TROUBLE MARRIAGE

 

download

.

 

By tmarionlie

.

HunHan

.

 

Yaoi | Marriage Life | Hurt & Comfort | Romance | Mature

.

.


CHAPTER 3


Previous Story

 

 

“Bagaimana kalau kita buat permainan?”

 

“Permainan?”

 

“Ya. Ini menarik. Kalau kau bisa menaklukkan pria itu, aku akan memberikan apapun yang kau inginkan, bagaimana?”

 

“Aku tak mau. Kenapa aku harus melakukan hal seperti itu?”

 

“Ck, kau sangat payah…”

 

“Hei, aku tidak payah!”

 

“Kalau begitu buktikan jika kau memang tidak payah…”

 

“Aku memang gay, Kris, tapi–”

 

“Bagus. Kau hanya tinggal mendekatinya saja. Taklukkan dia, dan kau akan mendapatkan apapun yang kau inginkan. Aku yang akan memberikannya padamu, tentu saja.”

 

“Tapi–”

 

“Oh God, ayolah…Ini tidak akan sesulit kelihatannya. Kau pasti akan menyukainya. Menaklukkan spesies langka yang sangat sulit dijinakkan seperti dia pasti akan sangat menantang adrenalinmu, percayalah. Jika kau berhasil mendapatkannya, kau pasti tak akan menyesal. Dia itu eksklusif Kai, ingat itu.”

 

“Aku mau mobil Ferarri limited edition milikmu, bagaimana?”

 

“Oke, deal.”

 

“Baiklah. Aku akan melakukannya.”

 

“Bagus! Tapi aku hanya akan memberi waktu sebulan untukmu, oke?”

 

“Oke.”

 

“Sudah kuduga kau adalah pria gentle. Bergerak cepatlah, kutunggu kabar baik darimu,” kata Kris. Pemuda blonde itu masih sempat menepuk bahu Kai sekali sebelum ia beranjak pergi dan meninggalkan Kai sendirian.

 

Kai menatap kearah Kyungsoo lagi, lalu ia terkekeh geli dengan ide ini. “Ini gila. Tapi baiklah…lagipula ini cukup menarik juga. Iseng-iseng berhadiah,” katanya singkat, lalu ia mulai berjalan pelan menghampiri pria manis bermata bulat itu.

 

.

 

.

 

 

 

-Trouble Marriage Chapter 3-

 

 

.

 

.

 

.

 

 

 

Dengan langkah percaya diri kini Kai melangkah kearah Kyungsoo dan langsung duduk disamping pria manis bermata bulat itu, membuka mulut sekedar untuk melontarkan basa-basi.

 

“Hai, kau sendirian?” sapa Kai ramah.

 

Pria manis itu hanya diam. Bahkan menoleh pada Kai pun tidak. Kyungsoo malah mengeluarkan ponselnya dan sibuk mengetikkan sesuatu disana dan mengabaikan keberadaan pria hitam yang saat ini hanya diam sambil menatap setiap gerakan yang ia lakukan. Beberapa saat berlalu tanpa percakapan apapun hingga akhirnya ponsel pria bermata bulat itu bergetar, sepertinya balasan SMS telah masuk ke ponselnya. Pria manis itu terlihat emosi ketika ia membaca pesan yang baru saja masuk ke ponselnya, membuatnya langsung membanting ponsel malang itu ke meja yang berada di hadapan mereka.

 

“Shit!” umpat Kyungsoo.

 

Kai terkekeh geli melihat tingkah pria manis itu. “Kenapa? mobil jemputanmu mogok?” tanya Kai sok tahu.

 

“Bukan urusanmu!” jawab Kyungsoo ketus.

 

Kai kembali tertawa, membuat wajah Kyungsoo kian tampak kesal. Pria manis itu beranjak dari kursinya, lalu hendak pergi. Namun Kai menarik tangan Kyungsoo dengan cepat hingga pria itu terjatuh tepat dipangkuannya.

 

“Mau kuantar pulang?” bisik Kai tepat ditelinga Kyungsoo.

 

Pria manis bermata bulat itu berdiri lalu mendorong dada Kai dengan kasar. “Aku tak butuh bantuanmu! Dan jangan sembarangan menyentuhku, brengsek!” umpat Kyungsoo, lalu ia berjalan pergi begitu saja meninggalkan Kai sendiri.

 

Kai menyeringai dan menatap punggung sempit pria itu dengan tatapan penuh arti. “Pria manis yang menarik” gumam Kai pelan.

.

 

 

.

 

 

 

-Trouble Marriage-

 

 

.

 

.

 

 

Baekhyun sedang berdiri mematung didepan pintu kamar Chanyeol, adik angkatnya, dan hal itu sudah dilakukannya sejak 20 menit yang lalu. Pemuda mungil itu hendak masuk sejak tadi, namun masih ragu-ragu hingga mengurungkan niatnya hingga beberapa kali.

 

Saat mendengar Chanyeol akan pulang lagi kerumah, Baekhyun sangat senang, sampai-sampai tak berminat melakukan apapun. Waktunya hanya dihabiskan untuk merawat dirinya dan menunggu adik angkatnya itu pulang. Tapi, meskipun sekarang Chanyeol sudah berada di dalam satu rumah dengannya, Baekhyun tetap saja sulit untuk bertemu dengan pria tinggi yang sangat dia cintai itu. Padahal sudah 2 tahun lamanya mereka tak bertemu. Kerinduan yang dirasakan oleh Baekhyun bahkan sudah tak dapat dilukiskan dengan kata-kata lagi.

 

Sudah beberapa hari ini Chanyeol berada dirumah, namun pria tinggi itu selalu pulang saat menjelang pagi, dan sejak pagi sampai sore pria itu hanya akan mengurung diri dikamarnya seharian untuk tidur. Baekhyun sudah cukup bersabar, tapi sekarang Baekhyun sudah tak sanggup lagi menahan segalanya. Dia merindukan pria itu. Dia harus bertemu Chanyeol sekarang juga. Akhirnya Baekhyun memberanikan dirinya membuka pintu kamar adik angkatnya itu dan masuk kedalam. Baekhyun menemukan Chanyeol sedang tertidur lelap dibalik selimut tebalnya. Senyumnya mengembang ketika ia melihat wajah polos pemuda tinggi yang sedang pulas itu. Dia melangkahkan kakinya mendekat, lalu ia usap kepala Chanyeol pelan-pelan. Jemarinya yang lentik itu bergerak turun menyusuri kening Chanyeol, menjalar kehidung, dan berhenti dibibir penuh adik angkatnya itu. Baekhyun terlalu asyik mengagumi bibir penuh itu sampai tak sadar jika mata Chanyeol sudah terbuka sejak beberapa detik yang lalu. Baekhyun baru menyadari jika Chanyeol telah terbangun karena tiba-tba saja pergelangan tangannya ditarik oleh pemuda tinggi itu lalu dijauhkan dari wajahnya sendiri.

 

“K–kau  sudah bangun?” tanya Baekhyun gugup.

 

Chanyeol hanya diam hingga beberapa saat sambil melemparkan tatapan tajamnya pada Baekhyun. “Apa yang kau lakukan dikamarku?” tanya Chanyeol dengan nada dingin.

 

Baekhyun menarik kasar tangannya, lalu mendengus. “Jam berapa kau pulang semalam?” tanya Baekhyun, mengabaikan pertanyaan adiknya.

 

Chanyeol membawa dirinya bangkit untuk duduk, lalu ia tersenyum konyol. “Jam 3 pagi,” jawabnya singkat, lalu ia meringis sambil memegangi kepalanya sendiri yang terasa pusing karena sejujurnya ia masih mengantuk.

 

Baekhyun menatap gerakan Chanyeol itu dengan ekspresi khawatir. “Kau kenapa? kepalamu pusing?” tanya Baekhyun cemas.

 

Lagi-lagi Chanyeol tersenyum konyol. “Aku baik-baik saja Baek, hanya sedikit pusing dan lelah. Kau tahu? tadi malam aku menghabiskan waktuku bersama Ahn Ji Hye setelah meminum beberapa gelas alkohol sampai aku mabuk, lalu kau tahu sendiri apa yang terjadi selanjutnya kan?” –Chanyeol mengedikkan bahunya sekali dan menepuk-nepuk bahunya sendiri, “gadis itu sangat kuat, Ugh…tubuhku jadi terasa remuk, “lanjut Chanyeol tanpa melihat bagaimana ekspresi terluka yang saat ini muncul sangat jelas di wajah Baekhyun.

 

 

Padahal Baekhyun sudah sering mengalami hal ini. Melihat Chanyeol menghabiskan malam-malamnya dengan penuh gairah bersama gadis lain, tapi entah mengapa hatinya masih belum kebal juga. Rasa sakit masih saja terasa begitu dalam seperti sebelum-sebelumnya. Mereka terdiam hingga beberapa lama, hingga akhirnya Baekhyun memutuskan beranjak dari duduknya. Pemuda mungil itu tak tahan. Dia ingin kabur saja dari kamar itu sebelum ia mendengar lebih banyak lagi tentang segala hal yang bisa menyiksa perasaannya menjadi lebih dalam lagi. Tapi baru selangkah dia berjalan, Chanyeol sudah menahan tangannya.

 

“Kenapa kau berada dikamarku? Ada yang ingin kau katakan padaku, Princess?”

 

Baekhyun meneteskan setitik airmatanya. “Tidak. Tak ada yang ingin kukatakan padamu. Tidurlah jika kau lelah…” jawabnya pelan, kemudian ia kembali melangkah. Tapi lagi-lagi Chanyeol menahan gerakannya.

 

“Kau merindukanku?” tanya Chanyeol sambil tersenyum licik dibelakang punggung Baekhyun.

 

Baekhyun mendengus, kemudian ia berbalik dan menarik kasar tangannya, mencoba melepaskan diri, namun Chanyeol malah menarik tangannya dengan kuat sampai tubuhnya limbung dan jatuh dipangkuan Chanyeol. Baekhyun menatap mata Chanyeol yang kini juga sedang menatapnya.

 

“Lepaskan aku,” kata Baekhyun dengan nada pahit. Airmatanya kembali jatuh, membuat Chanyeol tertegun untuk sesaat. Tapi sesaat kemudian Chanyeol sudah menarik sudut-sudut mata sipit itu keatas hingga membuat wajah Baekhyun jadi terlihat sangat aneh. Chanyeol tertawa, membuat Baekhyun menjadi sangat kesal. Pemuda mungil itu melepaskan tangan Chanyeol dengan kasar dari wajahnya dan ia langsung berdiri. Chanyeol masih tetap menunjukkan senyuman konyolnya pada Baekhyun meskipun senyuman itu dibalas dengan tatapan terluka dari Baekhyun. Pemuda mungil itu masih sempat mengusap airmatanya dan menunduk sebelum ia akhirnya berbalik dan pergi dari kamar Chanyeol tanpa mengatakan apapun lagi. Chanyeol hanya diam saat ia mendengar suara bantingan pintu yang begitu keras, namun sesaat setelahnya senyum yang ia pertahankan mati-matian sejak tadi pudar secara perlahan-lahan hingga akhirnya lenyap sama sekali. Dengan frustasi Chanyeol menjambaki rambutnya sendiri, lalu ia hanya diam setelahnya sambil menatap kosong pada sprei yang ia duduki.

 

 

“Maaf Baek…”

 

 

.

 

.

 

 

 

-Trouble Marriage-

 

 

.

 

.

 

Hari ini adalah hari pernikahan Luhan dan Sehun. Acara itu akan dilangsungkan dalam waktu kurang dari 3 jam dari sekarang. Namun pria berkulit pucat itu saat ini malah masih duduk diam disebuah kursi taman yang menjadi tempat favoritnya saat berkencan dengan Baekhyun dulu. Mata sipitnyasejak tadi hanya menatap lurus kearah jalanan setapak di sebelah kiri taman yang tampak sepi.

 

Setengah jam berlalu…

 

Satu jam berlalu…

 

Satu setengah jam juga sudah terlewati, namun sosok yang diharapkannya belum juga muncul. Lagi-lagi Sehun mengecek arlojinya, entah sudah yang keberapa kali sejak dia datang ketempat ini. Sehun sudah terlalu lelah menunggu hingga akhirnya ia hanya bisa memejamkan matanya dan mulai berdoa.

 

“Datanglah Baek, kumohon….” harapnya masih dengan matanya yang terpejam.

 

Matanya terbuka saat tiba-tiba saja ponsel disakunya bergetar. Sehun mengambil ponselnya dengan cepat dan senyumnya langsung terkembang saat melihat nama Baekhyun diatas icon amplop surat dilayar ponselnya. Dengan gerakan cepat jari-jarinya yang pucat membuka pesan itu, dan senyumnya langsung luntur dalam sekejap. Sehun meremas ponselnya dengan kuat sampai buku-buku jarinya memutih, lalu sekejap kemudian ia sudah beranjak dari posisi duduknya dan mulai melangkahkan kakinya untuk pergi dari tempat itu.

 

 

.

 

.

 

 

 

-Trouble Marriage-

 

 

.

 

.

 

“Aishhh, kenapa aku yang harus mengambil jas-jas yang akan mereka kenakan di Altar nanti? Memangnya kalian pikir aku menerima pernikahan ini? Aku menolaknya!” umpat Kai entah pada siapa. Tangannya masih sibuk menyetir mobil, tapi daritadi mulutnya tak pernah berhenti berkomat-kamit sendiri mengutuk-ngutuk acara pernikahan Luhan, padahal tak akan ada seorangpun yang bisa mendengar ocehannya. Sejak tadi pria hitam itu mengomel sendirian seperti orang gila. Untung saja kaca mobilnya gelap, jadi tak seorangpun dapat melihatnya.

 

Kai memarkirkan mobilnya tepat didepan sebuah Bridal yang khusus menyediakan segala perlengkapan pernikahan dan pakaian untuk pesta. Dia memarkirkan mobilnya secara sembarangan lalu turun dari mobil itu dan mulai melangkahkan kakinya masuk kedalam, kemudian ia menyerahkan secarik kertas pada salah satu pegawai yang bekerja di tempat itu.

 

“Tunggu disini sebentar Tuan, saya akan mengambilkan pesanan ini…”

 

Kai hanya mengangguk tanpa minat. Beberapa menit menunggu membuatnya menjadi bosan. Karena itu Kai mulai berjalan-jalan dan melihat-lihat kesekeliling. Pria itu mengambil sebuah jas berwarna hitam pekat semi formal yang terlihat sangat keren lalu ia letakkan didepan tubuhnya sendiri. Dia berjalan kearah cermin dan menatap bayangan dirinya sendiri lewat pantulan cermin itu, melihat-lihat apakah jas itu pantas atau tidak untuknya. “Lumayan,” nilainya pada dirinya sendiri.

 

 

Ketika serius menatap detil-detil jas itu, tiba-tiba fokus Kai berbelok pada aroma parfum seseorang  yang berdiri sejajar dengan posisi berdirinya saat ini. Orang itu berdiri tepat di samping Kai, lalu ikut menatap bayangan dirinya sendiri dicermin yang berada disebelah cermin yang digunakan oleh Kai.

 

Melihat wajah yang terpantul di cermin itu, kening Kai langsung berkerut karena ia teringat pada sesuatu. Lalu sekejap saja pria hitam itu sudah terkekeh ketika ingatannya tentang pria manis di sebelahnya itu kembali. Kai merasa sangat tolol. Bagaimana mungkin dia bisa melupakan wajah pria manis yang dijadikan taruhan olehnya demi Ferarri limited edition milik kris?

 

“Hei Kyungsoo, kita bertemu lagi,” sapa Kai ramah, namun pria manis itu tak merespon sama sekali, bahkan melirik Kai pun tidak. Pria mungil bernama Kyungsoo itu benar-benar menganggap Kai tak ada. Namun Kai tak menyerah. “Kau mengingatku kan?” kata Kai lagi, mencoba menarik perhatian pria manis itu dan sukses, karena kini Kyungsoo menoleh padanya.

 

“Memangnya kau siapa?” tanya pria manis itu sambil menatap tak suka pada Kai.

 

Belum sempat kai menjawab pertanyaannya, Kyungsoo sudah mengeluarkan ponsel merahnya dan memencet beberapa tombol lalu menelepon seseorang. “Halo, Manager Kim. Aku sudah menemukan jas yang akan kupakai nanti. Aku akan segera kembali,” katanya singkat, lalu ia menutup sambungan ponselnya dan pergi keruang ganti, meninggalkan Kai sendirian tanpa mau repot-repot menyapa pemuda hitam itu. Kyungsoo benar-benar menganggap Kai tak ada di sekitarnya.

 

“Ck, dasar arogan!” umpat Kai, agak kesal dengan sikap pria aneh itu.

 

Kai baru saja mendapatkan pesanannya dan hendak bergegas pulang saat tiba-tiba matanya menangkap pria manis bernama Kyungsoo itu berjalan pergi dan meninggalkan ponsel merahnya tadi dimeja kasir. Dengan cepat Kai mengambil ponsel itu dan mengejar pria bermata bulat itu, namun terlambat, karena  mobil merah milik Kyungsoo sudah terlanjur pergi dari tempat itu. Kai berlari cepat ke mobilnya dan mengikuti kemana mobil itu pergi.  Dia melihat Kyungsoo memarkirkan mobil merahnya di depan sebuah studio pemotretan, lalu ia cepat-cepat melepaskan seat belt-nya, berniat menyusul pria bermata bulat itu dan mengembalikan ponselnya, tapi suara ponselnya sendiri malah mengurungkan niatnya dalam sekejap.

 

“Halo? Ah, Eomma. Maaf, tadi tiba-tiba saja ada sesuatu yang harus kulakukan. Ya, aku mengerti…aku akan tiba sebentar lagi…” Kai memutus sambungan teleponnya, lalu memutar arah mobilnya dan bergegas ke gedung pernikahan Sehun dan Luhan. Mungkin ia akan mengembalikan ponsel pemuda manis itu lain kali.

  

.

 

.

 

 

 

-Trouble Marriage- 

 

 

.

 

.

 

Luhan meremas-remas tangannya sendiri yang terasa sangat dingin. Keringat dinginnya juga sudah mulai bercucuran. Luhan merasa sangat gugup.

 

“Hey nenek sihir, sekarang waktunya,” kata Kai yang tiba-tiba saja muncul dibelakangnya.

 

Luhan melengkungkan bibirnya kebawah. “Aku sangat gugup Kai. Bagaimana ini?” keluh Luhan.

 

“Kalau kau menikah denganku kau pasti tak akan segugup ini,” kata Kai.

 

Luhan berdecak. “Dalam mimpi pun aku tak akan mau menikah denganmu, ck!” rutuknya kesal.

 

Kai hanya tertawa, kemudian menepuk bahu Luhan dan mengenggam tangan pemuda cantik itu. “Sudahlah, ayo kita kesana,” kata Kai sambil menarik tangan Luhan menuju gedung pernikahan disebelah tempat dimana mereka berada saat ini.

 

 

.

 

.

 

.

 

 

 

Acara pernikahan itu akhirnya selesai. Sehun dan Luhan sudah saling mengucapkan sumpah pernikahan, dan Luhan masih merasa seperti terserang hangover ketika ia memikirkan fakta bahwa tadi dirinya dan Sehun berciuman bibir di atas Altar. Sepanjang acara pesta berlangsung, senyuman Luhan tak pernah hilang dari wajahnya. Dirinya dan Sehun saat ini hanya berdiri sambil menyambut tamu-tamu yang datang ke acara pernikahan mereka, mengobrol sekedarnya dengan beberapa teman, meskipun Luhan kadang-kadang berpikir tentang mengapa Sehun lebih banyak diam dan hanya tersenyum simpul ketika beberapa teman dari orangtua mereka menyapanya.

 

 

Di sudut lain gedung, Kai hanya diam sambil menatap pasangan itu dengan tatapan terlukanya. Lama sekali ia diam, tapi akhirnya ia tersenyum ketika melihat bagaimana bahagianya wajah Luhan saat ini.

 

“Jika kau senang, maka aku juga merasa senang Lu…” gumamnya berbesar hati.

 

 

Kai duduk diantara meja tamu sambil menonton history Sehun dan Luhan dari sejak mereka masih kecil hingga dewasa di layar besar yang memang sudah disediakan di tempat itu. Dan lagi-lagi, entah kebetulan atau tidak, Kyungsoo berada disana, dengan mengenakan jas yang baru saja dibelinya dari tempat mereka bertemu sebelumnya tadi. Keberadaan pemuda manis itu membuat Kai merasa bersemangat dalam sekejap, lalu dengan pasti ia beranjak dari duduknya untuk menghampiri pemuda mungil itu.

 

“Do Kyungsoo! Wah, tak kusangka kita bertemu lagi disini,” kata Kai ceria.

 

Kyungsoo menoleh sekilas, tapi kemudian hanya mendengus muak kearah Kai. “Kenapa kau selalu mengikutiku terus?” tuduh Kyungsoo.

 

Kai tertawa lepas, membuat Kyungsoo menatapnya heran. “Kau itu lucu juga ya,” kata Kai.

 

Lagi-lagi Kyungsoo mendengus. “Sebenarnya kau itu siapa?” tanyanya ketus.

 

Kai mengulurkan tangannya, bermaksud berkenalan seperti orang lain pada umumnya, namun Kyungsoo menepis tangannya dengan kasar.”Katakan saja kau siapa? Kenapa kau selalu berada di sekitarku? Kau itu menganggu!” kata Kyungsoo jengkel.

 

Kai terkekeh geli. “Namaku Kim Jongin. Kau boleh memanggilku Kai.”

 

“Kenapa kau selalu mengikutiku?” tuduh Kyungsoo pada Kai untuk yang kedua kalinya.

 

Kai meniup poninya, merasa sedikit kesal. “Kau jangan menuduh sembarangan. Lihat kesana, pengantin pria yang pendek itu adalah sepupuku,” jawab Kai membela diri.

 

Kyungsoo mengerutkn keningnya sambil menatap Kai dan Luhan secara bergantian. “Kau sepupunya Luhan?” tanya Kyungsoo.

 

“Kau mengenal Luhan juga?” Kai malah bertanya balik.

 

Kyungsoo membuang tatapannya kearah lain sambil mengerutkan keningnya. Sepertinya bingung akan menjawab apa, namun Kai terus mendesaknya.

 

“Hei,bagaimana kau mengenal sepupuku? tanya Kai lagi.

 

Kyungsoo berdehem sekali, lalu kembali menatap sinis pada Kai. “Bukan urusanmu! Dan jangan ganggu aku, pergi kau!” jawabnya ketus, membuat Kai langsung berdecak kesal pada jawaban pemuda itu.

 

 

.

 

.

 

 

 

-Trouble Marriage-

 

 

.

 

.

 

Acara pernikahan telah selesai. Sehun langsung membawa Luhan ke Apartemen pribadinya. Sehun tak mau tinggal di rumah orangtuanya ataupun dirumah Luhan yang mewah. Pemuda itu memilih tinggal di Apartemen yang sederhana dengan alasan ingin kehidupan rumah tangganya menjadi privasinya dan Luhan saja. Selama berada di dalam mobil, Sehun dan Luhan hanya saling diam, bahkan saat mereka berada di dalam satu lift yang sama menuju apartemen Sehun yang berada dilantai 18, tak ada yang mengucapkan sepatah katapun. Sepertinya Sehun memang tak beniat sama sekali mengajak Luhan mengobrol.

 

Akhirnya mereka sampai didepan pintu ruangan apartemen milik Sehun. Sehun masuk dengan cepat, meninggalkan Luhan diluar, tapi Luhan menyusul dengan cepat kedalam sambil menarik koper besar mereka sendirian. Luhan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan apartemen itu. Apartemennya memang sederhana, namun tampak sangat bersih dan rapi. Luhan masih sibuk menatap sekeliling saat Sehun berbalik dan menatapnya dengan tatapan yang entah mengapa terlihat tajam menusuk. Pemuda itu sepertinya sedang kesal, dan Luhan bisa merasakannya dengan sangat jelas.

 

“Kamarku yang didepan, dan kau silahkan gunakan kamar yang lain,” kata sehun ketus, membuat Luhan langsung menatap penuh tanya pada Sehun.

 

“Sehun, kukira kita–”

 

“Kau kira apa?” potong Sehun dengan cepat.

 

Luhan terdiam, merasa bingung dengan situasinya. Apa maksudnya? –pikirnya.

 

Sehun tersenyum miring. “Jangan berharap aku akan memperlakukanmu sebagai pengantinku, karena aku tak akan pernah melakukannya,” kata Sehun dingin, membuat Luhan menjadi sedikit paham dengan situasi ini. Sehun tak menginginkan pernikahan ini. Sehun menolaknya. Hal itu memaksa Luhan menundukkan kepalanya karena ia merasa sedikit bersalah. Entahlah, tapi ia merasa sesak secara mendadak ketika ia menyadari bahwa pria yang ia cintai sejak kecil tak menginginkan dirinya juga.

 

“Kau diam, kuanggap kau mengerti dengan apa yang kuucapkan. Sekarang cepat bereskan barang-barangnya. Letakkan milikku dikamarku dan barang-barangmu terserah kau mau meletakkannya dimana. Dan satu hal lagi, aku tak menyewa pelayan  disini, dan kau jangan berpikir untuk menyewa pelayan meskipun satu. –Sehun menatap Luhan dari kaki hingga kepala – “aku tak suka orang asing berada ditempatku,” lanjutnya, seolah menyindir dan menekankan bahwa saat ini tempatnya sudah kedatangan satu orang asing dan dia tak mau jumlahnya menjadi bertambah.

 

Luhan semakin menunduk dalam. Rasanya ingin menangis saja, tapi ia menahannya.

Sehun membuang nafas berat satu kali, lalu kembali bicara. “Bagaimana rasanya menjadi Tuan Besar selama bertahun-tahun? Selama ini kau pasti tak pernah melakukan pekerjaan apapun, tch! Tuan besar yang sangat kaya sepertimu pasti sangat manja, menyebalkan, ck!” umpat Sehun lagi, entah apa tujuannya mengatakan hal seperti itu.

 

Luhan hanya diam saja dan tetap mematung pada posisi berdirinya.

 

“Mungkin ditempatmu kau adalah segalanya, tapi disini kau bukan siapa-siapa, jadi biasakan dirimu,” lanjut Sehun.

 

Luhan melemas. Tubuhnya mati rasa. Dia tak mampu bergerak, dan hanya mematung saja ditempatnya berdiri. Kepalanya masih tertunduk dalam, menatap lantai dibawahnya. Entah mengapa ia merasa sangat menyedihkan secara mendadak. Hal itu membuat airmata sialan yang ditahannya sejak tadi mengalir turun begitu saja. Ck, dia benci menangis dan pernah bersumpah untuk tetap merasa bahagia selama sisa hidupnya demi orangtuanya yang telah meninggal, tapi saat ini ia melanggar sumpah itu hanya karena kata-kata pedas dari seorang Oh Sehun.

 

Sehun masih diam sambil menatap kepala yang tertunduk itu dengan perasaan muak. Diamnya Luhan entah mengapa membuat emosinya naik, karena itu dengan kesal ia melangkah maju lalu ia cengkram pipi Luhan dengan kasar. Rahang Sehun mengeras, menandakan bahwa pria pucat itu sangat kesal pada keadaan saat ini.

 

“Aku memiliki sesuatu yang ingin kukatakan padamu, kau mau mendengarnya?” kata Sehun sambil mengeratkan cengkramannya dipipi Luhan sampai Luhan meringis kesakitan. Sehun tersenyum sinis saat melihat wajah Luhan yang basah. “Dasar cengeng. Dengarkan kata-kataku ini baik-baik Xi Luhan. Aku. Sangat. Membencimu.”

 

Luhan menatap tepat pada mata Sehun, seolah ingin meminta jawaban tentang apa alasan Sehun mengucapkan kata-kata seperti itu, namun Sehun tak memberikan jawaban apapun dan malah kembali mengulang kata-katanya.

“Aku sangat membencimu. Jadi selama kau tinggal disini jangan pernah mencoba untuk berinteraksi denganku. Lakukan apapun yang kau inginkan, dan aku juga akan melakukan apapun yang ingin kulakukan. Aku akan mencampakkanmu secepat yang aku bisa Xi Luhan. Setelah waktunya tepat nanti, aku akan segera menceraikanmu.”

 

“Akhh!”

 

Luhan meringis saat Sehun melepaskan wajahnya dengan gerakan menghentak yang sangat kasar setelah mengatakan hal tadi. Pria cantik itu hanya bisa memegangi wajahnya sambil menatap punggung Sehun yang akhirnya menghilang dibalik pintu kamarnya.

 

 

“Mencampakkanku? Bercerai?” gumam Luhan sambil meremas dadanya sendiri yang terasa nyeri saat teringat kata-kata Sehun barusan, lalu tubuhnya jatuh merosot di lantai karena ia merasa lemas.

 

 

Sehunnie, kenapa kau membenciku?

 

 


TBC


 

 

Advertisements