Queer & Proud

 

ibp0Qyn0C7iZEf

.

Story By Lynn_Star

 

.

Translate By tmarionlie

 

.

.

EXO Official Couple | HunHan | ChanBaek | KaiSoo | ChenMin | Yaoi | Fluff HighSchool Romance | Rate T

.

.


CHAPTER 4 – PERSON OF INTEGRITY


 

Sehun terbangun relatif lebih awal, dan ketika ia terjaga jam baru menunjukkan angka tujuh. Sarapan tak akan memakan waktu hingga setengah jam, jadi dia masih memiliki waktu lebih banyak lagi untuk bersiap-siap. Dengan perlahan Sehun bangkit dari ranjangnya, ranjang yang sebenarnya sangat enggan untuk ia tiduri namun ia tak memiliki pilihan lain. Dia merasa merinding ketika teringat akan kejadian kemarin, lalu ia cepat-cepat pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

 

 

 

Sehun baru ingat jika dia lupa membawa pakaiannya sendiri dari kamarnya, karena itu ia menyambar handuk besarnya dan melilitkan handuk itu di sekeliling pinggang sebagai pengganti pakaian. Dia buka pintu kamar mandi itu, lalu ia melangkah menuju lemari pakaian yang ia gunakan bersama dengan Luhan. Tiba-tiba saja ia mendengar suara jeritan bernada tinggi yang membuatnya terjungkal kearah depan. Sehun berbalik dan ia menemukan Luhan yang kini sedang melongo menatapnya.

 

 

 

“Oh My fucking God, Sehun! Kau menakutiku!” kata Luhan.

 

 

“Kau bilang aku menakutimu? Kau yang berteriak seperti gadis!” balas Sehun.

 

 

Luhan mengeratkan cengkaramannya pada selimutnya sendiri lalu wajahnya tiba-tiba saja menjadi merah, karena itu cepat-cepat ia alihkan tatapannya kearah lain.

 

 

“Bisakah kau pakai pakaianmu?” kata Luhan.

 

 

Sehun mengerutkan alisnya, tapi pemuda itu tak mengatakan apapun dan hanya mengambil seragam sekolahnya, lalu ia kembali memasuki kamar mandi. Ketika ia keluar dari kamar mandi, ia melihat Luhan sudah mengenakan seragamnya dan saat ini pemuda itu sedang sibuk berjalan mondar-mandir di sekitar kamar mereka dengan wajah yang terlihat gugup.

 

 

“Kau tidak mandi dulu?” tanya Sehun, yang membuat Luhan langsung terlonjak kaget karena suara Sehun yang tiba-tiba terdengar.

 

 

“Oh, tidak. Aku sudah mandi tadi malam, saat kau berada di luar.”

 

 

Sehun menganggukkan kepalanya acuh. Dia melangkah menuju ranjangnya, merapikan bantal dan selimutnya kemudian ia berjalan menuju meja belajarnya, mengambil beberapa materi pelajaran yang ia butuhkan. Luhan masih tetap berdiri tegak, menatap roommate-nya itu.

 

 

 

“Apa kau selalu bangun sepagi ini?” tanya Luhan dengan suara pelan.

 

 

Sehun mendongak, dan ia melihat Luhan menatapnya dengan tatapan penasaran.

 

 

“Begitulah…Kau?” tanya Sehun.

 

 

“Biasanya sekitar 5 menit sebelum kelas dimulai. Aku bahkan tak ingat kapan terakhir kali aku benar-benar sarapan pagi.” Jawab Luhan.

 

 

Sehun mendengus. “Well, entah kenapa aku tak merasa heran,” katanya.

 

 

“Mungkin memiliki seorang roomate memang memberikan perubahan yang sangat bagus.” celoteh Luhan, membuat Sehun merasa takjub jika memikirkan bagaimana bisa raut wajah Luhan yang tadinya terlihat begitu gelisah dan aneh kini berubah menjadi ceria dalam waktu sekejap saja.

 

 

“Aku justru merasa ragu.” gumam Sehun teramat pelan. Dia menyampirkan tasnya ke punggungnya sendiri dan hendak melangkahkan kakinya keluar kamar, tapi tangan Luhan mendadak menahannya.

 

 

 

“Sehun, tunggu! Apa kau tak akan sarapan bersama kami?” tanya Luhan saat tangan Sehun sudah memegang kenop pintu. Pria tinggi itu berbalik dan menatap Luhan.

 

 

“Kami?”

 

 

“Ya, kami. Aku dan teman-temanku. Kau tahu kan, teman-teman yang kau temui di meja saat makan siang kemarin itu lho,” jawab Luhan.

 

 

Sehun mengernyit ketika ia teringat pada memori tak menyenangkan itu. Dia gelengkan kepalanya lalu ia tepis tangan Luhan pelan-pelan.

 

 

“Maaf ya, tapi aku pikir aku tak akan kembali makan di satu meja bersama kalian lagi,” tolaknya sambil membuka pintu kamar, berniat pergi ke kafetaria sendirian untuk sarapan, namun ia terganggu oleh suara langkah kaki yang terdengar tergesa-gesa di belakangnya. Dia berbalik, dan ia menemukan Luhan yang kelihatannya sedang berusaha keras menjaga langkah kakinya agar tak tertinggal.

 

 

“Kalau kau tidak mau sarapan bersama kami, maka aku yang akan menemani kau sarapan.” Kata Luhan sambil membetulkan letak tas ranselnya dengan sikap canggung. “Pada jam ini tak ada satu orang siswapun yang akan datang ke kafetaria, jadi kurasa kita berdua akan menjadi satu-satunya manusia yang akan berada di sana,” lanjutnya.

 

 

Luhan, kau benar-benar tak perlu melakukannya,” cegah Sehun.

 

 

“Tapi aku mau!” jawab Luhan.

 

 

Sehun mendesah pasrah. Dengan cepat ia melangkahkan kakinya menuju kafetaria, dan seperti yang Luhan bilang tadi, tempat itu memang benar-benar masih kosong. Dia raih sebuah piring, lalu ia mengambil beberapa lembar roti panggang, sebuah telur dan juga sepotong daging, kemudian ia melangkah menuju salah satu meja. Luhan mengikuti setiap langkahnya dengan cepat, dan ia mendudukkan dirinya tepat di samping Sehun.

 

 

Sehun menatap sekilas kearah piring Luhan dan dalam sekejap saja ia telah melongo saat melihat seberapa banyak pancake yang mengisi piring itu.

 

 

 

“Apa kau yakin bisa menghabiskan itu semua?” tanyanya pada Luhan, namun pemuda yang ia tanyai itu malah tampak merasa heran dengan pertanyaan yang ia lontarkan barusan.

 

 

Luhan menunjuk kearah piringnya sendiri. “Apa? Ini? Ini sama sekali bukan masalah untukku,” jawabnya cuek.

 

 

“Kau itu benar-benar membuatku merasa sangat takjub hanya dalam sekejap, Luhan.”

 

 

Luhan melirik Sehun dengan senyuman cerah yang terpatri pada wajahnya. “Apakah itu sebuah pujian?” tanyanya.

 

 

Sehun mengeluarkan dengusannya. “Ya, makan saja semua yang mau kau makan,” katanya, lalu ia kembali fokus pada makanannya sendiri.

 

 

Luhan tampaknya sedang berada dalam mood yang sangat baik hari ini. Pemuda cantik itu berceloteh terus-menerus, padahal Sehun tak mendengarkannya sama sekali.

 

 

“Wow, ini menyenangkan sekali!” kata Luhan ceria ketika ia menggigit satu bagian besar pancake miliknya.

 

 

Sehun mengabaikan segala macam ocehan pemuda itu dan hanya mencoba menghabiskan makanannya sendiri secepat yang ia bisa. Dia selesai makan dalam waktu kurang dari sepuluh menit, kemudian ia cepat-cepat berdiri untuk mengembalikan piring kotornya. Secara mengejutkan, Luhan ternyata juga telah selesai menghabiskan makanannya, dan saat ini pria itu sedang menatap kearahnya.

 

 

“Kau itu ternyata pemakan yang lambat ya,” goda Luhan, kemudian mengikuti langkah Sehun yang saat ini sedang menuju kearah bak sampah.

 

 

Sehun hanya diam dan membuang sisa makanannya ke dalam bak sampah itu dengan raut wajah tak senangnya. Dia berbalik dengan cepat karena ingin menghindar, namun Luhan telah lebih dulu meraih dan mencengkram cardigan yang ia pakai.

 

 

“Sehun, aku tahu kau tidak merasa senang dengan segala situasi yang terjadi saat ini, tapi meskipun begitu sekolah ini tetap saja sekolahmu. Dan aku benar-benar sangat ingin menjadi temanmu,” kata Luhan dengan senyuman gugup pada wajahnya.

 

 

Sehun mengerjap perlahan, merasa agak terkejut dengan situasinya. Dia merasa tak terbiasa dengan kata-kata semacam itu, dan ia baru saja menyadari jika selama ini Luhan sebenarnya selalu bersikap tulus padanya, padahal sebelumnya ia selalu menunjukan sikap bermusuhan pada pemuda itu. Segala hal yang baru saja ia sadari itu membuatnya jadi merasa bersalah.

 

 

“Maafkan aku, aku hanya harus membiasakan diriku dengan keadaan saat ini. Kuharap kau bisa maklum, sebelumnya aku bersekolah di SMA yang normal hingga bulan lalu, Luhan.”

 

 

Luhan mencengkram cardigan Sehun lebih erat dari sebelumnya. “Kau tahu? Kami ini tak berbeda dengan teman-teman dari sekolahmu yang dulu, Sehun. Aku mengerti, dan sebenarnya aku juga merasa sangat yakin jika kau pasti akan menghindari orang-orang seperti kami ini terus-menerus, ya kan?”

 

 

“Aku bersikap begini bukan karena kalian!” bentak Sehun, “aku ini aslinya memang pendiam. Aku suka menyimpan segala hal hanya untuk diriku sendiri dan aku lebih suka menikmati hidupku sendirian! Jika kau pikir sikapku ini karena keberadaan kalian yang kebetulan adalah gay seluruhnya, maka kau itu salah paham!” kata Sehun, membuat Luhan sontak melebarkan matanya.

 

 

Luhan melepaskan cengkraman tangannya secara perlahan-lahan. Dia tatap Sehun hingga beberapa lama, lalu sekejap kemudian senyuman lebar telah terukir pada wajahnya. “Kalau begitu bagus!” katanya, “ayo beritahu aku, kau ada kelas apa saja hari ini? Aku akan memberikan tur kilat untukmu!” lanjutnya bersemangat.

 

 

“Kurasa itu tak perlu–“ kata Sehun, namun ucapannya langsung terhenti saat ia menangkap raut kekecewaan pada wajah Luhan. Sehun mendesah, lalu dengan terpaksa ia keluarkan kertas jadwalnya. Dia berikan kertas jadwalnya pada pemuda yang berusia lebih tua darinya itu, yang tentu saja langsung disambut dengan penuh semangat oleh pria yang satunya.

 

 

Luhan mengamati kertas jadwal itu, “Kau dapat kelas Sejarah Eropa juga? Kukira kelas itu hanya dikhususkan untuk siswa tahun ketiga saja.”

 

 

Sehun mengedikkan bahunya acuh tak acuh. “Secara kebetulan aku memang berbakat di bidang Sejarah,” jawabnya.

 

 

 

Luhan tersenyum cerah, lalu ia melambaikan kertas jadwal itu tepat di hadapan Sehun. Jarinya menunjuk pada blok pertama di kertas itu. “Aku juga dapat kelas yang ini, ah kelas yang di blok keempat ini juga! Artinya kita akan bertemu di dua kelas yang sama! Bukankah itu bagus?” katanya penuh semangat.

 

 

Great” jawab Sehun tanpa ekspresi. Dia rebut kertas jadwal itu dan ia masukkan kembali kertas itu kedalam tasnya.

 

 

Senyuman Luhan semakin mengembang. Dia gamit lengan Sehun, lalu ia seret pemuda itu keluar dari kafetaria. “Ayo, kita masih punya banyak waktu sebelum kelas dimulai. Aku akan mengajakmu berkeliling ke sekitar sekolah ini,” katanya.

 

 

Sehun mengangguk pasrah dan ia biarkan saja dirinya diseret untuk berjalan bersama Luhan. Dia melihat jika saat ini lorong-lorong sekolah masih begitu sepi, membuatnya jadi bertanya-tanya dalam hati tentang apakah semua siswa di sekolah ini biasanya memang selalu tidur hingga sesiang ini?

 

 

Luhan menunjukkan beberapa ruangan kelas pada Sehun termasuk ruang kelas mereka berdua, dan terus-menerus berceloteh sepanjang jalan. Sehun hanya menggumam untuk membalas setiap celotehan yang keluar dari mulut Luhan, namun anehnya, kali ini ia merasa begitu bersemangat mendengarkan setiap ucapan pemuda yang lebih tua darinya itu. Sehun benar-benar merasa relax, tak seperti biasanya. Diam-diam ia tersenyum kecil di belakang Luhan, tapi ia akan cepat-cepat memasang wajah datarnya kembali ketika Luhan berbalik untuk melihatnya.

 

 

“Itu adalah ruang perpustakaan. Tentu saja aku belum pernah masuk ke sana sebelumnya, tapi jika kau tertarik kita bisa mencoba masuk ke dalam sana,” kata Luhan sambil menunjuk pada sebuah pintu berukuran besar di ujung lorong dengan isyarat kepalanya.

 

 

“Apa ada banyak koleksi buku-buku di dalam sana?” tanya Sehun. Perhatiannya kini mengarah penuh pada pintu perpustakaan itu.

 

 

Luhan mengedikkan bahunya.”Mana aku tahu, kan tadi aku sudah bilang padamu kalau sebelumnya aku tak pernah masuk kedalam sana. Kalau kau merasa penasaran pada buku-buku apa saja yang ada di dalamnya, sebaiknya kau menanyakannya pada Kyungsoo karena perpustakaan adalah kamar keduanya Kyungsoo,” jawab Luhan.

 

 

Sehun menaikkan kedua alisnya. “Memangnya Kyungsoo tak belajar di dalam kamar asramanya sendiri?”

 

 

Luhan menghela nafas kemudian menggeleng. “Tidak. Kyungsoo itu tinggal satu kamar dengan Jongin. Yang aku tahu Kyungsoo hampir tak pernah menghabiskan waktunya di dalam kamar mereka. Anak itu selalu mengindari Jongin, karena itu dia selalu kabur ke perpustakaan sekolah karena dia tahu Jongin tak akan pernah mau menginjakkan kakinya di ruangan yang satu itu,” jelasnya.

 

 

“Memangnya apa yang membuat Kyungsoo sangat membenci Jongin?” tanya Sehun.

 

 

Well, aku juga tak tahu pasti apa alasannya. Yang aku tahu mereka berdua itu sudah saling mengenal sejak mereka masih duduk di kelas tiga. Jongin sangat suka mengekori Kyungsoo kemanapun Kyungsoo pergi seperti seekor anak anjing, tapi Kyungsoo selalu berusaha keras untuk menghindari dia. Tak ada yang tahu persis tentang apa yang terjadi pada mereka di masa lalu, lagipula kurasa tak ada juga yang mau perduli pada masalah mereka itu,” kata Luhan.

 

 

“Menyedihkan sekali mereka berdua itu. Terakhir kali aku bertemu dengan Kyungsoo, jelas sekali jika dia merasa kesal setengah mati pada Jongin. Sepertinya Jongin memang ditakdirkan untuk menjadi pihak yang selalu mengalami patah hati,” kata Sehun.

 

 

“Begitulah, tapi tak ada yang bisa berbuat apa-apa kan? Kami sebenarnya sudah berusaha membuat mereka menjadi akur selama bertahun-tahun, tapi lihat saja apa hasilnya,” kata Luhan sambil menunjukkan senyuman miris pada wajahnya.

 

 

Luhan mendongak cepat ketika ia mendengar suara pintu yang menderit terbuka. “Sehun! Perpustakaannya sudah dibuka!” kata Luhan, membuat Sehun langsung menatap ke sana. Sehun melihat lampu ruang perpustakaan saat ini sudah dinyalakan, lalu ia kembali menatap Luhan.

 

 

“Kau keberatan tidak jika kita masuk ke dalam sana?” tanya Sehun,  dan setelah Luhan menjawabnya dengan kata ‘tidak’ secara singkat, mereka berdua langsung berjalan beriringan menuju ruang perpustakaan itu.

 

 

Baik Sehun maupun Luhan tercengang ketika mereka melangkah masuk ke dalam ruangan perpustakaan itu. Ruangan itu ternyata memiliki ukuran yang jauh lebih besar dari apa yang mereka ekspektasikan, dan mereka pikir perpustakaan ini mungkin adalah perpustakaan termewah yang pernah mereka kunjungi.

 

 

“Kurasa jika seluruh ruang perpustakaan di sekolah-sekolahku yang lama digabungkan menjadi satu, ukurannya akan sama besar dengan ruangan perpustakaan ini,” kata Sehun sambil menelusuri setiap lorong perpustakaan dengan mulutnya yang terbuka karena merasa takjub pada limpahan buku-buku yang berada di sekitarnya.

 

 

Luhan mengikuti kemanapun langkah Sehun, merasa canggung dan merasa aneh karena dirinya dikelilingi oleh begitu banyak buku di sana-sini. Dia melirik Sehun sekilas, dan ia melihat jika bibir pemuda itu saat ini sedang tersungging naik, membentuk sebuah senyuman yang tampak tulus. Luhan mencatat dalam otaknya sendiri jika mulai dari sekarang sebaiknya ia harus sering-sering mengajak Sehun ke perpustakaan ini, jadi ia akan selalu bisa melihat senyuman pemuda itu.

 

 

“Ini menakjubkan sekali bukan?” tanya Sehun, membuat Luhan sontak terkesiap. Wajah Luhan langsung bersinar dalam seketika, merasa sangat senang karena kali ini Sehun yang memulai obrolan lebih dulu.

 

 

“Tentu saja!” seru Luhan ceria. Dia raih satu buah buku secara random dan ia lihat buku itu sekejap. “Lihat! Di sini bahkan ada karya Shakespeare!” katanya dengan penuh semangat.

 

 

Sehun mengangkat kedua alisnya, lalu ia lirik buku yang berada di tangan Luhan itu. “Luhan, itu buku karya Jane Austen,” ralatnya.

 

 

Luhan melebarkan matanya, lalu ia tertawa canggung. “Be–begitu ya? Haha, sepertinya aku salah ambil buku,” katanya.

 

 

Dari wajah emotionless seperti biasanya, kini ekspresi Sehun mulai berubah, sedikit menunjukkan ekpresi geli pada wajahnya. Dia berbalik, lalu ia ambil sebuah buku bersampul putih dan menyerahkan buku itu pada Luhan.

 

 

“Yang ini baru karya Shakespeare,” katanya.

 

 

Luhan menyambut buku itu kemudian menatapnya. Dia merasa takjub oleh fakta bahwa saat ini ia benar-benar sedang memegang sepotong karya sastra. Sedangkan Sehun kembali melihat-lihat pada jajaran buku-buku yang tertebar di tempat itu. Dia sempat melirik sekilas kearah Luhan, dan bibirnya langsung membentuk sebuah senyuman saat ia melihat raut kebingungan pada pemuda berwajah cantik itu.

 

 

“Kau tahu? Kau tak harus berpura-pura suka berada di dalam perpustakaan jika kau tak menyukainya. Sangat jelas sekali terlihat kalau kau itu tak tahu apapun tentang sastra.” Kata Sehun.

 

 

Luhan sudah sempat membuka mulutnya untuk membalas ucapan Sehun, namun ia mengurungkannya dan tetap diam. Lagipula apa yang dikatakan oleh Sehun itu bukanlah hal yang salah, jadi ia tak perlu menyangkal.

 

 

“Tak mengerti tentang sastra juga bukan berarti buruk, lagipula setiap orang memiliki hobi dan selera masing-masing,” lanjut Sehun. Dia mengambil salah satu buku, lalu ia mulai membuka halaman perhalaman dari buku itu.

 

 

“Aku jadi merasa benar-benar bodoh sekarang,” kata Luhan sambil tersenyum lebar. “Apa lagi hobi yang kau punya selain membaca dan unggul dalam bidang sejarah?” tanya Luhan.

 

 

Sehun tergelak. “Hmm…aku tak pernah berpikir banyak tentang apa yang ingin kulakukan. Kurasa aku paling suka mendengarkan musik dan….ah! Aku suka melipat Origami!” jawab Sehun.

 

 

“Origami?” tanya Luhan, “Wow, aku tak menyangka.”

 

 

“Aku lebih suka melakukan apapun sambil duduk dan berdiam diri di dalam satu ruangan,” jawab Sehun sambil membalik sebuah halaman dari buku yang dipegangnya. “Kalau kau?” tanyanya pada Luhan.

 

 

“Kalau aku malah lebih suka menghabiskan waktuku di luar, contohnya seperti bermain sepak bola dan menonton film.” Jawab Luhan.

 

 

“Menarik, sesuai dugaanku,” kata Sehun. Dia mengulurkan tangannya dan menunjuk pada buku yang sedang dipegang oleh Luhan. “Kemarikan bukunya, aku akan membantumu mengembalikan buku itu.”

 

 

Luhan mengerjap sesaat, tapi kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil mendekap buku itu di dadanya sendiri. “Sebenarnya aku pikir aku akan mencoba membaca yang satu ini. Bacaan pertamaku adalah karya dari Shakespeare, menarik bukan?” katanya.

 

 

Sehun menunjukkan wajah meremehkannya. “Asal kau tidak memintaku untuk menginterpretasikan setiap baris kalimatnya saja ya,” ejeknya.

 

 

Luhan mengangguk sambil menunjukkan senyuman lebarnya pada Sehun yang saat ini sedang memegang tiga buah buku berhalaman tebal di tangannya sambil berjalan menuju ke Librarian, yang langsung tampak terkejut ketika melihat dua orang siswa telah berada di perpustakaan sepagi ini.

 

 

“Sepertinya aku tak pernah melihat kalian berdua sebelumnya,” kata Librarian itu sambil mengambil bukunya dan memasukkan beberapa kode ke dalam komputer.

 

 

“Dia siswa baru di sekolah ini,” kata Luhan sambil menunjuk Sehun, “kalau aku memang tak pernah datang ke sini sebelumnya,” lanjutnya.

 

 

“Oh? Lalu apa kalian berdua berencana menjadi pengunjung regular?” tanya Librarian itu ramah, sambil menyerahkan buku-buku itu kembali.

 

 

Luhan memasukkan buku karya Shakespeare itu ke dalam tasnya, lalu menatap Sehun dengan tatapan penuh harap.

 

 

“Aku mau, tapi kalau dia aku tak tahu,” kata Sehun sambil melirik Luhan.

 

 

Well, kalian berdua akan selalu diterima di tempat ini asalkan kalian tidak berisik,” kata Librarian itu.

 

 

Sehun dan Luhan membungkukkan tubuh mereka dengan sopan pada Librarian itu sebelum mereka pergi.

 

 

“Beritahu aku jika kau sudah selesai membaca bukunya, aku akan membantumu mengembalikan buku itu. Lagipula aku tak yakin kau akan kembali lagi ke sana,” kata Sehun meremehkan.

 

 

“Hei! Aku akan kembali lagi! Aku akan mampir kesana setidaknya satu minggu sekali!” kata Luhan tak terima.

 

 

Sehun melipat tangannya dan menatap Luhan ragu. “Benarkah? Jangan mengumbar janji jika kau tak mampu memenuhinya.”

 

 

Luhan mendengus, lalu ikut-ikutan menyilangkan tangannya, mengkopi apa yang dilakukan oleh Sehun. “Kuberitahu ya, aku ini adalah pribadi yang penuh dengan integritas, tahu!”

 

 

Sehun tertawa. “Kalau begitu ya terserah kau saja. Yang penting jangan sampai kau merasa terbebani. Lagipula aku juga tak berharap terlalu banyak padamu.”

 

 

“Sehuuunnn!” teriak Luhan, tapi Sehun malah menertawakannya.

 

 

Luhan tersenyum sangat lebar ketika ia melihat tawa pria yang lebih muda darinya itu. Sangat menyenangkan sekali bisa melihat Sehun yang seperti ini, yang biasanya begitu dingin dan terasa jauh, tapi kali ini benar-benar terlihat ‘hidup’ dan terlihat begitu ceria.

 

 

“Ayo, kelas sudah akan segera dimulai. Sekarang kelas Sejarah Eropa kan?” tanya Sehun.

 

 

“Yup!” jawab Luhan ceria sambil mensejajarkan dirinya di samping Sehun.

 

 

Mereka berjalan beriringan menuju kelas mereka, dan Luhan benar-benar merasa bahagia karena ia telah berhasil selangkah lebih dekat dengan roommate-nya itu. Jika melihat keadaan sekarang, sepertinya tak akan terlalu lama bagi mereka untuk menjadi teman dekat, dan Luhan sudah tak sabar menunggu saat itu tiba.


 

To Be Continued


Original Version here : Queer & Proud ( Person Of Integrity )

 

Advertisements