WHAT BULLYING REALLY DOES TO YOU

344390-exo-hunhan-11

.

.

Story by Soupandcrisp123 & Pilsuk123

Translate by tmarionlie

.

.

HunHan

Yaoi | Angst | Depression | Romance | Mature

.

.


CHAPTER 1

“Dasar Homo tak berguna!”

 

 

Aku menatap ke arah tanah sambil gemetaran. Ku dengar Ayah melangkah dengan lambat. Dari sudut mataku, aku bisa melihatnya mengambil satu tegukan bir lagi dari botol bir miliknya. Di setiap langkah yang ia ambil, gemetaran pada tubuhku semakin meningkat hingga sepuluh kali lipat . Kugigit bibirku, untuk mencegah agar aku tak sampai pingsan.

 

 

D-Dad, kumohon maafkan aku, maafkan aku.” Tangisku.

 

 

“Maaf untuk apa persisnya?” kata Ayah padaku.

 

 

Aku jatuh berlutut dan tak sanggup untuk menatapnya, terlalu malu untuk menatap Ayah.

 

 

“Maaf untuk apa persisnya?” ulangnya.

 

 

Aku membawa lututku hingga menempel di dadaku, kemudian tubuhku mulai bergoyang maju mundur saking takutnya.

 

Jangan khawatir Luhan, ini akan segera berakhir dan kau bisa pergi menemui Sehun.

 

 

“Kau pikir apa yang sedang kau lakukan?” gertak Ayah.

 

 

Aku merasa dadaku di cengkram, dia datang. Aku tahu itu. Ini sudah seperti sebuah rutinitas. Aku tahu persis bagaimana ini akan terjadi.

 

 

Ayah mencengkram tulang selangkaku yang gemetaran, lalu mendorong tubuhku dengan bertenaga. Kepalaku terhentak ke belakang hingga membentur tepian meja. Aku mengerang kesakitan dan mataku terasa berkunang-kunang. Tak lama kemudian kurasakan perutku di hantam. Rasanya dua kali lipat lebih sakit. Ayah menjambak rambutku, menarik kepalaku kembali dan memaksaku menatap matanya.

 

 

“Kau tak mau menjawabnya juga, bocah Homo? Untuk apa kau meminta maaf?”

 

 

Ketimbang menjawab pertanyaan Ayah, aku memutuskan untuk mencoba menenggelamkan suara Ayah. Mataku melayang lurus ke arah foto yang terletak di atas bahunya, foto yang menampilkan aku saat masih berumur dua tahun, yang sedang tersenyum bersama Ibuku. Foto itu memberikan beberapa ons energi padaku untuk menghadapi situasi saat ini.

 

 

“Tetap tak mau menjawabku, huh?”

 

 

Ayah menendang perutku, yang menyebabkanku tersandung hingga kehilangan keseimbangan. Mengikuti insting, kutempatkan lenganku di atas wajahku sendiri, untuk memproteksi wajahku ketika posisiku masih berjongkok, dan Ayah melemparkan botol kosongnya ke arahku. Aku menghindar, dan botol itu meluncur melewati telingaku, mengarah lurus pada cermin yang berada di belakangku dan menghantamnya hingga cermin itu pecah. Ku abaikan rasa sakitku, kemudian aku merangkak menuju ke depan, menempatkan tanganku untuk memeluk kaki Ayah, kemudian aku menempelkan kepalaku juga disana.

 

 

Dad, kumohon…Ini aku, Luhannie-mu…” kataku memohon.

 

 

“…..”

 

 

Dad, aku menyayangimu…Kumohon sayangi aku juga…Daddy ingat saat Mommy masih ada di antara kita? Sayangi aku lagi seperti saat itu Dad, kumohon…” kataku, lagi-lagi memohon.

 

 

“Menyayangimu lagi? Apa kau sadar pada apa yang kau ucapkan?”

 

 

Ayah kembali menendang perutku, membuat posisiku jadi meringkuk seperti janin di dalam kandungan hanya untuk meringankan rasa sakitnya. Ayah menempatkan sepatu boot-nya pada ankle kakiku, memijaknya dan secara bertahap menambah tekanannya, membuatku menjerit kesakitan. Ayah berjongkok di sampingku, masih sambil menambah kuat tekanan pada pijakannya.

 

 

“Berani-beraninya kau menyebut nama Ibumu!” kata Ayah sambil meludah, hanya beberapa inci saja dari wajahku. Ayah meraih lenganku dengan kasar, kemudian menariknya ke belakang punggungku. Kulihat Ayah mengambil sepotong pecahan kaca, dan mengarahkan kaca itu ke tubuhku untuk mengancam. Aku mulai meronta-ronta, menendang kesana- sini menggunakan kakiku yang bebas, berusaha untuk melepaskan diri, tapi cengkraman Ayah terlalu kuat.

 

 

“Kau layak mendapatkan hukuman.”  Itulah yang dikatakan oleh Ayah sebelum menikamkan potongan kaca itu ke pergelangan tanganku dan mengiris tanganku secara melintang. Rasa sakit seketika menyerang tanganku. Aku bahkan tak mencoba menahannya lagi sekarang. Aku menjerit keras sambil meronta-ronta kesakitan. Aku tak bisa melihat pergelangan tanganku sendiri karena Ayah masih menginjak kakiku dan menahan tanganku di belakang tubuhku, tapi aku bisa merasakan bahwa darahku kini telah menetes-netes, membasahi punggungku.

 

 

“Sakit kan?” tanya Ayah, dengan senyuman sadis pada wajahnya.

 

 

Ayah menikamkan potongan kaca itu ke pergelangan tanganku sekali lagi, dan kali ini aku hanya diam tanpa melawan. Aku sudah terlalu lemah, terlalu menyedihkan untuk melawan. Ku dengar suara pintu yang diketuk, dan Ayah langsung melepaskanku setelah menyuruhku pergi ke lantai atas ketika ia menjawab ketukan pada pintu. Meskipun rasanya sangat menyakitkan, aku berjalan dengan tertatih-tatih secepat yang aku bisa. Kuraih tas ranselku, dan aku mulai memasukkan apa-apa yang kubutuhkan ke dalamnya, sikat gigiku, buku Diary-ku, dan juga beberapa underware untuk cadangan. Aku mendengar suara Sehun, yang membuatku langsung membeku seketika.

 

 

“Selamat sore Mr Xi, apa Luhan ada di rumah? Aku memiliki acara kumpul-kumpul bersama di rumahku, dan Luhan sudah berjanji jika dia akan datang.”

 

 

“Dia bilang begitu?” Kudengar Ayahku bertanya dengan nada manisnya yang palsu. Aku tak bisa melakukan apapun selain hanya menelan ludahku dengan susah payah.

 

 

Aku mulai bergerak cepat, berjalan terpincang-pincang ke sekeliling kamar untuk mengumpulkan barang-barangku. Aku mendengar suara pintu yang ditutup dengan sangat keras, lalu aku mendengar suara langkah kaki yang menaiki tangga. Cepat-cepat ku tutup resleting tas ranselku, lalu aku hanya diam menunggu.

 

 

Lagi-lagi Ayahku mencengkram kerah bajuku.

 

 

“Dengarkan aku, bocah sialan! Pergilah ke pesta itu dan bertingkahlah secara normal. Jika aku mendengar kau mengadu pada seseorang, siapapun orangnya, kau akan tahu sendiri apa yang akan terjadi padamu nanti.” Ancam Ayah padaku.

 

 

Aku menganggukkan kepalaku untuk menunjukkan pada Ayah bahwa aku mengerti, kemudian aku menyambar Hoodie-ku dan berjalan keluar secepat yang aku bisa. Meskipun dengan terpincang-pincang, akhirnya aku berhasil mencapai ujung jalan sebelum akhirnya aku terjatuh karena merasa kesakitan. Kuseret paksa tubuhku ke tepian jalanan dengan air mata yang mengalir di pipiku. Tubuhku mulai gemetaran, dan aku mulai merasa kesulitan untuk bernafas.

 

 

Aku menarik lengan bajuku dan menatap dua garis merah merata yang melintang dalam pada kulitku yang putih. Terlihat kontras dan sangat mencolok.

 

 

“Aku pantas mendapatkan semua ini. Ayah benar, aku memang pantas mendapatkan semua ini. Tuhan, kenapa kau membuatku menjadi gay? Kau sendiri yang bilang bahwa itu adalah dosa, tapi kenapa kau membuatku menjadi seperti ini?” bisikku.

 

 

Aku tak perduli dengan tatapan aneh orang-orang ketika mereka melihat penampilanku. Aku duduk untuk menunggu Sunset, dengan segala pikiran-pikiranku yang berkecamuk, kemudian aku memutuskan untuk pergi menuju rumah Sehun. Semua orang pasti sudah pergi dari rumah Sehun sekarang ini. Aku mengangkat tubuhku dengan susah payah untuk bediri. Rasa sakitnya benar-benar tak tertahankan. Aku tak bisa menopang berat badanku pada kakiku sendiri tanpa menangis dengan suara yang keras. Kubungkukkan tubuhku ke depan, itu adalah upayaku untuk meringankan rasa sakit yang menyerang daerah perutku. Aku berjalan tertatih-tatih, dan melangkah kecil-kecil seperti seorang bayi yang sedang berjalan.

 

 

Aku mengetuk pintu rumah Sehun sambil bersandar untuk mengurangi rasa sakit. Sehun membukakan pintu dan muncul dengan senyuman yang biasanya hanya ia tunjukkan pada teman-temannya. Untuk sesaat, aku melupakan rasa sakitku ketika aku melihat senyumannya. Kulihat tatapan matanya yang semula ceria berubah menjadi tatapan shock sekaligus ngeri saat matanya itu melihat bagaimana keadaanku sekarang ini.

 

 

“Kenapa begitu lama?” Jangan katakan padanya jika kita sedang berkencan tanpaku.” Kudengar Jessica berteriak.

 

 

Aku melihat Jessica muncul dari belakang tubuh Sehun, kemudian gadis itu melingkarkan sebelah lengannya ke pinggang Sehun sedangkan lengan yang satunya lagi dia gunakan untuk memiringkan kepala Sehun agar dia bisa menggapai bibir pemuda itu. Kulihat Sehun menutup matanya sambil mencondongkan tubuhnya ke depan untuk menyambut ciuman gadis itu dan Jesicca menyeringai ke arahku, lalu dalam sekejap saja keberadaanku telah di lupakan oleh mereka. Hatiku langsung terasa amat hancur sama seperti cermin pecah tadi, dan kedua lututku melemas hingga aku terjatuh ke depan.

 

 

“Woah.” Sehun bergerak maju dengan cepat untuk menangkap tubuhku sebelum aku sempat terjatuh. Dia ambil tas ranselku dan melemparkannya pada Jessica, lalu ia membawaku masuk ke dalam rumahnya.

 

 

“Ayo pergi ke kamar mandi dan bicara.” Bisik Sehun di telingaku, dan aku menganggukkan kepalaku sebagai jawaban.

 

 

Aku menatap ke sekeliling ruangan dan aku melihat ada Kris, Baek, Kai, serta Lay. Mereka sedang duduk bersama para gadis yang tak ku kenal, mungkin teman-temannya Jessica.  Kubiarkan Sehun menarik tanganku dan menyeretku kearah kamar mandi. Dia menyuruhku duduk di tepian bathub sebelum ia mengambilkan handuk dan membungkus bahuku dengan handuk itu. Dia berlutut di depanku, lalu ia genggam tanganku. Gesekan kain Hoodie pada luka di pergelangan tanganku membuatku meringis kesakitan. Dia menatap heran padaku, lalu mengalihkan tatapannya lagi kearah pergelangan tanganku. Aku tahu dia sedang menimbang-nimbang, dan tak lama kemudian ia telah meraih kedua tanganku secara bersamaan.

 

 

“Luhannie, bolehkah kutarik Hoodie-mu keatas?” tanyanya dengan nada serius.

 

 

Aku menggeleng ketakutan dan menarik kedua tanganku yang digenggamnya, lalu aku menyilangkan tanganku didepan dadaku sendiri.

 

 

“Apa yang terjadi? Kau harus memberitahuku Luhan, atau aku bersumpah akan menelepon Polisi.”

 

 

Aku mulai menangis, tubuhku merosot turun dari tepian bathub dan terduduk di pangkuan Sehun. Kucengkram erat kemejanya seolah-olah dia akan menghilang jika aku melepasnya. Aku terisak-isak dengan tak terkendali. Sehun mengelus punggungku sambil membisikkan kata-kata yang menenangkan di telingaku. Dia raih tanganku ke dalam genggamannya, lalu ia menarik  Hoodie yang  kukenankan dengan lembut. Matanya mengamati memar biru keunguan yang tercetak di perutku, membuatku merasa seperti sedang tertangkap basah dan juga merasa sangat buruk. Aku menggeliat, berusaha melepaskan cengkramannya. Dia mengerti dengan ketidaknyamanan yang kutunjukkan meskipun aku tak mengatakan apapun, karena itu dia turunkan Hoodie-ku lagi hingga menutupi tubuhku. Pelukannya pada tubuhku terasa semakin mengerat, dan Sehun menarikku agar lebih merapat lagi ke tubuhnya.

 

 

“Tenangkan dirimu, Lulu.” Bisiknya, tapi aku hanya diam. Kami terjebak di dalam keheningan selama hampir sepuluh menit, hingga akhirnya ia meraih pergelangan tanganku dan menggenggamnya. Dia menatapku dengan tatapan penuh tanda tanyanya, dan aku menganggukkan kepalaku, berusaha mengatakan jika aku baik-baik saja. Dia menarik tanganku ke atas, dan ia tersentak kaget ketika melihat luka pada pergelangan tanganku.

 

 

“Apa yang telah terjadi Lu? Apa kau yang melakukan ini sendiri? Mengapa kau melakukan hal seperti ini? Seharusnya kau meneleponku, bagaimana bisa kau melakukan hal seperti ini?” Tanyanya tanpa henti karena ia merasa bingung.

 

 

“Bukan aku yang melakukan ini.” Bisikku, dan kurasakan tubuhnya menegang hingga aku tahu jika Sehun mengerti. Aku menatap luka pada pergelangan tanganku, yang bahkan tak bisa kulihat jelas dimana letak sayatannya. Kulihat tetesan airmata jatuh ke tanganku hingga membuatku merasa bingung karena aku tidak sedang menangis. Aku mendongak, dan melihat air mata itu mengalir dari wajah Sehun.  Kami duduk diam di dalam keheningan.

 

 

“Aku akan mengambil kotak P3K.” Kata Sehun dengan lembut sambil menggeserkan tubuhku dari pangkuannya.

 

 

Aku duduk di atas lantai yang dingin, menunggu Sehun datang kembali, namun setengah jam telah berlalu dan ia belum kembali juga, membuatku mulai merasa kebingungan.

 

 

Di mana Sehun, dan mengapa semua orang tertawa?

 

 

Aku merangkak keluar dari kamar mandi, mengabaikan rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhku.

 

 

“Sehun…” panggilku dengan suara yang pelan.

 

 

Aku berjalan menuju ke ruang tamu, dan kulihat Sehun sedang duduk dengan memegang sebuah buku bersampul kuning.

 

 

“Sehun memeluk tubuhku, dan kurasakan jantungku seakan ingin meledak. Aku berharap waktu akan terhenti.”

 

 

“Tunggu, yang ini sedikit lucu.” Kata Baekhyun mengumumkan. “Aku tak merasa nyaman lagi tertidur di samping Sehun. Pikiranku telah berubah. Aku tak mencintainya sebagai seorang sahabat lagi. Aku mencintainya seperti seorang kekasih ketika ia mulai memelukku dengan pelukan yang sangat erat. Aku harus bisa menahan diriku untuk tak menciumnya meskipun aku sangat berharap jika aku bisa benar-benar menciumnya.” Baekhyun membaca dengan suara yang keras hingga semua orang yang berada di dalam ruangan itu tertawa terpingkal-pingkal.

 

 

Aku berlari dengan cepat untuk merebut Diary-ku, tetapi Jessica mengangkatnya tinggi-tinggi di atas kepalaku, jauh dari jangkauan tanganku.

 

 

“Tolong kembalikan.” Kataku sambil mencoba melompat, namun rasa sakit yang menjalari seluruh tubuh membuatku jatuh berlutut. Ku tatap wajah Sehun, dan ekspresinya tak bisa kubaca sama sekali. Aku melangkah ke arahnya, tapi Sehun malah mundur.

 

 

“Jangan mendekat kau Homo!” katanya padaku.

 

 

Please Sehun….aku tak pernah menyangka kau akan menemukan hal ini.” Kataku sambil merangkak ke depan dan memeluk kakinya, membuatku teringat akan kejadian tadi, saat aku memeluk kaki Ayahku.

 

 

“Kumohon Sehun…aku membutuhkanmu…” kataku memelas, dan aku mendengar yang lain kembali menertawaiku lagi, lalu kurasakan Jessica menarik tanganku agar aku menjauh dari Sehun.

 

 

“Keluar kau!” kata Sehun mengusirku.


 

To Be Continued


 A/N : Read the original story here.

 


 

Advertisements