TROUBLE MARRIAGE

 

download

.

By tmarionlie

.

EXO Official Couple | HunHan | ChanBaek | KaiSoo | KrisTaoLay | Yaoi | Mature

.

.


CHAPTER 4


Previous Story:

 

 

.

 

“Aku memiliki sesuatu yang ingin kukatakan padamu, kau mau mendengarnya?” kata Sehun sambil mengeratkan cengkramannya dipipi Luhan sampai Luhan meringis kesakitan. Sehun tersenyum sinis saat melihat wajah Luhan yang basah. “Dasar cengeng. Dengarkan kata-kataku ini baik-baik Xi Luhan. Aku. Sangat. Membencimu.”

 

Luhan menatap tepat pada mata Sehun, seolah ingin meminta jawaban tentang apa alasan Sehun mengucapkan kata-kata seperti itu, namun Sehun tak memberikan jawaban apapun dan malah kembali mengulang kata-katanya.

“Aku sangat membencimu. Jadi selama kau tinggal disini jangan pernah mencoba untuk berinteraksi denganku. Lakukan apapun yang kau inginkan, dan aku juga akan melakukan apapun yang ingin kulakukan. Aku akan mencampakkanmu secepat yang aku bisa Xi Luhan. Setelah waktunya tepat nanti, aku akan segera menceraikanmu.”

 

“Akhh!”

 

Luhan meringis saat Sehun melepaskan wajahnya dengan gerakan menghentak yang sangat kasar setelah mengatakan hal tadi. Pria cantik itu hanya bisa memegangi wajahnya sambil menatap punggung Sehun yang akhirnya menghilang dibalik pintu kamarnya.

 

 

“Mencampakkanku? Bercerai?” gumam Luhan sambil meremas dadanya sendiri yang terasa nyeri saat teringat kata-kata Sehun barusan, lalu tubuhnya jatuh merosot di lantai karena ia merasa lemas.

 

 

Sehunnie, kenapa kau membenciku?

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

~***~Trouble Marriage Chapter 4~***~

 

 

.

 

 

.

 

 

.

New York City….

 

 

 

Saat ini Baekhyun sedang berdiri di balkon flat milik Chanyeol sambil memegangi segelas wine di tangannya. Dinginnya angin malam tak membuatnya merasa goyah untuk tetap berdiri di tempat itu. Padahal saat ini udara benar-benar sangat dingin dan pria mungil itu hanya mengenakan kemeja putih polos yang sangat tipis. Baekhyun tersenyum miris saat memikirkan betapa menggelikkannya kehidupan yang dia jalani saat ini. Memiliki seorang Ayah pembunuh, yang akan menghabiskan seluruh sisa hidupnya di dalam penjara, serta Ibu yang adalah seorang pasien rumah sakit jiwa dengan waktu perawatan yang tak terbatas. Tumbuh di dalam rumah mewah tanpa kasih sayang kedua orangtua seperti yang telah ia lewati selama ini sudah cukup membuatnya lelah. Sejak Baekhyun kecil, hanya Chanyeol yang bisa memberikan perhatian serta kasih sayang yang tulus padanya. Chanyeol selalu ada kapanpun ia membutuhkan pria tinggi bersuara berat itu. Tapi Baekhyun merusak segalanya. Semuanya menjadi buruk saat Baekhyun mulai menuntut hal yang lebih pada Chanyeol.

 

Dia ingin Chanyeol mencintainya.

 

Sejak menyadari orientasinya pertama kali, Baekhyun merasa sangat stress. Dia bahkan hampir saja ingin menghabisi dirinya sendiri karena merasa lahir sebagai anak yang hina. Tapi lagi-lagi Chanyeol menyelamatkan hidupnya. Saat itu Baekhyun selalu bertanya-tanya mengapa Chanyeol sangat perhatian padanya? Padahal ia sangat membenci Chanyeol sejak pertama kali Ayahnya membawa pria itu ke rumah dan memperkenalkannya sebagai adik angkatnya. Ketika itu ia benar-benar sangat membenci pria tinggi itu. Chanyeol berada didaftar teratas dalam buku hitam hidupnya, orang yang pertama kali harus ia hindari. Tapi sekarang? Obsesinya pada pria itu malah sangat besar, sampai-sampai rasanya ingin mati saja cintanya pada pria itu tak terbalas.

 

Sudah tak terhitung lagi berapa kali Baekhyun mengatakan jika ia mencintai pria itu, namun Chanyeol selalu mengalihkan pembicaraan bahkan sebelum Baekhyun berusaha lebih dalam lagi mengungkapkan isi hatinya. Penolakan itu terasa bagai sebuah duri kecil didalam hati Baekhyun. Sangat kecil, namun mampu melumpuhkan perasaannya hingga menjadi sangat hambar. Sudah beberapa kali Baekhyun mencoba berhubungan dengan pria-pria tampan, namun hatinya tetap memilih Chanyeol yang tak mau menatapnya. Hal yang paling menyakitkan justru bukan penolakan demi penolakan yang dilakukan oleh pria tinggi itu, melainkan perhatian-perhatian besar yang diberikan Chanyeol ketika Baekhyun meyakini bahwa pria itu tak ingin Baekhyun berada disekitarnya. Baekhyun sangat yakin jika keberadaannya membuat Chanyeol merasa terganggu namun pria tinggi itu entah mengapa tak pernah berusaha mengusirnya secara terang-terangan, malah memberikan perhatian-perhatian diselingi dengan siksaan bathin yang membuat perasaan Baekhyun menjadi lebih menderita hingga berkali-kali lipat.

 

Baekhyun mendesah pelan, lalu hendak melanjutkan memikirkan hidupnya yang seolah terkutuk saat tiba-tiba saja sebuah tangan kekar merebut gelas wine-nya. Ia menoleh kearah orang yang sudah ia tahu siapa, dan seperti biasanya, ia langsung melemparkan tatapan sinisnya pada orang itu sebelum matanya kembali menatap objek lurus pada lampu-lampu kota yang tak terhitung jumlahnya di kejauhan sana.

 

“Tak usah melemparkan senyum padaku jika kau tak ingin melakukannya,” kata Baekhyun ketus, membuat Chanyeol tertawa kecil.

 

“Jangan terlalu banyak minum Princess, nanti kau mabuk.”

 

 

“Tch! hanya mabuk? Aku bahkan ingin mati!” jawab Baekhyun, putus asa.

 

“Jangan terlalu galak, tak cocok dengan wajahmu.”

 

Baekhyun mendengus lelah, kemudian memutuskan untuk mengubah topik tak penting itu. “Kau baru pulang?” tanyanya tanpa menoleh pada Chanyeol.

 

“Ya…”

 

“Berapa gadis yang berhasil kau tiduri hari ini?”

 

Chanyeol tertawa keras, membuat tatapan sinis itu mengarah lagi padanya.

 

“Tak ada yang lucu, Park Chanyeol!” umpat Baekhyun.

 

Tawa Chanyeol mereda, dan Baekhyun membuang tatapannya lagi kearah depan, menatap lagi lampu-lampu yang bersinar indah di kota New York itu. Chanyeol melangkah maju, mensejajarkan posisi berdirinya dengan kakak angkatnya itu, lalu ia tersenyum.

 

“Cantik kan? Kau suka berada ditempatku Princess?? Anggap saja ini liburan yang menyenangkan…” kata Chanyeol pelan.

 

Baekhyun tertawa sinis. “Liburan katamu? Haha, lucu sekali! Kau hanya berusaha menahanku agar aku tak menemui Sehun hari itu. Kenapa kau tak membiarkanku menemuinya? Jika aku pergi mungkin saat ini aku sudah bahagia dipelukan Sehun yang mencintaiku,” kata Baekhyun dengan nada yang begitu pahit.

 

“Jadi kau mengetahuinya ya?” kata Chanyeol sambil menyeringai.

 

 

.

 

 

.

Flashback

 

 

.

 

 

.

Baekhyun sedang menikmati sarapannya dengan tidak bersemangat, saat tiba-tiba Chanyeol datang dan langsung mendudukkan bokongnya dikursi sebelah, hendak ikut makan bersamanya. Dengusan kesal langsung keluar dari bibir Baekhyun seperti biasanya, lalu ia langsung beranjak dari kursinya berniat meninggalkan Chanyeol sendiri dimeja makan itu. Baekhyun memang merasa sangat enggan makan bersama adiknya itu. 

 

“Ck, sensitif sekali sih dia? Seperti gadis saja!” gerutu Chanyeol.

 

Pria tinggi itu menggeleng kecil, lalu kembali meneruskan menyantap sarapannya yang sempat tertunda. Baru hendak menggigit rotinya, tiba-tiba suara dering ponsel mengagetkannya. Chanyeol melihat ponsel berwarna putih sedang bergetar-getar diatas meja makan itu. Ponsel milik Baekhyun.

 

Tangan Chanyeol pun terulur, mengambil benda persegi itu dan matanya melihat sebuah pesan masuk, pesan dari Sehun. Chanyeol mengumpat sekilas, lalu membuka pesan itu dengan cepat.

 

 

Baekhyun, datanglah ke taman, tempat kita berkencan pertama kali. Jika kau datang, aku akan langsung membatalkan pernikahanku dengan Luhan walau dengan cara apapun. Kuharap kau akan datang, aku akan menunggumu…Aku mencintaimu Baek, saranghae….

 

 

Rahang Chanyeol langsung mengeras saat membaca isi pesan itu. Dengan cepat jari-jarinya menghapus isi pesan itu dan langsung beranjak dari duduknya, menuju kamar Baekhyun. Chanyeol menemukan pria mungil itu sedang menyemprotkan hairspray ke rambut karamelnya. Entah mengapa pria mungil ini hobi sekali berdandan.

 

“Princess…kau masih marah padaku?”

 

Baekhyun hanya diam. Tak menoleh, tak menanggapi. Chanyeol berjalan mendekat, lalu berdiri dibelakang punggung Baekhyun dan ikut merapikan rambut karamel pria mungil itu. Ia tatap wajah Baekhyun dari pantulan cermin didepan mereka, kemudian ia menyeringai aneh.

 

“Siapkan dirimu Princess, kita akan berangkat ke New York nanti sore.” 

 

Kening Baekhyun berkerut tajam. “Apa maksudmu?” tanya pria mungil itu heran.

 

Chanyeol tersenyum lembut, lalu membungkuk, mensejajarkan wajahnya dengan wajah cantik Baekhyun, berbisik ditelinga pria cantik itu. “Aku akan membawamu ketempatku Hyung. Kau bisa bersenang-senang dikota New York bersamaku, anggap saja ini adalah sebagai permintaan maafku, mau ya? Hmm??”

 

 

.

End flashback

 

 

.

 

 

.

Baekhyun menarik nafasnya perlahan. Udara di balkon terasa amat sangat dingin dan menusuk kulitnya, namun pemuda itu masih tetap bertahan disana.

 

“Masuklah, nanti kau sakit…” kata Chanyeol lembut.

 

“Tak usah sok perhatian padaku!” jawab Baekhyun ketus.

 

Chanyeol memejamkan matanya, berusaha tetap sabar menghadapi sikap kakaknya itu. “Baekkie, jangan keras kepala. Aku sangat menyayangimu, kau tahu kan? Aku hanya tak ingin kau jatuh sakit…”

 

Baekhyun terdiam. Beberapa menit berlalu dalam keheningan, hingga akhirnya Baekhyun berdiri menghadap kearah Chanyeol. “Jangan menyayangiku Yeol. Aku tak ingin kau menyayangiku. Aku –ingin kau mencintaiku.” kata Baekhyun sambil menatap sendu kearah Chanyeol.

 

Chanyeol membuang pandangannya kearah lain. “Maaf, aku tak bisa melakukannya.”

 

Lagi. Ditolak lagi. Baekhyun menunduk sambil meremas dadanya, lalu ia kembali memutar tubuhnya kearah depan. Chanyeol ingin mengatakan sesuatu pada pria mungil itu, namun urung dilakukannya karena ponselnya tiba-tiba saja bergetar. Pemuda itu sempat melirik sekilas kearah Baekhyun, ragu ingin menjawab panggilan itu ataukah tidak. Namun pada akhirnya pria itu menekan tombol hijau juga dan menjawab panggilan itu.

 

 

Hallo…Oh, Elaine…Hmm, kau merindukanku? Really?

 

 

“….”

 

 

Okay, aku akan datang menemuimu secepatnya. Aku juga merindukanmu sayang. OkayBye Honey…mmmuaacchh…”

 

 

Chanyeol memasukkan ponselnya kembali kesakunya saat sambungan telepon itu sudah terputus. Pria tinggi itu menatap punggung Baekhyun dengan raut wajah sedihnya. Bagaimana tidak? Chanyeol menangkap getaran halus pada punggung sempit pria mungil itu. Baekhyun menangis tanpa suara. Chanyeol membuang nafasnya sekilas sebelum ia hampiri pria cantik itu, mengelus rambut karamelnya dengan sayang. Ingin rasanya ia memeluk Baekhyun, namun ia tak melakukannya. Ia tak bisa melakukannya.

 

 

Princess…Aku ada urusan. Masuklah, diluar sangat dingin. Jangan menungguku, aku tak akan pulang malam ini…” kata Chanyeol, lalu tanpa menunggu jawaban apapun dari Baekhyun, ia langsung membalikkan tubuhnya. Namun langkahnya terhenti secara mendadak ketika ia mendengar sebuah isakan perih dari bibir pemuda yang lebih kecil itu, membuat dadanya langsung berdenyut pilu. Tangannya mengepal, namun pada akhirnya ia tetap melangkah pergi meninggalkan pria mungil lainnya sendirian ditengah udara yang sangat dingin itu.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

-Baekhyun Pov-

 

 

.

Aku mulai merasa gigiku bergemeletuk karena tak kuat menahan dingin yang terasa menusuk sampai ketulangku. Aku benci udara dingin, tapi aku belum ingin beranjak dari sini. Aku masih ingin tetap berdiri ditempat ini karena ‘dia’ ada disini, berdiri disampingku. Mungkin aku memang terlihat sangat menyedihkan, mengharapkan cinta dari seorang pria yang jelas-jelas tak menginginkanku, namun apa dayaku? Aku sudah terlalu mencintainya.

 

Sesungguhnya tak ada cela dalam diriku. Aku tak tahu bagaimana menilai wajahku, tapi banyak yang mengatakan kalau wajahku cantik seperti gadis. Aku pintar, dan aku juga kaya. Aku bisa mendapatkan pria yang lebih tampan dari Chanyeol jika aku mau. Tapi entah mengapa hanya Chanyeol yang kuinginkan. Mataku hanya bisa memandangnya. Aku tak bisa hidup tanpanya. Aku sudah sangat mencintai Chanyeol sejak lama sekali.

 

“Masuklah, nanti kau sakit…” katanya padaku.

 

“Tak usah sok perhatian padaku!” jawabku ketus pada seperti biasanya, bukan karena aku tak suka dia memperhatikan kesehatanku, hanya saja kalau aku menuruti ucapannya, aku pasti akan kehilangan moment-moment berharga ini. Tidak, aku tak mau. Setiap waktu bersamanya sangat berharga bagiku. Aku memang murahan dan keras kepala, tapi aku masih ingin lebih lama didekatnya.

 

“Baekkie, jangan keras kepala. Aku sangat menyayangimu, kau tahu kan? Aku tak mau kau jatuh sakit…” katanya lagi padaku.

 

Darahku berdesir saat aku mendengar ucapannya itu. Aku tahu. Tentu saja aku sangat mengerti jika dia menyayangiku, tapi bukan itu yang kuinginkan. Sayang saja tidak cukup. Aku tak merasa puas jika aku hanya mendapatkan rasa sayangnya saja. Aku ingin lebih.

 

“Jangan menyayangiku Yeol. Aku tak ingin kau menyayangiku. Aku –ingin kau mencintaiku…” rengekku padanya.

 

“Maaf, aku tak bisa melakukannya Baek…”

 

Benar kan? Dia tetap menolak. Dia akan selalu menolakku. Shit!

 

Penolakannya memang terkesan sangat halus, tapi tetap saja terasa sangat menyakitkan. Rasa sakit itu kini semakin menjadi-jadi sampai hatiku rasanya hancur saat dia berbicara sangat mesra dengan gadis bule itu ditelepon. Aku cepat-cepat menyembunyikan wajahku, berdiri membelakanginya agar dia tak bisa melihat bagaimana wajahku saat ini. Aku meremas dadaku, dan berusaha sekuat tenaga menahan airmataku, tapi entah kenapa airmata bodoh ini tetap jatuh juga. Aku terisak tanpa suara. Perasaanku menjadi semakin dramatis ketika kurasakan jemarinya mengelus rambutku dengan lembut. Untuk apa dia melakukan semua ini padaku? Aku benar-benar terlihat menyedihkan.

 

Princess, aku ada urusan. Masuklah, diluar sangat dingin. Jangan menungguku, aku tak akan pulang malam ini…” katanya sebelum berbalik dan pergi meninggalkanku.

 

Isakanku semakin menjadi dan sekarang mulai mengeluarkan suara dengan jelas. Aku ingin dia tetap disini. Aku ingin dia memelukku, tapi dia tak melakukannya. Dia memilih tetap pergi. See? Aku menyedihkan sekali kan?

 

 

.

 

 

.

 

 

.

Setelah puas menangis ditengah udara yang sangat dingin ini, pada akhirnya aku melangkahkan kaki kedalam kamar, berjalan mantap kearah cermin dan menatap bayangan diriku sendiri. Seperti yang kukatakan tadi, tak ada cela dalam diriku. Tapi mengapa nasibku sangat menyedihkan? Apa yang harus kulakukan agar Chanyeol mau menatapku?

 

Sebenarnya aku tak mengerti dengan jalan pikiran Chanyeol. Dia menolakku, tapi dia memberikan perhatian padaku seolah-olah dia ingin membiarkanku terus-menerus berharap padanya. Aku tahu beberapa hari yang lalu dia sengaja membawaku kesini agar aku tak bisa menemui Sehun. Aku tahu dia sengaja menghapus pesan Sehun agar aku tak bisa datang menemui Sehun di taman itu. aku tahu karena setelah Chanyeol mengembalikan ponselku, Sehun kembali menghubungiku dan mengatakan bahwa dia sudah rela melepaskanku. Aku sebenarnya ingin marah, tapi aku tak bisa. Pada akhirnya aku hanya diam dan menuruti kata-katanya hingga akhirnya aku terjebak dalam kenaifanku sendiri dan berakhir dengan keadaan yang lebih menyakitkan lagi di kota New York ini. Rasanya aku ingin pulang saja. Lebih baik aku tak bertemu selama bertahun-tahun dengannya seperti kemarin daripada aku bertemu dengannya setiap hari tapi semakin merasa tersiksa dengan perasaan cintaku sendiri.

 

Haruskah aku kabur saja, kembali ke Seoul dan memaksa Sehun agar menceraikan pasangan hidupnya lalu memintanya agar kembali lagi padaku? Astaga, tidak! aku bukan pria seperti itu. Lagipula untuk apa menyuruh Sehun kembali padaku? Aku tak mencintainya. Jika aku melakukan hal itu, maka aku hanya akan menyakiti Sehun dan menyakiti diriku sendiri, dan mungkin satu orang lainnya lagi juga akan tersakiti. Tidak, aku tak boleh begitu. Meskipun kedua orangtuaku adalah manusia-manusia bermasalah tapi demi Tuhan aku adalah pria baik-baik. Aku hanya kecewa dengan nasib percintaanku yang sangat suram. Aku stress jika memikirkan apa yang sedang dilakukan Chanyeol saat ini. Aku yakin dia pasti sedang bercinta dengan gadis bule bernama Elaine tadi. Aku memang tak pernah melihatnya bersama seorang gadis secara langsung, namun jika melihat fakta bahwa Chanyeol sering bergonta-ganti pasangan sudah cukup bisa memberiku gambaran bagaimana dia bergaul dengan para gadis-gadis itu.

 

“Haruskah aku bertingkah menjadi sedikit liar seperti gadis-gadis itu agar aku bisa mendapatkanmu Yeol?”

 

Aku meringis saat memikirkan ucapanku sendiri. Sepertinya aku sudah mulai sedikit gila seperti Ibuku gara-gara terlalu mencintai Chanyeol.

 

 

.

 

 

-End Baekhyun Pov-

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

Kai duduk diatas mobilnya sendiri yang sedang terparkir didepan sebuah studio pemotretan. Pria berkulit eksotis itu sedang menunggu seseorang, tentu saja seorang pemuda bermata bulat yang menjadi target incarannya akhir-akhir ini.

 

Beberapa menit berlalu sejak Kai menunggu pria bermata bulat itu, sampai akhirnya pria mungil itu keluar dari studio pemotretan. Mata bulat yang indah itu langsung menyipit, dan alis tebal pria itu saling bertautan ketika ia menyadari siapa sosok seksi berkulit eksotis yang berada beberapa meter didepannya. Kyungsoo mendengus, lalu memalingkan wajahnya sambil berdecak kesal. Tapi kakinya melangkah maju juga dan ia langsung berjalan mendekati Kai yang saat ini sedang memamerkan senyum lebar kearahnya itu.

 

“Hai Kyungsoo!” sapa Kai sambil menunjukkan high five-nya pada pria bermata bulat itu.

 

Kyungsoo lagi-lagi mendengus. “Mau apa lagi kau? Kenapa kau selalu menggangguku? Kenapa kau selalu berada disekitarku? Apa yang kau inginkan dariku? Apa tujuanmu sebenarnya?” tanya Kyungsoo bertubi-tubi.

 

“Wow..wow..wow…santai sedikit manis. Jangan berprasangka buruk dulu padaku,” kata Kai dan menutupnya dengan kekehan gelinya. Kai merogoh saku celananya, dan mengeluarkan benda berbentuk persegi panjang berwarna merah dari sana, ponsel milik pria manis itu.

 

“Aku hanya ingin mengembalikan benda ini. Ini milikmu kan?” tanya Kai sambil tersenyum lagi.

 

Kyungsoo menatap ponsel itu tanpa ekspresi. Tangannya masih terlipat didadanya saat ini. “Ternyata ada padamu. Bagaimana bisa benda itu ada ditanganmu?” tanya Kyungsoo datar.

 

Kai terkekeh sambil menyodorkan ponsel itu. “Itu bukan urusanmu,” jawabnya, mencoba mengkopi ucapan yang sering meluncur dari bibir Kyungsoo.

 

Kyungsoo menarik nafas saking kesalnya, lalu berencana merampas ponsel merah itu dari tangan Kai. Tapi belum lagi Kyungsoo sempat mendapatkan ponsel itu, Kai sudah kembali menarik tangannya dan memasukkan ponsel itu lagi kedalam sakunya dengan cepat, membuat Kyungsoo menatapnya heran. “Bukankah ponsel itu akan kau kembalikan padaku?”

 

“Maaf, aku memang berniat mengembalikan ponsel ini padamu, tapi bukan sekarang.”

 

“Ponsel itu milikku, kembalikan!!”

 

“Kubilang tidak sekarang, Do Kyungsoo.”

 

“Lalu kapan?”

 

Kai menyeringai. “Setelah kau membiarkanku mengenalmu lebih jauh…”

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

Luhan duduk termenung dijendela kamarnya sambil menatap jalanan yang berada didepan gedung Apartemen yang ditempatinya bersama Sehun. Sesekali pria cantik itu mengurut-urut bahunya dan menepuk-nepuknya pelan. Tubuhnya terasa lelah setelah melakukan pekerjaan rumah tangga sejak pagi tadi.  Sebenarnya apa yang dilakukannya bukanlah hal yang berat. Namun mengingat Luhan selama ini memang tak pernah melakukan apapun, membuat sendi-sendinya yang tak terbiasa bekerja itu menjadi sedikit sakit.

 

Pria cantik itu menarik nafas lelahnya, lalu berpikir. Apa yang dipikirkannya hanyalah tentang nasib kehidupan rumah tangga yang dijalaninya bersama Sehun sekarang ini. Awalnya Luhan membayangkan bahwa hidupnya pasti akan sangat bahagia dengan adanya Sehun disampingnya. Namun yang terjadi justru adalah kebalikannya. Sehun tak menginginkan kehadirannya. Bahkan Sehun membenci dirinya. Salahnya sendiri yang tak peka pada peringatan Sehun malam itu, malam diawal pertemuan mereka. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Dia sudah terlanjur mencintai Sehun.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

 

-Luhan Pov-

 

 

.

Hidupku benar-benar mengerikan. Sehun membenciku. Apa lagi yang lebih mengerikan dari hal itu? Walaupun awalnya aku tak tahu apa yang membuatnya membenciku, tapi kini aku sudah mengerti. Aku merusak hubungannya dengan kekasihnya gara-gara perjodohan ini. Selain itu, Sehun ternyata memang sudah membenciku, sudah sejak lama sekali, sejak kami masih kecil. Membuat jalinan cinta seseorang putus memang sangat tak menyenangkan. Gara-gara kau, seseorang-atau dua orang-kini menjadi terluka. Aku juga sangat mengerti tentang hal itu. Tapi bolehkan aku egois?

 

Aku tahu Sehun terluka, dan bisa jadi kekasihnya yang bernama Baekhyun itu, juga ikut terluka. Tapi bagaimana denganku? Jika aku melepaskan Sehun, aku juga pasti akan terluka. Aku tak akan melepaskan Sehun, apapun yang akan terjadi. Meskipun dia tak menginginkanku, dan meskipun dia akan menyakitiku berkali-kali nantinya, aku tetap tak akan melepaskannyar. Katakan saja aku egois, aku tak peduli. Aku mencintainya, dan aku akan berjuang sangat keras agar dia juga mencintaiku. Lagipula dia adalah milikku. Oh Sehun adalah milikku yang sah. Sehun adalah milik Luhan, benarkan?

 

 

Aku egois, itu benar. Dan buah dari keegoisanku kini sudah kudapatkan. Sehun tak pernah menganggapku ada. Dia bahkan selalu mengabaikan keberadaanku, meskipun aku hanya berada beberapa meter dihadapannya. Matanya tak pernah mau melihatku, bibirnya tak pernah mau berbicara padaku jika hal itu bukanlah hal yang benar-benar penting. Dia tak mau tau apakah aku sudah makan, apakah aku mengantuk, apakah aku lelah, atau menanyakan apapun hal kecil berbentuk perhatian yang biasa dilakukan oleh pasangan menikah –atau bahkan yang belum menikah- lainnya. Sepertinya dia benar-benar alergi padaku. Seperti aku virus saja, ck!

 

Tch, berhentilah bermimpi Luhan, kau tak akan pernah mendapatkannya dari suamimu!

 

Aku paling tak suka mendapatkan moment dimana mataku harus bertemu dengan matanya. Tatapan kebencian dimatanya itu, entah mengapa selalu mampu mencabik-cabik perasaanku. Aku sedih, tentu saja. Siapa yang tak sedih jika mengalami hal seperti apa yang aku alami? Orang yang kau cintai membencimu, menyenangkankah? Tentu saja tidak!

 

 

Apa kau ingin tahu apa lagi  yang lebih parah? Aku tak tahu apakah Sehun seorang gay ataukah straight, atau bisa apakah ia adalah seorang biseks. Tapi pria itu sering membawa gadis-gadis nakal ke dalam Apartemen setiap harinya. Padahal pesta pernikahan baru saja lewat 2 minggu yang lalu, tapi suamiku itu sudah menyerang batinku sedalam ini. Aku tahu Sehun bukanlah pria brengsek, dan aku sangat yakin pada hal yang satu itu. Selama di Apartemen bersama gadis-gadis itu, Sehun tak pernah menunjukkan wajah yang menyiratkan bahwa dia menyukai apa yang dilakukannya. Wajahnya tetap datar pada mereka. Mungkin ia hanya berusaha menyingkirkanku, namun aku tak perduli. Aku tak akan menyerah semudah itu. Aku hanya harus mulai membiasakan diri untuk membutakan mata dan menulikan telingaku jika melihat ia mencumbui para gadis nakal itu. Aku tak mau terpengaruh olehnya.

 

“Aku akan bertahan Sehun. Meskipun kau berusaha merobek-robek hatiku lebih dalam lagi, aku akan tetap bertahan disini. Kau lihat saja, aku tak akan menyerah dengan mudah…”

 

 

.

 

 

 

-End Luhan Pov-

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

Sehun membuang pandangannya kearah lain saat gadis nakal berpakaian mini itu saat ini nekat duduk diatas pangkuannya dan mulai bergerak binal diatas gundukan penisnya yang masih terbungkus celana. Tangan kanan pria pucat itu masih memegangi gelas minuman beralkohol, yang saat ini sudah berhasil direbut oleh gadis nakal itu dan diletakkan lagi diatas meja Bar yang disandari oleh punggung Sehun.

 

 

Oppa.…kenapa hanya diam? Oppa tak mau pindah? Oppa sudah membayarku kan? Bagaimana kalau kita langsung pindah saja keatas ranjang, hmm?” rayu gadis nakal itu.

 

~Menjijikkan~ batin Sehun.

 

Gadis itu kembali bergerak-gerak dipangkuan Sehun, menggoda dan berusaha merangsang ‘milik’ pria pucat itu agar bangun, namun Sehun tetap berwajah datar, tak menunjukkan ketertarikan sama sekali. Sehun berdiri dengan cepat, hingga hampir membuat gadis yang duduk dipangkuannya tadi terjengkang kebelakang jika saja Sehun tak cepat menangkap tangannya. Sehun menarik tangan gadis cantik berpakaian sangat mini itu kearah luar klab, dan memaksanya masuk kedalam mobilnya sendiri.

 

Oppa, apa kita akan bercinta di hotel?”

 

“Tidak.”

 

“Lalu?”

 

“Aku tak membayarmu untuk bercinta denganku Bitch! Aku Gay.

 

“Ap-Apa?”

 

Gadis itu tampak terkejut, namun menyeringai nakal setelahnya. “Kau pasti bercanda. Tak mungkin seorang gay memesan seorang gadis malam sepertiku. Sudahlah, jangan mengada-ada Oppa…”

 

Sehun tersenyum miring. “Jika kau tak yakin, buktikan saja,” jawab Sehun datar.

 

Gadis itu menatap aneh pada Sehun, namun kini kembali tersenyum genit. “Kau yakin? Kalau begitu aku akan menyapa adik kecilmu ini dan membuktikan ucapanmu benar atau tidak. Jangan menyesalinya, hmm?”

 

“Terserah.”

 

Sehun menatap lurus kedepan, sedangkan gadis itu kini mulai mengulurkan tangan kanannya kearah pangkuan Sehun. Jari-jari lentik gadis itu meremas lembut ditempat itu lalu membuka pengait celana serta resleting Sehun dan mulai menyentuh milik Sehun dengan gerakan menggoda. Namun Sehun hanya diam dan terkesan tak perduli. Gadis nakal itu terus-menerus meremas-remas milik Sehun, dan mulai frustasi karena milik pria itu tak menunjukkan reaksi rangsangan apapun. Kini gadis itu mulai membungkuk, dan langsung memasukkan milik Sehun kemulutnya. Sehun hanya manatap kepala gadis itu dengan tatapan datarnya. Beberapa menit berlalu, dan gadis itu mulai kesal kini.

 

Shit!! Kau gay!!” umpat gadis itu kesal.

 

Sehun tersenyum simpul, lalu mulai membenahi celananya sendiri.

 

“Untuk apa kau membayarku?” tanya gadis cantik itu emosi.

 

“Hanya untuk mengantarkanku pulang. Aku tak akan menyentuhmu, mungkin aku hanya membutuhkan ciuman saja, dan kau harus melakukannya.”

 

“Ciuman?”

 

“Ya. Aku akan membayar mahal untuk itu, asal kau mampu memberikan ciuman terbaikmu untukku.”

 

Gadis itu tertawa. “Itu sangat mudah Oppa….”

 

“Kalau begitu bagus.”

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

Luhan terbangun dari posisinya yang tertidur dimeja makan saat ia mendengar suara pintu Apartemen yang terbuka. Pria itu langsung bangkit dari dapur dan melangkah menuju keruang depan. Jantungnya langsung berdenyut sakit saat melihat suaminya sedang asyik berciuman panas dengan gadis nakal yang dibawanya. Selama ini Sehun hanya membawa gadis-gadis itu ke Apartemen dan tak melakukan hal apapun selain hanya saling merangkul pinggang dan hal-hal yang tak terlalu intim seperti saat ini. Namun kini Sehun berciuman panas dengan gadis nakal itu tepat dihadapannya.

 

Luhan membuang tatapannya kearah lain, lalu mengerjapkan matanya beberapa kali menahan air matanya yang mendesak ingin keluar. Pria cantik itu kini berbalik, dan berjalan kearah kamarnya sendiri. Luhan termenung lama setelah pintu kamarnya tertutup, lalu menatap lantai kamarnya sambil tersenyum.

 

“Tak apa-apa Luhan, tak apa-apa…” katanya, mencoba menguatkan dirinya sendiri.

 

Beberapa lama berlalu, Luhan kembali keluar dari kamarnya, dan gadis itu sudah tak ada lagi. “Apa gadis cantik itu sudah pulang?” tanyanya.

 

Sehun tak menjawabnya, hanya melengos sekilas dan berjalan kearah kamarnya sendiri.

 

“Sehun, kau sudah makan?” tanya Luhan, tapi–

 

 

BRAKKK!!!

 

 

Bukan jawaban yang didapatkan Luhan, malah suara bantingan keras dari pintu kamar Sehun yang ia dapatkan.

 

Luhan membuang nafas lelahnya, lalu ia tersenyum lagi. “Tak apa-apa Luhan, tak apa-apa. Semua akan baik-baik saja…” gumamnya, lagi-lagi berusaha menghibur dirinya sendiri meskipun dadanya terasa sangat sakit.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

New York City…

 

 

.

 

 

.

-Chanyeol Pov-

 

.

Sudah berjam-jam berlalu sejak aku meninggalkan Baekhyun sendirian. Aku berencana tak pulang malam ini. Tapi aku tak tahu harus kemana. Tadi aku memang bersama dengan seorang gadis bule, Elaine, salah satu teman kencanku, dan sahabatku. Jika tak ada Baekhyun didalam flat-ku, mungkin aku bisa menghabiskan waktuku dengan sangat enjoy bersama El. Namun saat ini pria cantik itu ada disana, sedang menungguku dan mungkin saja sedang menangis sambil memikirkanku. Aku tahu Baekhyun mencintaiku, aku sangat mengerti. Dan aku juga sama.

 

 

Aku mencintainya….

 

Pria mungil itu, seolah memiliki sesuatu yang membuatku selalu ingin menatapnya, menyedot pikiranku untuk selalu memikirkannya, membuat jantungku selalu terasa tak normal jika berada didekatnya, tapi aku tak bisa. Aku ingin sekali memeluknya. Aku sangat ingin menciumnya. Aku ingin mengatakan bahwa aku sangat mencintainya, tapi aku tak bisa melakukan semua itu. Aku tak bisa melakukannya, karena Baekhyun adalah putera dari orang yang telah membunuh Ayahku. Aku tak mau terjerumus dalam perasaanku ini.

 

Aku menderita, tentu saja. Aku juga tahu Baekhyun juga menderita. Aku sakit. Hatiku sangat sakit saat melihat wajah Baekhyun yang memelas padaku, memintaku membalas cintanya. Tapi aku tak bisa membalas cintanya itu karena kebencianku pada Ayahnya memaksaku untuk mengubur perasaan ini dalam-dalam.  Aku tak boleh mencintai Baekhyun, karena aku harus membalaskan dendam Appa….

 

Setelah secara tak sengaja aku mengetahui fakta tentang pembunuhan yang dilakukan pada Ayahku dan mendapatkan bahwa bukti-bukti menunjukkan kalau Ayah angkatku sendiri adalah pelakunya, aku merasa seperti kapas. Tubuhku sangat ringan dan rapuh. Aku ingin mati saja saat itu. Aku ingin membunuh pria tua itu, aku ingin melakukan seperti apa yang dia lakukan pada aAahku, tapi secuil hatiku tak mampu melakukannya, apalagi Baekhyun sangat manja pada Ayahnya. Aku memikirkan berbagai cara agar pria tua itu mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya, dan setelah berpikir ribuan kali aku memutuskan akan berusaha sekuat tenagaku agar pria itu masuk ke penjara. Untung saja aku dididik dan disekolahkan ditempat yang sangat baik oleh Ayah Baekhyun. Hal itu melatih otakku menjadi cukup pintar. Dengan rapi aku mencuri bukti-bukti berupa dokumen dan file video itu dari ruang kerja Ayah Baekhyun, menyerahkannya pada polisi sampai akhirnya aku berhasil membuat pria tua itu masuk kepenjara, tempat yang memang pantas dia dapatkan. Bahkan pria tua itu akan dipenjara seumur hidup, bagus kan?

 

Aku sudah berencana untuk pergi setelah aku menjebloskan Ayah angkatku itu kepenjara. Tapi tak kusangka Ibu angkatku menjadi kurang waras setelah mengetahui bahwa suaminya adalah seorang pembunuh. Wanita itu menjadi gila, hingga akhirnya aku terpaksa meminta bantuan pada Jung Ahjussi, orang kepercayaan keluarga Byun agar membantuku membawa Ibu angkatku itu kerumah sakit jiwa.

 

Saat itu kulihat Baekhyun sangat terpukul. Setiap hari, taka da yang ia lakukan selain hanya menangis dan menangis. Aku merasa bersalah dan juga sedih. Tapi aku mencoba mengabaikannya. Sebenarnya aku tak tega melihat pria yang kucintai itu bersedih. Baekhyun tak tahu apapun. Dia tak mengerti mengapa Ayah yang sangat dipuja-pujanya tiba-tiba masuk ke penjara karena kasus pembunuhan dan Baekhyun tak mengerti kenapa Ibunya juga menjadi gila. Dan aku tak ingin memikirkan hal itu. Aku hanya ingin mengubur cintaku pada Baekhyun dalam-dalam dan pergi dari hidup keluarga itu. Tapi tanpa kuduga pria cantik itu malah menyatakan perasaannya padaku. Dia bilang dia mencintaiku. Aku stress. Niatku untuk pergi jadi tak bisa kulakukan. Saat itu adalah saat-saat paling tersulit yang pernah kurasakan dalam hidupku.

 

Aku sudah berlatih selama bertahun-tahun untuk belajar membenci pria mungil itu, namun entah mengapa hal itu terasa sangat sulit kulakukan. Sejak dia mengakui perasaannya padaku, aku merasa sangat kacau. Baekhyun hampir saja membuatku gila. Aku sempat berpikir untuk tetap pergi meninggalkannya, namun lagi-lagi hatiku menolak melakukannya. Baekhyun sangat rapuh, aku tak tega meninggalkannya. Akhirnya yang bisa kulakukan hanyalah menolaknya. Dan meskipun hal itu sudah berkali-kali kulakukan, Baekhyun tak pernah menyerah. Walaupun aku tau bahwa dia menderita karenaku, tapi aku tak ingin membalas cintanya. Aku tak bisa menjalin hubungan dengan putera dari pembunuh Ayahku. Aku tak mau meskipun aku juga menderita karena harus menahan perasaanku sendiri. Tapi itu lebih baik daripada harus selalu terbayang-bayang bagaimana wajah Ayahku saat meregang nyawa jika aku melihat wajah Baekhyun.

 

Aku sudah mencoba menghindarinya selama 2 tahun dengan tinggal di kota New York ini, dan membiarkannya menjalin hubungan dengan Sehun, berharap dengan begitu dia bisa melupakanku pelan-pelan. Aku ingin tak peduli padanya saat itu, tapi tetap saja aku tak bisa. Setiap harinya aku selalu menelepon Jung Ahjussi hanya untuk menanyakan bagaimana keadaannya. Apakah dia makan dengan baik? Apakah dia sakit? Apakah ini, apakah itu? Aku selalu memantaunya seperti orang gila. Jarak kami yang sangat jauh tetap tak bisa membuatku melupakannya. Baekhyun menguasai hampir separuh diriku.

 

Astaga! Hanya memikirkan hal ini saja sudah membuatku merindukannya. Apakah lebih baik aku pulang saja? Ah, benar, lebih baik aku pulang saja, aku sangat rindu padanya.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

Jam 03.00 dinihari. Aku memasuki flat milikku dengan lunglai. Lalu melepas sepatuku dan berjalan kearah dapur, membuka lemari pendingin dan meneguk setengah botol air dingin, kemudian aku melangkah kearah tangga menuju ke kamarku sendiri. Ah bukan. Sekarang kamar itu adalah kamar Baekhyun selama kami berada dikota New York ini.

 

Aku langsung mengarahkan tatapanku ke arah ranjang setelah membuka pintu kamar, namun mataku tak menangkap adanya sosok Baekhyun disana. Aku mengerutkan keningku karena heran. Dimana Baekhyun?

 

Aku keluar lagi dari kamar dan mencari Baekhyun kesana-kemari, tapi aku tak menemukan pria mungil itu dimanapun. Biasanya jam segini Baekhyun pasti sudah pulas tertidur, tapi saat ini ia menghilang entah kemana. Aku kembali berputar-putar dan mencari disetiap sudut ruangan sambil memanggil-manggil namanya seperti orang gila, namun tak ada jawaban darinya.

 

Princess, kau dimana? Jawab aku!” teriakku berkali-kali.

 

Astaga, aku mulai khawatir. Bagaimana kalau Baekhyun keluar dan tersesat? Baekhyun tak tahu jalan dikota ini dan juga tak mengenal siapapun. Bagaimana kalau ia diculik? Diperkosa? Dibunuh? Tidak! Jangan sampai hal itu terjadi padanya!

 

Aku hampir saja keluar lagi untuk mencari Baekhyun jika saja aku tak teringat bahwa aku belum memeriksa kamar mandiku sendiri. Akhirnya aku membawa diriku kearah kamar mandi dan mengetuk pintunya beberapa kali. “Princess, kau didalam?” panggilku, berharap dia ada disana dan menjawab panggilanku.

 

Tak ada jawaban.

 

Aku kembali mengetuk pintu. “Baekkie, kau didalam?” ulangku sekali lagi.

 

Tetap tak ada jawaban.

 

Akumeraih handle pintu kamar mandi dengan gusar, hendak mengecek kedalam, namun baru saja hendak medorong pintu itu, pintu kamar mandi itu sudah terbuka lebih dulu.  Aku langsung tersenyum saat melihat Baekhyun muncul, tapi aku langsung membulatkan mata hanya beberapa detik setelah aku sadar bagaimana keadaan Baekhyun saat ini. Baekhyun muncul dipintu dengan tubuh polosnya, tanpa sehelai pakaian pun yang melekat ditubuhnya. Tubuh mungilnya basah, dan rambutnya juga basah. Aku membeku sejenak, aku terpana. Matanya menatapku sayu.  Ya Tuhan, apa dia sudah gila hingga berani tampil seperti itu didepanku? Aku sempat merasa black out, tapi untung saja aku cepat tersadar. Aku buru-buru membalikkan tubuhku, berencana meninggalkan pria mungil yang membuat fungsi otakku menjadi sangat kacau itu. Tapi–

 

 

 

GREPP!!!

 

 

Astaga, apa-apaan dia?

 

 

Baekhyun memelukku dengan sangat erat. Tubuh polosnya menempel ditubuh bagian belakangku  hingga kaos yang kupakai menjadi sedikit basah. Seketika aku menjadi panik, aku bingung dan tak tahu harus bagaimana.

 

“Yeol, saranghae…”

 

Tenggorokanku langsung tercekat saat mendengar kata-katanya. Ini bukan pertama kalinya dia mengatakan hal itu padaku. Tapi dalam kondisi seperti ini, aku –Arrrrrgggghhhhh Shit! Apa yang harus kulakukan?

 

 

.

-End Chanyeol Pov-

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

Setelah cukup lama terdiam, akhirnya Chanyeol menarik tangan mungil Baekhyun dan berusaha melepaskannya dari perutnya.  “Ini sudah hampir pagi, Baek. Pakailah bajumu, nanti kau masuk angin…” kata Chanyeol datar.

 

Chanyeol mulai melangkahkan kakinya dan terpaksa harus berhenti karena Baekhyun menahan tangannya dengan cepat. Dia balikkan tubuhnya menghadap kearah Baekhyun, namun pria tinggi itu melemparkan pandangannya kesegala arah, tak mau menatap Baekhyun yang berada dihadapannya. Tapi tanpa diduga-duga, tangan Baekhyun menarik pipinya, memaksa Chanyeol agar menatapnya.

 

“Aku mencintaimu Yeol. Aku sangat mencintaimu…”

 

Chanyeol hanya diam, tak merespon ucapan Baekhyun, membuat pria mungil itu kembali down. Chanyeol bingung harus mengatakan apa saat melihat mata sipit itu kini mulai berkaca-kaca, siap menumpahkan airmatanya lagi. Chanyeol meremas kepalan tangannya sendiri, lalu menyingkirkan tangan Baekhyun yang menangkup pipinya.

 

“Aku sangat bosan mendengar kau mengatakan hal itu berkali-kali. Aku lelah Byun Baekhyun, jadi kumohon untuk kali ini saja, jangan menggangguku.”

 

Chanyeol langsung berbalik cepat setelah mengatakan hal itu. Tapi–

 

“Aku tahu kau tak menyukaiku Yeol. Aku tahu! Tapi kumohon, jangan menolakku. Satu kali ini saja…kumohon…”, rengek pria mungil itu sambil menangis.

 

“…..”

 

“Untuk kali ini saja Yeolie. Jangan lakukan hal itu. Aku –ku-kumohon Yeol…Ja-jangan menolakku, jangan…”

 

Chanyeol mengepalkan tangannya sendiri, mencoba menahan dirinya. Chanyeol tak ingin terpengaruh, tapi suara pria mungil itu membuatnya gila.

 

“Kumohon Yeol…Aku merasa sangat menderita…Aku sangat menyedihkan…Kumohon selamatkan aku…”

 

Chanyeol memejamkan matanya. Pria tinggi itu tak sanggup lagi. Pertahanannya roboh. Chanyeol berbalik dengan cepat dan langsung mendorong Baekhyun ketembok hingga punggung pria mungil itu membentur tembok dengan cukup keras. Baekhyun meringis kesakitan. Chanyeol mencengkram tengkuk pria mungil itu dengan kuat, matanya menatap marah pada Baekhyun.

 

“Kau tahu? Sangat sulit bagiku untuk menahan diriku selama ini, bitch! Kau membuatku gila Byun Baekhyun. Kenapa kau tega melakukan ini padaku?” Chanyeol berbicara dengan jarak wajah yang sangat dekat dengan wajah Baekhyun. Baekhyun bahkan dapat merasakan nafas pria itu tersengal-sengal karena menahan emosinya. Baekhyun tersenyum miris, lalu kembali mengarahkan tangan kanannya pada wajah Chanyeol, mengelus pipi pria tinggi itu.

 

“Maafkan aku…Untuk kali ini saja, kumohon….Kalau kau tak suka aku mengatakan kata-kata cinta lagi padamu, aku janji ini terakhir kalinya aku mengatakannya. Tapi kumohon, jangan menolakku. Untuk kali ini saja Yeol. Setelah ini aku berjanji aku tak akan mengganggumu lagi….”

 

“…..”

 

“Yeollie, aku –hmmpthh…”


 

To Be Continued

 

 

Advertisements