TROUBLE MARRIAGE

 

 

download

.

.

By tmarionlie

.

HunHan

.

.

Yaoi | Marriage Life | Hurt & Comfort | Romance | Mature

.

.


CHAPTER 2


 

-Luhan Pov-

Aku sedang membereskan barang-barangku saat Kai masuk dan menghempaskan bokongnya seenaknya di ranjangku.

 

“Hahhh….bagaimana? kau senang kembali ke rumah?”tanyanya.

 

“Tentu saja.” jawabku singkat.

 

Aku telah selesai membereskan barangku dan langsung ikut duduk di ranjangku bersamanya. Entah apa yang dipikirkan oleh makhluk hitam disebelahku ini, tapi sekarang ini aku yakin jika dia sedang menatapku dengan tatapan yang begitu intens.

 

“Apa?” tanyaku.

 

“Aishhhhh!!!” katanya tiba-tiba, membuatku terkejut.

 

“Ya! Kau kenapa?” tanyaku. Kulihat dia membenarkan posisi duduknya dan memandangku serius.

 

“Hei Luhan, benarkah kau akan menikah dengan si Sehun itu?”

 

Aku menjawabnya dengan anggukan, tentu saja.

 

“Tapi kau kan sudah bertahun-tahun tak bertemu dengannya. Bagimana kalau dia tumbuh menjadi pria yang jelek, gendut, dan bodoh? Atau, bagaimana jika dia itu adalah seorang playboy? kau tetap akan menikah dengannya?” tanya Kai padaku, membuatku tertawa.

 

“Maksudnya playboy seperti kau?” tanyaku menggodanya.

 

Kulihat sepupuku yang hitam itu mengerucutkan bibirnya, membuatku kembali tertawa.

 

“Hei Kai, bagaimana tampangnya sekarang? Kau kan satu universitas dengannya, kau pasti sering bertemu dengannya kan?” tanyaku penasaran.

 

“Yeah….aku bertemu beberapa kali dengannya, dan menurutku, namja-mu itu adalah namja yang sangat menyebalkan….”

 

“Menyebalkan?” tanyaku.

 

“Ya, menyebalkan karena dia berhasil merebut hatimu,” jawab Kai aneh.

 

Lagi-lagi aku menertawakannya. “Hei Kim Jongin, jangan menjelek-jelekkan dia!” kataku tak terima.

 

Kai berdecak. “Biar saja. Dia itu memang menyebalkan, kau tahu?”

 

“Ck, kau ini!” Aku mengangkat tangan, hendak menjitak kepalanya. Tapi gagal karena Kai sudah menangkap pergelangan tanganku lebih dulu.

 

“Luhan, apa kau tahu? Aku sangat cemburu setiap kali kau membicarakan namja pucat itu…”

 

Aku membulatkan mataku dan terdiam. Apa maksudnya? –pikirku. Kata-kata si bodoh ini membuatku jadi sedikit kikuk, tapi kemudian aku mencoba menguasai diriku lagi. Dia pasti sedang menggodaku. “Kenapa kau cemburu padanya? Hei, jangan-jangan kau menyukaiku ya? Benar kan? Ayo mengaku saja,” kataku menggodanya.

 

Kai melepaskan pergelangan tanganku dan menyentil jidatku. “Dasar narsis!” katanya, lalu ia bergegas keluar dari kamarku setelahnya.

 

“Tch!” Aku berdecih, tapi kemudian aku tersenyum.

 

“Turunlah, kau harus mengisi perutmu. Sejak tadi kau belum makan,nanti kau sakit,” katanya.

 

“Oke,” jawabku singkat.

 

 

.

.

.

Incheon International Airport………

 

Seorang pria tinggi berambut ikal kecoklatan dan berkacamata hitam kini berjalan dengan gagah sambil menyeret koper kecilnya, berjalan kearah mobil yang sudah menunggunya sejak satu jam yang lalu. Pria tampan itu melepaskan kacamata hitamnya saat bokongnya sudah duduk didalam mobil, dan langsung membalas anggukan hormat dari pria setengah baya dijok kemudi, orang kepercayaannya.

 

“Silahkan pasang sabuk pengaman Anda Tuan Muda,” kata pria setengah baya dijok kemudi itu, namun pria tampan itu malah melemparkan tatapannya ke arah luar jendela mobil dan menopangkan dagunya dengan bosan.

 

Mobil melaju meninggalkan area Bandara. Hening menguasai hingga beberapa lama, hingga akhirnya pria tampan tadi mulai mengeluarkan suara beratnya.

 

“Jung Ahjussi….apa sekarang Princess ada dirumah?”

 

“Ya Tuan…Tuan Muda Baekhyun sangat senang saat mendengar Anda pulang, sampai-sampai tak mau pergi kemanapun. Sudah sejak pagi dia terus-menerus menanyakan jam berapa Anda tiba…”

 

“Begitu?” Pria tampan itu tersenyum lebar mendengarnya. “Ah, soal informasi yang Ahjussi berikan padaku kemarin…apa bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya? Benarkah mereka sudah putus?” tanya si tampan itu.

 

“Tentu saja Tuan. Tuan Muda Baekhyun sudah berpisah dengan Tuan Oh Sehun. Saya bisa pertanggung jawabkan ucapan saya.”

 

“Baiklah, aku mengerti,” kata pria itu singkat.

 

 

.

.

.

 

Mobil hitam itu akhirnya tiba di sebuah rumah yang sangat mewah yang terkesan dingin dan sepi. Pria tinggi tadi langsung masuk, dan melangkahkan kakinya menaiki satu demi satu anak tangga yang menuju kelantai atas. Pria itu menuju kesatu arah, kearah kamar yang dipintunya terdapat tulisan ‘My Princess’. Dia berhenti sejenak didepan pintu kamar itu, dan tersenyum saat melihat tulisan itu masih tertempel dipintu. Tulisan itu, dia yang meletakkannya disana sebelum dia pergi ke New York 2 tahun yang lalu. Pria itu menarik nafas panjang, sebelum akhirnya memutar handle pintu kamar itu dan membukanya. Matanya langsung terpaku pada sosok pria mungil berwajah cantik dan bermata sipit yang saat ini sedang terlihat sibuk menyusun-nyusun botol parfum didepan cermin riasnya sendiri, membuat pria tinggi tadi tersenyum saat melihatnya.

 

“Hai, My Princess…” kata pria tinggi itu sambil tersenyum.

 

Pria mungil itu menoleh sekilas, namun kembali membuang pandangannya lagi kearah botol-botol parfum yang berada dihadapannya. “Untuk apa kau kembali Yeol?” tanyanya ketus.

 

“Jangan begitu….berbicara sopanlah pada saudaramu ini, Princess Baekkie…”

 

“Tch, aku bukan saudaramu Park Chanyeol. Jangan memperlakukanku seperti saudaramu, itu menjijikkan. Aku tak suka!”

 

Chanyeol terkekeh, lalu berjalan pelan menghampiri Baekhyun. “Kau semakin cantik,” puji Chanyeol.

 

Baekhyun mendengus. “Begitu? Lalu, apa kau akan menyukaiku?”

 

Chanyeol mendesah, lalu membuang pandangannya kearah lain.

 

Baekhyun tertawa sinis. “See? Meskipun aku cantik, kau tetap tak akan menyukaiku kan? Dasar munafik!” umpat pria cantik itu, lalu berjalan menuju ranjangnya sendiri dan merebahkan dirinya disana, memunggunggi Chanyeol.

 

Chanyeol menatap punggung sempit itu lama, dan menangkap getaran kecil disana. Baekhyun menangis. Chanyeol menghela nafasnya dengan berat, lalu berjalan kearah ranjang. Dia mendudukkan bokongnya ditepian ranjang, lalu ia sentuh punggung pria mungil itu, namun Baekhyun langsung menepisnya dengan kasar.

 

“Jangan menangis….” kata Chanyeol lembut.

 

“Pergilah, aku sedang ingin sendiri,” jawab Baekhyun, namun Chanyeol tak bergeming dari tempatnya.

 

“Kau putus dengannya?” tanya Chanyeol.

 

“Hmm…” jawab Baekhyun.

 

“Kenapa?” tanya Chanyeol lagi.

 

“Dia akan menikah dengan orang lain.”

 

“Kau mencintainya?” tanya Chanyeol lagi.

 

Pertanyaan fatal, bodoh, brengsek.

 

Baekhyun langsung membalikkan tubuhnya dan menatap tajam pada Chanyeol dengan matanya yang basah. “Kau menanyakan apa aku mencintainya atau tidak? Dasar brengsek kau Park Chanyeol!” umpatnya pedas. Setelahnya ia kembali memunggungi Chanyeol yang kini hanya bisa terdiam. “Aku tak mencintainya Yeol…Aku tak bisa mencintai orang lain. Aku–”

 

Chanyeol menahan nafasnya, mengerti kemana arah ucapan Baekhyun saat ini.

 

“–mencintaimu…”

 

Chanyeol memejamkan matanya dan memijit pelipisnya sendiri, merasa pusing mendadak karena situasi ini.

 

 

Diam.

 

 

“Pergilah, aku tahu kau merasa tersiksa jika berada didekatku,” kata Baekhyun teramat lirih.

 

Chanyeol membuang nafasnya. Bukannya pergi, pria tinggi itu malah menaikkan kakinya keatas ranjang dan ikut berbaring disamping Baekhyun, lalu membalikkan paksa tubuh mungil Baekhyun dan menariknya merapat ketubuhnya sendiri.

 

“Maafkan aku Baek…” kata Chanyeol pelan, lalu ia kecup kening Baekhyun sekejap dan mengelus-elus surai cokelat madu itu dengan tangannya.

 

Baekhyun tak menjawab, tapi airmatanya jatuh semakin banyak. Tangan mungilnya bergerak, memeluk pinggang Chanyeol, lalu pria mungil itu menenggelamkan wajahnya kedada Chanyeol dan menangis sesenggukan disana.

 

“Kumohon jangan menangis lagi Princess…..Maafkan aku. Aku tak bisa mencintaimu, maaf….” kata Chanyeol sebelum tangannya semakin erat memeluk tubuh mungil Baekhyun. Chanyeol mengutuk dirinya sendiri sekarang karena dapat dirasakannya dengan jelas jika saat ini tubuh mungil itu semakin bergetar kuat dipelukannya.

 

“Sakit Yeol….”

 

Chanyeol memejamkan matanya kuat-kuat saat mendengar suara pria mungil itu, lalu ia mulai berniat menulikan pendengarannya saja setelah ini.

 

 

.

.

.

.

.

Luhan memperhatikan bayangan dirinya di depan cermin. Sebentar  lagi Sehun dan keluarganya akan datang untuk membicarakan penetapan tanggal pernikahan mereka, karena itu Luhan ingin tampak memikat malam ini.

 

“Apa kau masih mengingatku?” gumamnya sendiri, entah pada siapa. Luhan tersenyum sekilas kearah bayangannya sendiri sebelum akhirnya keluar dari kamarnya dan melangkah menuju kelantai bawah. Di bawah sana Ibu Kai terlihat sangat sibuk menata meja makan untuk menyambut tamu mereka. Luhan tersenyum sekilas, lalu ia melangkah pelan menuju Bibinya itu. “Ahjumma, Kai dimana?” tanyanya pada Bibinya itu.

 

“Entahlah, mungkin sedang bersiap-siap dikamarnya?” jawab Ibu Kai sekilas, kemudian kembali sibuk dengan pekerjaannya lagi.

 

“Baiklah…kalau begitu aku akan memanggilnya,”kata Luhan, dijawab dengan anggukan serta senyuman oleh Bibinya itu.

 

Dengan langkah cepat-cepat, Luhan segera menuju ke kamar sepupunya yang hitam itu dan langsung membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu, membuat Kai yang hanya memakai pants saat ini menatapnya terkejut karena kemunculannya yang tiba-tiba. Luhan juga terkejut.

 

“YA!! Tak bisakah kau mengetuk pintu terlebih dulu?” omel Kai kesal. Pria berkulit gelap itu kini memakai celananya dengan terburu-buru sedangkan Luhan membuang pandangannya kearah lain dengan wajah yang memerah. Luhan malu juga meskipun dia juga pria.

 

“Kenapa kau masih disitu? Sana keluar!”omel Kai lagi.

 

Luhan memajukan bibirnya, kesal karena diusir seperti itu oleh Kai. Tapi kemudian pemuda itu tersenyum jahil. Yah, sepertinya mengganggu Kai akan menyenangkan juga –pikirnya. Luhan berjalan santai kearah Kai yang menatapnya dengan raut bingung, tapi kemudian menatap setiap langkah kaki Luhan dengan waspada sebelum akhirnya memasang wajah paniknya. Dia masih bisa mengingat dengan jelas kalau sepupu cantiknya itu agak sedikit jahil. Dengan sikap protektif, ia berteriak dari jarak beberapa langkah dari Luhan yang semakin mendekat padanya. Dia tak tahu apa yang akan dilakukan oleh sepupunya itu, tapi ia bersumpah jika ia tak akan kecolongan kali ini. Sudah cukup ia menjadi bulan-bulanan Luhan sedari mereka kecil hingga –beberapa tahun yang lalu, mungkin? Ah, pokoknya Kai tak mau menjadi korban lagi, titik!

 

“Ya!! keluar kataku! Kuperingatkan kau!” ancam Kai sambil mengacungkan jari telunjuknya. Tapi upayanya itu tak membuat gerakan Luhan menjadi terhenti. Pemuda cantik itu malah semakin melebarkan senyum jahilnya.

 

“Kuperingatkan kau, Satu–”ancam Kai.

 

“Dua?” jawab Luhan menyambung ancaman sepupunya itu, mengakhirinya dengan kekehan aneh, membuat Kai menjadi kesal setengah mati. Karena itu ia menyambar bantalnya lalu…

 

BRUKKK!!!

 

Melemparkannya ke wajah Luhan.

 

“YA!” bentak Luhan kesal, tak terima dilemapri seperti itu oleh Kai.

 

Kai tertawa, lalu menjulurkan lidahnya seperti anak kecil. “Kau pantas mendapatkannya sepupuku tersayang,” kata kai geli.

 

“Sialan! Cepatlah turun, hitam. Dandanmu lama sekali sih, seperti wanita saja. Dasar ulat bulu!” omel Luhan sambil berusaha merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.

 

“Aku mengerti. Nah, sekarang cepat keluar kau dari kamarku!” titah Kai sambil berkacak pinggang.

 

Luhan mendengus, tapi ia bergegas keluar juga dari kamar sepupunya itu. Dia masih sempat mengomel tak jelas beberapa saat, lalu membanting pintu kamar sepupunya itu dengan sengaja. “Tch, kenapa kau? Lagipula tak ada yang bisa dilihat,” umpat Luhan diluar kamar Kai.

 

“Aku bisa mendengarmu nenek sihir!” sahut kai dari dalam kamarnya.

 

Luhan terkekeh, lalu langsung memilih kabur menuju ke lantai bawah kembali. Baru saja menapakkan kakinya menuruni beberapa anak tangga, tubuhnya membeku dipertengahan tangga menuju kebawah saat melihat sesosok pria berkulit pucat yang saat ini sedang melangkah memasuki rumahnya.

 

“Sehun…” bisiknya teramat pelan sambil menatap pria pucat itu dengan tatapan penuh kerinduan.

 

 

.

.

-Luhan Pov-

.

 

 

Aku melihatnya, pria itu. Pria tampan berkulit pucat, dengan rahang yang tegas dan tatapan tajam menusuk itu. Tak salah lagi, itu pasti dia.

 

“Sehun…” gumamku pelan.

 

Aku memperhatikan terus sosok itu dari tangga. Tak kusangka sama sekali jika Sehun akan tumbuh menjadi  pria yang sangat tampan seperti ini. Sehunku, Ya Tuhan!

 

Kulihat Ibu Kai menyambut tamunya dengan senyuman lebar serta pelukan hangatnya, lalu memanggilku yang masih mematung ditangga dengan bodohnya. Astaga, aku  gugup sekali!. Jantungku berdebar tak terkendali, tapi aku tetap melangkahkan kakiku menuruni satu demi satu anak tangga  menuju lantai bawah. Aku menunduk hingga beberapa lama, tapi akhirnya kuberanikan diriku mendongak dan mencoba menatap Sehun. Tatapan mata kami bertemu begitu saja ketika aku menatapnya karena dia juga sedang menatap tajam padaku saat ini, dan aku cepat-cepat menunduk kembali saking gugupnya.

 

“Nah Mr. Oh, ini adalah keponakanku, Xi Luhan…” kata Bibiku sambil menarik tanganku hingga aku berada tepat dihadapan calon mertuaku saat ini.

 

Dengan kikuk aku langsung membungkuk hormat pada mereka. “Selamat malam UncleAunty…Aku Luhan….semoga kalian masih mengingatku,” kataku sopan.

 

“Ya, tentu saja kami masih ingat sayang, dan –astaga! Luhannie, kau sangat cantik,” puji Ibunya Sehun padaku, membuatku merasa risih oleh sebutan ‘cantik’ yang lebih pantas diberikan untuk seorang gadis itu. Aku hanya tersenyum pada Ibunya Sehun, lalu aku kembali melirik Sehun yang masih juga diam sambil menatap tajam padaku. Kenapa sejak tadi dia menatapku seperti itu terus-menerus?

 

Segala pikiranku langsung buyar ketika Ayah Sehun mendorong tubuh puteranya sendiri hingga Sehun berdiritepat di hadapanku sekarang. Jarak kami begitu dekat, bahkan aku bisa mencium aroma tubuhnya dengan sangat jelas. “Nah, Luhan…ini Sehun, kau masih ingatkan?” tanya calon Ayah mertuaku itu.

 

“Te-tentu saja,” jawabku gugup, lalu aku cepat-cepat menunduk.

 

Uncle Oh mendorong puteranya semakin dekat kearahku, membuatku ingin menenggelamkan diriku –jika aku bisa–sekarang juga. “Kalian sudah lama tak bertemu, lebih baik kalian saling mengobrol,” kata Ayahnya lagi.

 

Aku hanya dia sambil menatap Sehun malu-malu hingga beberapa lama. Keningku berkerut ketika kulihat Sehun menunjukkan senyum miringnya padaku, dan aku terkesiap saat ia menarik tanganku keluar dari tempat it. Dia membawaku ke teras rumah, dan setelah diam selama beberapa detik, dia melepaskan tanganku. Aku bisa mendengar dengan sangat jelas jika ia mendengus –barusan– membuatku melirik aneh kearahnya. Kulihat ia memejamkan matanya, entah kenapa. Aku tak tahu ia sedang memiliki masalah apa, tapi raut wajahnya terlihat kesal. Aku hanya diam, berdiri canggung disampingnya. Keheningan yang lumayan lama membuatku merasa kikuk, hingga aku memberanikan diriku mati-matian untuk menyapanya duluan. Walau bagaimanapun, kami akan menjadi pasangan hidup nanti, jadi kami harus saling bicara kan?

 

A-anneyong Sehunnie…senang bertemu kembali denganmu…” kataku canggung.

 

Kulihat dia berbalik cepat menghadapku, dan tatapan matanya entah kenapa terlihat –emosi?

 

Kenapa dia? Apa dia sedang memiliki masalah? –pikirku. Aku masih sibuk bermain-main dengan pikiranku sendiri, lalu segalanya menjadi buyar ketika aku mendengar suaranya.

 

“Katakan padaku, apa alasanmu menerima perjodohan ini?” tanyanya ketus, membuat tenggorokanku langsung tercekat. Pertanyaannya itu membuatku bingung. Apa yang harus kujawab? Haruskah kukatakan padanya kalau aku mau dijodohkan karena aku memang sudah mencintainya sejak kami kecil? Ck, konyol sekali! –pikirku.  Karena tak tahu harus menjawab apa, akhirnya aku hanya diam saja. Aku bingung, dan juga gugup. Atmosfernya berubah menjadi aneh, lalu tiba-tiba saja suara Kai mengagetkanku.

 

“Hai, sedang apa kalian disini?” tanya Kai sambil menyilangkan tangan didadanya sendiri.

 

Aku langsung menoleh dan tersenyum canggung kearah Kai. “Ka-kami hanya sedang mengobrol Kai,” jawabku gelagapan. Aku berbalik dengan cepat, berniat menghampiri Kai. Tapi tanpa kuduga-duga Sehun malah menarik tanganku dengan cepat sampai wajahku membentur dadanya. “Pikirkan hal ini baik-baik sebelum kau resmi menikah denganku, atau kau akan menyesal nantinya,” bisiknya ditelingaku, lalu ia langsung melepaskanku setelah mengatakan hal itu. Dia masih sempat tersenyum sinis padaku sebelum akhirnya ia melangkah cepat ke dalam rumah.

 

Aku terdiam. Kata-katanya barusan membuatku berpikir. Aku tak tahu apa maksudnya, tapi nada bicara pemuda pucat itu terdengar dingin dan terkesan mengintimidasi. Aku masih sibuk dengan segala delusiku hingga Kai datang mengagetkanku.

 

“Apa yang dikatakannya padamu?” tanya Kai penasaran.

 

Aku diam hingga beberapa saat, lalu memaksakan senyumku. “Bukan apa-apa, kami hanya mengobrol, ” kataku berbohong.

 

Kai menganggukkan kepalanya tanpa minat. “Ya sudah. Ah ya, Luhannie…aku pergi ya. Kau tahu kan, disini sedikit membosankan,” kata Kai padaku, membuatku tersenyum geli. Aku menganggukkan kepalaku sebagai jawaban. “Ya sudah, pergilah…” kataku.

 

“Kau tak apa-apa kan menghadapi para orangtua itu sendirian?”

 

“Ya, aku baik-baik saja. Toh mereka tak akan memakanku,” jawabku, dan Kai berdecak.

 

“Tentu saja kau akan baik-baik saja. Kau pasti sangat senang bertemu dengan Pangeran albino-mu itu, ck!” cibir Kai.

 

Aku hanya tertawa menanggapinya.

 

“Hhh…Ya sudahlah. Aku pergi dulu ya,” katanya.

 

“Oke.” jawabku.

 

 

Aku memberikan lambaian ‘selamat bersenang-senang’ pada sepupu tampanku itu, lalu aku mulai melangkah memasuki rumah saat tubuh Kai sudah menghilang. Di dalam, aku melihat Sehun sedang duduk diam disamping Ayahnya. Ugh, lagi-lagi tatapan tajam menusuk itu dia lemparkan padaku, membuatku langsung menunduk. Aku tak berani melihat tatapan –mengintimidasinya–itu. Aku ikut duduk disebelah Bibiku dan hanya diam sambil mendengarkan dengan tenang pembicaraan para orangtua kami, hingga akhirnya tanggal pernikahan ditetapkan, dan keluarga Oh Sehun bergegas pulang.

 

 

.

 

-End Luhan Pov-

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

 

Kai berjalan santai memasuki klab malam yang memang sering dikunjunginya saat dirinya sedang stress. Stress? Yeah, Kai memang sedang stress sekarang. Bagimana tidak pusing jika kau menghadapi situasi yang membuat dadamu sangat sesak? Kai tak bisa menerima jika Luhan akan menikah dengan pria lain.

 

Sejujurnya Kai sudah sangat lama menyukai sepupu cantiknya itu, tapi masih mampu menyembunyikan perasaannya sampai sekarang karena Kai tahu jika Luhan menyukai Sehun. Entahlah, dia juga tak yakin dengan perasaannya sendiri sebenarnya. Dia tak tahu apa dia benar-benar suka pada Luhan dengan makna ‘yang itu’ atau suka karena ia sangat menyayangi Luhan, dia juga tak merasa yakin. Tapi yang pasti, ia merasa sedikit tak rela jika Luhan menjadi milik Sehun. Dia mengenal Sehun –mereka satu kampus–dan Kai sangat tahu bagaimana riwayat percintaan pemuda pucat bermarga Oh itu, termasuk hubungannya dengan Baekhyun. Dia tahu jika Sehun bukan pria brengsek, tapi dia juga tahu jika pemuda pucat itu sangat mencintai kekasihnya –si mungil bermarga Byun–yang entah bagaimana hubungan mereka sekarang, Kai pun tak tahu. Kai hanya takut jika Luhan tak bahagia dengan perjodohan konyol ini jika mengingat bagaimana sikap Sehun selama ini pada kekasih –atau mantan kekasihnya–yang tak pernah ia sembunyikan dari mata publik, termasuk di depannya. Pemuda pucat itu jelas-jelas sangat mencintai Baekhyun.

 

Kai memijit pelipisnya sendiri, lalu ia memutuskan untuk tak memikirkan itu semua pada akhirnya. Dia pusing, dan ia butuh hiburan sekarang. Dia menghempaskan bokongnya dengan keras kesalah satu sofa yang diperuntukkan khusus bagi tamu-tamu VIP yang berada dilantai atas klab malam itu, lalu sekejap saja ia sudah mulai mengangguk-anggukkan kepalanya, menikmati musik keras yang menggema di seluruh ruangan klab itu.

 

Hanya beberapa menit saja, teman-temannya sudah berkumpul mengelilinginya. Salah seorang temannya, Kris, langsung duduk disampingnya, lalu dengan sikap sok akrab langsung mendaratkan lengannya pada bahu Kai, merangkulnya. “Hei Kai, sudah lama tak melihatmu disini ” kata Kris sambil tersenyum –entah senyuman apa.

 

“Ya, belakangan ini aku memang sedikit sibuk,” jawab Kai acuh.

 

Kai masih mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mengedarkan pandangannya kesekeliling, dan tiba-tiba saja pandangannya terpaku pada sesosok pria mungil bermata bulat yang sedang duduk sendirian sambil menikmati alkohol berkadar rendah disalah satu sofa di bilik seberang. Kai menatap pria mungil itu sangat lama. Entahlah…Kai tak yakin, tapi sepertinya ia pernah melihat pria itu sebelumnya.

 

“Kris, siapa dia?” tanya Kai pada Kris yang sedang merokok disebelahnya.

 

“Yang mana?” tanya Kris.

 

“Itu, pria yang bermata bulat itu,” kata Kai sambil menunjuk kesatu arah.

 

Kris mengikuti arah telunjuk Kai dan langsung menyeringai aneh saat menyadari bahwa Kai sedang menunjuk kearah pria mungil yang duduk diseberang.

 

“Oh, dia…namaya Do Kyungsoo. Dia sering datang kesini, sendirian.” Kris mengedikkan bahunya, lalu kembali menghisap rokoknya.

 

“Aku sepertinya pernah melihatnya…” kata Kai ragu.

 

Kris tertawa. “Tentu saja. Dia itu model terkenal. Kau tak tahu?”

 

“Model? Serius?” kata Kai tak percaya.

 

“Yup. Sudahlah, lebih baik kau tak usah berhubungan dengannya.”

 

“Kenapa?” tanya Kai, dengan kerutan di keningnya.

 

Kris mematikan api rokoknya, lalu menatap pria yang menjadi objek obrolan mereka itu dengan tatapan yang entah apa maknanya.“Pria itu sangat sombong dan arogan, Kai. Perangainya sangat buruk.”

 

“Huh? Oh ya?” tanya Kai sambil menatap pria itu.

 

Kris mengangguk. Kai ikut mengangguk juga, merasa cukup mengerti dengan penjelasan Kris, dan dia sudah tak tertarik lagi membicarakan tentang ‘dia’. Tapi ucapan Kris tiba-tiba membuatnya kembali tertarik pada topik ini.

 

“Dia itu Gay,” kata Kris, lalu pemuda blonde itu tersenyum aneh.

 

Gay?” tanya Kai penuh minat.

 

“A-huh. Dia itu sangat populer dikalangan kaum gay. Kau tak akan percaya pada hal ini, tapi kuberitahu padamu, meskipun dia itu sangat sombong dan arogan, tapi dia itu primadona para gay kalangan atas. Hanya saja, kau tahu? tak sedikit dari mereka yang harus menelan kecewa karena pria manis itu hanya akan membalas setiap ajakan kencan dengan tatapan sinis meremehkan serta cibiran, padahal bibirnya itu sangat sexy, sayang sekali hanya digunakan untuk mengumpat dan hal-hal sejenisnya, entahlah… ” jelas Kris, lagi-lagi mengedikkan bahunya. Kris tertawa sendiri setelah mengatakan hal itu.

 

Kai mengerutkan keningnya, sedikit tak percaya pada ucapan temannya itu. Dia kembali menatap Kyungsoo, dan ia tak menampik jika pria itu memang sangat manis dan menarik.

 

“Hhh…”

 

Kai mengeluarkan desahan malasnya, lalu ia menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri. Dia mengerutkan keningnya lagi ketika –entah hanya perasaannya saja atau bukan–tapi ia merasa jika Kris sedang memperhatikannya saat ini. Benar saja, pria blonde itu memang sedang menatapnya dengan tatapan aneh yang entah apa artinya.

 

“Apa?” tanya Kai, terganggu dengan tatapan temannya itu.

 

Kris menyeringai. “Kai, kau sangat tampan dan juga lumayan kaya. Pesonamu sangat mematikan,”

 

“Yeah, aku tak meragukan hal itu, lalu?”

 

“Bagaimana kalau kita buat permainan?”

 

“Permainan?”

 

“Ya. Ini menarik. Kalau kau bisa menaklukkan pria itu, aku akan memberikan apapun yang kau inginkan, bagaimana?”

 

Tantangan Kris itu membuat Kai tertawa. “Aku tak mau. Kenapa aku harus melakukan hal seperti itu?”

 

“Ck, kau sangat payah…” ejek Kris.

 

“Hei, aku tidak payah!”

 

“Kalau begitu buktikan jika kau memang tidak payah…”

 

Kai mendengus. “Aku memang gay Kris, tapi–”

 

“Bagus. Kau hanya tinggal mendekatinya saja. Taklukkan dia, dan kau akan mendapatkan apapun yang kau inginkan. Aku yang akan memberikannya padamu, tentu saja.”

 

“Tapi–”

 

Oh God, ayolah…Ini tidak akan sesulit kelihatannya. Kau pasti akan menyukainya. Menaklukkan spesies langka yang sangat sulit dijinakkan seperti dia pasti akan sangat menantang adrenalinmu, percayalah. Jika kau berhasil mendapatkannya, kau pasti tak akan menyesal. Dia itu eksklusif Kai, ingat itu.” bujuk Kris.

 

Kai menatap Kyungsoo sekali lagi sambil berpikir, mulai tertarik pada ide ini.

 

“Aku mau mobil Ferarri limited edition milikmu, bagaimana?” tawar Kai.

 

“Oke, deal.” kata Kris menyanggupi.

 

“Baiklah. Aku akan melakukannya.” kata Kai akhirnya.

 

“Bagus! Tapi aku hanya akan memberi waktu sebulan untukmu, oke?” tantang Kris.

 

“Oke.” kata Kai menyanggupi.

 

“Sudah kuduga kau adalah pria gentle. Bergerak cepatlah, kutunggu kabar baik darimu,” kata Kris. Pemuda blonde itu masih sempat menepuk bahu Kai sekali sebelum ia beranjak pergi dan meninggalkan Kai sendirian.

 

Kai menatap kearah Kyungsoo lagi, lalu ia terkekeh geli dengan ide ini. “Ini gila. Tapi baiklah…lagipula ini cukup menarik juga. Iseng-iseng berhadiah,” katanya singkat, lalu ia mulai berjalan pelan menghampiri pria manis bermata bulat itu.

 


 

TBC


 

 

Advertisements