WHAT BULLYING REALLY DOES TO YOU

344390-exo-hunhan-11

.

.

Story by Soupandcrisp123 & Pilsuk123

Translate by tmarionlie

.

HunHan

.

Yaoi | Angst | Depression | Romance | Mature

.

.


PREVIOUS STORY

“Apa Ayahmu tahu kalau kau seperti ini? Setelah apa yang telah ia lakukan untukmu, inikah balasan yang kau berikan pada Ayahmu? Dengan menjadi Homo yang menjijikkan? Dengan melenggang bagai seorang Gay Princess tolol?” teriak Sehun.

 

 

Akhirnya ia meluapkan kemarahannya juga padaku.

 

 

Sehun mau menatapku juga pada akhirnya, dengan tatapan mata yang tak menunjukkan apapun di dalamnya selain tatapan kebencian, jijik, dan juga kemarahan. Perutku serasa diputar-putar, dadaku terasa sangat sakit dengan rasa sakit yang tak tertahankan. Sepertinya fisikku juga ikut sakit karena hatiku yang hancur.  Harapanku yang tinggal sedikit telah musnah. Hatiku hancur berkeping-keping. Semuanya telah dihancurkan oleh pria yang kusukai.

 

 

Aku mulai gemetaran. Airmataku tak mau berhenti mengalir. Aku mati rasa baik di luar maupun di dalam. Kudengar sebuah gerutuan pelan, tapi sekejap kemudian aku tak mendengar apapun lagi. Aku menolak untuk mendengar apapun. Aku memaksakan diriku untuk berdiri, lalu tanpa menatap Sehun lagi aku berjalan pergi dengan terhuyung-huyung. Aku tahu aku harus di hukum atas segala kesalahan yang telah kuperbuat.

 

 

‘Dad, maafkan aku…Maaf karena aku telah berdosa…’ –pikirku, dengan wajah yang mengerut kesakitan sebagai efek dari rasa sakit yang menjalari tubuhku. Aku mulai berpikir tentang hukuman apa yang pantas untuk kudapatkan. Dengan memikirkan hal itu, aku memutuskan untuk berjalan pulang ke rumah dengan langkah yang tertatih-tatih tanpa melihat lagi ke belakang, dan aku juga tak merasakan ketakutan pada apa yang berada di hadapanku. Aku memang harus di hukum.

 


 

CHAPTER 4


 

 

Aku mengintai rumahku sendiri di tengah-tengah udara dingin yang begitu menusuk tulang sambil berusaha mengenyahkan kata-kata Sehun yang sedari tadi terus-menerus menari-nari di dalam pikiranku. Sehun tak tahu apa-apa tentang Ibu, dan tak perduli betapa aku menyayangi serta mencintai dia, tetap saja dia tak berhak men-judge Ibuku dan mengeluarkan opini kejamnya tentang diriku seperti tadi. Aku tahu jika aku memang terlalu memaksakan persahabatan yang nyata-nyatanya memang telah berakhir di antara kami, namun apa dayaku?

 

 

Aku menangis dengan perasaan yang begitu pahit. Air mataku terasa asin, mengalir deras menodai pipi-pipiku. Tapi entah mengapa, meskipun Sehun telah menyakitiku hingga sedalam ini, aku sama sekali tak ingin menyerah untuknya. Aku tahu jika ini terdengar begitu konyol, tapi aku meyakini jika jauh di dalam diri ‘sosok baru Sehun’ yang sekarang, pasti masih tersimpan ‘Sehun lama’ yang penyayang.

 

 

Semakin aku berjalan mendekati rumah, semakin keras pula aku mencoba untuk mengabaikan perasaan takutku yang semakin lama semakin bertambah. Aku mengerti jika aku ini memang pantas di hukum, aku ini memang pantas di sakiti. Hari ini, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku harus menjadi berani dan aku akan menghadapi konsekuensi apapun yang kudapatkan nanti. Aku tak akan membiarkan Sehun terpuruk, atau membiarkan diriku sendiri jatuh terpuruk. Aku tak akan mengecewakan Sehun dan aku juga tak ingin mengecewakan diriku sendiri. Aku tak ingin membuat ‘kami’ kecewa. Nafasku memberat, dan setetes peluh meluncur jatuh ke wajahku. Tubuhku bahkan sudah mulai gemetaran. Kakiku seolah menyuruhku berhenti dan menyuruhku mengayunkan langkah kearah lain saja. Tapi aku harus kemana?

 

 

Aku mencoba sekuat tenaga untuk mengabaikan keinginanku untuk kabur, lalu aku mulai berpikir tentang alasan mengapa Ayah memperlakukanku seperti ini? Padahal tak ada yang kuinginkan dari Ayah selain hanya menjalin hubungan Ayah-anak secara sederhana, dimana kami berdua seharusnya bisa menghabiskan waktu bersama-sama selayaknya sebuah keluarga, lalu kami bisa makan bersama sambil mengobrol dari hati-kehati tanpa harus diwarnai oleh teriakan-teriakan maupun pertengkaran.

 

 

Dulu, aku selalu memohon pada Ibu supaya aku bisa bertemu dengan Ayah, tapi entah mengapa Ibu tak pernah mengizinkan. Dan sekarang aku baru paham ketika aku benar-benar telah terperangkap di dalam lingkaran hidup Ayahku. Pantas saja dulu Ibu enggan melepaskanku. Kini aku sudah mengerti tentang segalanya, tentang alasan mengapa dulu aku tak bisa bertemu dengan Ayah dan mengapa Ayah membenciku. Sehun membuat segalanya menjadi tampak jelas untukku, oleh karena itu aku harus mengucapkan terima kasih padanya nanti.  Ayahku pasti sudah tahu sejak lama tentang ‘penyakitku’, karena itu ia meninggalkan aku dan Ibu. Ini semua adalah salahku. Memang selalu aku saja yang membuat masalah. Dengan seluruh perasaan bersalah yang begitu dalam ini, aku mulai berlari cepat menuju rumah. Saat berlari seperti ini aku baru menyadari satu hal, yaitu aku, sama sekali belum pernah merasa bersemangat untuk pulang kerumah sebelumnya, bahkan hingga sekarang.

 

 

Aku membanting pintu rumah sekeras yang aku bisa setelah tubuhku sudah berada di dalam rumah, sengaja ingin menciptakan kegaduhan. Kusiapkan mentalku sekuat mungkin, dan aku terduduk meringkuk dengan posisi seperti janin di bawah pintu sambil memejamkan kedua mataku erat-erat dengan tubuh yang terjebak pada posisiku sekarang ini tanpa mampu untuk bergerak kemana-mana lagi. Aku mulai menghitung sampai angka tiga secara perlahan, menunggu suara teriakan yang sudah sangat familiar ataupun suara langkah menghentak-hentak yang berasal dari kaki-kaki Ayahku.

 

Satu…

 

Dua…

 

Tiga…

 

Dimana Ayahku?

 

Aku mengerjapkan mataku dengan heran, kemudian aku mulai berteriak sekuat tenaga sambil menangis karena aku merasa putus asa. Airmata yang tadinya telah berhenti, kini kembali mengalir turun di wajahku.

 

 

DADDY, AKU PULANG!” teriakku.

 

 

Aku menarik nafas, lalu kuedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan. “Dimana Ayah?”. Aku butuh di hukum dengan hukuman yang pantas sekarang juga. Aku hanya ingin ini semua cepat selesai. Aku mulai mencari Ayahku ke sekeliling rumah namun aku tak menemukan Ayahku dimanapun. Dengan putus asa kuseret langkahku menuju ranjang, lalu aku mulai menangis dengan tak terkendali. Begitu buruknyakah aku? Sampai-sampai untuk mendapatkan ‘apa yang biasa diberikan oleh Ayah’ sajapun aku tak bisa. Bahkan hanya sekedar ‘siksaan’ sajapun tak bisa kudapatkan ketika aku benar-benar membutuhkannya.

 

 

Kulemparkan tubuhku yang mati rasa keatas ranjang, kemudian aku menatap langit-langit kamarku yang putih polos. Tatapan mataku pada akhirnya terjatuh pada foto yang tergantung di dinding ketika aku menolehkan kepalaku kearah kanan. Foto itu berisi fotoku dan Ibuku, lalu di sisi lainnya adalah fotoku bersama Sehun. Tanpa berkata-kata, kupandangi kedua foto itu, kutelusuri setiap detil dari masing-masing foto dengan teliti. Aku tidak memikirkan apapun ketika aku memandangi foto-foto itu karena otakku sudah benar-benar lelah dan juga terasa kosong.

 

 

Fotoku yang bersama Sehun adalah yang paling tampak sempurna. Di dalam foto itu kami terlihat sedang duduk di sebuah bukit berumput. Rerumputan itu tertimpa oleh bias cahaya lembut oranye bercampur kuning yang berasal dari matahari senja di hadapan kami. Dengan punggung yang sama-sama menghadap kearah kamera, kami duduk saling berdekatan, bernaung di bawah sebuah pohon yang berada di sebelah kanan kami. Dengan swingset yang menaut dahan pohon, bayangan dedaunan bergoyang maju-mundur di permukaan rerumputan. Kristal memori itu masih kuingat dengan begitu jelas, seolah-olah foto itu baru diambil kemarin sore. Di dalam foto itu, aku dan Sehun saling menatap satu sama lain dengan tangan-tangan yang melayang di udara, dengan jari-jari kelingking yang saling bertaut. Senyuman lebar menghiasi wajah kami, karena hari itu adalah hari dimana kami berdua saling berjanji untuk selalu bersahabat sampai kapanpun.

 

 

Menatap fotoku bersama Sehun, aku tak bisa melakukan apapun selain hanya memikirkan saat-saat kami bertemu untuk yang pertama kali dulu, dan bagaimana kami berdua akhirnya bersahabat. Aku tersenyum lembut ketika memoriku menyentuh saat-saat indah itu, dan saat itu adalah salah satu musim panas terbaik yang pernah kulewati dalam hidupku. Sangat menggelikkan jika mengingat bagaimana Sehun begitu mengandalkanku kala itu, selalu mencariku ketika ia butuh bantuanku ataupun jika ia hanya ingin bersama-sama saja denganku. Tapi kini, ketika dialah orang yang paling kubutuhkan, dia malah meninggalkanku. Dia biarkan aku berjuang sendirian di dalam tempat kosong yang kejam ini. Dengan memikirkan semua itu, untuk sekejap aku merasa jika aku membenci Sehun.

 

 

Fotoku yang bersama Ibu, adalah foto yang sangat indah. Di dalam foto itu aku duduk di pangkuan Ibuku, memegang sebuah piring kertas berisi cream cake yang sudah dimakan setengah bagian. Cream cake adalah cake favoritku sejak dulu hingga sekarang. Dalam foto itu aku mengenakan topi pesta di kepalaku. Topinya berwarna putih, dengan motif polkadot bercorak pelangi di setiap permukaannya. Ibuku juga mengenakan topi yang sama. Rambut Ibuku panjang, berwarna cokelat dan di tata dengan tatanan sederhana, namun tampak menakjubkan. Dia mengenakan kemeja dan juga rok dengan motif bunga-bunga berwarna merah. Ibu tersenyum dalam foto itu, senyuman yang paling kusukai, dan aku juga tersenyum di sana. Kami berdua tampak bahagia. Ibu sedang memegang sebuah garpu plastik di dalam foto itu, dan pipiku tampak menggembung, menandakan jika aku sedang memakan cake yang disuapkan oleh Ibu ketika foto itu diambil. Di dalam foto itu aku mengenakan celana bercorak gelap yang sudah tampak memudar dan juga kemeja berwarna merah, tampak sangat mirip dengan kemeja yang dikenakan oleh Ibu. Di dalam foto itu, semuanya tampak bahagia. Kami berdua terlihat bahagia, dan segala sesuatunya benar-benar tampak sempurna.

 

 

Foto Ibuku itu membuat senyumanku jadi melebar jika mengingat begitu banyaknya masa-masa indah yang pernah kulewati bersamanya. Salah satu kenangan mulai kembali berputar-putar di dalam pikiranku seperti sebuah film, dan aku mulai teringat dengan ‘memori yang satu itu’.

 


Flashback

“Mommy, bolehkah aku ikut dengan Mommy hari ini? Aku tak suka pada Mrs. Nana.” Rengekku sambil cemberut pada Ibuku.

 

 

Aku juga ingin bertemu dengan anak-anak lain! Aku merasa cemburu karena sepertinya Ibuku lebih senang menghabiskan waktunya dengan anak-anak lain ketimbang dengan anaknya sendiri yaitu aku!  Dia selalu saja meninggalkanku bersama pengasuhku yang membosankan, Mrs. Nana, yang selalu saja memaksaku untuk ikut menonton drama bersamanya sepanjang hari.

 

 

“Honey, jika kau ikut, kau akan mati kebosanan sepanjang hari ini.” Kata Ibuku. Ibuku menunjukkan senyumannya untukku, kemudian ia menarik pinggangku dan membawaku kepangkuannya, lalu ia menyisir rambut cokelatku. Aku mencoba bertingkah cute dengan menggembungkan pipiku sambil menatapnya dengan mata doe-ku yang besar.

 

 

“Aku ingin melihat juga kemana saja Mommy pergi!” kataku, dan ia langsung tertawa, tawa yang sangat kukagumi. Ibu berjanji jika ia akan membawaku hari ini, membuatku begitu bersemangat. Kebetulan sekali! Akhirnya aku bisa juga melihat anak-anak lain yang selalu menghabiskan waktu bersama Ibuku.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

Aku menyambar topi merah pudarku dan mencengkram kotak bekal yang bergambar Power Ranger erat-erat ketubuhku ketika aku mengikuti langkah Ibu memasuki mobil. Panas matahari begitu terik, membuatku merasa sedikit pusing. Keringat membasahi kulitku membuatku mengeluarkan rengekan protes pada Ibu. Aku tak pernah bisa menikmati musim panas, aku tak suka udara yang terlalu panas maupun yang begitu lembab. Aku baru merasa nyaman ketika aku sudah duduk di dalam mobil yang ber-AC ini. Ibu menyuruhku duduk ketika aku mencoba melihat keluar jendela mobil. Aku merasa senang ketika mobil mulai berjalan karena aku bisa melihat-lihat pemandangan sambil menikmati angin.

 

 

“Lulu baby…” panggil Ibuku. Aku menoleh dan menatapnya dengan raut wajah penuh tanda tanya. Dia melirikku dengan cepat melalui cermin dalam mobil lalu ia mengedipkan matanya sambil melemparkan senyuman penuh kasih sayangnya padaku.

 

 

“Nanti ketika kita sudah sampai, kau harus menjadi pengertian pada keadaan apapun ya, okay dear?”

 

 

Aku menganggukkan kepalaku sebagai bentuk jawaban. Ibuku kembali tersenyum, lalu ia melanjutkan ucapannya, “anak-anak di tempat Mommy bekerja rata-rata memiliki kesulitan berbicara, beberapa dari mereka bahkan merasa tak nyaman jika diajak bicara, karena itu nanti kau tidak boleh memaksa mereka bicara ya, Sweety…”

 

 

“Ya, Mommy…” jawabku sambil melemparkan senyuman pada Ibuku.

 

 

Ketika kami tiba, aku langsung keluar dari mobil dengan cepat. Aku menatap huruf-huruf hitam berukuran besar yang terpampang di dinding. Aku berusaha keras membaca kata-kata yang terpampang di dinding itu, karena sebelumnya aku tak pernah membaca kata-kata seperti itu.

 

 

“Visu-visu?” kataku mencoba membaca, namun aku langsung terhenti di kata-kata pertama, dan aku mendengar Ibuku tertawa di belakangku. Aku menghentakkan kakiku dengan kesal sambil cemberut, kebiasaan yang baru-baru ini sering kulakukan.

 

 

“Visual and Audio Impairment Centre.” Jelas Ibu padaku, dan aku langsung membulatkan mulutku hingga membentuk huruf ‘O’. Aku masih berkedip-kedip dalam mode berpikirku, lalu aku segera berlari sambil mendekap kotak bekalku erat-erat ketika aku menyadari jika Ibu sudah berjalan di depanku. Ketika kami telah sampai di sana, aku membungkukkan tubuhku dengan ceria pada setiap orang-orang yang kulewati. Kudengar teman-teman Ibuku mengomentari tentang betapa cantiknya wajahku, dan kurasa pipiku sudah merona sekarang. Aku jadi merasa bangga atas diriku sendiri. Aku, si Lulu kecil, adalah anak yang sangat cantik. Ibuku menunjukkan sekeliling ruangan kantornya padaku. Aku dibawa dari mejanya hingga ke area regular. Kantor Ibu benar-benar membosankan. Dindingnya di cat dengan warna abu-abu yang tampak kusam dengan sofa ruangan yang berwarna hitam.

 

 

“Dimana anak-anaknya Mommy?” tanyaku, berusaha untuk tak menunjukkan ketidak-tertarikanku pada kantornya yang membosankan itu ketika aku menatapnya. Ibu membawaku kedalam pelukannya, kemudian ia menggendongku ke koridor menuju ke bawah.  Ibu berhenti di depan sebuah ruangan dan ia membuka pintu ruangan itu. Mataku sontak melebar karena aku merasa terkejut. Ruangan itu sangat luas sekali! Berbagai jenis mainan tersebar di seluruh permukaan karpet lantai. Anak-anak terlihat saling tertawa-tawa, cekikikan, dan juga berteriak-teriak dengan bebasnya. Ketika aku melihat mereka, pandanganku terhenti pada seorang anak laki-laki yang berada di sudut ruangan. Dia duduk sendirian di sudut ruangan dengan memegangi sebuah mobil mainan di tangannya, sesekali menyibak poni yang menjuntai ke matanya. Anak itu tak melakukan banyak hal, karena faktanya, anak itu hanya bermain dengan dirinya sendiri. Anak itu tampak begitu terisolir, sendirian. Ketika Ibu menurunkan aku dari gendongannya, aku langsung melangkah pasti menuju anak itu tanpa menabrak tubuh anak-anak lainnya. Aku mengeluarkan desahanku ketika aku telah berada di dekat anak itu.

 

 

“Hai, namaku Luhan.” Sapaku dengan senyuman cerah sambil melambai-lambaikan tanganku kearahnya. Dia hanya menatapku sebentar, lalu kembali mengalihkan tatapannya pada mobil mainannya lagi. Aku baru saja ingin menanyainya lagi, namun aku teringat pada kata-kata Ibuku tadi.

 

 

“Kau tidak mau bicara ya?” tanyaku lagi.

 

 

Mungkin kata-kataku terdengar kasar dan menyinggungnya, karena ketika aku selesai bertanya, kulihat buku-buku jarinya memutih saking kuatnya ia mencengkram mobil mainannya sendiri. Aku merasa bersalah, dan aku langsung meminta maaf padanya.

 

 

“A –aku minta maaf! Aku tak bermaksud bicara kasar padamu.” Kataku sambil membungkukkan tubuhku sedikit.

 

 

Aku menoleh ke sekeliling ruangan, dan aku melihat sebuah mobil mainan. Aku tersenyum ketika aku kembali menghadap anak itu. “Tapi tak apa, justru kita bisa bermain dengan tenang.” Kataku, lalu aku berlari mengambil mobil yang tergeletak itu dan kembali dengan cepat kearah anak itu. Aku mendudukkan diriku di sampingnya, dan bermain bersamanya meskipun suasananya benar-benar terasa sangat canggung. Semakin banyak aku memancingnya bicara, kurasa anak itu mulai merasa nyaman bermain denganku meskipun sejak tadi ia terus-menerus diam dan menghindari kontak mata denganku. Tiba-tiba suara seorang wanita terdengar, memanggil sebuah nama yaitu ‘Oh Sehun’, dan aku melihat anak yang berada di sampingku itu langsung berdiri.  Aku mengikuti dia, dan aku menatapnya dengan ceria.

 

 

“Jadi namamu Oh Sehun ya?” tanyaku, dan ia menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun. Aku memberikan pelukan yang erat untuknya, lalu aku hanya menatapnya yang mulai melangkah pergi. Aku senyum-senyum sendiri, lalu mendesah senang.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

Malamnya, aku menceritakan pada Ibu tentang teman baruku itu, Sehun. Tapi entah mengapa, Ibuku malah tampak terkejut dengan ucapanku. “Sehun mau bermain denganmu?” tanya Ibu, dan aku menganggukkan kepalaku sebagai jawaban. “Apakah kau keberatan jika Mommy memintamu untuk terus mengajaknya bermain, Sweetheart?” tanya Ibu lagi, dan aku pura-pura mempertimbangkan permintaan itu selama beberapa saat sebelum aku akhirnya menganggukkan kepalaku, padahal di dalam hati tadi aku langsung menyetujuinya.

 

 

Sejak hari itu, setiap kali Sehun memiliki jadwal, aku akan selalu menemani Ibuku ke klinik. Aku dan Sehun akan menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk bermain, dan sepanjang hari aku yang akan berceloteh terus-menerus sedangkan Sehun hanya diam. Aku tak merasa terganggu sedikitpun dengan keadaan itu. Kadang-kadang Sehun akan mengunjungi rumahku di akhir pekan, dan akupun juga begitu. Aku tak pernah tahu mengenai alasan apa yang membuat Sehun tak mau bicara, atau apakah ia memang tak bisa bicara? Aku tak pernah berani menanyakannya karena aku takut Sehun merasa tersinggung. Aku merasa senang dan merasa cukup dengan persahabatan kami yang seperti itu. Tapi suatu saat, aku mulai memutuskan untuk membuat Sehun agar mau berbicara denganku.

 

 

Ketika aku datang ke Klinik pada hari berikutnya, aku langsung memasuki ruangan bermain anak-anak seperti biasanya. Namun berbeda dengan sebelumnya, kali ini aku tak langsung menuju kearah Sehun. Aku hanya meliriknya saja, namun aku memilih bermain bersama anak-anak lain dan mengabaikan Sehun. Sambil bermain, sesekali aku melirik kearahnya, tapi perasaan bersalah langsung memukulku ketika aku melihat matanya yang berair. Aku merasa tak tega, tapi aku tak ingin menyerah. Aku benar-benar ingin membuat Sehun mau bicara padaku. Jadi sepanjang hari itu, aku hanya bermain dengan anak-anak lain sambil melirik Sehun sesekali hanya untuk melihat bagaimana reaksinya. Ketika kudengar suara seorang wanita yang memanggilnya, aku langsung mencelos karena merasa jika usahaku hari ini sia-sia. Rencanaku gagal. Aku menatap lantai dengan sedih sambil cemberut karena rencanaku bukannya berhasil, tapi malah menjadi bumerang bagiku sendiri. Tapi–

 

 

“L –Lu…Han!”

 

 

Pikiranku buyar. Sebuah suara lembut baru saja meneriakkan namaku. Aku mengerjap-ngerjap karena merasa terkejut. Aku membalikkan tubuhku untuk melihat siapa yang baru saja memanggil namaku, dan aku menatap shock ketika aku menemukan Sehun yang berdiri tak jauh dari posisi dudukku. Aku tersenyum gembira, lalu aku melompat berdiri dari posisi dudukku dan langsung memeluk Sehun erat-erat.

 

 

“Kau menyebutkan namaku! Kau sudah bisa bicara!” sorakku riang, dan kulihat ia hanya membulatkan bibirnya membentuk huruf ‘O’. Kulihat ia tersenyum, senyum malu-malu yang hampir tak terlihat tapi untungnya aku bisa melihatnya. Aku sangat senang karena rencanaku ternyata berhasil. Kuraih tangannya, lalu dengan senyuman lebarku, kugenggam jari-jemarinya  dengan lembut.

 

End Flashback


Sebuah suara keras yang menggema di dalam rumah membuyarkan segala pikiranku, membuatku langsung terduduk dengan shock. Aku bergegas turun dari ranjangku, lalu aku membuka pintu dengan hati-hati dan mulai berjalan menuruni tangga. Aku melihat Ayah berdiri di pintu ruang tamu, dan ia tampak begitu berantakan. Rambutnya kasar, pakaiannya acak-acakan, dan matanya juga terlihat sayu. Aku langsung melangkah cepat kearahnya, pikiranku mengenai hukuman tadi kembali terlintas di dalam kepalaku. Aku berteriak padanya, menyuruhnya memukulku, menyuruhnya menyakitiku dengan cara apapun, tapi Ayah tak melakukannya. Aku meninju dinding, membuat suara debaman yang keras, yang semoga saja membuat Ayah menjadi marah padaku. Tapi Ayah tetap tak melakukan apa-apa. Sebaliknya, Ayah malah tersandung hingga tubuhnya terjatuh di dalam pelukanku, membuatku menyadari jika reaksi alkohol telah membuat tubuhnya menjadi begitu lemah.

 

 

Aku mengerutkan kening sambil berusaha memperbaiki posisi tubuhnya dalam pelukanku, lalu aku memapahnya dan membawanya ke sofa. Aku tersadar. Aku baru menyadari jika mungkin hanya inilah satu-satunya kesempatan yang datang padaku untuk berinteraksi dengan Ayah tanpa harus diteriaki dan juga dipukuli olehnya. Keadaan ini membuat sisi sensitif dan juga emosionalku menjadi keluar. Dengan lembut kubaringkan tubuhnya di atas sofa, lalu aku berlari untuk mengambil selimut tipis dan aku kembali untuk menyelimuti tubuh Ayahku. Setelah aku menyelimutinya dengan baik, aku berlutut di sampingnya dan kutatap wajah tertidurnya yang tampak lelah. Aku hanya ingin Ayah menyayangiku, tapi karena Ayah tak mau memberikannya, aku memutuskan untuk mengambil keuntungan dari keadaan ini. Kucium pipi Ayah, lalu aku tersenyum sedih ketika aku bangkit berdiri. Aku memastikan segalanya terkunci dan aman, lalu aku berbalik untuk menatap Ayahku sekali lagi. Kulihat Ayah berbalik dalam posisi tidurnya.

 

 

“Aku menyayangimu, Dad….” Kataku dengan suara yang nyaris tak terdengar.

 


 

To Be Continued


A/N : Read the original story here.

 

 

 

 


 

Advertisements