Queer & Proud

 

ibp0Qyn0C7iZEf

.

Story By Lynn_Star

 

.

Translate By tmarionlie

 

 

.

.

Exo Official Couple | HunHan | ChanBaek | KaiSoo | ChenMin | Yaoi | Fluff Highshool Romance | Rate T

.

.


CHAPTER 3 – NEATFREAK


Dari seluruh kelas yang terpaksa ia ambil untuk tahun ini, setidaknya kelas Literatur adalah kelas favorit Jongin.

 

 

Jongin benar-benar benci menghadiri kelas. Dia benci pada fakta bahwa dia harus duduk dan terpaksa menguraikan sesuatu yang bahkan orang lain tak tahu cara menuliskannya tahun lalu. Metafora, Ironi, Simbolisme ; semua itu tampak sangat konyol baginya. Mengapa tak mengucapkan maknanya saja secara langsung ketimbang harus berputar-putar hanya untuk mengucapkan sebuah kalimat yang sebenarnya mudah!

 

 

Satu-satunya alasan yang membuat Jongin mau duduk diam dan tak pergi meninggalkan kelas selama proses belajar-mengajar masih berlangsung hanyalah karena keberadaan Do Kyungsoo, roommate-nya sekaligus pria yang telah ia sukai selama sembilan tahun ini, subjek menyebalkan yang ia cintai. Jongin hanya memiliki 2 kelas yang sama dengan pria yang ia sukai itu, namun di kelas Kalkulus, Kyungsoo tak begitu banyak bicara. Akan tetapi, jika mereka sedang berada di dalam kelas Literatur, lain lagi ceritanya. Jongin akan tersenyum setiap kali melihat Kyungsoo mengangkat tangan untuk menjawab berbagai pertanyaan dengan wajah bahagianya.

 

 

“Sekarang, ada yang bisa mengatakan padaku apa yang coba di sampaikan oleh Si Penyair untuk para Readers-nya melalui kiasan ini?”

 

 

Mata Jongin langsung terfokus pada Kyungsoo yang duduk di kursi paling depan, dan ia tersenyum lebar saat melihat tangan pemuda itu terangkat.

 

 

Jongin mengerutkan keningnya ketika ia melihat siswa pria yang duduk di depan mejanya ikut-ikutan mengangkat tangan. Dengan cepat ia tendang kursi siswa pria itu, yang membuat siswa pria tadi langsung menurunkan tangan dan berbalik menatapnya, tapi siswa itu langsung menelan ludah dan mengangguk takut ketika ia mengerti apa maksud Jongin menendang kursinya barusan.

 

 

Kau jangan berani-beraninya menginterupsi Kyungsoo!

 

 

Guru mereka masih sempat mengedarkan tatapannya ke seluruh penjuru kelas sebelum akhirnya mandaratkan tatapannya pada Kyungsoo. Guru wanita itu mendesah, tapi pada akhirnya tersenyum lelah dan menawarkan Kyungsoo untuk menjawab pertanyaannya tadi.

 

 

“Ya, Kyungsoo?”

 

 

Kyungsoo menurunkan tangannya, menunjukkan senyuman antusias dua kali lipat dari senyum yang di tunjukkan oleh Gurunya tadi, kemudian ia berdehem.

 

 

“Penyair itu mencoba untuk mengekspresikan ambiguitasnya selama event khusus itu berlangsung.”

 

 

Guru itu bertepuk tangan sambil menatap seluruh siswa yang berada di dalam kelas dengan tatapan tak senangnya.

 

 

“Sekali lagi, jawaban Kyungsoo benar. Anak-anak, jika kalian mau mencoba melakukan setengah saja dari upaya yang di lakukan oleh Kyungsoo untuk kelas ini, kalian semua pasti akan bisa melewati kelas ini dengan nilai yang tinggi.” Kata Guru wanita itu.

 

 

Kyungsoo menatap ke sekeliling kelas dengan seringaian bangga pada wajahnya, yang membuat seluruh siswa yang berada di dalam kelas itu memutar bola mata mereka dengan bosan. Tapi Jongin memberikan jempolnya untuk Kyungsoo ketika tatapan mereka berdua bersinggungan, yang malah di balas dengan tatapan mengejek oleh Kyungsoo sebelum pemuda itu berbalik menatap Guru mereka lagi.

 

 

Kyungsoo masih sempat menjawab beberapa pertanyaan lagi sebelum ia menyadari bahwa kelas telah berakhir. Jongin mendesah, untuk pertama kalinya ia merasa sedih karena kelas berakhir dengan begitu cepat, dan matanya menatap setiap gerakan Kyungsoo dengan teliti. Setelah membereskan barang-barangnya ke dalam tasnya, Jongin langsung melompat dan melangkahi mejanya sendiri untuk menghampiri Kyungsoo.

 

 

“Kyung! Ayo pulang ke kamar Asrama kita bersama-sama.”

 

 

Kyungsoo mendengus dan menyampirkan tasnya ke punggungnya.

 

 

“Tidak Jongin. Aku mau pulang sendiri.”

 

 

Jongin menatap Kyungsoo dengan wajah cemberut ketika pemuda itu mendorongnya dan melewatinya begitu saja, berjalan keluar kelas. Para siswa yang masih berada di dalam ruangan kelas mencibir, dan Jongin melotot terang-terangan pada mereka sambil mengekori langkah Kyungsoo menuju keluar kelas.

 

“Kyungsoo, tunggu!” teriak Jongin sambil bergegas menyusul pria mungil itu, tapi tiba-tiba saja seseorang menarik tangannya dan membalikkan tubuhnya. Jongin menyipitkan mata dan menggeram, mencoba melakukan apapun untuk menunjukkan sikap mengancam semampunya pada orang yang berani menghentikan dia dari mengejar Kyungsoo-nya itu.

 

 

Jongdae menunjukkan senyuman lebarnya saat ia melihat raut kemarahan pada wajah Jongin. “Aku tak mengerti bagaimana bisa kau berpikir mengejar Do Kyungsoo seperti itu akan membuatnya menyukaimu.”

 

 

“Itu namanya aku sedang mengekspresikan perasaanku!” kata Jongin.

 

 

Jongdae mendengus dan memutar bola matanya ketika menyadari tatapan tajam yang terpancar dari mata sipit Jongin. “Kurasa Kyungsoo telah menerima sinyal cintamu itu Jongin, dan ia jelas-jelas tidak tertarik.”

 

 

Jongin mendengus dan mengedarkan tatapannya kesekitar lorong sekolah untuk mencari keberadaan pria yang ia sukai itu. “Kyungsoo pasti akan menyukaiku nanti. Tunggu dan lihat saja!” katanya, kemudian ia melangkah pergi ke arah yang sama dengan arah yang diambil oleh Kyungsoo. Jongdae hanya bisa mendesah ketika melihat tingkah sahabatnya yang angkuh dan arogan itu, yang tak pernah lelah mengejar-ngejar seseorang yang sudah jelas-jelas mustahil untuk dia raih.

 

 

.

.

.

Jongin berlari menuju kamar Asramanya dengan senyuman lebar yang tercetak pada wajahnya. Dia telah merencanakan banyak hal untuk hari ini. Dia akan kembali ke kamarnya lalu meminta tolong pada Kyungsoo agar membantunya mengerjakan PR, kemudian ia akan mengajak Kyungsoo menonton film yang tengah dibicarakan banyak orang saat ini, lalu ia akan menyatakan cintanya pada Kyungsoo sambil menikmati makan malam, dan pada akhirnya mereka akan mengakhiri hari yang menyenangkan ini dengan tidur sambil berpelukan satu sama lain.

 

 

Jongin berjalan riang menuju kamarnya dan menghempaskan daun pintu kamarnya hingga terbuka. Senyumnya langsung mengembang saat ia melihat Kyungsoo yang saat ini sedang duduk di meja belajarnya, dengan wajah yang sedikit mengerut sebagai efek dari konsentrasinya mengerjakan PR.

 

 

“Kyungsoo, I’m back!” seru Jongin sambil berlari menuju Kyungsoo, menyeret sebuah kursi dan duduk di samping pria itu.

 

 

Kyungsoo mengerutkan dahinya dalam-dalam dan meloloskan satu desahan malas dari bibirnya. “Yeah, I see that.” Jawabnya tanpa minat. Jongin tertawa, lalu menopangkan dagunya pada tangannya sendiri dan memandangi Kyungsoo yang sedang sibuk mencatat di buku catatannya. “Jadi begini…Kau mau tidak membantuku mengerjakan PR Kimia yang ditugaskan untuk kita hari ini?” tanya Jongin.

 

Kyungsoo membanting pensilnya dan menatap tajam pada Jongin. “Tidak mau! Kerjakan PR-mu sendiri!” jawabnya.

 

 

Jongin menggaruk tengkuknya dan tersenyum kikuk. “Tapi kau kan tahu kalau aku tak begitu pintar di pelajaran Kimia. Kau siswa terpintar di sekolah kita, jadi kupikir kau bisa membantuku.”

 

 

Kyungsoo melotot dan langsung berdiri sambil mengumpulkan semua buku-buku ke tangannya. “Aku bilang aku tidak mau! Suruh saja orang lain membantumu!” Katanya, kemudian ia berbalik dan berjalan keluar kamar.

 

 

Mata Jongin terbelalak panik, lalu dengan gerakan cepat ia melompat sambil memanggil pemuda pendek itu. “Kyungsoo, tunggu! Kau mau kema–“

 

 

Ucapan Jongin langsung terputus seketika oleh bantingan keras pada pintu kamar mereka. Dia menghela nafas berat, tubuhnya merosot dari kursi yang ia duduki. “Aku tak mengerti…padahal aku tak melakukan kesalahan apapun…” gumamnya sambil menatap kosong pada kursi yang berada di sampingnya.

 

 

Jongin memaksakan diri untuk bangkit dari posisi duduknya, kemudian ia melangkah menuju meja belajarnya yang terlihat rapi saking jarangnya ia belajar. Dia raih ponselnya, lalu menelepon seseorang yang nomor kontaknya berada di urutan teratas dari list kontak telepon genggamnya itu. Setelah nada sambung terdengar beberapa kali, akhirnya suara seseorang yang ia telepon itu terdengar, menjawab panggilannya dengan suara yang terdengar bosan, muak dan juga kesal.

 

 

“Apa?”

 

 

“Aku harus bertemu denganmu.”

 

 

Hening hingga beberapa lama hingga akhirnya Jongin mendengar suara desahan dari seberang sana.

 

 

“Apa lagi sekarang?”

 

 

“Kyungsoo baru saja pergi meninggalkanku.” Jawab Jongin, dan ia langsung mengernyit sedikit ketika mendengar teriakan frustasi dari seberang sana.

 

 

“Kau pasti bercanda! Kau meneleponku hanya karena Kyungsoo meninggalkanmu? Biasakan saja begitu terus, Idiot!”

 

 

“Hei, aku hanya butuh udara segar. Aku akan membelikanmu es krim, bagaimana?”

 

 

Jongin bisa mendengar nada keraguan dari suara orang yang berada di seberang sana, dan ia yakin jika dia sudah menang.

 

 

“Baiklah…Temui aku di Baskin Robbins dalam waktu 5 menit. Jika kau terlambat, aku akan pergi. Kau mengerti?”

 

 

Jongin bernyanyi mengejek untuk membalas ucapan pria yang berada di seberang sana, lalu memutuskan sambungan teleponnya cepat-cepat. Hal yang ia lakukan selanjutnya adalah menyambar cardigan berwarna cerah miliknya, lalu berlari keluar kamar menuju ke ice cream shop yang berada di dekat sekolah mereka. Dia menyeringai ketika matanya menemukan sosok mungil yang mengenakan beanie berwarna biru, kemudian ia langsung duduk di kursi yang berseberangan dengan pria mungil itu.

 

 

“Kau tak akan pernah bisa menolak godaan es krim, ya kan?” kata Jongin.

 

 

Baekhyun menggerutu lalu mengecek ponselnya sendiri. “Untung kau tiba satu menit lebih cepat. Kalau saja kau terlambat, aku pasti sudah mengusirmu pergi sekarang.”

 

 

Jongin tersenyum lebar dan merogoh sakunya, mengeluarkan dompetnya dari sana. Dia mengikuti langkah Baekhyun menuju konter, kemudian ia hanya menatap wajah Baekhyun yang sedang konsentrasi memilih rasa untuk es krimnya.

 

 

“Ini enak, tapi aku sedang tak mood dengan yang asam-asam…hmmm…apa yang ini saja ya? Ah tidak-tidak, ini terlalu manis….Aih, yang satu ini benar-benar mengerikan! Aku penasaran, siapa ya yang mau membeli es krim dengan rasa mengerikan ini?” gumam Baekhyun.

 

 

“Byun Baekhyun, bisakah kau langsung memilih saja? Jangan urusi masalah hidup dan mati orang lain, lagipula kau bisa kembali lagi besok, anyway.” Kata Jongin.

 

 

Shut up!” bentak Baekhyun. Pria itu kembali memilih dan tampaknya telah selesai memutuskan akan memilih rasa apa untuk es krimnya. Dia mendongak pada Scooper toko, lalu menunjuk rasa yang dia inginkan.

 

 

“Aku mau yang ini…berikan aku tiga sendok, please…” kata Baekhyun pada Scooper itu.

 

 

“Tiga sendok?” tanya Scooper itu.

 

 

Baekhyun berbalik dan menatap tajam pada Jongin, membuat Jongin langsung menelan ludahnya dan tersenyum canggung. Sebenarnya Jongin merasa sangat enggan menyerahkan sejumlah uangnya untuk membayar tagihan es krim itu ke Kasir.

 

“Tiga sendok.” Gumam Jongin pada Si Scooper, membenarkan ucapan Baekhyun untuk menyenangkan pemuda itu, kemudian ia kembali ke kursinya lagi. “Dasar manusia bermental aneh.” Gerutunya.

 

 

“Aku mendengarmu.” Kata Baekhyun, namun ia terlalu asyik dengan es krimnya jadi ia tak melakukan apapun pada Jongin.

 

 

Jongin duduk merosot di kursinya dan menatap sahabatnya yang telihat sedang asyik menyeruput es krim dari contong besar itu. “Aku benar-benar penasaran, sebenarnya kemana perginya es krim-es krim itu? Toh tubuhmu tetap saja mungil.”

 

 

Jongin meringis ketika Baekhyun menyipitkan mata sambil menendang tulang keringnya. “Baiklah-baiklah, aku akan diam mulai dari sekarang.” Katanya menyerah.

 

 

Butuh waktu tujuh menit bagi Baekhyun untuk menghabiskan snack-nya. Dengan riang ia lemparkan label pembungkus es krim ke tong sampah dan akhirnya ia berbalik juga, baru menganggap keberadaan Jongin.  “So, what’s up Jongin?” tanyanya pada sahabatnya itu.

 

 

Jongin mendengus. “Well, terima kasih atas perhatianmu…Itu benar-benar membuat hatiku menghangat, sungguh.” Sindir Jongin.

 

 

“Jangan sungkan-sungkan.” Kata Baekhyun sambil melambaikan tangan serta menyilangkan kakinya, kemudian ia tatap Jongin dengan tatapan bosannya. “Kau tahu? Jika kau tak segera bicara, aku punya tempat yang lebih baik untuk kudatangi sekarang ini.”

 

 

Jongin melotot pada pria pendek itu. “Oke. Singkatnya, Kyungsoo kesal padaku, lalu meninggalkanku pergi begitu saja.”

 

 

Baekhyun mengerjap. “Itu saja yang ingin kau ceritakan?”

 

 

Well –tidak. Aku belum memberitahumu tentang rencanaku dan apa yang ingin coba kulakukan dengannya hari ini. Tapi poin utamanya adalah, Kyungsoo ternyata benar-benar menghindar dariku dan–“

 

 

“Jadi hanya itu saja yang mau kau ceritakan?” potong Baekhyun.

 

 

“Aku sudah membelikanmu es krim, jadi diamlah dan dengarkan aku, oke?” kata Jongin jengkel.

 

 

Baekhyun memutar bola matanya, meskipun begitu kini ia menutup rapat mulutnya.

 

 

“Aku hanya tak mengerti kenapa Kyungsoo tak bisa melihatnya! Orang lain saja bisa melihatnya dengan jelas kan? Kami itu memang diciptakan untuk bersama.” Keluh Jongin.

 

 

Baekyun mengguman pelan, bahkan lebih pelan dari suara nafasnya sendiri, tapi Jongin tak perduli.

 

 

“Aku mencintai dia, dan aku sangat yakin jika jauh di lubuk hatinya dia pasti tergila-gila padaku juga. Maksudku, kau harus melihat bagaimana cara ia menatapku ketika ia pikir aku tak melihatnya. Matanya itu penuh dengan pancaran cinta, adorasi, dan juga gairah yang melebur menjadi satu. Tak ada alasan bagiku untuk tak terjatuh pada pesonanya.”

 

 

Delusi.

 

 

Baekhyun terdiam. Dia tatap Jongin yang saat ini sedang menatap ke arah luar jendela dengan pancaran mata yang menyala-nyala, menjelaskan tentang bagaimana sempurnanya sosok Kyungsoo di mata pria itu. Dengan satu tarikan nafas yang panjang, Baekhyun menyandarkan punggungnya, dan memutuskan untuk tidur sejenak.

 

 .

.

.

.

.

-Queer & Proud-

.

.

.

.

.

Jam telah mengarah ke angka tujuh, dan Sehun merasa benar-benar lelah. Dia tenggelamkan dirinya di dalam selimutnya lalu ia memejamkan mata, berharap agar ia bisa cepat tertidur. Rasa shock dan perasaan menyiksa yang ia alami hari ini terasa sedikit luar biasa, dan Sehun butuh waktu untuk mempelajari detail-detail tentang sekolahnya yang baru dia temukan hari ini dengan lebih terperinci.

 

 

-Jadi sekolah baruku ini ternyata benar-benar sekolah eksklusif bagi para remaja homoseksual Korea Selatan?-

 

 

Sehun terduduk secara tiba-tiba. Apa sebenarnya yang ada dalam pikiran kedua orangtuanya? Apa orangtuanya sengaja ingin membuatnya menyimpang menjadi gay?  Apa diam-diam orangtuanya memang menginginkannya pulang dengan membawa seorang kekasih pria dengan senyuman bangga pada wajahnya?

 

 

Dengan menarik nafas panjang, Sehun menurunkan kakinya dari atas ranjang dan berdiri pada permukaan lantai. Dia tatap sekeliling kamar itu, dan hampir saja ia menangis. Sungguh sial, matanya melihat celana training milik Luhan di tepi ruangan. Sambil menggerutu dia berjalan kesana dan memungut celana itu. Luhan memang bukan pria yang rapi. Luhan mungkin adalah pria paling tak terorganisir dan paling berantakan yang pernah dia temui.

 

 

Kamar mereka itu sebenarnya adalah kamar yang sangat sederhana. Meja belajar mereka letaknya sejajar, dan ranjang-ranjang mereka letaknya juga tidak miring. Jika dilihat dari ambang pintu, kamar mereka benar-benar akan terlihat rapi. Tapi mimpi buruk baru akan dimulai jika seseorang mulai melangkah masuk ke dalamnya. Pakaian-pakaian terlihat acak-acakan, dan Sehun bahkan menemukan 4 potong t-shirt di kolong ranjangnya.  Dia juga melihat sebuah sikat gigi tergeletak begitu saja di lemari yang campur aduk dengan beberapa potong celana dalam, dan baju-baju juga terlihat menggunung di setiap laci yang terbuka.

 

 

Di salah satu bagian lemari yang permukaannya datar, terdapat satu cup ramen bekas, dan Sehun masih mencari sumber bau aneh yang telah tercium semenjak ia pertama kali masuk ke dalam kamar Asramanya ini. Tak perduli berapa banyak usaha yang ia lakukan untuk mencari sumber bau itu dengan sikap optimisnya, tapi situasi kamar  yang berantakan itu tidak mendukungnya untuk segera menemukan sumber bau aneh itu. Sehun jadi merasa bangga pada dirinya sendiri karena ia adalah jenis pria yang setidaknya masih jauh lebih rapi jika dibandingkan dengan Luhan. Dia merawat semua barang-barangnya dan selalu meletakkannya kembali ke tempatnya semula dimana ia mengambilnya. Dia tak pernah makan di atas ranjang dan selalu membuang semua sampah ketika ia melihatnya. Kamar mereka ini benar-benar sesuatu yang mendatangkan bencana baginya, dan Sehun harus sering-sering menahan diri untuk tak membenturkan kepalanya sendiri ke dinding ketika ia melihat keadaan seperti ini. Dia tutup hidungnya dengan satu tangan, dan ia mulai memungut apapun yang bisa ia jangkau dengan tangannya.

 

 

Setelah setengah jam berjuang membersihkan kamar manusia yang lebih mirip seperti kandang babi itu, akhirnya kamar mereka mulai terlihat lebih layak huni sekarang. Sehun akhirnya melepaskan tangannya dari hidungnya sendiri dan mulai mengambil nafas dalam-dalam, tapi ia masih saja mencium bau aneh itu.

 

 

“What the hell?” umpat Sehun.

 

 

Sehun sangat yakin jika ia telah menyingkirkan segala sesuatu yang tampak kotor. Dia telah membuang seluruh cup ramen bekas dan membuangnya ke tong sampah berukuran besar yang terletak di Living Room. Dia bungkukkan tubuhnya, lalu mulai memeriksa ulang kolong ranjang Luhan. Dia akhirnya menemukan setumpuk sampah tumpahan jello yang tak seharusnya berada di tempat itu, dan ia benar-benar tak ingin menyentuh sampah menjijikkan itu. Pintu kamar tiba-tiba terbuka dan Luhan melangkah masuk ke dalam. Pemuda itu menghentikan langkahnya di dekat pintu kamar dan menatap sekeliling kamar mereka dengan mata yang melebar.

 

 

“Wow! Kamar kita terlihat seperti neraka setelah di makeover.”

 

 

Sehun berdiri dari posisinya dan menatap Luhan dengan tatapan tak setujunya. “Kita benar-benar butuh bicara! Aku tak mau hidup dalam kondisi kamar yang tak sehat seperti ini!” Kata Sehun tegas.

 

 

Luhan menutup mulutnya dan menahan tawanya agar tak keluar. Dia tutup pintu kamar mereka dan meletakkan buku-bukunya di atas meja belajar. “Kurasa kamar ini tak seburuk itu.” Jawabnya enteng.

 

 

“Kamar ini tampak seperti tempat sampah, Luhan!”

 

 

“Aku tak berpikir sampai sejauh itu.” kata Luhan sambil mengedikkan bahunya tak perduli.

 

 

“Ya, dan sayangnya aku berpikir sampai sejauh itu!” bentak Sehun. “Dan selama aku tinggal di kamar yang sama denganmu, sebaiknya kau mulai bersikap perduli juga.”

 

 

Luhan berkedip satu kali, lalu ia melebarkan senyumannya. “Baiklah, kurasa aku akan mencobanya. Lalu apa yang harus kulakukan?”

 

 

Sehun menyilangkan lengan dan menunjuk ke arah kolong ranjang Luhan. “Kau bisa mulai dengan menyingkirkan tumpukan sampah jello yang menjijikkan dikolong tempat tidurmu.”

 

 

Luhan berjongkok dan meringis ketika menemukan sumber masalah itu. Dia raih beberapa lembar tissue dan mengelap tumpahan jello itu, memastikan untuk membungkusnya erat-erat menggunakan tissue-nya.

 

 

“Buang keluar!” Kata Sehun sambil mendorong tubuh Luhan keluar kamar dan memimpin langkah mereka menyusuri lorong-lorong kamar menuju ke tong sampah besar yang terletak di Living Room.

 

 

“Aku baru tahu kalau ada tong sampah di tempat ini.” Kata Luhan sambil tertegun sekejap, lalu membuang sampah jello-nya ke dalam tong sampah itu.

 

 

Sehun menganggukkan kepalanya puas, lalu keduanya berjalan kembali ke kamar mereka.

 

 

“Sekarang, cari sumber bau aneh ini. Bagaimana bisa aku tidur jika kamarnya bau begini?” kata Sehun.

 

 

Luhan mengedikkan bahunya. “Aku sudah terbiasa. Jika kau mau membiasakan diri selama beberapa hari saja, aku yakin kau pasti tak akan menyadari bau-bau aneh seperti ini.” Kata Luhan cuek.

 

 

“Luhan!”

 

 

Sorry!” cicit Luhan, lalu cepat-cepat berkeliling ke sekitar kamar untuk mencari sumber bau itu, tapi ia tak menemukan apapun, jadi ia memutar otak untuk mengingat-ingat kira-kira apa yang bisa menjadi penyebab bau aneh itu. Dia mengangkat tumpukan kertas yang berada di atas meja dan memeriksa di antara buku-buku, tapi ia tak menemukan apapun disana. Dia buka salah satu laci, dan tubuhnya sontak membeku ketika ia melihat apa yang ada di dalamnya.

 

 

“Oh, Shit! Ini buruk! Benar-benar buruk!” umpat Luhan.

 

 

“Apa kau menemukannya?” tanya Sehun.

 

 

“Ngg…Ya…Tapi aku takut mengambilnya.” Gumam Luhan.

 

 

Well, apa lagi yang kau tunggu? Cepat buang itu!” Titah Sehun.

 

 

Luhan membalikkan tubuhnya, lalu menatap Sehun dengan tatapan gelisah.

 

 

“Sehun?” panggil Luhan, membuat Sehun mengangkat kedua alisnya.

 

 

“Ya?”

 

 

“Kupikir kau sebaiknya menutup matamu.”

 

 

“Maksudnya?”

 

 

Luhan meringis, lalu mengambil ‘benda itu’ menggunakan ujung jari-jarinya. “Kurasa seseorang lupa membuang ini.” Katanya sambil tertawa canggung.

 

 

Sehun menjatuhkan rahangnya. “Apakah itu kondom? Siapa Si Sialan yang menggunakan benda seperti itu?”tanya Sehun tak percaya.

 

 

“Terus terang saja ya Sehun, sekolah ini penuh dengan pria-pria homoseksual yang mudah horny  ketika melihat pria lain yang sama-sama bersekolah di sini juga.”

 

 

“Aku tak mau mendengar tentang hal itu! Buang saja benda itu, oke?” erang Sehun.

 

 

Luhan bergegas keluar dari kamar untuk membuang kondom itu dan telah kembali dalam waktu kurang dari 20 detik. Dia tatap Sehun yang saat ini sedang duduk di ranjang dengan wajah yang tampak tersiksa.

 

 

“Ah, asal kau tahu saja, kondom yang tadi itu bukan milikku.” Kata Luhan, membuat Sehun tersentak dan langsung menatapnya. “Kurasa teman-temanku menggunakan itu saat mereka berada disini terkahir kali, lalu memutuskan untuk menyembunyikannya sebelum aku dat–“

 

 

“Jadi maksudmu sekelompok anak laki-laki telah melakukan sex di kamar ini?” potong Sehun dengan nada terkejut.

 

 

Luhan berkedip satu kali. “Well– kemungkinan besar mereka melakukan sex di ranjangmu karena teman-temanku tahu kalau aku sangat benci jika mereka melakukan ‘itu’ di atas ranjangk–“

 

 

“Oh, my fucking God!” Sehun menjerit ngeri sambil melompat cepat dari atas ranjangnya. Dia cepat-cepat berjalan tak menentu ke sekeliling kamar, yang penting menjauh dari ranjangnya sendiri. “Oh My God! Bagaimana bisa hal seperti ini terjadi padaku sekarang!” umpat Sehun.

 

 

“I’m sorry…” kata Luhan kikuk.

 

 

Sehun mengerang, lalu menyambar jaketnya. “Aku harus segera keluar dari sini!” katanya sambil berlari keluar dari kamar itu tanpa mau melihat ke belakang lagi. Luhan hanya bisa menatap kepergian Sehun itu, kemudian ia mendesah dalam-dalam.

 


 

To Be Continued


Original Story : Queer & Proud ( Neatfreak )

 

Advertisements