WHAT BULLYING REALLY DOES TO YOU

344390-exo-hunhan-11

.

.

Story by Soupandcrisp123 & Pilsuk123

Translate by tmarionlie

.

HunHan

.

Yaoi | Angst | Depression | Romance | Mature

.

.


PREVIOUS STORY


Aku berhenti di ujung jalan. Kutatap rumahku. Lampu-lampu mati, dan tirai masih terbuka. Aku tahu jika Ayah pasti sedang tak berada di rumah, kecuali ia terlalu mabuk hingga tak mampu menyalakan lampu. Aku menghitung setiap langkahku mulai dari ujung jalan hingga ke pintu rumah. Jika saja perhatianku tidak terfokus pada hal lain, aku pasti akan berakhir kembali ke taman. Kulepaskan sepatuku sebelum aku membuka pintu. Aku tak ingin menciptakan kegaduhan. Kututup pintu pelan-pelan, dan aku berjingkat ke kamar tidurku, berhati-hati agar tak memijak kaca. Aku menjatuhkan diriku di atas ranjangku tanpa mengganti pakaian. Kurasakan ponselku bergetar, dan aku melihat satu pesan baru dari Sehun.

 

 

-Kita bicara sepulang sekolah besok-

 


 

CHAPTER 3 


Aku berdiri di depan cerminku, cermin yang merefleksikan bayangan seseorang yang tak pernah ingin kulihat. Kuanalisis wajahku sendiri, mencatat setiap ketidak-sempurnaan yang ada pada diriku. Wajahku tak telihat fresh, dan rambutku tidak lembut seperti rambut orang lain.  Mataku tak memiliki pancaran emosi seperti orang lain, dan kulitku juga tidak mulus, tidak indah seperti kulit orang lain.

 

 

Mengapa aku tak bisa seperti orang-orang lainnya?

 

 

Aku menatap bayangan pria yang ada di cermin itu, dan mataku mencari segala sesuatu tentang dirinya. Pria itu bukan aku. Dia mencitrakan image seseorang yang tak pernah ingin kulihat.

 

 

Aku benci dia.

 

 

Aku membencinya.

 

 

Dengan sebuah desahan pelan, aku mengedip-ngedipkan mataku karena airmataku mengancam untuk tumpah. Sekarang bukanlah saatnya untuk menangis.

 

 

Aku kembali menatap cermin dan mulai membubuhkan foundation untuk menutupi memar pada wajahku. Aku tak ingin orang lain melihat memar itu. Dengan penuh keyakinan ku-usap kedua mataku. Orang lain tak boleh melihat airmataku. Tampangku akan membuktikan kebodohanku. Seorangpun tak boleh ada yang tahu.

 

.

.

.

Aku meraih tas ranselku dan berangkat menuju sekolah. Orang-orang yang berada di sekelilingku terlihat berbisik-bisik dan mereka juga melemparkan tatapan tajamnya padaku. Kerumunan orang-orang langsung bubar begitu aku berjalan melewati mereka, yang membuatku otomatis menjadi pusat perhatian. Aku menghindari tatapan mereka dengan terus-menerus menatap lantai sambil berjalan. Sayangnya, aku tak bisa memblokir suara-suara bisikan yang serasa berdengung di dalam telingaku. Mungkin, kemungkinan saja, saat ini aku hanya sedang mengalami paranoid. Bisa saja kan mereka itu sebenarnya hanya membicarakan tentang segala hal? Tapi entah mengapa aku malah menghabiskan sisa pagiku di bawah ilusi ini sambil melirik terus-menerus pada setiap siswa yang kulewati.

 

 

Aku duduk di dalam kelas dengan perhatian yang hanya terfokus pada Mr. Choi sambil mencatat penuh semangat. Segala hal tentang Sehun dan juga anak-anak yang saling berbisik-bisik tadi menguasai seluruh pikiranku. Edukasi adalah segala-galanya bagiku. Cita-cita serta apresiasiku membuatku lebih banyak tenggelam dalam pikiranku ketimbang pada kenyataan. Bel sekolah berbunyi, membuatku langsung teringat pada Sehun. Kulihat semua orang bergegas pergi. Mereka semua meninggalkanku sendirian di dalam kelas, tanpa tatapan tajam, dan juga tanpa bisik-bisik.

 

 

Aku menatap pintu kelas, berdebat dengan pikiranku sendiri untuk memutuskan tentang apa yang harus kulakukan. Aku tak tahu bagaimana caranya berdiri diantara teman-temanku setelah kejadian kemarin. Aku sangat ingin menemui Sehun dan mempertahankan persahabatan kami. Persahabatan kami adalah sesuatu yang sangat berharga bagiku.

 

 

Akhirnya aku mendesah dan aku berdiri, kemudian aku menyeret langkah menuju kantin sekolah. Kulihat Sehun duduk di meja tempat kami biasa duduk, sedang tertawa bersama Kris. Jantungku berdetak semakin cepat seiring dengan langkah kakiku, dan tubuhku memanas karena hatiku berdebar terlalu kencang.

 

 

Sesampainya di meja mereka, aku langsung melingkarkan lenganku di bahu Sehun, memberinya sebuah pelukan hangat, dan aku sangat berharap dia telah melupakan kejadian kemarin. Kurasakan dia membeku karena merasa shock, dan tubuhnya sontak menegang. Dia berbalik untuk menatapku kemudian dia singkirkan lenganku dari bahunya.

 

 

“Apa yang kau lakukan?” desisnya padaku.

 

 

Aku menatap Sehun hingga beberapa detik. Kukedipkan mataku satu kali, dua kali, dan aku berharap jika ini hanyalah mimpi. Aku merasa sedikit emosi atas sikapnya itu tapi kukeluarkan kekehanku, berpura-pura jika aku baik-baik saja dengan sikap yang ia berikan padaku barusan. Tak ada yang boleh tahu tentang rasa sakitku. Aku harus berpura-pura bahwa segalanya masih baik-baik saja.

 

 

“Tentu saja aku melakukannya karena aku merindukan HunHun-ku.” Kataku dengan nada yang kubuat-buat.

 

 

Meskipun sikapnya tadi tampak seperti penghinaan bagiku, aku tak akan membiarkan Sehun melihat seberapa besar sakit yang kurasakan. Dia belum boleh melihatnya. Kulihat wajahnya berubah warna menjadi merah padam. Aku sangat ingin menembak mati diriku sendiri karena sebenarnya aku juga merasa sangat malu. Kulihat pancaran kebencian pada tatapan matanya sebelum akhirnya wajahnya tampak melunak. Sepertinya dia sedang berusaha menutupi ekspresi jijiknya, tapi sayangnya aku bisa melihatnya meskipun aku berharap agar aku tak bisa melihatnya.

 

 

“Begitu ya…”katanya dengan wajah tanpa ekspresi. Aku bisa melihat jika dia berusaha sangat keras untuk menghindari kontak mata denganku. Sekarang dia terlihat canggung.

 

 

“Ya, dan aku ingin duduk menikmati makan siang dengan teman-teman konyolku.” Kataku sambil mengedipkan mata dan tersenyum padanya. Aku mencoba membuat senyumanku tampak asli dan juga nyata. Meskipun respon yang kudapatkan tak begitu hangat, tapi aku tak ingin menyerah untuk mendapatkan teman-temanku kembali. Aku belum boleh menyerah.

 

 

“Tch, dia pikir kita ini teman-temannya apa?” cibir Lay sambil tertawa, lalu sekejap saja keberadaanku telah dilupakan oleh mereka.

 

 

Aku berdiri di samping Sehun dan mendengarkan apa yang mereka obrolkan. Sebenarnya aku merasa tidak nyaman berbicara sendiri dari balik punggung mereka. Aku berkomentar kesana-sini untuk mengingatkan bahwa aku masih berdiri disini, di belakang punggung mereka. Sesekali Sehun menganggukkan kepalanya ketika aku mengeluarkan komentarku, menunjukkan padaku jika dia masih menganggap keberadaanku disini. Tapi meskipun dia melakukan hal itu, entah mengapa aku masih merasa seperti outsider. Sepertinya mereka semua memandang rendah padaku. Aku tahu mereka sengaja mengasingkanku tapi mereka memiliki alasan untuk melakukan itu, dan sialnya alasan itu aku yang memberikannya.

 

 

Kurasakan ponselku bergetar. Kukeluarkan ponsel itu dan aku melihat sebuah pesan berantai dari nomor tak dikenal yang membuatku tertarik untuk melihatnya.

 

 

––Luhan adalah Homo! Sepertinya Sica yang menemukan Diary-nya! Dia bilang dia ingin berpacaran dengan Sehun. What a fucking Gay!––

 

 

Aku melihat Lay mengeluarkan ponselnya, lalu ia menyeringai. Baekhyun langsung tertawa begitu ia melihat isi pesan teks itu. Kris menyikut Sehun dan menunjukkan pesan teks itu pada Sehun. Kulihat wajah Sehun langsung pucat pasi, dan dia terlihat speechless. Aku melihat Sehun mengepalkan tangannya, kemudian aku mendengar beberapa suara ringtones ponsel yang berdering. Kutatap sekeliling kantin, dan aku melihat anak-anak mengeluarkan ponsel-ponsel mereka untuk mengecek pesan yang masuk ke ponsel mereka. Bisikan-bisikan menjadi semakin kuat, semakin keras, hingga akhirnya terdengar semakin jelas. Dan tatapan mereka? Aku yakin semua tatapan sedang mengarah padaku sekarang. Aku tidak sedang paranoid saat ini.  Aku merasa ruangan ini berputar-putar, dan pandanganku menjadi blur oleh benda-benda dan orang-orang dengan bentuk yang tak beraturan. Kusambar tasku, lalu aku berlari menuju tempat yang tersembunyi. Aku menenggak dua butir pil obat tanpa meminum air sedikitpun.

 

 

Kutatap awan-awan sambil mencengkram dadaku, merasakan seberapa cepat jantungku berdetak. Alisku bertaut dalam karena aku merasa sangat ketakutan. Bagaimana caraku menghadapi semua orang mulai dari sekarang? Aku adalah sebuah lelucon, lelucon kotor yang menyedihkan. Kesalahan terburuk adalah fakta bahwa aku telah menyeret Sehun ke dalam segala kekacauan ini. Kulitku terasa merinding oleh perasaan tak berdayaku, dan sensasi familiar menyebar ke seluruh tubuhku, membuatku mati rasa. Kuraih segenggam rambutku, dan kujambak keras-keras. Kuhukum diriku sendiri atas apa yang telah kulakukan pada Sehun. Berapa banyakpun aku memikirkan tentang hal ini, aku tetap saja tak bisa menemukan alasan mengapa aku menjadi gay seperti ini. Mungkin saja aku memang memiliki gangguan mental. Mungkin saja ini adalah bentuk pelampiasanku karena aku kehilangan Ibuku. Tapi bagaimana bisa aku menjadi begitu tega menorehkan luka yang begitu dalam pada sahabatku untuk sebuah alasan karena aku ingin meringankan rasa sakitku sendiri oleh kepergian Ibu?

 

 

Aku mulai mengurutkan segala kesalahan yang telah kulakukan di dalam pikiranku, segala hal yang kulihat di cermin pagi ini. Aku berpikir tentang masalah personalitiku, masalah preferensi penyakitku. Namun segala kesalahan itu tak ada habisnya meskipun aku sudah merasa sangat tersiksa setengah mati. Beban pikiranku menjadi semakin bertambah berkali-kali lipat, dan akhirnya aku memutuskan untuk mencari cara mengalihkan diri. Aku harus keluar dari lubang neraka ini. Kuraih tasku dan aku membukanya, kemudian aku mencari sesuatu di dalamnya. Setelah aku menemukan apa yang kucari, aku merasa jika sebagian stress yang ada pada diriku menjadi agak ringan. Kutatap benda yang berada dalam genggamanku itu.

 

 

Rubix Cube milikku.

 

 

Aku memfokuskan seluruh perhatianku untuk memecahkan teka-tekinya. Sesekali, rubik itu menjadi kacau dan aku akan mengulangnya lagi dari awal. Apapun akan kulakukan untuk menenangkan syaraf-syarafku, apa saja agar pikiranku teralihkan sementara dari segala masalah. Aku terus-menerus memainkan rubik itu sampai aku merasa jika aku sudah mulai bisa sedikit berpikir jernih. Aku menyandar pada dinding, bersembunyi dari semua orang. Aku menghabiskan waktu berjam-jam hanya dengan menatap awan sambil memegangi rubik itu.

 

 

Dering bel yang terdengar familiar di telinga menandakan jika hari ini telah berakhir. Alih-alih beranjak pergi, aku malah memutuskan untuk tetap duduk pada tempatku. Aku bisa mendengar suara obrolan, tawa, dan juga candaan yang bersumber dari para siswa. Aku mendesah, lalu aku menunduk.

 

 

––Aku sangat berharap agar aku bisa seriang mereka––

 

 

Setelahnya, tak ada lagi yang kupikirkan hingga pikiranku mulai melayang kearah Sehun. Aku mulai merasa gelisah ketika aku teringat pada pembicaraan kami kemarin. Kutelan ludahku dengan susah payah, mencoba menelan segala kegugupan itu ke dalam perutku sendiri. Aku sangat takut Sehun menginginkanku agar menghilang dari hidupnya. Aku juga merasa takut jika Sehun ikut mengolok-olokku seperti yang lainnya. Aku takut dia menyadari tentang masalah-masalahku yang begitu banyak. Aku sangat takut kehilangan dia. Aku benar-benar takut.

 

 

Aku tak tahu sudah berapa lama aku duduk. Dadaku terasa sangat sesak ketika aku memikirkan tentang Sehun. Beberapa saat kemudian kurasakan ponselku bergetar. Anehnya, kali ini aku mengecek siapa orang itu. Nafasku terasa terhalang untuk keluar saat aku melihat isi pesannya. Itu dia! Sehun.

 

 

–Taman. Sekarang–

 

 

Aku bangkit berdiri, memilih untuk mengabaikan rasa sakitku dan mulai melangkah menuju taman. Aku mulai berlari-lari kecil. Sebenarnya aku sangat takut berbicara dengan Sehun, tapi ini benar-benar penting dan aku tak ingin melewatkan kesempatan ini. Aku berlari cepat agar aku cepat sampai di taman. Tetes-tetes keringat terasa mengalir melalui sisi wajahku. Aku mengabaikan rasa sakit yang tak tertahankan di paru-paruku ketika aku sampai di taman itu. Aku hanya ingin bertemu dengan Sehun. Aku mengedarkan tatapanku ke sekeliling taman itu, namun aku tak menemukan Sehun dimanapun.

 

 

‘Bagaimana jika aku datang terlalu lama? Bagaimana jika Sehun telah pergi?’

 

 

Aku merasa panik, membuat kepalaku mendadak pusing dan aku mulai berputar-putar di sekitar taman untuk mencari Sehun. Kuhela nafasku, dan aku merasa terengah-engah. Aku mencoba agar kembali bisa bernafas dengan normal.

 

 

Aku merasa putus asa. Kujatuhkan tubuhku ke tanah dan kurasakan rumput membelai lembut pada kakiku. Aku menelan ludah dan kujilat bibirku untuk melembabkan bibir keringku yang terasa perih karena pecah-pecah. Kudengar suara pagar yang berderik terbuka. Aku mendongak, dan aku melihat Sehun berjalan kearahku. Kutundukkan kepalaku, berpura-pura tak melihat dia dan hanya menatap lurus pada sepatu Converse tuaku yang sudah compang-camping. Aku mendengar suara langkahnya yang menyusuri tanah semen kemudian telapak sepatunya telah menjejak di atas rumput yang lembut hingga akhirnya berhenti sama sekali.

 

 

Kami terjebak di dalam keheningan hingga beberapa menit karena kami sama-sama tak tahu harus bicara apa. Ketika aku mendogakkan kepalaku, kulihat ia berdiri beberapa meter dariku, seperti sedang menjaga jarak di antara kami, yang membuatku merasa tak nyaman dengan hal itu. Ku-ulurkan tanganku kearahnya, mencoba bersikap biasa saja seperti dulu ketika orang-orang belum tahu kalau aku menyukainya. Sehun menatap uluran tanganku dan ia tatap tangannya sendiri, kemudian ia kembali menatap tanganku. Dia mengulurkan tangannya kearah tanganku dengan ragu-ragu, mengikis jarak di antara kami. Kurasakan harapanku muncul begitu saja dan kutatap uluran tangannya itu dengan harap-harap cemas. Aku sangat ingin dia memberikan sikap hangatnya lagi padaku, dan aku juga ingin merasakan tekstur lembut kulit tangannya. Jari-jari kami hampir saja bersentuhan, tapi tiba-tiba saja dia menarik tangannya kembali.

 

 

Sehun menarik dirinya menjauh dariku.

 

 

Dia bahkan tak mau bersentuhan denganku lagi sekarang.

 

 

Aku menatap perih pada tanganku yang masih mengambang di udara. Aku benar-benar merasa malu. Akhirnya kuturunkan tanganku. Aku tahu jika aku terlalu berharap banyak pada Sehun. Jelas-jelas dia belum siap untuk berbicara denganku, tapi aku memaksanya. Egois, itu adalah sifat yang paling kubenci dari diriku sendiri. Kutundukkan kepalaku ketika aku menyadari sifatku yang satu itu, satu kejelekan lagi dari diriku. Personalitiku sepertinya memang benar-benar bermasalah.

 

 

“Jadi kau gay.” kata Sehun tiba-tiba, membuyarkan segala pikiranku.

 

 

 

“Aku tak berdaya menahannya…” Bisikku dengan pahit sambil mengerutkan keningku.

 

 

“Omong kosong!” kutuknya, dengan nada yang membentak dan ia juga menatap tajam padaku.

 

 

Aku meringis, aku merasa hatiku seperti di cengkram kuat. Ucapannya itu mengingatkanku pada Ayahku sendiri, dan aku sedang tak ingin mengingatnya. Dengan sedih, aku bergerak mendekati Sehun, sedekat yang aku mampu. Aku menatap dia dengan tatapan yang memohon. Pandanganku sedikit mengabur karena airmata telah mengambang dimataku.

 

 

“Aku akan berubah, aku janji! Ini tidak akan permanen, aku hanya sedang sial karena mengalami fase seperti ini!” mohonku, membohongi Sehun dan juga membohongi diriku sendiri. Aku tak perduli, aku akan melakukan apapun agar Sehun tetap berada di sisiku. Apapun itu.

 

 

“Aku akan berusaha memperbaiki semuanya! Aku akan membuang penyakit gay-ku jauh-jauh, aku bersumpah! Persahabatan kita tak akan terusik hanya karena hal ini. Kita sudah saling mengenal begitu lama dan kita juga sudah melalui begitu banyak hal bersama-sama. Please, kita harus tetap kuat dan harus tetap menjaga hubungan persahabatan kita.”

 

 

Sehun mendesah, lalu tangannya menjambaki rambut di kedua sisi kepalanya sendiri, hal yang sering ia lakukan akhir-akhir ini. Akhirnya ia buka matanya dan ia menatapku dengan tatapan mengandung emosi yang tak mampu kubaca.

 

 

“Apa kau sudah selesai dengan pidato tololmu itu?” katanya sambil meludah, membuat hatiku bergejolak nyeri.

 

 

“Bagaimana bisa aku membantumu mengatasi segalanya hanya dengan kata-kata omong kosong seperti itu? Aku tak bisa mengontrol seluruh siswa yang berada di sekolah sialan ini, dan aku juga tak bisa menghentikan SMS agar tak terus-menerus bergulir. Kau harus tahu, aku sudah mencobanya! Kita memang berteman dan aku ini adalah seorang Kapten sepak bola. Tapi kau? Kau hanyalah kau, dasar pengacau! ––Sehun menelan ludahnya dengan kepalan tangan yang gemetaran–– Kita sama sekali berbeda! Ya, aku memang membiarkanmu selalu mengikuti kemanapun. Ya, aku memang memaksa teman-temanku agar selalu bersikap ramah padamu. Tapi tidakkah kau berpikir jika semua masalah ini telah mengambil segala kebanggan yang kita miliki pergi begitu saja, huh?” katanya.

 

“Tak masalah, itu tak begitu penting. Aku tak perduli dengan orang lain, aku hanya akan perduli padamu saja.” Kataku berargumen, dan aku merasa semakin menyedihkan.

 

 

Stop ber-akting dan mengatakan omong kosong seperti kita ini adalah sepasang kekasih!” bentak Sehun, dengan pancaran mata penuh kebencian dan juga tatapan jijiknya padaku.

 

 

Inilah ambang batasnya.

 

 

“Maafkan aku…jangan marah padaku…Maafkan aku…” kataku sambil menangis. Airmata benar-benar telah mengalir di wajahku. Aku tahu saat ini aku benar-benar terlihat seperti sampah, aku ini Homo yang tak disukai siapapun.

 

 

“Kau tahu? Ibumu pasti akan merasa sangat malu jika saja ia masih hidup saat ini. Apa kau pikir Ibumu akan memamerkan putera gay-nya pada orang-orang jika ia masih hidup? Atau kau pikir dia akan menyombongkan segala hal tentangmu dan juga segala omong kosong yang ada pada dirimu itu?” tanya Sehun dengan suaranya yang sedingin es, membuatku langsung menatapnya dengan mata yang melebar terkejut karena kata-katanya itu.

 

 

“Aku bisa b-berubah, aku bersumpah…” kataku terbata-bata, dan aku merasa jika duniaku runtuh saat ini juga. Aku merasa sakit, aku merasa marah pada diriku sendiri karena aku menjadi seperti ini. Aku benci pada diriku sendiri, sangat benci!

 

 

“Apa Ayahmu tahu kalau kau seperti ini? Setelah apa yang telah ia lakukan untukmu, inikah balasan yang kau berikan pada Ayahmu? Dengan menjadi Homo yang menjijikkan? Dengan melenggang bagai seorang Gay Princess tolol?” teriak Sehun.

 

 

Akhirnya ia meluapkan kemarahannya juga padaku.

 

 

Sehun mau menatapku juga pada akhirnya, dengan tatapan mata yang tak menunjukkan apapun di dalamnya selain tatapan kebencian, jijik, dan juga kemarahan. Perutku serasa diputar-putar, dadaku terasa sangat sakit dengan rasa sakit yang tak tertahankan. Sepertinya fisikku juga ikut sakit karena hatiku yang hancur.  Harapanku yang tinggal sedikit telah musnah. Hatiku hancur berkeping-keping. Semuanya telah dihancurkan oleh pria yang kusukai.

 

 

Aku mulai gemetaran. Airmataku tak mau berhenti mengalir. Aku mati rasa baik di luar maupun di dalam. Kudengar sebuah gerutuan pelan, tapi sekejap kemudian aku tak mendengar apapun lagi. Aku menolak untuk mendengar apapun. Aku memaksakan diriku untuk berdiri, lalu tanpa menatap Sehun lagi aku berjalan pergi dengan terhuyung-huyung. Aku tahu aku harus di hukum atas segala kesalahan yang telah kuperbuat.

 

 

‘Dad, maafkan aku…Maaf karena aku telah berdosa…’ –pikirku, dengan wajah yang mengerut kesakitan sebagai efek dari rasa sakit yang menjalari tubuhku. Aku mulai berpikir tentang hukuman apa yang pantas untuk kudapatkan. Dengan memikirkan hal itu, aku memutuskan untuk berjalan pulang ke rumah dengan langkah yang tertatih-tatih tanpa melihat lagi ke belakang, dan aku juga tak merasakan ketakutan pada apa yang berada di hadapanku. Aku memang harus di hukum.

 


 

To Be Continued


 A/N : Read the original story here.

 

 

 

Advertisements