Queer & Proud

 

 

ibp0Qyn0C7iZEf

.

Story by Lynn_Star

 

.

Translate By tmarionlie

 

 

.

.

.

 

EXO Official Couple | HunHan | ChanBaek | KaiSoo | ChenMin | Yaoi | Fluff High School Romance | Rate T

.


CHAPTER 2 – PLEASANT? SURPRISE!


 

Sehun berbohong jika ia menyangkalnya. Sebagian besar siswa-siswa pria di sekolah ini memang terlihat lebih cantik jika di bandingkan dengan gadis-gadis yang pernah ia temui sebelumnya, demi Tuhan! Namun berpikir dengan mendengarkan secara langsung adalah dua hal yang berbeda.

 

 

Sehun bukan seorang homophobic, dia bahkan kenal dengan sepasang gay meskipun mereka berkenalannya sudah dulu sekali. Dia tak pernah merasa tertarik pada apapun yang orang lain lakukan, jadi menurutnya semua orang berhak menentukan siapa yang ingin mereka jadikan pasangan mereka.

 

 

Tapi Sehun tinggal di Negara Korea. Dia belum terbiasa dengan sekolah yang penuh dengan pria-pria gay seperti ini.

 

 

“Ka-kau apa?”

 

 

Jongin membungkukkan tubuh kemudian menopang dagu dengan tangannya sendiri dan menyeringai.

 

 

“Aku gay.”

 

 

Luhan tertawa keras ketika ia melihat ekspresi Sehun, dan ia mengarahkan ujung sumpitnya ke wajah pria itu.

 

 

“Lihatlah, kurasa dia tak tahu apapun. Apa kau tahu kau sedang berada di sekolah apa, Sehunnie?”

 

 

Sehun sudah terlalu shock sampai-sampai ia tak mengomel ketika Luhan memanggilnya ‘Sehunnie’.

 

 

“Sekolah ini adalah sekolah untuk para remaja gay di Korea, dan sebenarnya hanya satu-satunya dari seluruh Semenanjung Korea. Di sini hanya di khususkan untuk siswa laki-laki saja, dan kurasa ada juga satu sekolah yang khusus untuk anak-anak perempuan di daerah Busan. Bahkan ada juga sekolah di tingkatan Elementary dan Middle School untuk anak-anak yang, uh…sudah harus berdamai dengan seksualitas mereka pada usia yang lebih dini.” Kata pria yang mengenakan beanie biru untuk menjelaskan, dan penjelasannya itu membuat Jongin kembali duduk ke kursinya dengan ekspresi puas pada wajahnya.

 

 

“Homoseksual bukanlah hal yang terpuji di Negara Korea ini. Sebagian besar dari kaum gay seperti kami kemungkinan akan berakhir dengan di bully jika kami bersekolah di sekolah umum. Itulah sebabnya sebagian besar kaum gay seperti kami bersekolah di sini.”

 

 

Luhan mengangkat satu jarinya dengan mata yang terlihat berbinar cerah.

 

 

“Itulah mengapa ketika sekolah mendapatkan siswa pindahan membuat kami menjadi begitu abnormal. Tentu saja kami pernah juga mendapatkan satu sebelumnya, tapi itupun dulu, saat kami masih berada di tingkatan Middle School. Selama ini setiap siswa yang bersekolah di sekolah kami selalu menetap sampai lulus. Siapa sangka seseorang di kabarkan akan bergabung dengan sekolah kami, dan seseorang itu ternyata adalah seorang pria straight.”

 

 

Luhan menatap Sehun. “Kau straight, benar?”

 

 

“Tentu saja aku straight!” jawab Sehun sambil berteriak.

 

 

“Tak perlu malu begitu.” Goda Luhan sambil mencondongkan tubuhnya ke depan hingga wajahnya hanya menyisakan jarak beberapa inci saja dari wajah Sehun. “Untukmu tak akan memakan waktu terlalu lama Oh Sehun.”

 

Wajah Sehun langsung mengeras dan ia dorong Luhan menjauh darinya.

 

 

“Aku tak mengerti kau bicara apa!” bentak Sehun sambil bangkit dari posisi duduknya dengan wajah yang cemberut dan mata yang melotot marah pada Luhan dan Jongin, sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan tempat itu.

 

 

Jongin, yang sejak tadi sedang mengunyah setengah bagian dari apelnya, meletakkan sisa apel itu di atas piring kemudian menatap Luhan. “Kau bertingkah aneh hari ini,” katanya sambil menatap wajah Luhan yang saat ini sedang menyeringai itu. “Kau –tidak sedang tertarik pada anak baru itu kan?”

 

 

Luhan tertawa dan memasukkan sepotong Kimbap ke dalam mulutnya. “Dia cute.” Komentarnya.

 

 

Jongin mengangkat alisnya penuh minat ketika melihat Baekhyun mendesah dan mencondongkan tubuhnya ke depan.

 

 

“Selamat ya Luhan, pria yang sedang kau incar itu adalah satu-satunya pria straight di sekolah ini. Kau hanya akan membuat segalanya menjadi jauh lebih mudah untuk dirimu sendiri.” Sindir Baekhyun.

 

 

“Bagaimana bisa bocah itu masuk ke sekolah ini?” kata Minseok, yang sejak tadi hanya sibuk mengobrol dengan Jongdae. “Maksudku, jika dia memang benar-benar straight, Dewan Sekolah seharusnya tak pernah membiarkannya masuk ke sekolah ini.”

 

 

Jongdae yang berada di sampingnya terkekeh, lalu mendorong naik kacamatanya menggunakan jari telunjuknya dan menopang dagunya dengan tangannya sendiri.

 

 

“Bukankah sudah sangat jelas? Aku mengintip catatan arsip milik Sehun ketika aku sedang berada di kantor Kepala Sekolah, dan si Sehun itu ternyata adalah seorang Trouble Maker. Dia telah ditendang keluar oleh empat sekolah sebelumnya, dan semuanya terjadi hanya dalam kurun waktu setahun saja! Hanya sekolah tak waras yang mau menerima siswa seperti dia. Apa kalian telah mendengar isu tentang kondisi finansial sekolah kita baru-baru ini? Kepala Sekolah kita ternyata telah menghabiskan seluruh dana sekolah untuk membeli lampu hias raksasa yang berada di pintu masuk utama itu dan juga untuk merenovasi gedung fashion hingga dua kali lipat dari ukuran aslinya. Kemungkinan besar orangtua Sehun menawarkan uang dalam jumlah yang sangat besar pada Kepala Sekolah agar puteranya diizinkan masuk ke sekolah ini dan sekolah tak akan mungkin bisa menolaknya kan?”

 

 

Jongin melongo ketika mendengarkan penjelasan Jongdae sebelum akhirnya mengangguk setuju. “Jadi itulah penyebab mengapa kepribadian si Hetero itu seperti itu? Impresif.”

 

 

“Oh, a Bad Boy. I like it.” Celetuk Luhan.

 

 

“Luhan!” bentak Baekhyun, tapi hanya di balas dengan senyuman lebar dan juga tawa excited oleh Luhan.

 

 

Well then, ini adalah makan siang yang paling menyenangkan. Kalau begitu aku pamit dulu ya, aku membutuhkan waktu untuk menjalin hubungan yang ‘lebih dekat’ lagi dengan roommate-ku.” Kata Luhan sambil meletakkan sumpitnya dan tersenyum cerah.

 

 

“Tahan dirimu agar tak sampai melakukan tindak pelecehan seksual. Dia itu straight, Luhan. Jangan terlalu blak-blakan, oke?”

 

 

“Aku tak pernah menjadi ‘terlalu blak-blakan’. Lemah lembut adalah nama tengahku.” Jawab Luhan sambil mengedipkan mata ke arah teman-temannya, lalu mengembalikan tray kosong pada tempatnya dan melenggang pergi.

 

 

Baekhyun mendesah, lalu memijit kepalanya dan menunjukkan wajah masam pada teman-temannya yang lain. “Apa kalian tak merasa khawatir sama sekali? Teman baik kita sedang tertarik pada seorang pria straight! Ini pasti akan berakhir buruk.” Katanya.

 

 

Minseok tertawa dan mengelus kepala Baekhyun. “Hyunnie, Oh Sehun sudah terjebak di sekolah yang penuh dengan kaum Homoseksual. Dia tak akan menjadi straight selamanya. Dan kau tahu sendiri kalau Luhan adalah tipe yang pantang menyerah apalagi dalam hal menggaet pria yang dia sukai, jadi biarkan saja dia.”

 

 

“Ngomong-ngomong, hubungan mereka nantinya tak akan berakhir menjadi lebih buruk dari hubungan Jongin dan Kyungsoo kan?” tambah Jongdae.

 

 

Jongin mengerutkan kening dan menyilangkan lengannya, kemudian menatap teman-temannya yang sekarang sedang tersenyum geli. “Kalian tunggu saja, pada akhirnya nanti Kyungsoo yang akan datang sendiri padaku. Dia tak mungkin terus-menerus mengabaikan chemistry yang sudah sangat jelas ada di antara kami.”

 

 

“Kyungsoo itu membencimu!” kata seluruh teman-temannya yang berada di dalam kelompok itu secara serempak, dan Jongin hanya memutar bola matanya. Dia angkat kepalanya dan keningnya berkerut ketika matanya menangkap Kyungsoo yang juga tengah menatapnya. Jongin melambaikan tangan dengan antusias ke arah pemuda itu tapi Kyungsoo langsung mengalihkan tatapannya dan pura-pura mengobrol dengan temannya yang lain.

 

 

“See? Kami memang di ciptakan untuk menjadi satu dengan lainnya.” Katanya, membuat Baekhyun langsung mengerang dan membenturkan kepalanya sendiri ke atas meja, sedangkan Minseok langsung berdiri dan beranjak pergi sambil menggelengkan kepalanya, dan Jongdae langsung menendang Jongin tepat pada tulang keringnya.

 

.

.

.

.

.

-Queer & Proud-

.

.

.

.

.

Luhan bersenandung ketika ia berlari turun menuju Asrama. Dia mainkan kunci miliknya menggunakan jari-jarinya dan ia baru berhenti ketika ia telah sampai di depan pintu kamarnya. Dia memutar kenop pintu kamar itu dan mendorong pintunya hingga terbuka, kemudian merentangkan tangannya di ambang pintu kamar dengan gaya yang dramatis.

 

 

“Sehunnie! I’m here–“

 

 

Luhan berkedip-kedip beberapa saat, kemudian menurunkan tangannya dengan cepat. Dia kembali melihat-lihat, tapi tak ada siapapun di dalam kamar. Keningnya berkerut, ia tutup pintu di belakangnya dan melemparkan kunci kamarnya ke atas meja.

 

 

“Sehunnie?” panggil Luhan ketika ia membuka pintu kamar mandi dengan ragu-ragu. Dan benar saja, tak ada siapapun di sana, jadi Luhan menyimpulkan jika Sehun memang benar-benar sedang tak berada di dalam kamar Asrama.

 

 

Tapi di mana roommate-nya itu? Bukankah Sehun adalah siswa baru di sekolah yang kemungkinan tak akan tahu tempat-tempat lain selain Asrama, Kafetaria, dan juga kelas Kalkulusnya?

 

 

‘Damn, seharusnya aku meminta nomor ponselnya ketika kami bertemu tadi’ batin Luhan memarahi dirinya sendiri sambil mencoba memikirkan kemana Oh Sehun kira-kira pergi. Luhan adalah tipe pria yang mudah berbaur secara alami, yang selalu ingin berteman dekat dengan semua orang yang di temuinya. Ketika ia memutuskan untuk berteman dengan seseorang, ia akan memastikan bahwa itu benar-benar akan terjadi. Dia telah terlanjur merasa tertarik pada Sehun, karena itu ia bertekad untuk menjadi lebih dekat lagi dengan roommate-nya itu, tak perduli apapun yang akan terjadi.

 

 

Memutuskan untuk keluar dari kamarnya, Luhan melangkah menuju Resepsionis. Dia berikan senyumannya pada si gadis Resepsionis itu dan si gadis langsung berdiri dari posisi duduknya, balas tersenyum pada Luhan.

 

 

“Hai Luhan! Apa yang bisa kubantu untukmu, Sweety?” tanya gadis itu.

 

 

Noona! Apa Noona tahu Sehun pergi ke mana? Dia anak baru itu, dan dia adalah roommate-ku. Dia menghilang.” Kata Luhan.

 

 

“Sehun? Kurasa dia pergi ke taman. Dia tampak tak bersemangat, tapi dia sudah buru-buru pergi tadi sebelum aku sempat membantunya.”

 

 

Luhan mengucapkan terima kasih pada gadis itu kemudian ia pergi menuju taman. Sekolah itu di bentuk dengan bangunan gedung sekolah yang di buat mengelilingi sebuah taman besar, yang biasanya di gunakan untuk berbagai keperluan seperti kelas berkebun ataupun tempat bersantai bagi para siswa selama periode istirahat.

 

 

Luhan membuka pintu kaca besar menuju taman dan mengedarkan tatapannya ke seluruh area taman itu untuk mencari kepala berambut cokelat yang sudah sangat familiar untuknya. Dia melihat beberapa siswa telah berdiri untuk mengikuti kelas mereka yang berikutnya, namun dia tetap diam pada posisinya.

 

 

“Sehun? Panggil Luhan. Dia langkahkan kakinya ke dapan sambil menoleh ke sana- kemari, hingga pandangan matanya berakhir pada semak-semak besar yang berada di sudut taman.

 

 

Luhan berjalan menuju semak-semak itu dan menemukan Sehun tengah duduk di sebuah bangku panjang. Bangku panjang itu tak terlihat karena terhalang oleh semak-semak, tempat yang benar-benar sempurna untuk bersembunyi.

 

 

“Sehun? Kau baik-baik saja?” tanya Luhan ketika ia menangkap ekspresi sedih pada wajah Sehun.

 

 

Mata Sehun terbuka, dan ia langsung melotot pada sosok pria yang ia anggap pengganggu itu. “Apa yang kau lakukan di sini? Bagaimana kau bisa menemukanku?” kata Sehun sambil mencibir.

 

 

“Aku bertanya-tanya pada orang lain.” Kata Luhan sambil mengedikkan bahunya, kemudian duduk di samping Sehun. “Apa kau sedang bersembunyi?”

 

 

“Ya, dan kau menemukanku!” jawab Sehun sambil memejamkan mata dan meluruhkan tatapannya ke arah tangannya sendiri.

 

 

“Tentu saja aku menemukanmu! Aku ini sangat mahir bermain petak umpet. Aku akan selalu menemukanmu, jadi tak ada gunanya kau mencoba untuk bersembunyi.”

 

 

Sehun mengerang, dan Luhan terkikik geli.

 

 

“Apa kau memang selalu menyebalkan seperti ini? Atau sikap menyebalkanmu itu hanya di khususkan untukku saja?” tanya Sehun.

 

 

Luhan memiringkan kepalanya, dan menatap Sehun dengan ekspresi bingung.

 

 

“Menurutmu aku menyebalkan ya?”

 

 

Sehun mengangkat kepalanya dan menatap mata Luhan. “ Bukankah kau bisa melihatnya dengan sangat jelas?” kata Sehun sambil menatap Luhan dengan berbagai ekspresi jengkel pada matanya.

 

 

Akhirnya Luhan memilih untuk menunjukkan cengirannya lalu mengedikkan bahunya, bersikap tak perduli.

 

 

Well, menurutku itu tak begitu penting. Aku menyukaimu, jadi bisa kupastikan tak lama lagi kau akan berakhir dengan menyukaiku juga.” Kata Luhan.

 

 

Sehun menatap Luhan dengan tatapan tak percayanya. “Apa kau juga selalu bersikap optimis begini?”

 

 

“Ya, aku sudah bilang berkali-kali kan kalau aku memang begitu?”

 

 

Lagi-lagi Sehun mengerang dan merosotkan dirinya di kursinya, kemudian mulai menimbang-nimbang apakah lebih baik ia terus duduk sambil mengobrol dengan Luhan seperti sekarang ini ataukah lebih baik ia kabur saja dari sini?

 

 

Sehun baru saja membungkukkan tubuhnya untuk berdiri, tapi ia di kejutkan oleh sebuah tangan yang tiba-tiba saja mencengkram lengannya.

 

 

“Sehun, yang ingin kukatakan padamu adalah kita ini roommate, dan kemungkinan besar kita akan saling melihat satu sama lain dalam jangka waktu yang lama, jadi lebih bagus bagi kita untuk menjadi teman baik.” Kata Luhan dengan ceria.

 

 

Sehun menatap Luhan dengan tatapan blank-nya, kemudian menggigit bibirnya sendiri karena merasa nervous.

 

 

“Apakah semua orang di sini benar-benar…..gay?”

 

 

Luhan tak menyangka jika Sehun akan kembali menanyakan hal itu.

 

 

“Um…ya, semuanya memang gay. Kau bukan seorang homophobic kan?” kata Luhan sambil melebarkan matanya.

 

 

“Tidak, tentu saja bukan.” Jawab Sehun cepat-cepat. Dia alihkan tatapannya ke arah tanah. “Aku hanya butuh waktu untuk membiasakan diri dengan keadaan seperti ini.” Kata Sehun.

 

 

Luhan menganggukkan kepalanya, mengerti.

 

 

“Aku bisa mengerti. Aku tahu aku termasuk beruntung karena belum pernah mengalami bullying di sekolah umum yang normal. Aku hanya bisa menebak-nebak bagaimana terkejutnya kau saat tiba-tiba saja menemukan dirimu berada di dalam sekolah yang seluruh isinya adalah kaum homoseksual seperti sekolah ini.”

 

 

Sehun baru saja akan menjawab ketika lonceng sekolah terdengar sangat keras. Luhan tersentak dan berdiri secara tiba-tiba.

 

 

“Oh, tidak! Aku melupakan kelas! Sehun, selanjutnya kau ada kelas apa?”

 

 

Sehun mengerutkan keningnya. “Sebenarnya aku tak harus menghadiri kelas hari ini. Kurasa aku hanya akan pergi melihat-lihat sekitar sekolah saja.”

 

 

Luhan mengangguk, kemudian membungkuk untuk memberikan pelukan cepatnya pada Sehun.

 

 

“Aku sangat ingin mengantarkanmu pergi melihat-lihat ke sekitar sekolah, tapi aku benar-benar harus menghadiri kelas sekarang, jadi lain kali saja baru aku mengobrol denganmu lagi ya Sehunnie…”

 

 

Sebelum Sehun sempat mendorongnya, Luhan sudah lebih dulu melompat dan melambaikan tangannya pada pria yang masih tampak kaget itu, kemudian ia kabur keluar dari taman. Sehun hanya melongo melihat pria yang lebih tua darinya itu melompati semak-semak dan lenyap dari pandangannya.

 

 

Sehun mengerang sekali lagi, lalu ia berdiri sambil bertanya-tanya dalam hati, berapa lama lagi ia harus bertahan di sekolah ini hingga keberuntungannya habis dan sekolah akan mengusirnya?

 


 

To Be Continued


Original version : Queer & Proud ( Pleasant? Surprise! )

Advertisements