Modernitas. Benar-benar alat yang tepat untuk melangsungkan penjajahan pikiran serta budaya sosial masyarakat. Transparan, tak tersentuh, karena memang ‘tak terlihat’ bentuk penjajahannya dalam era modern dan lagipula terlepas dari kolonialisme.

 

Kehidupanku, adalah contoh konkret dari penerapan modernitas itu. Modernitas adalah segala-galanya bagiku. Glamour, gemerlap, menghibur. Hidupku sangat rekat dengan pergaulan bebas, identik dengan apa yang di sebut individualis. Dunia malam, diskotik, DJ, spotlite, dance floor, dentuman musik Beat, Hip-Hop dan Rapp…semuanya membaur menjadi satu dalam duniaku ‘yang berwarna kelam’. Kehidupanku bebas, lepas, tanpa adanya norma-norma yang bisa mengaturku. Dan kalaupun ada, aku memiliki seribu satu alasan untuk menentangnya. Inilah aku, Xi Luhan.

20140523_013452

.

HunHan Version

( Original Pair : KaiHun )

.

Yaoi | Friendship | Romance | Yadong | Mature


CHAPTER 1


Luhan menatap bayangan wajahnya dalam pantulan cermin, mengelus dagu, menyusur rahang sekali, kemudian melepaskan bathrobe lembabnya dan membuangnya begitu saja ke lantai. Dengan satu tangan, diraihnya botol parfum di sisi depan cermin, lalu menyemprotkannya secara terkendali ke kulit-kulit tubuhnya. Aroma Rosemary danTarragon yang berpadu dengan Mint langsung menguar didalam kamar yang tak seberapa luas itu. Luhan menghirup kulit lengannya sekilas, dan senyum tipis terulas di bibirnya.

 

 

Kaki yang panjang bergerak, bergeser ke arah lemari yang berdiri angkuh di sudut ruangan, menelan tubuh telanjang Luhan ketika dua daun pintu lemari menjeblak terbuka. Pria mungil itu bergerak-gerak kecil dibalik daun pintu lemari beberapa menit sebelum akhirnya muncul dengan pakaian lengkapnya. Hanya kemeja hitam biasa, celana hitam biasa, tapi entah mengapafashion ‘yang terlihat biasa’ itu menyatu dengan kulitnya, yang tampak adalah sesuatu yang luar biasa. Ini Jumat malam, saatnya untuk menyatukan raga dengan Butterfly Every Friday Night, mengoyangkan tubuh molek di tengah gelimangan tubuh berpeluh di dance floor Galaxy Club.

 

 

Kurang dari 15 menit, tubuh mungil Luhan telah keluar dari gedung apartemen yang ditinggalinya, menembus angin beku di luar gedung apartemen. Tangannya bersedekap, mengeratkan mantel cokelat mudanya, menghirup udara beku sekilas dan menatap pendaran cahaya bulan di langit yang pekat, lalu mulai melangkah menjauh dari halaman gedung apartemen yang menjulang tinggi itu. Sejenak, langkahnya terhenti. Luhan merogoh saku mantelnya, mengeluarkan ponsel hitamnya dari sana dan menempelkannya di telinga kanan. Sesekali kepalanya mengangguk dengan bibir merekah yang mengulas senyum, sampai akhirnya obrolan itu usai dan Luhan kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku sambil melangkah cepat, melewati blok demi blok bangunan, menuju ke Galaxy Club.

 

*****

Luhan melangkahkan kakinya dengan mantap ke pintu masuk dan menyunggingkan senyum remeh sekilas ketika melihat antrean panjang orang-orang di depan Cover Charge, mengantri untuk membayar agar dapat memasuki Galaxy Club. Yeah, Luhan memang perkecualian. Setiap hari adalah Free Entrance jika yang memasuki Club itu adalah dirinya, ha!

 

 

Di dalam, dentuman lagu Rapp, Hip-Hop, dan Latin, berbaur menjadi satu. Lighting berkerlap-kerlip, menyesuaikan cahaya dengan irama dentuman musik. Luhan membawa dirinya langsung ke Bar Diskotik dan langsung memesan satu botol Jack Daniel’s pada Kyungsoo, Bartender manis, sahabatnya.

 

 

“Sudah lama sekali kau tak terlihat di sini,” kata Kyungsoo, sambil menyodorkan Jack Daniel’spesanan Luhan tadi.

 

 

Luhan tak menjawab. Ia menarik botol minuman dan slokinya mendekat. Ditatapnya botol berisi cairan etanol C2H5OH itu tanpa gairah. Alih-alih meminum pesanannya, Luhan malah mengeluarkan sebungkus rokok dari saku mantelnya, mengeluarkan sebatang lalu menyulutnya. Matanya menyipit, menatap DJ Kai –Kim Jongin kekasih gay Kyungsoo– yang masih asyik menggerak-gerakkan tangannya untuk menciptakan musik-musik yang membuat para gelimangan manusia di lantai dansa menggila dan selalu siap untuk melakukan Dance Till Dusk.

 

“Hei Kyungsoo, kekasihmu semakin keren saja,” puji Luhan.

 

 

Kyungsoo tertawa, menatap kekasihnya di Stage sana, sebelum akhirnya memutari meja bar dan duduk di samping Luhan.“Apa saja yang kau lakukan selama kau tak terlihat belakangan ini?” tanya Kyungsoo.

 

 

Luhan melirik Kyungsoo sekilas, terseyum, kemudian menekan puntung rokoknya ke asbak. Dalam satu gerakan ia memutar tubuh, duduk berhadap-hadapan dengan Kyungsoo. Lutut-lutut mereka bahkan saling bertabrakan saking dekatnya posisi duduk keduanya.

 

 

“Membosankan sekali. Aku tak melakukan apapun, hanya melakukan hibernasi saja dan beberapa waktu belakangan aku mulai merasa muak.  Makanya aku menuruti ucapanmu untuk datang kesini.”

 

 

“Kau tak akan menyesal karena sudah datang,” kata Kyungsoo, dibarengi dengan seringaian di ujung kalimatnya.

 

 

Luhan mengangkat alisnya tinggi-tinggi.

 

 

“Kau akan mendapatkan Sex Intercouse yang luar biasa hebat malam ini,” kata Kyungsoo lagi.

 

 

Luhan semakin menaikkan alisnya lebih tinggi.“Begitu?”

 

 

Kyungsoo tersenyum miring, lalu mengarahkan jari telunjuknya ke satu arah, Stage tempat Kai beraksi. Luhan mengikuti arah telunjuk Kyungsoo, dan lagi-lagi mata rusanya menyipit tajam. Di sana ada Kai –tentu saja- tapi Kai tidak sendirian. Ada dua orang Disc Jockey yang sedang melakukan DJ Battle disana. Kai dan…err…

 

 

“Siapa itu?” tanya Luhan.

 

 

Kyungsoo terkekeh. Tubuhnya mendekat ke arah Luhan. Heart lips-nya menyentuh permukaan daun telinga Luhan.“Guest DJ…dia yang akan memuaskanmu malam ini. Naman Odult,” bisik Kyungsoo, diakhiri dengan tiupan nakal di telinga Luhan setelahnya.

 

 

“Odult,” ulang Luhan. Ia tersenyum sedikit.“Tidakkah kau pikir dia terlalu muda?” tanya Luhan sambil menuangkan Jack Daniel’smiliknya ke sloki dan meminumnya dalam sekali tegukan.

 

 

Kyungsoo terkekeh.“Tepat sekali. Muda, tampan, seksi. Jelas sekali sangat menggairahkan,” kata Kyungsoo.

 

 

Luhan memainkan lidah di dinding mulutnya, sambil menatap pria pucat di stage sana.“Sepertinya kau sangat mengerti dia. Kau pernah making love dengannya juga ya?” kata Luhan berkelakar.

 

 

“Ah tidak. Bukan aku. Tapi Kai pernah melakukannya dengan Sehun lebih dulu sebelum kami berkencan secara resmi.”

 

 

“Sehun?” ulang Luhan. “Who?’

 

 

“Odult, Sehun, mereka satu orang yang sama.”

 

 

“Oh.” Luhan merespon sekedarnya. Tapi di detik selanjutnya, mata rusanya sudah membulat, hampir sebulat milik Kyungsoo. “Jadi maksudmu…Jongin dan Sehun? Mereka?”

 

 

Kyungsoo mengangguk tanpa minat.“Iya, mereka.”

 

 

Luhan terdiam, menatap Kyungsoo yang sudah berdiri dan kembali ke posisinya semula karena ada seseorang yang memesan minuman. Luhan menatap kedua ‘bocah’ itu, memperhatikan gesture mereka, tapi tak ada sesuatupun yang tampak aneh. Mungkinkah mereka memang pernah melakukan One Night Stand seperti ucapan Kyungsoo barusan? Entahlah. Anehnya, mengapa pula Kyungsoo tampak biasa saja saat ia menjelaskan tentang hubungan intim kekasihnya dengan Sehun padanya, tanpa menunjukkan satu kalimat kontra sedikitpun saat ia menceritakan itu, padahal Kyungsoo pasti sangat tahu tentang apa makna dari apa yang diceritakannya barusan. Oh, mungkin Kai yang lebih gila karena merekomendasikan Sehun –bekasnya– untuk menggagahi Luhan malam ini. Atau mungkin Luhan yang sebenarnya lebih sinting karena meskipun dia tahu jika dirinya terjebak dalam ide gila dari ‘pasangan yang juga gila’ –Jongin dan Kyungsoo yang entah temannya atau bukan– itu, tapi Luhan masih tetap berada disini.

 

 

“Hei, tidak usah memikirkan hal yang tidak penting,” tegur Kyungsoo.

 

 

Luhan menghela nafasnya sekali, lalu ia terkekeh kecil. “Baiklah, tak ada salahnya, toh aku sudah sering bercinta dengan banyak pria. Melakukannya dengan bocah albino itu tak akan memberi efek apapun. Lagipula lubangku sudah lumayan lama tak menelan penis, rasanya tak nyaman karena sudah menganggur terlalu lama,” canda Luhan, memancing Kyungsoo untuk tertawa.

 

 

“Mereka datang!” kata Kyungsoo.

 

 

Luhan menoleh ke arah dua pria berbeda warna itu, yang melangkah semakin dekat ke arah mereka. Yang satunya –Jongin, Kai–  melemparkan senyumnya pada Luhan lalu langsung menyambar bibir Kyungsoo tanpa canggung di depan Luhan, sedangkan Luhan juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Kai tadi –sebelum kiss scene-, melemparkan senyumnya ke arah pria pucat teman Jongin.

 

 

Kedua tangan terulur bersamaan, berkenalan.

 

 

“Luhan.”

 

 

“Sehun.”

 

 

Menggelikkan, mengapa harus berkenalan seperti orang normal lainnya? Bagaimana jika mereka langsung saja berciuman, lalu pindah ke kamar, dan…

 

 

“Gunakan ini,” kata Kai, membuyarkan pikiran-pikiran Luhan.

 

 

Luhan mengambil ‘sesuatu’ yang diberikan Kai barusan dan menaikkan satu alisnya.

 

 

Roofies?” tanya Luhan, lalu meringis.

 

 

Kai mengangguk.

 

 

“Masing-masing gunakan satu pil saja,” kata Kai, lalu tersenyum lebar.

 

 

“Aku tak butuh!” tolak Luhan, lalu mengembalikan obat perangsang itu pada Kai, tapi…

 

 

“Aku butuh. Dan kurasa kau juga membutuhkannya,” kata Sehun cepat.

 

 

Luhan melirik Sehun. “Aku mudah terangsang kok,” katanya.

 

 

Sehun menggaruk tengkuk.“Aku memiliki animo, tapi…umm..”

 

 

Luhan menghembuskan nafasnya satu kali, lalu memberikan satu butir pada Sehun.“Baiklah-baiklah. Kita akan menggunakan ini,” kata Luhan, lalu melemparkan obat perangsang itu ke dalam slokinya, memutar-mutar cairan di dalamnya sejenak dan meneguknya dengan cepat. Sehun pun melakukan hal yang sama.

 

 

*****

 

 

 

Keduanya berjalan tak terkendali dengan tubuh saling merapat di lorong ber-wallpaper merah yang penuh dengan pintu-pintu kamar. Bibir keduanya saling menyatu, berpagut intens dalam gairah. Desahan-desahan tertahan Luhan serta kecipak cairan ludah membaur menjadi satu. Jemari panjang Sehun telah menelusup dan menggelitik nakal di pinggang Luhan, mengelus-ngelus kulit pemiliknya sambil menikmati tekstur kulit tubuh Luhan yang halus. Beberapa pintu kamar telah terlewati hingga mereka sampai pada kamar mereka sendiri. Sehun melepaskan tautan bibir mereka sekejap dan menekan kepala Luhan agar mencumbui lehernya, sedang tangannya sibuk membuka kunci pintu kamar itu. Pintu terbuka, dan tanpa membuang banyak waktu Sehun langsung mengangkat tubuh kecil itu ke gendongannya dan mengunci pintu kamar dari dalam.

 

 

Tubuh Luhan terjatuh pelan ke atas permukaan ranjang bersprei merah, dan Sehun langsung merangkak perlahan ke atas tubuhnya. Sehun merunduk, mencium bibir pria yang lebih mungil, menekannya lembut dan menggesekkan bibir-bibir mereka. Tangan kanannya menjelajah, menyusuri kulit perut dan dada Luhan, membelai kedua belah puting yang sudah mengeras. Berdasarkan naluri dan di dorong dengan gairah seksual yang besar, serta di bantu oleh obat perangsang tadi,  keduanya sudah sama-sama berdiri dengan lutut dan mengekspresikan adegan-adegan yang memetir di kepala masing-masing. Tangan-tangan yang lincah telah saling melepaskan pakaian lawannya, hingga kedua tubuh anak Adam itu polos sepolos ketika mereka di lahirkan dari rahim ibu mereka.

 

 

Sepersekian detik, kedua tubuh yang tak berbalut apapun sudah saling merapat erat, menghantarkan hawa panas gairah ke masing-masing tubuh lain. Ciuman intens kembali mereka lakukan, diiringi dengan liukan erotis tubuh Luhan dan gerakan tangan Sehun yang telah meraba- raba hampir seluruh bagian bokong Luhan. Jari-jari Sehun yang kiri menekan kuat tengkuk Luhan, sedang yang kanan sudah berancang-ancang menusuk ke dalam lubang anus pria yang dia cumbui bibirnya itu.

 

 

“Ngghh…”

 

 

Luhan mendesah tertahan saat jari-jari Sehun menggelitik lubangnya. Tubuh mungilnya bergetar kencang, dan sendi-sendinya langsung melemas seketika. Luhan melepaskan tautan bibir mereka dan mendesah terang-terangan dengan mata redup di depan wajah Sehun, lalu menggigiti bibirnya sendiri membuat pria yang lebih mendominasi menjadi gemas dan tak mampu menahan animonya sendiri. Dengan tak sabaran Sehun menekan kuat bahu Luhan hingga tubuh si mungil terhempas kuat ke atas ranjang, diikuti dengan bibir tipis Sehun yang langsung mengecupi dan menjilat seluruh permukaan kulit tubuh pria kecil yang tampak ‘pasrah’ di bawahnya.

 

 

“Ahhh…”

 

 

Tubuh Luhan melengkung saat kejantannya berbalut mulut Sehun yang hangat. Lidah Sehun membelai dan menggelitik batang penisnya hingga Luhan menggeram halus. Mata rusanya sudah berkedip dengan tempo sangat lambat, seperti mengantuk, karena merasakan sensasi nikmat yang sudah lama tak dirasakannya belakangan ini.

 

 

Hisap, jilat, hisap, jilat.

 

 

Luhan menggigit bibirnya keras-keras ketika klimaks pertamanya datang. Luhan tersengal-sengal, lalu sebelum sempat meresapi kenikmatan itu lebih lama, Sehun sudah membalikkan posisi mereka.

 

 

“Aku ingin kau yang menari erotis di atas tubuhku, tapi tetap harus milikku yang menembus tubuhmu. Aku ingin menikmatinya tanpa harus kelelahan,” kata Sehun tak berperasaan.

 

 

Luhan menarik sedikit sudut bibirnya sebagai respon, lalu mencumbui leher Sehun hingga beberapa bercak merah tersemat pada leher pria pucat di bawah tubuhnya. Luhan mulai meliuk erotis, menggeliat-geliat seperti cacing di perut Sehun, sambil menatap sayu pada pemuda itu. Sudut bibirnya ia gigit berkali-kali, menunjukkan kesan sexy dirinya di mata Sehun. Tangan kanannya sudah merayap lembut di sekitar perut Sehun, berputar beberapa kali hingga akhirnya meraba ke satu titik lurus menuju kebawah pusar.

 

 

Sehun memejamkan matanya. Bibir tipisnya sudah terbuka, menikmati remasan-remasan lembut pada central tubuhnya yang perkasa, mengerang putus asa karena pria mungil yang duduk di atas tubuhnya itu menyiksanya dengan segala kenikmatan ini.

 

 

“Lu…akh…aku ingin milikku memasuki tubuhmu. Cepatlah…” Sehun mengerang frustasi.

 

 

“Sabar sedikit, nghh…” erang Luhan.

 

 

Luhan memijat kejantanan pria pucat itu perlahan, lalu mengangkat sedikit pinggulnya dan memasukkan benda itu ke dalam lubangnya.

 

 

“Ssshhh…”

 

 

Luhan mendesis bagai ular, lalu meliuk-liukkan tubuh, juga seperti ular. Tubuh mungilnya bergoyang erotis di atas tubuh Sehun, lalu melompat-lompat dengan tumpuan lutut dan tangan yang memelintir puting-puting Sehun dengan gemas. Kejantanan Sehun yang bergerak keluar masuk lubangnya itu membuatnya menggila, membuat mereka menggila.

 

 

Sehun ikut menggerakkan tubuhnya meskipun Luhan sudah bergerak lincah bagai pelacur binal di atasnya. Ritme gerakan tubuh keduanya serasi, selaras dengan desahan putus asa keduanya. Tangan Sehun meremas gemas pada penis yang bergelantungan dan membentur-bentur perutnya sejak tadi, meremas cepat hingga cairan sperma pria di atasnya keluar lagi, dan disusul dengan cairannya sendiri beberapa detik kemudian pada lubang anus Luhan, yang membuat otot-ototnya mengejang sempurna dan membuat aliran darahnya menjadi panas. Sehun membuka mata saat merasakan sebuah pipi yang terjatuh di atas dadanya. Tangannya terangkat, membelai rambut karamel pria itu dengan nafas yang masih sama-sama memburu.

 

 

“Jantungmu berdetak sangat cepat. Kau lelah?” tanya Luhan pada permukaan dada Sehun.

 

 

Sehun tersenyum meskipun Luhan sedang tak menatapnya.“Aku tidak merasakan lelah sama sekali. Aku masih ingin sex kedua,” kata Sehun bersamaan dengan tubuhnya yang bergerak cepat, berguling dan menindih tubuh mungil Luhan lagi di bawahnya.

 

 

 

*****

 

 

 

Dentuman musik Beat menghantarkan tubuh Kyungsoo meliuk dalam rengkuhan pria berkulit gelap-Kim Jongin– yang memeluk perutnya dari belakang. Tubuh mereka menyatu erat, bergerak seirama. Tangan Kai meraba-raba, menyusuri kulit perut pria yang bermata bulat, menyelipkan jari-jemarinya di balik kemeja putih yang selalu dikenakan pria dalam rengkuhannya setiap hari saat jam kerjanya berlangsung di Club ini. Kyungsoo memejamkan mata bulatnya. Kepalanya terdongak, menyandar pada dada bidang Kai. Posisi yang menguntungkan Kai hingga bibir penuh Kai dapat langsung menjamah bibir hati pria manis itu, dan Kyungsoo merespon cepat dengan menggamit tengkuk Kai dengan tangan kanannya. Keduanya melumat intens, diiringi musik yang berdentum keras, beberapa saat, lalu terlepas.

 

 

“Sehun pasti kelimpungan malam ini. Luhan itu katanya sangat liar di atas ranjang,” kata Kai tiba-tiba.

 

 

Kyungsoo tertawa.“Biarkan saja. Bukankah dia sangat menginginkan Luhan sejak lama?”

 

 

“Iya, tapi aku khawatir. Sehun tidak pernah melakukan sex sebelumnya,” sahut Kai.

 

 

“Sepupumu itu tampan, tapi sangat payah…untung saja aku berhasil mengelabuhi Luhan hingga dia percaya jika Sehun itu sangat hebat dalam urusan ranjang. Utung juga aku sudah menyiapkan Roofies,” jawab Kyungsoo.

 

 

Jongin tersenyum tipis. “Memangnya apa yang kau katakan pada Luhan?” tanyanya penasaran.

 

 

“Aku bilang jika kau dan Sehun sudah pernah bercinta sebelumnya,” jawab Kyungsoo tanpa rasa bersalah.

 

 

Kai menjatuhkan rahangnya.“Hah? Aku dan Sehun???”


To Be Continued


 

Advertisements