukurlah….” jawabnya.

 

High heels merah wanita itu mulai menapak berganti-gantian, berjalan mendekat kearah 2 pria berwajah mirip yang duduk di atas ranjang dan berpura-pura memegang kening Luhan, mengabaikan tatapan jijik yang diarahkan Luhan untuknya.

 

“Syukurlah kau tidak apa-apa Luhan sayang…Eomma sampai khawatir saat melihat kau jatuh pingsan tadi”

 

Luhan membuang mukanya, sementara Sehun terlihat lega dan juga senang karena ibunya bersikap sangat lembut pada kekasihnya.

 

“Sehunnie….sebaiknya kau pergi ke apotek, beli beberapa vitamin serta tablet penambah darah, kurasa tubuh kekasihmu ini terlalu lemah makanya bisa sampai jatuh pingsan begitu…”

 

Sehun mengangguk cepat.

 

“Baiklah, aku mengerti…tolong jaga Luhan untukku Eomma…”

 

“Ya, tentu saja sayang” kata wanita itu sambil menunjukkan senyumannya pada putera kandungnya sendiri.

 

Sehun menatap Luhan dengan senyuman lembut beberapa saat dan mengelus ujung kepala Luhan sebelum berjalan dengan cepat menuju pintu utama apartemennya.

 

 

BLAMM!!!!

 

 

Pintu apartemen itu tertutup, menandakan Sehun sudah pergi, menyisakan dua orang yang masih saling diam sambil menatap jijik satu sama lainnya diruangan itu. Luhan memutus kontak mata pertama kali dengan  membuang  muka kearah kiri, tak tahan bertatapan dengan wanita menjijikkan yang berada dihadapannya saat ini. Sedangkan wanita itu masih menatap tajam wajah Luhan, lalu melipat kedua tangannya didadanya sendiri.

 

“Bagaimana bisa kau menjalin hubungan dengan puteraku?” tanya wanita itu dengan nada sarkastiknya.

 

Luhan tak menjawab dan tak menoleh. Masih enggan menatap wanita itu.

 

“Tak kusangka setelah kau kabur dari rumahku, aku menemukanmu disini. Cihh…bagaimana bisa kau berpacaran dengan Sehun?”

 

“…..”

 

“Hei Pelacur, aku sedang bicara padamu!” kata wanita itu dengan nada kesalnya.

 

Luhan sontak menatap marah pada wanita itu saat mendengar panggilan tak senonoh yang dialamatkan wanita itu padanya. Emosinya tiba-tiba saja naik sampai ke level paling tinggi. Luhan tak terima dipanggil dengan panggilan menjijikkan seperti itu oleh wanita yang bahkan –menurutnya– masih jauh lebih menjijikkan dari dirinya sendiri.

 

“Pelacur?” tanyanya tajam. Tangannya sudah terkepal kuat karena terlalu keras menahan emosinya sendiri.

 

“Benar, kenapa? kau tak suka dengan panggilan itu? Itu adalah fakta yang tak terbantahkan” sahut wanita itu, disertai dengan senyuman remeh yang terukir di bibir tipisnya.

 

Luhan berdecih, lalu tertawa sinis.

 

“Benar, aku memang pelacur…dan kalau kau lupa, aku adalah pelacurmu, budak seksmu selama bertahun-tahun, Eomma…”

 

Wanita itu tertawa sambil menutup mulutnya sendiri, tampak sangat menyebalkan dalam pandangan pribadi Luhan.

 

Omo! Apa yang baru saja kau katakan? Aigoo Luhannie….kau itu pelacur bagi semua orang….jangan pikir aku tak tau apa yang kau lakukan selama kau tinggal dirumahku. Setiap malam kau hanya menghabiskan malam penuh gairahmu dengan pria-pria yang menyimpang seperti kau. Aku benarkan? Kau itu pelacur murahan, tak usah membantahnya!”

 

Rahang Luhan mulai mengeras. Darah dari luka pada hatinya terasa semakin deras mengalir hingga membasahi seluruh organ-organ vital yang membantunya hidup. Hatinya sangat sakit saat ini. Wanita di hadapannya ini terlalu kejam.

 

“Kau yang membuatku jadi seperti ini Eomma….hidupku baik-baik saja sebelum kau melecehkanku….” kata Luhan dengan suara yang bergetar.

 

“Tutup mulutmu bocah brengsek! Awas saja kalau kau sampai berani mengatakan pada Sehun kalau kau mengenalku. Sehun menghormatiku sebagai ibu yang baik untuknya, jadi jika kau berani membocorkan masalah itu kupastikan kau akan mati ditanganku! Kau mengerti?”

 

Luhan tertawa mengejek.

 

“Kau mau membunuhku? Tch! Kenapa Eomma? Kau takut putera kesayanganmu itu tau kalau kau seorang Pedofil maniak yang pernah menjadikanku budak seksmu?”

 

“Diam! Dan jangan panggil aku Eomma, kau bukan puteraku! lagipula aku sudah bercerai dengan ayahmu yang tolol itu”

 

Luhan mengerutkan keningnya dalam-dalam. Sedikit terkejut dengan ucapan wanita itu.

 

“Kau bercerai dengan Appa?

 

“Ya, itu benar”

 

“Lalu….dimana Appa?

 

“Mana kutau. Itu bukan urusanku! Mungkin ayahmu sudah menjadi gembel dijalanan?” Wanita itu lagi-lagi tertawa menyebalkan.

 

Luhan terdiam.

 

“Pria bodoh itu hampir saja membuatku bangkrut karena hobi berjudinya, karena itu dia kusingkirkan dari hidupku”

 

“…..”

 

“Kenapa? terkejut? tak terima? marah karena aku membuang ayahmu?”

 

Luhan terdiam lama, namun beberapa saat kemudian dia terkekeh tanpa minat.

 

“Tch, untuk apa aku marah? baguslah jika kau membuangnya, aku tak peduli. Dia ayah yang buruk, aku tak peduli dengan hidupnya”

 

Wanita itu tersenyum meremehkan.

 

“Dasar anak tak tau diri…pantas saja hidupmu sangat menyedihkan…ckckck”

 

Luhan hanya diam.

 

“Jauhi puteraku!” kata ibu Sehun tiba-tiba.

 

Luhan mendecih, kemudian terkekeh, membuat wanita yang berada dihadapannya menjadi kesal setengah mati.

 

“Jauhi puteraku! aku tak sudi Sehun menjalin hubungan dengan pelacur seperti kau!”

 

Lagi-lagi Luhan terdiam.

 

Pelacur?

 

“Kenapa hanya diam?” kata wanita itu sengit, tak sabar dengan sikap yang diberikan Luhan untuk merespon segala tuntutannya. Tapi Luhan tetap pada diamnya, tak merespon wanita itu.

 

“Katakan padaku, bagaimana caramu menggoda puteraku?”

 

Luhan mengepalkan tangannya, emosi. Menggoda?

 

“Kalau sejak awal aku tau Sehun puteramu, aku tak akan sudi mengenalnya, apalagi menjalin hubungan dengannya!” jawab Luhan sinis.

 

“Oh, baguslah….kalau begitu segera putuskan hubunganmu dengan puteraku dan pergi jauh-jauh dari hidupnya. Kau tak pantas bersanding dengan puteraku”

 

Luhan lemas.

 

Memutuskan hubungannya dengan Sehun dan pergi dari kehidupan Sehun? Apakah dia sanggup? Tapi dia sangat mencintai Sehun…

 

“Jangan hanya diam Pelacur murahan! pokoknya kau harus segera pergi dari kehidupan puteraku, atau aku akan melakukan segala cara untuk menyingkirkanmu! Aku bisa melakukan apapun, bahkan membunuhmu pun akan kulakukan jika itu perlu!”

 

Luhan menatap tajam pada wanita dihadapannya itu, merasa tak percaya karena ada wanita sejahat itu di dunia ini .

 

“Tak perlu mengancamku wanita jalang! tanpa kau suruh pun aku sudah berpikir untuk pergi…aku juga tak sudi berhubungan dengan apapun yang bersangkutan dengan kau, apalagi dengan namja sialan putera kandungmu itu! lagipula aku tak mencintainya, dia yang mencintaiku!”

 

Bohong.

 

Luhan meremas selimut yang berada dipangkuannya. Hatinya sangat sakit saat mengucapkan kebohongan barusan. Bohong. Semua kata-katanya adalah bohong besar. Luhan bahkan sangat mencintai Sehun melebihi apapun didunia ini.

 

“Baguslah! Kalau begitu cepat kau pergi….kuberi kau waktu satu minggu untuk segera menyelesaikan urusanmu dengan Sehun, dan setelahnya, aku tak mau lagi melihat wajahmu disekitar puteraku, kau mengerti?” kata wanita itu sambil mencengkram dagu Luhan.

 

“Jangan menyentuhku brengsek!” maki Luhan sambil menepis kasar tangan wanita itu.

 

Wanita itu terkekeh.

 

“Ckckck…namja murahan tapi sangat arogan, mati saja kau!” kata wanita itu.

 

Pertengkaran itu terhenti mendadak ketika Sehun muncul dari pintu apartemen sambil menenteng barang yang dipesankan oleh ibunya tadi. Wajah ibu Sehun pun langsung berubah lagi menjadi manis, memasang topeng keibuannya kembali dihadapan putera kandungnya yang tak tau apa-apa itu.

 

“Oh, kau sudah pulang sayang? Baiklah, Eomma sudah harus pergi…banyak pekerjaan yang menanti Eomma. Jangan lupa rawat kekasihmu ini dengan baik dan berikan vitamin itu padanya setiap hari agar tubuhnya tak mudah sakit. Kau mengerti?? ”

 

“Hmm… Aku mengerti. Terima kasih Eomma…” jawab Sehun sambil tersenyum lebar.

 

Wanita itu tersenyum, lalu mencium kening Sehun, dilanjutkan dengan mencium kening Luhan.

 

“Ingat kata-kata Eomma tadi ya Luhannie…”katanya lembut, namun tatapan matanya mengancam.

 

Luhan tak bergeming sampai wanita itu menghilang dibalik pintu.

 

Sehun mendesah satu kali, lalu berjalan mendekati Luhan dan langsung memeluk tubuh mungil Luhan erat-erat.

 

Eomma menyukaimu…Syukurlah…” kata Sehun lega.

 

Luhan hanya diam sampai Sehun melepaskan pelukannya.

 

Menyukainya? Haha…

 

Luhan menatap sedih wajah Sehun yang sedang tersenyum itu.

 

~Satu minggu….hanya seminggu lagi saja aku bisa menatap wajah tampanmu seperti ini Sehunnie…~ bathin Luhan menangis.

 

“Lu? Kau baik-baik saja?” bisik Sehun pelan, menyadarkan Luhan dari keterpurukan hatinya sendiri. Luhan memaksakan senyumnya agar Sehun tenang.

 

“Mmm….aku baik-baik saja…”

 

“Kau masih pusing?”

 

Luhan menggeleng, membuat senyum Sehun kembali terkembang. Tangannya kini sudah mengelus kepala kekasihnya pelan-pelan. Tak ada yang berkata-kata setelahnya, mereka hanya diam. Luhan menatap wajah Sehun dengan tatapan sedihnya, menyusuri setiap lekuk wajah kekasihnya itu dengan pikiran yang berkecamuk.

 

“Sehunnie…”

 

“Hmm??”

 

“Aku mencintaimu…”

 

“Hmm…aku juga mencintaimu Lu…”

 

“Maafkan aku…”

 

Gerakan tangan Sehun terhenti. Keningnya berkerut, tak mengerti dengan maksud ucapan Luhan barusan.

 

“Maafkan aku karena mencintaimu…”lanjut Luhan.

 

Sehun menarik nafas lega, lalu lagi-lagi tersenyum.

 

“Aku juga mencintaimu sayang…tak perlu meminta maaf untuk hal-hal seperti itu” jawab Sehun, lalu mendorong kepalanya mendekat pada wajah mungil pria cantik dihadapannya. mengecup lama bibir pemiliknya, dan kembali mengulang kata-katanya.

 

“Aku juga mencintaimu Lu…sangat…”

 

Luhan meremas sprei lebih kencang, berusaha menahan sesak di dadanya serta tangisnya sekuat tenaga.

 

“Luhan, ada apa? Kau lebih banyak diam sejak tadi…kau membuatku merasa aneh…”

 

Luhan tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya dan memaksakan ekspresi ceria pada wajahnya sendiri meskipun sangat sulit.

 

“Sehuna…ayo kita berkencan setiap hari selama seminggu ini, lupakan sekolah, dan lupakan apapun. Kau mau kan?” kata Luhan penuh harap.

 

Sehun menatap Luhan aneh, tapi sesaat kemudian jarinya sudah terangkat, menyentil kening Luhan sambil tertawa.

 

“Kenapa permintaanmu sangat aneh? kau salah makan obat ya?” goda Sehun.

 

Pout

 

“Aneh katamu? Aku hanya ingin menghabiskan waktuku lebih banyak denganmu…apa tidak boleh?”

 

Sehun tertawa geli sambil mengusap kepala Luhan.

 

“Tapi kan tak sampai harus mengorbankan sekolah Lu…4 bulan lagi kita sudah akan menjalani ujian akhir  sayang…”

 

“Ayolah, satu mingguuuuu saja…ya?” bujuk Luhan.

 

Sehun tampak ragu.

 

Please???” kata Luhan memohon.

 

Sehun tertawa.

 

“Baiklah…apapun untukmu, yang penting kau senang…”

 

“Yeeeiiyyy!!!” sorak Luhan dengan mata berkaca-kaca, menahan airmatanya yang sudah hampir keluar dan sepertinya memang sudah akan keluar. Dengan cepat Luhan melingkarkan tangannya pada tubuh Sehun, menyembunyikan tangisannya didada kekasihnya itu.

 

Sehun mengerutkan dahinya karena merasa aneh, namun dia menepis segala pikiran buruknya sendiri. Tangannya kini juga sudah balas memeluk Luhan. Bibirnya juga sesekali menciumi kepala pria mungil dalam pelukannya itu.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

Kencan hari pertama…

 

Luhan merengut kesal karena Sehun baru bangun jam 7 pagi, padahal Luhan sudah membangunkannya sejak pukul 5 pagi tadi. Luhan bahkan sudah rapi sejak matahari belum muncul. Sehun yang baru keluar dari kamar mandi tersenyum geli saat melihat pacarnya itu duduk diatas ranjang sambil melipat tangan didadanya dengan mulut yang dimajukan, cemberut. Mata rusanya bergerak kesana- kemari, menatap setiap pergerakan Sehun dengan wajah kesalnya. Sehun yang tak tahan melihatnya bahkan sempat mencubit bibir Luhan sekilas sebelum berjalan kearah lemari untuk mengambil pakaiannya. Pria pucat itu sangat gemas dengan tingkah kekasihnya yang cantik itu.

 

Sehun mengambil sebuah T-shirt berwarna tourquise dan celana pendek hitam, lalu langsung melepas handuk yang meliliti pinggangnya dan memakai bajunya didepan Luhan dengan santai tanpa merasa malu sedikitpun, toh mereka juga sudah pernah bercinta sebelumnya kan? Sehun terkekeh lagi ketika melihat wajah Luhan yang sedikit memerah ketika tanpa sengaja dia melirik pria cantik itu sambil mengancingkan resleting celana pendeknya.

 

“Eighhh, jangan cemberut terus…kau terlihat menggemaskan”

 

Luhan mendengus sekilas, lalu berdiri dari posisi duduknya. Tangannya sudah menyambar handuk kecil yang dipegang Sehun, lalu membantu mengeringkan dengan cepat rambut kekasihnya itu sambil mengomel.

 

“Kau lama sih…” gerutunya.

 

“Ya Tuhan Luhannie…ini masih jam setengah delapan pagi sayang….dan kita memiliki waktu yang sangat banyak untuk menghabiskan waktu bersama hari ini…”

 

Luhan terdiam.

 

~Tak taukah kau setiap detiknya sangat berharga untukku?~ jawab Luhan dalam hati.

 

Segalanya selesai. Luhan dan Sehun sempat berdebat selama beberapa saat sebelum akhirnya memutuskan untuk mengunjungi pantai di daerah yang terletak agak jauh dari kota yang katanya indah namun sepi itu. Mereka tiba di pantai itu pukul sepuluh, lalu langsung bermain-main air dan saling berkejar-kejaran ditepi pantai sambil tertawa-tawa. Hari itu mereka habiskan dengan kegembiraan, lalu ditutup dengan menikmati matahari tenggelam sambil duduk di tepi pantai dengan kepala yang saling menyandar satu sama lainnya dan jemari yang saling bertautan, seperti dalam drama-drama yang sering mereka tonton di televisi.

 

“Sehuna…”

 

“Hmmm?”

 

“Ini sungguh menyenangkan…”

 

“…..”

 

“Menghabiskan waktu bersamamu seperti ini membuatku sangat bahagia…”

 

“Ya, aku juga senang Lu…kau tertawa terus sepanjang hari ini…kau membuatku terpesona..haha.. ”

 

Sehun menarik Luhan kepelukannya.

 

“Kenapa kau tiba-tiba meminta hal seperti ini padaku?”tanya Sehun.

 

“Tak apa…Aku hanya ingin menciptakan sesuatu yang indah dan manis, yang tak mudah dilupakan…” jawab Luhan.

 

“Kau aneh, seperti kita akan berpisah saja…kuberi tau ya, aku akan tetap bersamamu sampai aku tua”

 

Luhan tertegun.

 

“Kita tak akan pernah tau apa yang akan terjadi dimasa depan Sehunnie…”

 

“Kau benar, tapi apapun yang terjadi aku akan tetap mencintaimu Lu”

 

“….”

 

“….”

 

“Kalau aku yang lebih dulu bosan dan tak lagi mencintaimu, bagaimana?” tanya Luhan.

 

“Aku akan membuatmu kembali jatuh cinta padaku”

 

Luhan meremas celananya, ragu hendak melanjutkan pertanyaan yang akan diucapkannya, tapi….

 

“Ka-kalau suatu saat aku pergi, kau akan bagaimana?”

 

Sehun menatap Luhan dengan kening yang berkerut dalam.

 

“Jika kau pergi…aku akan mencarimu setiap hari sampai aku menemukanmu…”

 

Luhan balas menatap Sehun, rasa sesak itu kembali muncul, tapi Luhan menahannya.

 

“Lalu kalau aku mati….ba-bagaimana?”

 

Sehun menatap Luhan semakin dalam tepat kemanik mata pria mungil itu.

 

“Jika itu yang terjadi, aku akan menghabiskan sisa hidupku untuk mencintaimu, mengenang setiap moment indah yang pernah kita lewati, sampai ajal menjemputku dan mengantarku untuk bertemu kembali denganmu…”

 

Sendi-sendi Luhan melemas. Luhan tak menyangka jika cinta mereka sudah sedalam ini. Dia pikir hanya dia satu-satunya yang mencintai Sehun setengah mati tapi kenyataannya…Luhan bingung harus melakukan apa.

 

Aku harus bagaimana Sehuna?

 

 

.

 

.

 

Hari kedua…

 

Di kencan kedua, Sehun dan Luhan menghabiskan waktu mereka bermain ditaman bermain. Seperti kemarin, Luhan tertawa-tawa bahagia, mencoba melupakan beban yang menghimpit dadanya, meyembunyikan segala lukanya dari Sehun agar pria pucat itu menganggap segalanya baik-baik saja. Mereka mencoba beberapa wahana menegangkan dan juga berfoto-foto. Puas bermain, mereka pulang dan tidur dengan saling memeluk satu sama lain.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

Hari ketiga…

 

Luhan dan Sehun sedang duduk berdua di dalam sebuah kedai es krim di daerah Myungdeong. Seperti sepasang kekasih kebanyakan, mereka saling melempar candaan sambil tertawa-tawa. Membicarakan beberapa hal penting dan tak penting sambil menikmati es krim pesanan mereka dengan tenang.

 

“Aku baru tau jika namja nakal sepertimu menyukai es krim dengan rasa cokelat seperti ini…” kata Sehun sambil menatap Luhan yang sedang memakan es krim cokelatnya dengan lahap.

 

“Mmm…ini lezat Sehunnie…kau harus mengingatnya, hmm?”

 

“Mengingat apa?” tanya Sehun tak mengerti.

 

“Ingatlah kalau namja nakal yang bernama Xi Luhan menyukai es krim rasa cokelat, oke?”

 

Sehun menatap datar kekasihnya yang sedang asyik melahap es krimnya itu. Sehun sebenarnya merasa aneh dengan tingkah yang ditunjukkan Luhan selama 3 hari ini. Apalagi tadi malam dia mendengar Luhan terisak-isak disampingnya meskipun Sehun mempertahankan sikap dan berpura-pura tetap tidur saat Luhan menangis tengah malam tadi. Perasaannya tak enak, tapi Sehun mencoba mengabaikannya. Sehun yakin segalanya pasti baik-baik saja. Sehun mengangkat tangannya, menyentuh puncak kepala Luhan dan menepuk-nepuknya pelan, membuat pria cantik yang duduk di hadapannya itu membeku.

 

“Aku akan mengingat apapun yang menyangkut dirimu Luhan…aku janji”

 

Luhan tertegun. Lagi-lagi jantungnya berdenyut nyeri, tapi bibirnya memaksakan tawa yang terdengar hambar.

 

“Ya, kau memang harus mengingat semua tentangku, aku ini spesial, kau mengerti, eoh?” kata Luhan mencoba seceria mungkin, namun Sehun hanya menatap kekasihnya dengan tatapan datar. Sehun yakin ada yang aneh walaupun dia mencoba menepis pikiran itu jauh-jauh. Dan entah hanya perasaannya saja atau bukan, Sehun yakin jika baru saja matanya melihat setitik air mata Luhan jatuh ketika pria itu melemparkan tawa untuknya.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

Hari keempat…

 

“Sehuna, jangan lepaskan aku…” kata Luhan sambil memegang pegangan sepedanya yang meliuk-liuk tak tentu arah itu.

 

“Eo, tenang saja sayang, aku menjagamu…”

 

“Jangan sampai aku terjatuh” kata Luhan lagi.

 

“Ya, tentu saja aku tak akan membiarkanmu terjatuh…aku akan melindungimu dengan nyawaku Baby, haha” goda Sehun.

 

Sehun merasa geli dengan tingkah Luhan yang seperti bocah. Luhan yang selama ini dia kenal adalah pria yang nakal dan agresif, karena itu Sehun sangat senang ketika mengetahui sisi imut kekasihnya yang menurutnya sangat lucu. Sehun senang, tapi Luhan malah sebaliknya. Pria cantik itu tertegun karena ucapan Sehun barusan. Luhan tak suka. Melindungi dengan nyawa? Luhan tak berpikir jika Sehun akan mengucapkan hal-hal seperti itu untuknya. Emosinya tiba-tiba saja naik. Ah, bukan, tapi perasaan sedihnya kini kembali muncul, sampai dia merasa emosi karena terlalu frustasi dengan keadaan saat ini. Luhan berhenti mencoba mengayuh sepeda itu dan turun. Dibantingnya sepeda itu dengan kasar, lalu tanpa kata-kata dia berlalu pergi meninggalkan Sehun yang tampak bingung dengan sikapnya.

 

Sehun mengejar kekasihnya itu ketika tersadar dari kebingungannya sendiri, lalu menarik tubuh Luhan dengan cepat agar pria itu menatapnya. Sehun butuh penjelasan atas sikap aneh Luhan barusan. Baru saja ingin mengeluarkan pertanyaan, mata sipitnya sudah mengangkap buliran bening yang mengalir di kedua belah pipi Luhan. Emosi Sehun mendadak naik. Sehun tak suka melihat Luhan yang cengeng seperti ini tanpa dia tau apa masalahnya.

 

“Kau kenapa lagi Lu? K enapa akhir-akhir ini kau selalu seperti ini? Kau bersikap aneh selama beberapa hari, tau tidak?!” Kata Sehun emosi.

 

Luhan tak menjawab.

 

“Aku tau setiap malam kau selalu menangis diam-diam. Apa yang terjadi, eoh? Ada aku Luhan, kau bisa mengandalkanku!” kata Sehun geram, lalu melemparkan tatapannya kearah lain.

 

Luhan masih diam, tapi sesaat kemudian dia mengangkat tangan kanannya, menghapus airmatanya menggunakan ibu jarinya sendiri. Kepalanya mendongak menatap wajah Sehun yang mengeras. Pria pucat itu pasti sangat kesal.

 

 

Luhan menyentuh rahang Sehun dengan jari-jari tangan kanannya, lalu mengusap disana beberapa kali.

 

 

“Sehuna…maafkan aku…”

 

 

Sehun hanya diam, tak menoleh dan tak memberikan respon apapun.

“A-aku…aku sedih karena terlalu merindukan Xiao Huo Hyung dan Eomma….” kata Luhan berbohong.

 

Sehun membuang nafasnya satu kali, lalu beralih menatap Luhan. Diraihnya jemari Luhan yang masih mengelus wajahnya, lalu dia genggam jemari itu dengan tangannya sendiri.

 

“Benar hanya karena itu?” selidiknya.

 

Luhan mengangguk. Padahal dia tadi menangis karena jengkel dengan ucapan Sehun yang seolah-olah ingin membuat Luhan merasa bersalah dengan keputusannya yang ingin pergi walaupun pria pucat itu sebenarnya tak bermaksud begitu.

 

Sehun menatap Luhan dengan tatapan menyesalnya, lalu meraih Luhan kedalam pelukannya.

 

“Maafkan aku karena membentakmu…lagipula kenapa tak mengatakannya saja padaku jika hanya masalah itu yang kau pikirkan?”

 

“…..”

 

“Besok kita akan mengunjungi mereka, jadi jangan sedih lagi, oke?”

 

Luhan mengangguk lemah didalam pelukan Sehun.

 

Bukan itu yang membuatku menangis Sehunnie….Aku menangis karena aku merasa tak sanggup kehilanganmu…

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

Hari kelima…

 

 

Seperti janji Sehun, mereka pergi ke makam kakak kembar dan ibu Luhan hari ini. Tapi Sehun meninggalkan Luhan ditempat itu selama beberapa jam sebelum akhirnya datang menjemputnya lagi. Selama Sehun pergi, Luhan menangis keras sambil terus-menerus bertanya pada makam bisu itu harus bagaimana dirinya menghadapi situasi buruk yang dialaminya saat ini. Dan Luhan baru berhenti menangis setelah melihat Sehun datang menjemputnya.

 

Dalam perjalanan pulang Luhan hanya diam, begitu juga Sehun. Tapi akhirnya keheningan itu pecah saat Luhan mulai bersuara.

 

“Kau tadi pergi kemana?”

 

“Hanya mengambil sesuatu yang penting dan rahasia”jawab Sehun sambil tersenyum.

 

“Oh, begitu” jawab Luhan tanpa minat.

 

“Besok apa rencanamu untuk kencan kita selanjutnya Baby?” tanya Sehun.

 

“Aku tak ingin kemana-mana….aku lelah Sehunnie…”

 

“Begitu? Baiklah, menghabiskan waktu berdua seharian di Apartemen bukan ide yang buruk” jawab Sehun sambil tersenyum.

 

Luhan tak menjawab, hanya menatap setiap pohon ataupun ilalang yang dilewati oleh mobil mereka tanpa suara.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

Hari keenam…

 

 

Kedua pria berwajah mirip itu hari ini tak pergi kemanapun dan hanya berdiam diri di Apartemen Sehun. Ini sudah sore menjelang malam, dan saat ini mereka sedang terbaring diranjang dengan posisi saling berhadapan, saling menatap satu sama lain.

 

Sepanjang hari tadi mereka habiskan dengan menonton film. Satu hal lagi tentang Luhan yang ditemukan Sehun, yaitu Luhan sangat menyukai film bergenre fantasy seperti kisah vampir, naga terbang ataupun kisah penyihir. Luhan menyukai film  semacam itu, seperti Twilight Saga, Eragon, dan Harry Potter, ehem, film terakhir adalah favorite Luhan.

 

 

.

 

 

Flashback

 

 

“Aku sangat suka film fantasy Sehuna…di dalam film itu seolah-olah semua hal dapat dilakukan tanpa harus berpatokan pada realita hidup yang ada. Seandainya saja dunia fantasy itu sungguh-sungguh ada didunia ini, aku pasti akan segera pindah ke sana” kata Luhan.

 

“Hmm, kau benar. Andai saja dunia seperti itu ada sungguhan, pasti akan sangat menyenangkan hidup didalamnya” kata Sehun.

 

“Kurasa jika kita berada didunia seperti itu, hubungan sesama jenis seperti yang kita jalani ini tak akan menjadi masalah. Aku pernah melihat di beberapa film, manusia bahkan bisa menjalin hubungan dengan makhluk jelmaan yang sosoknya seperti hewan atau seorang manusia yang bisa saling jatuh cinta dengan dewa. Sungguh konyol, bukan begitu? Kalaupun ada yang mempermasalahkan hubungan kita, mungkin aku bisa menyerang orang itu dengan kekuatan yang kumiliki, misalnya mungkin saja aku memiliki kekuatan menggerakkan benda dengan pikiranku, jadi aku bisa melemparkan orang yang mencoba menentang hubungan kita hanya dengan mengandalkan kekuatan pikiranku saja. Eighh…pasti asyik” kata Luhan berkhayal.

 

“Eo, benar juga…mungkin aku juga bisa memiliki kekuatan mengendalikan angin, jadi aku bisa menghempaskan orang itu jauh-jauh agar tak mengusik hubungan kita, haha…” kata Sehun, ikut-ikutan mengkhayal.

 

Luhan tertawa lalu menatap Sehun yang duduk disampingnya.

 

“Sudahlah, hentikan Sehunnie…kita sudah terlihat seperti pasangan konyol yang mulai gila…ahaha…” kata Luhan sambil tertawa.

 

Sehun juga ikut tertawa geli.

 

“Baiklah”

 

 

End Flashback

 

.

 

 

.

 

.

 

 

Kedua orang itu masih saling menatap intens satu sama lain, dan hanya berkomunikasi melalui tatapan mata itu. Samar-samar suara hujan mulai terdengar diluar apartemen. Suhu udara pun perlahan bergerak turun dan mulai terasa menusuk kulit. Sehun menarik selimut hingga menutupi tubuhnya dan Luhan sampai sebatas perut mereka, lalu tersenyum untuk Luhan.

 

“Lu…”

 

“Hmmm??”

 

“Aku mencintaimu”

 

“Aku tau…”

 

“Luhan…”

 

“Ya?”

 

“Aku mencintaimu…”

 

“Ya, aku tau…kau baru saja mengatakannya Sehunnie…”

 

Sehun tertawa.

 

“Luhannie…”

 

“Ya? Apa lagi Sehuna?”

 

“Aku sangat mencintaimu…”

 

Luhan diam beberapa lama, menatap mata sipit Sehun dalam-dalam. Ditariknya nafas satu kali, lalu Luhan tersenyum.

 

“Aku juga mencintaimu Sehun…Aku sangat mencintaimu…Sangat-sangat mencintaimu…”

 

Lagi-lagi Sehun tertawa, Luhan juga tertawa. Mereka kembali bertatapan dengan pikiran mereka masing-masing.

 

“Lu…pinjamkan tanganmu sebentar…”

 

Luhan mengerutkan kening, menatap Sehun dengan raut penuh tanda tanya, tapi dia menjulurkan tangan kirinya juga kearah Sehun.

 

Sehun meraih tangan Luhan, menggenggam jemari Luhan beberapa detik, lalu dalam sekejap sesuatu yang berkilau tiba-tiba saja sudah menghiasi jari manis Luhan yang lentik.

 

Luhan membeku.

 

“Xi Luhan, Aku mencintaimu…Menikahlah denganku…” kata Sehun lembut. Dikecupnya jemari Luhan yang baru saja dia hias dengan cincin emas putih itu, lalu Sehun menunjukkan jarinya yang juga memakai satu cincin yang sama persis sambil melemparkan senyum tampannya kearah Luhan.

 

Luhan tak mengatakan apapun. Lidahnya seolah ikut membeku seperti tubuhnya saat ini.

 

~Kenapa harus begini saat aku sudah memutuskan untuk pergi?~ bathin Luhan miris.

 

“Luhan?”

 

“….”

 

“Lu?”

 

“…..”

 

“Lu…K-kau tak berpikir untuk menolakku kan?” tanya Sehun was-was karena Luhan tak mengatakan apapun atas lamarannya barusan.

 

“Sehun, a-aku…”

 

Sehun menahan nafasnya, tapi Luhan tak kunjung meneruskan kata-katanya. Luhan menggigit bibirnya ragu. Luhan sangat bingung.

 

~Apa yang harus kukatakan?~ bathin Luhan kebingungan.

 

“Lu…” panggil Sehun lagi, mulai putus asa.

 

Luhan menatap Sehun lekat-lekat, lalu dengan gerakan lambat pria mungil itu menarik jari-jarinya yang juga mungil yang sedang digenggam oleh Sehun, membuat Sehun mulai takut.

 

“Lu…apa kau akan meno-”

 

Sehun baru mau menyuarakan ketakutannya, tapi bibirnya sudah dibungkam oleh Luhan. Luhan menciumnya lembut, sambil menangis…

 

Sehun terkesiap saat merasakan lelehan airmata Luhan yang ikut membasahi pipinya. Ditariknya wajahnya, melepaskan tautan bibir mereka, lalu menghapus airmata Luhan.

 

“Kenapa menangis? apa lagi yang membuatmu sedih?” tanya Sehun lembut.

 

Luhan menggeleng.

 

“Tak ada….aku hanya merasa sangat beryukur bisa bertemu denganmu…aku bahagia…”kata Luhan.

 

Sehun tersenyum.

 

“Apa itu artinya kau menerima lamaranku?”

 

“…..”

 

“Diam berarti ya….4 bulan lagi kita lulus….setelah itu kita akan langsung menikah….bagaimana?”

 

“…..”

 

“Diam berarti ya. Ah, aku sudah tak sabar menunggu hari kelulusan”kata Sehun sambil menatap langit-langit kamar itu.

 

Luhan tersenyum, tapi tangannya meremas dadanya yang rasa sesak dan sakitnya sudah tak terkira lagi saat ini.

 

“Sehuna…ingatlah kalau aku sangat mencintaimu. Aku, Xi Luhan, sangat mencintai Oh Sehun….” kata Luhan dengan suara yang mulai bergetar.

 

Sehun kembali berbaring miring menghadap pria mungil itu dan tersenyum.

 

“Baiklah….aku akan selalu mengingatnya, dan akan menyimpan namamu seumur hidupku….disini” kata Sehun sambil menunjuk dadanya yang sebelah kiri.

 

Luhan tersenyum miris. Setetes airmata kembali jatuh di pipinya, tapi dengan cepat jari lentiknya menghapus airmata itu.

 

“Sehuna…ayo kita bercinta lagi”

 

Sehun mengangkat satu alisnya sambil terkekeh geli.

 

“Apa yang baru saja kau minta rusa nakal, hmm?” kata Sehun sambil mencubit pipi Luhan karena gemas.

 

Luhan tak perduli. Dia singkirkan tangan Sehun dari wajahnya, lalu menatap serius kedalam mata Sehun.

 

“Ayo bercinta Sehuna…Aku menginginkanmu…Aku ingin kau menyentuhku Sehun…” kata Luhan.

 

Sehun menatap kekasihnya itu lekat-lekat, bingung dengan tingkah Luhan saat ini, tapi lagi-lagi Sehun menepis segala pikiran buruknya. Lagipula Luhan sudah menerima lamarannya. Sehun yakin jika mereka pasti akan bahagia setelah ini. Sehun mengulurkan tangannya, menyentuh pipi Luhan dan mengelusnya. Lalu perlahan tapi pasti tubuh Sehun terangkat dan mulai menindih tubuh mungil Luhan. Dia usap pipi Luhan beberapa kali, lalu Sehun menundukkan kepala, meraih bibir pria cantik yang dia himpit dibawah tubuhnya itu. Keduanya kini saling menekan dan menggesek dalam-dalam kedua belah bibr mereka dengan mata yang sama-sama terpejam, menikmati sensasi mendebarkan yang aneh setiap mereka melakukan kontak fisik seintim ini.

 

Tangan Sehun mulai menjelajah. Ditariknya kaus Luhan hingga terlepas, kemudian diraihnya tonjolan dibagian dada pria cantik itu, menghisapnya berganti-gantian, membuat pria yang berada dibawah bergerak-gerak aneh, mendesah nikmat sambil menutup mata dengan kedua tangan yang meremas-remas lembut pada surai pelangi pria pucat yang berada diatas tubuhnya.

 

Beberapa waktu berlalu, keduanya telah saling mencumbui tubuh pasangannya dengan tubuh yang sudah sama-sama polos. Kissmark sudah bertebaran di sana-sini pada bagian tubuh keduanya, dan keringat mulai menetes-netes ketika Sehun mulai menggerakkan pinggulnya secara teratur, melesakkan miliknya dalam-dalam pada tubuh Luhan.

 

 

Luhan mendesah-desah kencang dan menjerit nikmat disetiap hentakan pinggul kekasihnya. Bibirnya tak berhenti-henti mendesahkan nama Sehun sampai suaranya sedikit serak karena terlalu keras mendesah dan mengerang. Keduanya seolah tak mengenal lelah saat ini, bahkan setelah beberapa kali mereka mencapai puncak kenikmatan bersama-sama. Tak ada rasa puas pada diri Luhan, hanya ada gairah yang membuatnya selalu menginginkan sentuhan Sehun lagi dan lagi. Udara dingin menambah semangat mereka untuk bergerak lebih gila agar susana kamar menjadi semakin panas oleh api gairah yang mereka nyalakan bersama-sama.

 

~Ini kenangan indah terakhir yang bisa kuberikan padamu Sehunnie, karena ini adalah malam terakhir kebersamaan kita…..semoga kau tak akan melupakannya….~ bathin Luhan.

 

Sekali lagi Luhan meneteskan airmatanya, lalu matanya terpejam dengan kedua lengan yang memeluk erat tubuh berpeluh Sehun yang masih terus bergerak teratur sambil mendesah nikmat diatas tubuhnya itu.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

~**~Othello~**~

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

02.45 AM

 

 

Luhan menatap kosong langit-langit kamar yang berada diatasnya. Tangannya masih menggenggam pergelangan tangan Sehun yang kini sudah tertidur pulas sambil memeluk tubuh polosnya. Beberapa saat memudian kepalanya dia tolehkan kewajah kekasihnya itu, menatap wajah Sehun tanpa ekspresi. Pelan-pelan dia menyingkirkan tangan Sehun dari perutnya, lalu jari-jarinya bergerak mengusap anak-anak rambut pelangi yang berada disekitar telinga Sehun. Pria pucat itu tak terusik sama sekali, mungkin terlalu lelah sampai terlelap sangat nyenyak seperti ini. Luhan menatap lama wajah pria pucat itu, dan lagi-lagi airmatanya mendesak untuk keluar.

 

Beberapa saat Luhan berusaha bertahan, namun pada akhirnya toh dia tak mampu menahan airmatanya lebih lama. Hatinya tak sekuat itu untuk menahan perasaan sedihnya sendiri. Karena itu Luhan bangkit dari ranjang dan membawa tubuh polosnya kekamar mandi, lalu Luhan menjatuhkan tubuhnya di bawah shower yang menyala sambil menepuk-nepuk dadanya yang sesak. Pria itu menangis sesenggukan, tapi berusaha keras meredam suaranya sendiri agar Sehun tak mendengar tangisannya.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

3.15 AM

 

 

Luhan keluar dari kamar mandi dan memakai kaus dan celana pendeknya asal. Pria itu menuliskan sesuatu di atas secarik kertas memo, lalu meletakkannya di atas nakas yang terletak disebelah ranjang Sehun. Luhan bergerak duduk keatas ranjang dan menaikkan selimut Sehun yang sudah melorot sampai keperut itu sehingga tubuh polos Sehun terlindung dari udara yang sangat dingin itu. Jari-jari Luhan bergerak mengusap kening pria pucat itu, lalu tubuhnya membungkuk dan mengecup sekilas kening, hidung, dan bibir Sehun.

 

Luhan masih sempat menatap lama wajah tampan yang pulas itu sebelum akhirnya membawa tubuhnya berdiri kembali. Mata rusanya menatap cincin yang terpasang di jari manisnya, mengelus cincin itu sekilas. Puas menatapi benda berharga itu, dan puas merasakan denyut-denyut menyakitkan pada hatinya sendiri, Luhanpun melepaskan cincin itu dari jarinya dan meletakkannya di atas kertas memo tadi. Luhan membawa tubuhnya keluar dari apartemen Sehun setelah segala urusannya diapartemen Sehun selesai, kamudian Luhan kembali ke Apartemennya sendiri.

 

Luhan mengambil sebuah koper berukuran sedang, memasukkan beberapa pakaian kedalam koper. Setelah selesai, Luhan menyeret koper itu kedepan pintu, lalu Luhan mengambil beberapa kain putih berukuran besar-besar, menutupi segala perabotan-perabotan di dalam Apartemennya dengan kain itu.

 

Hal yang dia lakukan selanjutnya adalah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang sudah dia siapkan sejak tadi, pakaian yang lebih rapi daripada sekedar T-shirt putih dan celana pendek hijau yang dikenakannya saat ini. Luhan mengedarkan tatapannya sekilas keseluruh Apartemennya, lalu bergerak kearah pintu, menyambar kopernya dan keluar dari Apartemennya sendiri dengan perasaan yang campur aduk tak menentu.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

4.25 AM

 

 

Luhan menyeret kopernya dikoridor Apartemen, lalu berhenti sejenak didepan pintu Apartemen tetangganya sekaligus kekasihnya-atau mantan kekasihnya– itu dengan mata yang berkaca-kaca. Setetes air mata benar-benar jatuh dipipinya meskipun dia sudah menahan-nahannya sejak tadi, tapi dia tak pernah berhasil melakukannya. Luhan menyeka air mata itu dengan kasar lalu tersenyum miris.

 

“Selamat tinggal Sehuna…kuharap kau bisa menerima semua ini dan menjalani hidupmu lebih baik tanpa aku disampingmu…Aku mencintaimu Oh Sehun…”

 

Pria cantik itu mengeratkan pegangan tangannya pada kopernya sendiri sampai buku-buku jarinya memutih, lalu kembali menyeret kopernya dan mulai melangkahkan kakinya untuk pergi.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

08.20 AM

 

 

Sehun terbangun dari tidurnya yang nyenyak, menggeliatkan badannya yang terasa remuk sambil menguap. Dia menatap ranjang disampingnya yang sudah kosong, membuat keningnya berkerut dalam.

 

“Dimana Luhan?” tanyanya entah pada siapa.

 

Sehun bangkit, memakai celananya dan membawa tubuh topless-nya itu berkeliling ke sekitar Apartemen untuk mencari Luhan.

 

“Luhan? kau dimana sayang?”

 

Sehun mengecek tiap sudut ruangan, tapi tak menemukan kekasihnya itu dimanapun. Keningnya lagi-lagi berkerut dalam, berpikir.

 

“Apa dia malu lalu pulang ke Apartemennya sendiri?”

 

Sehun terkekeh setelah menyadari ucapan bodohnya barusan. Luhan itu sangat nakal dan agresif, mana mungkin pria mungil itu malu padanya. Sehun tertawa geli saat membayangkan bagaimana wajah Luhan yang malu-malu, namun dia malah merasa merinding ketika membayangkan hal itu. Karena tak ingin bertingkah lebih gila karena tertawa-tawa sendiri, Sehun memutuskan membawa dirinya ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang beraroma tak enak karena jejak sperma disana-sini.

 

Selesai mandi, Sehun berpakaian dengan cepat dan berjalan kearah nakas untuk mengambil ponselnya yang berada dilaci nakas itu yang semula akan digunakannya untuk mengetik pesan pada Luhan, ingin mengabarkan jika sebentar lagi dia akan datang ke Apartemen Luhan karena tak bisa menahan rindunya. Tapi benda bulat berkilau –cincin yang diberikannya untuk Luhan tadi malam– yang berada diatas nakas itu menghentikan niatnya. Sehun menatap nanar cincin itu. Perasaannya mulai tak enak. Dengan jantung yang berdebar tak menentu dan tangan yang bergetar Sehun mengambil benda itu dan juga secarik kertas yang terlipat rapi dibawahnya, lalu membaca tulisan tangan Luhan yang tetera pada kertas itu.

 

Tangan Sehun bergetar hebat setelah matanya selesai membaca tulisan tangan kekasihnya itu. Mata sipitnya menatap nanar kesegala arah dan tanpa memikirkan apapun lagi, Sehun berlari menuju Apartemen Luhan dengan terburu-buru. Otak Sehun benar-benar kacau sampai-sampai ia lupa password untuk memasuki Apartemen Luhan padahal tadinya dia menghafalnya di luar kepala.

 

“Sial! Ayolah!” umpatnya, memaki tangannya yang gemetaran sampai salah memencet pass itu berkali-kali.

 

Sehun putus asa, dan dia memilih berhenti beberapa saat. Sehun menahan nafas dan memejamkan matanya, mencoba keras menenangkan pikirannya yang kacau lalu mencoba lagi memencet pass ke intercom untuk kesekian kalinya, hingga akhirnya  pintu Apartemen Luhan berhasil dia buka.

 

Kaki panjangnya berlari dengan cepat kedalam begitu pintu terbuka, tapi tubuhnya langsung melemas seperti kehilangan tenaga saat melihat isi Apartemen Luhan saat ini. Perabotan-perabotan yang sudah tertutup dengan kain putih, menandakan pemiliknya telah pergi. Sehun menatap hampa. Luhan tak bercanda. Luhan benar-benar pergi meninggalkannya.

 

Bulir-bulir air mata jatuh menetes-netes dipipi Sehun, dan lama kelamaan airmata itu sudah menganak sungai dipipi pucatnya. Sehun memegang kepalanya yang tiba-tiba pusing dan tubuhnya langsung jatuh merosot begitu saja kelantai yang dingin.

 

Sehunnie….kalau aku pergi, kau akan bagaimana?

 

Kata-kata Luhan beberapa hari yang lalu itu tiba-tiba saja terngiang-ngiang diotaknya, membuat kepalanya semakin berdenyut sakit. Tubuh pria pucat itu terbaring dilantai yang dingin dan tangisannya mulai terdengar keras. Bibirnya tak henti-hentinya memanggil nama kekasihnya yang telah pergi meninggalkannya.

 

“Luhan..jangan pergi…jangan tinggalkan aku Lu…”

 

Sehun tak pernah merasa sehancur ini. Hatinya terasa benar-benar remuk sekarang, sampai tak bisa merasakan apapun lagi selain rasa sakit yang teramat dalam. Sehun tak mampu menahan airmatanya meskipun dia sekuat tenaga menahan agar tak menangis. Sehun sangat terpukul dan sedih. Ditatapnya kertas berisi tulisan tangan dan cincin milik Luhan itu dengan tatapan terlukanya. Sehun masih tak percaya hal seperti ini terjadi padanya. Sehun sangat yakin jika Luhan sangat mencintainya, tapi Sehun tak mengerti mengapa Luhan tega meninggalkannya seperti ini. Sehun merasa lelah. Dia pejamkan matanya, untuk membayangkan wajah kekasihnya yang mungil itu.

 

“Kenapa kau tega sekali meninggalkan aku Lu…”

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

~**~Othello~**~

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

Untuk  Sehun.

 

 

 

Sehunnie, maafkan aku karena tak berani mengatakan hal ini secara langsung padamu dan malah menyampaikannya lewat kertas bodoh ini.

 

Aku pergi.

 

Maafkan aku…tapi aku tak bisa lagi bersamamu Sehuna…

 

Aku mencintaimu, sangat…tapi ada sebuah lubang yang sangat besar dan dalam yang memisahkan kita…

 

Percayalah, aku sudah berusaha keras membangun jembatan yang kokoh agar aku bisa melewati lubang itu dan membawa diriku padamu…tapi semakin aku berjalan kearahmu, semakin sakit yang kurasakan…

 

Aku tak bisa Sehun…

 

Aku tak sanggup melawan rasa sakit itu…

 

Maafkan aku, aku tak bisa menikah denganmu…

 

Maafkan aku Sehun…maaf…

 

Kukembalikan cincin ini padamu, simpanlah…

 

Kuharap kau bisa menerima keputusanku ini dan menjalani hidupmu dengan baik tanpaku…

 

Jangan mencariku, dan jangan menungguku…karena aku tak akan kembali…

 

Selamat tinggal Sehun…

 

Ingatlah, aku mencintaimu…Aku, Xi Luhan, sangat mencintai Oh Sehun…

 

Selamat tinggal…dan maaf…

 

 

 -Xi Luhan-

 

.

 

 

.

 

 

 

 

 

.

 

 

Pria mungil itu menatap hampa pada awan-awan yang menggantung dibawahnya. Padahal baru beberapa jam saja dia pergi dan tak bertemu kekasihnya, tapi dia sudah sangat merindukan kekasihnya yang berkulit pucat itu.

 

“Aku tak yakin akan baik-baik saja tanpamu Sehuna…” gumamnya.

 

Lagi-lagi pria itu merasakan bulir-bulir air mata jatuh ke pipinya.

 

“Aku merindukanmu Sehun…”

 

Saat ini begitulah keadaan sepasang kekasih yang terpisah itu. Menangis diwaktu yang sama, ditempat yang berbeda…hanya takdir yang tau, apakah dua insan itu bisa kembali bertemu atau tidak.


 

To Be Continued


Big Thanks to Ferina Rindhi ( Oh My Lady Design )

 

 

Advertisements