th (1)

VAPHILORM

 

.

.

By tmarionlie & Park NamWoo

.

.

HunHan

.

.

Yaoi   |   Angst   |   Sad  Romance   |    Mature   |   OneShoot


WARNING!

FF ini adalah FF kolaborasi ( Author Hunhan ) dengan pen name Park Namwoo ( Author FB ) dan tmarionlie ( saya ).

 

Ide cerita ORIGINAL milik Park Nam Woo. Konsep cerita adalah hasil kolaborasi.

 

Diksi tulisan dan pengembangan cerita adalah hasil karya tmarionlie ( saya ).


Berapapun tangan yang terulur, tak akan mampu memungut apa yang telah tertebar dan tak akan pula mampu menebar apa yang telah dipungut. Siapa yang mampu menolak lengan takdir? Sekalipun seluruh waktu kuhabiskan untuk berdoa dan mengharapkan beberapa detik mundur, tak akan mampu merubah apapun yang telah direncanakan oleh-Nya. Kadang aku ingin meronta ketika mereka bisa dengan mudah berkata, selalu ada rahasia di dalam catatan takdir-Nya, meskipun catatan itu akan menorehkan luka yang sangat menyakitkan. Sungguh, kenyataan ini, susah membuatku percaya…

-Luhan-


VAPHILORM


Bias cakrawala senja menerobos masuk ke dalam celah-celah gorden transparan ruangan bercat putih membosankan itu. Bias jingganya menerpa separuh wajah dan rambut cokelat madu pria cantik yang tengah duduk menyender di ranjang rumah sakit dengan tatapan lemah ke arah layar televisi yang menggantung dihadapannya.

 

Menunggu.

 

Sudah 30 menit berlalu sejak ia menyalakan televisi yang masih menampilkan sebuah acara talkshow yang penuh dengan unsur komedi, tapi wajahnya tetap datar, bibir mungilnya tetap terkatup rapat, hingga bias cahaya jingga yang menerobos celah-celah gorden transparan rumah sakit itu berpendar dan menghilang, bersamaan dengan acara talkshow yang hampir mencapai segmen terakhir. Soundtrack acara talkshow mengalun, dan posisi duduk pria cantik tadi sontak menegak. Wajahnya yang semula layu kini tampak sedikit bersemangat. Mata rusanya menatap lekat pada layar televisi yang akhirnya memutarkan soundtrack dan cuplikan-cuplikan drama romantis itu. Bukan, pria cantik itu bersemangat bukan karena ia suka dengan jalan cerita drama romantisnya, melainkan pada pemeran utama prianya, sosok pria tampan berkulit pucat yang sangat dikenalnya.

 

“Sehun…”

 

Pria itu tersenyum tipis setelah menyebutkan nama aktor tampan itu dengan bibirnya. Nama pria itu seolah seperti mantera, yang dengan ajaib mampu mengembalikan semangat hidupnya yang semakin hari semakin menipis.

 

Kini tangan kecilnya sudah terangkat, menopang dagunya yang tak begitu runcing. Matanya menatap lurus pada wajah aktor tampan itu dengan sudut-sudut bibir yang masih tetap tersungging naik, membentuk sebuah senyuman yang cantik.

 

“Kau bahkan sudah sukses sebagai aktor, sesuai dengan mimpimu Sehuna…” gumam pria cantik itu.

 

Bibirnya tak pernah berhenti tersenyum sepanjang wajah pria pucat itu terpampang di layar televisi, namun beberapa saat berubah cemberut ketika iklan komersial mulai ditayangkan untuk jeda setiap scene dalam dramanya. Pria cantik itu sebenarnya masih sangat ingin menonton sampai akhir, namun mengurungkan niatnya ketika seorang perawat masuk ke dalam kamar rawatnya yang membosankan. Perawat wanita itu memeriksa beberapa peralatan yang menempel-nempel di tubuhnya sebelum akhirnya melemparkan senyum hangatnya pada pria cantik tadi.

 

“Tuan Kim Luhan, sore ini anda sudah diperbolehkan pulang oleh Dokter. Semuanya sudah dipersiapkan oleh pihak rumah sakit Beijing dan juga keluarga anda.”

 

Perawat itu menyerahkan selembar kertas yang –katanya– harus dia tanda tangani, dan Luhan memberikannya.

 

“Suster, bisa tolong panggilkan Ibuku? Ada hal penting yang ingin ku katakan padanya.”

 

Perawat itu mengangguk, tetap dengan senyuman hangat di bibirnya.

 

“Baiklah, tunggu sebentar.”

 

Perawat itu masih sempat merapikan posisi selimut Luhan yang sudah melorot sampai ke lutut. Luhan hanya diam, lalu kembali pada posisinya, menyandar pada bantal-bantal yang di susun tinggi di belakang punggungnya hingga perawat itu keluar dari ruangan.

 

Menunggu lagi.

 

Beberapa menit berlalu dalam keheningan, sampai akhirnya Ibu Luhan masuk ke dalam ruangan rawat puteranya.

 

“Kau memanggil Eomma sayang?” kata Ibunya, lembut.

 

Luhan mengangguk.

 

Kim Taeyeon –Yang dipanggil Eomma oleh Luhan– menghampiri Bed Stretcher berwarna abu-abu yang digunakan oleh puteranya itu dan duduk di tepian kasurnya.

 

“Ada yang ingin kau katakan pada Eomma?” tanya Taeyeon dengan intonasi yang penuh kelembutan, khas seorang Ibu.

 

Lagi-lagi Luhan mengangguk.

 

Eomma…Aku tak ingin pulang ke Beijing, bolehkah?”

 

Wanita dewasa di hadapannya itu hanya diam menatap puteranya. Bibirnya masih terkatup rapat, tak menjawab permintaan puteranya.

 

“Beijing adalah rumah nak…” jawab Taeyeon lembut.

 

“Tidak, bagiku Korea adalah rumah! Sudah cukup banyak waktu yang kuhabiskan di Beijing demi kelancaran hubungan Eomma dengan Tua Bangka sialan itu, hingga aku harus mengalami-“

 

“Baiklah!” Potong Taeyeon dengan cepat. Wajah wanita paruh baya itu menyiratkan kelelahan, dan kesakitan yang teramat dalam jika bibir mungil putera tunggalnya itu kembali mengungkit ‘hal itu’.

 

Lahir di Korea dan tumbuh besar di China. Luhan hanya sempat menikmati hidup kanak-kanaknya yang menyenangkan di Negara Korea ini hanya hingga usianya menginjak 9 tahun. Namun keegoisan orangtua yang tak pernah akur membuat masa kanak-kanaknya yang indah terenggut dengan paksa. Orangtua bercerai, Ayah yang memutuskan menikah dengan wanita selingkuhannnya dan Ibu yang memutuskan kabur dari masa kelam dan pergi ke Negara China hingga akhirnya menikah lagi dengan pria paruh baya kaya yang juga berkewarga-negaraan China, membuat masa kanak-kanak Luhan yang indah menjadi ternoda. Kehidupan anak-anaknya yang harusnya dia lalui tanpa beban, malah harus tercoreng tinta hitam karena Ayah tirinya yang Biseksual, bahkan lebih buruknya lagi ternyata adalah seorang Pedofil Maniak.  Luhan ingin sekali menjerit, menangis meraung-raung jika tiba-tiba memori otaknya menghantarkannya pada kenangan kelam itu, namun prinsip dan keteguhannya sebagai pria, tak ingin dia nodai. Pria tidak menangis. Airmata hanyalah untuk wanita. Hanya pria pengecut yang mengungkapkan kesedihannya dengan airmata. Setidaknya itulah yang menjadi keyakinannya saat ini, hingga membuatnya tampak tegar, meskipun dirinya sebenarnya sangat rapuh di dalam.

.

.

Flashback

.

Luhan kecil masih asyik menikmati susu vanilla-nya ketika Baba –Suami baru Taeyeon- datang sambil mengeratkan simpul dasi di lehernya. Pria paruh baya itu sempat mengusap surai cokelat madu bocah kecil berusia 10 tahun itu sebelum akhirnya duduk di hadapan putera isterinya itu.

 

“Xiao Lu sudah selesai sarapan?” tanya pria paruh baya itu.

 

Luhan kecil mengangguk imut sambil tersenyum lucu, khas anak-anak.

 

Baba tersenyum padanya, lalu mulai menggigit roti panggang miliknya yang sudah disiapkan oleh Taeyeon pagi-pai tadi.

 

“Eomma dimana?” tanya Baba lagi, sambil celingukan mencari keberadaan isteri barunya.

 

Luhan kecil menatap Baba-nya dengan tatapan bocahnya, lalu menelengkan kepalanya sedikit.

 

“Eomma kan berangkat pagi-pagi sekali, katanya ada berita yang harus dikejarnya sampai ke pulau Jeju…Memangnya Eomma tak meminta izin pada Baba?” tanya Luhan kecil bingung.

 

Pria paruh baya itu terdiam. Pekerjaannya di kantor memang sedang parah-parahnya, hingga ia harus menghabiskan waktu seharian penuh untuk berkutat dengan dokumen-dokumen memuakkan di perusahaan, intensitas komunikasinya dengan isteri barunya sendiri sampai berkurang.

 

Pria itu berkutat dengan pikirannya beberapa lama sebelum akhirnya matanya terpaku pada wajah cantik dan kulit mulus putera tirinya yang sejak tadi masih asyik menikmati susu paginya. Jakun pria itu mulai naik-turun, sebelum akhirnya beranjak dari duduknya dan menghampiri bocah kecil yang masih polos itu. Tatapan matanya nyalang, menatap intens pada lekuk-lekuk tubuh putera tirinya. Matanya menyusuri setiap inci kulit putih mulus puteranya sebelum akhirnya merundukkan tubuh, berjongkok dihadapan lutut putera tirinya itu.

 

“Xiao Lu sayang kan pada Baba?”

 

Luhan kecil menelengkan kepalanya bingung, tapi akhirnya tersenyum dan mengangguk-angguk.

 

Baba tersenyum –atau menyeringai- sebelum akhirnya menggendong tubuh puteranya dan membawanya masuk ke dalam kamar pribadinya.

 

Luhan kecil hanya diam saat itu, tak mengerti dengan apa yang terjadi. Mulutnya terkatup rapat dengan tatapan mata polos yang menyiratkan kebingungan, namun hanya diam saja, bahkan ketika jari-jari biadab Baba melepaskan seluruh pakaiannya sampai tak bersisa, lalu memasukkan satu jarinya kebagian belakang tubuh kecilnya, Luhan hanya bisa meringis perih, dan menjerit kesakitan saat ‘sesuatu  yang menegang’ di bagian bawah tubuh Baba memaksa masuk ke bagian belakang tubuhnya. Saat itu Luhan hanya menangis meraung-raung, tapi Baba tak perduli, dan malah menusuk-nusuk tubuhnya dengan keras. Bahkan Baba menamparnya ketika Luhan berteriak-teriak sambil memberontak minta dilepaskan. Baba baru berhenti bergerak ketika Luhan kecil merasa jika Baba buang air kecil di dalam anusnya, kemudian Luhan dilepaskan.

 

Saat itu, Luhan kecil hanya meringkuk takut, dan semakin takut ketika Taeyeon tak kunjung pulang ke rumah. Dua hari, tiga hari, Luhan hanya menunggu dengan perasaan takut yang luar biasa, dan selalu cemas ketika Baba pulang dari kantor, karena Baba pasti akan masuk ke kamarnya lalu kembali ‘menusuknya’ lagi seperti malam-malam sebelumnya.

 

Satu minggu berlalu, dan Taeyeon tak juga pulang. Luhan kecil saat itu sedang menyembunyikan dirinya di balik selimut, lalu Baba masuk ke kamarnya. Bedanya dengan malam-malam sebbelumnya, kali ini Baba tak sendirian. Beberapa pria dewasa ikut masuk ke kamarnya dan menelanjangi tubuh mungil Luhan kecil bersama-sama, kemudian semuanya ‘menusuk’ lubang anusnya secara bergiliran. Luhan kecil tak mampu melawan ketika tubuh mungilnya dihimpit berganti-gantian oleh pria-pria dewasa di atasnya. Luhan kecil hanya bisa merintih, menangis, dan menjerit memanggil Taeyeon ketika merasakan nyeri-nyeri pada bagian bawah tubuhnya.

 

“Eomma…tolong Luhan Eomma…tolong Luhan….Sakit….” rintih Luhan kecil saat itu.

.

.

.

Semuanya kembali seperti semula ketika Taeyeon akhirnya pulang ke rumah suaminya. Semuanya tampak normal, kecuali putera kecilnya yang mendadak menjadi pendiam. Gelagat aneh puteranya membuatnya bingung, tapi Taeyeon hanya berpikir jika putera kecilnya mungkin hanya sedang habis bermimpi buruk dan memikirkannya sampai berlarut-larut. Anak kecil biasanya memang seperti itu kan?

 

Tapi semuanya terkuak setelah 1 bulan berlalu pasca kepulangannya dari Pulau Jeju.  Saat itu Luhan kecil demam. Luhan kecil mengeluh jika tenggorokannya sakit. Taeyeon berpikir jika puteranya mungkin mengeluh seperti itu karena Flu yang sedang menyerangnya. Dua minggu berlalu dan Taeyeon mulai merasa tak tenang. Putera kecilnya mulai tak mau makan, lalu mulai menderita diare kronis. Tubuhnya lemas dan ruam-ruam aneh muncul di kulit putera kecilnya. Taeyeon mulai memprediksikan jika puteranya terserang penyakit Flu Singapura karena gejalanya-menurutnya-persis sama. Karena itu Taeyeon membawa puteranya ke rumah sakit.

 

Tapi…

 

“Jadi putera saya terserang penyakit apa Dokter? Apakah itu Flu Singapura?”

 

Dokter itu menggeleng.

 

“Tapi ruam-ruam aneh muncul di kulitnya, tenggorokannya sakit dan meradang, dia demam tinggi, persis seperti gejala Flu Singapura yang biasa menyerang anak-anak kecil sepertinya” Kata Taeyeon lagi.

 

Tapi sayangnya Dokter itu kembali menggeleng.

 

“Ruam-ruam pada Flu Singapura hanya menyerang daerah mulut, kaki dan tangan pasien, Nyonya…Tapi pada kasus putera anda, ruam-ruam hampir menyerang seluruh permukaan kulit”

 

“La-lalu…pu-putera saya terserang penyakit apa?” tanya Taeyeon was-was.

 

Dokter itu menarik nafasnya sejenak.

 

“Kami sudah melakukan tes darah, dan hasilnya adalah…”

 

“…..”

 

Human Immunodeficiency Virus

 

Taeyeon tercekat. Sesaat, nyawanya terasa terbang melayang bersama udara.

 

“HIV?” gumam Taeyeon tak percaya. Taeyeon berharap semua ini adalah kesalahan, namun Dokter itu menunjukkan hasil tes laboratorium putera kecilnya padanya.

 

Taeyeon mulai menangis dalam diam.

 

“Berapa lama proses penyebaran virusnya sampai menjadi AIDS?” tanya Taeyeon putus asa.

 

Dokter itu menghela nafas sejenak.

 

“Mungkin dalam kurun waktu 5-10 tahun…Asupan gizi sangat berperan dalam memperlambat penyebaran virusnya, oleh karena itu usahakan agar Luhan menghabiskan makanannya setiap hari, dan juga…obatnya…” kata Dokter itu dengan nada prihatin.

 

Saat itu yang bisa dilakukan Taeyeon hanya menangis sesenggukan, dan memeluk Luhan kecil yang duduk dipangkuannya erat-erat.

 

“Luhan…Bagaimana bisa nak? Bagaimana bisa?”

.

End Flashback

.

.

.

Luhan meremas ujung selimutnya ketika potongan-potongan kejadian itu menari-nari di dalam kepalanya. Taeyeon menatap wajah puteranya dengan penuh penyesalan, lalu bergerak mendekat, menarik kepala Luhan kedalam pelukannya. Luhan hanya diam, menatap kosong pada objek di hadapannya.

 

Eomma…”

 

“Heumm?”

 

“Berapa usiaku?”

 

Taeyeon hanya diam, tak menjawab pertanyaan puteranya.

 

“20…benar kan?”

 

“…..”

 

“Aku sudah mencapai waktu terlama yang diberikan oleh Tuhan…dan aku belum bertemu dengan Sehun…”

 

Taeyeon menarik nafasnya sejenak, lalu menangkup wajah puteranya dan tersenyum.

 

Eomma akan mempertemukanmu dengannya, sabarlah…heumm?”

 

Luhan hanya tersenyum tipis, lalu mengangguk.

 

Saranghae, Eomma…”

.

.

.

Tak perlu waktu lama, Taeyeon menemukan apartemen sewaan dan mendapatkan pekerjaan di salah satu kantor redaksi majalah bernama Star News. Di sela-sela pekerjaannya sebagai editor, Taeyeon tak pernah lelah mencari-cari berita dan merangkum kegiatan-kegiatan aktor muda berbakat bernama Oh Sehun, teman kecil dari putera tunggalnya. Taeyeon juga tak mengerti mengapa Luhan sangat ngotot ingin bertemu putera mantan tetangganya saat dia masih terikat perkawinan dengan ayah kandung Luhan dulu, tapi Taeyeon akan melakukan apapun demi kebahagiaan puteranya. Taeyeon telah melakukan apapun untuk Luhan, termasuk mengorbankan status pernikahannya dengan suami biadabnya, plus menjebloskan mantan suaminya itu ke penjara untuk mencari keadilan bagi putera tunggalnya, dan selama ini apa yang dilakukannya tak pernah gagal. Karena itu, Taeyeon memiliki kepercayaan diri yang sangat kuat jika kali ini dia juga akan berhasil mempertemukan Luhan dengan aktor bernama Oh Sehun itu, semoga saja.

.

.

.

Cut!

 

“Oke, kerja yang sangat bagus! Semua packing dan jangan lupa besok on time jam 6 pagi” teriak sang sutradara, menandakan proses syuting sudah berakhir tepat pukul 10 malam ini.

 

“Sehun, kau berakting bagus hari ini, terimakasih”

 

Sehun tersenyum mendengar ucapan sang sutradara muda terkenal –Choi Siwon-yang kembali memuji aktingnya.

 

“Ini juga berkat kau Hyung, jangan berlebihan” Kata Sehun sambil tertawa.

 

Siwon juga tertawa, lalu bergerak pergi setelah sempat menepuk-nepuk bahu Sehun, memberi semangat.

 

Sehun dan manajernya sudah dalam perjalanan pulang ke Apartement miliknya saat ini. Hari ini begitu melelahkan, dan Sehun sudah sangat mendambakan ranjang empuknya. Tubuhnya terasa sangat pegal setelah melakukan syuting seharian penuh.

 

“Segeralah istirahat, besok aku masih harus syuting” ucap Suho –manajer Sehun– dan Sehun hanya menurut lalu masuk ke dalam ruang tidur pribadinya.

 

Sehun mengganti pakaiannya dengan piyama dan meminum segala suplemen yang direkomendasikan oleh Suho sebelum ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Sambil berbaring, mata sipitnya menatap lurus ke satu arah, tepat pada sebuah foto di meja nakas yang bersisian dengan ranjang, lalu tersenyum kecil. Diraihnya foto itu, dan dirabanya tepat pada wajah seorang bocah kecil berwajah cantik –teman masa kecilnya– yang sudah sangat dia rindukan.

“Ini sudah memasuki tahun ke-11 kau pergi Luhan…Bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja kan? Kapan kita akan bertemu lagi? Kau tau, aku sangat merindukanmu…aku-”

 

Sehun meraba wajah ‘teman kecilnya’ di foto itu sekilas, lalu…

 

“-mencintaimu” gumam Sehun, sebelum menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan mulai memejamkan matanya sambil memeluk bingkai foto itu erat-erat.

 

.

.

.

Matahari cerah. Pucuk-pucuk dedaunan yang hijau meneteskan butiran-butiran air yang sebening Kristal, jatuh ke bumi yang sudah lembab oleh embun tadi malam. Tak biasanya Luhan menunjukkan wajah secerah ini. Luhan hanya sangat senang. Eomma-nya berhasil dengan sangat sukses mengumpulkan segala schedule Oh Sehun, dan Luhan berniat melihat pria pucat itu secara langsung hari ini. Dengan penuh semangat Luhan menghabiskan sarapannya dan meminum obatnya, lalu berangkat bersama –menumpang-dengan Taeyeon menuju lokasi syuting Sehun.

 

“Tetap bawa obatmu Lu, kau tak boleh terlambat meminumnya. Jika terjadi sesuatu segera hubungi Eomma, mengerti?”

 

Luhan mengangguk patuh, membuat Taeyeon sampai terkekeh geli.

 

“Kau membuat Eomma berspekulasi sayang”

 

“Huh?” kata Luhan bingung.

 

“Oh Sehun itu lho, sepertinya bukan hanya teman biasa bagimu”

 

Luhan membuang tatapannya kea rah lain.

 

“Kau menatapnya seperti-“

 

Eomma!” protes Luhan.

 

Taeyeon tertawa.

 

Arraseo-arraseo” Taeyeon menutup rapat mulutnya setelahnya, tak ingin menggoda puteranya lebih jauh.

 

.

.

.

Kedua insan itu saling memeluk erat. Kedua tatapan mereka sayu. Tangan si pria tampan itu terulur, membelai pipi gadis cantik di hadapannya, lalu perlahan keduanya saling mendekat, menyatukan bibir diiringi Soundtrack lagu Ballad yang mendayu indah, kemudian…

Cut!

 

Sehun langsung menarik dirinya dengan cepat dan memutuskan kontak dengan Jung Sang Rim, aktris rookie yang tengah popular di kalangan remaja Korea saat ini.

 

“Okey, bagus! Kalian bisa istirahat, kembali standby setelah jam makan siang” instruksi sang sutradara.

 

Sehun segera menuju tempat ‘istirahatnya’ seperti biasa. Meminum beberapa teguk air dan dia langsung disambut oleh makeup artist yang dengan cekatan memoles  wajahnya lagi dengan bedak agar wajahnya tampak tetap bersinar di depan kamera. Sehun sendiri kini mulai sibuk berkutat dengan smartphone nya.

 

“Sehun…Ini makan siangmu, aku ada urusan sebentar, jangan bertingkah selama aku tak ada, okey?” kata Suho mewanti-wanti.

 

“Hmmm” jawab Sehun seadanya.

 

“Sehunnie…”

 

Sehun memutar bola matanya ketika mendengar suara itu.

 

“Menyebalkan” umpatnya teramat pelan.

 

Gadis tadi mendekat, lalu merangkul leher Sehun dan duduk di atas paha pria pucat itu, membuat mata Sehun langsung menusuk tajam ke mata gadis itu.

 

“Bisakah kau menyingkir?” kata Sehun ketus.

 

Gadis itu tak perduli, malah mengelus pipi Sehun yang langsung membuat pemilik wajah itu bergerak menghindar.

 

“Sehunnie…kau sudah makan? Aku belum…bagaimana kalau kita makan bersama?” tawar gadis itu.

 

Sehun hanya diam, tak perduli.

 

“Sehun”

 

“…..”

 

“Ihh…menyebalkan sekali sih” kata gadis itu kesal.

 

Sehun tersenyum miring, lalu berdiri dengan sengaja sampai gadis cantik bernama Jung Sang Rim itu terjatuh dari pangkuannya.

 

“YA!!” teriak gadis itu murka.

 

Sehun tersenyum miring –lagilagi– kemudian melipat tangannya di depan dada.

 

“Aku kan sudah menyuruhmu menyingkir, salahmu sendiri jika kau jatuh” kata Sehun cuek.

 

“Sehun, aku itu-“

 

Stop!!” potong Sehun cepat, membuat gadis itu langsung menutup mulutnya.

 

Gadis itu mengulurkan tangannya di depan Sehun, menyuruh Sehun membantunya berdiri, namun Sehun hanya menatap datar pada tangan itu, tak berniat menolong sama sekali.

 

“Bantu aku Oh Sehun” kata gadis itu kesal.

 

Sehun hanya tertawa kecil, meremehkan.

 

“Cih, menyebalkan! Harusnya kau bersikap lebih lembut pada couple-mu sendiri!” umpat gadis itu.

 

Sehun berdecih.

 

“Kita hanya couple virtual, jangan menganggap serius hal itu. Lagipula kau itu-”

 

Sehun mengangkat telunjuk kanannya, lalu menggoyangkannya di depan wajah Sang Rim dengan mimik wajah remehnya.

 

“-bukan tipeku” Lanjut Sehun.

 

Wajah gadis itu memerah sempurna, marah.

 

“Dasar munafik, berani sekali kau Oh Sehun”

 

Sehun hanya mengedikkan bahunya, lalu membalikkan tubuhnya dan pergi.

 

YA!!” teriak gadis itu kesal, namun Sehun hanya melambaikan tangannya dengan posisi membelakangi Sang Rim, membuat gadis itu mendidih saking kesalnya.

.

.

.

First Meet, Face to Face

.

Luhan berjalan gontai menuju lokasi syuting Sehun. Baru saja dia mengisi perut setelah setengah hari ini mengintip Sehun berakting di lokasi syuting. Luhan menundukkan kepala, menghindari sengatan matahari yang membakar kepala serta wajahnya, sementara itu dari arah berlawanan, pria pucat yang sedang berkutat dengan ponselnya berjalan terburu-buru untuk mencari manajernya yang tak kunjung kembali ke lokasi.

 

Luhan yang baru saja akan mengambil ponselnya yang ada di tasnya, tapi…

 

BRUKK!!

 

Trashh!!

 

 

Kedua pria itu bertubrukan dan terjatuh secara bersamaan, disusul oleh ponsel salah satunya yang terbanting keras di atas aspal jalanan.

 

“Aih…ceroboh sekali sih, harusnya kau itu berha-”

 

Luhan membeku. Ucapan yang sudah keluar setengah tadi, mendadak terhenti dan sisanya tersangkut di tenggorokan.

 

~Sehun~  Batin Luhan terkejut.

 

Sehun kini sedang sibuk melihat-lihat ponselnya, belum melihat wajah Luhan.

 

“Hhhh…Untung masih menyala”

 

Luhan hanya diam mematung dengan posisi terduduk, menatap wajah Sehun yang kini sudah mulai menatapnya.

 

“Kau baik-baik saja kan? Maaf ya, aku tak sengaja” kata Sehun dengan raut menyesalnya.

 

Luhan menunduk dalam, lalu berdiri dengan cepat.

 

“A-Aku baik-baik saja, permisi” kata Luhan cepat, lalu buru-buru pergi, takut Sehun mengenalinya.

 

Sehun mengerutkan kening, merasa familiar dengan wajah pria mungil itu, tapi Sehun tak yakin.

 

“Mirip sekali…mungkinkah? Ah…tapi mungkin hanya mirip saja…” gumam Sehun.

.

.

.

Tiap harinya Luhan melakukan pekerjaannya yaitu menjadi stalker seorang Oh Sehun, mengamatinya diam-diam dan setelah puas ia kembali ke rumah dengan perasaan senang yang membuncah, yang sangat sulit dia deskripsikan dengan kata-kata. Entahlah, Luhan hanya merasa Sehun adalah obat paling ampuh untuknya, karena hanya dengan melihat wajah pria itu saja, Luhan sudah merasa senang tak karuan, lalu tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila.

 

Hari ini Luhan akan menghadiri acara fanmeeting Sehun yang pertama setelah berakhirnya Drama yang telah ia bintangi. Luhan sudah menukar tiket VIP miliknya dan kebetulan Luhan juga membeli paket meet and greet dengan Sehun bersama 20 fans lain yang beruntung.

 

Satu jam pertama acara meet and greet berlangsung, dan setelahnya baru acara fanmeeting dilaksanakan. Luhan tersenyum sambil menatap wajah tampan Sehun dari sudut ruangan, memuji diam-diam atas sikap Sehun yang sangat ramah itu.

 

“Baiklah.. ini tanda tangan terakhir..” ucap Sehun memberikan posternya kepada salah satu fans, sebelum matanya melirik ke salah satu fans–yang Sehun pikir mereka pernah bertemu sebelumnya– di sudut ruangan.

 

Sehun menatap pria mungil yang berdiri mematung sambil memainkan ponsel itu dengan kening berkerut tanpa di sadari oleh si pria yang diperhatikannya, sebelum berbisik pada salah satu staff yang berdiri paling dekat dengannya.

.

.

.

Luhan baru saja selesai mengetikkan balasan pesan dan mengirimkannya ke nomor ponsel Eomma-nya saat seorang staff mendatanginya.

 

“Maaf, apa saya boleh tau siapa nama anda” tanya staff itu.

 

Luhan menatap staff itu dengan bingung.

 

“Untuk apa?”

 

“Kami akan memberikan bingkisan untuk para fans yang beruntung melalui undian, karena itu kami membutuhkan nama-nama fans aktor Oh Sehun untuk dikumpulkan dan diundi nanti.

 

Luhan terdiam. Haruskah dia mengatakan namanya dengan jujur? Luhan bimbang, tapi…

 

“Kim Luhan…itu namaku” kata Luhan.

 

Terlampau jujur.

 

Staff itu mengangguk mengerti, lalu berlalu dari hadapan Luhan.

.

.

.

Luhan sedang duduk di halte bis, menunggu bis yang akan mengantarkannya pulang. Pikirannya berkecamuk. Luhan sangat ingin melangkah lebih dekat kearah Sehun. Walau bagaimanapun Luhan sangat merindukan pria pucat itu, tapi Luhan tak berani.

 

“Lebih baik begini…melihatnya saja sudah cukup, aku tak boleh mendekatinya” gumam Luhan pada dirinya sendiri.

 

Tapi tiba-tiba saja…

 

“Kenapa tak boleh?” kata sebuah suara.

 

Luhan menangkap sepasang sepatu di depan kakinya, lalu Luhan mendongak perlahan melihat siapa orang itu. Matanya hampir saja keluar ketika tau siapa pria yang sedang berdiri di hadapannya.

 

“Se-Sehun…” ucap Luhan, lalu berdiri dengan perlahan.

 

“Ya, Sehun. Aku Sehun, Luhannie….”

 

Luhan tercekat. Jantungnya berdetak kencang, memompa cepat aliran darahnya hingga Luhan merasa ingin meledak. Sehun menemukannya!

 

“Ka-Kau…bagaimana bisa tau jika ini aku?” tanya Luhan, lalu menunduk kikuk, tak berani menatap Sehun.

 

Sehun hanya diam. Luhan juga diam.

 

Hening. Bahkan suara nyanyian angin dapat mereka dengar. Sehun menatap kepala pria yang sedang tertunduk itu dalam-dalam. Angin menerpa-nerpa tubuh mungil pria itu, dan Sehun mulai berpikir jika Luhan pasti kedinginan. Oleh karena itu Sehun melangkah maju, lalu menarik tubuh mungil itu kedalam pelukannya.

 

“Luhan….kenapa kau tak menemuiku secara langsung, heumm?”

 

Luhan hanya diam, mematung. Luhan membeku, dan otaknya tak mampu memikirkan apapun saat ini.

 

“Lu?”

 

Luhan terkesiap, lalu menarik dirinya dari pelukan Sehun.

 

“Se-Sehun…maaf, tapi aku harus pulang…”

 

Luhan sudah berancang-ancang kabur. Luhan memutuskan untuk menaiki taksi saja saat ini, tapi…

 

“Jangan menghindariku!” kata Sehun.

 

Luhan sontak menghentikan langkahnya, lalu hanya diam, membelakangi Sehun.

 

“Jangan menghindariku Lu….11 tahun sudah cukup, jangan menyiksaku lagi”

 

Luhan mengerutkan keningnya, bingung. Dia sangat merindukan Sehun juga, tapi Luhan tak berpikir sama sekali jika harus berada dalam situasi seperti ini. Luhan tak berencana sama sekali untuk menjalin pertemanan kembali dengan Sehun. Luhan hanya merindukan teman masa kecilnya. Luhan juga tak tau kenapa dirinya sangat merindukan Sehun sebesar keinginannya untuk bisa hidup sampai 100 tahun lagi, tapi….

 

“Aku merindukanmu Lu”

 

“…..”

 

“Aku mencintaimu”

 

Degg!!

 

Luhan sontak berbalik, lalu menatap shock pada Sehun.

 

“A-Apa katamu?” tanya Luhan, suaranya sudah gemetaran.

 

Sehun mendekat, lalu menangkup wajah kecil milik Luhan, membelai pipi-pipi Luhan yang memucat dengan lembut.

 

“Kau tak dengar? Aku mencintaimu Lu…Sudah sejak lama…sejak kita kecil…Tapi kau malah pergi meninggalkanku”

 

Luhan tercekat. Matanya menatap ke bola mata Sehun dalam-dalam, lalu…

 

Luhan mengangkat tangannya, menarik paksa tangan Sehun agar terlepas dari wajahnya.

 

“Tak boleh! Jangan mencintaiku! Jangan”

 

Sehun menatap Luhan dengan raut wajah kecewanya.

 

“Kau tak menyukaiku?”

 

Luhan hanya diam, lalu membuang wajah ke arah samping.

 

“Aku mau pulang…maaf Sehun” kata Luhan, lalu kembali berbalik. Tapi…

 

Grepp!

 

Sehun memeluk perut Luhan erat-erat.

 

“Luhan…tak masalah jika kau menolakku, tapi kita berteman kan?”

 

Luhan terdiam lama, lalu menggenggam jemari Sehun yang memeluk perutnya.

 

“Ya….kita adalah teman” Kata Luhan.

 

Sehun tersenyum di balik tengkuk Luhan.

 

“Aku merindukanmu Lu”

 

Luhan tersenyum miris.

 

“Ya, aku juga merindukanmu Sehun”


Tak ada yang manusia yang bisa kau percayai di dunia ini, tidak orangtuamu, temanmu, bahkan dirimu sendiri….


 

Beberapa minggu yang menyenangkan.

 

Senang?

 

Tentu saja senang. Kini Luhan dapat berinteraksi sering-sering dengan Sehun, sebagai teman. Yah, hanya sebatas teman. Luhan ingin sekali maju selangkah dan menjalin hubungan dengan Sehun yang jelas-jelas mengaku sudah menyukainya sejak mereka masih kecil, dan sebenarnya…Luhan juga sama. Meskipun Luhan sangat ingin maju selangkah lagi, tapi Luhan tak ingin melampaui batasnya. Luhan hanya merasa disinilah tempatnya. Hubungannya dengan Sehun hanya boleh sebatas ini, tak boleh lebih dekat lagi. Namun niat hanyalah niat. Tak ada manusia yang bisa kau percaya di dunia ini, bahkan dirimu sendiri sekalipun. Luhan memantapkan hatinya jika dia hanya akan memendam perasaan cintanya untuk Sehun sampai akhir. Namun detik demi detik yang terlewati hanya menambah deritanya sampai Luhan merasa tak sanggup bertahan lagi. Dia pikir bertemu dengan Sehun akan membuat dunianya yang suram akan semakin berwarna, namun nyatanya hanya penyesalan yang didapatkannya saat ini. Luhan menyesal telah membiarkan Sehun menjadi temannya kembali. Ini salah. Harusnya dia tak melakukan hal itu. Luhan adalah virus, harusnya Sehun menjauhinya, bukan dekat-dekat dengannya seperti saat ini.

 

Luhan termenung di dalam toilet itu. Baru saja dia memuntahkan seluruh isi perutnya ke dalam closet, lalu kini dia hanya diam sambil memegangi nyeri dan kejang di daerah perutnya yang semakin detik semakin terasa bertambah rasa sakitnya. Belum lagi kepalanya sangat pusing. Radang tenggorokan yang dideritanya semakin parah hingga untuk menelan ludahnya sendiri saja Luhan sampai harus meringis kesakitan. Parahnya lagi kini dia terbatuk-batuk tanpa henti, membuat nyeri perut dan tenggorokannya semakin mejadi-jadi. Luhan dapat merasakan dengan jelas jika tenggorokannya terasa seperti tersobek, lalu lelehan darah bercampur ludah keluar dari dalam mulutnya. Kulit tubuhnya mulai menampakkan ruam-ruam lagi, dan Luhan sangat mengerti apa artinya ini. Imunitas tubuhnya pasti sudah sangat buruk, padahal Luhan tak pernah absen dengan Antiretrovial-nya setiap hari. Semuanya percuma, semuanya tak berguna, pada akhirnya dia tetap akan mati, dan Luhan yakin waktu itu akan tiba tak lama lagi. Airmatanya sudah menggantung di sudut-sudut mata rusanya dan Luhan sudah tak mampu menahan diri untuk tak menangis. Mungkin inilah batas kehancuran prinsip yang sudah dibangunnya selama bertahun-tahun. Inilah ambang batasnya, dan Luhan menumpahkan airmatanya dengan isak tangis menyayat dalam bilik kecil itu.

 

“Lu? Luhan? Kau baik-baik saja?” panggil Sehun khawatir, karena sejak tadi Luhan tak kunjung keluar.

 

Luhan tak menjawab, namun isakannya semakin menjadi-jadi.

 

Sehun menggedor-gedor pintu kamar mandi toilet umum itu dengan panik.

 

“Luhan…buka pintunya…” bujuk Sehun.

 

“…..”

 

“Lu…buka pintunya, kumohon…”

 

“…..”

 

 

“Luhan…keluarlah, kumohon”

 

Cklekk!

 

Sehun menatap pria cantik itu dengan tatapan leganya. Diraihnya kedua pipi Luhan, lalu dihapuskannya lelehan airmata pria cantik itu.

 

“Kau kenapa? Sakit?”

 

Luhan hanya diam sambil menatap wajah Sehun dengan tatapan perihnya.

 

“…..”

 

“…..”

 

“Sehun…”

 

“Ya?”

 

“Mari kita saling menjauh…Aku tak bisa berteman denganmu lagi”

 

Sehun membeku. Hatinya mendadak seperti tersayat-sayat dan terkoyak-koyak sampai hancur.

 

“Lupakan jika kita pernah saling mengenal. Lupakan aku” Kata Luhan lagi.

 

Sehun membuang tatapannya ke arah lain.

 

“Kenapa kau seperti ini Lu? Kenapa kau sangat tega padaku? Kau tega sekali…”

 

Luhan menunduk, lalu menyingkirkan tangan Sehun dari wajahnya.

 

“Aku tak boleh berdekatan denganmu”

 

Sehun mendecih.

 

“Aku virus, kau harus menghindariku”

 

Sehun mengembalikan tatapannya pada Luhan. Wajahnya menyiratkan kebingungan.

 

“Apa maksudmu?”

 

Luhan tak menjawab, hanya diam, lalu mendorong tubuh Sehun agar dia bisa lewat. Tapi sebelum rencananya berhasil, Sehun sudah lebih dulu mencekal tangannya.

 

“Apa alasannya? Katakan padaku!” Kata Sehun mulai emosi.

 

Luhan berusaha memberontak, namun Sehun sudah lebih dulu meraih tengkuknya dan menyatukan bibir mereka. Sehun melumat bibirnya dengan kasar dan melesakkan lidahnya masuk kedalam mulut Luhan. Bagai tersambar petir, Luhan melotot sempurna. Sekuat tenaga dia mendorong Sehun, lalu…

 

PLAKKK!!!

Luhan terengah-engah saking emosinya. Telapak tangannya terasa panas, padahal tangan itu yang digunakannya untuk menampar Sehun. Luhan bisa bayangkan seberapa sakit pipi Sehun saat ini, tapi dia tak perduli.

 

“Kau pikir apa yang sedang kau lakukan, eoh?” maki Luhan.

 

Sehun menarik tangan Luhan, namun Luhan menepisnya dengan kasar.

 

“Jangan menyentuhku! Kau tak boleh melakukannya Sehun! Jangan lakukan hal itu lagi…Hiks….” Kata Luhan perih, lalu menangis, membiarkan bulir-bulir airmata kembali terjatuh ke pipinya.

 

Sehun menatapnya penuh kebingungan.

 

“Lu? Ada apa? Kenapa aku tak boleh mendekatimu?”

 

Luhan diam, dan menunduk, masih sambil menangis.

 

“Jangan mencintaiku. Kumohon….Dan jangan lakukan hal seperti tadi lagi….mulutku tadi berdarah Sehun…berbahaya jika kau sampai terkena darahku”

 

Sehun mengerutkan dahi semakin dalam.

 

“Kau bicara apa sih? Apa maksudnya Lu? Aku tak mengerti! Kau berdarah, lalu kenapa?”

 

“KARENA DARAHKU BERBAHAYA, OH SEHUN!!!” teriak Luhan kesal.

 

Sehun terdiam.

 

“Aku….mengidap AIDS. Karena itu, kumohon jauhi aku!”

 

Sehun melotot sempurna. Tangannya kini sudah terangkat, menutupi mulutnya sendiri.

 

“A-AIDS?” tanyanya shock.

 

Luhan menatap lantai dengan tatapan kosong, lalu membuka satu-persatu kancing kemejanya. Disibakkannya kemeja agar Sehun dapat melihat tubuhnya yang penuh dengan bintik-bintik merah itu.

 

“Ya…AIDS Sehuna…kau bisa lihat kan? Karena itu…pergilah”

 

Luhan menangis lagi sambil mengancingkan kembali kemejanya.

 

Diam.

 

Keduanya hanya diam, sampai akhirnya Sehun mampu bicara dengan suara bergetarnya.

 

“Bagaimana bisa?” tanya Sehun.

 

“…..”

 

“Apa kau sering bergonta-ganti partner sex?”

 

“…..”

 

Drugs?”

 

“…..”

 

Sehun tak menyerah. Kini dia sudah menghampiri Luhan, dan mengelus bahu pria cantik itu.

 

“Lu…apa penyebabnya?” tanya Sehun lembut.

 

Luhan menunduk semakin dalam, lalu terisak-isak kuat. Sehun meraih tubuh pria cantik itu, lalu menariknya ke dalam pelukannya.

 

“Aku tau kau bukan namja buruk semacam itu…jadi apa alasannya Luhan? Bolehkah aku tau?”

 

Luhan mencengkram kaus Sehun kuat-kuat, dan isakannya makin kuat. Sehun meringis sedih. Diusapnya kepala Luhan dengan lembut, lalu dikecupnya dahi pria mungil itu.

 

“Katakanlah padaku…Apa yang terjadi Luhan? Kenapa bisa begini?”

 

Luhan meremas kemeja Sehun, lalu…

 

“Aku diperkosa beramai-ramai Sehuna….”

 

Sehun tercekat. Hatinya mencelos perih saat mendengarnya.

 

“Siapa yang tega melakukan hal itu padamu?”

 

Baba….suami kedua Eomma…Pria tua biadab, Iblis! Semoga dia mati di penjara!”

 

Luhan meremas kemeja Sehun kuat-kuat, mencoba mengeluarkan emosinya yang dia tahan selama bertahun-tahun ini. Sehun memejamkan matanya, lalu kembali menangkup wajah Luhan. Sehun kembali mendekatkan bibir mereka, tapi Luhan mencegahnya dengan cepat.

 

“Jangan Sehun….nanti kau tertular”

 

Sehun tersenyum lembut.

 

“Bukankah aku sudah menciummu tadi? Kau berdarah…Aku sudah tertular kan?” Kata Sehun miris.

 

Luhan kembali menitikkan airmatanya, menyesal.

 

“Maafkan aku Sehun…seharusnya aku tak membiarkanmu mendekatiku lagi, seharusnya kita tak usah bertemu lagi…seharusnya aku tak mencintaimu…seharusnya-“

 

Ucapan Luhan terhenti, hilang. Bibir Sehun sudah mengunci bibirnya, menghisapnya dengan lembut. Sehun menggigit sedikit bibir pucat Luhan dan langsung melesakkan lidahnya masuk ketika mulut Luhan terbuka. Tubuh Luhan terdesak ke pintu kloset yang tertutup dan pagutan itupun menjadi semakin dalam. Airmata Sehun juga ikut jatuh, bercampur dengan airmata Luhan. Keduanya menangis dalam diam, tanpa isakan. Sehun semakin melumat dalam ketika merasakan cengkraman tangan Luhan mengerat dipunggungnya.

.

.

.

Desahan-desahan itu bercampur baur dalam kamar hotel berukuran luas itu. Sehun mengecupi setiap inci kulit tubuh pria cantik yang terhimpit di bawah tubuhnya dengan penuh penghayatan. Keringat mereka sudah mengalir dengan deras. Kecupan demi kecupan, bisikan putus asa, airmata penyesalan, mengalir deras dari keduanya. Hingga kegiatan mereka berakhir, dan keduanya saling memeluk erat tubuh polos pasangannya.

 

Sehun mengelus-elus lengkungan punggung Luhan yang telanjang, lalu mengecup sekilas kening pria mungil yang berkeringat itu.

 

Aku mencintaimu Luhan

 

Luhan menatap pria pucat itu dalam-dalam, mengelus pipi Sehun sekali, lalu…

 

Aku juga mencintaimu…Maafkan aku Sehun…

.

.

.

Bias mentari pagi menerobos masuk melalui jendela. Sehun menggeliat kecil, lalu membuka mata sipitnya perlahan. Lengan kirinya terasa nyeri, tapi bibir tipis aktor tampan itu mengulas senyum. Disibakkannya poni pria cantik yang berada dalam pelukannya, dan dikecupnya lagi kening pria cantik itu.

 

Dingin.

 

Sehun mengernyitkan dahinya. Baru disadarinya jika suhu tubuh Luhan sudah dibawah batas normal. Wajah cantik itu pucat, dengan mata terpejam selayaknya malaikat yang sedang terlelap. Tapi….

 

Bibir Luhan membiru.

 

Jantung Sehun berpacu dengan cepat. Sehun takut….

 

Dengan tangan gemetar, diarahkannya dua jarinya ke leher Luhan, mengecek nadi pria cantik itu.

 

Tak ada denyutan.

 

Sehun semakin gemetaran. Lalu dengan ketakutan yang teramat besar diarahkannya telinganya hingga menempel ke dada telanjang Luhan yang rusuk-rusuknya sudah saling menonjol karena sudah terlampau kurus.

 

Tak ada detakan.

 

Sehun gemetaran hebat. Dengan upaya sekuat tenaga dia bangkit untuk duduk, lalu digoncangkannya tubuh pucat Luhan.

 

“Lu…bangunlah…sudah pagi…”

 

“…..”

 

“Luhan…bangunlah, kumohon….”

 

“…..”

 

“Luhan….ku-kumohon…bangunlah sayang….”

 

“…..”

 

“Tidak! Jangan…Jangan pergi Lu, Jangan tinggalkan aku…Ayo sayang, bangunlah, jangan bercanda”

 

“…..”

 

Airmata Sehun mengalir-ngalir.

 

“Luhan….jangan tinggalkan aku…Tidak! Jangan Lu! Luhannie….hiks…Luhan…”

 

Sehun menghentikan goncangannya pada tubuh mungil itu, lalu meraih tubuh pucat itu kedalam dekapannya. Dikecupinya wajah Luhan berkali-kali dengan airmata yang tak berhenti mengalir deras.

 

Dering ponsel Luhan membuat hujan kecupan Sehun terhenti. Sehun hanya menatap kosong pada benda itu sampai sebuah pesan masuk ke dalam ponsel pria cantik itu. Sehun mengambilnya dengan cepat dan membaca isinya.

 

[Eomma] : Sayang, kenapa belum pulang? Kau tidur dimana?

 

Sehun mengusap air matanya sekilas, lalu menelepon Ibu Luhan menggunakan ponsel puteranya sendiri.

 

~Luhan…kenapa belum pulang? Kau dimana sayang? Pulanglah…Eomma sangat khawatir padamu nak~

 

Airmata Sehun menetes lagi sebelum menjawab…

 

“Luhan sudah pulang dengan damai, Jadi Ahjumma tak perlu menghawatirkannya lagi…”

.

.

.

3 tahun kemudian….

 

 

Sehun membuang seluruh Antiretrovial-nya ke lantai. Tubuhnya sudah sangat kurus, pucat, dan kini hanya bisa terbaring lemah di atas ranjangnya. Virus HIV itu menyerang tubuhnya dengan sangat cepat. Membunuh sistem kekebalan tubuhnya sampai batas terendah  hanya dalam kurun waktu 3 tahun. Sistem imunitasnya sudah sangat rusak. Meskipun para penderita AIDS seperti dirinya dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan sehat sebagai terapi memperlambat penyebaran virus selain penggunaan terapi ART, namun Sehun tak melakukannya. Bahkan Infeksi Oportunistik-nya sudah sangat parah. Kematian Luhan membuatnya drop. Sehun tak ingin berjuang hidup. Sehun ingin menyerah.

 

 

“Aku akan menyusulmu Luhan….tunggu aku….”

.

.

.

Aktor tampan Oh Sehun, meninggal dunia pada pukul 8 pagi tadi di dalam Apartemen pribadinya di daerah Districk Gangnam, Seoul. Kematian disebabkan karena aktor tampan ini mengidap penyakit AIDS sejak tahun….

 

Pip

 

Taeyeon mematikan saluran televisi itu, lalu memijit pelipisnya. Pikirannya melayang-layang pada kenangan-kenangan dulu, ketika putera tunggalnya itu merengek-rengek padanya agar mencarikan segala info tentang Sehun. Taeyeon baru memahami apa yang terjadi saat ini. Dua orang teman kecil yang saling merindukan, meninggal dengan penyebab yang sama.

 

“Jadi mereka telah memiliki hubungan sejauh itu…” gumam wanita itu, mengambil foto putera cantiknya dan –seorang bocah lainnya– lalu mendekapnya dalam pelukannya. Airmatanya menetes membasahi pipinya yang kemerahan.

 

“Selamat jalan….semoga kalian bertemu di sana…”


END


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements