Queer & Proud

 

ibp0Qyn0C7iZEf

Story By Lynn_Star

 

.

Translate By tmarionlie

 

 

.

EXO Official Couple  |  HunHan  |  ChanBaek  |  KaiSoo  |  ChenMin  |  Yaoi  |  Fluff  High School Romance  |  Rate T


CHAPTER 1 – WELCOME


“Oh Sehun! Welcome home!”

 

 

Pria berwajah boneka itu berseru sambil melemparkan senyumannya pada Oh Sehun. Sehun melongo hingga beberapa saat sebelum akhirnya tersadar dan ia dorong pria itu menjauh darinya.

 

 

“Apa yang kau lakukan?!” seru Sehun sambil melotot pada pria yang tampak terkejut itu. Pria itu berkedip, wajahnya tampak kebingungan.

 

 

“Aku sedang memberikan pelukan selamat datang untukmu.” kata pria itu, seakan-akan itu adalah tindakan yang paling harus dia lakukan di dunia ini.

 

 

“Pelukan selamat datang? Aku bahkan tak mengenalmu!” kata Sehun, berusaha untuk tak berteriak.

 

 

“Kau tak harus mengenalku untuk mendapatkan pelukan dariku.”

 

 

Sehun menatap pria itu dengan tatapan putus asanya. Dia gelengkan kepalanya dan secara perlahan ia berdiri sambil meraih dua tasnya. Sehun melangkah menuju ranjang yang tidak di gunakan lalu meletakkan tas-tasnya di atas ranjang itu.

 

 

“Haruskah aku mengajakmu berkeliling ke sekitar kamar, Oh Sehun?” kata pria itu ceria. Sehun berputar untuk melihat pria yang berdiri di sampingnya itu.

 

 

“Tidak, aku tak butuh berkeli –tunggu! Bagaimana kau bisa tahu namaku?”

 

 

Pria itu tertawa keras, dan itu membuat Sehun menjadi merinding setengah mati.

 

 

“Semua orang tahu namamu.”

 

 

Sehun memutuskan untuk berhenti bertanya. Dia buka resleting tasnya dan mulai mengambil barang-barangnya ketika pria tadi melompat ke atas ranjangnya yang tampak nyaman, sangat sesuai dengan kesukaannya.

 

 

“Namaku Xi Luhan. Tentu saja aku juga sudah tahu namamu.” Kata pria itu.

 

 

Sehun hanya diam, kemudian berbalik untuk pergi ke kamar mandi. Luhan langsung berdiri lalu mengekor di belakang Sehun.

 

 

“Siswa pindahan benar-benar langka di sekolah ini. Semua siswa disini menetap mulai dari siswa tahun pertama hingga siswa tahun ketiga, tak pernah ada yang pergi, dan tak pernah ada yang masuk. Itulah mengapa kedatanganmu menjadi sesuatu hal yang begitu besar. Teman-temanku bahkan merasa cemburu karena aku yang mendapatkan ‘anak baru’ untuk menjadi roommate-ku!”

 

 

Dengan nafas jengkelnya, Sehun membanting pintu kamar mandi. Dia mulai berpikir apakah dia sudah terlambat atau belum untuk mengganti roommate-nya itu.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

Setelah mempersiapkan segala kebutuhan mandinya serta melakukan ‘mandi kilat’ hanya sekedar untuk mendinginkan kepalanya, Sehun membuka pintu kamar mandi dengan perlahan dan melangkah kembali ke dalam kamar. Anehnya, Luhan sudah tak ada lagi di sana. Sehun melakukan tarian bahagia dalam hati lalu membongkar sisa pakaiannya sebelum akhirnya mengecek jadwalnya sendiri.

 

 

Kelasnya setelah ini adalah Kalkulus, seharusnya baru akan di mulai dalam 20 menit lagi. Sebenarnya Sehun tak di haruskan untuk mengambil kelas hari ini, tapi Sehun pikir mengambil kelas adalah alternatif yang lebih baik ketimbang ia harus tinggal di dalam kamar sepanjang hari, apalagi Luhan bisa menyerangnya kapan saja.

 

 

Cepat-cepat ia bereskan tasnya, kemudian Sehun melangkah keluar dari dalam kamar asramanya dan langsung menuju ke arah gedung utama di mana kelas di adakan. Sehun mengangguk singkat pada resepsionis sebelum melirik pada peta yang ia pegang.

 

 

Ruangan Kalkulus ternyata lumayan jauh juga. Sehun baru berhasil menemukan kelas itu sekitar 4 menit sebelum kelasnya di mulai. Lorong kelas itu sangat ramai oleh para siswa, dan Sehun merasa tak nyaman dengan seluruh tatapan yang di tujukan padanya. Biasanya, anak-anak tak akan begitu tertarik dengan ‘anak baru’. Sehun tak suka menjadi pusat perhatian seperti ini. Dia mengayunkan pintu kelas hingga terbuka kemudian ia langsung kabur ke dalam ruangan kelas itu.

 

 

Hanya beberapa orang siswa yang duduk di kursinya masing-masing. Hampir seluruh siswa berdiri, mengobrol dengan teman-teman mereka. Pada moment ketika Sehun mulai melangkahkan kakinya masuk, ruangan mendadak menjadi hening dan hampir sekitar dua puluh pasang mata langsung berpaling menatapnya. Saat itulah fakta aneh seperti memukul Sehun.

 

 

Seluruh siswa adalah laki-laki.

 

 

Satu-satunya perempuan yang ia temukan hanyalah gadis resepsionis tadi, dan seluruh siswa di sini semuanya adalah pria. Dasi dan celana. Bahkan ada siswa yang berdandan ekstrim hingga terlihat girly seperti perempuan, dengan kunciran ekor kuda dan juga eyeliner, padahal jelas-jelas dia adalah anak laki-laki. Sehun mulai mengutuk-ngutuk Ibunya sendiri karena telah memasukkannya ke sekolah yang hanya berisi siswa laki-laki seperti ini.

 

 

Sehun melangkah ke sebuah meja kosong yang berada di paling belakang ruangan kelas itu, mengabaikan seluruh tatapan kemudian ia duduk di sana. Pria yang duduk di depannya, yang tadinya sedang memainkan ponsel kini berbalik dan menatap Sehun dengan tatapan penuh minat. Sehun mencatat dalam hati tentang kulit gelap pria itu, dan juga mata lelahnya.

 

 

“Kau baru.” Pria berkulit gelap itu menggumam, kemudian mengetuk-ngetukkan ponselnya ke atas mejanya.

 

 

Sehun mengerutkan kening saat melihat gesture pria itu, tapi tetap menjawab sebagai bentuk kesopanan.

 

 

“Ya, sayangnya begitu.”

 

 

Sehun menyadari jika saat ini semua orang sedang menatap ke arah mereka.

 

 

“Pasti kau bukan termasuk orang yang banyak bicara ya?” lanjut pria itu, dengan senyuman tipis pada wajahnya.

 

 

“Bukan.”

 

 

Hening sejenak, hingga akhirnya pria berkulit gelap itu mulai tertawa. Tawanya sangat keras dan juga menyebalkan.

 

 

Good, good. Aku suka kau.”

 

 

Sehun hendak membalas ucapan pria itu, ingin menyatakan kalau ia tak butuh di sukai, tapi pria itu sudah berbalik dan sekarang sudah kembali memainkan ponselnya lagi. Setelahnya seorang Guru memasuki ruangan dan langsung berjalan lurus ke depan ruangan kelas. Guru itu mengamati seluruh siswa yang berada di dalam kelas dengan cepat sebelum tatapannya berhenti pada Sehun.

 

 

“Oh Sehun? Siswa pindahan kan?”

 

 

Sehun menganggukkan kepalanya dan menarik nafas dengan cepat, berharap jika Guru itu tak akan memaksanya untuk mengenalkan diri secara formal.

 

 

“Apa kau sudah mengumpulkan semua buku teks dan juga bahan-bahan untuk mengikuti kelas ini?”

 

 

Sehun menggelengkan kepalanya. “Tidak Sir, belum.”

 

 

Guru itu menggeser tumpukan-tumpukan kertas sebelum akhirnya menarik keluar sebuah LKS dari situ. Kemudian Guru itu melangkah menuju sudut kelas, meraih sebuah buku sebagai tambahan lalu menyerahkannya pada Sehun.

 

 

“Kau bisa menggunakan buku itu di waktu-waktu luang yang kau miliki tahun ini. Dan LKS itu adalah PR-mu untuk malam ini. Ku harap kau sudah menyelesaikan itu semua sebelum pertemuan pada kelas berikutnya. Kau mengerti?”

 

 

Sehun menggumam sebagai jawaban dan memasukkan buku serta LKS itu ke dalam tasnya sendiri. Dia menatap ke sekeliling kelas ketika Guru itu mulai menerangkan pelajaran. Hanya sedikit dari siswa yang memperhatikan. Sebagian besar siswa memainkan ponsel mereka, sebagian malah tidur, ada juga yang mengobrol atau membaca komik di balik tas mereka. Beberapa siswa bahkan ada yang sedang menggunakan makeup. Sehun sendiri bahkan tak pernah memoleskan BB Cream pada kulit wajahnya, tapi mereka itu malah memoles seluruh wajahnya dengan menggunakan eyeliner, lip gloss, dan juga mascara.

 

 

Jongin, pria berkulit gelap yang duduk di depan meja Sehun pasti menangkap ekspresi terkejut Sehun ketika Sehun berbalik setelah mengeluarkan dengusan kerasnya.

 

 

“Apa kau tahu kau sedang berada di mana?”

 

 

Sehun menatap Jongin sambil mengerutkan keningnya.

 

 

“Apa aku perlu tahu ini di mana?”

 

 

Jongin melemparkan tatapan datarnya sebelum akhirnya (lagi-lagi) tertawa menyebalkan. Dia condongkan tubuhnya ke depan, kemudian menepuk bahu Sehun untuk memberikan semangat sambil menunjukkan senyuman liciknya.

 

 

“Kau sedang berada di dalam sebuah neraka yang mengejutkan Oh Sehun.”

 

 

Sehun menatap tak suka pada pria itu tapi Jongin membalasnya dengan sebuah seringaian, berdiri, dan berjalan menuju ke belakang ruangan kelas. Tak satupun siswa yang memperhatikan Jongin, bahkan Guru mereka hanya melirik santai pada Jongin ketika pria berkulit gelap itu pergi meninggalkan kelas sebelum akhirnya kembali fokus pada whiteboard-nya.

 

 

Karena merasa penasaran, Sehun memiringkan tubuhnya ke kanan dan berbisik pada siswa pria yang duduk di sampingnya.

 

 

“Hei.”

 

 

Siswa pria itu mungkin adalah satu-satunya siswa yang memperhatikan apa yang Guru mereka katakan di dalam kelas ini, karena itu ia menatap Sehun dengan ekspresi kesalnya.

 

 

“Apa?” jawabnya, dengan nada suara yang terdengar bosan.

 

 

“Siswa tadi baru saja pergi meninggalkan kelas.”

 

 

Siswa pria itu mengerjap perlahan. “Ya, dia melakukannya. Lalu apa masalahmu?”

 

 

“Dia pergi saat proses belajar-mengajar masih berlangsung, dan juga tanpa mengatakan apapun. Memangnya hal seperti itu diperbolehkan ya?” Sehun menjaga suaranya agar tetap pelan, lalu mengedarkan tatapannya ke sekeliling untuk memastikan jika  tak ada yang memperhatikan obrolan mereka. Beruntung bagi Sehun, karena semua siswa saat ini terlihat asyik dengan kegiatan mereka masing-masing.

 

 

Secara mengejutkan, pria yang duduk di sampingnya itu mendengus, kemudian memalingkan kepalanya kembali pada buku teks yang dia letakkan di atas meja di hadapannya.

 

 

“Tidak. Tentu saja tidak. Tapi dia adalah si sialan Kim Jongin. Dia bisa melakukan apapun yang dia mau kemudian dia bisa lolos begitu saja.”

 

 

Sehun mendengar nada pahit dalam suara siswa pria itu tapi ia biarkan saja. Sehun bukanlah tipe orang yang cerewet, dan ia juga tak ingin mempersulit dirinya sendiri dengan terus-menerus bicara dengan anak itu. Sehun hanya mengangguk kecil dan berbisik untuk mengucapkan terima kasih dengan singkat, lalu memasangkan earphone ke telinganya sendiri.

 

 

Kelas berjalan dengan waktu yang tak begitu panjang karena sekejap kemudian bel telah berbunyi, menandakan jika kelas telah berakhir. Hampir seluruh siswa yang berada di dalam kelas melonjak senang, kemudian membereskan apapun yang mereka keluarkan tadi kembali ke tasnya masing-masing, dan mereka berlarian menuju ke pintu keluar. Sehun juga berdiri dan ingin meninggalkan kelas, tetapi sebuah suara menghentikannya.

 

 

“Oh Sehun.”

 

 

Sehun merasa terkejut tapi tetap menunjukkan wajah tenangnya. Dia balikkan tubuhnya, dan ia menemukan siswa pria yang dia tanyai tadi. Ketika pria itu berdiri seperti ini, Sehun baru menyadari jika pria itu ternyata cukup pendek juga untuk remaja-remaja seusianya. Mata pria itu juga adalah mata terbesar yang pernah ia lihat, namun tersembunyi di balik kacamata yang dia pakai.

 

 

“Kau tadi membicarakan si Kim Jongin kan? Aku hanya ingin memperingatkanmu saja, jika aku jadi kau, aku tak akan mau bergaul dengan gerombolannya si Kim Jongin itu.”

 

 

Sehun mengangkat kedua alisnya.

 

 

“Aku sedang tak tak bergaul dengan gerombolan siapapun saat ini.”

 

 

Siswa itu terdiam selama beberapa saat sebelum menyodorkan tangannya pada Sehun.

 

 

“Namaku Do Kyungsoo. Sepertinya kita akan duduk berdampingan selama sisa tahun ini. Aku hanya ingin memberikan beberapa saran untuk membantumu karena sepertinya kau tak tahu kau sedang berada di mana sekarang.”

 

 

Sehun tampak ragu-ragu namun memutuskan untuk membalas jabatan tangan pria itu.

 

 

“Kau sudah tahu namaku kan? Aku sangat menghargai saran yang kau berikan, tapi sejujurnya aku tak pernah berpikir kalau aku akan bergabung dengan ‘gerombolan’ si Kim Jongin itu untuk beberapa waktu ke depan.”

 

 

Kyungsoo menunjukkan senyuman kecilnya sebelum menganggukan kepalanya, kemudian ia melangkah ke arah pintu keluar. Sehun baru saja akan meninggalkan ruangan ketika ia melihat Jongin berjalan memasuki ruangan kelas. Jongin menatapnya sambil melemparkan senyuman lebarnya, lalu berjalan ke arah Sehun.

 

 

“Hei, anak baru! Mau duduk bergabung denganku untuk makan siang?” tanya Jongin, membuat Sehun bertanya-tanya mengapa Jongin kembali ke dalam kelas.

 

 

“Tidak.”

 

 

Tapi tiba-tiba saja Jongin meraih lengan Sehun dan menyeret pria itu ke arah lorong kelas. Sehun terlalu terkejut hingga ia tak sempat mengatakan apapun karena Jongin terus  memaksanya menyusuri lorong dan berakhir pada sebuah tempat yang tampak seperti kafetaria. Jongin langsung membawa Sehun menuju ke satu meja besar di bagian paling belakang dan memaksa pemuda itu duduk di salah satu kursi yang kosong.

 

 

“Kita punya anggota baru, Guys!” kata Jongin mengumumkan, sambil mengambil tempat duduk di seberang Sehun.

 

 

Sehun melongo sekejap, kemudian ia mengedarkan tatapannya untuk melihat orang-orang yang duduk di sekeliling meja itu. Sehun tak mengenal siapapun di antara orang-orang itu hingga tatapannya mendarat pada seseorang yang duduk di sampingnya dan sekarang ini sedang melemparkan cengiran ke arahnya.

 

 

“Sehun! Kau datang untuk duduk bersama kami? Aku sangat senang!” pekik Luhan sambil memeluk Sehun.

 

 

“Ap-apa?” Sehun mendorong Luhan menjauh lalu menatapnya. Sehun benar-benar tak bisa percaya dengan keberuntungannya sendiri. Bukan hanya di seret paksa ke tempat ini oleh seorang psycho yang bahkan sudah diperingatkan seseorang untuk ia hindari, lalu kini ia juga harus duduk dan harus makan bersama dengan roommate-nya yang sangat menyebalkan itu?

 

 

“Sialan! Aku harus segera pergi dari sini.” Rutuk Sehun dalam hati.

 

 

Sorry.” Kata Sehun, menatap langsung pada Jongin. “Tapi seseorang telah memperingatkanku untuk menjauh darimu dan juga ‘gerombolanmu’. Kupikir menjauhimu juga mencakup tidak makan bersama denganmu.”

 

 

Jongin melemparkan tatapan datar pada Sehun sebelum meledakkan tawanya.

 

 

“Apa seseorang yang kau maksud itu Do Kyungsoo?”

 

 

Sehun menyandarkan tubuhnya lalu menatap Jongin. “Bagaimana kau mengetahuinya?”

 

 

Jongin menunjukkan seringaian terbaiknya. “Dia itu pacarku.” Kata Jongin, membuat mata Sehun melebar bahkan ia juga sampai tersedak ludahnya sendiri.

 

 

“Dia itu– What?

 

 

Belum sempat Sehun mengatakan apapun lagi, ia melihat sosok mungil yang berjalan menuju meja mereka, dan pria mungil itu tiba-tiba saja berteriak marah padanya.

 

 

“Oh Sehun! Aku sudah memperingatkanmu untuk menjauh dari dia!

 

 

Sehun melongo ketika melihat Kyungsoo melotot padanya. Dia mendengar Jongin tertawa, dan Sehun menarik nafas lega karena kemarahan Kyungsoo kini beralih pada Jongin.

 

 

“Tutup mulutmu Jongin, atau kau akan tidur di kamar Luhan bulan depan!”

 

 

Jongin menyeringai sebelum melingkarkan lengannya ke pinggang Kyungsoo dan membawa Kyungsoo ke pangkuannya.

 

 

“Apa kau masih marah padaku sayang? Aku kan hanya–“

 

 

Ucapan Jongin terhenti oleh serangan yang menyakitkan pada tulang rusuknya. Kyungsoo berdiri dari pangkuan Jongin dengan wajah yang terlihat gusar dan sangat marah, lalu kembali menatap pada Sehun.

 

 

“Aku sudah memperingatkanmu dengan sangat jelas agar menjauh darinya. Aku tak butuh berurusan dengan orang idiot yang lain, dan sayangnya siapapun yang berada di sekeliling Jongin pasti akan berubah menjadi salah satunya” kata Kyungsoo sambil mengacungkan telunjuknya ke wajah Jongin.

 

“Ouch, itu menyakitkan, Babe.” Kata Jongin sambil pura-pura menangis.

 

 

“I’am not your Babe!”

 

 

Kyungsoo memberikan pukulan telaknya pada bagian belakang kepala Jongin dan melemparkan lirikan tajam terakhirnya pada Sehun sebelum akhirnya pergi dari tempat itu. Sehun masih tampak sangat terkejut melihat interaksi antara Jongin dan Kyungsoo tadi namun tampaknya semua orang yang berada di situ sudah kebal melihatnya. Luhan hanya tertawa kecil sambil menikmati makan siangnya, Jongin memijit kepalanya yang terasa berdenyut-denyut, dan sisanya saling mengobrol satu sama lain.

 

 

“Woah, tahan dulu!” kata Sehun sambil mengangkat tangannya, “Jadi kalian benar-benar pacaran? Serius?”

 

 

Jongin baru mau menjawab tapi sudah di dahului oleh seseorang yang mengenakan beanie berwarna biru. “Tentu saja mereka tak pacaran” kata pria itu, lalu memutar bola matanya saat melihat Jongin cemberut, “Jonginnya berharap, tapi Kyungsoo lebih suka membunuhnya ketimbang membalas perasaannya itu.”

 

 

“Jelas-jelas Kyungsoo tertarik padaku!” kata Jongin ber-statement, namun semua orang yang duduk di sekitar meja langsung menatapnya dengan tatapan mematikan.

 

 

“Tidak, dia tak tertarik padamu.” Kata Luhan sambil tertawa, lalu berpaling menatap Sehun.

 

 

“Kyungsoo itu roommate-nya Jongin. Dia juga salah satu siswa terpintar di sekolah kami. Jongin sudah menyukainya sejak Elementary tapi sayangnya Kyungsoo membencinya.” Kata Luhan, membuat Sehun langsung menatap Jongin.

 

 

“Kenapa kau tak menyukai perempuan saja? Para gadis pasti akan langsung terpesona pada ketampananmu. Lagipula kenapa kau mau membuang-buang waktumu untuk menyukai seseorang yang membencimu?”

 

 

Jongin memasukkan sepotong Kimbap ke dalam mulutnya dan mengunyahnya dengan lambat hingga akhirnya menjawab.

 

 

“Aku tak akan berpacaran dengan anak perempuan. Aku gay.”

 

 

Sehun berkedip-kedip dengan lambat.

 

 

“Dan semua anak-anak di sekolah ini juga sama.”

 

 


 

To Be Continued


A/N : Baca original version Chapter 1 di Queer & Proud ( Welcome )

Advertisements