WHAT BULLYING REALLY DOES TO YOU

344390-exo-hunhan-11

.

.

Story by Soupandcrisp123 & Pilsuk123

Translate by tmarionlie

.

HunHan

.

Yaoi | Angst | Depression | Romance | Mature

.

.


PREVIOUS STORY


Aku berlari dengan cepat untuk merebut Diary-ku, tetapi Jessica mengangkatnya tinggi-tinggi di atas kepalaku, jauh dari jangkauan tanganku.

 

 

“Tolong kembalikan.” Kataku sambil mencoba melompat, namun rasa sakit yang menjalari seluruh tubuh membuatku jatuh berlutut. Ku tatap wajah Sehun, dan ekspresinya tak bisa kubaca sama sekali. Aku melangkah ke arahnya, tapi Sehun malah mundur.

 

 

“Jangan mendekat kau Homo!” katanya padaku.

 

 

“Please Sehun….aku tak pernah menyangka kau akan menemukan hal ini.” Kataku sambil merangkak ke depan dan memeluk kakinya, membuatku teringat akan kejadian tadi, saat aku memeluk kaki Ayahku.

 

 

“Kumohon Sehun…aku membutuhkanmu…” kataku memelas, dan aku mendengar yang lain kembali menertawaiku lagi, lalu kurasakan Jessica menarik tanganku agar aku menjauh dari Sehun.

 

 

“Keluar kau!” kata Sehun mengusirku.

 

 


 

CHAPTER 2


 

Aku memaksakan diriku untuk berdiri dan menatap Sehun tepat pada matanya, berusaha untuk tidak gentar. Kami saling bertatapan hingga beberapa detik. Tak satupun dari kami berkata-kata hingga akhirnya Sehun membuang muka. Dia meraih ranselku dan mendorong ransel itu ke pelukanku dengan dorongan yang sedikit kasar, yang membuatku tersentak dan shock.

 

 

“Lebih baik kau segera pergi.”katanya.

 

 

Aku menatap ke sekeliling ruangan dan merasakan atmosfernya kini menjadi tegang. Alih-alih tertawa seperti sebelumnya, kini semua orang malah menatapku dan Sehun. Aku mulai gemetaran. Tanganku mengepal. Perasaan sakit yang kurasakan selalu terhenti pada pemikiran irrasional yang mengambil alih pikiranku.

 

 

“Kau mengusirku?” kataku mengulang keinginannya itu dengan terkejut.

 

 

Sehun mengeluarkan desahannya, mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. Aku tak melakukan apapun, tapi kurasa aku telah kehilangan sahabatku ini. Dia membungkuk dan meraih kotak P3K, lalu menyodorkannya padaku. Aku hanya menatap kotak itu namun aku tetap diam. Aku tak ingin bergerak dari posisiku.

 

 

“Bisakah kau segera mengusirnya Sehun? Mataku jadi sakit hanya karena melihat dia.” Kudengar salah satu teman Jessica bicara.

 

 

Aku mengabaikan ucapan gadis itu dan tetap diam dalam posisi berdiriku, menunggu Sehun berbicara. Aku tak akan pergi. Tidak akan sebelum aku mendapatkan kejelasan. Kurasakan Jessica meraih pergelangan tanganku dan menyeretku paksa menuju pintu.

 

 

“Tinggalkan pacarku sendiri!” bisik gadis itu di telingaku.

 

 

“Sehun, please…” aku memanggilnya dalam kesia-siaan. Aku melihat Sehun menjatuhkan dirinya ke sofa dengan raut wajah yang sedih. Dia meletakkan kepalanya di tangannya sendiri.

 

 

“Maafkan aku Luhan…” hanya itu yang ia katakan dan dalam sekejap, wajahnya tampak benar-benar menyesal.

 

 

Aku menyambar Diary-ku dari tangan Jessica dan menggenggamnya erat-erat. Jessica menangkap gelagatku yang tampak lemah, dan kesempatan itu dia gunakan untuk mendorong tubuhku. Aku tersandung di ambang pintu dan mendarat pada lantai beton. Kulihat Sehun muncul dari balik tubuh Jessica, dan mataku langsung berbinar. Kukira Sehun akan membantuku, membelaku. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Dia hanya datang untuk melemparkan kotak P3K itu padaku lalu dia langsung menutup pintu dengan sangat keras.

 

 

“Sehunnie!” teriakku sambil menggedor-gedor pintu kayu itu.

 

 

Aku mendengar suara musik dinyalakan, meredam suaraku yang sedang memohon. Kusandarkan punggungku pada pintu itu.  Kurasakan gelombang kecemasan memenuhi diriku. Nafasku menjadi tak teratur. Rasa sakit yang teramat sangat menohok di dalam dadaku. Mataku mulai berkunang-kunang, dan aku merasa pusing. Aku berjuang keras hanya untuk mengambil nafas. Kuletakkan telapak tanganku di atas dadaku, merasakan degupan jantungku sendiri. Dengan panik aku mulai mengacak-acak tas ranselku.

 

 

Di setiap detik yang berjalan, rasa stress-ku bertambah hingga dua kali lipat.  Aku meyipitkan mataku agar penglihatanku menjadi jelas. Setelah beberapa lama berjuang, akhirnya aku berhasil mendapatkan obatku. Kutenggak dengan cepat dua buah pil ke dalam mulutku, lalu aku menyandar pada tembok. Aku memejamkan mata dalam kesulitan, berdoa agar serangan sakit pada dadaku segera berakhir secepatnya. Air mata kelegaan mengalir di pipiku  ketika kurasakan nafasku telah kembali normal. Aku menyimpan kembali pil obatku pada tempatnya dengan gemetaran. Ketakutanku perlahan-lahan memudar, dan aku merasa kesadaranku mulai pulih. Diriku benar-benar menyedihkan. Aku mulai kembali pada realita yang ada. Pil obat yang kuminum tadi membuatku mampu berpikir realistis meskipun aku sebenarnya tak mau karena pikiran jernihku hanya akan membuatku harus mengakui bahwa Sehun tak ingin melihatku lagi sekarang ini.

 

 

Aku mengumpulkan kekuatanku dan menatap pintu rumah Sehun untuk terakhir kalinya, kemudian aku beranjak pergi dengan langkah yang terpincang-pincang. Aku tak tahu harus kemana sekarang. Aku tak berani pulang kerumah. Aku terlalu takut untuk berurusan dengan Ayahku lagi. Menginap di rumah Sehun sudah tak mungkin bisa lagi kulakukan mulai dari sekarang. Aku juga tak bisa menginap di rumah Chen, tidak dengan keadaanku yang seperti ini. Keadaanku ini hanya akan menimbulkan pertanyaan demi pertanyaan bagi pemuda itu. Aku tak ingin menambah masalah yang lebih besar lagi dari masalah yang kupunya saat ini.

 

 

Aku melangkah terus tanpa tujuan, tanpa arah yang pasti dalam pikiranku, dan tiba-tiba saja aku telah berada di taman. Aku duduk di ayunan, lalu mengayunkan tubuhku di ayunan itu. Pikiranku melayang-layang pada ekspresi tak terbaca Sehun beberapa waktu tadi. Aku teringat pada kotak P3K yang ia berikan, lalu aku menarik Hoodie-ku untuk melihat lukaku sendiri. Darahnya sudah berhenti sejak tadi. Aku yakin luka itu pasti akan meninggalkan bekas. Kukeluarkan cairan antiseptik dari dalam kotak P3K itu dan membersihkan lukaku. Rasa sakit yang ditimbulkan oleh antiseptik itu tak seberapa, tak sebesar rasa sakit yang kualami sebelumnya. Aku melilit lukaku dengan perban agar lukaku tak mengalami infeksi.

 

 

“Aku tak butuh diingatkan” bisikku pada lukaku yang tersembunyi. Kulilitkan perban yang tersisa pada pergelangan kakiku sendiri untuk mendukungku berjalan. Aku duduk selama berjam-jam dengan tatapan kosong. Setiap suara yang muncul membuatku takut, dan aku berdoa untuk keselamatanku sendiri hingga berkali-kali.

 

 

“Apakah Tuhan akan mendengarkan doa-doa dari seorang Pendosa?”gumamku sedih.

 

 

Aku menatap tasku, dan mulai menimbang-nimbang untuk mengirimkan SMS pada Sehun.

 

 

-Bisakah kita bicara?- Ketikku. Tidak-tidak, kata-kata itu terlalu samar. Bertemu di taman jam sepuluh malam? Tidak, Sehun pasti tak akan datang. Untuk apa dia datang ke taman pada jam ini? Sebaiknya aku jujur saja.

 

 

-Aku sedang berada di taman. Aku tak tahu harus pergi kemana. Bisakah kita bicara, please?-

 

 

Tak ada yang kulakukan selain hanya menatap ponselku bahkan hingga satu jam berikutnya. Aku mencoba mengerti mengapa Sehun bersikap seperti ini. Ini memang sangat mengejutkan. Jika aku menjadi dia, aku juga pasti akan melakukan hal yang sama, bahkan mungkin lebih buruk. Aku mengkhianati dia ketika dia mempercayaiku.

 

 

Aku memutuskan untuk mengirimkan SMS lagi pada Sehun. Aku memegangi ponselku dengan gemetaran.

 

 

-Sehun, aku mengalami sesak nafas sejak tadi dan kini aku sedang berjuang mengatasinya. Bisakah kita bicara?-

 

 

Aku menatap layar ponselku dan melihat uap putih kecil keluar dari mulutku ketika aku bernafas. Suhu udara semakin menurun. Aku merasakan ototku mulai melemah. Aku sudah hampir merasa putus asa ketika kurasakan getaran pada ponselku.

 

 

Satu pesan baru dari Sehunnie.

 

 

-Makan obatmu.”- hanya itu balasan SMS dari Sehun, membuatku merasakan gelombang kemarahan memenuhi diriku sampai ke pembuluh darahku.

 

 

“Hanya begini sajakah keperdulianmu padaku? Pantaskah kau disebut sebagai sahabatku, Oh Sehun?” kataku kesal, tapi selanjutnya aku baru menyadari jika aku tak memiliki hak untuk marah padanya.

 

 

Aku adalah makhluk keji. Aku merasa sedang menghukum diriku sendiri dengan berpikir begitu. Aku sangat ingin membuang ponselku saat aku sadar jika aku tak akan mendapatkan balasan SMS darinya lagi setelah ini.

 

 

“Bagaimana caranya membuat dia kembali mengkhawatirkanku?” kataku putus asa.

 

 

Aku mencoba tidur, namun angin malam membangunkanku. Aku meraih tas ranselku, kemudian mulai melangkahkan kakiku menuju tempat yang terang. Aku duduk di bawah tiang lampu, membuka resleting tas ranselku dan mengeluarkan Diary-ku dari sana. Aku merobek satu halaman kertas, kemudian mulai menulis sebuah surat.

 

 -Untuk Mommy

  

Ini aku, Luhan kecilmu Mom…Hari ini adalah hari yang tak begitu baik untukku. Sehun sudah tahu kalau aku gay. Sehun merasa hancur Mom, dan itu semua adalah salahku. Sialnya, dia mengetahuinya bukan karena aku yang mengaku padanya, tapi karena dia menemukan Diary-ku. Aku tak tahu apa yang harus ku lakukan. Sebagian besar diriku menyuruhku lari dan bersembunyi. Perasaanku tidak enak, dan sialnya aku merasakan hal ini terus-menerus. Perasaan membenci diri sendiri kembali datang padaku. Untuk pertama kalinya di hari ini, aku merasa jika hatiku begitu hancur….

 

Kulihat airmataku jatuh di permukaan kertas itu, dan cepat-cepat kusingkirkan air mata itu.

Aku bertemu dengan gadis itu hari ini. Dia cantik, Mom. Namanya Jessica. Aku merasa sangat cemburu, tapi aku hanyalah sahabat Sehun. Aku hanya harus berdoa agar dia beruntung.

 

Daddy masih berjuang mengatasi masalah yang ada pada dirinya sendiri. Dia masih mengalami sedikit masalah, tapi jangan khawatir Mom, tak ada yang tak bisa kutangani.

 

Aku selalu menyayangi Mommy

 

-Lu Han-

 

Aku melipat rapi kertas itu, lalu kurekatkan keempat sudutnya. Aku tak menulis apapun di bagian depannya kecuali kata ‘MUM’ dengan huruf yang jelas, dan juga besar. Aku melangkah menuju kotak surat yang berada di dekatku. Kucium surat itu dan menggumamkan doa dengan singkat sebelum akhirnya aku mengeposkan surat itu.

 

 

Aku mulai berjalan pulang. Pulang ke rumah. Aku tak punya pilihan lain. Aku tidak bisa tidur di taman, tidak dengan cuaca begini. Kukepalkan jari-jariku di dalam sakuku sendiri agar tanganku terasa hangat. Semakin aku dekat dengan rumah, langkahku semakin lambat. Kilas balik dari kejadian tadi kembali terulang dalam ingatanku.

 

 

Tak apa-apa Luhan…Dia itu Ayahmu, kau tak perlu takut padanya –pikirku.

 

 

Aku berhenti di ujung jalan. Kutatap rumahku. Lampu-lampu mati, dan tirai masih terbuka. Aku tahu jika Ayah pasti sedang tak berada di rumah, kecuali ia terlalu mabuk hingga tak mampu menyalakan lampu. Aku menghitung setiap langkahku mulai dari ujung jalan hingga ke pintu rumah. Jika saja perhatianku tidak terfokus pada hal lain, aku pasti akan berakhir kembali ke taman. Kulepaskan sepatuku sebelum aku membuka pintu. Aku tak ingin menciptakan kegaduhan. Kututup pintu pelan-pelan, dan aku berjingkat ke kamar tidurku, berhati-hati agar tak memijak kaca. Aku menjatuhkan diriku di atas ranjangku tanpa mengganti pakaian. Kurasakan ponselku bergetar, dan aku melihat satu pesan baru dari Sehun.

 

 

-Kita bicara sepulang sekolah besok-


 

To Be Continued


 A/N : Read the original story here.

 


 

Advertisements