Queer & Proud

 

ibp0Qyn0C7iZEf

Story By Lynn_Star

.

Translate By tmarionlie

.

.

EXO Official Couple  |  HunHan  |  ChanBaek  |  KaiSoo  |  ChenMin  |  Yaoi  |  Fluff  High School Romance  |  Rate T


PROLOG


“Sehun, kau sudah siap?”

Pria yang di tanyai itu mengalihkan pandangannya dari ponsel yang ia genggam. Dia tatap Ibunya yang kini sedang duduk menyandar pada kursi mobil, yang menatapnya dengan senyum gelisah. Sehun memaksakan senyuman tentatifnya kemudian mengangguk.

“Ya.”

Sehun menyelipkan ponselnya ke dalam saku dan bergegas keluar dari mobil. Dia raih dua tas ransel miliknya dari dalam bagasi, lalu menyampirkan keduanya di bahunya sendiri. Sehun membalikkan tubuh untuk melihat Ibunya yang saat ini sedang melangkah menuju ke arahnya. Wanita itu merentangkan tangannya dengan canggung, kemudian memeluk puteranya sendiri. Sehun meringis, namun memberikan pelukan lemah juga sebelum akhirnya melepaskan diri dari pelukan itu.

Well–“ Ibu Sehun kini tampak kehilangan kata-kata, tak begitu yakin dengan apa yang ingin dia ucapkan pada situasi semacam ini.

“Aku akan merindukan Ibu.” kata Sehun, memutuskan untuk membuat ini menjadi singkat. Lagipula ini bukanlah semacam perpisahan. “Aku akan segera bertemu dengan Ibu secepat mungkin, biasanya juga begitu kan?”

“Sehun, jangan terlalu berpikiran negatif dulu. Kau pasti akan cocok secara sempurna dengan sekolah ini, Ibu yakin akan hal itu.” bujuk Ibunya.

“Bu, terakhir kalinya Ibu bilang kalau aku pasti akan berakhir dengan di keluarkan pada minggu pertama.”

Senyum kecil Ibunya pecah. “Itulah intinya.”

Keheningan yang berat, mengikuti statement yang di lontarkan oleh Ibunya, dan Sehun menggigit bibirnya sendiri dengan gugup. Sehun melihat Ibunya juga melakukan hal yang sama.

“Aku akan pergi sekarang.” kata Sehun.

Sehun memberikan pelukan terakhirnya sebelum berbalik dan mulai melangkah menuju pagar sekolah.

“Jangan lupa untuk menelepon!”

Sehun melambaikan tangan ke arah Ibunya sebelum menutup pagar besi besar itu dibalik tubuhnya. Dia lihat Ibunya sudah mulai mengemudikan mobil. Sehun menghela nafas beratnya, kemudian ia berdiri menghadap ke arah sekolah. Sehun telah bersekolah di empat SMA yang berbeda tahun lalu. Hal itu terjadi bukan karena dia menunggak pembayaran sekolah, apalagi karena ia melanggar peraturan ataupun karena ia memukuli orang-orang yang tak bersalah. Dan bukan pula karena kedua orangtuanya memiliki jenis pekerjaan yang menuntutnya untuk selalu berpindah-pindah. Bukan. Satu-satunya alasan mengapa Sehun selalu di keluarkan dan selalu mendaftar masuk ke sekolah-sekolah baru yang seolah sudah menjadi rutinitas sehari-harinya itu hanya karena Sehun kurang beruntung saja.

Sehun hanya kebetulan tertangkap oleh kamera CCTV ketika ia duduk di sebelah orang yang membajak mobil Kepala Sekolah. Sehun juga secara sengaja mencampurkan dua jenis cairan Kimia sekaligus, dan sekejap setelahnya setengah dari gedung sekolah tiba-tiba saja telah penuh oleh kepulan asap. Sehun juga tak bermaksud menyandung seorang siswa kikuk yang berjalan di depannya, bukan salahnya jika siswa itu pada akhirnya jatuh berguling-guling di tangga hingga lengan dan kakinya patah.

Dan di sinilah dia, menjadi newbie di SMA yang lainnya. Sehun telah menjadi begitu terbiasa sekarang-sekarang ini hingga ia tak lagi merasakan nervous ataupun malah merasa excited. Sehun sangat yakin jika ia pasti akan di keluarkan dari sekolah ini hanya dalam hitungan beberapa minggu, atau mungkin saja ia akan bertahan pada keseluruhan semester, itupun kalau dia beruntung, jadi Sehun tak merasa jika ia perlu berusaha.

Pada moment ketika Sehun sedang melangkah, tiba-tiba saja tubuhnya di tabrak dengan tubrukan yang sangat kuat hingga ia jatuh terjerembab ke tanah. Ia menoleh dan menatap seorang pria berpostur tinggi menjulang yang kini tengah menatapnya juga dengan tatapan terkejut.

Sorry! Cicit pria itu sambil menggaruk kepalanya. “Aku terburu-buru supaya bisa cepat sampai di kelas. Aku bersumpah aku tak melihatmu.”

“Tak apa.” Jawab Sehun.

Saat melihat pria itu hanya berdiri di hadapannya dan tak bergerak sama sekali, Sehun langsung menaikkan alisnya.

“Eh, bukannya kau harus cepat menuju ke kelasmu ya?”

Mata pria tinggi sontak melebar dan ia menepuk tangannya secara bersamaan. “Ah, ya! Kau anak baru ya? Namaku Park Chanyeol, sampai jumpa ya!”

Sehun mendengus saat pria tinggi itu kabur. Dia memang tak pernah berteman untuk jangka waktu yang lama, tapi ia memiliki kemampuan untuk menilai orang lain melalui pengalamannya yang sering berpindah-pindah, dan Sehun akan memutuskan sendiri mana yang lebih ia sukai maupun yang tak ia sukai untuk berasosiasi dengan dirinya. Pria yang baru saja ia temui tadi, si Park Chanyeol itu, tentu saja akan berada di dalam list kelompok orang-orang yang perlu ia hindari. Orang-orang yang hyper, yang selalu terlihat senang, dan juga yang terlalu bersemangat adalah tipe orang-orang yang selalu membuatnya merasa kesal setengah mati.

Akhirnya Sehun mencapai gedung sekolah juga. Ia dorong pintu utama, kemudian ia membawa dirinya masuk. Hal pertama yang ia lihat adalah lantai keramik yang mengkilap, dan juga lampu hias berukuran raksasa yang tergantung di langit-langit. Sebuah meja resepsionis di tempatkan tepat di tengah-tengah ruangan dengan seorang gadis berusia sekitar dua puluh tahunan yang saat ini sedang mengetikkan sesuatu di komputernya. Sehun berdehem, dan gadis itu mendongak dengan senyuman cerahnya.

“Oh, aku belum pernah melihatmu sebelumnya. Apa kau siswa baru itu? Oh Sehun?”

Sehun mulai bertanya-tanya bagaimana bisa semua orang mengenalnya. Lagipula kedatangan siswa baru seperti dirinya bukan hal yang aneh kan?

“Ya.” Kata Sehun, meskipun merasa tak nyaman dengan tatapan gadis itu. Ekspresi gadis itu kini terlihat lebih cerah, dan ia juga tertawa. Gadis itu meraih sebuah Folder dari sebuah tumpukan besar, kemudian ia menyerahkannya pada Sehun.

“Kau bisa menemukan segala informasi yang kau butuhkan di situ. Kelasmu, nomor asramamu, jam makan siang, dan juga hal-hal lainnya. Bahkan di situ juga terdapat peta agar kau tak tersesat. Sekolah ini cukup luas, jadi aku merekomendasikan padamu agar kau selalu membawa itu di hari pertamamu ini. Mungkin kau harus pergi membongkar barang-barangmu terlebih dulu di dalam kamar asramamu.  Asrama D terletak di sebelah kanan.”

Sehun memegangi Folder itu erat-erat dan menganggukkan kepalanya. Sebelum melangkahkan kakinya menuju koridor di sebelah kanan, ia mendengar gadis itu mendoakannya dengan ucapan semacam ‘semoga beruntung’, tetapi untuk beberapa alasan yang aneh, Sehun justru merasa gelisah. Ia gigit bibirnya, kemudian melihat ke bawah, pada map yang ia pegang di tangannya.

“Belok kanan, kemudian lurus, akan ada Ruang Kesenian…”

Sehun mendongak dan tersenyum ketika ia melihat papan tanda berukuran besar dengan kata Ruang Kesenian di atasnya.

“Lewati Ruang Kesenian, dan belok ke kiri…”

Sehun mengikuti segala petunjuknya hingga ia sampai di depan sebuah pintu kaca berukuran besar. Alphabet D terukir pada pilarnya, dan dia bisa melihat deretan pintu-pintu yang tersusun rapi dengan nomor-nomor yang berurutan. Tiba-tiba saja Sehun menyadari bahwa sekolahnya kali ini berbeda dengan sekolah-sekolahnya yang terdahulu. Ini bukanlah kali pertama ia berada dalam asrama sekolah, namun ini adalah pertama kalinya ia berada dalam sekolah dengan royalti seperti ini. Sehun bahkan membolak-balik Folder hanya untuk memastikan bahwa QP High School ini memang benar-benar sekolah umum atau bukan.

Sehun membuka pintu secara perlahan kemudian melangkah memasuki koridor. Lantai yang terbuat dari marmer, membuatnya seolah seperti berjalan di dalam sebuah Istana. Dia berjalan cepat sambil mengecek setiap nomor pada pintu. Dia harus menemukan kamar bernomor #D67. Akhirnya matanya mendarat pada set angka yang sama dengan yang ia cari. Sehun mendesah lega dan merasa senang karena akhirnya bisa menurunkan tas-tas beratnya ke bawah, kemudian ia buka pintu kamar itu.

Kamar itu relatif sederhana. Ada dua buah ranjang yang terletak di dekat tiap-tiap dinding, dan ada juga dua buah meja belajar identik yang diletakkan secara berdampingan satu dengan lainnya, yang berada di sebelah kanan balkon kamar. Setiap meja belajar telah di isi dengan kertas-kertas dan juga buku-buku, sementara bagian lainnya di biarkan kosong. Aroma aneh menyeruak ke dalam hidung Sehun, dan ia melihat potongan-potongan sampah tergeletak di sekitar kamar, tapi Sehun menganggap hal seperti itu sangat normal untuk ukuran kamar remaja pria sepertinya. Tapi tiba-tiba saja perhatian Sehun teralihkan pada seorang pria yang berpostur sedikit lebih pendek dari dirinya, dengan rambut kotor bercorak blonde yang kini tengah menatap langsung ke arahnya. Mata doe pria itu berkedip satu kali sebelum ia berjalan memasuki kamar sambil tersenyum lebar.

Belum lagi Sehun mengenalnya, pria itu malah telah berlari dan melompat cepat ke atas tubuhnya, merobohkannya ke atas lantai. Sehun mengerang dan menatap pria yang berada di atas tubuhnya itu dengan tatapan shock.

 

“Oh Sehun! Welcome home!”


To Be Continue


 A/N : Baca Prolog di Queer & Proud ( Prologue )

Advertisements